24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Pranita Dewi by Pranita Dewi
March 12, 2026
in Panggung
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar, suara kayu dipotong dan palu dipukul bergema dari berbagai arah. Kadang terdengar tawa, kadang teriakan, kadang musik diputar terlalu keras dari speaker yang sudah menemani banyak generasi. Semua terasa sedikit kacau, tetapi justru di situlah letak hidupnya.

Energi yang kurang lebih sama terasa siang itu di sebuah studio rumahan di Batubulan, Gianyar. Bukan studio yang terlihat seperti ruang rekaman mahal dengan lampu dramatis. Lebih mirip ruang berkumpul: roller banner jatuh diterbangkan angin sesekali; kain putih yang dipasang sebagai layar; kain kain hitam kembang kempis diterobos angin ke arah jendela seperti kekasih yang datang dan pergi. Dari ruang sederhana itu, band rock independen Bali TRABASENJA memperkenalkan single terbaru mereka, Ogar Ogar Ogoh Ogoh.

Band ini digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar. Nama terakhir ini penting disebut lebih awal, karena selain menjadi gitaris, Eka juga menulis lagu tersebut. Studio tempat konferensi pers berlangsung pun miliknya. Jadi kalau suasananya terasa seperti kumpul di rumah teman sendiri, memang begitu adanya.

Cerita TRABASENJA tidak lahir dari panggung musik atau ruang latihan yang terlalu serius. Ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: komunitas motor trail. Para personelnya bertemu dalam Trail Club Adventure (TCA), sebuah komunitas yang terbentuk dari kegemaran menjelajah jalur tanah dan perbukitan.

Di sela-sela perjalanan dan nongkrong setelah riding, musik mulai muncul.

“Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami,” kata Eka Poglax dengan nada santai. “Tapi setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama.”

Single pertama mereka, Trail Club Adventure, memang dibuat sebagai semacam anthem komunitas. Lagu yang awalnya hanya ditujukan untuk teman-teman sendiri. Namun seperti banyak hal yang lahir dari kebersamaan, musik mereka kemudian berkembang lebih jauh dari rencana awal.

Mereka terus berkumpul. Terus bermain musik. Tanpa terlalu disadari, materi lagu mereka pun bertambah. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari sepuluh.

Di antara lagu-lagu itu, Ogar Ogar Ogoh Ogoh muncul sebagai sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Inspirasi lagu ini datang dari tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun hadir menjelang Hari Raya Nyepi. Patung raksasa yang diarak di jalan desa itu bagi sebagian orang mungkin sekadar tontonan. Tetapi bagi TRABASENJA, ogoh-ogoh adalah energi yang lebih besar dari sekadar visual.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bukan cuma perayaan,” kata Eka. “Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menangkap energi itu lewat musik.”

Energi yang ia maksud bukan hanya patung raksasa yang bergerak di jalanan desa, tetapi juga suasana yang mengiringinya: anak-anak muda yang bekerja bersama, suara ramai dari bale banjar, orang-orang yang datang melihat, dan kegembiraan kolektif yang terasa hampir seperti festival kecil.

Secara musikal, Ogar Ogar Ogoh Ogoh mengambil pendekatan yang tidak terburu-buru. Lagu ini tidak langsung menghantam pendengar dengan distorsi gitar sejak awal. Ia dibuka dengan aransemen yang relatif tenang. Gitar memainkan motif sederhana, vokal masuk dengan cara yang hampir seperti bercerita, dan ruang sonik terasa sengaja dibiarkan agak lapang.

Atmosfernya terasa seperti desa sebelum malam pengerupukan benar-benar ramai.

Kemudian drum Cokde Kagawa mulai masuk. Permainannya tidak mencoba terlalu teknis. Groove yang ia bangun justru terasa stabil, seperti langkah yang terus bergerak maju. Bass Gung Ngurah kemudian mengisi ruang bawah dengan tenang, memberi fondasi yang membuat lagu tetap terasa penuh.

Di atas fondasi itu, gitar Eka Poglax mulai mengambil peran lebih besar. Distorsi yang ia gunakan tidak terlalu bersih, sedikit kasar, seperti suara amplifier yang sudah terlalu sering dipakai latihan band. Dalam konteks rock, justru di situlah kejujurannya.

Di tengah aransemen tersebut, unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong masuk dengan cara yang cukup menarik. Ia tidak hadir sebagai tempelan budaya yang sekadar lewat sebentar. Gamelan benar-benar menjadi bagian dari ritme lagu, berinteraksi dengan gitar, bass, dan drum.

Efeknya memberi dua rasa sekaligus. Energi rock yang mentah, dan nuansa ritual yang terasa lebih tua dan lebih dalam.

Ketika lagu mencapai bagian chorus, semuanya akhirnya meledak dalam chant sederhana yang sulit dilupakan.

“Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!”

Secara lirik, ia sangat sederhana. Tetapi justru karena itu ia terasa kuat. Chant tersebut seperti dibuat untuk diteriakkan bersama.

Dalam dunia rock, momen seperti ini sering disebut sebagai momen stadion. Bagian lagu yang membuat orang ingin ikut bersuara. Namun dalam konteks Bali, chant itu terasa lebih seperti gema dari arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.

Keramaian. Teriakan. Kadang sedikit kacau.

Dan justru karena itu terasa hidup.

Produksi lagu ini sendiri berlangsung relatif cepat. Sekitar satu bulan dari penulisan lirik hingga proses rekaman. Produksinya dilakukan secara independen dengan bantuan produser audio Dewa Edwin.

“Kami sendiri tidak menyangka akan sampai sejauh ini,” kata Eka. “Awalnya hanya membuat lagu, lalu berkembang menjadi video klip dan akhirnya ada press conference seperti ini.”

Video klip lagu tersebut juga melibatkan banyak unsur komunitas. Sosok raksasa dalam video diperankan oleh penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan dalam video juga melibatkan truna-truni desa serta anggota komunitas Trail Club Adventure.

Kolaborasi itu membuat proyek ini terasa seperti sesuatu yang tumbuh bersama. Bukan hanya karya sebuah band, tetapi pertemuan banyak orang dalam satu gagasan.

Dalam konferensi pers itu, Eka juga sempat menyinggung sesuatu yang cukup menarik tentang energi dalam budaya Bali.

“Budaya Bali itu penuh energi. Ada ogoh-ogoh, ada metajen, dan banyak tradisi lain yang menunjukkan keberanian dan semangat hidup,” katanya.

Ia lalu menambahkan dengan nada yang setengah serius, setengah bercanda.

“Daripada energi itu habis untuk metajen, kami pikir lebih baik dipakai bikin band.”

Kalimat itu disambut tawa kecil di ruangan.

Namun di balik candaan itu ada sesuatu yang cukup jelas. Musik, bagi mereka, adalah cara lain untuk menyalurkan energi yang sama.

Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar

Pada akhirnya, Ogar Ogar Ogoh Ogoh bukan lagu yang mencoba menjadi karya rock yang paling kompleks. Ia tidak memamerkan teknik yang terlalu rumit. Ia juga tidak berusaha terdengar terlalu rapi.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Lagu ini terasa seperti sesuatu yang lahir dari ruang yang nyata. Dari banjar, dari komunitas, dari orang-orang yang berkumpul tanpa terlalu banyak rencana.

Dengan distorsi gitar yang tebal, groove drum yang stabil, dan aksen gamelan yang memberi nuansa ritual, TRABASENJA menghadirkan lagu yang terasa seperti soundtrack bagi malam pengerupukan.

Dan mungkin suatu malam nanti, ketika ogoh-ogoh mulai diarak di jalan desa dan seseorang memutar lagu ini terlalu keras dari speaker banjar, orang-orang akan ikut meneriakkan chorusnya tanpa berpikir terlalu banyak.

Jika itu terjadi, lagu ini sudah menemukan tempatnya sendiri. [T]

Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: band indie baligamelanmusikmusik baliTrabasenja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Next Post

Prinsip ‘Lex Prior Tempore Potior Jure’ dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan —Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Prinsip 'Lex Prior Tempore Potior Jure' dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan ---Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co