15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Pranita Dewi by Pranita Dewi
March 12, 2026
in Panggung
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar, suara kayu dipotong dan palu dipukul bergema dari berbagai arah. Kadang terdengar tawa, kadang teriakan, kadang musik diputar terlalu keras dari speaker yang sudah menemani banyak generasi. Semua terasa sedikit kacau, tetapi justru di situlah letak hidupnya.

Energi yang kurang lebih sama terasa siang itu di sebuah studio rumahan di Batubulan, Gianyar. Bukan studio yang terlihat seperti ruang rekaman mahal dengan lampu dramatis. Lebih mirip ruang berkumpul: roller banner jatuh diterbangkan angin sesekali; kain putih yang dipasang sebagai layar; kain kain hitam kembang kempis diterobos angin ke arah jendela seperti kekasih yang datang dan pergi. Dari ruang sederhana itu, band rock independen Bali TRABASENJA memperkenalkan single terbaru mereka, Ogar Ogar Ogoh Ogoh.

Band ini digawangi oleh Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar. Nama terakhir ini penting disebut lebih awal, karena selain menjadi gitaris, Eka juga menulis lagu tersebut. Studio tempat konferensi pers berlangsung pun miliknya. Jadi kalau suasananya terasa seperti kumpul di rumah teman sendiri, memang begitu adanya.

Cerita TRABASENJA tidak lahir dari panggung musik atau ruang latihan yang terlalu serius. Ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: komunitas motor trail. Para personelnya bertemu dalam Trail Club Adventure (TCA), sebuah komunitas yang terbentuk dari kegemaran menjelajah jalur tanah dan perbukitan.

Di sela-sela perjalanan dan nongkrong setelah riding, musik mulai muncul.

“Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami,” kata Eka Poglax dengan nada santai. “Tapi setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama.”

Single pertama mereka, Trail Club Adventure, memang dibuat sebagai semacam anthem komunitas. Lagu yang awalnya hanya ditujukan untuk teman-teman sendiri. Namun seperti banyak hal yang lahir dari kebersamaan, musik mereka kemudian berkembang lebih jauh dari rencana awal.

Mereka terus berkumpul. Terus bermain musik. Tanpa terlalu disadari, materi lagu mereka pun bertambah. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari sepuluh.

Di antara lagu-lagu itu, Ogar Ogar Ogoh Ogoh muncul sebagai sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Inspirasi lagu ini datang dari tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun hadir menjelang Hari Raya Nyepi. Patung raksasa yang diarak di jalan desa itu bagi sebagian orang mungkin sekadar tontonan. Tetapi bagi TRABASENJA, ogoh-ogoh adalah energi yang lebih besar dari sekadar visual.

“Tradisi ogoh-ogoh itu bukan cuma perayaan,” kata Eka. “Ada energi budaya yang sangat kuat di sana. Kami mencoba menangkap energi itu lewat musik.”

Energi yang ia maksud bukan hanya patung raksasa yang bergerak di jalanan desa, tetapi juga suasana yang mengiringinya: anak-anak muda yang bekerja bersama, suara ramai dari bale banjar, orang-orang yang datang melihat, dan kegembiraan kolektif yang terasa hampir seperti festival kecil.

Secara musikal, Ogar Ogar Ogoh Ogoh mengambil pendekatan yang tidak terburu-buru. Lagu ini tidak langsung menghantam pendengar dengan distorsi gitar sejak awal. Ia dibuka dengan aransemen yang relatif tenang. Gitar memainkan motif sederhana, vokal masuk dengan cara yang hampir seperti bercerita, dan ruang sonik terasa sengaja dibiarkan agak lapang.

Atmosfernya terasa seperti desa sebelum malam pengerupukan benar-benar ramai.

Kemudian drum Cokde Kagawa mulai masuk. Permainannya tidak mencoba terlalu teknis. Groove yang ia bangun justru terasa stabil, seperti langkah yang terus bergerak maju. Bass Gung Ngurah kemudian mengisi ruang bawah dengan tenang, memberi fondasi yang membuat lagu tetap terasa penuh.

Di atas fondasi itu, gitar Eka Poglax mulai mengambil peran lebih besar. Distorsi yang ia gunakan tidak terlalu bersih, sedikit kasar, seperti suara amplifier yang sudah terlalu sering dipakai latihan band. Dalam konteks rock, justru di situlah kejujurannya.

Di tengah aransemen tersebut, unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong masuk dengan cara yang cukup menarik. Ia tidak hadir sebagai tempelan budaya yang sekadar lewat sebentar. Gamelan benar-benar menjadi bagian dari ritme lagu, berinteraksi dengan gitar, bass, dan drum.

Efeknya memberi dua rasa sekaligus. Energi rock yang mentah, dan nuansa ritual yang terasa lebih tua dan lebih dalam.

Ketika lagu mencapai bagian chorus, semuanya akhirnya meledak dalam chant sederhana yang sulit dilupakan.

“Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!”

Secara lirik, ia sangat sederhana. Tetapi justru karena itu ia terasa kuat. Chant tersebut seperti dibuat untuk diteriakkan bersama.

Dalam dunia rock, momen seperti ini sering disebut sebagai momen stadion. Bagian lagu yang membuat orang ingin ikut bersuara. Namun dalam konteks Bali, chant itu terasa lebih seperti gema dari arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.

Keramaian. Teriakan. Kadang sedikit kacau.

Dan justru karena itu terasa hidup.

Produksi lagu ini sendiri berlangsung relatif cepat. Sekitar satu bulan dari penulisan lirik hingga proses rekaman. Produksinya dilakukan secara independen dengan bantuan produser audio Dewa Edwin.

“Kami sendiri tidak menyangka akan sampai sejauh ini,” kata Eka. “Awalnya hanya membuat lagu, lalu berkembang menjadi video klip dan akhirnya ada press conference seperti ini.”

Video klip lagu tersebut juga melibatkan banyak unsur komunitas. Sosok raksasa dalam video diperankan oleh penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan dalam video juga melibatkan truna-truni desa serta anggota komunitas Trail Club Adventure.

Kolaborasi itu membuat proyek ini terasa seperti sesuatu yang tumbuh bersama. Bukan hanya karya sebuah band, tetapi pertemuan banyak orang dalam satu gagasan.

Dalam konferensi pers itu, Eka juga sempat menyinggung sesuatu yang cukup menarik tentang energi dalam budaya Bali.

“Budaya Bali itu penuh energi. Ada ogoh-ogoh, ada metajen, dan banyak tradisi lain yang menunjukkan keberanian dan semangat hidup,” katanya.

Ia lalu menambahkan dengan nada yang setengah serius, setengah bercanda.

“Daripada energi itu habis untuk metajen, kami pikir lebih baik dipakai bikin band.”

Kalimat itu disambut tawa kecil di ruangan.

Namun di balik candaan itu ada sesuatu yang cukup jelas. Musik, bagi mereka, adalah cara lain untuk menyalurkan energi yang sama.

Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar

Pada akhirnya, Ogar Ogar Ogoh Ogoh bukan lagu yang mencoba menjadi karya rock yang paling kompleks. Ia tidak memamerkan teknik yang terlalu rumit. Ia juga tidak berusaha terdengar terlalu rapi.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Lagu ini terasa seperti sesuatu yang lahir dari ruang yang nyata. Dari banjar, dari komunitas, dari orang-orang yang berkumpul tanpa terlalu banyak rencana.

Dengan distorsi gitar yang tebal, groove drum yang stabil, dan aksen gamelan yang memberi nuansa ritual, TRABASENJA menghadirkan lagu yang terasa seperti soundtrack bagi malam pengerupukan.

Dan mungkin suatu malam nanti, ketika ogoh-ogoh mulai diarak di jalan desa dan seseorang memutar lagu ini terlalu keras dari speaker banjar, orang-orang akan ikut meneriakkan chorusnya tanpa berpikir terlalu banyak.

Jika itu terjadi, lagu ini sudah menemukan tempatnya sendiri. [T]

Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: band indie baligamelanmusikmusik baliTrabasenja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Next Post

Prinsip ‘Lex Prior Tempore Potior Jure’ dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan —Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Prinsip 'Lex Prior Tempore Potior Jure' dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan ---Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co