15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

I Wayan Westa by I Wayan Westa
March 15, 2026
in Esai
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Wayan Westa | Foto: Akun Facebook Wayan Westa

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur tertib asali itu, supaya gugusan planet;  bulan, matahari,  dan jutaan bintang  tidak bertubrukan, senantiasa tertib di poros masing-masing? Ini sesuatu yang niskala, pertanyaan yang tak terjangkau pikiran.

Namun para sarjana India, para Rsi menyebut sang pengendali tunggal itu bernama Rta. Rta-lah yang paling bertanggung jawab pada seluruh rotasi, gerak edar benda-benda langit  di semesta ini. Rta pula yang menata supaya planet-planet itu ”bertanggung jawab” pada di titik edar sendiri. Siang-malam, gerhana bulan, gerhana matahari, hujan badai, dikondisikan  rta itu sendiri. Demikianlah Rta mengatur seluruh asfek kehidupan di semesta ini.

Di kemudian hari, dari sini kelak manusia berpikir membumikan ”tertib langit” itu ke tertib sosial. Kerajaan-kerajaan dibangun, undang-undang ditulis, birokrasinya dibangun berharap ”planet kerajaan” menyamai keadilan Rta”.  Regulasi-regulasi kerajaan diundangkan, aturan dan norma-norma yang  kemudian disebut sasana ditetapkan. Dalam tradisi Jawa raja kerap diposisikan sebagai Paku Bhuwana, sang angawa rat dalam tradisi Bali, artinya yang memegang, mengendalikan, mengatur ”planet-planet birokrasi” kerajaan. Kajian akademik soal ini bisa kita baca dalam karya klasik disertasi Soemarsid Moertono berjudul Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI-XIX [2017].

Warisan atas sejumlah teks etik di Bali, semisal Raja Niti Sasana, Mantri Sasana, dan teks-teks dengan titel ’agama’ adalah  teks bagaimana hukum keteraturan itu disepakati, berharap tidak ada lembaga  kerajaan saling bertubrukan, atau saling kuasa. Raja adalah Rta itu sendiri dalam kosmos pemerintahan.  Pranata dan norma pengatur negara [tata negara] dibuat. Norma pengatur masyarakat [tata krama] juga dibikin, sampai ke sub-sub norma lebih luas, lebih detail. Tata keagamaan, tata upacara, hingga pedoman  paling rinci  soal ”plelutuk upacara”, soal diksa, dan lain-lain  juga ditulis.

Siapa pun yang sempat membaca teks  Bhagawan Garga, Geguritan Ala-Ayuning Dewasa,  teks Wariga Krimping,  yang disebut pula Wariga Pangancangan  akan mengerti;  hidup keseharian kita  pun diharapkan menyesuaikan dengan Rta itu sendiri. Di situ tampak jelas manusia ingin hidup harmonis dengan alam — lepas dari kekeliruan-kekeliruan yang kerap fatal dilakukan manusia.

Sekadar contoh, kita tahu Wariga Krimping adalah teks yang memberi petunjuk bagi para petani, peternak, nelayan, dan pedagang. Lontar ini menjadi semacam pentunjuk praktis sehari-hari soal hari baik bercocok tanam, hari baik pernikahan, potong rambut, larangan untuk mengubur atau ngaben saat ”Semut Sadulur”, Kala Gotongan,  termasuk hari-hari pantangan bersebadan, ini sungguh sangat diperhatikan.

Yang memahami Rta, dianggap katam soal Rtu, yakni soal-soal  yang terhubung dengan ilmu perbintangan atau Joythisa. Tentu banyak hal yang perlu dipelajari bagi siapa saja     yang hendak  mendalami pengetahuan Weda lebih luas, seperti wyakarana[tata bahasa], nirukta[studi perihal asal-asul, sejarah dan arti kata, candasastra [ilmu puisi], dll.

Dari Rta hukum tertinggi itulah kebijakan kuna raja-raja India  meletakkan  momen pembaruan setelah letih, lelah dengan kemelut; peperangan dan pemberontakan. Kelak dalam satu titik perjalanan sejarah, tanggal 22 Maret 79 ditetapkan Raja Kaniskha I sebagai tahun penanggalan resmi kerajaan sekaligus momen penobatan sang raja. Hari itu  disebut sebagai era Saka-Kala,  memulai sebuah tarikh baru,  era  yang  menyudahi  tindak kekerasan.  Dan manusia ingin mencari damai, mencari hening.

Memang sehari sebelumn penobatan Raja Kaniskha I, tepat di tanggal 21 Maret 79 terjadi peristiwa alam penting : Gerhana Matahari Total. Gerhana, baik itu gerhana matahari [surya graha] maupun gerhana bulan [candra graha] posisi matahari – bulan – dan bumi berada dalam satu garis lurus. Karenanya gerhana matahari akan jatuh pada bulan mati [tilem]  dan gerhana bulan jatuh pada purnama penuh.

Menurut catatan IBG. Agastia [2005: 13], karena pada saat itu terjadi gerhana matahari, maka dapatlah dipastikan bahwa pada hari itu adalah tilem [bulan mati]. Jadi perhitungan penetapan tahun Saka tidak hanya memperhatikan poisisi matahari[surya pramana] tetapi juga memperhatikan posisi bulan [candra pramana] oleh karena itu disebut surya-candra-pramana.

Diterangkan IBG. Agastia, perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.Oleh karena itu, tanggal 1 bulan 1 Saka senantiasa jatuh pada tanggal 1[pananggal  ping pisan] bulan[Sasih]  Waisaka, sehari setelah Tilem Caitra. Akibatnya tanggal 1 bulan 1 Saka tidak senantiasa tepat jatuh pada tanggal 22  Maret [karena masih memperhatikan poisisi bulan lurus dengan bumi dan matahari].

Bila diperhatikan lebih seksama, dalam kalendar Saka Bali berlaku penggabungan tiga sistem kalender. Tiga sistem kalender itu meliputi; sistem tahun surya,[1], sistem tahun candra[2], dan sitem tahun Wuku [3]. Sistem tahun surya berpedoman pada jangka waktu peredaran bumi mengitari matahari. Jangka waktu ini disebut satu tahun surya. Umurnya 365,22 hari. Tepatnya 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik.

Sistem tahun candra berpedoman dengan jangka waktu peredaran bulan mengelilingi bumi  disebut satu bulan. Umurnya 29,5 hari. Tepatnya 29 hari, 12 jam, 44 menit, 3 detik. Sehingga umur satu tahun 12 Sasih, terhitung mulai dari bulan Caitra sampai Palguna masa. Umur tahun Candra 354 hari, 8 jam, 45 menit, 36 detik. Sementara sistem tahun wuku dalam satu lingkaran nemugelang berjumlah 210 hari. Lazim disebut enam bulan Bali.

Penetapan Nyepi sebagai awal pergantian tahun baru saka, setidaknya menurut catatan tiga cendekiawan Bali; I Gusti Bagus Sugriwa [1955], Nyoman S. Pendit [2001], IBG. Agastia[2005] merujuk momen penetapan tahun Saka, sebagai era baru  tarikh Saka-Kala yang kebetulan saat itu Tilem Caitra – walau dalam tradisi Bali yang  lebih kuna Nyepi tidak selalu terhubung dengan pergantian tahun. Belum ditemukan dinasti raja-raja Bali Kuna menetapkan tersendiri momen tahun barunya.

Maka sekali lagi sebagaimana dinyatakan IBG. Agastia, ”Perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.” Walau di India sendiri, perayaan tahun baru Saka itu tidak disertai dengan Penyepian.

Sampai di titik ini,  Nyepi adalah tindakan  penjernihan  dari adab batin manusia Bali itu sendiri. Mengingat selain Nyepi yang diawali upacara palelastian dan tawur kesanga serta dirangkai dengan pergantian tahun baru Saka, di Bali sendiri, dalam tradisi lokal masih ada berjenis-jenis ”perayaan” Nyepi.

Misalnya Nyepi Segara, Nyepi Carik, Nyepi Abian, dan lain-lain. Sekali lagi ini adalah bentuk-bentuk tindakan penjernihan dan pengheningan – memberi ruang  pada alam  dengan segala isinya yang telah menyangga hidup ini keheningan —   dan berharap  ”sarwa prani” sumber prana yang tak terlihat mata itu menyempurna dengan baik.

Ada beberapa tahapan retret yang harus dilewati manusia Bali sebelum sampai ke puncak hening, nyepi, sipeng. Pertama adalah melasti.  Lasti artinya tepi air, juga berarti pebersihan, penyucian. Ini adalah perjalanan meditatif menuju pusat-pusat air. Semua simbol-simbol kedewataan[pratima]  disucikan menuju tepi air,  laut, danau, campuhan, patirtan,  dan kelebutan. Air adalah simbol penjernihan sekaligus amreta pemberi hidup. Orang Yunani menyebutnya sebagai abrosia, yang artinya tak pernah mati.

Karena itu devosi paling tinggi saat palelastian adalah, berharap segala kekotoran diri dan dunia disucikan,  alam  dengan segala isinya mendapat sari hidup kembali – angamet sarining amrta. Di samping itu malasti juga merupakan tindakan kontrol lingkungan ke sumber-sumber air, supaya setiap orang senantiasa terpanggil merawat air dan lingkungan — dan menjadilah ia doa dalam tindakan.

Selanjutnya, usai palelastian, tepat pada tilem caitra, saat matahari tepat di atas kepala, bayangan kita tak terlihat,  manakala  matahari  ”melintas” di garis tengah khatulistiwa,  ”perjalanan”  menuju utarayana,  upacara tawur bhumi suddha dilakukan. Tawur berarti kembali, doa-nya berharap unsur-unsur yang membangun dunia ini, panca maha bhuta disempurnakan, langgeng senantiasa menghidupi semesta makhluk hidup.

Kenapa Tawur digelar  saat bajeg surya atau saat matahari tepat di atas kepala kita? Pertama,  ketika bulan mati  [tilem], saat bajeg surya adalah waktu tepat memuja matahari sebagai Siwa Raditya — Siwa yang berbadankan Surya. Karena matahari adalah raja semesta, ia sumber maha energi, seluruh kehidupan ini tergantung pada sang maha energi itu.

Bukankah tanpa sadar kita sesungguhnya  ”pemakan” matahari. Sayur, buah, daging, nasi yang kita santap itu, hidup dan bertumbuh karena matahari. Dari situlah kita ”memakan”  matahari. Dari situ pula kita hidup karena matahari. Ini pula alasan  kenapa saban pagi para pendeta Bali melakukan surya sewana, intinya mendoakan supaya matahari tetap memberi hidup bagi semua, menjadi cahaya bagi semua.

Lalu tawur digelar di titik-titik sentrum pertemuan langit dan bumi. Di Pura  Agung Besakih, upacara digelar di sebuah areal tengah bernama ”bencingah agung” di kaki Gunung Agung, tepat di muka lingga acala [lingga abadi] Gunung Agung. Orang-orang Bali terpelajar memaknai tempat ini sebagai ”madyaning bhuwana”, tengahnya dunia – di mana langit dan bumi disatukan dalam upacara tawur yang amat tantrik.

Di pusat-pusat kota, tawur digelar di pusat perputaran energi mistis ”pempatan agung” atau ”catus pata.” Sementara di rumah-rumah penduduk,  caru digelar di  natah  [halaman  tengah] di titik pertemuan ibu-bapa langit, atau di lebuh gerbang masuk pekarangan. Dan menjelang sandya-kala dilakukanlah upacara pangrupukan atau maobor-obor – berharap buta-buti, energi ”penggangu” dijauhkan dari hidup.

Maka esok hari, setelah menjalani retret berlapis itu   perjalanan menuju titik NOL dimulai. Inilah drama kolosal dari  ramya menuju sunya. Dari hal-hal gaduh menuju hening. Nyepi di  luar dan Nyepi di dalam dilakukan.

Nyepi di luar dilaksanakan dengan menjalankan brata penyepian secara fisik, yakni menjalankan catur brata panyepian, meliputi; amati gni [tidak menyalakan api] amati karya [tidak bekerja], amati lelungan [tidak bepergian], dan amati lelanguan [tidak bersenang-senang].

Sementara Nyepi di dalam dilakukan dengan brata puasa, penjernihan pikiran, penenangan jiwa, mawas diri, pengendalian nafsu, serta laku meditatif [tapa brata, samadhi] guna merengkuh kesadaran Sunya.

Menurut teks-teks Jawa Kuna, kesadaran  Sunya  adalah kesadaran Paramasiwa –  kesadaran yang layaknya kaadaan  dorman atau ”tidak aktif” –  seperti status rekening bank yang fasif atau tidak aktif karena tidak adanya transaksi debit maupun kredit.

Bagi kehidupan dunia kondisi ini tentu tidak menguntungkan.   Namun bagi jiwa  yang memerlukan nutrisi jiwa [amrtajiwa], kondisi  kesadaran seperti ini sungguh dibutuhkan. Inilah yang disebut heneng atau hening. Ini pula yang disebut Sepi —  perjalanan dari NOL menuju NOL.

Sampai di sini Nyepi lalu menjadi titik jeda, kebutuhan kita bersama; seluruh kekerasan pada bumi berserta isinya dihentikan. Nyepi memberi ruang bagi bumi  serta seluruh isinya  ”beristirahat”, bebas sebebas-bebasnya-nya. Perang, perseteruan, dihentikan demi  penghormatan dan memuliakan pada planet bumi. Karena setiap entitas hidup memiliki hak untuk bahagia, bebas dari kekerasan, perusakan, dan penderitaan.  Inilah kenapa kemudian Bali secara fisik menjalanan catur  brata penyepian, berharap semua entitas semesta mendapat keheningan. Keheningan adalah obat paling mujarab bagi dunia yang sedang berseteru.

Catatan:

Tulisan ini adalah rangkuman ceramah Lingkar Studi Seri #009, Jumat 13 Maret 2026. Disponsori Danatara Indonesia, CDS[Center for Dharmic Studies] Binroh Hindu Telkom Group, Telkom Indonesia, dan Majalah Çraddha.

Tags: Hari Raya Nyepirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Next Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co