24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 11, 2026
in Esai
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Ritual Lama, Tradisi Baru

Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana. Intinya adalah bhuta yadnya, sebuah upaya simbolik untuk menyeimbangkan energi alam dan manusia sebelum memasuki hari hening Nyepi.

Dalam ingatan banyak orang Bali dari generasi yang lebih tua, termasuk pengalaman pribadi saya, suasana Pengerupukan dahulu jauh lebih sederhana. Bahkan ketika saya masih sekolah hingga tamat SMA pada tahun 1981dan kemudian melanjutkan studi di luar Bali, ogoh-ogoh belum dikenal  seperti sekarang. Yang ada biasanya hanya obor dari bambu, bahkan hanya dari gulungan daun kelapa kering yang dibakar, bunyi-bunyian, dan disertai teriakan lantang atau simbol sederhana untuk mengusir energi negatif. Makna dan esensi sesungguhnya adalah untuk mengeluarkan sampah-sampah di dalam diri, semacam katarsis dalam psikologi.

Ogoh-ogoh sebagai patung raksasa yang diarak keliling desa tampaknya muncul dan berkembang jauh kemudian. Kapan tepatnya ogoh-ogoh mulai populer dan bagaimana proses sosial-budayanya tentu memerlukan kajian khusus dari para peneliti budaya. Banyak yang menduga fenomena ini berkembang kuat sejak dekade 1981–1990-an, seiring berkembangnya kreativitas pemuda banjar dan juga pengaruh pariwisata.

Dengan kata lain, ogoh-ogoh sebenarnya adalah tradisi yang relatif baru, meskipun kemudian dianggap sebagai bagian yang seolah-olah selalu ada dalam Pengerupukan.

Dari Kreativitas Pemuda ke Festival Mahal

Awalnya, ogoh-ogoh lahir dari kreativitas pemuda banjar. Bahan yang digunakan sederhana: bambu, kertas, kain bekas, dan jerami. Anak-anak muda bekerja bersama di bale banjar, membuat patung yang melambangkan bhuta kala, energi negatif yang harus dinetralkan menjelang Nyepi.

Namun dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan. Ogoh-ogoh berkembang menjadi karya seni yang semakin spektakuler. Bahan yang digunakan semakin mahal, desain semakin rumit, bahkan dilengkapi teknologi mekanik dan pencahayaan modern.

Akibatnya, biaya yang dikeluarkan pun meningkat tajam. Di beberapa tempat, satu ogoh-ogoh dapat menelan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Di sinilah muncul pertanyaan reflektif: apakah ogoh-ogoh masih bagian dari ritual, atau telah berubah menjadi festival budaya?

Negara Teater dan Warisan Simbolik

Fenomena ini menarik jika dilihat melalui perspektif antropolog Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater.

Geertz menggambarkan kerajaan Bali tradisional sebagai theatre state, yaitu sistem di mana kekuasaan dipentaskan melalui upacara, simbol, dan ritual yang megah. Dalam sistem tersebut, kemegahan ritual memang memiliki fungsi sosial dan kosmis.

Namun dalam masyarakat modern, struktur kerajaan yang dahulu menopang kemegahan itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah pola simboliknya.

Ketika pola itu diwarisi tanpa dukungan ekonomi yang memadai, maka kemegahan ritual bisa berubah menjadi high cost economy dan berujung beban dan tekanan sosial.

Ketika Ritual Menjadi Beban Ekonomi

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, kita sering mendengar cerita yang cukup menyentuh: keluarga yang harus meminjam uang atau menjual aset untuk memenuhi kewajiban sosial dan adat.

Tentu tidak semua desa mengalami situasi seperti itu. Banyak komunitas adat yang mengelola tradisi dengan sangat bijak. Namun kecenderungan “high cost ritual” mulai terasa di beberapa tempat.

Ketika ukuran keberhasilan ritual bergeser dari makna spiritual ke kemegahan visual, maka ritual berisiko berubah menjadi kompetisi sosial.

Padahal dalam banyak ajaran spiritual, yang ditekankan justru sebaliknya: kesederhanaan, ketulusan, dan kesadaran batin.

Alih Fungsi dan Alih Kepemilikan Tanah

Di tengah dinamika budaya ini, Bali juga menghadapi persoalan yang tidak kalah serius: alih fungsi dan alih kepemilikan tanah.

Dalam dua dekade terakhir, berbagai laporan pemerintah daerah dan penelitian akademik menunjukkan bahwa ribuan hektar sawah produktif di Bali telah beralih fungsi. Sebagian memang berubah menjadi hotel, vila, restoran, dan fasilitas pariwisata.

Namun yang sering luput dari perhatian, sebagian besar lainnya justru berubah menjadi perumahan dan kawasan permukiman baru.

Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta investasi properti mendorong perubahan ini berlangsung sangat cepat. Sawah-sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan desa perlahan berubah menjadi bangunan beton.

Selain alih fungsi, terjadi pula alih kepemilikan tanah. Tanah keluarga yang diwariskan turun-temurun dijual kepada investor atau pembeli dari luar daerah.

Jika kecenderungan ini terus berlangsung, generasi mendatang bisa menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan: hidup di Bali, tetapi tidak lagi memiliki tanah Bali.

Pelajaran dari Hawaii

Sejarah dunia memberi contoh yang cukup jelas tentang situasi seperti ini. Salah satunya adalah pengalaman Hawaii.

Pulau-pulau Hawaii dahulu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat lokal. Namun setelah pariwisata berkembang pesat, banyak tanah dijual kepada investor besar.

Lama-kelamaan, masyarakat asli kehilangan sebagian besar kontrol atas tanah dan ekonomi mereka. Budaya Hawaii tetap dipentaskan—tarian hula, festival tradisional, pakaian adat—tetapi masyarakat lokal sering kali hanya menjadi bagian dari industri wisata, bukan pemiliknya.

Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah wisata di seluruh dunia, termasuk Bali.

Membedakan Ritual dan Festival

Karena itu, mungkin sudah waktunya muncul kesadaran baru.

Pertama, penting untuk membedakan secara jelas antara ritual dan festival.

Ritual adalah ruang spiritual yang berkaitan dengan keyakinan dan keseimbangan kosmis. Kesederhanaan sering kali justru memperkuat maknanya.

Festival adalah ruang ekspresi budaya. Festival boleh meriah, kreatif, dan spektakuler. Ia bisa menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan generasi muda.

Masalah muncul ketika festival dimasukkan ke dalam ritual, sehingga biaya besar menjadi kewajiban sosial bagi masyarakat.

Jika festival ingin dikembangkan, ia bisa dikelola sebagai kegiatan budaya dengan sistem pendanaan yang jelas, bukan sebagai kewajiban yang membebani warga.

Menjaga Tanah sebagai Masa Depan

Selain itu, Bali perlu memandang tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan budaya dan ekologis.

Sawah bukan hanya tempat menanam padi. Ia adalah bagian dari identitas Bali, terkait dengan sistem subak, dengan ritual agraris, dan dengan keseimbangan lingkungan.

Ketika sawah hilang, yang hilang bukan hanya lahan pertanian, tetapi juga sebuah cara hidup.

Karena itu, perlindungan lahan pertanian dan pengendalian alih fungsi tanah menjadi sangat penting bagi masa depan Bali.

Agar Bali Tidak Menjadi Penonton

Pada akhirnya, pertanyaan besar bagi masyarakat Bali adalah ini:

apakah Bali akan tetap menjadi rumah bagi orang Bali, atau hanya menjadi panggung wisata bagi dunia?

Jika tanah terus dijual, jika sawah terus berubah menjadi beton, jika ritual semakin mahal dan membebani masyarakat, maka suatu saat masyarakat lokal bisa menemukan diri mereka dalam posisi yang sulit.

Budaya tetap dipertontonkan. Wisatawan tetap datang. Tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.

Namun masa depan tidak harus seperti itu.

Dengan kesadaran kolektif, tradisi dapat tetap dijaga tanpa menjadi beban. Pariwisata dapat berkembang tanpa merusak fondasi kehidupan masyarakat.

Pelajaran dari Pengerupukan sebenarnya sangat dalam. Ogoh-ogoh melambangkan energi negatif dalam diri manusia: keserakahan, ego, dan nafsu yang tidak terkendali.

Simbol itu mengingatkan bahwa yang seharusnya kita bakar bukan hanya patung raksasa di jalan, tetapi juga bhuta kala dalam diri manusia.

Jika pesan itu dipahami dengan baik, Bali bisa menemukan keseimbangan antara tradisi, pariwisata, dan masa depan.

Dan dengan keseimbangan itu, Bali tidak hanya akan menjadi panggung indah bagi dunia—tetapi tetap menjadi rumah yang hidup bagi masyarakatnya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Next Post

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co