12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maduro dan Kedaulatan Negara yang Tergadai: Ketika Presiden Bisa Diburu dan Kesadaran Bangsa Diuji

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 5, 2026
in Esai
Maduro dan Kedaulatan Negara yang Tergadai: Ketika Presiden Bisa Diburu dan Kesadaran Bangsa Diuji

Ilustrasi dibuat tatkala.co dari Chatgpt

Presiden yang Mudah Disentuh

DALAM tata negara modern, presiden adalah simbol tertinggi kedaulatan. Ia bukan sekadar kepala pemerintahan, melainkan perwujudan negara itu sendiri. Karena itu, ketika dunia menyaksikan betapa mudahnya Nicolás Maduro diperlakukan sebagai buronan internasional, muncul kegelisahan yang lebih dalam daripada sekadar soal Venezuela: apakah kedaulatan negara masih sungguh ada, atau hanya formalitas hukum di atas kertas?

Kasus Maduro menunjukkan bahwa di era global, kedaulatan tidak runtuh karena invasi, melainkan karena tekanan ekonomi, delegitimasi politik, dan retakan dari dalam.

Sejarah Panjang Permusuhan: Minyak dan Pembangkangan

Amerika Serikat tidak memburu Maduro karena ia diktator semata. Sejarahnya jauh lebih panjang dan berakar pada satu kata: minyak.

Sejak era Hugo Chávez, Venezuela memilih jalan berbahaya:

  • Nasionalisasi industri minyak
  • Pembatasan peran korporasi asing
  • Retorika anti-imperialisme terbuka

Dalam politik global, ini bukan sekadar pilihan ideologi, tetapi pembangkangan terhadap tatanan ekonomi dunia. Chávez dianggap ancaman karena ia berani berkata bahwa sumber daya alam harus berada di tangan rakyat, bukan pasar global.

Maduro mewarisi konflik ini, tanpa memiliki kharisma dan legitimasi moral sekuat Chávez. Ia memimpin negara kaya yang telah dimusuhi kekuatan besar, namun dengan kemampuan manajemen yang terbatas.

Maduro: Lemah sebagai Individu, Kuat sebagai Simbol

Secara personal, Maduro bukan figur kuat. Namun sebagai simbol perlawanan, ia menjadi target utama. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi, membekukan aset, mendukung oposisi, bahkan secara terbuka menetapkan hadiah bagi penangkapannya.

Di sinilah kedaulatan berubah makna. Presiden tidak lagi diperlakukan sebagai kepala negara berdaulat, tetapi sebagai aktor ilegal yang boleh disingkirkan demi stabilitas versi kekuatan besar.

Dalam bahasa David Hawkins, tindakan semacam ini bukan ekspresi power (kekuatan sejati), melainkan force—kekuasaan yang bekerja lewat tekanan, ketakutan, dan paksaan.

Orang Dalam dan Retaknya Negara

Pertanyaan tentang keterlibatan orang dalam sangat relevan. Tidak ada negara yang bisa dilumpuhkan hanya oleh tekanan luar jika solid dari dalam.

Venezuela menghadapi:

  • Elite politik yang terbelah
  • Militer yang diuji loyalitasnya
  • Oligarki ekonomi yang kehilangan privilese

Ketika sebagian elite tidak lagi percaya pada negara, kedaulatan mulai bocor. Retakan ini yang kemudian dimanfaatkan kekuatan eksternal. Amerika tidak menciptakan krisis Venezuela; ia memanfaatkannya.

Ini pelajaran klasik: negara runtuh lebih dulu di ruang elite, baru kemudian di hadapan dunia.

Sanksi Ekonomi: Kekerasan yang Sah

Sanksi ekonomi sering dibungkus bahasa moral: demokrasi, HAM, kebebasan. Namun dampaknya nyata dan brutal:

  • Inflasi ekstrem
  • Kelangkaan obat
  • Runtuhnya layanan publik

Rakyat membayar harga konflik elite global. Dalam kerangka Hawkins, sanksi semacam ini bekerja di wilayah ketakutan dan penderitaan, bukan kebijaksanaan. Ia tidak menaikkan kualitas hidup manusia, tetapi menurunkannya.

Ironisnya, penderitaan rakyat kemudian dijadikan bukti kegagalan pemerintah yang disanksi. Sebuah lingkaran yang kejam dan efektif.

Demokrasi: Prinsip atau Alat?

Amerika menolak Maduro atas nama demokrasi, namun mendukung pemimpin tandingan tanpa pemilu. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: demokrasi milik rakyat atau milik kekuatan global?

Jika legitimasi ditentukan oleh pengakuan asing, maka kedaulatan sejati telah berakhir. Demokrasi berubah dari prinsip menjadi instrumen geopolitik.

Dalam kacamata kesadaran, demokrasi hanya bermakna jika dijalankan dengan integritas. Tanpa itu, ia mudah diselewengkan oleh kepentingan.

Sentuhan Peta Hawkins: Force vs Power

Tanpa menjadikannya kerangka utama, Peta Kesadaran Hawkins membantu memberi jarak etis pada konflik ini.

  • Tekanan, sanksi, kriminalisasi → force
  • Dialog, legitimasi, keadilan → power

Baik Amerika maupun Venezuela sering terjebak pada force. Maduro mempertahankan kekuasaan dengan simbol dan represi; Amerika menekan dengan ekonomi dan diplomasi koersif. Keduanya menciptakan penderitaan, bukan solusi.

Negara yang bertahan lama bukan yang paling keras, tetapi yang beroperasi dari rasionalitas, integritas, dan legitimasi moral.

Pelajaran untuk Indonesia

Kasus Venezuela memberi cermin penting bagi Indonesia:

  1. Kedaulatan tidak hanya soal wilayah, tetapi integritas elite

Negara mudah ditekan jika elitnya mudah dibeli atau dipecah.

  1. Sumber daya alam adalah berkah sekaligus jebakan

Tanpa kebijakan cerdas dan legitimasi rakyat, ia mengundang intervensi.

  1. Nasionalisme tanpa kapasitas hanya menjadi slogan

Kedaulatan perlu kecakapan, bukan sekadar retorika.

  1. Rakyat yang terdidik adalah benteng sejati

Bukan senjata, tetapi kesadaran kolektif yang rasional dan berani.

Kedaulatan yang Diuji Kesadaran

Kasus Maduro bukan hanya tentang Venezuela. Ia adalah peringatan global bahwa kedaulatan hari ini diuji bukan oleh tank, tetapi oleh kesadaran politik suatu bangsa.

Negara yang kuat bukan yang berteriak paling keras, tetapi yang mampu:

  • Mengelola konflik dengan rasional
  • Menjaga legitimasi dari rakyat
  • Tidak tergelincir ke permainan force

Indonesia masih punya ruang belajar. Venezuela mengingatkan kita bahwa ketika kedaulatan tidak dirawat dengan kebijaksanaan, ia akan perlahan tergadai—bahkan tanpa kita sadari.

Dan ketika itu terjadi, presiden hanyalah simbol terakhir dari negara yang telah lama bocor dari dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Tags: Amerika SerikatDonald TrumpgeopolitikNicolás MaduroVenezuela
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BPD IHKA Bali Awali Agenda 2026 dengan Persembahyangan Bersama di Pura Mengening Gianyar

Next Post

Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co