13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 18, 2025
in Esai
Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Gambar tokohwayangpurwa.blogspot.com

KISAH Mahabharata bukan sekadar legenda berusia lima milenium; ia adalah kitab kehidupan yang terus hidup dalam dinamika manusia. Di dalamnya, dua kakak-adik—Balaram dan Krishna—menunjukkan dua jalur pilihan tindakan yang sama-sama mulia namun sangat berbeda. Balarama memilih tirthayatra, mengembara dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya demi menjaga kemurnian batin. Krishna justru mengambil sikap berlawanan: baginya, Kurukshetra—medan perang yang penuh intrik, ketakutan, dan darah—adalah tempat suci yang harus diteguhkan. Sebab dharma tidak ditegakkan di tempat-tempat sunyi, melainkan di tengah hiruk pikuk kehidupan, tanpa kehilangan kewarasan.

Kedua jalan ini sangat relevan bagi Bali dan Indonesia saat ini: apakah kita memilih jalan ritual belaka, ataukah kita siap berkarya dan berjuang di tengah keriuhan dunia nyata? Kisah ini menampar kesadaran kita, mengingatkan bahwa suci bukan hanya urusan tempat suci dan air suci, tetapi juga keberanian mengutamakan integritas di tengah dunia yang kacau.

Jalan Balaram: Antara Ritual dan Pelarian

Ketika Mahabharata mencapai puncaknya, Balaram memilih untuk tidak terlibat. Ia berkelana dari satu tempat suci ke tempat suci lain, melakukan perjalanan untuk merawat kesucian batinnya. Dalam tradisi Sanatana Dharma, jalan ini sah, benar, dan mulia. Ritual bukanlah kesalahan. Tirthayatra adalah bagian dari devosi.

Namun, persoalannya muncul ketika ritual menjadi pelarian dari tanggung jawab sosial.

Di Bali, aktivitas spiritual seperti melukat, tirtayatra, dan ratusan upacara yadnya lain dilakukan setiap hari hampir tanpa jeda. Tetapi kenyataan sosial sering kali tidak sejalan: sampah berserakan di tempat suci, antrean kacau, orang berebut tempat untuk foto, dan perilaku publik tak selalu mencerminkan kesadaran yang sama tinggi dengan ritualnya.

Bali menjadi pulau dengan ribuan pura, tetapi masih bergulat dengan:

  • korupsi dan penyelewengan dana desa,
  • ketimpangan ekonomi,
  • sampah yang menumpuk,
  • pelecehan nilai budaya demi kepentingan ekonomi,
  • masih adanya kemiskinan ekstrim,
  • serta hilangnya keteladanan moral para pemimpin maupun pemerintah.

Ritual yang seharusnya menjadi jalan transformasi diri, tak jarang berubah menjadi rutinitas kosmetik. Bahkan ada yang merasa cukup suci hanya karena sudah melukat, padahal perilaku sehari-harinya jauh dari kesucian.

Inilah bahaya jalan Balaram bila tidak diiringi kesadaran:
ritual tanpa etika hanya memperbesar ego seolah-olah sudah berada di jalur spiritual.

Jalan Krishna: Turun ke Kurukshetra Kehidupan

Krishna memilih jalan berbeda. Ketika dunia membutuhkan penegakan dharma, ia tidak pergi mencari tempat suci; justru ia menghadirkan kesucian dalam tindakan. Baginya, Kurukshetra, dengan segala kekacauannya, adalah altar pengorbanan yang sesungguhnya.

Krishna tahu bahwa menghindari perang adalah pilihan mudah. Ia juga bisa berkeliling tempat suci bersama Balaram, menikmati ketenangan bathin pribadi. Apalagi sebagai seorang Avatar, bukit Govardan saja bisa diangkat dengan jari kelingking. Dengan melepas chakra Sudarshana sekali saja, bisa jadi seluruh kubu Kurawa akan musnah. Namun, Krishana tetap turun langsung ke medan laga, bahkan “menurunkan derajat, hanya sebagai sais Arjuna”. Ia sadar:
dharma harus ditegakkan di dunia nyata — di ruang publik, dalam keputusan sulit, dalam konflik etika dan sosial.

Jalan Krishna adalah jalan yang tidak populer:

  • harus menyaksikan sahabat tersakiti,
  • harus menegur penguasa,
  • harus mengambil risiko kehilangan kenyamanan,
  • bahkan harus berjuang tanpa kehilangan kewarasan di tengah kekerasan, fitnah, dan kesalahpahaman.

Di Bali dan Indonesia hari ini, jalan Krishna sangat relevan. Kita membutuhkan lebih banyak “Krishna”—orang-orang yang berani turun tangan dalam “medan perang” zaman modern: birokrasi yang lamban, lingkungan yang rusak, pariwisata yang tidak berkelanjutan, politik uang, kekerasan struktural, hingga ketidakadilan ekonomi.

Krishna mengajarkan bahwa spiritualitas bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menghadirkan cahaya spiritual di tempat yang paling gelap.

Relevansi di Bali dan Indonesia: Ritual Tanpa Dharma adalah Kekosongan

Secara lahiriah, Bali tampak sebagai pulau sorga yang memesona. Upacara berlangsung hampir setiap hari, dupa menyala di setiap rumah, dan pakaian adat menghiasi berbagai sudut. Namun dalam praktik kehidupan publik, ada torehan luka, yang kita harus jujur mengakui bahwa:

  • etika dalam lalu lintas memburuk,
  • generasi muda terseret arus konsumerisme,
  • tanah dijual tanpa pertimbangan masa depan,
  • konflik internal desa tiada henti,
  • pejabat publik kadang lebih dekat pada kepentingan pribadi daripada dharma.

Di tingkat nasional, fenomenanya serupa: rumah ibadah bertambah, tetapi perilaku koruptif tetap menjamur; ritual keagamaan semarak, tetapi kekerasan verbal dan kebencian sosial masih marak; simbol suci ditinggikan, tetapi nilai luhur sering dikalahkan ambisi politik.

Di sinilah kita melihat dengan gamblang bahwa ritual tanpa etika dan dharma, tidak pernah membentuk peradaban.

Dharma hanya tumbuh ketika manusia hadir seperti Krishna: konsisten, berani, dan rasional, serta tetap teguh tanpa kehilangan kewarasan dalam memperjuangkan kebenaran.

Menyatukan Dua Jalan: Ritual yang Menumbuhkan Keberanian

Kita tidak perlu memilih secara ekstrem. Jalan terbaik justru menggabungkan keduanya:
kesucian batin ala Balaram dan keberanian bertindak ala Krishna.

Ritual seharusnya menjadi fondasi mental, bukan ruang pelarian.
Tempat suci seharusnya menjadi stasiun pengisian batin, bukan terminal untuk menghindari tanggung jawab.

Yang dibutuhkan Bali dan Indonesia bukan lebih banyak tempat suci atau lebih banyak upacara, melainkan lebih banyak manusia yang siap berdiri di Kurukshetra ketika dharma dipertaruhkan.

Sebab bagi Krishna, tempat suci bukan hanya di Gunung Kailash, Ganga, atau Mathura—
tempat suci adalah tempat di mana kita berjuang demi kebenaran.

Kita sedang hidup di era yang menentukan: Bali dan Indonesia berada di persimpangan antara simbol dan substansi, antara tradisi dan transformasi. Kisah Krishna dan Balaram kembali hadir sebagai cermin:

  • Apakah kita hanya ingin berjalan dari tempat suci satu ke tempat suci lainnya?
  • Atau menjadikan dunia ini sebagai medan pengabdian?

Ritual penting. Kesucian penting. Tetapi yang paling penting adalah dharma, kebenaran dan kebajikan, yang diperjuangkan dengan keberanian dan kewarasan.

Dan mungkin inilah panggilan zaman kita:
tidak sekadar menyalakan dupa, tetapi membawa cahaya dupa itu masuk ke tengah gelapnya kehidupan, seperti Krishna di Kurukshetra. Dan menentukan sikap apakah berada di jalan Balaram atau Krishna, adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan punya konsekuensi karena hukum karma tidak pernah salah sasaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaladewafilsafatKresnaMahabharatawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Next Post

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co