4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 11, 2026
in Esai
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Ritual Lama, Tradisi Baru

Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana. Intinya adalah bhuta yadnya, sebuah upaya simbolik untuk menyeimbangkan energi alam dan manusia sebelum memasuki hari hening Nyepi.

Dalam ingatan banyak orang Bali dari generasi yang lebih tua, termasuk pengalaman pribadi saya, suasana Pengerupukan dahulu jauh lebih sederhana. Bahkan ketika saya masih sekolah hingga tamat SMA pada tahun 1981dan kemudian melanjutkan studi di luar Bali, ogoh-ogoh belum dikenal  seperti sekarang. Yang ada biasanya hanya obor dari bambu, bahkan hanya dari gulungan daun kelapa kering yang dibakar, bunyi-bunyian, dan disertai teriakan lantang atau simbol sederhana untuk mengusir energi negatif. Makna dan esensi sesungguhnya adalah untuk mengeluarkan sampah-sampah di dalam diri, semacam katarsis dalam psikologi.

Ogoh-ogoh sebagai patung raksasa yang diarak keliling desa tampaknya muncul dan berkembang jauh kemudian. Kapan tepatnya ogoh-ogoh mulai populer dan bagaimana proses sosial-budayanya tentu memerlukan kajian khusus dari para peneliti budaya. Banyak yang menduga fenomena ini berkembang kuat sejak dekade 1981–1990-an, seiring berkembangnya kreativitas pemuda banjar dan juga pengaruh pariwisata.

Dengan kata lain, ogoh-ogoh sebenarnya adalah tradisi yang relatif baru, meskipun kemudian dianggap sebagai bagian yang seolah-olah selalu ada dalam Pengerupukan.

Dari Kreativitas Pemuda ke Festival Mahal

Awalnya, ogoh-ogoh lahir dari kreativitas pemuda banjar. Bahan yang digunakan sederhana: bambu, kertas, kain bekas, dan jerami. Anak-anak muda bekerja bersama di bale banjar, membuat patung yang melambangkan bhuta kala, energi negatif yang harus dinetralkan menjelang Nyepi.

Namun dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan. Ogoh-ogoh berkembang menjadi karya seni yang semakin spektakuler. Bahan yang digunakan semakin mahal, desain semakin rumit, bahkan dilengkapi teknologi mekanik dan pencahayaan modern.

Akibatnya, biaya yang dikeluarkan pun meningkat tajam. Di beberapa tempat, satu ogoh-ogoh dapat menelan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Di sinilah muncul pertanyaan reflektif: apakah ogoh-ogoh masih bagian dari ritual, atau telah berubah menjadi festival budaya?

Negara Teater dan Warisan Simbolik

Fenomena ini menarik jika dilihat melalui perspektif antropolog Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater.

Geertz menggambarkan kerajaan Bali tradisional sebagai theatre state, yaitu sistem di mana kekuasaan dipentaskan melalui upacara, simbol, dan ritual yang megah. Dalam sistem tersebut, kemegahan ritual memang memiliki fungsi sosial dan kosmis.

Namun dalam masyarakat modern, struktur kerajaan yang dahulu menopang kemegahan itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah pola simboliknya.

Ketika pola itu diwarisi tanpa dukungan ekonomi yang memadai, maka kemegahan ritual bisa berubah menjadi high cost economy dan berujung beban dan tekanan sosial.

Ketika Ritual Menjadi Beban Ekonomi

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, kita sering mendengar cerita yang cukup menyentuh: keluarga yang harus meminjam uang atau menjual aset untuk memenuhi kewajiban sosial dan adat.

Tentu tidak semua desa mengalami situasi seperti itu. Banyak komunitas adat yang mengelola tradisi dengan sangat bijak. Namun kecenderungan “high cost ritual” mulai terasa di beberapa tempat.

Ketika ukuran keberhasilan ritual bergeser dari makna spiritual ke kemegahan visual, maka ritual berisiko berubah menjadi kompetisi sosial.

Padahal dalam banyak ajaran spiritual, yang ditekankan justru sebaliknya: kesederhanaan, ketulusan, dan kesadaran batin.

Alih Fungsi dan Alih Kepemilikan Tanah

Di tengah dinamika budaya ini, Bali juga menghadapi persoalan yang tidak kalah serius: alih fungsi dan alih kepemilikan tanah.

Dalam dua dekade terakhir, berbagai laporan pemerintah daerah dan penelitian akademik menunjukkan bahwa ribuan hektar sawah produktif di Bali telah beralih fungsi. Sebagian memang berubah menjadi hotel, vila, restoran, dan fasilitas pariwisata.

Namun yang sering luput dari perhatian, sebagian besar lainnya justru berubah menjadi perumahan dan kawasan permukiman baru.

Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta investasi properti mendorong perubahan ini berlangsung sangat cepat. Sawah-sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan desa perlahan berubah menjadi bangunan beton.

Selain alih fungsi, terjadi pula alih kepemilikan tanah. Tanah keluarga yang diwariskan turun-temurun dijual kepada investor atau pembeli dari luar daerah.

Jika kecenderungan ini terus berlangsung, generasi mendatang bisa menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan: hidup di Bali, tetapi tidak lagi memiliki tanah Bali.

Pelajaran dari Hawaii

Sejarah dunia memberi contoh yang cukup jelas tentang situasi seperti ini. Salah satunya adalah pengalaman Hawaii.

Pulau-pulau Hawaii dahulu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat lokal. Namun setelah pariwisata berkembang pesat, banyak tanah dijual kepada investor besar.

Lama-kelamaan, masyarakat asli kehilangan sebagian besar kontrol atas tanah dan ekonomi mereka. Budaya Hawaii tetap dipentaskan—tarian hula, festival tradisional, pakaian adat—tetapi masyarakat lokal sering kali hanya menjadi bagian dari industri wisata, bukan pemiliknya.

Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah wisata di seluruh dunia, termasuk Bali.

Membedakan Ritual dan Festival

Karena itu, mungkin sudah waktunya muncul kesadaran baru.

Pertama, penting untuk membedakan secara jelas antara ritual dan festival.

Ritual adalah ruang spiritual yang berkaitan dengan keyakinan dan keseimbangan kosmis. Kesederhanaan sering kali justru memperkuat maknanya.

Festival adalah ruang ekspresi budaya. Festival boleh meriah, kreatif, dan spektakuler. Ia bisa menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan generasi muda.

Masalah muncul ketika festival dimasukkan ke dalam ritual, sehingga biaya besar menjadi kewajiban sosial bagi masyarakat.

Jika festival ingin dikembangkan, ia bisa dikelola sebagai kegiatan budaya dengan sistem pendanaan yang jelas, bukan sebagai kewajiban yang membebani warga.

Menjaga Tanah sebagai Masa Depan

Selain itu, Bali perlu memandang tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan budaya dan ekologis.

Sawah bukan hanya tempat menanam padi. Ia adalah bagian dari identitas Bali, terkait dengan sistem subak, dengan ritual agraris, dan dengan keseimbangan lingkungan.

Ketika sawah hilang, yang hilang bukan hanya lahan pertanian, tetapi juga sebuah cara hidup.

Karena itu, perlindungan lahan pertanian dan pengendalian alih fungsi tanah menjadi sangat penting bagi masa depan Bali.

Agar Bali Tidak Menjadi Penonton

Pada akhirnya, pertanyaan besar bagi masyarakat Bali adalah ini:

apakah Bali akan tetap menjadi rumah bagi orang Bali, atau hanya menjadi panggung wisata bagi dunia?

Jika tanah terus dijual, jika sawah terus berubah menjadi beton, jika ritual semakin mahal dan membebani masyarakat, maka suatu saat masyarakat lokal bisa menemukan diri mereka dalam posisi yang sulit.

Budaya tetap dipertontonkan. Wisatawan tetap datang. Tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.

Namun masa depan tidak harus seperti itu.

Dengan kesadaran kolektif, tradisi dapat tetap dijaga tanpa menjadi beban. Pariwisata dapat berkembang tanpa merusak fondasi kehidupan masyarakat.

Pelajaran dari Pengerupukan sebenarnya sangat dalam. Ogoh-ogoh melambangkan energi negatif dalam diri manusia: keserakahan, ego, dan nafsu yang tidak terkendali.

Simbol itu mengingatkan bahwa yang seharusnya kita bakar bukan hanya patung raksasa di jalan, tetapi juga bhuta kala dalam diri manusia.

Jika pesan itu dipahami dengan baik, Bali bisa menemukan keseimbangan antara tradisi, pariwisata, dan masa depan.

Dan dengan keseimbangan itu, Bali tidak hanya akan menjadi panggung indah bagi dunia—tetapi tetap menjadi rumah yang hidup bagi masyarakatnya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Next Post

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co