26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Chusmeru by Chusmeru
January 19, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PARIWISATA sebagai industri saling bersaing di dunia internasional. Bahkan persaingan ketat terjadi di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing negara memiliki kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing juga mempunyai konsep dan strategi pengembangan pariwisata yang berbeda. Ujungnya sama, peningkatan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakatnya.

Persaingan ketat terjadi di antara negara Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Indonesia dengan segenap potensi wisata yang dimiliki ikut bersaing menarik wisatawan, meski dengan langkah yang terseok-seok. Berdasarkan destinasi dan jenis wisatanya, sesungguhnya negara-negara di Asia Tenggara hampir memiliki kesamaan potensi. Bahkan Indonesia memiliki banyak potensi. Namun angka kunjungan wisatawan ke Thailand, Malaysia, dan Vietnam melesat dengan cepat.

Potensi alam di masing-masing negara menjadi daya tarik wisatawan. Thailand memiliki banyak taman nasional yang alami, selain Kepulauan Phi Phi dan Phuket. Malaysia punya Taman Nasional Gunung Kinabalu dan Pulau Langkawi dengan Pantai Cenang dan Tanjung Rhu. Vietnam juga mempunyai wisata alam yang luar biasa, seperti Ha Long Bay dan pantai andalannya, yaitu Phu Quock dan Nha Trang. Indonesia tak kalah menarik. Pantai di Indonesia begitu banyak. Pegunungan juga banyak. Namun tetap saja, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih kalah dibandingkan ketiga negara di kawasan Asia Tenggara itu.

Potensi sosial budaya beragam pula. Thailand memiliki destinasi wisata budaya di Bangkok, Chiang Mai, dan beberapa kuil yang tersebar di negara gajah putih itu. Malaysia mengandalkan destinasi budaya yang ada di George Town, Penang, dan Kota Malaka. Sedangkan Vietnam mengunggulkan kota-kota bersejarah, seperti Hanoi Hue. Sementara Indonesia banyak memiliki potensi budaya yang ada di setiap pulau. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia yang luas wilayahnya hanya 330.803 km², kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia lebih rendah.

Pertanyaan besar tentunya, mengapa geliat pariwisata Indonesia tak semeriah negara-negara tetangga? Padahal Indonesia memiliki luas wilayah 5.180.053 km². Angka yang sangat luas bagi negara dengan beragam potensi alam dan budayanya. Bahkan bila dibanding dengan Vietnam, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia terkalahkan. Vietnam kini menjadi ancaman baru bagi Indonesia. Mungkinkah pariwisata Vietnam akan menggeser Indonesia?

Kereta Cepat Pariwisata Vietnam

Pariwisata saat ini menjadi ekonomi kunci bagi Vietnam yang menghadapi tantangan dan peluang restrukturisasi komprehensif. Vietnam telah merancang strategi pembangunan hingga tahun 2030; dan pariwisata Vietnam sedang memposisikan diri sebagai kereta cepat.

Krisis global yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 justru membuat pariwisata Vietnam menunjukkan vitalitas yang kuat dan berdaptasi dengan cepat untuk bangkit kembali. Pada tahun 2024, Vietnam menyambut 17,6 juta pengunjung internasional, mencapai pemulihan 98% dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi (termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara). Pada tahun 2025, seluruh industri mencetak rekor baru dengan menyambut pengunjung ke-20 juta pada pertengahan Desember (Vietnam.vn, 23/12/2025).

Pasar wisata domestik juga menjadi pilar yang strategis dengan estimasi 140 juta pengunjung. Industri pariwisata Vietnam memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism) menilai sektor pariwisata Vietnam sebagai salah satu yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia, yaitu 21 persen.

Laju kereta cepat pariwisata membuat Vietnam meraih berbagai penghargaan dalam World Travel Awards 2025 (WTA). Beberapa gelar diraih Vietnam, di antaranya Destinasi Warisan Budaya Terkemuka Dunia, Destinasi Budaya Lokal Terkemuka Dunia 2025, Destinasi Alam Lokal Terkemuka Dunia, Kota Wisata Terkemuka Dunia untuk Tam Dao, dan Phu Quoc sebagai Destinasi Alam Pulau dan Pantai Terkemuka Dunia.

Hingga tahun 2030 Vietnam menerapkan strategi yang menggeser pola pikir pasif dan terbuka menuju pendekatan aktif dan berorientasi pasar. Tujuan strategi ini adalah menciptakan terobosan dalam kebijakan visa dan konektivitas udara, produk pariwisata yang terus diperbarui, dan diversifikasi. Semua itu mengarah pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, dengan menggunakan kualitas, efisiensi, dan daya saing sebagai tolok ukur.

Produk utama pariwisata Vietnam adalah pantai dan pulau, pariwisata budaya, ekowisata, dan pariwisata perkotaan. Phu Quoc di Vietnam pun menduduki posisi pertama sebagai Pulau Terindah 2025 Asia versi Conde Nast Traveler, sebuah majalah di Amerika Serikat. Bahkan berkembang opini, Phu Quoc telah menggeser Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi pariwisata Bali dan Indonesia.Bukan hanya pulau dan pantai, Vietnam juga mengembangkan pariwisata malam, pariwisata kesehatan dan kebugaran, pariwisata pertanian dan pedesaan, pariwisata MICE, pariwisata golf, pariwisata olahraga, pariwisata kereta api, pariwisata kapal pesiar, dan pariwisata komunitas yang terkait dengan pelestarian budaya dan mata pencaharian lokal.

Kereta pariwisata Vietnam terbukti melaju dengan cepat. Akan tetapi kereta cepat pariwisata itu menyimpan potensi ancaman. Secara ekonomis memang menguntungkan bagi devisa negara. Namun bahaya overtourism mengintai. Apalagi luas wilayah Vietnam hanya 331.690 km², kurang dari separuh dari wilayah Pulau Kalimantan yang memiliki luas 743.330 km².

Vietnam yang Manusiawi

Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa Vietnam kini banyak diburu wisatawan mancanegara? Seorang wisatawan digital nomad asal Spanyol, Alberto Ferreiras Casteleiro membagikan pengalamannya melalui video yang diunggah ke TikTok, dan telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Dia yang telah menetap di Vietnam lebih dari dua tahun mengatakan, begitu orang berada di Vietnam tidak akan pernah ingin pergi. Banyak alasan yang ia kemukakan ( Vietnam.vn, 27/12/2025).

Menurut Alberto Ferreiras Casteleiro, secangkir kopi seharga $1 lebih ampuh daripada bahan bakar roket. Orang  akan menjadi sangat produktif di Vietnam; hari kerja empat jam bisa dengan mudah diperpanjang menjadi sepuluh jam. Semangkuk pho seharga $2 bisa mengalahkan semangkuk mi ‘setinggi langit’ yang pernah  dimakan di rumah. Bukan hanya itu. Sebuah apartemen dengan semua fasilitas, mulai dari kolam renang di atap dan pemandangan kota hingga perabotan lengkap, semuanya dengan harga setara sebuah kamar kecil di Barat.

Vietnam dianggap sebagai destinasi wisata yang manusiawi. Penduduknya sangat ramah. Mereka akan mengajak wisatawan makan, bercengkerama, dan tanpa disadari wisatawan telah memiliki keluarga kedua. Kuliner asli Vietnam sangat luar biasa serta komunitas lokal yang membuat wisatawan enggan untuk pergi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Alberto Ferreiras Casteleiro percaya Vietnam adalah salah satu lingkungan terbaik di dunia untuk para pekerja lepas digital. “Tempat ini memiliki infrastruktur yang stabil, internet cepat, biaya hidup rendah, dan gaya hidup yang mendukung kinerja kerja dan keseimbangan. Lebih penting lagi, Vietnam menawarkan nilai yang tak terukur: kedamaian batin. Ketika biaya hidup dasar dan tekanan sehari-hari berkurang, orang dapat lebih fokus pada pekerjaan yang bermakna dan pengembangan pribadi,” ujarnya seperti ditulis Vietnam.cn.

Kehangatan orang-orang Vietnam tidak dibuat-buat. Vietnam sangat terbuka, aman, dan sangat manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakatnya dibangun atas dasar semangat kebersamaan, rasa hormat, dan ketahanan, dengan orang-orang yang bangga akan negara mereka dan sangat ramah. Tak heran bila kini banyak wisatawan mengincar Vietnam sebagai destinasi alternatif di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, membludaknya wisatawan asing ke Vietnam suatu ketika akan memunculkan persoalan kemanusiaan. Interaksi penduduk dengan wisatawan dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi dapat menimbulkan dislokasi budaya dan disorientasi sosial. Bali yang dulu masih nyaman dan aman untuk dikunjungi, kini juga mulai terusik dengan perilaku wisatawan yang kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan lain dan penduduk setempat.

Penduduk Vietnam suatu saat juga akan sangat tergantung pada pariwisata, sebagaimana terjadi di Bali saat ini. Budaya dan alam Vietnam yang saat ini masih tampak natural, suatu ketika bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Ini tentu dapat membuat budaya dan alam Vietnam menjadi bagian dari rezim pariwisata yang kapitalistik.

Pariwisata Vietnam sangat mungkin bisa menggeser Indonesia. Namun Vietnam juga harus belajar banyak dari masalah pembangunan pariwisata yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran tata ruang dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia dapat saja menimpa Vietnam. Apalagi bila rakyat, pejabat, dan konglomeratnya saling berebut kue pariwisata. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: PariwisataVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Sihir Putri Pewarna’: Keberanian Teater Media Tepi Menyalakan Sihir di Panggung Perdana

Next Post

Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Festival Mini 'Dealing in Distance' Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co