14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Medan ke Toba: Ziarah Ilmu dan Rasa Kopi di Tanah Batak

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 15, 2025
in Tualang
Dari Medan ke Toba: Ziarah Ilmu dan Rasa Kopi di Tanah Batak

Dari Medan ke Toba: Ziarah Ilmu dan Rasa Kopi di Tanah Batak

SUDAH beberapa kali saya datang ke Medan. Kalau dihitung dengan benar, sudah lima kali. Namun setiap kedatangan selalu membawa rasa baru, seolah kota ini punya cara sendiri menyambut siapa pun yang datang dengan niat belajar, berdiskusi, atau sekadar meneguk secangkir kopi panas di pagi yang lembab. Medan, dengan segala denyut dan riuhnya, bukan sekadar kota besar di utara Sumatra, melainkan ruang pertemuan antara pengetahuan, budaya, dan kehangatan manusia.

Jejak Pertama di Tanah Batak (1990)

Akhir tahun 1990, saya pertama kali menjejakkan kaki di Medan. Waktu itu saya masih muda, menjadi asisten peneliti di bawah bimbingan dosen saya yang bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Penerangan RI. Kami bergabung dalam rombongan besar Departemen Penerangan yang dipimpin oleh Menteri Harmoko, untuk menghadiri Pekan Penerangan Pedesaan Nasional di Lubuk Palas, Kabupaten Asahan, yaitu kegiatan rutin tahunan, sebuah pertemuan besar antara kelompok tani, nelayan, dan Kelompencapir (kelompok pembaca, pendengar, dan pemirsa) dari seluruh Indonesia.

Namun perjalanan menuju Sumatra Utara bukanlah perjalanan biasa. Kami berangkat dari kantor Departemen Penerangan di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, tempat yang kini menjadi Kementerian Kominfo, berangkat dengan bus DAMRI berkapasitas besar. Dari jendela bus, saya melihat ibu kota perlahan tertinggal; gedung-gedung tinggi berubah menjadi hamparan sawah dan pepohonan di pinggiran kota.

Perjalanan darat lintas Sumatra kala itu memerlukan ketabahan dan rasa ingin tahu. Jalan panjang berliku, diselingi tanjakan dan turunan yang menuntut kesabaran. Namun justru di situlah romantismenya. Setiap kilometer menghadirkan pemandangan baru, yakni perkampungan sederhana, hamparan sawit dan karet, hingga anak-anak kecil yang melambai di tepi jalan ketika bus melintas.

Berlayar menuju Pulau Samosir | Foto Dok.Penulis

Titik pemberhentian pertama kami adalah Lampung Utara, setelah menyeberang dengan ferry dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni. Di rumah makan sederhana di tepi jalan, kami menikmati makan siang pertama di tanah Sumatra: nasi hangat, ikan bakar, sambal hijau, dan lalapan segar. Rasanya nikmat bukan semata karena bumbunya, tapi karena aroma petualangan yang mulai terasa di udara.

Sore harinya bus kembali melaju, kali ini menembus wilayah Sumatra Barat. Kami berhenti di Lubuk Sikaping untuk makan malam. Udara mulai dingin, dan saya masih ingat betapa hangatnya semangkuk soto Padang yang mengepul di hadapan kami. Di luar, kabut turun perlahan, menutupi jalan berliku di perbukitan. Malam itu, suara mesin bus menjadi musik perjalanan, berirama lembut di tengah gelap hutan tropis.

Keesokan harinya kami tiba di Lubuk Palas, Kabupaten Asahan, lokasi kegiatan besar itu. Di sana, ratusan peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam semangat kebersamaan. Ada kelompok tani, nelayan, penyuluh, dan anggota Kelompencapir dari penjuru Nusantara. Mereka bertukar cerita tentang hasil bumi, radio, dan cara hidup di desa masing-masing. Saya muda waktu itu, namun sudah merasakan denyut keindonesiaan yang sejati, yaitu semangat untuk belajar, berbagi, dan membangun dari akar rumput.

Rumah Raja Batak | Foto Dok.Penulis

Medan dan daerah-daerah sekitarnya, bagi saya, sejak itu bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang perjumpaan antara ilmu dan kehidupan. Seusai kegiatan, kami diajak berkeliling ke Istana Maimun, Berastagi, Parapat, hingga Danau Toba. Saya masih ingat bagaimana bus menuruni lembah menuju Parapat, dan hamparan air danau biru perlahan tampak di kejauhan, tenang, luas, dan seolah tak bertepi. Saat itu, saya tak menyangka bahwa danau itu kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan batin saya.

Kembali sebagai Akademisi

Kunjungan kedua saya ke Medan terjadi bertahun-tahun kemudian, dalam suasana berbeda: Kongres Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) ke-III. Saya datang bukan lagi sebagai asisten peneliti muda, melainkan sebagai dosen yang sudah lama bergelut di dunia akademik. Medan menyambut saya dengan wajah baru: lebih ramai, lebih modern, namun tetap dengan kehangatan khasnya. Di sela forum akademik yang padat, kopi Medan selalu menjadi penyambung obrolan yang nyaman tentang ilmu, kampus, dan masa depan komunikasi Indonesia.

Kunjungan ketiga membawa nuansa yang lebih personal. Saya memimpin rombongan FISIP Untirta untuk menjalin kerja sama akademik dengan FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Dalam kesempatan itu, saya diminta memberikan kuliah umum kepada mahasiswa pascasarjana ilmu komunikasi.

Di ruang kuliah USU yang teduh, saya merasakan suasana yang akrab namun intelektual, dan semangat mahasiswa yang kritis, sopan, penuh rasa ingin tahu. Usai kuliah, kami duduk di warung kecil dekat kampus, menikmati kopi hitam dan gorengan hangat. Saya tertegun, betapa keilmuan pun bisa lahir dari obrolan sederhana di bawah pohon ketapang yang rindang.

Ritual Pagi di Kota Medan

Ada satu kebiasaan kecil yang selalu saya jaga setiap kali bermalam di Medan: bangun lebih pagi untuk berolahraga ringan sambil menelusuri jalanan kota yang mulai hidup. Udara pagi di Medan membawa kelembapan khas, yang sedikit berat, namun segar dengan aroma tanah dan dedaunan. Biasanya saya berjalan kaki di sekitar hotel, melihat pedagang mulai menata gerobak, anak-anak berangkat sekolah, dan para pekerja bersiap menuju kantor.

Foto bersama setelah menari Sigale-gale | Foto Dok.Penulis

Sesekali saya berhenti di taman kecil atau trotoar lebar yang rindang, hanya untuk merasakan ritme pagi kota ini. Selesai berjalan, bukan berarti saya langsung kembali ke hotel untuk sarapan. Justru di situlah petualangan kecil saya baru mulai yaitu, mencari sarapan khas Melayu Medan. Bukan karena sarapan hotel tidak enak, melainkan karena saya ingin mencicipi rasa sarapan orang Medan yang sesungguhnya.

Di sudut jalan, aroma nasi gurih dan sambal teri kacang dari nasi lemak memanggil dari warung kecil beratap seng. Di tempat lain, saya menemukan lontong Medan yang lengkap dengan tauco, sayur labu, dan telur balado. Kadang juga roti jala hangat dengan kuah kari ayam yang lembut. Semuanya disajikan dengan senyum ramah dan sapaan khas: “Sudah pagi, bang?”, sapaan sederhana yang terasa begitu akrab.

Sarapan-sarapan itu, bagi saya, bukan hanya soal rasa, melainkan tentang cara masyarakat Medan menyambut hari dengan semangat, kesederhanaan, dan kehangatan.

Sahabat dan Ulang Tahun di Kota yang Sama

Kunjungan keempat punya makna emosional tersendiri. Saya datang untuk menghadiri pengukuhan sahabat karib saya, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain Siregar, sebagai guru besar ilmu komunikasi. Melihat beliau berdiri di podium dengan toga dan kebesaran akademik, saya merasakan getar haru. Persahabatan kami telah tumbuh puluhan tahun, melalui seminar, riset, dan dialog panjang tentang makna komunikasi yang sejati. Di balik tepuk tangan dan bunga ucapan selamat, saya melihat perjalanan panjang seorang ilmuwan yang tak hanya berjuang dengan otak, tapi juga dengan hati.

Kunjungan kelima menjadi penutup yang paling berkesan. Saya diundang untuk menjadi penguji dalam sidang promosi doktor ilmu komunikasi atas nama Dr. Haris Wijaya. Yang membuatnya istimewa, sidang itu bertepatan dengan hari kelahiran saya, yaitu 4 Juli 2025. Hari itu saya genap berusia 60 tahun. Di ruangan ujian yang penuh wibawa itu, saya duduk sebagai penguji, namun di hati saya terasa seperti sedang diuji oleh waktu: tentang makna perjalanan panjang, tentang ilmu, dan tentang pengabdian.

Setelah sidang selesai, kami merayakannya sederhana saja, secangkir kopi, seiris kue, dengan kolega dosen penguji di kedai rektorat USU, kafe gedung Digital Learning Centre Building (DLCB), kemudian berswafoto, dan tawa ringan yang menandai pertemanan lintas generasi.

Ritual Kuliner dan Aroma Kopi

Setiap kali datang ke Medan, ada ritual kecil yang tak pernah saya lewatkan: mencicipi kuliner lokal dan tentu saja, kopi. Kopi Medan bukan sekadar minuman, melainkan medium percakapan. Kadang di warung pinggir jalan, kadang di kafe yang tenang di sekitar USU, atau di tengah hiruk-pikuk Pasar Petisah. Dan tentu saja, durian Ucok, yang selalu menjadi penutup manis setiap perjalanan.

Menikmati durian Ucok | Foto Dok.Penulis

Namun dari semua pengalaman indrawi itu, yang paling saya rindukan adalah perjalanan menuju Danau Toba. Tiga dari lima kunjungan saya ke Medan berlanjut ke danau legendaris itu. Perjalanan dari Medan menuju Parapat selalu menjadi semacam ziarah kecil: bus melaju di antara perkebunan sawit yang luas, menanjak dan menurun mengikuti lekuk perbukitan. Dari jendela, saya melihat tebing hijau, kabut tipis, dan kadang rumah-rumah kayu dengan ukiran khas Batak. Alam berbicara dengan cara yang lembut, mengajarkan keseimbangan antara kekuatan dan ketenangan.

Toba: Cermin Diri dan Alam

Danau Toba bagi saya bukan sekadar objek wisata, tapi cermin yang memantulkan perjalanan batin. Di tepi danau itu, di antara riak air yang berkilau diterpa cahaya sore, saya kerap merenung: tentang usia, tentang ilmu yang saya jalani, tentang persahabatan yang tumbuh dari percakapan panjang di kampus dan jalanan. Air Toba seolah menampung segala tanya dan rasa yang tak sempat diucapkan.

Bersama istri tercinta dan Sigale-gale | Foto Dok.Penulis

Saya selalu percaya, setiap perjalanan yang dijalani dengan hati terbuka akan menjadi semacam ziarah. Ziarah bukan sekadar soal tempat, tetapi tentang menemukan kembali makna diri di tengah ruang dan waktu yang terus bergerak. Medan dan Toba telah menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik dan spiritual saya, yakni antara diskusi ilmiah dan keheningan alam, antara suara seminar dan desir angin danau.

Medan juga tak lepas dari budaya dan pariwisata. Salah satunya adalah boneka Sigale-gale, yang konon sudah ada sejak 400 tahun silam. Ceritanya, ada seorang raja di Huta Samosir memiliki seorang anak laki-laki. Raja dari Samosir itu memerintahkan anaknya yang bernama Manggale melakukan perlawanan untuk merebut daerah di sekitarnya. Namun Manggale tewas dalam pertempuran itu. Sang raja pun bersedih dan terpukul karena Manggale adalah satu-satunya pewaris keturunan dari raja tersebut. Sang Raja jatuh sakit karena memikirkan sang anak.

Untuk mengobati kesedihan sang raja, para penasihat membuatkan patung kayu menyerupai wajah anaknya. Kemudian dilakukan upacara pemanggilan arwah dari anak raja tersebut. Patung itu lalu ditunjukkan kepada sang raja yang akhirnya kembali bergembira dan sembuh. Patung atau boneka Sigale-gale kini menjadi salah satu daya tarik wisata.

Di usia enam puluh, saya merasa setiap perjalanan ke Medan adalah bagian dari proses belajar yang tak pernah selesai. Kota ini telah memberi saya banyak: sahabat, pengalaman, pengetahuan, dan tentu saja, rasa syukur. Dan mungkin, jika kelak saya datang lagi ke Medan, saya akan kembali menyesap kopi di pagi yang lembab itu, sebagai tanda bahwa ilmu dan kehidupan, seperti kopi yang baik, selalu punya aroma yang tak pernah pudar. Horras. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kota MedanSumatera UtaraToba
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Next Post

Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co