22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
December 18, 2025
in Tualang
Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Sawah di Ketapanrame

PERJALANAN darat yang saya tempuh dengan tujuan utama Jakarta, saya lakukan secara estafet. Dari Kota Singaraja saya singgah dulu sebentar di Surabaya dan Mojokerto. Menuju Kota Surabaya, saya menaiki bus jurusan Singaraja-Surabaya, PO Puspasari, namanya, rekomendasi dari seorang teman yang sekarang tinggal di Surabaya Barat dan telah menggunakan jasa bus ini puluhan kali saat ia ke Singaraja atau dari Singaraja ke Surabaya.

Butuh waktu 10 jam untuk sampai di Terminal Bungurasih dari Kota Singaraja. Berangkat pukul 18.00 WITA―hanya ada empat penumpang di dalam bus ketika itu―sampai sekira pukul 3 dini hari waktu bagian barat.

Saya banyak mengobrol dengan sang sopir yang sudah bekerja di PO Puspasari sejak 1997 itu. Pak sopir dan kondektur saling tukar wicara tentang situasi dunia  transportasi, terutama bus, yang memang sudah semakin sepi penumpang. Sesekali obrolan berlanjut tentang banjir bandang di Pulau Sumatra, penebangan liar, sampai isu politik.

Saya menimpali sesekali dan dalam hati saya bergumam bahwa bapak sopir dan kondekturnya ini sepertinya memang suka mendengar, menonton, barang kali lewat gawai, televisi, atau bahkan membaca koran tentang situasi terkini. Mereka berdua cukup update.

Obrolan terus berlanjut sampai menyebrang di Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang. Tepat pukul 21.00 WITA ke WIB, sejam penyebrangan, sampailah kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.

Saya memberi kabar kawan di Surabaya, untuk memberikan update kedatangan. Estimasi saya sampai di Terminal Bungurasih pukul 03.00 WIB. Karena memang ada beberapa agenda langsung di pagi harinya, saya memutuskan untuk memesan hotel untuk beristrahat. Dan saya tertidur cukup nyenyak.

Pagi harinya, ketika bangun, beberapa panggilan masuk. Tentu saja tak terjawab. “Jadi ke Desa Ketapanrame?” Itu salah satu pesan dari seorang teman melalui WA. Itu menjadi salah satu agenda utama saya singgah di Surabaya sebelum ke Jakarta.

Saya bergegas dan bersiap, lalu langsung check out. Mbak Ninik, teman yang mengirim pesan dan yang bakal menemani saya ke Ketapanrame, datang. Tanpa ba bi bu kami langsung berangkat ke tempat tujuan.

Desa Ketapanrame merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Satu jam dari Sidoarjo. Perjalanan kali ini saya niatkan untuk bertemu pengelola Desa Wisata.

Ketapanrame sendiri pada tahun 2023 berhasil menyabet gelar Desa Wisata Terbaik di ADWI. Di susul Les, desa saya tercinta, pada tahun 2024. Kebetulan, Mbak Ninik, teman saya, adalah seorang dosen di UBAYA (Universitas Surabaya), yang juga mendampingi Desa Ketapanrame untuk menjadi desa wisata. Saya diantar orang yang tepat.

***

Tiba di Ketapanrame mengingatkan saya dengan kawasan Bedugul, Bali. Dingin di kelilingi pegunungan. Gunung Welirang serasa menyambut, tepat berdiri di depan kantor desa dan sekaligus tempat wisata Taman Ghanjaran, sebuah komplek taman bermain dan kuliner serta pusat administrasi Desa Ketapanrame. Di sana, dari Mbak Ninik, saya dipertemukan dengan Mas Udin, begitu nama panggilannya, seorang Ketua Pengelola Desa Wisata Ketapanrame.

Obrolan berlanjut ke Tempat Wisata Sawah Gempong. Tempat wisata dengan sumber air tepat di bawah pohon beringin. Sawah warga yang mengelilingi area ini membuat tempat ini menjadi favourit pengunjung saat ke Ketapanrame.

Dan saya penasaran dengan makna Desa Ketapanrame. Apakah karena terus ramai atau bagaimana? Mas Udin menjelaskan bahwa Ketapanrame adalah sebuah nama yang erat kaitannya dengan sejarah di masa lampau.

“Begini, di kawasan Gunung Welirang ini banyak ditemukan arca sampai saat ini. Arca-arca itu dipercaya ditaruh oleh seorang petapa. Maka dari itulah, wilayah ini diberi nama Ketapanrame—karena memang dipercaya banyak sekali petapa di masa itu,” tutur Mas Udin. Tidak jauh berbeda dengan apa yang coba saya intepretasikan.

Gerimis di susul hujan datang, kopi arabika khas ketapanrame menemani obrolan kami. Saya sendiri bertanya bagaimana pengelolaan sawah yang terhampar luas di depan pendopo tempat saya ngobrol?

“Di kerjasamakan, Mas. Semua petani kebagian dan ada perjanjiannya sesuai zona,”  jawab Mas Udin. Ini menarik. “Zona yang paling ramai akan disepakati presentasenya, sebut saja Zona A, diikuti Zona B, dan Zona C. Semua petani/pemilik sawah sepakat dan bisa juga berjualan sesuai kesepakatan bersama,” sambung Mas Udin.

Masyarakat senang, pengelola tenang dan senang juga. Ini adalah hal yang paling menarik yang saya obrolkan selama hampir 4 jam. Hal ini menarik karena di desa wisata atau daerah tujuan wisata, terlebih wisata alam dan pertanian akan menemukan titik keseimbangan dan kesejahteraan bersama. Desa dapat, warga dapat, alam pun dapat dijaga bersama-sama.

Untuk menghindari konflik (kesenjangan) memang diperlukan setidaknya komunikasi, edukasi, dan kesepakatan tertulis oleh semua stakeholder. Di Desa Wisata Ketapanrame, seluruh pengelolaan usaha desa di kelola oleh BUMDes. Untuk Unit Pariwisata, di Bentuk Pengelola Desa Wisata. Sama persis seperti yang ada di Desa Wisata Les.

Berpindah tempat ngobrol setelah durasi 4 jam, kami menuju ke sebuah tempat yang menjual minuman jeruk nagami—jeruk yang cenderung kekurangan peminat tapi bisa di jadikan produk turunan, seperti selai, jus, dan banyak lagi. Saya disuguhi jeruk nagami hangat. Saya menyeruputnya sembari mengusir dingin yang mulai datang.

Menjelang akhir perjalanan sebelum saya balik ke Surabaya, formasi lengkap dan obrolan singkat kembali terjadi. Kali ini bersama Kepala Desa dan Ketua Bumdes Ketapanrame. Dan satu hal penting yang saya catat dari perjalanan kali ini adalah kebersamaan, rasa cinta, dan kolaborasi. Di ketapanrame saya melihat dan mendengar langsung semua itu dikerjasamakan dan semua pihak mendapat bagian yang menjadi kesepakatan, terutama pengelola/pemilik sawah. Ya, sawah yang semakin langka tapi dipuja-puji sebagai ikon wisata, seperti di Bali.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: desaDesa Ketapanramedesa wisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Next Post

‘Dust in the Wind’: Antara yang Berlalu dan yang Tetap Ada

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
‘Dust in the Wind’: Antara yang Berlalu dan yang Tetap Ada

'Dust in the Wind': Antara yang Berlalu dan yang Tetap Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co