2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 18, 2025
in Esai
Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Gambar tokohwayangpurwa.blogspot.com

KISAH Mahabharata bukan sekadar legenda berusia lima milenium; ia adalah kitab kehidupan yang terus hidup dalam dinamika manusia. Di dalamnya, dua kakak-adik—Balaram dan Krishna—menunjukkan dua jalur pilihan tindakan yang sama-sama mulia namun sangat berbeda. Balarama memilih tirthayatra, mengembara dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya demi menjaga kemurnian batin. Krishna justru mengambil sikap berlawanan: baginya, Kurukshetra—medan perang yang penuh intrik, ketakutan, dan darah—adalah tempat suci yang harus diteguhkan. Sebab dharma tidak ditegakkan di tempat-tempat sunyi, melainkan di tengah hiruk pikuk kehidupan, tanpa kehilangan kewarasan.

Kedua jalan ini sangat relevan bagi Bali dan Indonesia saat ini: apakah kita memilih jalan ritual belaka, ataukah kita siap berkarya dan berjuang di tengah keriuhan dunia nyata? Kisah ini menampar kesadaran kita, mengingatkan bahwa suci bukan hanya urusan tempat suci dan air suci, tetapi juga keberanian mengutamakan integritas di tengah dunia yang kacau.

Jalan Balaram: Antara Ritual dan Pelarian

Ketika Mahabharata mencapai puncaknya, Balaram memilih untuk tidak terlibat. Ia berkelana dari satu tempat suci ke tempat suci lain, melakukan perjalanan untuk merawat kesucian batinnya. Dalam tradisi Sanatana Dharma, jalan ini sah, benar, dan mulia. Ritual bukanlah kesalahan. Tirthayatra adalah bagian dari devosi.

Namun, persoalannya muncul ketika ritual menjadi pelarian dari tanggung jawab sosial.

Di Bali, aktivitas spiritual seperti melukat, tirtayatra, dan ratusan upacara yadnya lain dilakukan setiap hari hampir tanpa jeda. Tetapi kenyataan sosial sering kali tidak sejalan: sampah berserakan di tempat suci, antrean kacau, orang berebut tempat untuk foto, dan perilaku publik tak selalu mencerminkan kesadaran yang sama tinggi dengan ritualnya.

Bali menjadi pulau dengan ribuan pura, tetapi masih bergulat dengan:

  • korupsi dan penyelewengan dana desa,
  • ketimpangan ekonomi,
  • sampah yang menumpuk,
  • pelecehan nilai budaya demi kepentingan ekonomi,
  • masih adanya kemiskinan ekstrim,
  • serta hilangnya keteladanan moral para pemimpin maupun pemerintah.

Ritual yang seharusnya menjadi jalan transformasi diri, tak jarang berubah menjadi rutinitas kosmetik. Bahkan ada yang merasa cukup suci hanya karena sudah melukat, padahal perilaku sehari-harinya jauh dari kesucian.

Inilah bahaya jalan Balaram bila tidak diiringi kesadaran:
ritual tanpa etika hanya memperbesar ego seolah-olah sudah berada di jalur spiritual.

Jalan Krishna: Turun ke Kurukshetra Kehidupan

Krishna memilih jalan berbeda. Ketika dunia membutuhkan penegakan dharma, ia tidak pergi mencari tempat suci; justru ia menghadirkan kesucian dalam tindakan. Baginya, Kurukshetra, dengan segala kekacauannya, adalah altar pengorbanan yang sesungguhnya.

Krishna tahu bahwa menghindari perang adalah pilihan mudah. Ia juga bisa berkeliling tempat suci bersama Balaram, menikmati ketenangan bathin pribadi. Apalagi sebagai seorang Avatar, bukit Govardan saja bisa diangkat dengan jari kelingking. Dengan melepas chakra Sudarshana sekali saja, bisa jadi seluruh kubu Kurawa akan musnah. Namun, Krishana tetap turun langsung ke medan laga, bahkan “menurunkan derajat, hanya sebagai sais Arjuna”. Ia sadar:
dharma harus ditegakkan di dunia nyata — di ruang publik, dalam keputusan sulit, dalam konflik etika dan sosial.

Jalan Krishna adalah jalan yang tidak populer:

  • harus menyaksikan sahabat tersakiti,
  • harus menegur penguasa,
  • harus mengambil risiko kehilangan kenyamanan,
  • bahkan harus berjuang tanpa kehilangan kewarasan di tengah kekerasan, fitnah, dan kesalahpahaman.

Di Bali dan Indonesia hari ini, jalan Krishna sangat relevan. Kita membutuhkan lebih banyak “Krishna”—orang-orang yang berani turun tangan dalam “medan perang” zaman modern: birokrasi yang lamban, lingkungan yang rusak, pariwisata yang tidak berkelanjutan, politik uang, kekerasan struktural, hingga ketidakadilan ekonomi.

Krishna mengajarkan bahwa spiritualitas bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menghadirkan cahaya spiritual di tempat yang paling gelap.

Relevansi di Bali dan Indonesia: Ritual Tanpa Dharma adalah Kekosongan

Secara lahiriah, Bali tampak sebagai pulau sorga yang memesona. Upacara berlangsung hampir setiap hari, dupa menyala di setiap rumah, dan pakaian adat menghiasi berbagai sudut. Namun dalam praktik kehidupan publik, ada torehan luka, yang kita harus jujur mengakui bahwa:

  • etika dalam lalu lintas memburuk,
  • generasi muda terseret arus konsumerisme,
  • tanah dijual tanpa pertimbangan masa depan,
  • konflik internal desa tiada henti,
  • pejabat publik kadang lebih dekat pada kepentingan pribadi daripada dharma.

Di tingkat nasional, fenomenanya serupa: rumah ibadah bertambah, tetapi perilaku koruptif tetap menjamur; ritual keagamaan semarak, tetapi kekerasan verbal dan kebencian sosial masih marak; simbol suci ditinggikan, tetapi nilai luhur sering dikalahkan ambisi politik.

Di sinilah kita melihat dengan gamblang bahwa ritual tanpa etika dan dharma, tidak pernah membentuk peradaban.

Dharma hanya tumbuh ketika manusia hadir seperti Krishna: konsisten, berani, dan rasional, serta tetap teguh tanpa kehilangan kewarasan dalam memperjuangkan kebenaran.

Menyatukan Dua Jalan: Ritual yang Menumbuhkan Keberanian

Kita tidak perlu memilih secara ekstrem. Jalan terbaik justru menggabungkan keduanya:
kesucian batin ala Balaram dan keberanian bertindak ala Krishna.

Ritual seharusnya menjadi fondasi mental, bukan ruang pelarian.
Tempat suci seharusnya menjadi stasiun pengisian batin, bukan terminal untuk menghindari tanggung jawab.

Yang dibutuhkan Bali dan Indonesia bukan lebih banyak tempat suci atau lebih banyak upacara, melainkan lebih banyak manusia yang siap berdiri di Kurukshetra ketika dharma dipertaruhkan.

Sebab bagi Krishna, tempat suci bukan hanya di Gunung Kailash, Ganga, atau Mathura—
tempat suci adalah tempat di mana kita berjuang demi kebenaran.

Kita sedang hidup di era yang menentukan: Bali dan Indonesia berada di persimpangan antara simbol dan substansi, antara tradisi dan transformasi. Kisah Krishna dan Balaram kembali hadir sebagai cermin:

  • Apakah kita hanya ingin berjalan dari tempat suci satu ke tempat suci lainnya?
  • Atau menjadikan dunia ini sebagai medan pengabdian?

Ritual penting. Kesucian penting. Tetapi yang paling penting adalah dharma, kebenaran dan kebajikan, yang diperjuangkan dengan keberanian dan kewarasan.

Dan mungkin inilah panggilan zaman kita:
tidak sekadar menyalakan dupa, tetapi membawa cahaya dupa itu masuk ke tengah gelapnya kehidupan, seperti Krishna di Kurukshetra. Dan menentukan sikap apakah berada di jalan Balaram atau Krishna, adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan punya konsekuensi karena hukum karma tidak pernah salah sasaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaladewafilsafatKresnaMahabharatawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Next Post

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co