24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Jaswanto by Jaswanto
January 5, 2026
in Khas
Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Penampilan salah satu seka jegog dalam Jegog Spirit Festival 2025 | Foto: Dok. Panita

PADA sore yang lambat di Rambutsiwi, Jembrana, Bali, Sabtu, 20 Desember 2025, bambu-bambu itu seolah ikut mendengarkan. Anjungan Cerdas Mandiri—yang untuk beberapa jam berubah menjadi laboratorium ingatan—dipenuhi suara manusia yang sedang menimbang nasib sebuah kesenian: Jegog, namanya. Bukan sekadar sebagai bunyi yang menggetarkan dada, melainkan sebagai sistem hidup yang pelan-pelan terancam diam.

Diskusi panel bertajuk Jegog & Masa Depan Kebudayaan Nusantara dalam rangka Jegog Spirit Festival 2025 itu tidak dibuka dengan selebrasi. Moderator justru melemparkan kegelisahan: masa depan Jegog tak bisa diramal, tetapi bisa dibayangkan—asal kita berani memetakan masalahnya. Dari titik itu, percakapan berkembang bukan sebagai promosi festival, melainkan sebagai upaya membaca ulang posisi Jegog di tengah kebudayaan Nusantara yang kaya.

Dari sisi komunitas, kegelisahan itu terdengar paling telanjang. Putu Boby Agus Darma, Koordinator Paguyuban Jegog se-Kabupaten Jembrana, menyebut angka yang dingin sekaligus menyakitkan. “Dari 114 kelompok Jegog, kini tersisa sekitar 95,” katanya.

Menurut Boby, berkurangnya seka Jegog di Jembrana bukan karena hilangnya minat semata, tetapi juga minimnya ruang pentas, mahalnya biaya perawatan instrumen, dan nyaris absennya regenerasi penabuh muda. Jegog, kata Boby, hidup nyaris sepenuhnya dari urunan, hibah, dan kerja sunyi para seniman. Pemerintah, ia harapkan, tak hanya hadir saat festival, tetapi juga sebagai tangan yang konsisten menopang kesenian Jegog sampai kapan pun.

Suasana Diskusi Panel Jegog & Masa Depan Kebudayaan Nusantara Rangkaian Acara: Jegog Spirit Festival 2025 | Foto: Dok. Panitia

Boby lalu bicara tentang regenerasi, tentang latihan yang makin sepi, tentang seniman yang menua. “Sekarang hanya sekitar lima sekolah yang punya ekstrakurikuler Jegog. Kalau bisa, setiap sekolah berkoordinasi dengan seka Jegog. Jangan sampai nanti tidak ada lagi yang menabuh.” Di antara hadirin, beberapa seniman mengangguk pelan, seperti sedang menghitung usia mereka sendiri.

Dari sisi lain meja panel, pemerintah daerah merespons dengan bahasa kebijakan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana AA. Komang Sapta Negara menegaskan bahwa Jegog telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dan sedang didorong agar memiliki payung hukum yang lebih kuat agar tidak bergantung pada event insidental. Festival, menurutnya, adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Ia menyebut rencana rutin pentas Jegog dalam agenda pemerintah, bahkan mimpi jauh membawa Jegog ke panggung UNESCO. Namun, di balik optimisme itu, terselip pengakuan bahwa keberlanjutan membutuhkan regulasi, bukan sekadar niat baik.

“Pak Bupati merencanakan festival Jegog ini rutin setiap tahun,” ujarnya. Ia menambahkan, “Jegog akan kami dorong seperti Makepung—disupport penuh.” Kalimat itu disambut senyum tipis para hadirin. Mereka terlihat setengah harap, setengah ragu.

Di titik itulah festival dipertanyakan. Wena Wahyudi, pelaku ekonomi kreatif sekaligus Direktur Festival, menolak melihat festival sebagai obat mujarab. Ia memilih metafora “Jegog adalah lokomotif”. Gerbongnya adalah segala potensi Jembrana—komunitas foto, UMKM, kuliner, arsip, generasi muda. Festival hanyalah rel awal agar kereta itu bisa berjalan. Yang dirayakan, tegasnya, bukan instrumennya, melainkan manusianya. Tanpa pelaku, baginya, Jegog hanyalah bambu yang sunyi.

Ia juga menyentil ironi yang membuat beberapa peserta panel tersenyum pahit. “Jegog sering tampil di luar negeri, tapi di Bali sendiri belum tentu dikenal luas,” katanya. Kalimat itu melayang sebentar, lalu jatuh ke ruang yang hening.

Namun, bagaimana nasib sebuah kebudayaan tanpa catatan? Di sinilah suara media masuk sebagai pengingat yang nyaris pahit. Made Adnyana Ole—jurnalis dan Pimpinan Redaksi Tatkala.co—menegaskan bahwa selama ini Jegog lebih sering hadir di media sebagai peristiwa seremonial: diresmikan, dipentaskan, lalu dilupakan. Padahal, kehilangan tak selalu tragedi, katanya, asal kita tahu apa yang hilang. Arsip, dokumentasi, dan jurnalisme kebudayaan adalah cara agar ratusan tahun ke depan, generasi baru masih bisa membaca, lalu—jika perlu—menghidupkan kembali Jegog. Museum tanpa catatan, baginya, hanyalah etalase tanpa ingatan.

“Sekarang teknologi memungkinkan kita mencatat apa saja. Kalau ratusan tahun lagi ada generasi yang ingin membangkitkan Jegog, catatannya harus ada,” tegas Ole, yang juga seorang sastrawan itu. Ia bahkan menyinggung museum yang hanya memajang instrumen tanpa pengetahuan. “Museum sering hanya memajang Jegognya, tapi arsip dan ceritanya tidak ada.” Sebuah kritik yang diam-diam menohok cara kita memahami pelestarian.

Suasana Diskusi Panel Jegog & Masa Depan Kebudayaan Nusantara Rangkaian Acara: Jegog Spirit Festival 2025 | Foto: Dok. Panitia

Angin sore semakin kencang. Tirai tipis di sisi anjungan bergerak pelan.

Dari dunia akademik, suara kehati-hatian terdengar lebih struktural. I Wayan Sumahardika menempatkan Jegog bukan sebagai seni pertunjukan semata, tetapi sebagai sistem kebudayaan yang bersinggungan dengan pendidikan, lingkungan, perencanaan kota, hingga birokrasi. Tanpa riset dan integrasi ke dalam dokumen pembangunan daerah, Jegog berisiko tereduksi menjadi ritual seremonial tahunan. Festival, dalam pandangannya, justru penting sebagai “cara baca”—alat untuk menimbang apa yang harus dilakukan setelah panggung dibongkar.

“Jegog ini bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah sistem kebudayaan,” kata salah satu pendiri Mulawali Institute itu. Lalu ia mengutip Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, tentang bagaimana kebudayaan seharusnya dipahami lintas sektor. “Selama ini, kebudayaan dipersempit jadi seni. Akibatnya, banyak kajian tidak pernah nyambung ke perencanaan pembangunan,” ujar Suma.

Menjelang senja, legislatif merespons dengan bahasa kekuasaan yang lebih konkret. Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi menyebut tiga fungsi: regulasi, anggaran, dan pengawasan. Perda tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Daerah sudah ada, meski belum menyebut Jegog secara spesifik. Ruang revisi, katanya, terbuka. Namun satu syarat penting diajukan: kajian akademik dan aspirasi komunitas harus berjalan seiring. Tanpa itu, kebijakan hanya akan menjadi dokumen mati.

Nada jangka panjang datang dari Bappeda. Jegog, kata I Gusti Made Wijaya, Plt. Bappeda Jembrana, tak bisa dilepaskan dari pertanyaan 50 tahun ke depan: Apakah masih ada penabuh muda? Apakah bambu Jembrana masih tumbuh? Apakah ada peta jalan yang jelas? Roadmap lima tahunan, basis data pelaku, integrasi lintas OPD—semua disebut sebagai prasyarat agar Jegog tak hanya hidup hari ini, tetapi juga esok dan lusa. Ia bicara tentang roadmap, database, dan keberlanjutan. “Jegog ini jati diri, marwah, martabat Jembrana,” katanya.

Muara Rekomendasi

Diskusi panel Jegog & Masa Depan Kebudayaan Nusantara dalam rangka Jegog Spirit Festival 2025 tidak berhenti pada tepuk tangan penutup atau kursi-kursi yang kembali ditumpuk. Ia meninggalkan satu pertanyaan yang jauh lebih panjang umurnya daripada festival itu sendiri: setelah panggung dibongkar, apa yang tersisa untuk Jegog?

Jawaban yang mengemuka bukanlah optimisme kosong, melainkan kesadaran bersama bahwa Jegog tak bisa lagi diperlakukan semata sebagai seni pertunjukan atau hiburan musiman. Ia adalah warisan budaya hidup—sebuah sistem yang di dalamnya berkelindan praktik komunal, pengetahuan lokal, nilai sosial, regenerasi pelaku, hingga ekosistem alam yang menyokongnya. Karena itu, pemajuan Jegog tak mungkin diserahkan pada kegiatan seremonial yang datang dan pergi, melainkan harus dikelola sebagai kebijakan jangka panjang lintas sektor dan berkelanjutan.

Penampilan salah satu seka jegog dalam Jegog Spirit Festival 2025 | Foto: Dok. Panita

Kesadaran ini kemudian menuntun diskusi pada soal paling mendasar: kepastian. Tanpa regulasi yang kuat dan spesifik, perhatian terhadap Jegog akan selalu rapuh, tergantung pada momentum dan niat baik. Karena itu, forum sepakat bahwa perlu ada penguatan kebijakan daerah yang secara tegas mengatur perlindungan, pengembangan, dan pemajuan Jegog—sebagai turunan nyata dari Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Daerah tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Daerah Kabupaten Jembrana. Regulasi bukan dimaksudkan untuk membakukan kebudayaan, melainkan memberi kepastian hidup bagi para pelakunya.

Namun, kebijakan tanpa manusia hanyalah dokumen. Itulah sebabnya regenerasi menjadi kegelisahan paling kuat dalam diskusi. Tanpa penabuh usia anak dan remaja, Jegog akan menua bersama para pelakunya. Karena itu, regenerasi tidak bisa lagi dibiarkan berjalan alamiah atau sporadis. Ia harus dirancang secara terstruktur melalui pendidikan formal dan nonformal, kerja sama sekolah dengan seka Jegog, serta pengembangan ekstrakurikuler di tingkat SMP dan SMA secara lebih merata. Regenerasi dipahami bukan hanya sebagai soal teknik menabuh, tetapi sebagai proses pewarisan nilai, disiplin, dan rasa memiliki.

Di sisi lain, regenerasi membutuhkan ruang hidup. Jegog tak akan bertahan jika hanya dipentaskan setahun sekali. Forum menegaskan pentingnya penyediaan ruang ekspresi dan ruang pentas yang berkelanjutan—baik melalui kalender kebudayaan daerah, agenda rutin pemerintah, maupun kolaborasi lintas sektor. Ruang ini bukan sekadar panggung, melainkan ekosistem yang memungkinkan latihan, perjumpaan, dan kesinambungan praktik budaya.

Dalam konteks itulah festival dibaca ulang. Jegog Spirit Festival tidak diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen awal—ruang temu, ruang uji gagasan, dan sarana menyamakan frekuensi antarpemangku kepentingan. Festival menjadi pintu masuk untuk membicarakan apa yang sering luput: kebijakan pasca-acara, tindak lanjut konkret, dan rencana jangka panjang. Tanpa itu, festival hanya akan menyisakan dokumentasi dan sampah, bukan keberlanjutan.

Kesadaran akan pentingnya keberlanjutan juga membawa diskusi pada persoalan arsip dan ingatan. Minimnya dokumentasi Jegog dipandang sebagai ancaman serius, karena kebudayaan yang tak dicatat akan mudah hilang tanpa jejak. Karena itu, forum menekankan perlunya sistem dokumentasi dan pengarsipan Jegog yang mencakup data kelompok, pelaku, instrumen, pertunjukan, dan praktik budaya. Di titik ini, jurnalisme kebudayaan, riset akademik, dan kerja komunitas dipandang bukan pelengkap, melainkan bagian inti dari pelestarian.

Agar semua upaya ini tidak berjalan sendiri-sendiri, Jegog perlu ditempatkan secara resmi dalam perencanaan pembangunan daerah. Integrasi ke dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah, Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan Daerah, hingga RPJMD Kabupaten Jembrana menjadi langkah penting agar kebijakan Jegog memiliki kesinambungan lintas OPD dan tidak terputus oleh pergantian program atau kepemimpinan. Kebudayaan, dalam pandangan ini, bukan sektor pinggiran, melainkan fondasi pembangunan.

Pandangan jangka panjang kemudian dirumuskan dalam gagasan penyusunan roadmap pengembangan Jegog. Roadmap ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana sumber daya manusia Jegog lima puluh tahun ke depan? Apakah bambu sebagai bahan baku masih tersedia? Bagaimana tata kelola pendanaan dan kelembagaan komunitas? Roadmap menjadi alat untuk memastikan bahwa keberlanjutan budaya tidak berhenti pada wacana.

Diskusi juga menegaskan pentingnya perlindungan Jegog sebagai Kekayaan Intelektual Komunal. Pencatatan ini bukan semata soal kepemilikan hukum, melainkan pengakuan bahwa Jegog adalah identitas kolektif yang perlu dijaga dari pengaburan dan eksploitasi tanpa konteks.

Penampilan salah satu seka jegog dalam Jegog Spirit Festival 2025 | Foto: Dok. Panita

Pada akhirnya, semua rekomendasi bermuara pada satu hal yang kerap terlupakan: kesejahteraan pelaku. Tingginya biaya produksi dan perawatan instrumen, minimnya ruang tampil, dan ketidakpastian ekonomi membuat seniman Jegog berada pada posisi rentan. Karena itu, pemajuan Jegog harus berjalan tanpa memaksakan komersialisasi yang berpotensi mereduksi nilai budaya, tetapi tetap memastikan keberlanjutan hidup para pelakunya.

Maka, ketika diskusi usai dan festival berakhir, Jegog tidak lagi hanya menunggu untuk dimainkan. Ia menunggu untuk dipikirkan, direncanakan, dicatat, dan dirawat. Karena masa depan Jegog, seperti disepakati bersama dalam forum itu, tidak ditentukan oleh satu panggung megah, melainkan oleh kesediaan bersama untuk menjaga denyutnya jauh setelah sorot lampu dipadamkan.

Terakhir, di antara semua pernyataan itu, Jegog Spirit Festival 2025 berdiri sebagai semacam ruang temu. Ia bukan jawaban, melainkan tanda tanya yang dikumpulkan bersama. Diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, festival ini tidak memosisikan Jegog sebagai tontonan tunggal, melainkan sebagai simpul: tempat seniman, birokrat, akademisi, media, dan warga duduk setara, saling mendengar, saling mengoreksi

Sore itu, alat musik tradisional dari bambu itu memang tak dibunyikan. Tetapi barangkali, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, suara Jegog justru benar-benar didengarkan—bukan sebagai dentuman, melainkan sebagai pertanyaan tentang jati diri, marwah, dan martabat sebuah kabupaten. Dan seperti semua kebudayaan yang hidup, masa depannya tidak ditentukan oleh satu festival, melainkan oleh kesediaan bersama untuk merawatnya, hari demi hari, jauh setelah festival ini ditutup.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: jegogJegog Spirit Festivaljembranaseni jegog
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Maduro dan Kedaulatan Negara yang Tergadai: Ketika Presiden Bisa Diburu dan Kesadaran Bangsa Diuji

Next Post

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

Ayo, Pameran "Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif" Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co