24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

I Wayan Westa by I Wayan Westa
March 15, 2026
in Esai
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Wayan Westa | Foto: Akun Facebook Wayan Westa

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur tertib asali itu, supaya gugusan planet;  bulan, matahari,  dan jutaan bintang  tidak bertubrukan, senantiasa tertib di poros masing-masing? Ini sesuatu yang niskala, pertanyaan yang tak terjangkau pikiran.

Namun para sarjana India, para Rsi menyebut sang pengendali tunggal itu bernama Rta. Rta-lah yang paling bertanggung jawab pada seluruh rotasi, gerak edar benda-benda langit  di semesta ini. Rta pula yang menata supaya planet-planet itu ”bertanggung jawab” pada di titik edar sendiri. Siang-malam, gerhana bulan, gerhana matahari, hujan badai, dikondisikan  rta itu sendiri. Demikianlah Rta mengatur seluruh asfek kehidupan di semesta ini.

Di kemudian hari, dari sini kelak manusia berpikir membumikan ”tertib langit” itu ke tertib sosial. Kerajaan-kerajaan dibangun, undang-undang ditulis, birokrasinya dibangun berharap ”planet kerajaan” menyamai keadilan Rta”.  Regulasi-regulasi kerajaan diundangkan, aturan dan norma-norma yang  kemudian disebut sasana ditetapkan. Dalam tradisi Jawa raja kerap diposisikan sebagai Paku Bhuwana, sang angawa rat dalam tradisi Bali, artinya yang memegang, mengendalikan, mengatur ”planet-planet birokrasi” kerajaan. Kajian akademik soal ini bisa kita baca dalam karya klasik disertasi Soemarsid Moertono berjudul Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI-XIX [2017].

Warisan atas sejumlah teks etik di Bali, semisal Raja Niti Sasana, Mantri Sasana, dan teks-teks dengan titel ’agama’ adalah  teks bagaimana hukum keteraturan itu disepakati, berharap tidak ada lembaga  kerajaan saling bertubrukan, atau saling kuasa. Raja adalah Rta itu sendiri dalam kosmos pemerintahan.  Pranata dan norma pengatur negara [tata negara] dibuat. Norma pengatur masyarakat [tata krama] juga dibikin, sampai ke sub-sub norma lebih luas, lebih detail. Tata keagamaan, tata upacara, hingga pedoman  paling rinci  soal ”plelutuk upacara”, soal diksa, dan lain-lain  juga ditulis.

Siapa pun yang sempat membaca teks  Bhagawan Garga, Geguritan Ala-Ayuning Dewasa,  teks Wariga Krimping,  yang disebut pula Wariga Pangancangan  akan mengerti;  hidup keseharian kita  pun diharapkan menyesuaikan dengan Rta itu sendiri. Di situ tampak jelas manusia ingin hidup harmonis dengan alam — lepas dari kekeliruan-kekeliruan yang kerap fatal dilakukan manusia.

Sekadar contoh, kita tahu Wariga Krimping adalah teks yang memberi petunjuk bagi para petani, peternak, nelayan, dan pedagang. Lontar ini menjadi semacam pentunjuk praktis sehari-hari soal hari baik bercocok tanam, hari baik pernikahan, potong rambut, larangan untuk mengubur atau ngaben saat ”Semut Sadulur”, Kala Gotongan,  termasuk hari-hari pantangan bersebadan, ini sungguh sangat diperhatikan.

Yang memahami Rta, dianggap katam soal Rtu, yakni soal-soal  yang terhubung dengan ilmu perbintangan atau Joythisa. Tentu banyak hal yang perlu dipelajari bagi siapa saja     yang hendak  mendalami pengetahuan Weda lebih luas, seperti wyakarana[tata bahasa], nirukta[studi perihal asal-asul, sejarah dan arti kata, candasastra [ilmu puisi], dll.

Dari Rta hukum tertinggi itulah kebijakan kuna raja-raja India  meletakkan  momen pembaruan setelah letih, lelah dengan kemelut; peperangan dan pemberontakan. Kelak dalam satu titik perjalanan sejarah, tanggal 22 Maret 79 ditetapkan Raja Kaniskha I sebagai tahun penanggalan resmi kerajaan sekaligus momen penobatan sang raja. Hari itu  disebut sebagai era Saka-Kala,  memulai sebuah tarikh baru,  era  yang  menyudahi  tindak kekerasan.  Dan manusia ingin mencari damai, mencari hening.

Memang sehari sebelumn penobatan Raja Kaniskha I, tepat di tanggal 21 Maret 79 terjadi peristiwa alam penting : Gerhana Matahari Total. Gerhana, baik itu gerhana matahari [surya graha] maupun gerhana bulan [candra graha] posisi matahari – bulan – dan bumi berada dalam satu garis lurus. Karenanya gerhana matahari akan jatuh pada bulan mati [tilem]  dan gerhana bulan jatuh pada purnama penuh.

Menurut catatan IBG. Agastia [2005: 13], karena pada saat itu terjadi gerhana matahari, maka dapatlah dipastikan bahwa pada hari itu adalah tilem [bulan mati]. Jadi perhitungan penetapan tahun Saka tidak hanya memperhatikan poisisi matahari[surya pramana] tetapi juga memperhatikan posisi bulan [candra pramana] oleh karena itu disebut surya-candra-pramana.

Diterangkan IBG. Agastia, perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.Oleh karena itu, tanggal 1 bulan 1 Saka senantiasa jatuh pada tanggal 1[pananggal  ping pisan] bulan[Sasih]  Waisaka, sehari setelah Tilem Caitra. Akibatnya tanggal 1 bulan 1 Saka tidak senantiasa tepat jatuh pada tanggal 22  Maret [karena masih memperhatikan poisisi bulan lurus dengan bumi dan matahari].

Bila diperhatikan lebih seksama, dalam kalendar Saka Bali berlaku penggabungan tiga sistem kalender. Tiga sistem kalender itu meliputi; sistem tahun surya,[1], sistem tahun candra[2], dan sitem tahun Wuku [3]. Sistem tahun surya berpedoman pada jangka waktu peredaran bumi mengitari matahari. Jangka waktu ini disebut satu tahun surya. Umurnya 365,22 hari. Tepatnya 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik.

Sistem tahun candra berpedoman dengan jangka waktu peredaran bulan mengelilingi bumi  disebut satu bulan. Umurnya 29,5 hari. Tepatnya 29 hari, 12 jam, 44 menit, 3 detik. Sehingga umur satu tahun 12 Sasih, terhitung mulai dari bulan Caitra sampai Palguna masa. Umur tahun Candra 354 hari, 8 jam, 45 menit, 36 detik. Sementara sistem tahun wuku dalam satu lingkaran nemugelang berjumlah 210 hari. Lazim disebut enam bulan Bali.

Penetapan Nyepi sebagai awal pergantian tahun baru saka, setidaknya menurut catatan tiga cendekiawan Bali; I Gusti Bagus Sugriwa [1955], Nyoman S. Pendit [2001], IBG. Agastia[2005] merujuk momen penetapan tahun Saka, sebagai era baru  tarikh Saka-Kala yang kebetulan saat itu Tilem Caitra – walau dalam tradisi Bali yang  lebih kuna Nyepi tidak selalu terhubung dengan pergantian tahun. Belum ditemukan dinasti raja-raja Bali Kuna menetapkan tersendiri momen tahun barunya.

Maka sekali lagi sebagaimana dinyatakan IBG. Agastia, ”Perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.” Walau di India sendiri, perayaan tahun baru Saka itu tidak disertai dengan Penyepian.

Sampai di titik ini,  Nyepi adalah tindakan  penjernihan  dari adab batin manusia Bali itu sendiri. Mengingat selain Nyepi yang diawali upacara palelastian dan tawur kesanga serta dirangkai dengan pergantian tahun baru Saka, di Bali sendiri, dalam tradisi lokal masih ada berjenis-jenis ”perayaan” Nyepi.

Misalnya Nyepi Segara, Nyepi Carik, Nyepi Abian, dan lain-lain. Sekali lagi ini adalah bentuk-bentuk tindakan penjernihan dan pengheningan – memberi ruang  pada alam  dengan segala isinya yang telah menyangga hidup ini keheningan —   dan berharap  ”sarwa prani” sumber prana yang tak terlihat mata itu menyempurna dengan baik.

Ada beberapa tahapan retret yang harus dilewati manusia Bali sebelum sampai ke puncak hening, nyepi, sipeng. Pertama adalah melasti.  Lasti artinya tepi air, juga berarti pebersihan, penyucian. Ini adalah perjalanan meditatif menuju pusat-pusat air. Semua simbol-simbol kedewataan[pratima]  disucikan menuju tepi air,  laut, danau, campuhan, patirtan,  dan kelebutan. Air adalah simbol penjernihan sekaligus amreta pemberi hidup. Orang Yunani menyebutnya sebagai abrosia, yang artinya tak pernah mati.

Karena itu devosi paling tinggi saat palelastian adalah, berharap segala kekotoran diri dan dunia disucikan,  alam  dengan segala isinya mendapat sari hidup kembali – angamet sarining amrta. Di samping itu malasti juga merupakan tindakan kontrol lingkungan ke sumber-sumber air, supaya setiap orang senantiasa terpanggil merawat air dan lingkungan — dan menjadilah ia doa dalam tindakan.

Selanjutnya, usai palelastian, tepat pada tilem caitra, saat matahari tepat di atas kepala, bayangan kita tak terlihat,  manakala  matahari  ”melintas” di garis tengah khatulistiwa,  ”perjalanan”  menuju utarayana,  upacara tawur bhumi suddha dilakukan. Tawur berarti kembali, doa-nya berharap unsur-unsur yang membangun dunia ini, panca maha bhuta disempurnakan, langgeng senantiasa menghidupi semesta makhluk hidup.

Kenapa Tawur digelar  saat bajeg surya atau saat matahari tepat di atas kepala kita? Pertama,  ketika bulan mati  [tilem], saat bajeg surya adalah waktu tepat memuja matahari sebagai Siwa Raditya — Siwa yang berbadankan Surya. Karena matahari adalah raja semesta, ia sumber maha energi, seluruh kehidupan ini tergantung pada sang maha energi itu.

Bukankah tanpa sadar kita sesungguhnya  ”pemakan” matahari. Sayur, buah, daging, nasi yang kita santap itu, hidup dan bertumbuh karena matahari. Dari situlah kita ”memakan”  matahari. Dari situ pula kita hidup karena matahari. Ini pula alasan  kenapa saban pagi para pendeta Bali melakukan surya sewana, intinya mendoakan supaya matahari tetap memberi hidup bagi semua, menjadi cahaya bagi semua.

Lalu tawur digelar di titik-titik sentrum pertemuan langit dan bumi. Di Pura  Agung Besakih, upacara digelar di sebuah areal tengah bernama ”bencingah agung” di kaki Gunung Agung, tepat di muka lingga acala [lingga abadi] Gunung Agung. Orang-orang Bali terpelajar memaknai tempat ini sebagai ”madyaning bhuwana”, tengahnya dunia – di mana langit dan bumi disatukan dalam upacara tawur yang amat tantrik.

Di pusat-pusat kota, tawur digelar di pusat perputaran energi mistis ”pempatan agung” atau ”catus pata.” Sementara di rumah-rumah penduduk,  caru digelar di  natah  [halaman  tengah] di titik pertemuan ibu-bapa langit, atau di lebuh gerbang masuk pekarangan. Dan menjelang sandya-kala dilakukanlah upacara pangrupukan atau maobor-obor – berharap buta-buti, energi ”penggangu” dijauhkan dari hidup.

Maka esok hari, setelah menjalani retret berlapis itu   perjalanan menuju titik NOL dimulai. Inilah drama kolosal dari  ramya menuju sunya. Dari hal-hal gaduh menuju hening. Nyepi di  luar dan Nyepi di dalam dilakukan.

Nyepi di luar dilaksanakan dengan menjalankan brata penyepian secara fisik, yakni menjalankan catur brata panyepian, meliputi; amati gni [tidak menyalakan api] amati karya [tidak bekerja], amati lelungan [tidak bepergian], dan amati lelanguan [tidak bersenang-senang].

Sementara Nyepi di dalam dilakukan dengan brata puasa, penjernihan pikiran, penenangan jiwa, mawas diri, pengendalian nafsu, serta laku meditatif [tapa brata, samadhi] guna merengkuh kesadaran Sunya.

Menurut teks-teks Jawa Kuna, kesadaran  Sunya  adalah kesadaran Paramasiwa –  kesadaran yang layaknya kaadaan  dorman atau ”tidak aktif” –  seperti status rekening bank yang fasif atau tidak aktif karena tidak adanya transaksi debit maupun kredit.

Bagi kehidupan dunia kondisi ini tentu tidak menguntungkan.   Namun bagi jiwa  yang memerlukan nutrisi jiwa [amrtajiwa], kondisi  kesadaran seperti ini sungguh dibutuhkan. Inilah yang disebut heneng atau hening. Ini pula yang disebut Sepi —  perjalanan dari NOL menuju NOL.

Sampai di sini Nyepi lalu menjadi titik jeda, kebutuhan kita bersama; seluruh kekerasan pada bumi berserta isinya dihentikan. Nyepi memberi ruang bagi bumi  serta seluruh isinya  ”beristirahat”, bebas sebebas-bebasnya-nya. Perang, perseteruan, dihentikan demi  penghormatan dan memuliakan pada planet bumi. Karena setiap entitas hidup memiliki hak untuk bahagia, bebas dari kekerasan, perusakan, dan penderitaan.  Inilah kenapa kemudian Bali secara fisik menjalanan catur  brata penyepian, berharap semua entitas semesta mendapat keheningan. Keheningan adalah obat paling mujarab bagi dunia yang sedang berseteru.

Catatan:

Tulisan ini adalah rangkuman ceramah Lingkar Studi Seri #009, Jumat 13 Maret 2026. Disponsori Danatara Indonesia, CDS[Center for Dharmic Studies] Binroh Hindu Telkom Group, Telkom Indonesia, dan Majalah Çraddha.

Tags: Hari Raya Nyepirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Next Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co