23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Singapura Sambil Merenungi Bali, Lagi, Lagi, dan Lagi

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
December 28, 2025
in Tualang
Ke Singapura Sambil Merenungi Bali, Lagi, Lagi, dan Lagi

Pemandangan di Singapura

TEPAT 20 Desember 2025, saya melakukan perjalanan ke tiga negara dengan pintu masuk Singapura. Seperti biasa, dari Changi Airport saja sudah menjadi daya tarik pengunjung. Sebut saja Jewel Waterfall dan ikon menarik lainnya. Tapi, Singapura bukan hanya tentang itu, Singapura menawarkan pelayanan yang prima.

Untuk imigrasi clearance buat para pengunjung dikerjakan kurang dari 5 menit, hanya scan passport, foto wajah, dan keluar. Petugas hanya mengawasi dari kejauhan. Tidak ada barisan layaknya mau ngantre sembako atau upacara bendera sebagaimana di negara… ah, sudahlah.

(Sebagai operator wisata dan sesekali bepergian, saya bisa merasakan bagaimana kejenuhan pengunjung jika hatus mengantre layaknya antrean upacara Agustusan.)

Dan ini, baru keluar bandara, kereta tanpa awak setiap 2 menit tiba untuk mengantarkan pelancong ke stasiun menuju kereta tempat tujuan masing-masing. Tanpa perlu mengeret koper dan di-scam pengemudi—seperti beberapa tamu saya yang kena scam (tipu) dari Ngurah Rai Airport ke Desa Les, Tejakula, Buleleng, harus bayar Rp. 2.500.000. Hal seperti ini jamak terjadi di Indonesia, tapi tidak di Singapura. Catat itu!

Singapura

Tetapi, kenyamanan dan keamanan itu memang punya harganya sendiri. Sesampainya di tempat menginap, saya mengiyakan bagaimana mahalnya hidup di Singapura. Air mineral saja hargnya 2 Dolar Singapura, kurang lebih Rp. 30.000 Rupiah. Kalau di Desa Les suda bisa untuk membeli ayam goreng lalapan dan masih sisa. Tapi, sekali lagi, begitulah, kenyamanannya memang sebanding dengan harganya.

***

Saya teringat 17 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009, untuk pertama kalinya saya pergi ke luar negeri. Singapura, negara tetangga yang lebih kecil dari  Pulau Bali itu, adalah tempat tujuan saya. Saya mengunjungi wilayah bekas jajahan Inggris itu untuk pertama kalinya saat magang di salah satu perusahaan di daerah Novena. 6 bulan bukan waktu yang lama sekaligus bukan waktu yang singkat juga.

Dengan mengantongi bayaran 350 Dolar Singapura waktu itu, butuh daya juang dan kreatifitas mumpuni untuk bisa hidup di negara yang dikenal dengan harga kebutuhan bidup (makan dan minum) yang relatif mahal itu. Jalan kaki kurang lebih 8 kilometer dan naik kereta 15 menit adalah menu harian yang harus saya lahap saban hari. Intinya, saya memaksimalkan bayaran itu untuk hidup, selebihnya, waktu itu, saya menikmati Singapura dengan gratisan.

Pohon besar di Singapura

Di kala libur atau selepas training, misalnya, saya bisa bermain atau sekadar relax di taman; bermain ke pantai atau sekadar duduk sambil menikmati air mancur dari mulut Merlion dengan gratis dan dengan latar gedung penuh warna-warni adalah kenikmatan yang disediakan oleh negara ini kepada setiap pengunjung. Beberapa kali setelahnya saya berkunjung ke Singapura yang terlihat semakin maju dan lebih tertata lagi.

Semua tempat umum bak fasilitas bintang lima dan, ini yang penting, gratis. Di masing-masing taman ada fasilitas olahraga. Ketika hujan dan Anda lupa membawa payung, di Singapura Anda bisa jalan sepanjang emperan yang disediakan dan tidak akan kebasahan.

Jika anggaran wisata Anda sedikit, Anda tak perlu khawatir, banyak tempat ikonik di Singapura yang bisa dikunjungi secara cum-cuma, seperti menikmati suasana dengan lampu warna-warni di kawasan Merlion Park, berkunjung ke Clarke Quay, Marina Bay Sand, Garden by the Bay A, Sentosa Islands, sampai Singapore Universal Studio. Semuanya gratis tiket masuk. Semua jengkal tempat-tempat di Singapura seperti dipenuhi dengan etalase seni yang unik dan informatif.

Singapura

Setidaknya itu yang membuat saya—bahkan mungkin Anda—tetap akan melihat Singapura sebagai sebuah negara yang 100 langkah lebih maju, mendahului pencapaian 100 tahun haluan negara tetangganya—yang masih sibuk dengan urusan korupsi, pengangguran, dan masalah krusial lainnya. Apalagi  Bali, kalau masih saja tidak ada perbaikan fasilitas dan terutama pola pikir tentang pariwisata, jangan harap bisa seperti Singapura atau bermimpi utuk menyainginya. Cuih!

***

Dua hari keliling Singapura, dari Pantai East Coast sampai Sembawang, dari Little India hingga China Town, dari Pasir Ris sampai Harbour Front, saya sadar sejatinya Singapura juga sangat multi etnik. Ada Melayu, ada Eropa, Asia kebanyakan, dan juga India. Dengan karakteristik itu, ekosiatem dan pemerintahnya lah yang memegang kendali penuh. Hukum benar-benar ditegakkan di sini. Masih teringat bagaimana dulu teman saya kena denda buang putung tokok sembarangan di East Coast Park dan harus bayar denda langsung di mesin ATM. Hehe. Itu nyata, tidak hanya imbauan.

Singapura

Singapura tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia, tentu saja. Bukan saja karena beda luas negara, tapi cukup karena Indonesia bagi saya merupakan negara yang terlalu rumit. Tapi dengan Bali, secara ukuran daratan, barangkali masih sangat bisa dibandingkan—meski Bali bukan negara. Pembanding yang saya maksud adalah keduanya sama-sama tujuan banyak orang. Setidaknya, untuk urusan sampah, banjir, serta jalur transportasi—yang kalau tidak dikelola dengan baik dan benar bisa berakibat pada menurunnya kunjungan wisatawan—kita bisa berkiblat pada Singapura.

Terlepas dari banyaknya faktor yang menyebabkan turun-naiknya jumlah orang (wisatawan) ke Bali, jika kita hanya dengan mengandalkan narasi seni-budaya, sopan dan santun, saya rasa tidak akan banyak membantu jika ruang, kenyamanan, dan kepastian waktu yang sangat diperhitungkan oleh pengunjung tidak pernah terwujud di pulau kita tercinta.

Masalah niskala mungkin bisa dengan banten persembahan, tapi masalah skala memang harus dengan aksi dan pembuktian. Bukan hanya doa dan kepasrahan saja.

Singapura

Ah… Saya lanjut perjalanan ke Malaysia dan Thailand dulu. Ternyata, aspal di Singapura pun tidak ada yang berlubang. Sampah ada, tapi tidak banyak. Terus siapa yang salah? Entah lah. Lain kali kita bicarakan.[T]

Penulis dan Foto-foto: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: balicatatan perjalananSingapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Sepi? –Mari Pahami Fakta di Balik Narasi dan Tantangan Pariwisata Modern

Next Post

Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co