2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 18, 2025
in Esai
Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Gambar tokohwayangpurwa.blogspot.com

KISAH Mahabharata bukan sekadar legenda berusia lima milenium; ia adalah kitab kehidupan yang terus hidup dalam dinamika manusia. Di dalamnya, dua kakak-adik—Balaram dan Krishna—menunjukkan dua jalur pilihan tindakan yang sama-sama mulia namun sangat berbeda. Balarama memilih tirthayatra, mengembara dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya demi menjaga kemurnian batin. Krishna justru mengambil sikap berlawanan: baginya, Kurukshetra—medan perang yang penuh intrik, ketakutan, dan darah—adalah tempat suci yang harus diteguhkan. Sebab dharma tidak ditegakkan di tempat-tempat sunyi, melainkan di tengah hiruk pikuk kehidupan, tanpa kehilangan kewarasan.

Kedua jalan ini sangat relevan bagi Bali dan Indonesia saat ini: apakah kita memilih jalan ritual belaka, ataukah kita siap berkarya dan berjuang di tengah keriuhan dunia nyata? Kisah ini menampar kesadaran kita, mengingatkan bahwa suci bukan hanya urusan tempat suci dan air suci, tetapi juga keberanian mengutamakan integritas di tengah dunia yang kacau.

Jalan Balaram: Antara Ritual dan Pelarian

Ketika Mahabharata mencapai puncaknya, Balaram memilih untuk tidak terlibat. Ia berkelana dari satu tempat suci ke tempat suci lain, melakukan perjalanan untuk merawat kesucian batinnya. Dalam tradisi Sanatana Dharma, jalan ini sah, benar, dan mulia. Ritual bukanlah kesalahan. Tirthayatra adalah bagian dari devosi.

Namun, persoalannya muncul ketika ritual menjadi pelarian dari tanggung jawab sosial.

Di Bali, aktivitas spiritual seperti melukat, tirtayatra, dan ratusan upacara yadnya lain dilakukan setiap hari hampir tanpa jeda. Tetapi kenyataan sosial sering kali tidak sejalan: sampah berserakan di tempat suci, antrean kacau, orang berebut tempat untuk foto, dan perilaku publik tak selalu mencerminkan kesadaran yang sama tinggi dengan ritualnya.

Bali menjadi pulau dengan ribuan pura, tetapi masih bergulat dengan:

  • korupsi dan penyelewengan dana desa,
  • ketimpangan ekonomi,
  • sampah yang menumpuk,
  • pelecehan nilai budaya demi kepentingan ekonomi,
  • masih adanya kemiskinan ekstrim,
  • serta hilangnya keteladanan moral para pemimpin maupun pemerintah.

Ritual yang seharusnya menjadi jalan transformasi diri, tak jarang berubah menjadi rutinitas kosmetik. Bahkan ada yang merasa cukup suci hanya karena sudah melukat, padahal perilaku sehari-harinya jauh dari kesucian.

Inilah bahaya jalan Balaram bila tidak diiringi kesadaran:
ritual tanpa etika hanya memperbesar ego seolah-olah sudah berada di jalur spiritual.

Jalan Krishna: Turun ke Kurukshetra Kehidupan

Krishna memilih jalan berbeda. Ketika dunia membutuhkan penegakan dharma, ia tidak pergi mencari tempat suci; justru ia menghadirkan kesucian dalam tindakan. Baginya, Kurukshetra, dengan segala kekacauannya, adalah altar pengorbanan yang sesungguhnya.

Krishna tahu bahwa menghindari perang adalah pilihan mudah. Ia juga bisa berkeliling tempat suci bersama Balaram, menikmati ketenangan bathin pribadi. Apalagi sebagai seorang Avatar, bukit Govardan saja bisa diangkat dengan jari kelingking. Dengan melepas chakra Sudarshana sekali saja, bisa jadi seluruh kubu Kurawa akan musnah. Namun, Krishana tetap turun langsung ke medan laga, bahkan “menurunkan derajat, hanya sebagai sais Arjuna”. Ia sadar:
dharma harus ditegakkan di dunia nyata — di ruang publik, dalam keputusan sulit, dalam konflik etika dan sosial.

Jalan Krishna adalah jalan yang tidak populer:

  • harus menyaksikan sahabat tersakiti,
  • harus menegur penguasa,
  • harus mengambil risiko kehilangan kenyamanan,
  • bahkan harus berjuang tanpa kehilangan kewarasan di tengah kekerasan, fitnah, dan kesalahpahaman.

Di Bali dan Indonesia hari ini, jalan Krishna sangat relevan. Kita membutuhkan lebih banyak “Krishna”—orang-orang yang berani turun tangan dalam “medan perang” zaman modern: birokrasi yang lamban, lingkungan yang rusak, pariwisata yang tidak berkelanjutan, politik uang, kekerasan struktural, hingga ketidakadilan ekonomi.

Krishna mengajarkan bahwa spiritualitas bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menghadirkan cahaya spiritual di tempat yang paling gelap.

Relevansi di Bali dan Indonesia: Ritual Tanpa Dharma adalah Kekosongan

Secara lahiriah, Bali tampak sebagai pulau sorga yang memesona. Upacara berlangsung hampir setiap hari, dupa menyala di setiap rumah, dan pakaian adat menghiasi berbagai sudut. Namun dalam praktik kehidupan publik, ada torehan luka, yang kita harus jujur mengakui bahwa:

  • etika dalam lalu lintas memburuk,
  • generasi muda terseret arus konsumerisme,
  • tanah dijual tanpa pertimbangan masa depan,
  • konflik internal desa tiada henti,
  • pejabat publik kadang lebih dekat pada kepentingan pribadi daripada dharma.

Di tingkat nasional, fenomenanya serupa: rumah ibadah bertambah, tetapi perilaku koruptif tetap menjamur; ritual keagamaan semarak, tetapi kekerasan verbal dan kebencian sosial masih marak; simbol suci ditinggikan, tetapi nilai luhur sering dikalahkan ambisi politik.

Di sinilah kita melihat dengan gamblang bahwa ritual tanpa etika dan dharma, tidak pernah membentuk peradaban.

Dharma hanya tumbuh ketika manusia hadir seperti Krishna: konsisten, berani, dan rasional, serta tetap teguh tanpa kehilangan kewarasan dalam memperjuangkan kebenaran.

Menyatukan Dua Jalan: Ritual yang Menumbuhkan Keberanian

Kita tidak perlu memilih secara ekstrem. Jalan terbaik justru menggabungkan keduanya:
kesucian batin ala Balaram dan keberanian bertindak ala Krishna.

Ritual seharusnya menjadi fondasi mental, bukan ruang pelarian.
Tempat suci seharusnya menjadi stasiun pengisian batin, bukan terminal untuk menghindari tanggung jawab.

Yang dibutuhkan Bali dan Indonesia bukan lebih banyak tempat suci atau lebih banyak upacara, melainkan lebih banyak manusia yang siap berdiri di Kurukshetra ketika dharma dipertaruhkan.

Sebab bagi Krishna, tempat suci bukan hanya di Gunung Kailash, Ganga, atau Mathura—
tempat suci adalah tempat di mana kita berjuang demi kebenaran.

Kita sedang hidup di era yang menentukan: Bali dan Indonesia berada di persimpangan antara simbol dan substansi, antara tradisi dan transformasi. Kisah Krishna dan Balaram kembali hadir sebagai cermin:

  • Apakah kita hanya ingin berjalan dari tempat suci satu ke tempat suci lainnya?
  • Atau menjadikan dunia ini sebagai medan pengabdian?

Ritual penting. Kesucian penting. Tetapi yang paling penting adalah dharma, kebenaran dan kebajikan, yang diperjuangkan dengan keberanian dan kewarasan.

Dan mungkin inilah panggilan zaman kita:
tidak sekadar menyalakan dupa, tetapi membawa cahaya dupa itu masuk ke tengah gelapnya kehidupan, seperti Krishna di Kurukshetra. Dan menentukan sikap apakah berada di jalan Balaram atau Krishna, adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan punya konsekuensi karena hukum karma tidak pernah salah sasaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaladewafilsafatKresnaMahabharatawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Next Post

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co