24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Pranita Dewi by Pranita Dewi
March 12, 2026
in Panggung
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar, suara kayu dipotong dan palu dipukul bergema dari berbagai arah. Kadang terdengar tawa, kadang teriakan, kadang musik diputar terlalu keras dari speaker yang sudah menemani banyak generasi. Semua terasa sedikit kacau, tetapi justru di situlah letak hidupnya.

Energi yang kurang lebih sama terasa siang itu di sebuah studio rumahan di Batubulan, Gianyar. Bukan studio yang terlihat seperti ruang rekaman mahal dengan lampu dramatis. Lebih mirip ruang berkumpul: roller banner jatuh diterbangkan angin sesekali; kain putih yang dipasang sebagai layar; kain kain hitam kembang kempis diterobos angin ke arah jendela seperti kekasih yang datang dan pergi. Dari ruang sederhana itu, band rock independen Bali TRABASENJA memperkenalkan single terbaru mereka, Ogar Ogar Ogoh Ogoh.

Band ini digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar. Nama terakhir ini penting disebut lebih awal, karena selain menjadi gitaris, Eka juga menulis lagu tersebut. Studio tempat konferensi pers berlangsung pun miliknya. Jadi kalau suasananya terasa seperti kumpul di rumah teman sendiri, memang begitu adanya.

Cerita TRABASENJA tidak lahir dari panggung musik atau ruang latihan yang terlalu serius. Ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: komunitas motor trail. Para personelnya bertemu dalam Trail Club Adventure (TCA), sebuah komunitas yang terbentuk dari kegemaran menjelajah jalur tanah dan perbukitan.

Di sela-sela perjalanan dan nongkrong setelah riding, musik mulai muncul.

“Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami,” kata Eka Poglax dengan nada santai. “Tapi setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama.”

Single pertama mereka, Trail Club Adventure, memang dibuat sebagai semacam anthem komunitas. Lagu yang awalnya hanya ditujukan untuk teman-teman sendiri. Namun seperti banyak hal yang lahir dari kebersamaan, musik mereka kemudian berkembang lebih jauh dari rencana awal.

Mereka terus berkumpul. Terus bermain musik. Tanpa terlalu disadari, materi lagu mereka pun bertambah. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari sepuluh.

Di antara lagu-lagu itu, Ogar Ogar Ogoh Ogoh muncul sebagai sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Inspirasi lagu ini datang dari tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun hadir menjelang Hari Raya Nyepi. Patung raksasa yang diarak di jalan desa itu bagi sebagian orang mungkin sekadar tontonan. Tetapi bagi TRABASENJA, ogoh-ogoh adalah energi yang lebih besar dari sekadar visual.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bukan cuma perayaan,” kata Eka. “Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menangkap energi itu lewat musik.”

Energi yang ia maksud bukan hanya patung raksasa yang bergerak di jalanan desa, tetapi juga suasana yang mengiringinya: anak-anak muda yang bekerja bersama, suara ramai dari bale banjar, orang-orang yang datang melihat, dan kegembiraan kolektif yang terasa hampir seperti festival kecil.

Secara musikal, Ogar Ogar Ogoh Ogoh mengambil pendekatan yang tidak terburu-buru. Lagu ini tidak langsung menghantam pendengar dengan distorsi gitar sejak awal. Ia dibuka dengan aransemen yang relatif tenang. Gitar memainkan motif sederhana, vokal masuk dengan cara yang hampir seperti bercerita, dan ruang sonik terasa sengaja dibiarkan agak lapang.

Atmosfernya terasa seperti desa sebelum malam pengerupukan benar-benar ramai.

Kemudian drum Cokde Kagawa mulai masuk. Permainannya tidak mencoba terlalu teknis. Groove yang ia bangun justru terasa stabil, seperti langkah yang terus bergerak maju. Bass Gung Ngurah kemudian mengisi ruang bawah dengan tenang, memberi fondasi yang membuat lagu tetap terasa penuh.

Di atas fondasi itu, gitar Eka Poglax mulai mengambil peran lebih besar. Distorsi yang ia gunakan tidak terlalu bersih, sedikit kasar, seperti suara amplifier yang sudah terlalu sering dipakai latihan band. Dalam konteks rock, justru di situlah kejujurannya.

Di tengah aransemen tersebut, unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong masuk dengan cara yang cukup menarik. Ia tidak hadir sebagai tempelan budaya yang sekadar lewat sebentar. Gamelan benar-benar menjadi bagian dari ritme lagu, berinteraksi dengan gitar, bass, dan drum.

Efeknya memberi dua rasa sekaligus. Energi rock yang mentah, dan nuansa ritual yang terasa lebih tua dan lebih dalam.

Ketika lagu mencapai bagian chorus, semuanya akhirnya meledak dalam chant sederhana yang sulit dilupakan.

“Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!”

Secara lirik, ia sangat sederhana. Tetapi justru karena itu ia terasa kuat. Chant tersebut seperti dibuat untuk diteriakkan bersama.

Dalam dunia rock, momen seperti ini sering disebut sebagai momen stadion. Bagian lagu yang membuat orang ingin ikut bersuara. Namun dalam konteks Bali, chant itu terasa lebih seperti gema dari arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.

Keramaian. Teriakan. Kadang sedikit kacau.

Dan justru karena itu terasa hidup.

Produksi lagu ini sendiri berlangsung relatif cepat. Sekitar satu bulan dari penulisan lirik hingga proses rekaman. Produksinya dilakukan secara independen dengan bantuan produser audio Dewa Edwin.

“Kami sendiri tidak menyangka akan sampai sejauh ini,” kata Eka. “Awalnya hanya membuat lagu, lalu berkembang menjadi video klip dan akhirnya ada press conference seperti ini.”

Video klip lagu tersebut juga melibatkan banyak unsur komunitas. Sosok raksasa dalam video diperankan oleh penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan dalam video juga melibatkan truna-truni desa serta anggota komunitas Trail Club Adventure.

Kolaborasi itu membuat proyek ini terasa seperti sesuatu yang tumbuh bersama. Bukan hanya karya sebuah band, tetapi pertemuan banyak orang dalam satu gagasan.

Dalam konferensi pers itu, Eka juga sempat menyinggung sesuatu yang cukup menarik tentang energi dalam budaya Bali.

“Budaya Bali itu penuh energi. Ada ogoh-ogoh, ada metajen, dan banyak tradisi lain yang menunjukkan keberanian dan semangat hidup,” katanya.

Ia lalu menambahkan dengan nada yang setengah serius, setengah bercanda.

“Daripada energi itu habis untuk metajen, kami pikir lebih baik dipakai bikin band.”

Kalimat itu disambut tawa kecil di ruangan.

Namun di balik candaan itu ada sesuatu yang cukup jelas. Musik, bagi mereka, adalah cara lain untuk menyalurkan energi yang sama.

Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar

Pada akhirnya, Ogar Ogar Ogoh Ogoh bukan lagu yang mencoba menjadi karya rock yang paling kompleks. Ia tidak memamerkan teknik yang terlalu rumit. Ia juga tidak berusaha terdengar terlalu rapi.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Lagu ini terasa seperti sesuatu yang lahir dari ruang yang nyata. Dari banjar, dari komunitas, dari orang-orang yang berkumpul tanpa terlalu banyak rencana.

Dengan distorsi gitar yang tebal, groove drum yang stabil, dan aksen gamelan yang memberi nuansa ritual, TRABASENJA menghadirkan lagu yang terasa seperti soundtrack bagi malam pengerupukan.

Dan mungkin suatu malam nanti, ketika ogoh-ogoh mulai diarak di jalan desa dan seseorang memutar lagu ini terlalu keras dari speaker banjar, orang-orang akan ikut meneriakkan chorusnya tanpa berpikir terlalu banyak.

Jika itu terjadi, lagu ini sudah menemukan tempatnya sendiri. [T]

Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: band indie baligamelanmusikmusik baliTrabasenja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Next Post

Prinsip ‘Lex Prior Tempore Potior Jure’ dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan —Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Prinsip 'Lex Prior Tempore Potior Jure' dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan ---Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co