13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Jaswanto by Jaswanto
December 4, 2025
in Tualang
Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

KABUT turun pelan, menyelimuti bukit-bukit hijau yang rebah di utara saat saya tiba di Danau Beratan, Tabanan, Bali, siang itu. Udara di kawasan wisata Bedugul yang lembap dan dingin menyelinap lewat kerah jaket, mengantar saya pada kesadaran sederhana bahwa tempat-tempat suci kadang tidak membutuhkan kata sambutan selain sepi dan putih halimun. Namun, sepi di Pura Ulun Danu Beratan hari ini, hanya hidup sebagai ingatan. Saat ini, yang hadir adalah gelombang manusia: rombongan wisatawan, pelajar yang ikut tur sekolah, pasangan pengantin membawa fotografer profesional, pedagang suvenir, dan deretan perahu berwarna cerah yang terus mengaum memecah kesunyian danau.

Saya berdiri di pinggir danau, mencoba menangkap keheningan yang mungkin masih bersembunyi. Tetapi seperti sungai yang mesti kembali ke laut, mata saya terus terseret oleh keramaian. Orang-orang saling bergantian mengambil foto, memperhitungkan sudut agar meru tampak “mengambang” di belakang mereka. Seorang anak kecil menangis karena tidak kebagian balon; dan di kejauhan, seorang pemandu wisata berbicara dengan pengeras suara kecil mengenai sejarah pura, namun nyaris tak ada yang mendengarkan. Di antara denting kamera dan riuh langkah, saya bertanya-tanya: bagaimana rasanya menjadi tempat yang dulu lahir dari doa, tapi sekarang ditafsir sebagai latar Instagram?

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tempat-tempat seperti ini, keindahan selalu hadir bersama kontradiksinya. Doa setengah lupa, ekonomi yang berdenyut, dan mitos yang disisir ulang menjadi produk wisata. Namun ketika kita menengok lebih dalam, Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar latar, ia adalah simpul dari cerita panjang manusia dan air, berakar jauh sebelum kamera digital merajalela.

Sejarah lisan dan lontar mengikat Ulun Danu pada jaringan kekuasaan dan ritual lokal. Pembangunan kompleks pura ini dikaitkan dengan periode Kerajaan Mengwi pada abad ke-17, sebuah bangunan yang tumbuh dari kebutuhan spiritual dan fungsional—untuk memohon kesuburan dan mengatur air yang memberi makan sawah di sekitarnya. Catatan sejarah menempatkan pendirian kompleks ini dalam rentang waktu yang berakar pada tradisi yang lebih tua. Data dan studi populer mencatat keterkaitan pura dengan tokoh-tokoh kerajaan setempat pada abad ke-17.

Kabut di Danau Beratan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lebih jauh lagi, bukti arkeologis di kawasan menunjukkan jejak pemujaan yang jauh lebih tua—artefak megalitik seperti sarkofagus dan lempeng batu di sekitar wilayah Bedugul menandai bahwa penghormatan terhadap sumber-sumber air dan tempat-tempat suci di sini berlangsung berabad-abad sebelum biro perjalanan memperkenalkan paket tur. Hal ini menegaskan bahwa Ulun Danu bukanlah “atraksi” yang tiba secara mendadak, melainkan titik temu panjang antara manusia, ritual, dan lanskap.

Fungsi ritual Ulun Danu berkait erat dengan sistem Subak—institusi pengairan yang menjadi nadi agraris Bali. Subak bukan sekadar teknis sistem irigasi; ia adalah jaringan sosial-ritual yang mengatur distribusi air, upacara, dan norma kolektif. Pura Ulun Danu berada di tengah sentralitas itu: sebagai tempat untuk memohon kelangsungan air dan padi, pura menjadi pusat yang menautkan rohaniah dan materi.

Studi akademik tentang Subak menunjukkan bagaimana kuil-kuil air memegang peran ekonomi-sosial dalam mengelola sumber daya dan legitimasi lokal. Pemahaman ini membuka mata kita bahwa Ulun Danu bukan hanya sebagai “foto ikonik”, melainkan sebagai node tata kelola yang rapuh.

Jejak kolonial menaruh lapisan lain pada cerita ini. Di era penjajahan Belanda, intervensi politik dan ekonomi memang mengubah rupa banyak kerajaan dan struktur sosial di Bali—dengan beberapa kerajaan kehilangan kekuasaan, dan administrasi kolonial menata ulang wilayah. Namun institusi-institusi lokal seperti pura dan Subak relatif tahan; mereka tetap berfungsi dalam skema komunitas, menahan sebagian besar tatanan ritual dan agraris dari disintegrasi total meskipun ada tekanan administratif. Catatan sejarah kolonial memberi konteks: kekuasaan berjalan, tetapi ritual dan praktik agraris sering bertahan sebagai kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan fungsi kawasan Danau Beratan menjadi destinasi wisata adalah proses yang lebih kontemporer, dipacu oleh akses jalan yang lebih baik, promosi pariwisata, dan citra Ulun Danu sebagai ‘ikon Bali’—terlebih ketika meru-nya muncul dalam mata uang nasional dan media pariwisata.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak akhir abad ke-20, Bedugul mulai menjadi titik kunjungan penting, menggandeng ekonomi lokal: warung, perahu sewaan, pemandu, penginapan, hingga pedagang suvenir menemukan ladang penghidupan baru. Namun transformasi itu datang dengan harga: tekanan pada ekosistem dan perubahan makna sakral menjadi estetika komoditas. Keindahan yang dijual tidak pernah betul-betul utuh; selalu ada serpihan sakral yang terkelupas oleh keramaian.

Fluktuasi kunjungan selama dekade terakhir menunjukkan betapa pariwisata dapat menjadi berkah sekaligus ancaman. Bali mencatat lonjakan pengunjung yang dramatis sampai menjelang 2019, lalu merosot tajam saat pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Statistik nasional dan studi pariwisata menggambarkan penurunan ekstrem yang kemudian diikuti kebangkitan kembali pasca-pandemi. Fenomena ini menegaskan betapa rentannya ekonomi setempat terhadap dinamika global, dan bagaimana tekanan kunjungan dapat kembali menekan ruang-ruang sakral ketika gelombang turis pulih.

Danau Beratan, dalam banyak cerita, bukan hanya wadah air. Ia adalah pusat kehidupan, sumber kesuburan, tempat di mana Dewi Danu—sang penjaga air—dipuja dan dipelihara secara turun-temurun. Air yang mengaliri subak-subak adalah air yang sama, yang mengkilap di hadapan kita hari ini—meski sekarang agak tercemar. Memikirkan itu membuat saya merasa kecil, juga malu, betapa mudahnya kita melupa bahwa danau ini pernah menjadi tempat para leluhur menenun hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Namun, pariwisata seperti pedang bermata dua, kerap membuat kita lupa. Ia menjanjikan kesejahteraan, membuka pintu ekonomi, memberi pekerjaan bagi para pedagang, pengemudi perahu, petugas kebersihan, pemandu lokal. Ia menghidupkan banyak dapur, dan itulah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tapi di ujung mata uang yang sama, ia juga menekan ruang sakral, memadatkan tanah ritual menjadi destinasi, menggiring manusia untuk mengonsumsi tempat suci seperti mereka mengonsumsi hiburan—cepat, riuh, dan tanpa waktu merenung.

Sebelum pulang, saya kembali menatap pura yang berdiri di atas air itu. Riuh suara pengunjung masih ada, perahu masih melaju, kamera masih berkedip. Tetapi di sela semua itu, kabut turun lagi, melingkupi meru dengan kelembutan yang tak bisa dijual kepada siapa pun. Dari jauh, pura tampak seperti pulau kesunyian yang terus mencoba bertahan di tengah pasar. Dan saya memahami paradoks itu, bahwa pariwisata adalah berkah yang menyejahterakan, sekaligus bayangan yang perlahan-lahan menggerus makna. Ia menghidupkan, tetapi juga berpotensi mengaburkan. Ah, apakah ini kutukan?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: BedugulDanau Beratanpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Belladonna’: Kecantikan yang Beracun

Next Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co