PERNIKAHAN kami tinggal seminggu lagi. Ada yang tidak berubah darinya, gemar merokok. Itu jadi beban pikiran bagiku. Tidak cukup sebungkus sehari, dua bahkan tiga bungkus! Aku jadi ragu, apakah nantinya kami akan langgeng. Memang, dia punya penghasilan. Tapi tak seberapa.
Dia kerap membeli buku. Kamarnya lebih mirip perpustakaan. Buku di sana-sini. Ingin sekali aku membuangnya saat ia tidak ada.
Pernah aku membaca cerpen tentang perempuan kekasih penyair. Mereka menikah. Hidup amat sederhana. Suaminya pendiam, bahkan ketika mereka bertengkar. Ujung cerita itu menyenangkan. Penyair itu mendapat pekerjaan sebagai editor buku.
Baguslah, pikirku. Diam-diam aku membayangkan menjadi istri dalam cerpen itu.
Calon suamiku juga penyair. Tujuh buku puisi telah ia tulis. Banyak puisi terinspirasi dari kisah asmara kami. Membuat aku tersanjung.
Itu dulu, sebelum logika menguasai diriku. Bagaimana keuangan kami nanti, jika upahnya hanya untuk rokok dan buku-buku. Juga, kebiasaannya nongkrong di kedai kopi.
Bahkan, sejak pacaran dengannya, jangankan baju atau celana, membeli B.H saja aku jarang! Jangan harap dia mau membelikannya, untuk dirinya saja masih kurang.
Aku bertambah cemas. Haruskah aku menikah dengannya? Atau, lebih baik dibatalkan saja? Apa kata keluarga besar nanti? Kami sudah pacaran lama sekali. Hampir tujuh tahun. Kemana saja aku?
Pertanyaan itu terus menghantuiku.
Aku mengenalnya di acara baca puisi kampus. Aku datang sebagai penonton, dia tampil dengan kemeja lusuh dan sandal jepit. Aku ingat betul, saat penyair lain membaca puisi dengan gaya berteriak dan dramatis, dia justru membaca dengan suara pelan. Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi entah kenapa ruangan menjadi sunyi. Semua orang mendengarkan.
Puisinya tentang kehilangan ibu. Sederhana, tapi entah kenapa membuatku ingin menangis. Setelah acara, dia duduk sendirian di luar gedung, merokok. Aku memberanikan diri menghampiri.
“Puisinya bagus,” kataku.
Ia mengangguk, tersenyum kecil, lalu berkata, “Terima kasih sudah mau mendengar.”
Sejak itu, kami sering bertemu. Awalnya diskusi buku, lalu makan bakso bersama, lalu nonton film murah di bioskop, lalu tanpa sadar aku selalu menunggunya menghubungi lebih dulu.
Aku jatuh cinta pada caranya melihat dunia. Ia bisa bercerita panjang tentang hujan, tentang orang-orang kecil di pasar, tentang penjual koran yang tetap berteriak meski koran sudah jarang dibeli orang. Ia membuat hal sederhana menjadi indah.
Tapi aku lupa satu hal, bahwa keindahan tidak selalu bisa untuk membayar tagihan.
Tahun-tahun awal pacaran terasa ringan. Kami sama-sama belum berpikir tentang masa depan. Jalan kaki ke mana-mana, makan mi instan bersama, menertawakan kesialan hidup. Iia sering membacakan puisi sebelum aku tidur lewat telepon. Kadang puisi orang lain, kadang puisinya sendiri. Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.
Namun semakin lama, pertanyaan mulai datang dari keluarga.
“Kapan nikah?”
“Kamu yakin dengan pekerjaannya?”
“Penyair bisa menghidupi keluarga?”
Aku selalu membelanya. Mengatakan ia juga bekerja sebagai editor lepas, kadang mengisi pelatihan menulis, kadang menerima honor baca puisi. Aku bilang kami akan baik-baik saja.
Aku percaya itu. Sampai kemudian aku mulai bekerja tetap dan memahami arti gaji bulanan.
Aku melihat bagaimana uang cepat sekali habis. Listrik, kos, makan, pulsa, transportasi. Belum lagi kebutuhan kecil yang tiba-tiba muncul. Sementara dia tetap seperti dulu. Santai. Tenang. Seolah hidup tidak pernah benar-benar mendesak.
Seminggu lalu, aku datang ke kamar kosnya. Bau rokok menyambut bahkan sebelum pintu dibuka. Di dalam, buku menumpuk di lantai, di meja, di atas lemari, bahkan di dekat kompor kecilnya. Asbak penuh puntung rokok.
“Ini kamar atau gudang buku?” tanyaku.
Ia tertawa kecil. “Buku itu teman.”
“Temanmu banyak sekali.”
Ia hanya tersenyum.
Aku ingin marah. Tapi melihat wajahnya yang lelah setelah lembur editing semalaman, kemarahanku mereda. Ia memang bekerja keras. Hanya saja hasilnya tak pernah terasa cukup. Saat ia mandi, aku membereskan sedikit kamarnya. Di bawah tumpukan buku, aku menemukan amplop berisi uang. Tidak banyak, tapi cukup tebal.
Aku tertegun.
Saat ia keluar kamar mandi, aku bertanya, “Ini uang apa?” Ia terlihat kaget. Lalu cepat mengambil amplop itu.
“Tabungan.”
“Tabungan?” aku tertawa sinis. “Tabungan apa? Kamu selalu bilang uangmu habis.”
Ia tampak salah tingkah. “Ya… sedikit-sedikit.”
“Sedikit-sedikit tapi kamu merokok tiga bungkus sehari?”
Ia diam. Aku pulang dengan hati kesal. Rasanya seperti ditipu. Malam itu, kami bertengkar melalui telepon. Pertengkaran terpanjang selama tujuh tahun pacaran.
“Kamu tidak pernah serius memikirkan masa depan!” bentakku.
“Aku serius,” jawabnya pelan.
“Serius apa? Rokokmu lebih penting!”
Ia diam lama. Lalu berkata, “Aku sedang berusaha.”
“Berusaha apa? Menjadi penyair miskin?”
Kata-kata itu keluar begitu saja. Begitu tajam bahkan aku sendiri terkejut mendengarnya.
Telepon sepi.
Lalu ia berkata pelan, “Kalau kamu malu punya pasangan penyair miskin, kamu tidak harus menikah denganku.”
Klik.
Telepon ditutup.
Aku menangis sepanjang malam. Tapi juga merasa marah. Mengapa selalu aku yang harus mengerti? Mengapa aku yang harus menyesuaikan diri?
Dua hari kami tidak saling menghubungi. Persiapan pernikahan terus berjalan. Keluarga sibuk, undangan hampir semua tersebar, gedung sudah dibayar. Aku merasa terjebak di tengah arus yang tidak bisa dihentikan.Pada hari ketiga, ia datang ke rumahku. Wajahnya lebih kurus dari biasanya. Kami duduk di teras. Lama tanpa bicara.
Ia menyerahkan sebuah kantong kertas.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Aku membukanya perlahan. Di dalamnya kotak kecil. Saat kubuka, aku terdiam.
B.H baru. Dua buah. Warnanya lembut. Cantik. Merek yang biasanya tak sanggup kubeli.
Aku bingung.
“Aku dengar kamu mengeluh ke temanmu,” katanya pelan. “Katanya sejak pacaran denganku kamu jarang beli B.H baru.”
Aku tersipu malu sekaligus kesal. “Kamu menguping?”
Ia tersenyum tipis. “Aku tidak menguping. Aku hanya mendengar karena kalian bicara keras sekali di kedai kopi.”
Aku tak tahu harus berkata apa.
“Aku tahu aku banyak kekurangan,” lanjutnya. “Aku juga tahu hidup dengan penyair bukan pilihan mudah.”
Aku menunduk.
“Uang di amplop itu aku tabung buat nikah. Aku ingin kita punya sedikit pegangan. Aku memang masih merokok. Masih beli buku. Tapi aku sedang mencoba berubah pelan-pelan.”
Aku menatapnya. Matanya tampak sungguh-sungguh.
“Aku juga dapat tawaran kerja tetap di penerbit. Editor. Mulai bulan depan.”
Aku terkejut. “Kenapa tidak bilang?”
“Aku mau kasih kejutan setelah menikah. Tapi kita keburu bertengkar.”
Kami sama-sama tertawa kecil.
Malam itu, aku lama berpikir di kamar. Tentang tujuh tahun bersama. Tentang perjalanan kami. Tentang semua hal kecil yang membuatku jatuh cinta dulu.
Ia memang tidak sempurna. Ia ceroboh soal uang. Ia keras kepala. Ia sulit berubah cepat. Tapi ia tidak pernah berbohong soal perasaan. Ia selalu ada ketika aku sakit. Ia menemani ketika ayahku meninggal. Ia berjalan kaki dua jam hanya untuk membawakan bubur ketika aku demam.
Aku sadar, ketakutanku bukan hanya soal uang. Aku takut hidup sederhana. Takut tidak seperti teman-temanku yang menikah dengan lelaki mapan. Aku takut dinilai gagal. Padahal, bukankah sejak awal aku jatuh cinta pada kesederhanaannya?
Seminggu kemudian, di hari pernikahan kami, ia tampak canggung mengenakan jas pinjaman. Aku hampir tertawa melihatnya berkeringat gugup. Saat ijab kabul selesai dan semua orang bersorak bahagia, aku menatap wajahnya. Lelaki yang sudah bersamaku tujuh tahun.
Penyair miskin, mungkin. Tapi juga lelaki yang selalu berusaha, meski lambat. Malam pertama kami sederhana. Rumah kontrakan kecil. Kasur tipis. Kipas angin berisik. Ia duduk di tepi kasur, terlihat bingung harus berkata apa.
Aku membuka lemari kecil dan mengeluarkan kotak pemberiannya. B.H baru itu. Ia langsung salah tingkah. “Eh… aku beli itu bukan buat sekarang juga.”
Aku tertawa.
“Terima kasih,” kataku.
Ia mengangguk gugup. Lalu berkata pelan, “Aku akan berusaha mengurangi rokok.”
“Aku juga akan berusaha tidak membuang buku-bukumu,” jawabku.
Kami tertawa bersama.
Di luar, suara motor lewat, anjing menggonggong, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak dramatis seperti puisi, tidak manis seperti cerpen yang dulu kubaca.
Hanya kehidupan biasa, dengan dua orang yang belajar bertahan bersama.
Sebelum tidur, ia berkata pelan, “Aku sudah menulis puisi baru.”
“Judulnya apa?”
Ia berpikir sebentar, lalu tersenyum nakal.
“B.H.”
Aku memukul lengannya dengan bantal.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak lagi takut pada masa depan. [T]
[Untuk R.S.]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole



























