15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Chusmeru by Chusmeru
January 19, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PARIWISATA sebagai industri saling bersaing di dunia internasional. Bahkan persaingan ketat terjadi di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing negara memiliki kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing juga mempunyai konsep dan strategi pengembangan pariwisata yang berbeda. Ujungnya sama, peningkatan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakatnya.

Persaingan ketat terjadi di antara negara Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Indonesia dengan segenap potensi wisata yang dimiliki ikut bersaing menarik wisatawan, meski dengan langkah yang terseok-seok. Berdasarkan destinasi dan jenis wisatanya, sesungguhnya negara-negara di Asia Tenggara hampir memiliki kesamaan potensi. Bahkan Indonesia memiliki banyak potensi. Namun angka kunjungan wisatawan ke Thailand, Malaysia, dan Vietnam melesat dengan cepat.

Potensi alam di masing-masing negara menjadi daya tarik wisatawan. Thailand memiliki banyak taman nasional yang alami, selain Kepulauan Phi Phi dan Phuket. Malaysia punya Taman Nasional Gunung Kinabalu dan Pulau Langkawi dengan Pantai Cenang dan Tanjung Rhu. Vietnam juga mempunyai wisata alam yang luar biasa, seperti Ha Long Bay dan pantai andalannya, yaitu Phu Quock dan Nha Trang. Indonesia tak kalah menarik. Pantai di Indonesia begitu banyak. Pegunungan juga banyak. Namun tetap saja, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih kalah dibandingkan ketiga negara di kawasan Asia Tenggara itu.

Potensi sosial budaya beragam pula. Thailand memiliki destinasi wisata budaya di Bangkok, Chiang Mai, dan beberapa kuil yang tersebar di negara gajah putih itu. Malaysia mengandalkan destinasi budaya yang ada di George Town, Penang, dan Kota Malaka. Sedangkan Vietnam mengunggulkan kota-kota bersejarah, seperti Hanoi Hue. Sementara Indonesia banyak memiliki potensi budaya yang ada di setiap pulau. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia yang luas wilayahnya hanya 330.803 km², kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia lebih rendah.

Pertanyaan besar tentunya, mengapa geliat pariwisata Indonesia tak semeriah negara-negara tetangga? Padahal Indonesia memiliki luas wilayah 5.180.053 km². Angka yang sangat luas bagi negara dengan beragam potensi alam dan budayanya. Bahkan bila dibanding dengan Vietnam, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia terkalahkan. Vietnam kini menjadi ancaman baru bagi Indonesia. Mungkinkah pariwisata Vietnam akan menggeser Indonesia?

Kereta Cepat Pariwisata Vietnam

Pariwisata saat ini menjadi ekonomi kunci bagi Vietnam yang menghadapi tantangan dan peluang restrukturisasi komprehensif. Vietnam telah merancang strategi pembangunan hingga tahun 2030; dan pariwisata Vietnam sedang memposisikan diri sebagai kereta cepat.

Krisis global yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 justru membuat pariwisata Vietnam menunjukkan vitalitas yang kuat dan berdaptasi dengan cepat untuk bangkit kembali. Pada tahun 2024, Vietnam menyambut 17,6 juta pengunjung internasional, mencapai pemulihan 98% dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi (termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara). Pada tahun 2025, seluruh industri mencetak rekor baru dengan menyambut pengunjung ke-20 juta pada pertengahan Desember (Vietnam.vn, 23/12/2025).

Pasar wisata domestik juga menjadi pilar yang strategis dengan estimasi 140 juta pengunjung. Industri pariwisata Vietnam memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism) menilai sektor pariwisata Vietnam sebagai salah satu yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia, yaitu 21 persen.

Laju kereta cepat pariwisata membuat Vietnam meraih berbagai penghargaan dalam World Travel Awards 2025 (WTA). Beberapa gelar diraih Vietnam, di antaranya Destinasi Warisan Budaya Terkemuka Dunia, Destinasi Budaya Lokal Terkemuka Dunia 2025, Destinasi Alam Lokal Terkemuka Dunia, Kota Wisata Terkemuka Dunia untuk Tam Dao, dan Phu Quoc sebagai Destinasi Alam Pulau dan Pantai Terkemuka Dunia.

Hingga tahun 2030 Vietnam menerapkan strategi yang menggeser pola pikir pasif dan terbuka menuju pendekatan aktif dan berorientasi pasar. Tujuan strategi ini adalah menciptakan terobosan dalam kebijakan visa dan konektivitas udara, produk pariwisata yang terus diperbarui, dan diversifikasi. Semua itu mengarah pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, dengan menggunakan kualitas, efisiensi, dan daya saing sebagai tolok ukur.

Produk utama pariwisata Vietnam adalah pantai dan pulau, pariwisata budaya, ekowisata, dan pariwisata perkotaan. Phu Quoc di Vietnam pun menduduki posisi pertama sebagai Pulau Terindah 2025 Asia versi Conde Nast Traveler, sebuah majalah di Amerika Serikat. Bahkan berkembang opini, Phu Quoc telah menggeser Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi pariwisata Bali dan Indonesia.Bukan hanya pulau dan pantai, Vietnam juga mengembangkan pariwisata malam, pariwisata kesehatan dan kebugaran, pariwisata pertanian dan pedesaan, pariwisata MICE, pariwisata golf, pariwisata olahraga, pariwisata kereta api, pariwisata kapal pesiar, dan pariwisata komunitas yang terkait dengan pelestarian budaya dan mata pencaharian lokal.

Kereta pariwisata Vietnam terbukti melaju dengan cepat. Akan tetapi kereta cepat pariwisata itu menyimpan potensi ancaman. Secara ekonomis memang menguntungkan bagi devisa negara. Namun bahaya overtourism mengintai. Apalagi luas wilayah Vietnam hanya 331.690 km², kurang dari separuh dari wilayah Pulau Kalimantan yang memiliki luas 743.330 km².

Vietnam yang Manusiawi

Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa Vietnam kini banyak diburu wisatawan mancanegara? Seorang wisatawan digital nomad asal Spanyol, Alberto Ferreiras Casteleiro membagikan pengalamannya melalui video yang diunggah ke TikTok, dan telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Dia yang telah menetap di Vietnam lebih dari dua tahun mengatakan, begitu orang berada di Vietnam tidak akan pernah ingin pergi. Banyak alasan yang ia kemukakan ( Vietnam.vn, 27/12/2025).

Menurut Alberto Ferreiras Casteleiro, secangkir kopi seharga $1 lebih ampuh daripada bahan bakar roket. Orang  akan menjadi sangat produktif di Vietnam; hari kerja empat jam bisa dengan mudah diperpanjang menjadi sepuluh jam. Semangkuk pho seharga $2 bisa mengalahkan semangkuk mi ‘setinggi langit’ yang pernah  dimakan di rumah. Bukan hanya itu. Sebuah apartemen dengan semua fasilitas, mulai dari kolam renang di atap dan pemandangan kota hingga perabotan lengkap, semuanya dengan harga setara sebuah kamar kecil di Barat.

Vietnam dianggap sebagai destinasi wisata yang manusiawi. Penduduknya sangat ramah. Mereka akan mengajak wisatawan makan, bercengkerama, dan tanpa disadari wisatawan telah memiliki keluarga kedua. Kuliner asli Vietnam sangat luar biasa serta komunitas lokal yang membuat wisatawan enggan untuk pergi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Alberto Ferreiras Casteleiro percaya Vietnam adalah salah satu lingkungan terbaik di dunia untuk para pekerja lepas digital. “Tempat ini memiliki infrastruktur yang stabil, internet cepat, biaya hidup rendah, dan gaya hidup yang mendukung kinerja kerja dan keseimbangan. Lebih penting lagi, Vietnam menawarkan nilai yang tak terukur: kedamaian batin. Ketika biaya hidup dasar dan tekanan sehari-hari berkurang, orang dapat lebih fokus pada pekerjaan yang bermakna dan pengembangan pribadi,” ujarnya seperti ditulis Vietnam.cn.

Kehangatan orang-orang Vietnam tidak dibuat-buat. Vietnam sangat terbuka, aman, dan sangat manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakatnya dibangun atas dasar semangat kebersamaan, rasa hormat, dan ketahanan, dengan orang-orang yang bangga akan negara mereka dan sangat ramah. Tak heran bila kini banyak wisatawan mengincar Vietnam sebagai destinasi alternatif di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, membludaknya wisatawan asing ke Vietnam suatu ketika akan memunculkan persoalan kemanusiaan. Interaksi penduduk dengan wisatawan dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi dapat menimbulkan dislokasi budaya dan disorientasi sosial. Bali yang dulu masih nyaman dan aman untuk dikunjungi, kini juga mulai terusik dengan perilaku wisatawan yang kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan lain dan penduduk setempat.

Penduduk Vietnam suatu saat juga akan sangat tergantung pada pariwisata, sebagaimana terjadi di Bali saat ini. Budaya dan alam Vietnam yang saat ini masih tampak natural, suatu ketika bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Ini tentu dapat membuat budaya dan alam Vietnam menjadi bagian dari rezim pariwisata yang kapitalistik.

Pariwisata Vietnam sangat mungkin bisa menggeser Indonesia. Namun Vietnam juga harus belajar banyak dari masalah pembangunan pariwisata yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran tata ruang dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia dapat saja menimpa Vietnam. Apalagi bila rakyat, pejabat, dan konglomeratnya saling berebut kue pariwisata. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: PariwisataVietnam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Sihir Putri Pewarna’: Keberanian Teater Media Tepi Menyalakan Sihir di Panggung Perdana

Next Post

Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Festival Mini 'Dealing in Distance' Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co