2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Duet Maut: Bicara dengan Kata, Tubuh, dan Jiwa Antara Bambang Oeban & Imam Ma’arif di Festival Sastra Jakarta Barat 2025

Emi Suy by Emi Suy
December 8, 2025
in Panggung
Duet Maut: Bicara dengan Kata, Tubuh, dan Jiwa Antara Bambang Oeban & Imam Ma’arif di Festival Sastra Jakarta Barat 2025

Duet Maut: Bicara dengan Kata, Tubuh, dan Jiwa Antara Bambang Oeban & Imam Ma’arif di Festival Sastra Jakarta Barat 2025

KETIKA dua manusia dengan sejarah, luka, harapan, dan keberanian naik ke panggung pada malam itu panggung FSJB 2025 di Rawa Buaya saya menyadari bahwa apa yang kita saksikan bukan sekadar pertunjukan puisi, tetapi peristiwa. Sebuah peristiwa di mana puisi menjadi senjata, doa, napas, dan renungan. Duet antara Bambang Oeban dan Imam Ma’arif menjadi magnet tak terduga, yang menarik perhatian banyak orang bukan karena kejutan, melainkan karena ketulusan dan kedalaman.

Siapa Mereka: Sekilas Biografi dan Jejak Kreatif

Bambang Oeban nama asli Bambang Wahyono, lahir 10 Mei 1961 di Palembang adalah sosok multitalenta: aktor layar lebar, penyair, aktor teater, pelukis, penulis skenario, deklamator, sekaligus praktisi seni jalanan.

Ia dikenal sebagai bagian dari lingkar teater dan sastra alternatif, dengan latar belakang yang jauh dari glamor: seringkali tampil di ruang-ruang kecil, pentas komunitas, dan pementasan jalanan tempat di mana suara kecil, yang sering dilewatkan kota, bisa terdengar.

Menurut artikel “Bambang Oeban: Cara Seniman Membahagiakan Sesama Seniman”, ia memiliki sensitivitas rasa yang sangat dalam baik terhadap puisi maupun terhadap realitas sosial dan kemanusiaan di sekitarnya.

Karena itu, ia sering menjadi figur yang menjembatani antara seni dan komunitas; antara teater, lukisan, dan sastra; antara ruang formal dan ruang rakyat.

Sementara itu, Imam Ma’arif adalah penyair dan deklamator yang juga aktif dalam ekosistem seni Jakarta.

Ia termasuk anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dengan tanggung jawab pada Komisi Simpul Seni bagian dari upaya menjaga dan menghidupkan ekosistem kesenian, terutama bagi komunitas kecil dan sanggar di Jakarta.

Lewat puisinya, Imam kerap mengeksplorasi batas makna dan konvensi. Dalam kumpulan puisinya yang terbaru yang unik karena banyak puisi tanpa judul ia mengeksplorasi pembalikan makna, distorsi makna, bahkan “penciptaan makna baru” (creating of meaning) melalui penggunaan subyek-obyek yang terbalik, atau bahasa yang bermain di batas logika.

Menurut Imam Ma’arif proses kreatif dan hidupnya pernah melewati masa sulit dari jalanan, ngamen, hingga mengamen demi membeli buku, sampai akhirnya memilih total pada seni. Itulah latar belakang dua penyair berbeda asal, berbeda pengalaman hidup, tetapi sama-sama melabuhkan diri di dunia puisi, teater, dan komunitas seni.

Festival Sastra Jakarta Barat 2025 Latar Panggung, Suasana, dan Makna Kolektif

Festival ini digagas oleh komunitas lokal Komunitas Sastra Jakarta Barat sebagai ketua panitia pelaksana adalah Anto Ristargie dan diwakili oleh Emi Suy sebuah upaya untuk memberi ruang bagi warga kampung, komunitas sastra, seniman jalanan, penyair amatir, penyandang disabilitas, komunitas Betawi, hingga para seniman profesional agar semua suara bisa terdengar dalam satu hari bersama. Dalam konteks itu, kehadiran Bambang dan Imam pada malam akhir menjadi detik penting: pertama, sebagai penghormatan bagi akar komunitas; kedua, sebagai jembatan antara generasi; ketiga, sebagai penegasan bahwa seni dan sastra bukan milik elit.

Ruang yang sederhana, panggung kecil, lampu seadanya, kursi plastik semua menunjukkan bahwa festival ini lahir dari semangat gotong-royong, bukan dari anggaran besar. Tapi malam itu, panggung sederhana itu terasa sakral. Karena sastra tidak butuh megah; cukup dengan kejujuran, kata, dan tubuh yang berani.

Duet Maut: Detail Pertunjukan Atmosfer, Pola Baca, dan Resonansi Emosi

Kontras Visual, Kesatuan Suara

Saat Bambang berdiri dalam balutan gelap dan tubuh tegap, rambut panjang pirang menambah aura eksotis dan karismatiknya seolah dia panglima perang kata, siap mengguncang panggung dengan tubuhnya yang tegar dan suaranya yang berat. Beberapa rekan seni bahkan menyebutnya sebagai “elang hitam”, metafor tentang mata tajam yang mengamati, sayap kuat yang membentang, dan teriakan yang mengguncang.

Di sisi lain, Imam dengan rambut panjang putih, tubuh tinggi besar, berpakaian sederhana seperti seniman jalanan membawa aura berbeda: teduh, reflektif, tetapi bukan tanpa kekuatan. Wartawan yang pernah menulis profilnya di PojokTIM menyebut bahwa meskipun asalnya dari jalanan ngamen, menjadi juru parkir, bahkan sempat “mengamen demi buku” Imam berhasil memutar balik hidupnya lewat seni dan puisi.

Kontras ini bukan untuk mengeksploitasi perbedaan, melainkan untuk menunjukkan bahwa dalam keberbedaan itulah kekuatan muncul: gelap dan terang, getar dan tembang, tanah dan angkasa jadi satu nada.

Dua Ritme Puisi: Bumi dan Langit

Bambang membacakan puisi dengan intonasi berat, lambat, kadang menahan napas lama sebelum melontarkan kata-kata yang mengguncang tentang sejarah, kesengsaraan, penindasan, namun dibungkus dengan simbol-simbol kuat: tanah yang retak, akar yang mencengkram beton, sungai yang menangis. Ada kekuatan tangis yang terbungkus bahasa kasar, ada geram yang melebur dalam metafora puisi bukan sekadar dibaca, tetapi ditabuh.

Setelahnya, Imam mengambil giliran. Membaca dengan gaya berbeda penuh kehalusan, tetapi bukan lembek. Nada suaranya seperti embun malam yang menetes perlahan di daun, tipis tetapi mengendap: puisi tentang ruang batin, tentang harapan yang retak, tentang ingatan yang tersembunyi, tentang cinta kepada diri dan kota. Puisinya melepaskan diri dari judul ia tidak ingin struktur mengekang imajinasi pendengar.

Perpaduan dua gaya itu: ketika bumi bergetar, langit menyapa. Ketika akar berteriak, angin membawa damai. Itu bukan harmoni yang mulus; itu adalah kontras yang memanggil kesadaran. Ketika satu berbicara dari luka, yang lain dari harapan maka puisi menjadi utuh: merasakan masa lalu dan memimpikan masa depan dalam satu nafas.

Publik: Dari Hening Menjadi Tepuk Tangan Panjang

Saat mereka selesai, ruang berubah bukan dengan sorak ramai, tapi dengan keheningan berat, seperti semua orang menaruh kepala dalam doa. Baru kemudian, tepuk tangan pecah: panjang, bergelombang, penuh penghargaan. Beberapa penonton meneteskan air mata, menurut cerita beberapa teman yang hadir; sebagian menunduk dalam diam. Saya sendiri menyaksikan sosok ibu berjilbab tua, wajahnya basah sepertinya oleh haru setelah bait terakhir bergema. Itu bukan sekadar apresiasi; itu pengakuan bahwa puisi bisa menyembuhkan, menggetarkan, menjembatani luka, dan menghidupkan harapan.

Suara tepuk tangan itu terasa seperti doa yang menyapu debu malam; seperti pengakuan bahwa kota ini Jakarta Barat butuh suara manusiawi, bukan hanya beton dan angka.

Mengapa Duet Ini Penting: Banyak Dimensi, Banyak Fungsi

1. Penegasan bahwa Sastra Milik Semua

Dengan mempertemukan penyair jalanan, seniman teater, penyair komunitas, dan warga biasa dalam satu panggung, festival ini menunjukkan bahwa sastra tidak harus elitis. Duet Bambang–Imam adalah pernyataan nyata bahwa siapa pun, dari mana pun asalnya, bisa menjadi penyair asalkan punya keberanian untuk bersuara. Mereka membawa mereka, bukan “nama besar”, tetapi sejarah hidup, luka, ingatan, dan keberanian. Itu membuat setiap puisinya terasa seperti milik banyak orang bukan hanya milik penyair, tetapi milik kota.

2. Jembatan Generasi dan Tradisi

Bambang mewakili tradisi teater dan puisi dewasa akar lama yang sering dianggap usang dalam dunia sastra modern. Imam mewakili semangat baru ekspresi bebas, estetika eksperimental, pembalikan makna. Bertemunya mereka adalah bentuk kesinambungan: bahwa tradisi dan inovasi tidak harus bertarung, tapi bisa bersanding untuk menghasilkan suara yang lebih luas, lebih hidup, lebih bergetar.

3. Relevansi Sosial: Puisi sebagai Kritik & Cermin

Dalam konteks Jakarta kota dengan kesenjangan sosial, pergeseran budaya, tekanan urban puisi mereka bukan sekadar estetika. Ia menjadi refleksi realitas, pengingat sejarah, seruan nurani. Ketika Bambang mengangkat tema perlawanan, penindasan, identitas, maka puisi menjadi suara mereka yang sering kehilangan ruang. Ketika Imam mengeksplorasi batin, keraguan, harapan, maka puisi menjadi tempat untuk merawat luka dan membayangkan masa depan. Duet ini menjadikan sastra relevan bukan pelarian, tetapi engagement terhadap realitas.

4. Merawat Ekosistem Seni Alternatif

Kehadiran mereka di panggung festival komunitas bukan panggung layar lebar atau media arus utama adalah bukti bahwa ekosistem seni alternatif tetap hidup. Tidak semua karya harus melewati filter penerbit besar, rating, trend, atau algoritma; ada ruang untuk pembacaan kecil, komunitas kecil, ruang kampung. Duet ini dan seluruh festival memberi harapan bahwa budaya tidak akan hilang, selama masih ada orang yang percaya dan mau menjaga.

Tiga Suara, Satu Malam dan Ribuan Ingatan

Malam itu, ketika lampu panggung meredup dan lampu ruangan menyala kembali, banyak dari kita tidak langsung pulang. Ada yang masih duduk tertegun. Ada yang berbicara pelan dengan teman: “Baru kali ini aku mendengar puisi yang membuat dada sesak.” Ada yang mencatat bait di ponsel berharap bayangan kata bisa dibawa pulang ke rumah, ke kampung, ke kamar. Ada pula yang diam sambil memikirkan hidupnya sendiri, seperti digugah untuk berbicara.

Itu bukan sekadar efek panggung. Itu jejak. Jejak bahwa bahasa, ketika dirawat dengan kesungguhan, bisa menjadi rumah. Rumah untuk rasa, luka, harapan, dan cita rumah di tengah kota yang sering lupa arti rumah.

Dan duet maut malam itu telah menanamkan benih di tanah: benih kesadaran, benih kerinduan, benih keberanian.

Epilog: Kenapa Kita Butuh Mereka dan Kita Butuh Lebih Banyak Lagi Sosok seperti Mereka

Kota besar, kota global dengan gedung-gedung pencakar langit, kemacetan, tuntutan produktivitas, kadang melupakan manusia. Ia butuh angka, data, progress sering lupa bahwa manusia membawa luka, sejarah, dan hasrat untuk didengar.

Tapi malam 6 Desember 2025 di Rawa Buaya memberi bukti bahwa manusia bisa menghentikan sebentar langkah kota, membuka hati, dan mendengarkan bukan polusi suara, bukan iklan, bukan deru mesin tapi suara puisi, suara tubuh yang menari, suara tradisi yang tidak pernah hilang.

Kehadiran Bambang Oeban dan Imam Ma’arif dua penyair dari jalur yang berbeda dalam satu panggung kecil, dalam festival komunitas kecil, adalah harapan: bahwa sastra bisa menjadi jembatan, bisa menjadi rumah, bisa menjadi sayap.

Dan kita yang menjadi saksi, menjadi penonton, menjadi bagian dari komunitas itu kita berutang rasa syukur, sekaligus tanggungjawab: untuk terus mendengar, menjaga ruang bagi suara-suara kecil, memberi panggung bagi mereka yang belum pernah didengar, dan memastikan bahwa kota ini tetap manusiawi.

Karena kota bukan hanya tentang gedung. Kota adalah tentang manusia manusia yang berani bersuara, manusia yang berani mendengar, manusia yang berani menjaga kata, dan manusia yang berani berharap.

Duet maut itu malam itu semoga tidak menjadi hanya sejarah. Semoga menjadi api kecil yang terus menyala di jalan, gang, kampung, sanggar, komunitas. Supaya puisi tidak mati. Supaya manusia tidak lupa caranya mendengar.

Kerakusan, Tanah, dan Jiwa: Renungan Liris atas Kemanusiaan dan Seni dalam Puisi Imam Ma’arif dan Bambang Oeban

Puisi Cukup Sampai di Sini karya Imam Ma’arif dan karya-karya Bambang Oeban, yaitu Tanah Pusaka Negeriku yang Mulia serta Surat kepada Walikota yang mewakili Presiden Republik Indonesia, menghadirkan suara-suara yang menampar kesadaran kita, mengajak untuk merenungkan relasi manusia dengan alam, dengan kota, dan dengan jiwa kolektif. Kedua pengarang menempatkan kata-kata sebagai medium refleksi moral: satu menyoroti kerakusan manusia terhadap alam, satunya menyoroti perhatian terhadap ruang jiwa kota dan seniman sebagai penjaga cahaya.

Dalam Cukup Sampai di Sini, Ma’arif membangun atmosfer alam yang ternoda oleh tangan manusia. Gunung dan hutan, simbol kesucian dan keseimbangan hidup, digambarkan seakan menjadi medan pertempuran antara manusia dan keserakahan. Ranting-ranting kering dan gelondongan penderitaan menjadi metafora literal sekaligus simbolik; alam tidak hanya kehilangan pohon-pohonnya, tetapi juga kehilangan kemampuan memberi kehidupan, meninggalkan jejak penderitaan manusia. Setiap pohon yang roboh, setiap sungai yang meluap, adalah refleksi dari pilihan manusia yang salah dan konsekuensi moral yang tak terelakkan. Air yang turun dari gunung digambarkan bukan sebagai “tentara Tuhan” tetapi sebagai manifestasi rencana keserakahan sebuah nada eksistensial yang menegaskan bahwa bencana bukan sekadar fenomena alam, tetapi akibat dari ketidakadilan manusia.

Puisi ini juga menyingkap kritik satir terhadap politik, kapital, dan pencitraan. “Penjahat berkedok pahlawan / Mengincar keuntungan dari luka korban / Sambil membawa ratusan wartawan,” tulisnya. Di sini, Ma’arif menegaskan bahwa perhatian moral lebih penting daripada retorika dan pertunjukan politik; manusia membutuhkan empati dan tindakan nyata, bukan headline atau liputan media. Repetisi “cukup sampai di sini” menjadi mantra reflektif yang menuntut pembaca berhenti, merenung, dan menata ulang langkah sebelum bencana menelan lebih banyak nyawa dan kepercayaan. Teriakan terakhir “tobatlah kalian…!” bergema sebagai doa kontemplatif sekaligus tuntutan moral, mengingatkan bahwa kesadaran adalah awal dari pembaruan.

Sementara itu, karya Bambang Oeban menekankan dimensi sosial dan eksistensial dalam konteks kota dan seni. Dalam Tanah Pusaka Negeriku yang Mulia, Oeban menulis tentang Indonesia dengan nada kebanggaan, memuji tanahnya yang subur, lautnya yang membentang, dan budaya yang kaya. Namun di balik ritme nyanyian nasional, terselip ironi: tanah yang konon kaya raya ternyata menyimpan ketimpangan nyata, di mana kemiskinan dan ketidakadilan hadir sebagai bayangan panjang. Lagu kebangsaan menjadi pengingat moral bahwa kemerdekaan sejati harus terasa dalam tubuh rakyat dan denyut nadi kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai simbol semata.

Dalam Surat kepada Walikota, suara Bambang Oeban menjadi lebih personal, pedas, dan sekaligus penuh cinta. Ia menulis dari perspektif seniman yang sering tersisih, namun menjadi denyut jiwa kota. Pamflet ini adalah meditasi tentang ruang, eksistensi, dan nilai seni dalam kehidupan bersama. “Seni bukan hiasan, seni adalah denyar kehidupan. Dan seniman bukan pengemis, seniman adalah penjaga cahaya,” tulisnya, menekankan seni sebagai medium makna dan seniman sebagai penjaga moral kota. Ia menegaskan bahwa keberlangsungan seni dan keberlangsungan kota saling terkait; jika seniman padam, kota kehilangan arah.

Secara metaforis, kedua karya ini adalah dua sisi dari satu koin: kerakusan manusia terhadap alam, dan perhatian manusia terhadap ruang jiwa kota. Keduanya menempatkan pembaca pada posisi reflektif antara tanggung jawab dan kuasa, antara kata dan tindakan, antara simbol dan kenyataan. Nada patriotik, satir, dan kontemplatif bersatu, membentuk ritme filosofis: mencintai tanah dan kota bukan sekadar menyanyikan lagu atau membangun gedung, tetapi peduli pada denyut nadi manusia dan keberlanjutan alam serta budaya.

Membaca Imam Ma’arif dan Bambang Oeban adalah berdiri di persimpangan antara kebanggaan dan kesadaran, antara tawa dan tangis, antara lagu dan doa. Mereka mengajarkan bahwa tanah yang mulia sejati adalah tanah yang menumbuhkan jiwa; bahwa kota yang hidup adalah kota yang memberi ruang bagi seni dan seniman; dan bahwa kemanusiaan sejati muncul ketika kita berhenti, merenung, dan mengubah arah sebelum kerakusan dan ketidakpedulian menelan lebih banyak nyawa dan harapan. [T]

Cengkareng –  8 Desember 2025

Tags: festivalfestival sastra jakarta baratPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Next Post

“Legal Opinion” Dokumen Tambang Pasir di Lereng Gunung Slamet

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Korelasi PKPU 13 Tahun 2024 dengan Kotak Kosong

“Legal Opinion” Dokumen Tambang Pasir di Lereng Gunung Slamet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co