24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 29, 2025
in Esai
Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pengakuan yang Tidak Otomatis Mengubah Kesadaran

Pada 2 Oktober 2009, dunia secara resmi mengakui batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity melalui UNESCO. Secara simbolik, ini adalah pengakuan tertinggi: batik bukan sekadar milik Indonesia, melainkan kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia. Anehnya, lebih dari satu dekade setelah pengakuan itu, batik masih sering “dikalahkan” oleh jas dalam ruang formal kenegaraan, maupun kegiatan di kampus baik saat yudisium maupun wisuda, juga dalam kegiatan formal lainnya.

Pertanyaannya sederhana namun mengusik: mengapa busana yang telah diakui dunia justru belum sepenuhnya kita percaya sebagai simbol formalitas tertinggi bangsa? Dari sini, perdebatan antara jas dan batik sesungguhnya bukan soal mode, melainkan soal identitas, keberanian simbolik, dan kedewasaan kultural.

Jas: Simbol Modernitas yang Kita Warisi

Jas lahir dari sejarah Eropa: bangsawan, revolusi industri, birokrasi kolonial, dan negara modern Barat. Ia menjadi simbol rasionalitas, efisiensi, dan kekuasaan administratif. Di banyak negara, jas berfungsi sebagai “bahasa visual global”—siapa pun yang memakainya langsung terbaca sebagai bagian dari tatanan modern internasional.

Indonesia mewarisi jas bukan dari tradisi sendiri, melainkan dari sejarah kolonial dan pendidikan modern Barat. Setelah kemerdekaan, kita mengganti penguasa, tetapi tidak sepenuhnya mengganti simbol. Jas tetap bertahan sebagai pakaian “resmi”, terutama bagi laki-laki, karena ia diasosiasikan dengan wibawa negara, profesionalisme, dan keseriusan.

Masalahnya bukan pada jas itu sendiri. Jas netral, praktis, dan sah dalam diplomasi global. Persoalannya adalah ketika jas ditempatkan sebagai puncak formalitas, seolah-olah tanpa jas, kewibawaan negara menjadi kurang lengkap.

Batik: Kain, Narasi, dan Kosmologi

Batik bukan sekadar busana. Ia adalah narasi peradaban. Setiap motif lahir dari pandangan kosmologis dan etika hidup: hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Yang Ilahi. Dalam sejarah Nusantara, batik justru sangat politis. Ada motif larangan, motif kerajaan, motif rakyat—semuanya mengatur relasi sosial dan kekuasaan.

Artinya, secara historis batik adalah busana formal, bahkan simbol kekuasaan. Ia tidak pernah berada di pinggiran. Yang berubah bukan batiknya, melainkan struktur sosial pascakolonial yang menempatkan simbol Barat sebagai standar modernitas.

Ketika batik hari ini dianggap “kurang resmi” dibanding jas, itu bukan penilaian estetis, melainkan cerminan cara pandang kita terhadap diri sendiri.

Perempuan, Kebaya, dan Ketimpangan Simbolik

Ada ironi menarik dalam praktik kenegaraan Indonesia. Perempuan boleh—bahkan dianjurkan—memakai kebaya dalam acara resmi. Kebaya diterima sebagai busana nasional yang anggun, berwibawa, dan sah. Tidak ada tuntutan agar perempuan harus mengenakan gaun Barat agar tampak modern.

Namun standar ini tidak sepenuhnya berlaku bagi laki-laki. Untuk dianggap formal, laki-laki justru “harus” mengenakan jas. Seolah-olah keindonesiaan aman dilekatkan pada tubuh perempuan, tetapi kekuasaan dan modernitas harus ditampilkan melalui simbol Barat pada tubuh laki-laki.

Ini bukan sekadar soal busana, melainkan refleksi warisan kolonial dan patriarki. Tradisi dilekatkan pada yang dianggap estetis, sementara kekuasaan dilekatkan pada simbol rasionalitas Barat. Akibatnya, batik dihormati sebagai budaya, tetapi belum sepenuhnya dipercaya sebagai simbol kuasa.

Pengakuan UNESCO dan Batasnya

Pengakuan UNESCO bersifat eksternal. Ia mengafirmasi nilai budaya, teknik, dan tradisi batik di mata dunia. Namun pengakuan global tidak otomatis mengubah struktur mental internal sebuah bangsa. UNESCO bisa berkata, “Ini warisan luhur umat manusia,” tetapi jika di dalam negeri batik masih dianggap setengah formal, maka yang belum berubah adalah kesadaran kolektif kita sendiri.

Dengan kata lain, dunia sudah mengakui batik, tetapi kita sendiri masih ragu memposisikannya sebagai bahasa resmi kekuasaan. Pengakuan eksternal belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi kebanggaan simbolik.

Batik yang Difolklorkan

Salah satu penyebab kegamangan ini adalah kecenderungan memfolklorkan batik. Batik dirayakan sebagai seni, budaya, dan warisan—dipakai saat perayaan, festival, atau Hari Batik Nasional—tetapi jarang diposisikan sebagai seragam kekuasaan.

Sebaliknya, jas tidak dianggap budaya, tetapi justru menjadi bahasa resmi negara. Ia hadir di ruang sidang, forum diplomasi, dan acara kenegaraan. Selama batik hanya ditempatkan sebagai ornamen budaya, bukan sebagai simbol otoritas, maka posisinya akan selalu satu tingkat di bawah jas.

Budaya, agar hidup, membutuhkan lebih dari sekadar perayaan. Ia membutuhkan keputusan simbolik.

Wibawa: Datang dari Mana?

Ada anggapan tak terucap bahwa jas memberi wibawa. Namun sejarah dunia menunjukkan bahwa wibawa tidak berasal dari potongan pakaian. Gandhi dengan dhoti, Mandela dengan kemeja Afrika, pemimpin Jepang dengan kimono formal—semuanya membuktikan bahwa wibawa lahir dari integritas, visi, dan kesadaran diri.

Jika seorang pemimpin Indonesia mengenakan batik dengan keyakinan penuh, ia tidak sedang menurunkan martabat forum, melainkan menegaskan identitas bangsa. Yang sering membuat batik terlihat “kurang formal” bukanlah batiknya, melainkan keraguan pemakainya.

Formalitas sebagai Kesepakatan Sosial

“Formal” bukan hukum alam. Ia adalah konstruksi sosial dan politik. Jas menjadi formal karena disepakati demikian oleh kekuasaan global. Jika negara secara tegas menetapkan batik—dengan standar tertentu—sebagai busana formal utama, maka persepsi publik akan berubah.

Indonesia sebenarnya sudah melangkah ke arah itu, tetapi masih setengah hati. Batik dianjurkan, bukan ditetapkan. Akibatnya, jas tetap menjadi standar tertinggi, sementara batik berada di posisi alternatif. Kita merdeka secara politik, tetapi masih ragu secara simbolik.

Identitas di Tengah Dunia Global

Menegaskan batik sebagai busana formal utama bukan berarti menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, dunia hari ini semakin menghargai identitas yang otentik. Globalisasi tidak lagi menuntut keseragaman, melainkan dialog antar-kekhasan.

Memakai batik di forum internasional bukan tindakan eksotis, melainkan pernyataan setara: kami hadir sebagai Indonesia. Identitas yang kuat justru membuat dialog global lebih jujur dan bermakna.

Dari Pengakuan ke Keberanian

Maka, mengapa batik yang telah diakui UNESCO belum sepenuhnya menggantikan jas dalam ruang formal? Jawabannya bukan karena batik kurang luhur, melainkan karena kita belum sepenuhnya percaya pada diri sendiri. Pengakuan dunia adalah pintu; keberanian bangsa adalah langkah masuknya.

Antara jas dan batik, yang dipertaruhkan bukan sekadar selera busana, melainkan kedewasaan identitas. Hari ketika batik benar-benar berdiri sejajar—atau bahkan di depan—jas dalam ruang formal kenegaraan akan menjadi penanda bahwa Indonesia telah berdamai dengan jati dirinya sendiri.

Dan mungkin, di sanalah kemerdekaan kultural kita benar-benar menemukan maknanya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkainkosmologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Singapura Sambil Merenungi Bali, Lagi, Lagi, dan Lagi

Next Post

‘Comfortably Numb’: Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
‘Comfortably Numb’: Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

'Comfortably Numb': Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co