7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

tatkala by tatkala
January 19, 2026
in Panggung
Festival Mini ‘Dealing in Distance’ Tiba di Bali dengan Lebih dari 30 Seniman: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

FESTIVAL mini keliling “Dealing in Distance” yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut akan melawat ke Bali pada 22–25 Januari 2026, berlangsung di tiga lokasi di Denpasar: CushCush Gallery, Masa Masa, dan MASH Denpasar. Menampilkan lebih dari 30 kontribusi artistik dari Asia Tenggara serta diaspora Asia Tenggara—beberapa di antaranya memiliki keterkaitan dengan Jerman—festival ini menghadirkan lebih dari 20 program publik, termasuk pameran, pertunjukan, lokakarya, diskusi, serta tur jalan kaki.

Edisi di Bali ini merupakan kelanjutan dari perhelatan festival di Hanoi dan Ho Chi Minh City, Vietnam, pada dua pekan awal Januari, meneruskan eksplorasinya terhadap berbagai gagasan tentang diaspora, migrasi, dan identitas dalam jarak. “Dealing in Distance” dirancang sebagai platform untuk praktik berbasis riset, yang memandang pengetahuan sebagai proses berkelanjutan ketimbang kesimpulan yang tetap, bergerak antara konteks lokal dan global.

Diinisiasi oleh Goethe-Institut di Indonesia, Filipina, dan Vietnam (Ho Chi Minh City dan Hanoi), “Dealing in Distance” secara konseptual dirumuskan oleh kurator regional, RED Nguyễn Hải Yến, yang bertolak dari gagasan bahwa identitas tidak tumbuh dari satu asal-usul tunggal, melainkan dari berbagai keterhubungan. Edisi ketiganya di Bali diwujudkan melalui kolaborasi dengan dua kurator lokal, Wayan Sumahardika dan Savitri Sastrawan.

“Sejalan dengan komitmen Goethe-Institut terhadap dialog dan mobilitas, Dealing in Distance melalui variasi program publiknya  menghadirkan berbagai perjumpaan yang kerap kali berlangsung tidak seimbang dan tak sepenuhnya terselesaikan—antara seniman diaspora Asia Tenggara kontemporer, seniman Indonesia, dan seniman Bali. Dengan mempertemukan beragam perspektif ini, kami berharap dapat memantik refleksi, pertukaran gagasan, serta cara-cara baru dalam memahami keterhubungan budaya di dunia yang kian bergerak,” ujar Dr. Marguerite Rumpf, Kepala Regional Program Budaya di Goethe-Institut Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Exhibition | © Là Hiếu
Exhibition | © Là Hiếu

Bali menghadirkan lensa kritis untuk merefleksikan gagasan tentang rasa kepemilikan di luar definisi-definisi yang tetap, dibentuk oleh kerangka pandangan dunia yang jamak, sejarah migrasi dan pariwisata, serta negosiasi yang terus berlangsung antara tradisi dan pengalaman kontemporer. Dalam konteks ini, Bali menjadi situs aktif tempat lapisan-lapisan masa lampau dan masa kini yang beririsan;  sehingga konsep “KAMU DARI MANA? (WHERE ARE YOU FROM?)”, menemukan resonansinya.

Dealing in Distance “KAMU DARI MANA? (WHERE ARE YOU FROM?)” menampilkan kontribusi artistik dari:

Alvin Collantes | Amal Purnama | Bilawa Ade Respati | Bumi Bajra | [cap naga] | Don Rare Nadiana x Wulan Dewi Saraswati | Ferdiansyah Tajib | Gatari Surya Kusuma | Gede Yogi Sukawiadnyana x Ni Komang Ayu Anantha Putri x Manik Sukadana | Hà Thúy Hằng | Hiền Hoàng | Hoo Fan Chon | I Ngurah Suryawan | I Putu Oka Surya Pratama | Jules Leaño | Made Masak | Melati Suryodarmo | Nelden Djakababa Gericke x Putri Minangsari | Noutnapha Soydala | Nindya Nareswari | Nuturang | Phạm Minh Đức | Prinka Saraswati | Sarnt Utamachote, Plum, Gula Malacca | Vita Wulansari | Wayan Gde Yudane x Putu Septa | Woven Kolektif | Zelin Seah

Thelma and the Vixen | © Là Hiếu

Wayan Sumahardika, salah satu kurator festival, menyatakan, “Dealing in Distance mengajak para seniman dan khalayak untuk membaca Bali bukan semata sebagai destinasi wisata yang paradisiakal, melainkan sebagai laboratorium sosial dan artistik tempat diaspora, sejarah, dan mobilitas terjalin. Berlatar pesatnya perkembangan pariwisata dan citra global Bali, program ini mengajukan pertanyaan kritis: adakah yang bisa disebut sebagai identitas Bali yang otentik?”

Menyikapi luapan emosi yang tercurah dari perjumpaan antara pendatang dan warga lokal—di tengah globalisasi budaya, pariwisata massal, dan kerentanan sosial—para seniman Bali lintas generasi dalam program ini mengartikulasikan posisi estetika dan politik mereka melalui berbagai konteks wilayah di Bali. Before the Pulse Fails karya Wayan Gde Yudane dan Putu Septa menyuguhkan pengalaman sonik yang menangkap ketegangan antara tradisi yang hidup dan risiko keterputusan secara ritmis; retakan, geseran, dan disusun ulang.

Kolaborasi antara Don Rare Nadiana dan Wulan Dewi Saraswati dalam Mengguh Les: Exploring the Diversity of Flavors in Bali menjadikan rasa sebagai medium untuk menyampaikan sejarah panjang peradaban Bali—sejarah yang tetap cair, terbuka, dan terus-menerus diartikulasikan ulang melalui imajinasi kewargaan yang baru.

Woven Kolektif, sebuah kolektif seniman berbasis di Australia dan Jerman yang memiliki ikatan diaspora ke Indonesia, mengeksplorasi memori kolektif untuk membentuk dialog yang lebih luas mengenai sejarah bersama melalui karya audio-visual dan taktil mereka.

Untuk melihat keberagaman cerita dan perspektif di pengasingan, berbagai pertunjukan digelar oleh para diaspora dari Asia Tenggara. Thelma and the Vixen, sebuah performative reading karya Nelden Djakababa Gericke, menyoroti kesedihan wanita Filipina paruh baya dalam perjuangannya menghadapi menopause, Ia berkolaborasi dengan penyair dan penari Putri Minangsari serta komposisi suara oleh Bilawa Ade Respati.

Thelma and the Vixen | © Là Hiếu

Merefleksikan Bali yang dijuluki sebagai surga, karya berikut menyoroti bagaimana pariwisata global, migrasi tenaga kerja, dan ekonomi jasa berinteraksi dengan komodifikasi keintiman. Sarnt Utamachote bersama Plum dan Gula Malacca menghadirkan pertunjukan berdurasi panjang selama lima jam, Girls gotta do what girls do?, yang menyingkap refleksi kritis terhadap dinamika tersebut.

Untuk mengetahui seluruh rangkaian program publik “Dealing in Distance”, silakan mengakses goethe.de/indonesia/dealingindistance.

###

Tentang Goethe-Institut

Goethe-Institut merupakan lembaga kebudayaan Republik Federal Jerman yang aktif di seluruh dunia. Kami mempromosikan pengajaran bahasa Jerman di luar negeri dan mendorong pertukaran budaya antarbangsa. Kami juga menyampaikan gambaran menyeluruh mengenai Jerman melalui informasi tentang kehidupan politik, sosial dan budaya di Jerman. Beragam program budaya dan pendidikan kami menyokong dialog antarbudaya dan memfasilitasi partisipasi kultural. Berbagai program tersebut memperkukuh struktur-struktur masyarakat madani dan mendukung mobilitas global.

Reporter/Penulis: Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole

Tags: balifestivalGoethe-InstitutJermanPameran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Vietnam: Mungkinkah Menggeser Indonesia?

Next Post

Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co