24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Jaswanto by Jaswanto
December 4, 2025
in Tualang
Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

KABUT turun pelan, menyelimuti bukit-bukit hijau yang rebah di utara saat saya tiba di Danau Beratan, Tabanan, Bali, siang itu. Udara di kawasan wisata Bedugul yang lembap dan dingin menyelinap lewat kerah jaket, mengantar saya pada kesadaran sederhana bahwa tempat-tempat suci kadang tidak membutuhkan kata sambutan selain sepi dan putih halimun. Namun, sepi di Pura Ulun Danu Beratan hari ini, hanya hidup sebagai ingatan. Saat ini, yang hadir adalah gelombang manusia: rombongan wisatawan, pelajar yang ikut tur sekolah, pasangan pengantin membawa fotografer profesional, pedagang suvenir, dan deretan perahu berwarna cerah yang terus mengaum memecah kesunyian danau.

Saya berdiri di pinggir danau, mencoba menangkap keheningan yang mungkin masih bersembunyi. Tetapi seperti sungai yang mesti kembali ke laut, mata saya terus terseret oleh keramaian. Orang-orang saling bergantian mengambil foto, memperhitungkan sudut agar meru tampak “mengambang” di belakang mereka. Seorang anak kecil menangis karena tidak kebagian balon; dan di kejauhan, seorang pemandu wisata berbicara dengan pengeras suara kecil mengenai sejarah pura, namun nyaris tak ada yang mendengarkan. Di antara denting kamera dan riuh langkah, saya bertanya-tanya: bagaimana rasanya menjadi tempat yang dulu lahir dari doa, tapi sekarang ditafsir sebagai latar Instagram?

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tempat-tempat seperti ini, keindahan selalu hadir bersama kontradiksinya. Doa setengah lupa, ekonomi yang berdenyut, dan mitos yang disisir ulang menjadi produk wisata. Namun ketika kita menengok lebih dalam, Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar latar, ia adalah simpul dari cerita panjang manusia dan air, berakar jauh sebelum kamera digital merajalela.

Sejarah lisan dan lontar mengikat Ulun Danu pada jaringan kekuasaan dan ritual lokal. Pembangunan kompleks pura ini dikaitkan dengan periode Kerajaan Mengwi pada abad ke-17, sebuah bangunan yang tumbuh dari kebutuhan spiritual dan fungsional—untuk memohon kesuburan dan mengatur air yang memberi makan sawah di sekitarnya. Catatan sejarah menempatkan pendirian kompleks ini dalam rentang waktu yang berakar pada tradisi yang lebih tua. Data dan studi populer mencatat keterkaitan pura dengan tokoh-tokoh kerajaan setempat pada abad ke-17.

Kabut di Danau Beratan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lebih jauh lagi, bukti arkeologis di kawasan menunjukkan jejak pemujaan yang jauh lebih tua—artefak megalitik seperti sarkofagus dan lempeng batu di sekitar wilayah Bedugul menandai bahwa penghormatan terhadap sumber-sumber air dan tempat-tempat suci di sini berlangsung berabad-abad sebelum biro perjalanan memperkenalkan paket tur. Hal ini menegaskan bahwa Ulun Danu bukanlah “atraksi” yang tiba secara mendadak, melainkan titik temu panjang antara manusia, ritual, dan lanskap.

Fungsi ritual Ulun Danu berkait erat dengan sistem Subak—institusi pengairan yang menjadi nadi agraris Bali. Subak bukan sekadar teknis sistem irigasi; ia adalah jaringan sosial-ritual yang mengatur distribusi air, upacara, dan norma kolektif. Pura Ulun Danu berada di tengah sentralitas itu: sebagai tempat untuk memohon kelangsungan air dan padi, pura menjadi pusat yang menautkan rohaniah dan materi.

Studi akademik tentang Subak menunjukkan bagaimana kuil-kuil air memegang peran ekonomi-sosial dalam mengelola sumber daya dan legitimasi lokal. Pemahaman ini membuka mata kita bahwa Ulun Danu bukan hanya sebagai “foto ikonik”, melainkan sebagai node tata kelola yang rapuh.

Jejak kolonial menaruh lapisan lain pada cerita ini. Di era penjajahan Belanda, intervensi politik dan ekonomi memang mengubah rupa banyak kerajaan dan struktur sosial di Bali—dengan beberapa kerajaan kehilangan kekuasaan, dan administrasi kolonial menata ulang wilayah. Namun institusi-institusi lokal seperti pura dan Subak relatif tahan; mereka tetap berfungsi dalam skema komunitas, menahan sebagian besar tatanan ritual dan agraris dari disintegrasi total meskipun ada tekanan administratif. Catatan sejarah kolonial memberi konteks: kekuasaan berjalan, tetapi ritual dan praktik agraris sering bertahan sebagai kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan fungsi kawasan Danau Beratan menjadi destinasi wisata adalah proses yang lebih kontemporer, dipacu oleh akses jalan yang lebih baik, promosi pariwisata, dan citra Ulun Danu sebagai ‘ikon Bali’—terlebih ketika meru-nya muncul dalam mata uang nasional dan media pariwisata.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak akhir abad ke-20, Bedugul mulai menjadi titik kunjungan penting, menggandeng ekonomi lokal: warung, perahu sewaan, pemandu, penginapan, hingga pedagang suvenir menemukan ladang penghidupan baru. Namun transformasi itu datang dengan harga: tekanan pada ekosistem dan perubahan makna sakral menjadi estetika komoditas. Keindahan yang dijual tidak pernah betul-betul utuh; selalu ada serpihan sakral yang terkelupas oleh keramaian.

Fluktuasi kunjungan selama dekade terakhir menunjukkan betapa pariwisata dapat menjadi berkah sekaligus ancaman. Bali mencatat lonjakan pengunjung yang dramatis sampai menjelang 2019, lalu merosot tajam saat pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Statistik nasional dan studi pariwisata menggambarkan penurunan ekstrem yang kemudian diikuti kebangkitan kembali pasca-pandemi. Fenomena ini menegaskan betapa rentannya ekonomi setempat terhadap dinamika global, dan bagaimana tekanan kunjungan dapat kembali menekan ruang-ruang sakral ketika gelombang turis pulih.

Danau Beratan, dalam banyak cerita, bukan hanya wadah air. Ia adalah pusat kehidupan, sumber kesuburan, tempat di mana Dewi Danu—sang penjaga air—dipuja dan dipelihara secara turun-temurun. Air yang mengaliri subak-subak adalah air yang sama, yang mengkilap di hadapan kita hari ini—meski sekarang agak tercemar. Memikirkan itu membuat saya merasa kecil, juga malu, betapa mudahnya kita melupa bahwa danau ini pernah menjadi tempat para leluhur menenun hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Namun, pariwisata seperti pedang bermata dua, kerap membuat kita lupa. Ia menjanjikan kesejahteraan, membuka pintu ekonomi, memberi pekerjaan bagi para pedagang, pengemudi perahu, petugas kebersihan, pemandu lokal. Ia menghidupkan banyak dapur, dan itulah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tapi di ujung mata uang yang sama, ia juga menekan ruang sakral, memadatkan tanah ritual menjadi destinasi, menggiring manusia untuk mengonsumsi tempat suci seperti mereka mengonsumsi hiburan—cepat, riuh, dan tanpa waktu merenung.

Sebelum pulang, saya kembali menatap pura yang berdiri di atas air itu. Riuh suara pengunjung masih ada, perahu masih melaju, kamera masih berkedip. Tetapi di sela semua itu, kabut turun lagi, melingkupi meru dengan kelembutan yang tak bisa dijual kepada siapa pun. Dari jauh, pura tampak seperti pulau kesunyian yang terus mencoba bertahan di tengah pasar. Dan saya memahami paradoks itu, bahwa pariwisata adalah berkah yang menyejahterakan, sekaligus bayangan yang perlahan-lahan menggerus makna. Ia menghidupkan, tetapi juga berpotensi mengaburkan. Ah, apakah ini kutukan?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: BedugulDanau Beratanpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Belladonna’: Kecantikan yang Beracun

Next Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co