2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Medan ke Toba: Ziarah Ilmu dan Rasa Kopi di Tanah Batak

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 15, 2025
in Tualang
Dari Medan ke Toba: Ziarah Ilmu dan Rasa Kopi di Tanah Batak

Dari Medan ke Toba: Ziarah Ilmu dan Rasa Kopi di Tanah Batak

SUDAH beberapa kali saya datang ke Medan. Kalau dihitung dengan benar, sudah lima kali. Namun setiap kedatangan selalu membawa rasa baru, seolah kota ini punya cara sendiri menyambut siapa pun yang datang dengan niat belajar, berdiskusi, atau sekadar meneguk secangkir kopi panas di pagi yang lembab. Medan, dengan segala denyut dan riuhnya, bukan sekadar kota besar di utara Sumatra, melainkan ruang pertemuan antara pengetahuan, budaya, dan kehangatan manusia.

Jejak Pertama di Tanah Batak (1990)

Akhir tahun 1990, saya pertama kali menjejakkan kaki di Medan. Waktu itu saya masih muda, menjadi asisten peneliti di bawah bimbingan dosen saya yang bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Penerangan RI. Kami bergabung dalam rombongan besar Departemen Penerangan yang dipimpin oleh Menteri Harmoko, untuk menghadiri Pekan Penerangan Pedesaan Nasional di Lubuk Palas, Kabupaten Asahan, yaitu kegiatan rutin tahunan, sebuah pertemuan besar antara kelompok tani, nelayan, dan Kelompencapir (kelompok pembaca, pendengar, dan pemirsa) dari seluruh Indonesia.

Namun perjalanan menuju Sumatra Utara bukanlah perjalanan biasa. Kami berangkat dari kantor Departemen Penerangan di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, tempat yang kini menjadi Kementerian Kominfo, berangkat dengan bus DAMRI berkapasitas besar. Dari jendela bus, saya melihat ibu kota perlahan tertinggal; gedung-gedung tinggi berubah menjadi hamparan sawah dan pepohonan di pinggiran kota.

Perjalanan darat lintas Sumatra kala itu memerlukan ketabahan dan rasa ingin tahu. Jalan panjang berliku, diselingi tanjakan dan turunan yang menuntut kesabaran. Namun justru di situlah romantismenya. Setiap kilometer menghadirkan pemandangan baru, yakni perkampungan sederhana, hamparan sawit dan karet, hingga anak-anak kecil yang melambai di tepi jalan ketika bus melintas.

Berlayar menuju Pulau Samosir | Foto Dok.Penulis

Titik pemberhentian pertama kami adalah Lampung Utara, setelah menyeberang dengan ferry dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni. Di rumah makan sederhana di tepi jalan, kami menikmati makan siang pertama di tanah Sumatra: nasi hangat, ikan bakar, sambal hijau, dan lalapan segar. Rasanya nikmat bukan semata karena bumbunya, tapi karena aroma petualangan yang mulai terasa di udara.

Sore harinya bus kembali melaju, kali ini menembus wilayah Sumatra Barat. Kami berhenti di Lubuk Sikaping untuk makan malam. Udara mulai dingin, dan saya masih ingat betapa hangatnya semangkuk soto Padang yang mengepul di hadapan kami. Di luar, kabut turun perlahan, menutupi jalan berliku di perbukitan. Malam itu, suara mesin bus menjadi musik perjalanan, berirama lembut di tengah gelap hutan tropis.

Keesokan harinya kami tiba di Lubuk Palas, Kabupaten Asahan, lokasi kegiatan besar itu. Di sana, ratusan peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam semangat kebersamaan. Ada kelompok tani, nelayan, penyuluh, dan anggota Kelompencapir dari penjuru Nusantara. Mereka bertukar cerita tentang hasil bumi, radio, dan cara hidup di desa masing-masing. Saya muda waktu itu, namun sudah merasakan denyut keindonesiaan yang sejati, yaitu semangat untuk belajar, berbagi, dan membangun dari akar rumput.

Rumah Raja Batak | Foto Dok.Penulis

Medan dan daerah-daerah sekitarnya, bagi saya, sejak itu bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang perjumpaan antara ilmu dan kehidupan. Seusai kegiatan, kami diajak berkeliling ke Istana Maimun, Berastagi, Parapat, hingga Danau Toba. Saya masih ingat bagaimana bus menuruni lembah menuju Parapat, dan hamparan air danau biru perlahan tampak di kejauhan, tenang, luas, dan seolah tak bertepi. Saat itu, saya tak menyangka bahwa danau itu kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan batin saya.

Kembali sebagai Akademisi

Kunjungan kedua saya ke Medan terjadi bertahun-tahun kemudian, dalam suasana berbeda: Kongres Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) ke-III. Saya datang bukan lagi sebagai asisten peneliti muda, melainkan sebagai dosen yang sudah lama bergelut di dunia akademik. Medan menyambut saya dengan wajah baru: lebih ramai, lebih modern, namun tetap dengan kehangatan khasnya. Di sela forum akademik yang padat, kopi Medan selalu menjadi penyambung obrolan yang nyaman tentang ilmu, kampus, dan masa depan komunikasi Indonesia.

Kunjungan ketiga membawa nuansa yang lebih personal. Saya memimpin rombongan FISIP Untirta untuk menjalin kerja sama akademik dengan FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Dalam kesempatan itu, saya diminta memberikan kuliah umum kepada mahasiswa pascasarjana ilmu komunikasi.

Di ruang kuliah USU yang teduh, saya merasakan suasana yang akrab namun intelektual, dan semangat mahasiswa yang kritis, sopan, penuh rasa ingin tahu. Usai kuliah, kami duduk di warung kecil dekat kampus, menikmati kopi hitam dan gorengan hangat. Saya tertegun, betapa keilmuan pun bisa lahir dari obrolan sederhana di bawah pohon ketapang yang rindang.

Ritual Pagi di Kota Medan

Ada satu kebiasaan kecil yang selalu saya jaga setiap kali bermalam di Medan: bangun lebih pagi untuk berolahraga ringan sambil menelusuri jalanan kota yang mulai hidup. Udara pagi di Medan membawa kelembapan khas, yang sedikit berat, namun segar dengan aroma tanah dan dedaunan. Biasanya saya berjalan kaki di sekitar hotel, melihat pedagang mulai menata gerobak, anak-anak berangkat sekolah, dan para pekerja bersiap menuju kantor.

Foto bersama setelah menari Sigale-gale | Foto Dok.Penulis

Sesekali saya berhenti di taman kecil atau trotoar lebar yang rindang, hanya untuk merasakan ritme pagi kota ini. Selesai berjalan, bukan berarti saya langsung kembali ke hotel untuk sarapan. Justru di situlah petualangan kecil saya baru mulai yaitu, mencari sarapan khas Melayu Medan. Bukan karena sarapan hotel tidak enak, melainkan karena saya ingin mencicipi rasa sarapan orang Medan yang sesungguhnya.

Di sudut jalan, aroma nasi gurih dan sambal teri kacang dari nasi lemak memanggil dari warung kecil beratap seng. Di tempat lain, saya menemukan lontong Medan yang lengkap dengan tauco, sayur labu, dan telur balado. Kadang juga roti jala hangat dengan kuah kari ayam yang lembut. Semuanya disajikan dengan senyum ramah dan sapaan khas: “Sudah pagi, bang?”, sapaan sederhana yang terasa begitu akrab.

Sarapan-sarapan itu, bagi saya, bukan hanya soal rasa, melainkan tentang cara masyarakat Medan menyambut hari dengan semangat, kesederhanaan, dan kehangatan.

Sahabat dan Ulang Tahun di Kota yang Sama

Kunjungan keempat punya makna emosional tersendiri. Saya datang untuk menghadiri pengukuhan sahabat karib saya, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain Siregar, sebagai guru besar ilmu komunikasi. Melihat beliau berdiri di podium dengan toga dan kebesaran akademik, saya merasakan getar haru. Persahabatan kami telah tumbuh puluhan tahun, melalui seminar, riset, dan dialog panjang tentang makna komunikasi yang sejati. Di balik tepuk tangan dan bunga ucapan selamat, saya melihat perjalanan panjang seorang ilmuwan yang tak hanya berjuang dengan otak, tapi juga dengan hati.

Kunjungan kelima menjadi penutup yang paling berkesan. Saya diundang untuk menjadi penguji dalam sidang promosi doktor ilmu komunikasi atas nama Dr. Haris Wijaya. Yang membuatnya istimewa, sidang itu bertepatan dengan hari kelahiran saya, yaitu 4 Juli 2025. Hari itu saya genap berusia 60 tahun. Di ruangan ujian yang penuh wibawa itu, saya duduk sebagai penguji, namun di hati saya terasa seperti sedang diuji oleh waktu: tentang makna perjalanan panjang, tentang ilmu, dan tentang pengabdian.

Setelah sidang selesai, kami merayakannya sederhana saja, secangkir kopi, seiris kue, dengan kolega dosen penguji di kedai rektorat USU, kafe gedung Digital Learning Centre Building (DLCB), kemudian berswafoto, dan tawa ringan yang menandai pertemanan lintas generasi.

Ritual Kuliner dan Aroma Kopi

Setiap kali datang ke Medan, ada ritual kecil yang tak pernah saya lewatkan: mencicipi kuliner lokal dan tentu saja, kopi. Kopi Medan bukan sekadar minuman, melainkan medium percakapan. Kadang di warung pinggir jalan, kadang di kafe yang tenang di sekitar USU, atau di tengah hiruk-pikuk Pasar Petisah. Dan tentu saja, durian Ucok, yang selalu menjadi penutup manis setiap perjalanan.

Menikmati durian Ucok | Foto Dok.Penulis

Namun dari semua pengalaman indrawi itu, yang paling saya rindukan adalah perjalanan menuju Danau Toba. Tiga dari lima kunjungan saya ke Medan berlanjut ke danau legendaris itu. Perjalanan dari Medan menuju Parapat selalu menjadi semacam ziarah kecil: bus melaju di antara perkebunan sawit yang luas, menanjak dan menurun mengikuti lekuk perbukitan. Dari jendela, saya melihat tebing hijau, kabut tipis, dan kadang rumah-rumah kayu dengan ukiran khas Batak. Alam berbicara dengan cara yang lembut, mengajarkan keseimbangan antara kekuatan dan ketenangan.

Toba: Cermin Diri dan Alam

Danau Toba bagi saya bukan sekadar objek wisata, tapi cermin yang memantulkan perjalanan batin. Di tepi danau itu, di antara riak air yang berkilau diterpa cahaya sore, saya kerap merenung: tentang usia, tentang ilmu yang saya jalani, tentang persahabatan yang tumbuh dari percakapan panjang di kampus dan jalanan. Air Toba seolah menampung segala tanya dan rasa yang tak sempat diucapkan.

Bersama istri tercinta dan Sigale-gale | Foto Dok.Penulis

Saya selalu percaya, setiap perjalanan yang dijalani dengan hati terbuka akan menjadi semacam ziarah. Ziarah bukan sekadar soal tempat, tetapi tentang menemukan kembali makna diri di tengah ruang dan waktu yang terus bergerak. Medan dan Toba telah menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik dan spiritual saya, yakni antara diskusi ilmiah dan keheningan alam, antara suara seminar dan desir angin danau.

Medan juga tak lepas dari budaya dan pariwisata. Salah satunya adalah boneka Sigale-gale, yang konon sudah ada sejak 400 tahun silam. Ceritanya, ada seorang raja di Huta Samosir memiliki seorang anak laki-laki. Raja dari Samosir itu memerintahkan anaknya yang bernama Manggale melakukan perlawanan untuk merebut daerah di sekitarnya. Namun Manggale tewas dalam pertempuran itu. Sang raja pun bersedih dan terpukul karena Manggale adalah satu-satunya pewaris keturunan dari raja tersebut. Sang Raja jatuh sakit karena memikirkan sang anak.

Untuk mengobati kesedihan sang raja, para penasihat membuatkan patung kayu menyerupai wajah anaknya. Kemudian dilakukan upacara pemanggilan arwah dari anak raja tersebut. Patung itu lalu ditunjukkan kepada sang raja yang akhirnya kembali bergembira dan sembuh. Patung atau boneka Sigale-gale kini menjadi salah satu daya tarik wisata.

Di usia enam puluh, saya merasa setiap perjalanan ke Medan adalah bagian dari proses belajar yang tak pernah selesai. Kota ini telah memberi saya banyak: sahabat, pengalaman, pengetahuan, dan tentu saja, rasa syukur. Dan mungkin, jika kelak saya datang lagi ke Medan, saya akan kembali menyesap kopi di pagi yang lembab itu, sebagai tanda bahwa ilmu dan kehidupan, seperti kopi yang baik, selalu punya aroma yang tak pernah pudar. Horras. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kota MedanSumatera UtaraToba
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Next Post

Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Pentingnya Komunikasi Publik Bagi Pejabat Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co