28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 29, 2025
in Esai
Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pengakuan yang Tidak Otomatis Mengubah Kesadaran

Pada 2 Oktober 2009, dunia secara resmi mengakui batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity melalui UNESCO. Secara simbolik, ini adalah pengakuan tertinggi: batik bukan sekadar milik Indonesia, melainkan kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia. Anehnya, lebih dari satu dekade setelah pengakuan itu, batik masih sering “dikalahkan” oleh jas dalam ruang formal kenegaraan, maupun kegiatan di kampus baik saat yudisium maupun wisuda, juga dalam kegiatan formal lainnya.

Pertanyaannya sederhana namun mengusik: mengapa busana yang telah diakui dunia justru belum sepenuhnya kita percaya sebagai simbol formalitas tertinggi bangsa? Dari sini, perdebatan antara jas dan batik sesungguhnya bukan soal mode, melainkan soal identitas, keberanian simbolik, dan kedewasaan kultural.

Jas: Simbol Modernitas yang Kita Warisi

Jas lahir dari sejarah Eropa: bangsawan, revolusi industri, birokrasi kolonial, dan negara modern Barat. Ia menjadi simbol rasionalitas, efisiensi, dan kekuasaan administratif. Di banyak negara, jas berfungsi sebagai “bahasa visual global”—siapa pun yang memakainya langsung terbaca sebagai bagian dari tatanan modern internasional.

Indonesia mewarisi jas bukan dari tradisi sendiri, melainkan dari sejarah kolonial dan pendidikan modern Barat. Setelah kemerdekaan, kita mengganti penguasa, tetapi tidak sepenuhnya mengganti simbol. Jas tetap bertahan sebagai pakaian “resmi”, terutama bagi laki-laki, karena ia diasosiasikan dengan wibawa negara, profesionalisme, dan keseriusan.

Masalahnya bukan pada jas itu sendiri. Jas netral, praktis, dan sah dalam diplomasi global. Persoalannya adalah ketika jas ditempatkan sebagai puncak formalitas, seolah-olah tanpa jas, kewibawaan negara menjadi kurang lengkap.

Batik: Kain, Narasi, dan Kosmologi

Batik bukan sekadar busana. Ia adalah narasi peradaban. Setiap motif lahir dari pandangan kosmologis dan etika hidup: hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Yang Ilahi. Dalam sejarah Nusantara, batik justru sangat politis. Ada motif larangan, motif kerajaan, motif rakyat—semuanya mengatur relasi sosial dan kekuasaan.

Artinya, secara historis batik adalah busana formal, bahkan simbol kekuasaan. Ia tidak pernah berada di pinggiran. Yang berubah bukan batiknya, melainkan struktur sosial pascakolonial yang menempatkan simbol Barat sebagai standar modernitas.

Ketika batik hari ini dianggap “kurang resmi” dibanding jas, itu bukan penilaian estetis, melainkan cerminan cara pandang kita terhadap diri sendiri.

Perempuan, Kebaya, dan Ketimpangan Simbolik

Ada ironi menarik dalam praktik kenegaraan Indonesia. Perempuan boleh—bahkan dianjurkan—memakai kebaya dalam acara resmi. Kebaya diterima sebagai busana nasional yang anggun, berwibawa, dan sah. Tidak ada tuntutan agar perempuan harus mengenakan gaun Barat agar tampak modern.

Namun standar ini tidak sepenuhnya berlaku bagi laki-laki. Untuk dianggap formal, laki-laki justru “harus” mengenakan jas. Seolah-olah keindonesiaan aman dilekatkan pada tubuh perempuan, tetapi kekuasaan dan modernitas harus ditampilkan melalui simbol Barat pada tubuh laki-laki.

Ini bukan sekadar soal busana, melainkan refleksi warisan kolonial dan patriarki. Tradisi dilekatkan pada yang dianggap estetis, sementara kekuasaan dilekatkan pada simbol rasionalitas Barat. Akibatnya, batik dihormati sebagai budaya, tetapi belum sepenuhnya dipercaya sebagai simbol kuasa.

Pengakuan UNESCO dan Batasnya

Pengakuan UNESCO bersifat eksternal. Ia mengafirmasi nilai budaya, teknik, dan tradisi batik di mata dunia. Namun pengakuan global tidak otomatis mengubah struktur mental internal sebuah bangsa. UNESCO bisa berkata, “Ini warisan luhur umat manusia,” tetapi jika di dalam negeri batik masih dianggap setengah formal, maka yang belum berubah adalah kesadaran kolektif kita sendiri.

Dengan kata lain, dunia sudah mengakui batik, tetapi kita sendiri masih ragu memposisikannya sebagai bahasa resmi kekuasaan. Pengakuan eksternal belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi kebanggaan simbolik.

Batik yang Difolklorkan

Salah satu penyebab kegamangan ini adalah kecenderungan memfolklorkan batik. Batik dirayakan sebagai seni, budaya, dan warisan—dipakai saat perayaan, festival, atau Hari Batik Nasional—tetapi jarang diposisikan sebagai seragam kekuasaan.

Sebaliknya, jas tidak dianggap budaya, tetapi justru menjadi bahasa resmi negara. Ia hadir di ruang sidang, forum diplomasi, dan acara kenegaraan. Selama batik hanya ditempatkan sebagai ornamen budaya, bukan sebagai simbol otoritas, maka posisinya akan selalu satu tingkat di bawah jas.

Budaya, agar hidup, membutuhkan lebih dari sekadar perayaan. Ia membutuhkan keputusan simbolik.

Wibawa: Datang dari Mana?

Ada anggapan tak terucap bahwa jas memberi wibawa. Namun sejarah dunia menunjukkan bahwa wibawa tidak berasal dari potongan pakaian. Gandhi dengan dhoti, Mandela dengan kemeja Afrika, pemimpin Jepang dengan kimono formal—semuanya membuktikan bahwa wibawa lahir dari integritas, visi, dan kesadaran diri.

Jika seorang pemimpin Indonesia mengenakan batik dengan keyakinan penuh, ia tidak sedang menurunkan martabat forum, melainkan menegaskan identitas bangsa. Yang sering membuat batik terlihat “kurang formal” bukanlah batiknya, melainkan keraguan pemakainya.

Formalitas sebagai Kesepakatan Sosial

“Formal” bukan hukum alam. Ia adalah konstruksi sosial dan politik. Jas menjadi formal karena disepakati demikian oleh kekuasaan global. Jika negara secara tegas menetapkan batik—dengan standar tertentu—sebagai busana formal utama, maka persepsi publik akan berubah.

Indonesia sebenarnya sudah melangkah ke arah itu, tetapi masih setengah hati. Batik dianjurkan, bukan ditetapkan. Akibatnya, jas tetap menjadi standar tertinggi, sementara batik berada di posisi alternatif. Kita merdeka secara politik, tetapi masih ragu secara simbolik.

Identitas di Tengah Dunia Global

Menegaskan batik sebagai busana formal utama bukan berarti menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, dunia hari ini semakin menghargai identitas yang otentik. Globalisasi tidak lagi menuntut keseragaman, melainkan dialog antar-kekhasan.

Memakai batik di forum internasional bukan tindakan eksotis, melainkan pernyataan setara: kami hadir sebagai Indonesia. Identitas yang kuat justru membuat dialog global lebih jujur dan bermakna.

Dari Pengakuan ke Keberanian

Maka, mengapa batik yang telah diakui UNESCO belum sepenuhnya menggantikan jas dalam ruang formal? Jawabannya bukan karena batik kurang luhur, melainkan karena kita belum sepenuhnya percaya pada diri sendiri. Pengakuan dunia adalah pintu; keberanian bangsa adalah langkah masuknya.

Antara jas dan batik, yang dipertaruhkan bukan sekadar selera busana, melainkan kedewasaan identitas. Hari ketika batik benar-benar berdiri sejajar—atau bahkan di depan—jas dalam ruang formal kenegaraan akan menjadi penanda bahwa Indonesia telah berdamai dengan jati dirinya sendiri.

Dan mungkin, di sanalah kemerdekaan kultural kita benar-benar menemukan maknanya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkainkosmologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Singapura Sambil Merenungi Bali, Lagi, Lagi, dan Lagi

Next Post

‘Comfortably Numb’: Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
‘Comfortably Numb’: Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

'Comfortably Numb': Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co