22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Pancasila Masih Ada atau Hanya Menjadi Ornamen Kekuasaan?

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
December 7, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

TRAGEDI ekologis di Sumatera membuka jendela gelap tentang bagaimana negara bekerja, bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai mesin kekuasaan yang mempertahankan dirinya sendiri. Ratusan manusia meregang nyawa, ribuan kehilangan rumah, dan desa-desa lenyap dari peta. Namun negara menolak mengakui status bencana nasional, seolah tragedi itu hanya gangguan kecil bagi stabilitas narasi pembangunan.

Dalam situasi semacam ini, pertanyaan yang selama ini dianggap tabu muncul kembali dengan lebih lantang:

Jika negara tak lagi menjalankan mandat moralnya, apa yang sebenarnya tersisa dari Pancasila?

Bagaimana mungkin sebuah negara menyebut dirinya “berketuhanan”, “berkemanusiaan”, dan “berkeadilan sosial” ketika ia bahkan enggan mengakui pekatnya duka rakyat sebagai bencana?

Negara yang Menolak Mengakui Luka Rakyatnya

Dalam teori representasi modern seperti yang dibahas dalam buku yang berjudul Representation in Crisis: The constitution, interest groups, and political parties oleh Ryden, D. K. (1996) dan karya yang ditulis oleh Salisbury, R. H. (1984) pada buku yang berjudul Interest representation: The dominance of institutions, menjelaskan bahwa negara pada titik tertentu dapat berhenti menjadi representasi rakyat dan bertransformasi menjadi regime interest-based,yaitu sebuah struktur yang bekerja terutama untuk kepentingan kelompok kecil dengan akses kekuasaan (Salisbury, 1984; Ryden, 1996).

Penolakan penetapan status bencana nasional bukan hanya keputusan administratif, melainkan penyangkalan terhadap kegagalan struktural. Pengakuan status itu berarti membuka pintu bagi evaluasi menyeluruh terhadap:

  • tata kelola lingkungan,
  • jejaring perizinan dan konsesi,
  • relasi negara terhadap korporasi,
  • serta akumulasi kekuasaan ekonomi-politik yang mengitari elite.

Karena itu, keengganan negara bukan sekadar kelalaian, tetapi pilihan politik. Diam berarti aman. Diam berarti kepentingan tak terganggu. Diam berarti narasi pembangunan tetap murni di mata publik.

Namun diam juga berarti satu hal lagi, yaitu:

Negara telah berhenti mendengar jeritan rakyatnya.

Ketika Ekologi Diperdagangkan, Manusia Menjadi Sampingan

Kerusakan ekologis di Sumatera bukanlah bencana alam semata, melainkan akumulasi panjang dari kebijakan ekstraktif. Studi WALHI, CIFOR, dan berbagai riset akademik menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan sawit, tambang batubara, dan pembalakan hutan adalah penyumbang terbesar terhadap kerentanan banjir dan longsor (Abubakar, Ishak and Makmom, 2021; Lubis, Linkie and Lee, 2024).

Dalam paradigma developmentalism yang dominan sejak Orde Baru, kemajuan direduksi menjadi:

  • volume investasi,
  • panjang jalan baru,
  • jumlah konsesi industri,
  • dan grafik pertumbuhan kuartalan.

UU Cipta Kerja menjadi penanda paling telanjang dari ideologi tersebut. Penelitian seperti Wibisana, K. (2025) menegaskan bahwa omnibus law itu merupakan bagian dari “politik akumulasi” yang menggeser negara dari pelindung publik menjadi fasilitator modal (Wibisana, 2025). Prosedur pembuatan yang minim deliberasi memperlihatkan bagaimana DPR memilih posisi sebagai notaris kepentingan modal. Publik pun wajar bertanya:

Apakah hukum masih melindungi manusia, atau kini manusialah yang harus tunduk pada hukum yang memihak modal?

Republik Pencitraan

Setiap tragedi memperlihatkan watak asli kekuasaan. Alih-alih hadir dengan empati, sejumlah pejabat tampil dengan pujian hiperbolik kepada penguasa, bahkan saat warga masih berkabung. Adegan bupati yang memuja Presiden di tengah lokasi pengungsian bukan sekadar tindakan individu, bahwa itu adalah gejala struktural dari politics of performativity (Rose, 2002; Reed, 2013).

Teori political personalization menjelaskan bahwa dalam demokrasi elektoral modern, pejabat semakin terdorong untuk menunjukkan kesetiaan simbolik, bukan kinerja (Caprara, 2007; Garzia, 2011). Dalam konteks Indonesia, fenomena ini diperparah oleh:

  • Logika patronase, yang membuat pejabat daerah bergantung pada pusat untuk akses anggaran.
  • Ekosistem buzzer, yang berfungsi bukan untuk menyampaikan informasi, tetapi untuk membentuk persepsi.
  • Komodifikasi duka, di mana lokasi bencana menjadi latar ideal untuk pencitraan kemanusiaan.

Adapun dalam buku yang berjudul Social Media and Opinion Formation Through Buzzers,  dan artikel penelitian yang berjudul Penggunaan Buzzer dalam Hegemoni Pemerintahan Joko Widodo  telah menyingkap bagaimana struktur buzzer bekerja secara terorganisasi, yaitu membungkam kritik, memviralkan pujian, dan memaksakan narasi pemerintah telah bekerja keras (Abbiyyu and Nindyaswari, 2022; Budiawan, n.d.).

Maka tragedi pun berubah menjadi panggung. Puing-puing rumah menjadi dekorasi. Rakyat yang kehilangan anaknya menjadi figur tambahan. Duka menjadi konten. Dan publik pun mulai bertanya:

Apa arti Pancasila jika pejabat lebih sibuk memuja kekuasaan daripada memulihkan kehidupan warganya?

Ketika Pancasila Tidak Lagi Dihayati

Pancasila menjadi mantra yang sering diucapkan tetapi jarang diwujudkan. Dalam Civic Virtue Theory, nilai publik hanya hidup jika dipraktikkan secara konsisten oleh pemegang kekuasaan (Audi, 1998). Namun bagaimana rakyat percaya bahwa Pancasila masih hidup ketika:

  • air mata warga tak cukup untuk menggerakkan negara,
  • tanah ulayat digusur demi konsesi,
  • hutan ditebang demi ekspansi industri,
  • dan hak rakyat diperlakukan sebagai hambatan pembangunan?

Ketika nilai-nilai dasar bangsa tidak lagi dihayati, Pancasila turun derajat menjadi ornamen kekuasaan, bukan pedoman moral negara. Dan di sinilah muncul pertanyaan:

Jika negara tak lagi mempraktikkan Pancasila, siapa sesungguhnya yang mengkhianati ideologi bangsa—rakyat atau pemerintahannya?

Revolusi Senjata?

Kekecewaan publik sering melahirkan kata-kata keras, yaitu revolusi, kudeta, penggulingan kekuasaan. Namun sejarah politik, dari Eropa Timur hingga Korea Selatan, menunjukkan bahwa perubahan yang langgeng lahir dari shifts in moral legitimacy, bukan dari kekerasan.

Negara dapat bertahan dengan hukum.
Tetapi negara runtuh ketika kehilangan legitimasi moral.

Hari ini, erosi legitimasi itu terlihat:

di media sosial,
di ruang publik,
di desa-desa yang kehilangan keluarga,
dan di kota-kota yang mulai merasakan bahwa bencana ekologis tak lagi jauh.

Yang dibutuhkan bukan mengganti ideologi, melainkan mengambil kembali Pancasila dari tangan mereka yang menjadikannya slogan untuk menutupi kegagalan.

Ini bukan revolusi untuk menghancurkan negara.
Ini revolusi untuk memulihkan negara.
Revolusi etika.
Revolusi keberanian.
Revolusi warga untuk menuntut negara kembali menjadi milik publik.

Penutup

Bencana Sumatera memperlihatkan bagaimana negara kini beroperasi, yaitu mempertahankan stabilitas politik, melindungi jejaring bisnis, dan mengatur persepsi melalui pencitraan dan buzzer. Namun nilai-nilai bangsa tidak lahir dari istana, namun nilai itu lahir dari rakyat.

Jika negara gagal menjalankan Pancasila, itu bukan berarti Pancasila mati.
Itu berarti rakyatlah yang kini harus menjadi penjaga terakhirnya.
Karena ideologi hanya hidup sejauh ia diwujudkan.
Dan bila negara berhenti merawatnya, rakyatlah yang harus mengambil alih tugas itu.

Referensi

Abbiyyu, M.D. and Nindyaswari, D.A., 2022. Penggunaan Buzzer dalam Hegemoni Pemerintahan Joko Widodo. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan, 1(2), pp.70–81.

Abubakar, A., Ishak, M.Y. and Makmom, A.A., 2021. Impacts of and adaptation to climate change on the oil palm in Malaysia: a systematic review. Environmental Science and Pollution Research, 28(39), pp.54339–54361.

Audi, R., 1998. A liberal theory of civic virtue. Social Philosophy and Policy, 15(1), pp.149–170.

Budiawan, S., n.d. Social Media and Opinion Formation Through Buzzers. Penerbit Adab.

Caprara, G.V., 2007. The personalization of modern politics. European review, 15(2), pp.151–164.

Garzia, D., 2011. The personalization of politics in Western democracies: Causes and consequences on leader–follower relationships. The Leadership Quarterly, 22(4), pp.697–709.

Lubis, M.I., Linkie, M. and Lee, J.S.H., 2024. Tropical forest cover, oil palm plantations, and precipitation drive flooding events in Aceh, Indonesia, and hit the poorest people hardest. Plos one, 19(10), p.e0311759.

Reed, I.A., 2013. Power: Relational, discursive, and performative dimensions. Sociological Theory, 31(3), pp.193–218.

Rose, M., 2002. The seductions of resistance: power, politics, and a performative style of systems. Environment and Planning D: Society and Space, 20(4), pp.383–400.

Ryden, D.K., 1996. Representation in Crisis: The constitution, interest groups, and political parties. State University of New York Press.

Salisbury, R.H., 1984. Interest representation: The dominance of institutions. American political science review, 78(1), pp.64–76.

Wibisana, K., 2025. Kebijakan Publik di Indonesia sebagai Alat Kepentingan Kapitalis. Jurnal Sosial dan Sains (SOSAINS), 5(5).

Tags: ekologinegarapancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dharma Tula di Makassar: Ruang Bertanya, Ruang Bertumbuh bagi Umat Hindu di Perantauan

Next Post

Merindukan Kehidupan Berhala

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Merindukan Kehidupan Berhala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co