3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Sihir Putri Pewarna’: Keberanian Teater Media Tepi Menyalakan Sihir di Panggung Perdana

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
in Panggung
‘Sihir Putri Pewarna’: Keberanian Teater Media Tepi Menyalakan Sihir di Panggung Perdana

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

SEMUA bisa saja gagal sore itu. Panggung pertama, pemain pemula, dana terbatas, dan nama yang belum dikenal. Namun pada Sabtu, 17 Januari 2026, Teater Media Tepi justru memilih menyalakan api pertamanya di Aula SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, di hadapan penonton yang memenuhi tempat duduk hingga baris terakhir.

Hari itu adalah Siwaratri, hari suci bagi umat Hindu. Namun aula sekolah justru penuh. Tiket seharga dua puluh ribu rupiah ludes terjual. Aula dipenuhi siswa, alumni, dan orang tua pemain. Antusiasme terasa jujur, seolah semua ingin menjadi saksi kelahiran sesuatu yang baru.

Pementasan itu berjudul ‘Sihir Putri Pewarna’, sebuah operet fantasi yang dipentaskan oleh Teater Media Tepi ─ unit kegiatan ekstrakurikuler teater yang baru berusia setahun. Bagi mereka, pementasan ini adalah permulaan dan sebuah pertaruhan.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

Begitu lampu meredup, panggung menjelma ‘Daratan Rosea’. Tata cahaya bekerja rapi. Kostum tampil berani, penuh warna dan detail. Musik mengalun tanpa tergesa. Penataan panggung menunjukkan keseriusan yang tak lazim untuk ukuran teater sekolah yang baru memulai.

Bagi ukuran pementasan sekolah, pertunjukan ini terasa utuh. Visual, suara, kostum, dan alur cerita saling menopang, bukan saling berebut perhatian. Bahkan bagi penonton yang belum pernah bersentuhan dengan dunia teater, kisah ini tetap bisa diikuti dan dinikmati.

Sayangnya ada satu kekurangan kecil, yakni akses keluar-masuk pemain yang belum fleksibel karena berasal dari bawah panggung, bukan dari belakang. Namun detail teknis itu nyaris tenggelam oleh pementasan yang apik.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

Ketika Sutradara Memilih Tak Melihat

Mohammad Hasbi Romadhoni, S.S., pembina sekaligus penulis naskah dan sutradara, mengambil keputusan tak lazim pada hari pementasan. Ia memilih tidak ikut mengatur dan bahkan tidak menyaksikan pertunjukan dari dekat.

“Saya percayakan semuanya pada mereka. Ini semua adalah keberanian anak-anak Teater Media Tepi,” ujarnya.

Keputusan itu tentu bukan tanpa risiko. Proses latihan berjalan panjang dan melelahkan. Terlebih mayoritas pemain belum memiliki pengalaman teater sebelumnya. “Memoles mereka, sangat menguras tenaga dan waktu,” kata Hasbi Romadhoni.

Namun proses panjang itu berakhir manis. Testimoni penonton datang bertubi-tubi. Banyak penonton yang berharap Teater Media Tepi bisa mementaskan operet serupa secara berkelanjutan.

“Sebagai penulis naskah, saya puas. Sebagai pembina, saya bangga. Yang justru saya khawatirkan sekarang adalah ekspektasi penonton yang semakin berat untuk kami pertahankan,” ucap Hasbi Romadhoni sembari tersenyum.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

‘Sihir Putri Pewarna’ berlatar dunia fiksi bernama Rosea, negeri monarki absolut yang membagi masyarakat ke dalam kelas bangsawan dan rakyat biasa. Bangsawan menguasai sihir, rakyat tidak. Dari ketimpangan inilah konflik bermula.

Tokoh utama, Clara Simeri, anak rakyat biasa tanpa sengaja menemukan percikan api dari reaksi kimia sederhana. Api itu bukan sihir magis, melainkan hasil pengetahuan. Dari sinilah istilah ‘sihir buatan’ atau ‘sihir sintetis’ lahir.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

Hasbi Romadhoni mengungkapkan, alur cerita sengaja dibuat linear. Konflik jelas, tokoh antagonis tegas. Penonton diajak menyusuri perebutan kuasa, cinta terlarang, hingga kudeta yang berujung tragis.

“Cerita ini saya padatkan. Sebenarnya naskah aslinya jauh lebih panjang. Banyak adegan ingin saya tambahkan, tapi hampir separuh saya pangkas demi menjaga kenyamanan penonton,” tuturnya.

Pemangkasan itu, meski membuatnya ‘kurang srek’ sebagai penulis, justru menjadikan pementasan lebih fokus dan komunikatif. Operet ini tidak hanya tenggelam dalam dialog, tetapi juga bergerak lincah melalui visual dan musik.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

Produksi yang Penuh Cerita

Di balik layar, produksi berjalan penuh dinamika. Masalah biaya menjadi tantangan utama. Operet bukan pertunjukan murah. Kostum, properti, musik, dan latihan intensif membutuhkan dana serta komitmen besar. Latihan kerap berlangsung hingga malam hari, bahkan di masa liburan akhir tahun.

“Ada jemaat (anggota) yang mengaku sering diganggu ‘yang tak kasat mata’ saat latihan malam. Akhirnya kami sepakat tidak lagi latihan terlalu malam,” ujarnya sembari tertawa.

Tak hanya itu, masalah klasik lain pun muncul: sulit mengumpulkan seluruh pemain di bulan kedua latihan. Produksi sempat mundur. Desain pedang harus diulang karena tak sesuai referensi ─ yang semula bergaya Eropa justru menyerupai pedang Asia. Bahkan pada hari pementasan, properti sempat rusak karena terburu-buru.

“Lucunya, anak-anak tidak berani menegur saya. Padahal yang merusak properti itu saya sendiri,” ucapnya terkekeh.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

Bagi Ahmad Andre Gunawan selaku asisten sutradara, pementasan ini adalah buah dari tempaan panjang.

“Saya senang sekali. Hasil yang saya tempa untuk diri sendiri dan teman-teman berbuah manis. Saya bangga dengan performa mereka,” katanya.

Sementara itu, Ni Kadek Shantika Tirta Dewi selaku pimpinan produksi, mengaku sempat tak percaya bisa sampai di titik ini.

“Sebagai permulaan, saya rasa ini luar biasa. Saya belajar banyak tentang organisasi, persiapan, dan kerja tim. Lebih dari itu, saya merasakan persaudaraan yang kuat,” ujarnya.

Ia pun turut berharap agar Teater Media Tepi bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan rumah yang hangat ─ tempat berbagi pahit dan manis, serta mendapat dukungan lebih luas ke depan.

Operet ‘Sihir Putri Pewarna’ oleh Teater Media Tepi│Foto: tatkala.co/Dede

Hasbi Romadhoni mengungkapkan, pementasan ini bukan garis akhir. Teater Media Tepi telah menyiapkan langkah lanjutan: tampil di HUT sekolah, kembali mengikuti FLS2N jika dana memungkinkan, serta menjalin jejaring dengan kelompok teater lain yang sejak lama ingin berkenalan.

Ia menyadari, ritme produksi teater kerap mengejutkan para jemaat (anggota) Media Tepi. Capek, lelah, sibuk, dimarahi sutradara dan pimpinan produksi adalah bagian dari proses.

“Kalau sudah berani ikut teater, harus siap ditempa. Tapi teater juga tempat belajar yang nyaman,” katanya.

Teater Media Tepi│Foto: Dok. Hasbi Romadhoni

Sore itu, setelah tepuk tangan reda dan lampu kembali menyala, Aula Kesbam perlahan kosong. Namun sesuatu telah tertinggal: keyakinan bahwa api kecil bisa menyala di mana saja, bahkan di panggung sederhana sebuah sekolah kesehatan.

Dan, seperti Clara Simeri yang menemukan api dari tangannya sendiri, Teater Media Tepi membuktikan satu hal, bahwa sihir pertama selalu lahir dari keberanian untuk mencoba. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: operetseni pertunjukanSMK Kesehatan Bali MedikaTeaterteater sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

Next Post

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co