6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Rasman Maulana by Rasman Maulana
February 6, 2026
in Ulas Rupa
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai 2 Januari 2026—yang merupakan hasil dari program residensi yang diselenggarakan Manajemen Talenta Nasional (MTN) bekerjasama dengan Gurat Institut. Pameran ini menarik karena mengangkat tradisi bukan sebagai sesuatu yang mapan dan selesai, melainkan sebagai ruang terdalam yang terus menuntut pembacaan ulang.

Pameran ini dihadirkan sebagai “palung”—dasar yang menopang perjalanan panjang manusia, namun sekaligus menyimpan endapan nilai, luka, dan relasi kuasa yang kerap luput dari perhatian. Dalam konteks inilah karya “Tabur Tabah” hadir sebagai praktik menyelam ke kedalaman tradisi, bukan untuk memurnikan atau merayakannya secara romantik, melainkan untuk menyingkap beban perempuan yang selama ini dipikul dan dinormalisasi.

Karya “Tabur, Tabah” menghadirkan sebuah medan simbolik yang tenang namun sarat beban. Seperti pendapat Sutan Takdir Alisjahbana yang mengatakan bahwa seni selalu mempunyai isi, suatu pesan, atau dengan kata lain mewakili tenaga rohani, berbeda dengan mekarnya bunga-bunga atau nyanyian burung di padangan.

Sekilas membaca karya ini kita akan menemukan lingkaran bata yang membumi, tulang punggung yang terbaring di pusatnya, serta partisipasi penonton yang perlahan menumpuk residu material, membentuk ruang kontemplatif sekaligus politis. Dalam keheningan visualnya, karya ini berbicara tentang tubuh perempuan, relasi kuasa, dan sistem patriarki yang diwariskan lintas generasi, bukan sebagai abstraksi melainkan sebagai pengalaman yang menempel pada tubuh dan ingatan manusia.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dalam karya ini lingkaran bata yang menjadi dasar karya segera menghadirkan kesan ruang ritual yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah manusia. Batu bata merupakan material yang identik dengan fondasi rumah dan keteraturan sosial disusun membentuk arena yang kokoh, merepresentasikan sistem adat dan nilai budaya yang dibangun secara turun-temurun: keras, berat, dan menuntut kepatuhan mutlak. Sedangkan bentuk lingkaran bekerja sebagai batas simbolik, menandai ruang di mana peran, identitas, dan relasi kuasa telah ditentukan sebelum individu hadir di dalamnya untuk mengisi dan beranak-pinak.

Di pusat lingkaran yang terlapis kaca tersebut terbaring objek menyerupai tulang punggung manusia, tekstur dan warnanya seperti fosil yang hidup dari masa lampau menyampaikan pesan bahwa karya ini membicarkan sesuatu yang terjaga dari masa terdahulu. Posisi horizontalnya seperti sebuah penolakan gestur heroik, tidak berdiri sebagai monumen kekuasaan, tetapi justru menyatu dengan tanah, debu, dan serpihan bata.

Tulang punggung ini dimaknai sebagai tubuh perempuan yang dinarasikan sebagai penopang kehidupan sosial dan kultural yang kerap tidak diakui secara formal di kelomoknya dari dulu sampai sekarang. Dengan menempatkan tulang punggung perempuan di pusat ruang, karya ini membalik narasi dominan patriarki yang secara historis menempatkan laki-laki sebagai fondasi keluarga dan adat yang tak tergantikan.

Serbuk bata yang ditaburkan di sekitar tulang punggung memperkuat kesan luka yang berulang dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Serbuk tersebut seperti semacam residu—sisa dari sistem yang terus direproduksi dan diwariskan terus menerus. Pemakaian serbuk batu bata di dalam karya dimaksudkan sebagai penanda bentuk kekerasan yang tidak selalu hadir sebagai peristiwa spektakuler, tetapi juga sebagai tekanan simbolik, ekspektasi sosial, dan beban moral yang terus diwariskan.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dimensi partisipatif karya diperluas melalui kehadiran toples-toples berisi serpihan bata. Pengunjung, khususnya perempuan, diajak untuk bersila dan menaburkan serpihan bata sebagai gestur simbolik yang merepresentasikan pengalaman personal dan kolektif. Serpihan bata, berfungsi sebagai arsip kolektif, bukan arsip resmi yang ditulis oleh struktur adat atau negara melainkan arsip pengalaman perempuan yang sering kali tak terdokumentasikan.

Alasan seniman memberi ruang partisipasi khusus untuk perempuan merupakan bagian dari konsep karyanya. Dengan demikian karya ini tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi juga memberi ruang bagi perempuan untuk menulis ulang narasi melalui tindakan simbolik sederhana. Meskipun bukan tanpa kekurangan, pemilihan konsep partisipasi dalam karya ini sedikit kurang matang, karena penempatan toples yang lebih tinggi dari posisi ideal orang bersila menjadikan subjek yang terlibat sedikit kesulitan secara teknis.

Kekurangan tersebut bisa dimaklumi menijau waktu produksi yang ditentukan dalam program residensi yang pendek sehingga seniman yang terlibat tidak punya keleluasaan untuk mempertimbangkan hal-hal teknis. Meskiipun begitu setiap serpihan yang ditabur berhasil merepresentasikan pengalaman personal perempuan yang selama ini jarang tercatat dalam narasi resmi adat maupun sejarah.

Berangkat dari konteks budaya Batak Karo, karya ini mengungkap paradoks patriarki: ketika laki-laki mendominasi simbol formal adat, perempuan justru memainkan peran strategis dalam pengambilan keputusan sehari-hari di lingkup keluarga. Namun, penekanan pada ketabahan juga menyimpan ketegangan kritis. Ketabahan berisiko dirayakan tanpa membongkar sistem yang melahirkan beban tersebut. Tulang punggung perempuan yang terus menopang lingkaran adat dapat dibaca sebagai simbol perlawanan, sekaligus tanda bahwa sistem bertahan karena tubuh perempuan terus menanggungnya.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Tabur, Tabah tidak menawarkan solusi, melainkan membuka ruang kesadaran. Ia mengajak penonton berhenti, bersila, dan menimbang kembali beban yang diwariskan, sembari mempertanyakan: sampai kapan ketabahan akan terus dijadikan fondasi yang tak terlihat? [T]



Penulis: Rasman Maulana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gurat InstituteMTN Seni BudayaPameran Seni RupaResidensi MTN LabSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Rasman Maulana

Rasman Maulana

Penulis dan kurator berbasis di Banyumas yang aktif mengolah gagasan tentang ruang alternatif, serta relasi sosial dalam praktik seni rupa. Berpengalaman menangani penyusunan konsep pameran, dan penulisan teks kuratorial yang menekankan pendekatan naratif dan sensitivitas terhadap konteks lokal. Memiliki ketertarikan pada praktik seni yang berangkat dari keseharian, lokalitas, dan dinamika komunitas, serta terus mengembangkan metode membaca karya yang peka, reflektif, dan berorientasi dialog. Ia merupakan salah satu peserta kurator residensi MTN Lab Desnpasar 2025 dan menjadi manajer project dalam pameran “Pulang ke Palung” Instagram Penulis: @mata.pijar

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

by Hartanto
January 6, 2026
0
Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

DI penghujung tahun 2025, tepatnya tanggal 21 Desember 2025, digelar pameran tunggal karya Ricky Bambang Sudibjo Salim. Dia menggelar karya...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? ---Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co