12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 18, 2025
in Esai
Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Gambar tokohwayangpurwa.blogspot.com

KISAH Mahabharata bukan sekadar legenda berusia lima milenium; ia adalah kitab kehidupan yang terus hidup dalam dinamika manusia. Di dalamnya, dua kakak-adik—Balaram dan Krishna—menunjukkan dua jalur pilihan tindakan yang sama-sama mulia namun sangat berbeda. Balarama memilih tirthayatra, mengembara dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya demi menjaga kemurnian batin. Krishna justru mengambil sikap berlawanan: baginya, Kurukshetra—medan perang yang penuh intrik, ketakutan, dan darah—adalah tempat suci yang harus diteguhkan. Sebab dharma tidak ditegakkan di tempat-tempat sunyi, melainkan di tengah hiruk pikuk kehidupan, tanpa kehilangan kewarasan.

Kedua jalan ini sangat relevan bagi Bali dan Indonesia saat ini: apakah kita memilih jalan ritual belaka, ataukah kita siap berkarya dan berjuang di tengah keriuhan dunia nyata? Kisah ini menampar kesadaran kita, mengingatkan bahwa suci bukan hanya urusan tempat suci dan air suci, tetapi juga keberanian mengutamakan integritas di tengah dunia yang kacau.

Jalan Balaram: Antara Ritual dan Pelarian

Ketika Mahabharata mencapai puncaknya, Balaram memilih untuk tidak terlibat. Ia berkelana dari satu tempat suci ke tempat suci lain, melakukan perjalanan untuk merawat kesucian batinnya. Dalam tradisi Sanatana Dharma, jalan ini sah, benar, dan mulia. Ritual bukanlah kesalahan. Tirthayatra adalah bagian dari devosi.

Namun, persoalannya muncul ketika ritual menjadi pelarian dari tanggung jawab sosial.

Di Bali, aktivitas spiritual seperti melukat, tirtayatra, dan ratusan upacara yadnya lain dilakukan setiap hari hampir tanpa jeda. Tetapi kenyataan sosial sering kali tidak sejalan: sampah berserakan di tempat suci, antrean kacau, orang berebut tempat untuk foto, dan perilaku publik tak selalu mencerminkan kesadaran yang sama tinggi dengan ritualnya.

Bali menjadi pulau dengan ribuan pura, tetapi masih bergulat dengan:

  • korupsi dan penyelewengan dana desa,
  • ketimpangan ekonomi,
  • sampah yang menumpuk,
  • pelecehan nilai budaya demi kepentingan ekonomi,
  • masih adanya kemiskinan ekstrim,
  • serta hilangnya keteladanan moral para pemimpin maupun pemerintah.

Ritual yang seharusnya menjadi jalan transformasi diri, tak jarang berubah menjadi rutinitas kosmetik. Bahkan ada yang merasa cukup suci hanya karena sudah melukat, padahal perilaku sehari-harinya jauh dari kesucian.

Inilah bahaya jalan Balaram bila tidak diiringi kesadaran:
ritual tanpa etika hanya memperbesar ego seolah-olah sudah berada di jalur spiritual.

Jalan Krishna: Turun ke Kurukshetra Kehidupan

Krishna memilih jalan berbeda. Ketika dunia membutuhkan penegakan dharma, ia tidak pergi mencari tempat suci; justru ia menghadirkan kesucian dalam tindakan. Baginya, Kurukshetra, dengan segala kekacauannya, adalah altar pengorbanan yang sesungguhnya.

Krishna tahu bahwa menghindari perang adalah pilihan mudah. Ia juga bisa berkeliling tempat suci bersama Balaram, menikmati ketenangan bathin pribadi. Apalagi sebagai seorang Avatar, bukit Govardan saja bisa diangkat dengan jari kelingking. Dengan melepas chakra Sudarshana sekali saja, bisa jadi seluruh kubu Kurawa akan musnah. Namun, Krishana tetap turun langsung ke medan laga, bahkan “menurunkan derajat, hanya sebagai sais Arjuna”. Ia sadar:
dharma harus ditegakkan di dunia nyata — di ruang publik, dalam keputusan sulit, dalam konflik etika dan sosial.

Jalan Krishna adalah jalan yang tidak populer:

  • harus menyaksikan sahabat tersakiti,
  • harus menegur penguasa,
  • harus mengambil risiko kehilangan kenyamanan,
  • bahkan harus berjuang tanpa kehilangan kewarasan di tengah kekerasan, fitnah, dan kesalahpahaman.

Di Bali dan Indonesia hari ini, jalan Krishna sangat relevan. Kita membutuhkan lebih banyak “Krishna”—orang-orang yang berani turun tangan dalam “medan perang” zaman modern: birokrasi yang lamban, lingkungan yang rusak, pariwisata yang tidak berkelanjutan, politik uang, kekerasan struktural, hingga ketidakadilan ekonomi.

Krishna mengajarkan bahwa spiritualitas bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menghadirkan cahaya spiritual di tempat yang paling gelap.

Relevansi di Bali dan Indonesia: Ritual Tanpa Dharma adalah Kekosongan

Secara lahiriah, Bali tampak sebagai pulau sorga yang memesona. Upacara berlangsung hampir setiap hari, dupa menyala di setiap rumah, dan pakaian adat menghiasi berbagai sudut. Namun dalam praktik kehidupan publik, ada torehan luka, yang kita harus jujur mengakui bahwa:

  • etika dalam lalu lintas memburuk,
  • generasi muda terseret arus konsumerisme,
  • tanah dijual tanpa pertimbangan masa depan,
  • konflik internal desa tiada henti,
  • pejabat publik kadang lebih dekat pada kepentingan pribadi daripada dharma.

Di tingkat nasional, fenomenanya serupa: rumah ibadah bertambah, tetapi perilaku koruptif tetap menjamur; ritual keagamaan semarak, tetapi kekerasan verbal dan kebencian sosial masih marak; simbol suci ditinggikan, tetapi nilai luhur sering dikalahkan ambisi politik.

Di sinilah kita melihat dengan gamblang bahwa ritual tanpa etika dan dharma, tidak pernah membentuk peradaban.

Dharma hanya tumbuh ketika manusia hadir seperti Krishna: konsisten, berani, dan rasional, serta tetap teguh tanpa kehilangan kewarasan dalam memperjuangkan kebenaran.

Menyatukan Dua Jalan: Ritual yang Menumbuhkan Keberanian

Kita tidak perlu memilih secara ekstrem. Jalan terbaik justru menggabungkan keduanya:
kesucian batin ala Balaram dan keberanian bertindak ala Krishna.

Ritual seharusnya menjadi fondasi mental, bukan ruang pelarian.
Tempat suci seharusnya menjadi stasiun pengisian batin, bukan terminal untuk menghindari tanggung jawab.

Yang dibutuhkan Bali dan Indonesia bukan lebih banyak tempat suci atau lebih banyak upacara, melainkan lebih banyak manusia yang siap berdiri di Kurukshetra ketika dharma dipertaruhkan.

Sebab bagi Krishna, tempat suci bukan hanya di Gunung Kailash, Ganga, atau Mathura—
tempat suci adalah tempat di mana kita berjuang demi kebenaran.

Kita sedang hidup di era yang menentukan: Bali dan Indonesia berada di persimpangan antara simbol dan substansi, antara tradisi dan transformasi. Kisah Krishna dan Balaram kembali hadir sebagai cermin:

  • Apakah kita hanya ingin berjalan dari tempat suci satu ke tempat suci lainnya?
  • Atau menjadikan dunia ini sebagai medan pengabdian?

Ritual penting. Kesucian penting. Tetapi yang paling penting adalah dharma, kebenaran dan kebajikan, yang diperjuangkan dengan keberanian dan kewarasan.

Dan mungkin inilah panggilan zaman kita:
tidak sekadar menyalakan dupa, tetapi membawa cahaya dupa itu masuk ke tengah gelapnya kehidupan, seperti Krishna di Kurukshetra. Dan menentukan sikap apakah berada di jalan Balaram atau Krishna, adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan punya konsekuensi karena hukum karma tidak pernah salah sasaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaladewafilsafatKresnaMahabharatawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Next Post

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co