2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Jaswanto by Jaswanto
December 4, 2025
in Tualang
Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

KABUT turun pelan, menyelimuti bukit-bukit hijau yang rebah di utara saat saya tiba di Danau Beratan, Tabanan, Bali, siang itu. Udara di kawasan wisata Bedugul yang lembap dan dingin menyelinap lewat kerah jaket, mengantar saya pada kesadaran sederhana bahwa tempat-tempat suci kadang tidak membutuhkan kata sambutan selain sepi dan putih halimun. Namun, sepi di Pura Ulun Danu Beratan hari ini, hanya hidup sebagai ingatan. Saat ini, yang hadir adalah gelombang manusia: rombongan wisatawan, pelajar yang ikut tur sekolah, pasangan pengantin membawa fotografer profesional, pedagang suvenir, dan deretan perahu berwarna cerah yang terus mengaum memecah kesunyian danau.

Saya berdiri di pinggir danau, mencoba menangkap keheningan yang mungkin masih bersembunyi. Tetapi seperti sungai yang mesti kembali ke laut, mata saya terus terseret oleh keramaian. Orang-orang saling bergantian mengambil foto, memperhitungkan sudut agar meru tampak “mengambang” di belakang mereka. Seorang anak kecil menangis karena tidak kebagian balon; dan di kejauhan, seorang pemandu wisata berbicara dengan pengeras suara kecil mengenai sejarah pura, namun nyaris tak ada yang mendengarkan. Di antara denting kamera dan riuh langkah, saya bertanya-tanya: bagaimana rasanya menjadi tempat yang dulu lahir dari doa, tapi sekarang ditafsir sebagai latar Instagram?

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tempat-tempat seperti ini, keindahan selalu hadir bersama kontradiksinya. Doa setengah lupa, ekonomi yang berdenyut, dan mitos yang disisir ulang menjadi produk wisata. Namun ketika kita menengok lebih dalam, Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar latar, ia adalah simpul dari cerita panjang manusia dan air, berakar jauh sebelum kamera digital merajalela.

Sejarah lisan dan lontar mengikat Ulun Danu pada jaringan kekuasaan dan ritual lokal. Pembangunan kompleks pura ini dikaitkan dengan periode Kerajaan Mengwi pada abad ke-17, sebuah bangunan yang tumbuh dari kebutuhan spiritual dan fungsional—untuk memohon kesuburan dan mengatur air yang memberi makan sawah di sekitarnya. Catatan sejarah menempatkan pendirian kompleks ini dalam rentang waktu yang berakar pada tradisi yang lebih tua. Data dan studi populer mencatat keterkaitan pura dengan tokoh-tokoh kerajaan setempat pada abad ke-17.

Kabut di Danau Beratan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lebih jauh lagi, bukti arkeologis di kawasan menunjukkan jejak pemujaan yang jauh lebih tua—artefak megalitik seperti sarkofagus dan lempeng batu di sekitar wilayah Bedugul menandai bahwa penghormatan terhadap sumber-sumber air dan tempat-tempat suci di sini berlangsung berabad-abad sebelum biro perjalanan memperkenalkan paket tur. Hal ini menegaskan bahwa Ulun Danu bukanlah “atraksi” yang tiba secara mendadak, melainkan titik temu panjang antara manusia, ritual, dan lanskap.

Fungsi ritual Ulun Danu berkait erat dengan sistem Subak—institusi pengairan yang menjadi nadi agraris Bali. Subak bukan sekadar teknis sistem irigasi; ia adalah jaringan sosial-ritual yang mengatur distribusi air, upacara, dan norma kolektif. Pura Ulun Danu berada di tengah sentralitas itu: sebagai tempat untuk memohon kelangsungan air dan padi, pura menjadi pusat yang menautkan rohaniah dan materi.

Studi akademik tentang Subak menunjukkan bagaimana kuil-kuil air memegang peran ekonomi-sosial dalam mengelola sumber daya dan legitimasi lokal. Pemahaman ini membuka mata kita bahwa Ulun Danu bukan hanya sebagai “foto ikonik”, melainkan sebagai node tata kelola yang rapuh.

Jejak kolonial menaruh lapisan lain pada cerita ini. Di era penjajahan Belanda, intervensi politik dan ekonomi memang mengubah rupa banyak kerajaan dan struktur sosial di Bali—dengan beberapa kerajaan kehilangan kekuasaan, dan administrasi kolonial menata ulang wilayah. Namun institusi-institusi lokal seperti pura dan Subak relatif tahan; mereka tetap berfungsi dalam skema komunitas, menahan sebagian besar tatanan ritual dan agraris dari disintegrasi total meskipun ada tekanan administratif. Catatan sejarah kolonial memberi konteks: kekuasaan berjalan, tetapi ritual dan praktik agraris sering bertahan sebagai kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan fungsi kawasan Danau Beratan menjadi destinasi wisata adalah proses yang lebih kontemporer, dipacu oleh akses jalan yang lebih baik, promosi pariwisata, dan citra Ulun Danu sebagai ‘ikon Bali’—terlebih ketika meru-nya muncul dalam mata uang nasional dan media pariwisata.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak akhir abad ke-20, Bedugul mulai menjadi titik kunjungan penting, menggandeng ekonomi lokal: warung, perahu sewaan, pemandu, penginapan, hingga pedagang suvenir menemukan ladang penghidupan baru. Namun transformasi itu datang dengan harga: tekanan pada ekosistem dan perubahan makna sakral menjadi estetika komoditas. Keindahan yang dijual tidak pernah betul-betul utuh; selalu ada serpihan sakral yang terkelupas oleh keramaian.

Fluktuasi kunjungan selama dekade terakhir menunjukkan betapa pariwisata dapat menjadi berkah sekaligus ancaman. Bali mencatat lonjakan pengunjung yang dramatis sampai menjelang 2019, lalu merosot tajam saat pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Statistik nasional dan studi pariwisata menggambarkan penurunan ekstrem yang kemudian diikuti kebangkitan kembali pasca-pandemi. Fenomena ini menegaskan betapa rentannya ekonomi setempat terhadap dinamika global, dan bagaimana tekanan kunjungan dapat kembali menekan ruang-ruang sakral ketika gelombang turis pulih.

Danau Beratan, dalam banyak cerita, bukan hanya wadah air. Ia adalah pusat kehidupan, sumber kesuburan, tempat di mana Dewi Danu—sang penjaga air—dipuja dan dipelihara secara turun-temurun. Air yang mengaliri subak-subak adalah air yang sama, yang mengkilap di hadapan kita hari ini—meski sekarang agak tercemar. Memikirkan itu membuat saya merasa kecil, juga malu, betapa mudahnya kita melupa bahwa danau ini pernah menjadi tempat para leluhur menenun hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Namun, pariwisata seperti pedang bermata dua, kerap membuat kita lupa. Ia menjanjikan kesejahteraan, membuka pintu ekonomi, memberi pekerjaan bagi para pedagang, pengemudi perahu, petugas kebersihan, pemandu lokal. Ia menghidupkan banyak dapur, dan itulah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tapi di ujung mata uang yang sama, ia juga menekan ruang sakral, memadatkan tanah ritual menjadi destinasi, menggiring manusia untuk mengonsumsi tempat suci seperti mereka mengonsumsi hiburan—cepat, riuh, dan tanpa waktu merenung.

Sebelum pulang, saya kembali menatap pura yang berdiri di atas air itu. Riuh suara pengunjung masih ada, perahu masih melaju, kamera masih berkedip. Tetapi di sela semua itu, kabut turun lagi, melingkupi meru dengan kelembutan yang tak bisa dijual kepada siapa pun. Dari jauh, pura tampak seperti pulau kesunyian yang terus mencoba bertahan di tengah pasar. Dan saya memahami paradoks itu, bahwa pariwisata adalah berkah yang menyejahterakan, sekaligus bayangan yang perlahan-lahan menggerus makna. Ia menghidupkan, tetapi juga berpotensi mengaburkan. Ah, apakah ini kutukan?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: BedugulDanau Beratanpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Belladonna’: Kecantikan yang Beracun

Next Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co