7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Chusmeru by Chusmeru
January 19, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PARIWISATA sebagai industri saling bersaing di dunia internasional. Bahkan persaingan ketat terjadi di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing negara memiliki kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing juga mempunyai konsep dan strategi pengembangan pariwisata yang berbeda. Ujungnya sama, peningkatan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakatnya.

Persaingan ketat terjadi di antara negara Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Indonesia dengan segenap potensi wisata yang dimiliki ikut bersaing menarik wisatawan, meski dengan langkah yang terseok-seok. Berdasarkan destinasi dan jenis wisatanya, sesungguhnya negara-negara di Asia Tenggara hampir memiliki kesamaan potensi. Bahkan Indonesia memiliki banyak potensi. Namun angka kunjungan wisatawan ke Thailand, Malaysia, dan Vietnam melesat dengan cepat.

Potensi alam di masing-masing negara menjadi daya tarik wisatawan. Thailand memiliki banyak taman nasional yang alami, selain Kepulauan Phi Phi dan Phuket. Malaysia punya Taman Nasional Gunung Kinabalu dan Pulau Langkawi dengan Pantai Cenang dan Tanjung Rhu. Vietnam juga mempunyai wisata alam yang luar biasa, seperti Ha Long Bay dan pantai andalannya, yaitu Phu Quock dan Nha Trang. Indonesia tak kalah menarik. Pantai di Indonesia begitu banyak. Pegunungan juga banyak. Namun tetap saja, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih kalah dibandingkan ketiga negara di kawasan Asia Tenggara itu.

Potensi sosial budaya beragam pula. Thailand memiliki destinasi wisata budaya di Bangkok, Chiang Mai, dan beberapa kuil yang tersebar di negara gajah putih itu. Malaysia mengandalkan destinasi budaya yang ada di George Town, Penang, dan Kota Malaka. Sedangkan Vietnam mengunggulkan kota-kota bersejarah, seperti Hanoi Hue. Sementara Indonesia banyak memiliki potensi budaya yang ada di setiap pulau. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia yang luas wilayahnya hanya 330.803 km², kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia lebih rendah.

Pertanyaan besar tentunya, mengapa geliat pariwisata Indonesia tak semeriah negara-negara tetangga? Padahal Indonesia memiliki luas wilayah 5.180.053 km². Angka yang sangat luas bagi negara dengan beragam potensi alam dan budayanya. Bahkan bila dibanding dengan Vietnam, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia terkalahkan. Vietnam kini menjadi ancaman baru bagi Indonesia. Mungkinkah pariwisata Vietnam akan menggeser Indonesia?

Kereta Cepat Pariwisata Vietnam

Pariwisata saat ini menjadi ekonomi kunci bagi Vietnam yang menghadapi tantangan dan peluang restrukturisasi komprehensif. Vietnam telah merancang strategi pembangunan hingga tahun 2030; dan pariwisata Vietnam sedang memposisikan diri sebagai kereta cepat.

Krisis global yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 justru membuat pariwisata Vietnam menunjukkan vitalitas yang kuat dan berdaptasi dengan cepat untuk bangkit kembali. Pada tahun 2024, Vietnam menyambut 17,6 juta pengunjung internasional, mencapai pemulihan 98% dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi (termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara). Pada tahun 2025, seluruh industri mencetak rekor baru dengan menyambut pengunjung ke-20 juta pada pertengahan Desember (Vietnam.vn, 23/12/2025).

Pasar wisata domestik juga menjadi pilar yang strategis dengan estimasi 140 juta pengunjung. Industri pariwisata Vietnam memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism) menilai sektor pariwisata Vietnam sebagai salah satu yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia, yaitu 21 persen.

Laju kereta cepat pariwisata membuat Vietnam meraih berbagai penghargaan dalam World Travel Awards 2025 (WTA). Beberapa gelar diraih Vietnam, di antaranya Destinasi Warisan Budaya Terkemuka Dunia, Destinasi Budaya Lokal Terkemuka Dunia 2025, Destinasi Alam Lokal Terkemuka Dunia, Kota Wisata Terkemuka Dunia untuk Tam Dao, dan Phu Quoc sebagai Destinasi Alam Pulau dan Pantai Terkemuka Dunia.

Hingga tahun 2030 Vietnam menerapkan strategi yang menggeser pola pikir pasif dan terbuka menuju pendekatan aktif dan berorientasi pasar. Tujuan strategi ini adalah menciptakan terobosan dalam kebijakan visa dan konektivitas udara, produk pariwisata yang terus diperbarui, dan diversifikasi. Semua itu mengarah pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, dengan menggunakan kualitas, efisiensi, dan daya saing sebagai tolok ukur.

Produk utama pariwisata Vietnam adalah pantai dan pulau, pariwisata budaya, ekowisata, dan pariwisata perkotaan. Phu Quoc di Vietnam pun menduduki posisi pertama sebagai Pulau Terindah 2025 Asia versi Conde Nast Traveler, sebuah majalah di Amerika Serikat. Bahkan berkembang opini, Phu Quoc telah menggeser Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi pariwisata Bali dan Indonesia.Bukan hanya pulau dan pantai, Vietnam juga mengembangkan pariwisata malam, pariwisata kesehatan dan kebugaran, pariwisata pertanian dan pedesaan, pariwisata MICE, pariwisata golf, pariwisata olahraga, pariwisata kereta api, pariwisata kapal pesiar, dan pariwisata komunitas yang terkait dengan pelestarian budaya dan mata pencaharian lokal.

Kereta pariwisata Vietnam terbukti melaju dengan cepat. Akan tetapi kereta cepat pariwisata itu menyimpan potensi ancaman. Secara ekonomis memang menguntungkan bagi devisa negara. Namun bahaya overtourism mengintai. Apalagi luas wilayah Vietnam hanya 331.690 km², kurang dari separuh dari wilayah Pulau Kalimantan yang memiliki luas 743.330 km².

Vietnam yang Manusiawi

Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa Vietnam kini banyak diburu wisatawan mancanegara? Seorang wisatawan digital nomad asal Spanyol, Alberto Ferreiras Casteleiro membagikan pengalamannya melalui video yang diunggah ke TikTok, dan telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Dia yang telah menetap di Vietnam lebih dari dua tahun mengatakan, begitu orang berada di Vietnam tidak akan pernah ingin pergi. Banyak alasan yang ia kemukakan ( Vietnam.vn, 27/12/2025).

Menurut Alberto Ferreiras Casteleiro, secangkir kopi seharga $1 lebih ampuh daripada bahan bakar roket. Orang  akan menjadi sangat produktif di Vietnam; hari kerja empat jam bisa dengan mudah diperpanjang menjadi sepuluh jam. Semangkuk pho seharga $2 bisa mengalahkan semangkuk mi ‘setinggi langit’ yang pernah  dimakan di rumah. Bukan hanya itu. Sebuah apartemen dengan semua fasilitas, mulai dari kolam renang di atap dan pemandangan kota hingga perabotan lengkap, semuanya dengan harga setara sebuah kamar kecil di Barat.

Vietnam dianggap sebagai destinasi wisata yang manusiawi. Penduduknya sangat ramah. Mereka akan mengajak wisatawan makan, bercengkerama, dan tanpa disadari wisatawan telah memiliki keluarga kedua. Kuliner asli Vietnam sangat luar biasa serta komunitas lokal yang membuat wisatawan enggan untuk pergi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Alberto Ferreiras Casteleiro percaya Vietnam adalah salah satu lingkungan terbaik di dunia untuk para pekerja lepas digital. “Tempat ini memiliki infrastruktur yang stabil, internet cepat, biaya hidup rendah, dan gaya hidup yang mendukung kinerja kerja dan keseimbangan. Lebih penting lagi, Vietnam menawarkan nilai yang tak terukur: kedamaian batin. Ketika biaya hidup dasar dan tekanan sehari-hari berkurang, orang dapat lebih fokus pada pekerjaan yang bermakna dan pengembangan pribadi,” ujarnya seperti ditulis Vietnam.cn.

Kehangatan orang-orang Vietnam tidak dibuat-buat. Vietnam sangat terbuka, aman, dan sangat manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakatnya dibangun atas dasar semangat kebersamaan, rasa hormat, dan ketahanan, dengan orang-orang yang bangga akan negara mereka dan sangat ramah. Tak heran bila kini banyak wisatawan mengincar Vietnam sebagai destinasi alternatif di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, membludaknya wisatawan asing ke Vietnam suatu ketika akan memunculkan persoalan kemanusiaan. Interaksi penduduk dengan wisatawan dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi dapat menimbulkan dislokasi budaya dan disorientasi sosial. Bali yang dulu masih nyaman dan aman untuk dikunjungi, kini juga mulai terusik dengan perilaku wisatawan yang kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan lain dan penduduk setempat.

Penduduk Vietnam suatu saat juga akan sangat tergantung pada pariwisata, sebagaimana terjadi di Bali saat ini. Budaya dan alam Vietnam yang saat ini masih tampak natural, suatu ketika bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Ini tentu dapat membuat budaya dan alam Vietnam menjadi bagian dari rezim pariwisata yang kapitalistik.

Pariwisata Vietnam sangat mungkin bisa menggeser Indonesia. Namun Vietnam juga harus belajar banyak dari masalah pembangunan pariwisata yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran tata ruang dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia dapat saja menimpa Vietnam. Apalagi bila rakyat, pejabat, dan konglomeratnya saling berebut kue pariwisata. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: PariwisataVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Sihir Putri Pewarna’: Keberanian Teater Media Tepi Menyalakan Sihir di Panggung Perdana

Next Post

Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Festival Mini 'Dealing in Distance' Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co