4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Pranita Dewi by Pranita Dewi
March 12, 2026
in Panggung
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar, suara kayu dipotong dan palu dipukul bergema dari berbagai arah. Kadang terdengar tawa, kadang teriakan, kadang musik diputar terlalu keras dari speaker yang sudah menemani banyak generasi. Semua terasa sedikit kacau, tetapi justru di situlah letak hidupnya.

Energi yang kurang lebih sama terasa siang itu di sebuah studio rumahan di Batubulan, Gianyar. Bukan studio yang terlihat seperti ruang rekaman mahal dengan lampu dramatis. Lebih mirip ruang berkumpul: roller banner jatuh diterbangkan angin sesekali; kain putih yang dipasang sebagai layar; kain kain hitam kembang kempis diterobos angin ke arah jendela seperti kekasih yang datang dan pergi. Dari ruang sederhana itu, band rock independen Bali TRABASENJA memperkenalkan single terbaru mereka, Ogar Ogar Ogoh Ogoh.

Band ini digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar. Nama terakhir ini penting disebut lebih awal, karena selain menjadi gitaris, Eka juga menulis lagu tersebut. Studio tempat konferensi pers berlangsung pun miliknya. Jadi kalau suasananya terasa seperti kumpul di rumah teman sendiri, memang begitu adanya.

Cerita TRABASENJA tidak lahir dari panggung musik atau ruang latihan yang terlalu serius. Ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: komunitas motor trail. Para personelnya bertemu dalam Trail Club Adventure (TCA), sebuah komunitas yang terbentuk dari kegemaran menjelajah jalur tanah dan perbukitan.

Di sela-sela perjalanan dan nongkrong setelah riding, musik mulai muncul.

“Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami,” kata Eka Poglax dengan nada santai. “Tapi setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama.”

Single pertama mereka, Trail Club Adventure, memang dibuat sebagai semacam anthem komunitas. Lagu yang awalnya hanya ditujukan untuk teman-teman sendiri. Namun seperti banyak hal yang lahir dari kebersamaan, musik mereka kemudian berkembang lebih jauh dari rencana awal.

Mereka terus berkumpul. Terus bermain musik. Tanpa terlalu disadari, materi lagu mereka pun bertambah. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari sepuluh.

Di antara lagu-lagu itu, Ogar Ogar Ogoh Ogoh muncul sebagai sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Inspirasi lagu ini datang dari tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun hadir menjelang Hari Raya Nyepi. Patung raksasa yang diarak di jalan desa itu bagi sebagian orang mungkin sekadar tontonan. Tetapi bagi TRABASENJA, ogoh-ogoh adalah energi yang lebih besar dari sekadar visual.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bukan cuma perayaan,” kata Eka. “Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menangkap energi itu lewat musik.”

Energi yang ia maksud bukan hanya patung raksasa yang bergerak di jalanan desa, tetapi juga suasana yang mengiringinya: anak-anak muda yang bekerja bersama, suara ramai dari bale banjar, orang-orang yang datang melihat, dan kegembiraan kolektif yang terasa hampir seperti festival kecil.

Secara musikal, Ogar Ogar Ogoh Ogoh mengambil pendekatan yang tidak terburu-buru. Lagu ini tidak langsung menghantam pendengar dengan distorsi gitar sejak awal. Ia dibuka dengan aransemen yang relatif tenang. Gitar memainkan motif sederhana, vokal masuk dengan cara yang hampir seperti bercerita, dan ruang sonik terasa sengaja dibiarkan agak lapang.

Atmosfernya terasa seperti desa sebelum malam pengerupukan benar-benar ramai.

Kemudian drum Cokde Kagawa mulai masuk. Permainannya tidak mencoba terlalu teknis. Groove yang ia bangun justru terasa stabil, seperti langkah yang terus bergerak maju. Bass Gung Ngurah kemudian mengisi ruang bawah dengan tenang, memberi fondasi yang membuat lagu tetap terasa penuh.

Di atas fondasi itu, gitar Eka Poglax mulai mengambil peran lebih besar. Distorsi yang ia gunakan tidak terlalu bersih, sedikit kasar, seperti suara amplifier yang sudah terlalu sering dipakai latihan band. Dalam konteks rock, justru di situlah kejujurannya.

Di tengah aransemen tersebut, unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong masuk dengan cara yang cukup menarik. Ia tidak hadir sebagai tempelan budaya yang sekadar lewat sebentar. Gamelan benar-benar menjadi bagian dari ritme lagu, berinteraksi dengan gitar, bass, dan drum.

Efeknya memberi dua rasa sekaligus. Energi rock yang mentah, dan nuansa ritual yang terasa lebih tua dan lebih dalam.

Ketika lagu mencapai bagian chorus, semuanya akhirnya meledak dalam chant sederhana yang sulit dilupakan.

“Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!”

Secara lirik, ia sangat sederhana. Tetapi justru karena itu ia terasa kuat. Chant tersebut seperti dibuat untuk diteriakkan bersama.

Dalam dunia rock, momen seperti ini sering disebut sebagai momen stadion. Bagian lagu yang membuat orang ingin ikut bersuara. Namun dalam konteks Bali, chant itu terasa lebih seperti gema dari arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.

Keramaian. Teriakan. Kadang sedikit kacau.

Dan justru karena itu terasa hidup.

Produksi lagu ini sendiri berlangsung relatif cepat. Sekitar satu bulan dari penulisan lirik hingga proses rekaman. Produksinya dilakukan secara independen dengan bantuan produser audio Dewa Edwin.

“Kami sendiri tidak menyangka akan sampai sejauh ini,” kata Eka. “Awalnya hanya membuat lagu, lalu berkembang menjadi video klip dan akhirnya ada press conference seperti ini.”

Video klip lagu tersebut juga melibatkan banyak unsur komunitas. Sosok raksasa dalam video diperankan oleh penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan dalam video juga melibatkan truna-truni desa serta anggota komunitas Trail Club Adventure.

Kolaborasi itu membuat proyek ini terasa seperti sesuatu yang tumbuh bersama. Bukan hanya karya sebuah band, tetapi pertemuan banyak orang dalam satu gagasan.

Dalam konferensi pers itu, Eka juga sempat menyinggung sesuatu yang cukup menarik tentang energi dalam budaya Bali.

“Budaya Bali itu penuh energi. Ada ogoh-ogoh, ada metajen, dan banyak tradisi lain yang menunjukkan keberanian dan semangat hidup,” katanya.

Ia lalu menambahkan dengan nada yang setengah serius, setengah bercanda.

“Daripada energi itu habis untuk metajen, kami pikir lebih baik dipakai bikin band.”

Kalimat itu disambut tawa kecil di ruangan.

Namun di balik candaan itu ada sesuatu yang cukup jelas. Musik, bagi mereka, adalah cara lain untuk menyalurkan energi yang sama.

Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar

Pada akhirnya, Ogar Ogar Ogoh Ogoh bukan lagu yang mencoba menjadi karya rock yang paling kompleks. Ia tidak memamerkan teknik yang terlalu rumit. Ia juga tidak berusaha terdengar terlalu rapi.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Lagu ini terasa seperti sesuatu yang lahir dari ruang yang nyata. Dari banjar, dari komunitas, dari orang-orang yang berkumpul tanpa terlalu banyak rencana.

Dengan distorsi gitar yang tebal, groove drum yang stabil, dan aksen gamelan yang memberi nuansa ritual, TRABASENJA menghadirkan lagu yang terasa seperti soundtrack bagi malam pengerupukan.

Dan mungkin suatu malam nanti, ketika ogoh-ogoh mulai diarak di jalan desa dan seseorang memutar lagu ini terlalu keras dari speaker banjar, orang-orang akan ikut meneriakkan chorusnya tanpa berpikir terlalu banyak.

Jika itu terjadi, lagu ini sudah menemukan tempatnya sendiri. [T]

Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: band indie baligamelanmusikmusik baliTrabasenja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Next Post

Prinsip ‘Lex Prior Tempore Potior Jure’ dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan —Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Prinsip 'Lex Prior Tempore Potior Jure' dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan ---Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co