7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 29, 2025
in Esai
Antara Jas dan Batik: Sebuah Pertanyaan untuk Identitas Bangsa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pengakuan yang Tidak Otomatis Mengubah Kesadaran

Pada 2 Oktober 2009, dunia secara resmi mengakui batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity melalui UNESCO. Secara simbolik, ini adalah pengakuan tertinggi: batik bukan sekadar milik Indonesia, melainkan kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia. Anehnya, lebih dari satu dekade setelah pengakuan itu, batik masih sering “dikalahkan” oleh jas dalam ruang formal kenegaraan, maupun kegiatan di kampus baik saat yudisium maupun wisuda, juga dalam kegiatan formal lainnya.

Pertanyaannya sederhana namun mengusik: mengapa busana yang telah diakui dunia justru belum sepenuhnya kita percaya sebagai simbol formalitas tertinggi bangsa? Dari sini, perdebatan antara jas dan batik sesungguhnya bukan soal mode, melainkan soal identitas, keberanian simbolik, dan kedewasaan kultural.

Jas: Simbol Modernitas yang Kita Warisi

Jas lahir dari sejarah Eropa: bangsawan, revolusi industri, birokrasi kolonial, dan negara modern Barat. Ia menjadi simbol rasionalitas, efisiensi, dan kekuasaan administratif. Di banyak negara, jas berfungsi sebagai “bahasa visual global”—siapa pun yang memakainya langsung terbaca sebagai bagian dari tatanan modern internasional.

Indonesia mewarisi jas bukan dari tradisi sendiri, melainkan dari sejarah kolonial dan pendidikan modern Barat. Setelah kemerdekaan, kita mengganti penguasa, tetapi tidak sepenuhnya mengganti simbol. Jas tetap bertahan sebagai pakaian “resmi”, terutama bagi laki-laki, karena ia diasosiasikan dengan wibawa negara, profesionalisme, dan keseriusan.

Masalahnya bukan pada jas itu sendiri. Jas netral, praktis, dan sah dalam diplomasi global. Persoalannya adalah ketika jas ditempatkan sebagai puncak formalitas, seolah-olah tanpa jas, kewibawaan negara menjadi kurang lengkap.

Batik: Kain, Narasi, dan Kosmologi

Batik bukan sekadar busana. Ia adalah narasi peradaban. Setiap motif lahir dari pandangan kosmologis dan etika hidup: hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Yang Ilahi. Dalam sejarah Nusantara, batik justru sangat politis. Ada motif larangan, motif kerajaan, motif rakyat—semuanya mengatur relasi sosial dan kekuasaan.

Artinya, secara historis batik adalah busana formal, bahkan simbol kekuasaan. Ia tidak pernah berada di pinggiran. Yang berubah bukan batiknya, melainkan struktur sosial pascakolonial yang menempatkan simbol Barat sebagai standar modernitas.

Ketika batik hari ini dianggap “kurang resmi” dibanding jas, itu bukan penilaian estetis, melainkan cerminan cara pandang kita terhadap diri sendiri.

Perempuan, Kebaya, dan Ketimpangan Simbolik

Ada ironi menarik dalam praktik kenegaraan Indonesia. Perempuan boleh—bahkan dianjurkan—memakai kebaya dalam acara resmi. Kebaya diterima sebagai busana nasional yang anggun, berwibawa, dan sah. Tidak ada tuntutan agar perempuan harus mengenakan gaun Barat agar tampak modern.

Namun standar ini tidak sepenuhnya berlaku bagi laki-laki. Untuk dianggap formal, laki-laki justru “harus” mengenakan jas. Seolah-olah keindonesiaan aman dilekatkan pada tubuh perempuan, tetapi kekuasaan dan modernitas harus ditampilkan melalui simbol Barat pada tubuh laki-laki.

Ini bukan sekadar soal busana, melainkan refleksi warisan kolonial dan patriarki. Tradisi dilekatkan pada yang dianggap estetis, sementara kekuasaan dilekatkan pada simbol rasionalitas Barat. Akibatnya, batik dihormati sebagai budaya, tetapi belum sepenuhnya dipercaya sebagai simbol kuasa.

Pengakuan UNESCO dan Batasnya

Pengakuan UNESCO bersifat eksternal. Ia mengafirmasi nilai budaya, teknik, dan tradisi batik di mata dunia. Namun pengakuan global tidak otomatis mengubah struktur mental internal sebuah bangsa. UNESCO bisa berkata, “Ini warisan luhur umat manusia,” tetapi jika di dalam negeri batik masih dianggap setengah formal, maka yang belum berubah adalah kesadaran kolektif kita sendiri.

Dengan kata lain, dunia sudah mengakui batik, tetapi kita sendiri masih ragu memposisikannya sebagai bahasa resmi kekuasaan. Pengakuan eksternal belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi kebanggaan simbolik.

Batik yang Difolklorkan

Salah satu penyebab kegamangan ini adalah kecenderungan memfolklorkan batik. Batik dirayakan sebagai seni, budaya, dan warisan—dipakai saat perayaan, festival, atau Hari Batik Nasional—tetapi jarang diposisikan sebagai seragam kekuasaan.

Sebaliknya, jas tidak dianggap budaya, tetapi justru menjadi bahasa resmi negara. Ia hadir di ruang sidang, forum diplomasi, dan acara kenegaraan. Selama batik hanya ditempatkan sebagai ornamen budaya, bukan sebagai simbol otoritas, maka posisinya akan selalu satu tingkat di bawah jas.

Budaya, agar hidup, membutuhkan lebih dari sekadar perayaan. Ia membutuhkan keputusan simbolik.

Wibawa: Datang dari Mana?

Ada anggapan tak terucap bahwa jas memberi wibawa. Namun sejarah dunia menunjukkan bahwa wibawa tidak berasal dari potongan pakaian. Gandhi dengan dhoti, Mandela dengan kemeja Afrika, pemimpin Jepang dengan kimono formal—semuanya membuktikan bahwa wibawa lahir dari integritas, visi, dan kesadaran diri.

Jika seorang pemimpin Indonesia mengenakan batik dengan keyakinan penuh, ia tidak sedang menurunkan martabat forum, melainkan menegaskan identitas bangsa. Yang sering membuat batik terlihat “kurang formal” bukanlah batiknya, melainkan keraguan pemakainya.

Formalitas sebagai Kesepakatan Sosial

“Formal” bukan hukum alam. Ia adalah konstruksi sosial dan politik. Jas menjadi formal karena disepakati demikian oleh kekuasaan global. Jika negara secara tegas menetapkan batik—dengan standar tertentu—sebagai busana formal utama, maka persepsi publik akan berubah.

Indonesia sebenarnya sudah melangkah ke arah itu, tetapi masih setengah hati. Batik dianjurkan, bukan ditetapkan. Akibatnya, jas tetap menjadi standar tertinggi, sementara batik berada di posisi alternatif. Kita merdeka secara politik, tetapi masih ragu secara simbolik.

Identitas di Tengah Dunia Global

Menegaskan batik sebagai busana formal utama bukan berarti menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, dunia hari ini semakin menghargai identitas yang otentik. Globalisasi tidak lagi menuntut keseragaman, melainkan dialog antar-kekhasan.

Memakai batik di forum internasional bukan tindakan eksotis, melainkan pernyataan setara: kami hadir sebagai Indonesia. Identitas yang kuat justru membuat dialog global lebih jujur dan bermakna.

Dari Pengakuan ke Keberanian

Maka, mengapa batik yang telah diakui UNESCO belum sepenuhnya menggantikan jas dalam ruang formal? Jawabannya bukan karena batik kurang luhur, melainkan karena kita belum sepenuhnya percaya pada diri sendiri. Pengakuan dunia adalah pintu; keberanian bangsa adalah langkah masuknya.

Antara jas dan batik, yang dipertaruhkan bukan sekadar selera busana, melainkan kedewasaan identitas. Hari ketika batik benar-benar berdiri sejajar—atau bahkan di depan—jas dalam ruang formal kenegaraan akan menjadi penanda bahwa Indonesia telah berdamai dengan jati dirinya sendiri.

Dan mungkin, di sanalah kemerdekaan kultural kita benar-benar menemukan maknanya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkainkosmologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Singapura Sambil Merenungi Bali, Lagi, Lagi, dan Lagi

Next Post

‘Comfortably Numb’: Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
‘Comfortably Numb’: Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

'Comfortably Numb': Keindahan yang Menyakitkan dari Jiwa yang Terasing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co