- Judul Buku: 23:59
- Penulis Buku: Brian Khrisna
- Penerbit: Media Kita
- Tahun Terbit: 2023
- Halaman: 232 hlm
“Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang berakhir dengan penuh tanda tanya.” Kutipan ini berasal dari sinopsis buku novel berjudul “23:59”. Buku itu ditulis oleh penulis Brian Khrisna — penulis yang sama dengan buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” dan “Sisi Tergelap Surga”.
Buku ini menceritakan seorang wanita bernama Ami, yang akan menikahi pria yang sangat mencintainya. Namun dia masih mencintai mantannya dengan banyak pertanyaan dalam hatinya. Raga — Si Mantan, hadir di keadaan yang membuat Ami hampir menjadi gila.
Cinta Ami kepada Raga adalah kisah cinta ironis. Banyak yang mempertanyakan mengapa Ami sangat mencintai Raga. Sampai-sampai gosip terkait guna-guna dan pelet dilontarkan ke pria bajingan yang tega meninggalkan sosok perempuan sempurna itu. Istilah “Pria Bajingan” bukanlah sebatas kata-kata hinaan semata. Kata itu adalah akibat dari pilihan Raga yang harus diterimanya.
Keputusasaan membawa Ami pada sebuah perjalanan imajinasi. Dimana Ami justru menikah dengan Raga, dan bersikap seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Perjalanan dunia paralel ini menciptakan nostalgia, rasa haru, serta jawaban dari atas kepergian Raga darinya.
Judul 23:59 tidak hanya judul buku biasa, ia adalah konsep yang lahir dengan makna. Pukul 23;59 diibaratkan dengan sebuah arti dari pergantian hari dan perpisahan di hari kemarin. Seperti Ami dan Raga yang harus berpisah di hubungan kemarin, dan terus bangun di hubungan hari ini.
Banyak pembaca yang menyadari konsep ini dari judul buku dan detail-detail angka yang diselipkan oleh Brian Khrisna. Namun bagi saya, buku ini memiliki satu konsep yang sangat menginspirasi. Yaitu “belajar menerima konsekuensi.”
Pilihan dan kehidupan sangat berkaitan erat. Dikatakan, manusia membuat keputusan setiap harinya. Keputusan untuk bangun dari tidur, keputusan untuk makan di jam tertentu, keputusan untuk bekerja dan belajar, dll. Keputusan adalah pilihan-pilihan yang berhasil “putus”. Menjadikan pilihan akhir sebagai Ke”putus”an.
Pilihan membentuk 2 aspek, takdir dan konsekuensi. Takdir bergerak sebagai “ketetapan Tuhan” yang menjadi realita. Dan konsekuensi bekerja sebagai “hukuman realita”.
Ketika kita memilih sebuah pilihan, maka takdir akan terbentuk diikuti dengan konsekuensi. Konsekuensi adalah proses manusia dalam menjalani pilihannya. Dan itu tidak bisa dihindari.
Dalam buku “23:59”, Raga memutuskan hubungan dengan wanita yang ia cintai. Walaupun dia tahu apa resiko dari keputusannya itu, dia gagal dalam menjalani konsekuensi dari keputusannya. Ketika ia mendapati Ami akan menikah dengan pria lain, Raga makin menjadi pecundang dengan terus menghindari Ami tanpa memikirkan perasaannya sendiri — bahwa ia masih mencintai Ami.
Konsep “belajar menerima konsekuensi” makin ditekankan ketika Brian Khrisna membawa konsep dunia paralel di cerita. Bagi saya, itu tidak hanya gambaran rasa rindu Ami, namun juga sebagai gambaran bagaimana pilihan bisa mempengaruhi takdir sekaligus konsekuensi dari masing-masing individu.
Di dunia paralel, walaupun mereka bersama, ada pihak-pihak yang menolak hubungan mereka. Menjadikan perjalan rumah tangga mereka tak semulus yang dipikirkan. Raga mengalami diskriminasi dari pihak-pihak yang tak menyukai hubungan itu.
Namun Ami dan Raga di dunia paralel menerima konsekuensi itu. Menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri pada umumnya. Berbelanja, menanam buah strawberry, hingga bisa membangun rumah impian. Mereka menjalani konsekuensi, karena itulah pilihan yang mereka ambil.
Tentu dunia nyata dan paralel itu memiliki perbedaan dari pilihan mereka dalam memilih dan mengorbankan sesuatu. Tentu ada harga dari sebuah pilihan. Nasib dari hubungan Ami dan Raga ada di pilihan yang mereka pilih, sama halnya dengan kita—manusia pada umumnya.
Manusia sebagian besar tidak memikirkan pilihan mereka, dan akhirnya tenggelam dalam lautan air mata dari penyesalan mereka. Masalahnya, cakupan pilihan tersebut sangat luas. Menciptakan sebuah paradoks (paradox of choice), sehingga banyak pilihan justru malah membuat kegelisahan dan ketidakpuasan.
Dalam konteks percintaan, ada sebuah pola yang menentukan nasib dari pasangan tersebut. Sepasang kekasih adalah dua orang yang memilih keputusan untuk saling mencintai dan merobohkan tembok masing-masing. Sehingga sudah dipastikan akan ada keterlanjangan yang menciptakan ketidaksinambungan dalam hubungan tersebut. Ketidaksambungan ini akan memunculkan reasksi, dan reaksi akan menimbulkan sebuah tegangan dalam hubungan.
Ketegangan ini akan menciptakan pilihan — melanjutkan atau selesai. Dan dari dua pilihan, akan banyak konsekuensi yang dipikirkan. Banyak pikiran membuat rasa kepercayaan diri seseorang menjadi menurun. Dan rasa percaya diri yang menurun akan menurunkan kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.
Pola ini tidak hanya berlaku pada hubungan percintaan, tapi hubungan lainnya seperti kemitraan, keluarga, bahkan dengan lingkungan. Keraguan akan menciptakan keputusan yang tak maksimal.
Ini yang membuat manusia mengalami keputusasaan dari keputusan yang mereka ambil. Selain karena tekanan, banyaknya konsekuensi yang terjadi terasa seperti “hantu” yang menggentayangi. Bukannya menciptakan kebebasan, namun malah membuat kurungan baru bagi diri kita.
Namun berita baiknya, dari buku novel ini, kita bisa memahami perspektif menerima konsekuensi atau bahkan hidup berdampingan dengan konsekuensi. Apa yang sudah Ami dan Raga lakukan dalam menerima konsekuensi dari pilihan masing-masing sangat menginspirasi. Walaupun dengan hasrat cinta yang membara dan intensitas seksual yang cukup mengganggu saya, buku ini tetap memberikan sebuah refleksi mendalam bagi saya. Terkait bagaimana memikirkan pilihan dan menerima konsekuensinya. [T]
Penulis: Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole
- Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co



























