12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Jaswanto by Jaswanto
December 4, 2025
in Tualang
Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

KABUT turun pelan, menyelimuti bukit-bukit hijau yang rebah di utara saat saya tiba di Danau Beratan, Tabanan, Bali, siang itu. Udara di kawasan wisata Bedugul yang lembap dan dingin menyelinap lewat kerah jaket, mengantar saya pada kesadaran sederhana bahwa tempat-tempat suci kadang tidak membutuhkan kata sambutan selain sepi dan putih halimun. Namun, sepi di Pura Ulun Danu Beratan hari ini, hanya hidup sebagai ingatan. Saat ini, yang hadir adalah gelombang manusia: rombongan wisatawan, pelajar yang ikut tur sekolah, pasangan pengantin membawa fotografer profesional, pedagang suvenir, dan deretan perahu berwarna cerah yang terus mengaum memecah kesunyian danau.

Saya berdiri di pinggir danau, mencoba menangkap keheningan yang mungkin masih bersembunyi. Tetapi seperti sungai yang mesti kembali ke laut, mata saya terus terseret oleh keramaian. Orang-orang saling bergantian mengambil foto, memperhitungkan sudut agar meru tampak “mengambang” di belakang mereka. Seorang anak kecil menangis karena tidak kebagian balon; dan di kejauhan, seorang pemandu wisata berbicara dengan pengeras suara kecil mengenai sejarah pura, namun nyaris tak ada yang mendengarkan. Di antara denting kamera dan riuh langkah, saya bertanya-tanya: bagaimana rasanya menjadi tempat yang dulu lahir dari doa, tapi sekarang ditafsir sebagai latar Instagram?

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tempat-tempat seperti ini, keindahan selalu hadir bersama kontradiksinya. Doa setengah lupa, ekonomi yang berdenyut, dan mitos yang disisir ulang menjadi produk wisata. Namun ketika kita menengok lebih dalam, Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar latar, ia adalah simpul dari cerita panjang manusia dan air, berakar jauh sebelum kamera digital merajalela.

Sejarah lisan dan lontar mengikat Ulun Danu pada jaringan kekuasaan dan ritual lokal. Pembangunan kompleks pura ini dikaitkan dengan periode Kerajaan Mengwi pada abad ke-17, sebuah bangunan yang tumbuh dari kebutuhan spiritual dan fungsional—untuk memohon kesuburan dan mengatur air yang memberi makan sawah di sekitarnya. Catatan sejarah menempatkan pendirian kompleks ini dalam rentang waktu yang berakar pada tradisi yang lebih tua. Data dan studi populer mencatat keterkaitan pura dengan tokoh-tokoh kerajaan setempat pada abad ke-17.

Kabut di Danau Beratan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lebih jauh lagi, bukti arkeologis di kawasan menunjukkan jejak pemujaan yang jauh lebih tua—artefak megalitik seperti sarkofagus dan lempeng batu di sekitar wilayah Bedugul menandai bahwa penghormatan terhadap sumber-sumber air dan tempat-tempat suci di sini berlangsung berabad-abad sebelum biro perjalanan memperkenalkan paket tur. Hal ini menegaskan bahwa Ulun Danu bukanlah “atraksi” yang tiba secara mendadak, melainkan titik temu panjang antara manusia, ritual, dan lanskap.

Fungsi ritual Ulun Danu berkait erat dengan sistem Subak—institusi pengairan yang menjadi nadi agraris Bali. Subak bukan sekadar teknis sistem irigasi; ia adalah jaringan sosial-ritual yang mengatur distribusi air, upacara, dan norma kolektif. Pura Ulun Danu berada di tengah sentralitas itu: sebagai tempat untuk memohon kelangsungan air dan padi, pura menjadi pusat yang menautkan rohaniah dan materi.

Studi akademik tentang Subak menunjukkan bagaimana kuil-kuil air memegang peran ekonomi-sosial dalam mengelola sumber daya dan legitimasi lokal. Pemahaman ini membuka mata kita bahwa Ulun Danu bukan hanya sebagai “foto ikonik”, melainkan sebagai node tata kelola yang rapuh.

Jejak kolonial menaruh lapisan lain pada cerita ini. Di era penjajahan Belanda, intervensi politik dan ekonomi memang mengubah rupa banyak kerajaan dan struktur sosial di Bali—dengan beberapa kerajaan kehilangan kekuasaan, dan administrasi kolonial menata ulang wilayah. Namun institusi-institusi lokal seperti pura dan Subak relatif tahan; mereka tetap berfungsi dalam skema komunitas, menahan sebagian besar tatanan ritual dan agraris dari disintegrasi total meskipun ada tekanan administratif. Catatan sejarah kolonial memberi konteks: kekuasaan berjalan, tetapi ritual dan praktik agraris sering bertahan sebagai kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan fungsi kawasan Danau Beratan menjadi destinasi wisata adalah proses yang lebih kontemporer, dipacu oleh akses jalan yang lebih baik, promosi pariwisata, dan citra Ulun Danu sebagai ‘ikon Bali’—terlebih ketika meru-nya muncul dalam mata uang nasional dan media pariwisata.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak akhir abad ke-20, Bedugul mulai menjadi titik kunjungan penting, menggandeng ekonomi lokal: warung, perahu sewaan, pemandu, penginapan, hingga pedagang suvenir menemukan ladang penghidupan baru. Namun transformasi itu datang dengan harga: tekanan pada ekosistem dan perubahan makna sakral menjadi estetika komoditas. Keindahan yang dijual tidak pernah betul-betul utuh; selalu ada serpihan sakral yang terkelupas oleh keramaian.

Fluktuasi kunjungan selama dekade terakhir menunjukkan betapa pariwisata dapat menjadi berkah sekaligus ancaman. Bali mencatat lonjakan pengunjung yang dramatis sampai menjelang 2019, lalu merosot tajam saat pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Statistik nasional dan studi pariwisata menggambarkan penurunan ekstrem yang kemudian diikuti kebangkitan kembali pasca-pandemi. Fenomena ini menegaskan betapa rentannya ekonomi setempat terhadap dinamika global, dan bagaimana tekanan kunjungan dapat kembali menekan ruang-ruang sakral ketika gelombang turis pulih.

Danau Beratan, dalam banyak cerita, bukan hanya wadah air. Ia adalah pusat kehidupan, sumber kesuburan, tempat di mana Dewi Danu—sang penjaga air—dipuja dan dipelihara secara turun-temurun. Air yang mengaliri subak-subak adalah air yang sama, yang mengkilap di hadapan kita hari ini—meski sekarang agak tercemar. Memikirkan itu membuat saya merasa kecil, juga malu, betapa mudahnya kita melupa bahwa danau ini pernah menjadi tempat para leluhur menenun hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Namun, pariwisata seperti pedang bermata dua, kerap membuat kita lupa. Ia menjanjikan kesejahteraan, membuka pintu ekonomi, memberi pekerjaan bagi para pedagang, pengemudi perahu, petugas kebersihan, pemandu lokal. Ia menghidupkan banyak dapur, dan itulah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tapi di ujung mata uang yang sama, ia juga menekan ruang sakral, memadatkan tanah ritual menjadi destinasi, menggiring manusia untuk mengonsumsi tempat suci seperti mereka mengonsumsi hiburan—cepat, riuh, dan tanpa waktu merenung.

Sebelum pulang, saya kembali menatap pura yang berdiri di atas air itu. Riuh suara pengunjung masih ada, perahu masih melaju, kamera masih berkedip. Tetapi di sela semua itu, kabut turun lagi, melingkupi meru dengan kelembutan yang tak bisa dijual kepada siapa pun. Dari jauh, pura tampak seperti pulau kesunyian yang terus mencoba bertahan di tengah pasar. Dan saya memahami paradoks itu, bahwa pariwisata adalah berkah yang menyejahterakan, sekaligus bayangan yang perlahan-lahan menggerus makna. Ia menghidupkan, tetapi juga berpotensi mengaburkan. Ah, apakah ini kutukan?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: BedugulDanau Beratanpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Belladonna’: Kecantikan yang Beracun

Next Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co