24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 11, 2026
in Esai
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Ritual Lama, Tradisi Baru

Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana. Intinya adalah bhuta yadnya, sebuah upaya simbolik untuk menyeimbangkan energi alam dan manusia sebelum memasuki hari hening Nyepi.

Dalam ingatan banyak orang Bali dari generasi yang lebih tua, termasuk pengalaman pribadi saya, suasana Pengerupukan dahulu jauh lebih sederhana. Bahkan ketika saya masih sekolah hingga tamat SMA pada tahun 1981dan kemudian melanjutkan studi di luar Bali, ogoh-ogoh belum dikenal  seperti sekarang. Yang ada biasanya hanya obor dari bambu, bahkan hanya dari gulungan daun kelapa kering yang dibakar, bunyi-bunyian, dan disertai teriakan lantang atau simbol sederhana untuk mengusir energi negatif. Makna dan esensi sesungguhnya adalah untuk mengeluarkan sampah-sampah di dalam diri, semacam katarsis dalam psikologi.

Ogoh-ogoh sebagai patung raksasa yang diarak keliling desa tampaknya muncul dan berkembang jauh kemudian. Kapan tepatnya ogoh-ogoh mulai populer dan bagaimana proses sosial-budayanya tentu memerlukan kajian khusus dari para peneliti budaya. Banyak yang menduga fenomena ini berkembang kuat sejak dekade 1981–1990-an, seiring berkembangnya kreativitas pemuda banjar dan juga pengaruh pariwisata.

Dengan kata lain, ogoh-ogoh sebenarnya adalah tradisi yang relatif baru, meskipun kemudian dianggap sebagai bagian yang seolah-olah selalu ada dalam Pengerupukan.

Dari Kreativitas Pemuda ke Festival Mahal

Awalnya, ogoh-ogoh lahir dari kreativitas pemuda banjar. Bahan yang digunakan sederhana: bambu, kertas, kain bekas, dan jerami. Anak-anak muda bekerja bersama di bale banjar, membuat patung yang melambangkan bhuta kala, energi negatif yang harus dinetralkan menjelang Nyepi.

Namun dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan. Ogoh-ogoh berkembang menjadi karya seni yang semakin spektakuler. Bahan yang digunakan semakin mahal, desain semakin rumit, bahkan dilengkapi teknologi mekanik dan pencahayaan modern.

Akibatnya, biaya yang dikeluarkan pun meningkat tajam. Di beberapa tempat, satu ogoh-ogoh dapat menelan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Di sinilah muncul pertanyaan reflektif: apakah ogoh-ogoh masih bagian dari ritual, atau telah berubah menjadi festival budaya?

Negara Teater dan Warisan Simbolik

Fenomena ini menarik jika dilihat melalui perspektif antropolog Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater.

Geertz menggambarkan kerajaan Bali tradisional sebagai theatre state, yaitu sistem di mana kekuasaan dipentaskan melalui upacara, simbol, dan ritual yang megah. Dalam sistem tersebut, kemegahan ritual memang memiliki fungsi sosial dan kosmis.

Namun dalam masyarakat modern, struktur kerajaan yang dahulu menopang kemegahan itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah pola simboliknya.

Ketika pola itu diwarisi tanpa dukungan ekonomi yang memadai, maka kemegahan ritual bisa berubah menjadi high cost economy dan berujung beban dan tekanan sosial.

Ketika Ritual Menjadi Beban Ekonomi

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, kita sering mendengar cerita yang cukup menyentuh: keluarga yang harus meminjam uang atau menjual aset untuk memenuhi kewajiban sosial dan adat.

Tentu tidak semua desa mengalami situasi seperti itu. Banyak komunitas adat yang mengelola tradisi dengan sangat bijak. Namun kecenderungan “high cost ritual” mulai terasa di beberapa tempat.

Ketika ukuran keberhasilan ritual bergeser dari makna spiritual ke kemegahan visual, maka ritual berisiko berubah menjadi kompetisi sosial.

Padahal dalam banyak ajaran spiritual, yang ditekankan justru sebaliknya: kesederhanaan, ketulusan, dan kesadaran batin.

Alih Fungsi dan Alih Kepemilikan Tanah

Di tengah dinamika budaya ini, Bali juga menghadapi persoalan yang tidak kalah serius: alih fungsi dan alih kepemilikan tanah.

Dalam dua dekade terakhir, berbagai laporan pemerintah daerah dan penelitian akademik menunjukkan bahwa ribuan hektar sawah produktif di Bali telah beralih fungsi. Sebagian memang berubah menjadi hotel, vila, restoran, dan fasilitas pariwisata.

Namun yang sering luput dari perhatian, sebagian besar lainnya justru berubah menjadi perumahan dan kawasan permukiman baru.

Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta investasi properti mendorong perubahan ini berlangsung sangat cepat. Sawah-sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan desa perlahan berubah menjadi bangunan beton.

Selain alih fungsi, terjadi pula alih kepemilikan tanah. Tanah keluarga yang diwariskan turun-temurun dijual kepada investor atau pembeli dari luar daerah.

Jika kecenderungan ini terus berlangsung, generasi mendatang bisa menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan: hidup di Bali, tetapi tidak lagi memiliki tanah Bali.

Pelajaran dari Hawaii

Sejarah dunia memberi contoh yang cukup jelas tentang situasi seperti ini. Salah satunya adalah pengalaman Hawaii.

Pulau-pulau Hawaii dahulu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat lokal. Namun setelah pariwisata berkembang pesat, banyak tanah dijual kepada investor besar.

Lama-kelamaan, masyarakat asli kehilangan sebagian besar kontrol atas tanah dan ekonomi mereka. Budaya Hawaii tetap dipentaskan—tarian hula, festival tradisional, pakaian adat—tetapi masyarakat lokal sering kali hanya menjadi bagian dari industri wisata, bukan pemiliknya.

Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah wisata di seluruh dunia, termasuk Bali.

Membedakan Ritual dan Festival

Karena itu, mungkin sudah waktunya muncul kesadaran baru.

Pertama, penting untuk membedakan secara jelas antara ritual dan festival.

Ritual adalah ruang spiritual yang berkaitan dengan keyakinan dan keseimbangan kosmis. Kesederhanaan sering kali justru memperkuat maknanya.

Festival adalah ruang ekspresi budaya. Festival boleh meriah, kreatif, dan spektakuler. Ia bisa menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan generasi muda.

Masalah muncul ketika festival dimasukkan ke dalam ritual, sehingga biaya besar menjadi kewajiban sosial bagi masyarakat.

Jika festival ingin dikembangkan, ia bisa dikelola sebagai kegiatan budaya dengan sistem pendanaan yang jelas, bukan sebagai kewajiban yang membebani warga.

Menjaga Tanah sebagai Masa Depan

Selain itu, Bali perlu memandang tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan budaya dan ekologis.

Sawah bukan hanya tempat menanam padi. Ia adalah bagian dari identitas Bali, terkait dengan sistem subak, dengan ritual agraris, dan dengan keseimbangan lingkungan.

Ketika sawah hilang, yang hilang bukan hanya lahan pertanian, tetapi juga sebuah cara hidup.

Karena itu, perlindungan lahan pertanian dan pengendalian alih fungsi tanah menjadi sangat penting bagi masa depan Bali.

Agar Bali Tidak Menjadi Penonton

Pada akhirnya, pertanyaan besar bagi masyarakat Bali adalah ini:

apakah Bali akan tetap menjadi rumah bagi orang Bali, atau hanya menjadi panggung wisata bagi dunia?

Jika tanah terus dijual, jika sawah terus berubah menjadi beton, jika ritual semakin mahal dan membebani masyarakat, maka suatu saat masyarakat lokal bisa menemukan diri mereka dalam posisi yang sulit.

Budaya tetap dipertontonkan. Wisatawan tetap datang. Tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.

Namun masa depan tidak harus seperti itu.

Dengan kesadaran kolektif, tradisi dapat tetap dijaga tanpa menjadi beban. Pariwisata dapat berkembang tanpa merusak fondasi kehidupan masyarakat.

Pelajaran dari Pengerupukan sebenarnya sangat dalam. Ogoh-ogoh melambangkan energi negatif dalam diri manusia: keserakahan, ego, dan nafsu yang tidak terkendali.

Simbol itu mengingatkan bahwa yang seharusnya kita bakar bukan hanya patung raksasa di jalan, tetapi juga bhuta kala dalam diri manusia.

Jika pesan itu dipahami dengan baik, Bali bisa menemukan keseimbangan antara tradisi, pariwisata, dan masa depan.

Dan dengan keseimbangan itu, Bali tidak hanya akan menjadi panggung indah bagi dunia—tetapi tetap menjadi rumah yang hidup bagi masyarakatnya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Next Post

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co