4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 11, 2026
in Esai
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Ritual Lama, Tradisi Baru

Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana. Intinya adalah bhuta yadnya, sebuah upaya simbolik untuk menyeimbangkan energi alam dan manusia sebelum memasuki hari hening Nyepi.

Dalam ingatan banyak orang Bali dari generasi yang lebih tua, termasuk pengalaman pribadi saya, suasana Pengerupukan dahulu jauh lebih sederhana. Bahkan ketika saya masih sekolah hingga tamat SMA pada tahun 1981dan kemudian melanjutkan studi di luar Bali, ogoh-ogoh belum dikenal  seperti sekarang. Yang ada biasanya hanya obor dari bambu, bahkan hanya dari gulungan daun kelapa kering yang dibakar, bunyi-bunyian, dan disertai teriakan lantang atau simbol sederhana untuk mengusir energi negatif. Makna dan esensi sesungguhnya adalah untuk mengeluarkan sampah-sampah di dalam diri, semacam katarsis dalam psikologi.

Ogoh-ogoh sebagai patung raksasa yang diarak keliling desa tampaknya muncul dan berkembang jauh kemudian. Kapan tepatnya ogoh-ogoh mulai populer dan bagaimana proses sosial-budayanya tentu memerlukan kajian khusus dari para peneliti budaya. Banyak yang menduga fenomena ini berkembang kuat sejak dekade 1981–1990-an, seiring berkembangnya kreativitas pemuda banjar dan juga pengaruh pariwisata.

Dengan kata lain, ogoh-ogoh sebenarnya adalah tradisi yang relatif baru, meskipun kemudian dianggap sebagai bagian yang seolah-olah selalu ada dalam Pengerupukan.

Dari Kreativitas Pemuda ke Festival Mahal

Awalnya, ogoh-ogoh lahir dari kreativitas pemuda banjar. Bahan yang digunakan sederhana: bambu, kertas, kain bekas, dan jerami. Anak-anak muda bekerja bersama di bale banjar, membuat patung yang melambangkan bhuta kala, energi negatif yang harus dinetralkan menjelang Nyepi.

Namun dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan. Ogoh-ogoh berkembang menjadi karya seni yang semakin spektakuler. Bahan yang digunakan semakin mahal, desain semakin rumit, bahkan dilengkapi teknologi mekanik dan pencahayaan modern.

Akibatnya, biaya yang dikeluarkan pun meningkat tajam. Di beberapa tempat, satu ogoh-ogoh dapat menelan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Di sinilah muncul pertanyaan reflektif: apakah ogoh-ogoh masih bagian dari ritual, atau telah berubah menjadi festival budaya?

Negara Teater dan Warisan Simbolik

Fenomena ini menarik jika dilihat melalui perspektif antropolog Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater.

Geertz menggambarkan kerajaan Bali tradisional sebagai theatre state, yaitu sistem di mana kekuasaan dipentaskan melalui upacara, simbol, dan ritual yang megah. Dalam sistem tersebut, kemegahan ritual memang memiliki fungsi sosial dan kosmis.

Namun dalam masyarakat modern, struktur kerajaan yang dahulu menopang kemegahan itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah pola simboliknya.

Ketika pola itu diwarisi tanpa dukungan ekonomi yang memadai, maka kemegahan ritual bisa berubah menjadi high cost economy dan berujung beban dan tekanan sosial.

Ketika Ritual Menjadi Beban Ekonomi

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, kita sering mendengar cerita yang cukup menyentuh: keluarga yang harus meminjam uang atau menjual aset untuk memenuhi kewajiban sosial dan adat.

Tentu tidak semua desa mengalami situasi seperti itu. Banyak komunitas adat yang mengelola tradisi dengan sangat bijak. Namun kecenderungan “high cost ritual” mulai terasa di beberapa tempat.

Ketika ukuran keberhasilan ritual bergeser dari makna spiritual ke kemegahan visual, maka ritual berisiko berubah menjadi kompetisi sosial.

Padahal dalam banyak ajaran spiritual, yang ditekankan justru sebaliknya: kesederhanaan, ketulusan, dan kesadaran batin.

Alih Fungsi dan Alih Kepemilikan Tanah

Di tengah dinamika budaya ini, Bali juga menghadapi persoalan yang tidak kalah serius: alih fungsi dan alih kepemilikan tanah.

Dalam dua dekade terakhir, berbagai laporan pemerintah daerah dan penelitian akademik menunjukkan bahwa ribuan hektar sawah produktif di Bali telah beralih fungsi. Sebagian memang berubah menjadi hotel, vila, restoran, dan fasilitas pariwisata.

Namun yang sering luput dari perhatian, sebagian besar lainnya justru berubah menjadi perumahan dan kawasan permukiman baru.

Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta investasi properti mendorong perubahan ini berlangsung sangat cepat. Sawah-sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan desa perlahan berubah menjadi bangunan beton.

Selain alih fungsi, terjadi pula alih kepemilikan tanah. Tanah keluarga yang diwariskan turun-temurun dijual kepada investor atau pembeli dari luar daerah.

Jika kecenderungan ini terus berlangsung, generasi mendatang bisa menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan: hidup di Bali, tetapi tidak lagi memiliki tanah Bali.

Pelajaran dari Hawaii

Sejarah dunia memberi contoh yang cukup jelas tentang situasi seperti ini. Salah satunya adalah pengalaman Hawaii.

Pulau-pulau Hawaii dahulu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat lokal. Namun setelah pariwisata berkembang pesat, banyak tanah dijual kepada investor besar.

Lama-kelamaan, masyarakat asli kehilangan sebagian besar kontrol atas tanah dan ekonomi mereka. Budaya Hawaii tetap dipentaskan—tarian hula, festival tradisional, pakaian adat—tetapi masyarakat lokal sering kali hanya menjadi bagian dari industri wisata, bukan pemiliknya.

Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah wisata di seluruh dunia, termasuk Bali.

Membedakan Ritual dan Festival

Karena itu, mungkin sudah waktunya muncul kesadaran baru.

Pertama, penting untuk membedakan secara jelas antara ritual dan festival.

Ritual adalah ruang spiritual yang berkaitan dengan keyakinan dan keseimbangan kosmis. Kesederhanaan sering kali justru memperkuat maknanya.

Festival adalah ruang ekspresi budaya. Festival boleh meriah, kreatif, dan spektakuler. Ia bisa menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan generasi muda.

Masalah muncul ketika festival dimasukkan ke dalam ritual, sehingga biaya besar menjadi kewajiban sosial bagi masyarakat.

Jika festival ingin dikembangkan, ia bisa dikelola sebagai kegiatan budaya dengan sistem pendanaan yang jelas, bukan sebagai kewajiban yang membebani warga.

Menjaga Tanah sebagai Masa Depan

Selain itu, Bali perlu memandang tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan budaya dan ekologis.

Sawah bukan hanya tempat menanam padi. Ia adalah bagian dari identitas Bali, terkait dengan sistem subak, dengan ritual agraris, dan dengan keseimbangan lingkungan.

Ketika sawah hilang, yang hilang bukan hanya lahan pertanian, tetapi juga sebuah cara hidup.

Karena itu, perlindungan lahan pertanian dan pengendalian alih fungsi tanah menjadi sangat penting bagi masa depan Bali.

Agar Bali Tidak Menjadi Penonton

Pada akhirnya, pertanyaan besar bagi masyarakat Bali adalah ini:

apakah Bali akan tetap menjadi rumah bagi orang Bali, atau hanya menjadi panggung wisata bagi dunia?

Jika tanah terus dijual, jika sawah terus berubah menjadi beton, jika ritual semakin mahal dan membebani masyarakat, maka suatu saat masyarakat lokal bisa menemukan diri mereka dalam posisi yang sulit.

Budaya tetap dipertontonkan. Wisatawan tetap datang. Tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.

Namun masa depan tidak harus seperti itu.

Dengan kesadaran kolektif, tradisi dapat tetap dijaga tanpa menjadi beban. Pariwisata dapat berkembang tanpa merusak fondasi kehidupan masyarakat.

Pelajaran dari Pengerupukan sebenarnya sangat dalam. Ogoh-ogoh melambangkan energi negatif dalam diri manusia: keserakahan, ego, dan nafsu yang tidak terkendali.

Simbol itu mengingatkan bahwa yang seharusnya kita bakar bukan hanya patung raksasa di jalan, tetapi juga bhuta kala dalam diri manusia.

Jika pesan itu dipahami dengan baik, Bali bisa menemukan keseimbangan antara tradisi, pariwisata, dan masa depan.

Dan dengan keseimbangan itu, Bali tidak hanya akan menjadi panggung indah bagi dunia—tetapi tetap menjadi rumah yang hidup bagi masyarakatnya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Next Post

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co