14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Jaswanto by Jaswanto
December 4, 2025
in Tualang
Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

KABUT turun pelan, menyelimuti bukit-bukit hijau yang rebah di utara saat saya tiba di Danau Beratan, Tabanan, Bali, siang itu. Udara di kawasan wisata Bedugul yang lembap dan dingin menyelinap lewat kerah jaket, mengantar saya pada kesadaran sederhana bahwa tempat-tempat suci kadang tidak membutuhkan kata sambutan selain sepi dan putih halimun. Namun, sepi di Pura Ulun Danu Beratan hari ini, hanya hidup sebagai ingatan. Saat ini, yang hadir adalah gelombang manusia: rombongan wisatawan, pelajar yang ikut tur sekolah, pasangan pengantin membawa fotografer profesional, pedagang suvenir, dan deretan perahu berwarna cerah yang terus mengaum memecah kesunyian danau.

Saya berdiri di pinggir danau, mencoba menangkap keheningan yang mungkin masih bersembunyi. Tetapi seperti sungai yang mesti kembali ke laut, mata saya terus terseret oleh keramaian. Orang-orang saling bergantian mengambil foto, memperhitungkan sudut agar meru tampak “mengambang” di belakang mereka. Seorang anak kecil menangis karena tidak kebagian balon; dan di kejauhan, seorang pemandu wisata berbicara dengan pengeras suara kecil mengenai sejarah pura, namun nyaris tak ada yang mendengarkan. Di antara denting kamera dan riuh langkah, saya bertanya-tanya: bagaimana rasanya menjadi tempat yang dulu lahir dari doa, tapi sekarang ditafsir sebagai latar Instagram?

Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tempat-tempat seperti ini, keindahan selalu hadir bersama kontradiksinya. Doa setengah lupa, ekonomi yang berdenyut, dan mitos yang disisir ulang menjadi produk wisata. Namun ketika kita menengok lebih dalam, Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar latar, ia adalah simpul dari cerita panjang manusia dan air, berakar jauh sebelum kamera digital merajalela.

Sejarah lisan dan lontar mengikat Ulun Danu pada jaringan kekuasaan dan ritual lokal. Pembangunan kompleks pura ini dikaitkan dengan periode Kerajaan Mengwi pada abad ke-17, sebuah bangunan yang tumbuh dari kebutuhan spiritual dan fungsional—untuk memohon kesuburan dan mengatur air yang memberi makan sawah di sekitarnya. Catatan sejarah menempatkan pendirian kompleks ini dalam rentang waktu yang berakar pada tradisi yang lebih tua. Data dan studi populer mencatat keterkaitan pura dengan tokoh-tokoh kerajaan setempat pada abad ke-17.

Kabut di Danau Beratan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lebih jauh lagi, bukti arkeologis di kawasan menunjukkan jejak pemujaan yang jauh lebih tua—artefak megalitik seperti sarkofagus dan lempeng batu di sekitar wilayah Bedugul menandai bahwa penghormatan terhadap sumber-sumber air dan tempat-tempat suci di sini berlangsung berabad-abad sebelum biro perjalanan memperkenalkan paket tur. Hal ini menegaskan bahwa Ulun Danu bukanlah “atraksi” yang tiba secara mendadak, melainkan titik temu panjang antara manusia, ritual, dan lanskap.

Fungsi ritual Ulun Danu berkait erat dengan sistem Subak—institusi pengairan yang menjadi nadi agraris Bali. Subak bukan sekadar teknis sistem irigasi; ia adalah jaringan sosial-ritual yang mengatur distribusi air, upacara, dan norma kolektif. Pura Ulun Danu berada di tengah sentralitas itu: sebagai tempat untuk memohon kelangsungan air dan padi, pura menjadi pusat yang menautkan rohaniah dan materi.

Studi akademik tentang Subak menunjukkan bagaimana kuil-kuil air memegang peran ekonomi-sosial dalam mengelola sumber daya dan legitimasi lokal. Pemahaman ini membuka mata kita bahwa Ulun Danu bukan hanya sebagai “foto ikonik”, melainkan sebagai node tata kelola yang rapuh.

Jejak kolonial menaruh lapisan lain pada cerita ini. Di era penjajahan Belanda, intervensi politik dan ekonomi memang mengubah rupa banyak kerajaan dan struktur sosial di Bali—dengan beberapa kerajaan kehilangan kekuasaan, dan administrasi kolonial menata ulang wilayah. Namun institusi-institusi lokal seperti pura dan Subak relatif tahan; mereka tetap berfungsi dalam skema komunitas, menahan sebagian besar tatanan ritual dan agraris dari disintegrasi total meskipun ada tekanan administratif. Catatan sejarah kolonial memberi konteks: kekuasaan berjalan, tetapi ritual dan praktik agraris sering bertahan sebagai kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan fungsi kawasan Danau Beratan menjadi destinasi wisata adalah proses yang lebih kontemporer, dipacu oleh akses jalan yang lebih baik, promosi pariwisata, dan citra Ulun Danu sebagai ‘ikon Bali’—terlebih ketika meru-nya muncul dalam mata uang nasional dan media pariwisata.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak akhir abad ke-20, Bedugul mulai menjadi titik kunjungan penting, menggandeng ekonomi lokal: warung, perahu sewaan, pemandu, penginapan, hingga pedagang suvenir menemukan ladang penghidupan baru. Namun transformasi itu datang dengan harga: tekanan pada ekosistem dan perubahan makna sakral menjadi estetika komoditas. Keindahan yang dijual tidak pernah betul-betul utuh; selalu ada serpihan sakral yang terkelupas oleh keramaian.

Fluktuasi kunjungan selama dekade terakhir menunjukkan betapa pariwisata dapat menjadi berkah sekaligus ancaman. Bali mencatat lonjakan pengunjung yang dramatis sampai menjelang 2019, lalu merosot tajam saat pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Statistik nasional dan studi pariwisata menggambarkan penurunan ekstrem yang kemudian diikuti kebangkitan kembali pasca-pandemi. Fenomena ini menegaskan betapa rentannya ekonomi setempat terhadap dinamika global, dan bagaimana tekanan kunjungan dapat kembali menekan ruang-ruang sakral ketika gelombang turis pulih.

Danau Beratan, dalam banyak cerita, bukan hanya wadah air. Ia adalah pusat kehidupan, sumber kesuburan, tempat di mana Dewi Danu—sang penjaga air—dipuja dan dipelihara secara turun-temurun. Air yang mengaliri subak-subak adalah air yang sama, yang mengkilap di hadapan kita hari ini—meski sekarang agak tercemar. Memikirkan itu membuat saya merasa kecil, juga malu, betapa mudahnya kita melupa bahwa danau ini pernah menjadi tempat para leluhur menenun hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Keramaian di kawasan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Namun, pariwisata seperti pedang bermata dua, kerap membuat kita lupa. Ia menjanjikan kesejahteraan, membuka pintu ekonomi, memberi pekerjaan bagi para pedagang, pengemudi perahu, petugas kebersihan, pemandu lokal. Ia menghidupkan banyak dapur, dan itulah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tapi di ujung mata uang yang sama, ia juga menekan ruang sakral, memadatkan tanah ritual menjadi destinasi, menggiring manusia untuk mengonsumsi tempat suci seperti mereka mengonsumsi hiburan—cepat, riuh, dan tanpa waktu merenung.

Sebelum pulang, saya kembali menatap pura yang berdiri di atas air itu. Riuh suara pengunjung masih ada, perahu masih melaju, kamera masih berkedip. Tetapi di sela semua itu, kabut turun lagi, melingkupi meru dengan kelembutan yang tak bisa dijual kepada siapa pun. Dari jauh, pura tampak seperti pulau kesunyian yang terus mencoba bertahan di tengah pasar. Dan saya memahami paradoks itu, bahwa pariwisata adalah berkah yang menyejahterakan, sekaligus bayangan yang perlahan-lahan menggerus makna. Ia menghidupkan, tetapi juga berpotensi mengaburkan. Ah, apakah ini kutukan?[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: BedugulDanau Beratanpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Belladonna’: Kecantikan yang Beracun

Next Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co