6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
in Ulas Buku
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Novel ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’│Foto: Dede

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.”

Demikian salah satu penggalan kutipan dari Ale, tokoh utama dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Novel karya Brian Khrisna yang diterbitkan oleh Penerbit Grasindo pada 2025 ini hadir sebagai refleksi tentang kelelahan hidup dan proses berdamai dengan diri sendiri. Dengan ketebalan 216 halaman, buku ini disambut hangat oleh para pembaca, bahkan pada tahun yang sama sejak terbit, novel ini telah mengalami cetak ulang hingga 68 kali ─ sebuah penanda bahwa kisah Ale menyentuh banyak orang.

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menghadirkan kisah tentang kelelahan hidup, depresi yang sunyi, serta perjalanan batin seorang manusia yang nyaris menyerah pada dunia. Melalui tokoh utama bernama Ale, pembaca diajak menyusuri proses internal seseorang yang merasa terasing dari diri sendiri dan lingkungannya. Brian Khrisna tidak membangun cerita lewat konflik besar atau kejadian spektakuler, melainkan melalui rangkaian pertemuan sederhana yang perlahan mengubah cara pandang tokohnya terhadap hidup.

Brian Khrisna memilih pendekatan yang tenang dan membumi. Ia tidak menyajikan cerita dengan ledakan emosi, melainkan dengan ritme pelan yang mengikuti pikiran Ale. Hasilnya adalah sebuah novel reflektif yang menyoroti kesehatan mental, hubungan antarmanusia, serta makna keberadaan melalui detail-detail kecil kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan alur maju dan sudut pandang orang pertama, membuat novel ini mudah dipahami dan dinikmati berbagai kalangan, terutama oleh pembaca yang tak terbiasa dengan bacaan berat atau alur kompleks.

Di buku ini, pembaca tidak hanya dimanjakan dengan cerita yang mengalir, tetapi juga visual-visual yang membantu menggambarkan keadaan batin tokoh utama. Tata letak halaman dibuat bersih dengan ilustrasi-ilustrasi sederhana yang muncul di beberapa bagian, memperkuat suasana yang dialami Ale. Sampulnya menampilkan nuansa warna yang tenang, selaras dengan tema novel. Namun demikian, novel ini juga memuat cukup banyak kata-kata yang bersifat vulgar dan kasar, sehingga kurang sesuai untuk pembaca di bawah umur.

Sosok Ale digambarkan sebagai pria 37 tahun yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan kantoran. Dari luar, hidupnya tampak biasa: bekerja, pulang, mengulang rutinitas yang sama setiap hari. Namun di dalam dirinya, Ale menyimpan kelelahan mental yang telah lama menumpuk. Ia merasa hampa, tidak berarti, dan tidak memiliki alasan kuat untuk terus bertahan. Tidak ada satu peristiwa besar yang membuatnya ingin mati. Keputusasaan itu muncul dari akumulasi rasa gagal, penghinaan, kesepian, dan tekanan hidup yang tak pernah benar-benar ia bagi kepada siapa pun.

Pada bagian awal novel, Ale bahkan mempertanyakan eksistensinya sendiri melalui ungkapan batin yang jujur: “Kenapa hidup orang-orang begitu terlihat berwarna? Apakah cuma hidupku yang tidak mempunyai warna? Atau, karena mereka pintar mengatur warnanya sendiri?” Kutipan dari bab “SCBD Parking Lot 17” ini menegaskan sejak awal bahwa Ale berada dalam fase mempertanyakan makna hidup dan membandingkan dirinya dengan dunia di sekitarnya. Ia juga selalu teringat saat direndahkan dan dihina oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama di tempat ia bekerja. Bahkan sejak kecil, orang tuanya tak pernah membela jika ia diperlakukan tak baik, justru ia yang dimarahi dan disepelekan oleh orang tuanya.

Dalam kondisi tersebut, Ale pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun sebelum melakukannya, ia ingin memenuhi satu keinginan terakhir, yaitu makan seporsi mie ayam dari gerobak yang biasa mangkal di depan kantornya. Mie ayam itu dijual oleh Pak Jo, seorang penjual sederhana yang selama ini menjadi bagian kecil dari rutinitas Ale. Keinginan ini terdengar sepele, tetapi bagi Ale terasa penting, mie ayam itu menjadi semacam penanda terakhir sebelum ia benar-benar pergi.

Pada titik ini pula, tekad Ale tergambar secara terang-terangan melalui pikirannya sendiri: “Sebelum mati, setidaknya sekali saja aku harus melawan dunia. Rencanaku harus terlaksana.”

Namun ketika Ale datang ke tempat biasa gerobak itu berada, ia mendapati kenyataan bahwa Pak Jo telah meninggal dunia setelah ia mencari kediaman Pak Jo demi mendapatkan seporsi mie ayam. Kekosongan itu menunda langkah terakhir Ale. Ia malah terjebak ikut membantu prosesi pemakaman Pak Jo, sebuah peristiwa yang secara tidak langsung mengikatnya kembali dengan kehidupan sosial. Seusai pemakaman, Ale membeli rokok di sebuah warkop. Tanpa ia ketahui, penjaga warkop tersebut merupakan intel yang tengah mengincar target tertentu. Ale secara tidak sengaja menemukan bungkusan berisi bubuk putih (narkoba) dan seketika disangka sebagai orang yang sedang diburu. Kesalahpahaman ini berujung pada penangkapan Ale.

Peristiwa salah tangkap tersebut membawa Ale ke penjara, sebuah ruang yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di balik jeruji besi itulah Ale bertemu Murad, narapidana yang dikenal keras dan kerap keluar-masuk penjara, namun juga memiliki ‘permainan’ dengan pihak kepolisian. Murad bukan sosok yang ramah atau penuh empati. Cara bicaranya kasar, tindakannya lugas, dan dunianya lekat dengan kekerasan. Namun justru di hadapan Murad, Ale untuk pertama kalinya merasa diperlakukan sebagai manusia yang setara.

Singkat cerita, setelah mereka bebas, Murad mengajak Ale menjadi tangan kanannya. Tawaran itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan pintu masuk ke dunia baru yang keras dan abu-abu. Perlakuan Murad terhadap Ale sering kali terkesan kasar, tetapi di sanalah Ale mulai kembali merasakan denyut hidup. Ia merasa dibutuhkan, diberi peran, dan dipercaya. Murad, dengan segala kekurangannya, menjadi figur yang memperkenalkan Ale pada realitas lain tentang kekuasaan, loyalitas, dan harga diri.

Murad kerap membawa obat-obatan terlarang ke sebuah bar milik Mami Louisse. Bar tersebut bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ruang pelarian bagi banyak orang yang lelah dengan hidupnya masing-masing. Mami Louisse sebagai pemilik bar sekaligus muncikari digambarkan sebagai perempuan yang tegas dan penuh perhitungan. Ia menyediakan ruang bagi transaksi gelap sekaligus pelampiasan nafsu lelaki melalui para pelacur yang bekerja di sana. Meski terlibat dalam dunia gelap, Mami Louisse memiliki sisi manusiawi yang tidak sepenuhnya hitam-putih.

Salah satu pekerja di bar itu adalah Juleha, pelacur yang tampil blakblakan dan keras di permukaan, tetapi menyimpan kerentanan yang dalam. Juleha menjadi representasi perempuan di ruang marjinal kota ─ hidup di antara pilihan-pilihan sempit dan tuntutan ekonomi. Interaksinya dengan Ale membuka lapisan lain tentang luka yang dipikul manusia, sekaligus mempertegas bahwa setiap orang membawa beban hidupnya sendiri, meskipun cara mereka menyembunyikannya berbeda.

Di bar yang sama, Ale kembali bertemu Ipul, mantan office boy di kantornya dulu. Ipul bekerja sebagai tukang bersih-bersih di bar Mami Louisse demi menambah penghasilan. Ipul menjadi penghubung Ale dengan kehidupan lamanya ─ pengingat bahwa dunia kantor yang rapi dan dunia malam yang keras ternyata bisa bersinggungan melalui nasib orang-orang kecil yang berjuang bertahan.

Melalui Ipul pula Ale mengenal Bu Murni, ibu dari teman Ipul yang telah lama pergi meninggalkannya. Dahulu, anak Bu Murni merasa disepelekan, dikekang, dan dituntut banyak, hingga memilih menjauh. Kisah ini memiliki gema emosional bagi Ale, yang juga pernah merasa tertekan oleh perlakuan orang tuanya. Bu Murni melihat kehadiran Ale seperti kepulangan anaknya sendiri. Dari Bu Murni, Ale merasakan kehangatan yang tidak menghakimi, melainkan sebuah bentuk penerimaan yang pelan-pelan menambal kekosongan batinnya.

Tokoh lain yang tak kalah penting adalah Pak Uju, penjual layangan yang memiliki utang kepada Murad. Ketika utang itu jatuh tempo, Murad menagih dengan cara semena-mena. Ale berdiri di antara mereka dan mencegah tindakan tersebut. Sejak saat itu, Pak Uju merasa berutang budi pada Ale. Mereka kemudian beberapa kali bertemu, saling berbagi cerita, dan bertukar nasihat. Dari Pak Uju, Ale belajar filosofi hidup seperti layangan, bisa terangkat tinggi, jatuh terseret angin, atau tersangkut, tetapi selalu memiliki peluang untuk kembali terbang.

Dalam perjalanannya, Ale juga bertemu Pak Jipren, penjual kerupuk tunanetra. Pak Jipren menjalani hidup dengan keterbatasan penglihatan, namun justru memiliki pandangan yang jernih tentang makna bertahan. Pertemuan ini menyadarkan Ale bahwa keterbatasan fisik tidak selalu berarti keterbatasan cara melihat dunia. Bahkan seseorang yang tidak bisa melihat secara harfiah pun masih mampu memandang hidup dengan kebijaksanaan. Pak Jipren menjadi salah satu tokoh kunci yang akhirnya menyadarkan Ale, hingga mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Melalui rangkaian pertemuan dengan Murad, Mami Louise, Juleha, Ipul, Bu Murni, Pak Uju, dan Pak Jipren, Brian Khrisna membangun mosaik pengalaman manusia yang saling bersinggungan. Tidak satu pun dari mereka hadir sebagai penyelamat mutlak. Mereka hanyalah manusia biasa dengan latar hidup yang rumit. Namun justru dari fragmen-fragmen kecil inilah Ale perlahan menemukan kembali hubungan dengan dunia.

Tema utama novel ini adalah depresi dan kelelahan emosional. Brian Khrisna tidak mengemas depresi sebagai sesuatu yang sensasional. Ia hadir sebagai kesenyapan, sebagai rasa kosong yang sulit dijelaskan, sebagai rutinitas yang kehilangan makna. Ale tidak digambarkan menangis histeris atau melakukan tindakan ekstrem sepanjang cerita. Sebaliknya, pembaca diajak menyelami pikirannya yang berputar-putar dan keinginannya untuk berhenti melangkah ─ sebuah potret yang terasa dekat dengan realitas banyak orang dewasa masa kini.

Sebagai bagian dari proses refleksi tersebut, Ale sampai pada kesadaran baru tentang hidupnya: “Selama ini aku selalu mencari jawaban dari tempat-tempat yang jauh, padahal Tuhan meletakkan jawaban itu begitu dekat denganku. Yang kubutuh hanya melihat lebih luas dan lebih bijaksana.” Kutipan dari bab “Seporsi Mie Ayam yang Terakhir” ini menandai perubahan sudut pandang Ale tentang hidupnya.

Novel ini menekankan pentingnya kebaikan kecil. Penjual kerupuk Pak Jipren, obrolan dengan Pak Uju, perhatian Bu Murni, hingga kehadiran Ipul, semuanya tampak remeh, tetapi memberi dampak besar. Brian Khrisna seolah ingin mengatakan bahwa perubahan hidup jarang datang dalam bentuk peristiwa besar, ia lebih sering hadir melalui pertemuan singkat dan obrolan sederhana.

Menjelang akhir cerita, janji lama kembali muncul. Pram, anak Pak Jo, akhirnya membuatkan Ale seporsi mie ayam ─ janji yang sempat tertunda karena Ale terjebak di penjara. Namun Ale tidak memakan mie ayam itu, ia justru membiarkannya, ia berpikir “Masih ada hari esok untuk makan.” Momen ini menjadi penutup yang apik dan simbolis: lingkaran perjalanan Ale kembali ke titik awal, namun dengan kesadaran yang berbeda.

Pada bagian penutup perjalanannya, Ale mengungkapkan keputusan terpenting dalam hidupnya: “Aku tidak tahu sudah berapa kali aku memutuskan untuk mati dan mencoba bunuh diri selama 37 tahun aku hidup. Namun sekarang, aku telah memutuskan untuk tidak membiarkan kematian menghampiriku lebih dulu.”

Secara keseluruhan, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah novel tentang manusia yang hampir menyerah, tetapi tertahan oleh hal-hal kecil yang tidak ia rencanakan. Ini bukan kisah heroik, bukan pula cerita tentang kesembuhan instan. Brian Khrisna menyajikan proses yang pelan dan sangat manusiawi. Ale tidak tiba-tiba menjadi sosok baru, ia hanya mulai melihat hidup dari sudut yang sedikit berbeda.

Dalam kesederhanaannya, novel ini menawarkan refleksi tentang rapuhnya manusia sekaligus daya tahannya. Ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, memperhatikan sekitar, dan mungkin menemukan bahwa alasan untuk bertahan bisa datang dari hal yang paling tidak disangka, bahkan dari seporsi mie ayam. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Brian KhrisnaBukunovelUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails

Pertemuan Santos dan Oppenheimer, Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

by Agung Sudarsa
December 15, 2025
0
Pertemuan Santos dan Oppenheimer, Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

Dua Dunia, Satu Akar Dalam sejarah peradaban, sering kali kita terjebak pada dikotomi: Timur sebagai wilayah mitos dan spiritualitas, Barat...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co