5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Chusmeru by Chusmeru
January 19, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PARIWISATA sebagai industri saling bersaing di dunia internasional. Bahkan persaingan ketat terjadi di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing negara memiliki kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing juga mempunyai konsep dan strategi pengembangan pariwisata yang berbeda. Ujungnya sama, peningkatan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakatnya.

Persaingan ketat terjadi di antara negara Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Indonesia dengan segenap potensi wisata yang dimiliki ikut bersaing menarik wisatawan, meski dengan langkah yang terseok-seok. Berdasarkan destinasi dan jenis wisatanya, sesungguhnya negara-negara di Asia Tenggara hampir memiliki kesamaan potensi. Bahkan Indonesia memiliki banyak potensi. Namun angka kunjungan wisatawan ke Thailand, Malaysia, dan Vietnam melesat dengan cepat.

Potensi alam di masing-masing negara menjadi daya tarik wisatawan. Thailand memiliki banyak taman nasional yang alami, selain Kepulauan Phi Phi dan Phuket. Malaysia punya Taman Nasional Gunung Kinabalu dan Pulau Langkawi dengan Pantai Cenang dan Tanjung Rhu. Vietnam juga mempunyai wisata alam yang luar biasa, seperti Ha Long Bay dan pantai andalannya, yaitu Phu Quock dan Nha Trang. Indonesia tak kalah menarik. Pantai di Indonesia begitu banyak. Pegunungan juga banyak. Namun tetap saja, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih kalah dibandingkan ketiga negara di kawasan Asia Tenggara itu.

Potensi sosial budaya beragam pula. Thailand memiliki destinasi wisata budaya di Bangkok, Chiang Mai, dan beberapa kuil yang tersebar di negara gajah putih itu. Malaysia mengandalkan destinasi budaya yang ada di George Town, Penang, dan Kota Malaka. Sedangkan Vietnam mengunggulkan kota-kota bersejarah, seperti Hanoi Hue. Sementara Indonesia banyak memiliki potensi budaya yang ada di setiap pulau. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia yang luas wilayahnya hanya 330.803 km², kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia lebih rendah.

Pertanyaan besar tentunya, mengapa geliat pariwisata Indonesia tak semeriah negara-negara tetangga? Padahal Indonesia memiliki luas wilayah 5.180.053 km². Angka yang sangat luas bagi negara dengan beragam potensi alam dan budayanya. Bahkan bila dibanding dengan Vietnam, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia terkalahkan. Vietnam kini menjadi ancaman baru bagi Indonesia. Mungkinkah pariwisata Vietnam akan menggeser Indonesia?

Kereta Cepat Pariwisata Vietnam

Pariwisata saat ini menjadi ekonomi kunci bagi Vietnam yang menghadapi tantangan dan peluang restrukturisasi komprehensif. Vietnam telah merancang strategi pembangunan hingga tahun 2030; dan pariwisata Vietnam sedang memposisikan diri sebagai kereta cepat.

Krisis global yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 justru membuat pariwisata Vietnam menunjukkan vitalitas yang kuat dan berdaptasi dengan cepat untuk bangkit kembali. Pada tahun 2024, Vietnam menyambut 17,6 juta pengunjung internasional, mencapai pemulihan 98% dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi (termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara). Pada tahun 2025, seluruh industri mencetak rekor baru dengan menyambut pengunjung ke-20 juta pada pertengahan Desember (Vietnam.vn, 23/12/2025).

Pasar wisata domestik juga menjadi pilar yang strategis dengan estimasi 140 juta pengunjung. Industri pariwisata Vietnam memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism) menilai sektor pariwisata Vietnam sebagai salah satu yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia, yaitu 21 persen.

Laju kereta cepat pariwisata membuat Vietnam meraih berbagai penghargaan dalam World Travel Awards 2025 (WTA). Beberapa gelar diraih Vietnam, di antaranya Destinasi Warisan Budaya Terkemuka Dunia, Destinasi Budaya Lokal Terkemuka Dunia 2025, Destinasi Alam Lokal Terkemuka Dunia, Kota Wisata Terkemuka Dunia untuk Tam Dao, dan Phu Quoc sebagai Destinasi Alam Pulau dan Pantai Terkemuka Dunia.

Hingga tahun 2030 Vietnam menerapkan strategi yang menggeser pola pikir pasif dan terbuka menuju pendekatan aktif dan berorientasi pasar. Tujuan strategi ini adalah menciptakan terobosan dalam kebijakan visa dan konektivitas udara, produk pariwisata yang terus diperbarui, dan diversifikasi. Semua itu mengarah pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, dengan menggunakan kualitas, efisiensi, dan daya saing sebagai tolok ukur.

Produk utama pariwisata Vietnam adalah pantai dan pulau, pariwisata budaya, ekowisata, dan pariwisata perkotaan. Phu Quoc di Vietnam pun menduduki posisi pertama sebagai Pulau Terindah 2025 Asia versi Conde Nast Traveler, sebuah majalah di Amerika Serikat. Bahkan berkembang opini, Phu Quoc telah menggeser Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi pariwisata Bali dan Indonesia.Bukan hanya pulau dan pantai, Vietnam juga mengembangkan pariwisata malam, pariwisata kesehatan dan kebugaran, pariwisata pertanian dan pedesaan, pariwisata MICE, pariwisata golf, pariwisata olahraga, pariwisata kereta api, pariwisata kapal pesiar, dan pariwisata komunitas yang terkait dengan pelestarian budaya dan mata pencaharian lokal.

Kereta pariwisata Vietnam terbukti melaju dengan cepat. Akan tetapi kereta cepat pariwisata itu menyimpan potensi ancaman. Secara ekonomis memang menguntungkan bagi devisa negara. Namun bahaya overtourism mengintai. Apalagi luas wilayah Vietnam hanya 331.690 km², kurang dari separuh dari wilayah Pulau Kalimantan yang memiliki luas 743.330 km².

Vietnam yang Manusiawi

Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa Vietnam kini banyak diburu wisatawan mancanegara? Seorang wisatawan digital nomad asal Spanyol, Alberto Ferreiras Casteleiro membagikan pengalamannya melalui video yang diunggah ke TikTok, dan telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Dia yang telah menetap di Vietnam lebih dari dua tahun mengatakan, begitu orang berada di Vietnam tidak akan pernah ingin pergi. Banyak alasan yang ia kemukakan ( Vietnam.vn, 27/12/2025).

Menurut Alberto Ferreiras Casteleiro, secangkir kopi seharga $1 lebih ampuh daripada bahan bakar roket. Orang  akan menjadi sangat produktif di Vietnam; hari kerja empat jam bisa dengan mudah diperpanjang menjadi sepuluh jam. Semangkuk pho seharga $2 bisa mengalahkan semangkuk mi ‘setinggi langit’ yang pernah  dimakan di rumah. Bukan hanya itu. Sebuah apartemen dengan semua fasilitas, mulai dari kolam renang di atap dan pemandangan kota hingga perabotan lengkap, semuanya dengan harga setara sebuah kamar kecil di Barat.

Vietnam dianggap sebagai destinasi wisata yang manusiawi. Penduduknya sangat ramah. Mereka akan mengajak wisatawan makan, bercengkerama, dan tanpa disadari wisatawan telah memiliki keluarga kedua. Kuliner asli Vietnam sangat luar biasa serta komunitas lokal yang membuat wisatawan enggan untuk pergi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Alberto Ferreiras Casteleiro percaya Vietnam adalah salah satu lingkungan terbaik di dunia untuk para pekerja lepas digital. “Tempat ini memiliki infrastruktur yang stabil, internet cepat, biaya hidup rendah, dan gaya hidup yang mendukung kinerja kerja dan keseimbangan. Lebih penting lagi, Vietnam menawarkan nilai yang tak terukur: kedamaian batin. Ketika biaya hidup dasar dan tekanan sehari-hari berkurang, orang dapat lebih fokus pada pekerjaan yang bermakna dan pengembangan pribadi,” ujarnya seperti ditulis Vietnam.cn.

Kehangatan orang-orang Vietnam tidak dibuat-buat. Vietnam sangat terbuka, aman, dan sangat manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakatnya dibangun atas dasar semangat kebersamaan, rasa hormat, dan ketahanan, dengan orang-orang yang bangga akan negara mereka dan sangat ramah. Tak heran bila kini banyak wisatawan mengincar Vietnam sebagai destinasi alternatif di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, membludaknya wisatawan asing ke Vietnam suatu ketika akan memunculkan persoalan kemanusiaan. Interaksi penduduk dengan wisatawan dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi dapat menimbulkan dislokasi budaya dan disorientasi sosial. Bali yang dulu masih nyaman dan aman untuk dikunjungi, kini juga mulai terusik dengan perilaku wisatawan yang kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan lain dan penduduk setempat.

Penduduk Vietnam suatu saat juga akan sangat tergantung pada pariwisata, sebagaimana terjadi di Bali saat ini. Budaya dan alam Vietnam yang saat ini masih tampak natural, suatu ketika bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Ini tentu dapat membuat budaya dan alam Vietnam menjadi bagian dari rezim pariwisata yang kapitalistik.

Pariwisata Vietnam sangat mungkin bisa menggeser Indonesia. Namun Vietnam juga harus belajar banyak dari masalah pembangunan pariwisata yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran tata ruang dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia dapat saja menimpa Vietnam. Apalagi bila rakyat, pejabat, dan konglomeratnya saling berebut kue pariwisata. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: PariwisataVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Sihir Putri Pewarna’: Keberanian Teater Media Tepi Menyalakan Sihir di Panggung Perdana

Next Post

Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Festival Mini 'Dealing in Distance' Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co