12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 4, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

BENCANA yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama beberapa pekan terakhir tidak hanya menyapu rumah dan jembatan. Ia menyapu kewarasan kita sebagai bangsa. Di balik gelombang lumpur dan derasnya arus air, tampak pula arus lain yang tak kalah deras: arus pencitraan, arus kompetisi visual, dan arus lenyapnya sensitivitas pada kemanusiaan.

Di satu sisi, kita melihat para relawan yang bekerja nyaris tanpa tidur, memanggul logistik, menembus medan berat, berlari menuju tempat yang orang lain hindari. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan pejabat turun dari helikopter bak pemain film laga; logistik yang dilempar dari udara seperti barang tak bernilai; hingga bantuan DPR yang kabarnya harus didokumentasikan terlebih dahulu sebelum diizinkan berangkat. Seolah penderitaan rakyat tak ubahnya properti dalam panggung besar bernama “citra politik.”

Di tengah segala hiruk-pikuk itu, seorang Bupati Aceh Utara menangis sambil membuat surat pernyataan ketidakmampuannya membantu warganya. Air mata itu memecah perhatian publik. Ada yang iba, ada yang sinis, ada yang bertanya-tanya: ketika pemimpin ikut runtuh, kepada siapa rakyat bersandar?

Kita tentu memahami beban seorang kepala daerah ketika bencana datang sebesar ini. Namun pemimpin, dalam segala keterbatasannya, tetap diharapkan menjadi rumah bagi ketenangan. Bukan berarti tak boleh menangis—pemimpin juga manusia. Tapi setelah air mata, harus tetap ada arah. Setelah tangis, harus tetap ada keputusan. Karena rakyat tidak hanya membutuhkan empati; mereka membutuhkan pegangan.

Bencana yang Bernama Kelalaian

Kita kerap menyebut hujan ekstrem sebagai penyebab banjir. Padahal, hujan hanya membeberkan dosa-dosa lama yang tak kita akui: pembalakan liar, penggundulan hutan, alih fungsi lahan semena-mena, hilangnya daerah resapan, sungai yang disempitkan, dan habitat gajah yang makin mengecil sampai satwa itu kehilangan arah.

Ketika alam kehilangan keseimbangannya, bencana bukan lagi takdir semata. Ia adalah konsekuensi. Ia adalah akumulasi dari ratusan keputusan buruk yang diambil sedikit demi sedikit, dari korupsi yang dianggap biasa, dari izin-izin yang diteken tanpa hati, dari pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Maka lirik Ebiet G. Ade kembali terasa seperti teguran langsung:

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa…”

Tuhan mungkin tak bosan. Tapi alam tampaknya sudah muak.

Pelajaran yang Terus Kita Abaikan

Dari seluruh tragedi Sumatra dan Aceh, ada tiga pelajaran besar yang seharusnya menjadi kompas moral negeri ini:

  • Bantuan yang Ikhlas Tak Membutuhkan Panggung

    Dokumentasi memang perlu, tetapi bukan segala-galanya. Kita butuh sistem distribusi yang rapi, bukan konten heroik. Kita butuh empati yang murni, bukan gimmick politik.

    • Kepemimpinan Bukan Penampilan, Tetapi Keberanian

    Pemimpin boleh menangis, tetapi setelah itu ia harus bangkit lebih dulu daripada warganya.
    Negeri ini terlalu sering dipimpin oleh mereka yang pandai berpidato, namun gagap ketika harus mengambil keputusan di lapangan.

    • Mitigasi Bencana Dimulai dari Mitigasi Keserakahan

    Selama pohon terus tumbang demi keuntungan segelintir orang, selama sungai diperlakukan seperti saluran pembuangan, selama tata ruang hanya menjadi dokumen yang dilanggar, kita akan terus berada di siklus bencana yang sama.

    Dan Bali pun Harus Bercermin

    Bencana Sumatra dan Aceh adalah peringatan dini bagi daerah-daerah lain, termasuk Bali. Kita sering merasa aman karena tak melihat banjir setinggi dada atau longsor sebesar bukit. Padahal tanda-tandanya sudah banyak: alih fungsi lahan yang tak terkendali, vila-vila yang menekan kawasan hulu, hutan-hutan pegunungan yang mulai terang benderang dari citra satelit, dan sungai-sungai yang kian kehilangan ruang hidupnya.

    Bali tak kebal bencana.

    Ia hanya belum dipukul sekeras itu.

    Bencana Sumatra dan Aceh bukan tontonan; ia adalah cermin. Jika pulau kecil ini ingin tetap aman dan suci, maka langkah-langkah mitigasi harus dimulai sekarang:

    • pembatasan tegas alih fungsi lahan;
    • audit ketat lingkungan hidup;
    • pelibatan desa adat dalam pengawasan kawasan rawan;
    • restorasi daerah resapan di wilayah hulu; dan
    • kepemimpinan yang tidak ragu mengatakan “cukup” pada eksploitasi.

    Bali tidak boleh menunggu sampai air bah datang, sampai turis berlarian mencari tempat aman, sampai pulau ini hanya menjadi breaking news dan ucapan duka dari seluruh dunia.

    Ketika dunia menikmati keindahannya, ketika negara menjadikannya etalase pariwisata, siapakah yang sesungguhnya bertanggung jawab menjaga kesucian dan keamanannya? Jika bukan orang Bali sendiri yang mengambil alih kendali, lalu siapa? Jadi,
     langkah-langkah mitigasi di atas yang harus ditekankan untuk diupayakan optimal bukan justru transmigrasi.

    Penutup: Kita Harus Menjadi Lebih Baik dari Hari Ini

    Bencana selalu menyisakan luka. Tetapi ia juga membawa pesan: bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam kesedihan Aceh dan Sumatra, kita melihat kehancuran; namun di sisi lain, kita melihat harapan — harapan bahwa negeri ini akhirnya mau belajar.

    Yang kita butuhkan sekarang bukan lagi pertunjukan empati, tetapi gerakan kolektif.
    Bukan air mata di depan kamera, tetapi kerja nyata di lapangan.

    Bukan slogan, tetapi kebijakan.

    Bukan pencitraan, tetapi ketulusan.

    Karena ketika bencana datang lagi—andai kita tak berubah—kita tidak bisa lagi berkata “ini musibah alam.” Kita harus berani mengakui: ini hasil ulah kita. [T]

    Penulis: Dewa Rhadea
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: bencana alamnegara
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

    Next Post

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Dewa Rhadea

    Dewa Rhadea

    Penulis tinggal di Singaraja

    Related Posts

    Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

    by Tri Nugroho Adi
    September 11, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    "Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

    Read moreDetails

    DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    September 10, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

    Read moreDetails

    Kita Salah Menghitung Kesunyian

    by Angga Wijaya
    September 10, 2026
    0
    Kita Salah Menghitung Kesunyian

    SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

    Read moreDetails

    Tubuh yang Saya Suruh Begadang

    by Angga Wijaya
    September 9, 2026
    0
    Tubuh yang Saya Suruh Begadang

    SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

    Read moreDetails

    Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

    by Chusmeru
    September 9, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

    Read moreDetails

    Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

    by Jerry Indrawan
    September 8, 2026
    0
    Mungkinkah Korut Serang AS?

    POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

    Read moreDetails

    Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

    by Wayan Gde Yudane
    September 7, 2026
    0
    Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

    SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

    Read moreDetails

    Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

    by Adwan SA
    September 6, 2026
    0
    Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

    JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

    Read moreDetails

    Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    September 5, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

    Read moreDetails

    Topi Para Penyintas Kanker

    by Angga Wijaya
    September 5, 2026
    0
    Topi Para Penyintas Kanker

    Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

    Read moreDetails
    Next Post
    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

      5 shares
      Share 5 Tweet 0
    • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

      43 shares
      Share 43 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
    Budaya

    Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

    Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

    by Ayu Kahuatu Tamar
    September 11, 2026
    Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
    Pameran

    Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

    SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

    by Dede Putra Wiguna
    September 11, 2026
    Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
    Panggung

    Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

    JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

    by Ingga Adelia
    September 11, 2026
    Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
    Gaya

    Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

      Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

    by tatkala
    September 11, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

    "Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

    by Tri Nugroho Adi
    September 11, 2026
    Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
    Panggung

    Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

    Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

    by Nyoman Budarsana
    September 10, 2026
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
    Esai

    DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

    INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    September 10, 2026
    Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
    Khas

    Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

    JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

    by Emi Suy
    September 10, 2026
    Wajah I Made Galung Wiratmaja
    Ulas Rupa

    Wajah I Made Galung Wiratmaja

    PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

    by Hartanto
    September 10, 2026
    “Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
    Pameran

    “Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

    BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

    by Dede Putra Wiguna
    September 10, 2026
    Kita Salah Menghitung Kesunyian
    Esai

    Kita Salah Menghitung Kesunyian

    SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

    by Angga Wijaya
    September 10, 2026
    Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
    Pop

    Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

    ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

    by Dede Putra Wiguna
    September 10, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co