13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 4, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

BENCANA yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama beberapa pekan terakhir tidak hanya menyapu rumah dan jembatan. Ia menyapu kewarasan kita sebagai bangsa. Di balik gelombang lumpur dan derasnya arus air, tampak pula arus lain yang tak kalah deras: arus pencitraan, arus kompetisi visual, dan arus lenyapnya sensitivitas pada kemanusiaan.

Di satu sisi, kita melihat para relawan yang bekerja nyaris tanpa tidur, memanggul logistik, menembus medan berat, berlari menuju tempat yang orang lain hindari. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan pejabat turun dari helikopter bak pemain film laga; logistik yang dilempar dari udara seperti barang tak bernilai; hingga bantuan DPR yang kabarnya harus didokumentasikan terlebih dahulu sebelum diizinkan berangkat. Seolah penderitaan rakyat tak ubahnya properti dalam panggung besar bernama “citra politik.”

Di tengah segala hiruk-pikuk itu, seorang Bupati Aceh Utara menangis sambil membuat surat pernyataan ketidakmampuannya membantu warganya. Air mata itu memecah perhatian publik. Ada yang iba, ada yang sinis, ada yang bertanya-tanya: ketika pemimpin ikut runtuh, kepada siapa rakyat bersandar?

Kita tentu memahami beban seorang kepala daerah ketika bencana datang sebesar ini. Namun pemimpin, dalam segala keterbatasannya, tetap diharapkan menjadi rumah bagi ketenangan. Bukan berarti tak boleh menangis—pemimpin juga manusia. Tapi setelah air mata, harus tetap ada arah. Setelah tangis, harus tetap ada keputusan. Karena rakyat tidak hanya membutuhkan empati; mereka membutuhkan pegangan.

Bencana yang Bernama Kelalaian

Kita kerap menyebut hujan ekstrem sebagai penyebab banjir. Padahal, hujan hanya membeberkan dosa-dosa lama yang tak kita akui: pembalakan liar, penggundulan hutan, alih fungsi lahan semena-mena, hilangnya daerah resapan, sungai yang disempitkan, dan habitat gajah yang makin mengecil sampai satwa itu kehilangan arah.

Ketika alam kehilangan keseimbangannya, bencana bukan lagi takdir semata. Ia adalah konsekuensi. Ia adalah akumulasi dari ratusan keputusan buruk yang diambil sedikit demi sedikit, dari korupsi yang dianggap biasa, dari izin-izin yang diteken tanpa hati, dari pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Maka lirik Ebiet G. Ade kembali terasa seperti teguran langsung:

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa…”

Tuhan mungkin tak bosan. Tapi alam tampaknya sudah muak.

Pelajaran yang Terus Kita Abaikan

Dari seluruh tragedi Sumatra dan Aceh, ada tiga pelajaran besar yang seharusnya menjadi kompas moral negeri ini:

  • Bantuan yang Ikhlas Tak Membutuhkan Panggung

    Dokumentasi memang perlu, tetapi bukan segala-galanya. Kita butuh sistem distribusi yang rapi, bukan konten heroik. Kita butuh empati yang murni, bukan gimmick politik.

    • Kepemimpinan Bukan Penampilan, Tetapi Keberanian

    Pemimpin boleh menangis, tetapi setelah itu ia harus bangkit lebih dulu daripada warganya.
    Negeri ini terlalu sering dipimpin oleh mereka yang pandai berpidato, namun gagap ketika harus mengambil keputusan di lapangan.

    • Mitigasi Bencana Dimulai dari Mitigasi Keserakahan

    Selama pohon terus tumbang demi keuntungan segelintir orang, selama sungai diperlakukan seperti saluran pembuangan, selama tata ruang hanya menjadi dokumen yang dilanggar, kita akan terus berada di siklus bencana yang sama.

    Dan Bali pun Harus Bercermin

    Bencana Sumatra dan Aceh adalah peringatan dini bagi daerah-daerah lain, termasuk Bali. Kita sering merasa aman karena tak melihat banjir setinggi dada atau longsor sebesar bukit. Padahal tanda-tandanya sudah banyak: alih fungsi lahan yang tak terkendali, vila-vila yang menekan kawasan hulu, hutan-hutan pegunungan yang mulai terang benderang dari citra satelit, dan sungai-sungai yang kian kehilangan ruang hidupnya.

    Bali tak kebal bencana.

    Ia hanya belum dipukul sekeras itu.

    Bencana Sumatra dan Aceh bukan tontonan; ia adalah cermin. Jika pulau kecil ini ingin tetap aman dan suci, maka langkah-langkah mitigasi harus dimulai sekarang:

    • pembatasan tegas alih fungsi lahan;
    • audit ketat lingkungan hidup;
    • pelibatan desa adat dalam pengawasan kawasan rawan;
    • restorasi daerah resapan di wilayah hulu; dan
    • kepemimpinan yang tidak ragu mengatakan “cukup” pada eksploitasi.

    Bali tidak boleh menunggu sampai air bah datang, sampai turis berlarian mencari tempat aman, sampai pulau ini hanya menjadi breaking news dan ucapan duka dari seluruh dunia.

    Ketika dunia menikmati keindahannya, ketika negara menjadikannya etalase pariwisata, siapakah yang sesungguhnya bertanggung jawab menjaga kesucian dan keamanannya? Jika bukan orang Bali sendiri yang mengambil alih kendali, lalu siapa? Jadi,
     langkah-langkah mitigasi di atas yang harus ditekankan untuk diupayakan optimal bukan justru transmigrasi.

    Penutup: Kita Harus Menjadi Lebih Baik dari Hari Ini

    Bencana selalu menyisakan luka. Tetapi ia juga membawa pesan: bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam kesedihan Aceh dan Sumatra, kita melihat kehancuran; namun di sisi lain, kita melihat harapan — harapan bahwa negeri ini akhirnya mau belajar.

    Yang kita butuhkan sekarang bukan lagi pertunjukan empati, tetapi gerakan kolektif.
    Bukan air mata di depan kamera, tetapi kerja nyata di lapangan.

    Bukan slogan, tetapi kebijakan.

    Bukan pencitraan, tetapi ketulusan.

    Karena ketika bencana datang lagi—andai kita tak berubah—kita tidak bisa lagi berkata “ini musibah alam.” Kita harus berani mengakui: ini hasil ulah kita. [T]

    Penulis: Dewa Rhadea
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: bencana alamnegara
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

    Next Post

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Dewa Rhadea

    Dewa Rhadea

    Penulis tinggal di Singaraja

    Related Posts

    HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

    by Sugi Lanus
    July 12, 2026
    0
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

    — Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

    Read moreDetails

    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

    by I Wayan Artika
    July 12, 2026
    0
    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

    Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

    Read moreDetails

    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

    by Agung Bawantara
    July 12, 2026
    0
    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

    Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

    Read moreDetails

    Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

    by Wayan Gde Yudane
    July 11, 2026
    0
    Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

    ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

    Read moreDetails

    Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

    by I Gede Made Surya Darma
    July 10, 2026
    0
    Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

    DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

    Read moreDetails

    Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

    by Chusmeru
    July 10, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

    Read moreDetails

    Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

    by Nur Inayah Yushar
    July 9, 2026
    0
    Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

    SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

    Read moreDetails

    Bali, Surga yang Sudah Overload

    by Agung Sudarsa
    July 9, 2026
    0
    Bali, Surga yang Sudah Overload

    Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

    Read moreDetails

    Bunglon di Republik Kita

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    July 8, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

    Read moreDetails

    KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

    by Sugi Lanus
    July 7, 2026
    0
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

    Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

    Read moreDetails
    Next Post
    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

      23 shares
      Share 23 Tweet 0
    • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
    Panggung

    Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

    DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

    by Nyoman Budarsana
    July 13, 2026
    “Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
    Panggung

    “Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

    PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

    by Nyoman Budarsana
    July 13, 2026
    Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
    Panggung

    Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

    Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

    by Nyoman Budarsana
    July 12, 2026
    PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
    Esai

    HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

    — Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

    by Sugi Lanus
    July 12, 2026
    Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
    Khas

    Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

    PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

    by Dede Putra Wiguna
    July 12, 2026
    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
    Esai

    Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

    Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

    by I Wayan Artika
    July 12, 2026
    Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
    Ulas Buku

    Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

    KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

    by IRZI
    July 12, 2026
    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
    Esai

    Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

    Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

    by Agung Bawantara
    July 12, 2026
    Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
    Panggung

    Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

    SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

    by Agus Eka Cahyadi
    July 11, 2026
    Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
    Ulas Pentas

    Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

    BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

    by Dewa Purwita Sukahet
    July 11, 2026
    Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
    Khas

    Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

    SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

    by Dede Putra Wiguna
    July 11, 2026
    Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
    Pameran

    Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

    PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

    by I Gede Made Surya Darma
    July 11, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co