2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 4, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

BENCANA yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama beberapa pekan terakhir tidak hanya menyapu rumah dan jembatan. Ia menyapu kewarasan kita sebagai bangsa. Di balik gelombang lumpur dan derasnya arus air, tampak pula arus lain yang tak kalah deras: arus pencitraan, arus kompetisi visual, dan arus lenyapnya sensitivitas pada kemanusiaan.

Di satu sisi, kita melihat para relawan yang bekerja nyaris tanpa tidur, memanggul logistik, menembus medan berat, berlari menuju tempat yang orang lain hindari. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan pejabat turun dari helikopter bak pemain film laga; logistik yang dilempar dari udara seperti barang tak bernilai; hingga bantuan DPR yang kabarnya harus didokumentasikan terlebih dahulu sebelum diizinkan berangkat. Seolah penderitaan rakyat tak ubahnya properti dalam panggung besar bernama “citra politik.”

Di tengah segala hiruk-pikuk itu, seorang Bupati Aceh Utara menangis sambil membuat surat pernyataan ketidakmampuannya membantu warganya. Air mata itu memecah perhatian publik. Ada yang iba, ada yang sinis, ada yang bertanya-tanya: ketika pemimpin ikut runtuh, kepada siapa rakyat bersandar?

Kita tentu memahami beban seorang kepala daerah ketika bencana datang sebesar ini. Namun pemimpin, dalam segala keterbatasannya, tetap diharapkan menjadi rumah bagi ketenangan. Bukan berarti tak boleh menangis—pemimpin juga manusia. Tapi setelah air mata, harus tetap ada arah. Setelah tangis, harus tetap ada keputusan. Karena rakyat tidak hanya membutuhkan empati; mereka membutuhkan pegangan.

Bencana yang Bernama Kelalaian

Kita kerap menyebut hujan ekstrem sebagai penyebab banjir. Padahal, hujan hanya membeberkan dosa-dosa lama yang tak kita akui: pembalakan liar, penggundulan hutan, alih fungsi lahan semena-mena, hilangnya daerah resapan, sungai yang disempitkan, dan habitat gajah yang makin mengecil sampai satwa itu kehilangan arah.

Ketika alam kehilangan keseimbangannya, bencana bukan lagi takdir semata. Ia adalah konsekuensi. Ia adalah akumulasi dari ratusan keputusan buruk yang diambil sedikit demi sedikit, dari korupsi yang dianggap biasa, dari izin-izin yang diteken tanpa hati, dari pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Maka lirik Ebiet G. Ade kembali terasa seperti teguran langsung:

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa…”

Tuhan mungkin tak bosan. Tapi alam tampaknya sudah muak.

Pelajaran yang Terus Kita Abaikan

Dari seluruh tragedi Sumatra dan Aceh, ada tiga pelajaran besar yang seharusnya menjadi kompas moral negeri ini:

  • Bantuan yang Ikhlas Tak Membutuhkan Panggung

    Dokumentasi memang perlu, tetapi bukan segala-galanya. Kita butuh sistem distribusi yang rapi, bukan konten heroik. Kita butuh empati yang murni, bukan gimmick politik.

    • Kepemimpinan Bukan Penampilan, Tetapi Keberanian

    Pemimpin boleh menangis, tetapi setelah itu ia harus bangkit lebih dulu daripada warganya.
    Negeri ini terlalu sering dipimpin oleh mereka yang pandai berpidato, namun gagap ketika harus mengambil keputusan di lapangan.

    • Mitigasi Bencana Dimulai dari Mitigasi Keserakahan

    Selama pohon terus tumbang demi keuntungan segelintir orang, selama sungai diperlakukan seperti saluran pembuangan, selama tata ruang hanya menjadi dokumen yang dilanggar, kita akan terus berada di siklus bencana yang sama.

    Dan Bali pun Harus Bercermin

    Bencana Sumatra dan Aceh adalah peringatan dini bagi daerah-daerah lain, termasuk Bali. Kita sering merasa aman karena tak melihat banjir setinggi dada atau longsor sebesar bukit. Padahal tanda-tandanya sudah banyak: alih fungsi lahan yang tak terkendali, vila-vila yang menekan kawasan hulu, hutan-hutan pegunungan yang mulai terang benderang dari citra satelit, dan sungai-sungai yang kian kehilangan ruang hidupnya.

    Bali tak kebal bencana.

    Ia hanya belum dipukul sekeras itu.

    Bencana Sumatra dan Aceh bukan tontonan; ia adalah cermin. Jika pulau kecil ini ingin tetap aman dan suci, maka langkah-langkah mitigasi harus dimulai sekarang:

    • pembatasan tegas alih fungsi lahan;
    • audit ketat lingkungan hidup;
    • pelibatan desa adat dalam pengawasan kawasan rawan;
    • restorasi daerah resapan di wilayah hulu; dan
    • kepemimpinan yang tidak ragu mengatakan “cukup” pada eksploitasi.

    Bali tidak boleh menunggu sampai air bah datang, sampai turis berlarian mencari tempat aman, sampai pulau ini hanya menjadi breaking news dan ucapan duka dari seluruh dunia.

    Ketika dunia menikmati keindahannya, ketika negara menjadikannya etalase pariwisata, siapakah yang sesungguhnya bertanggung jawab menjaga kesucian dan keamanannya? Jika bukan orang Bali sendiri yang mengambil alih kendali, lalu siapa? Jadi,
     langkah-langkah mitigasi di atas yang harus ditekankan untuk diupayakan optimal bukan justru transmigrasi.

    Penutup: Kita Harus Menjadi Lebih Baik dari Hari Ini

    Bencana selalu menyisakan luka. Tetapi ia juga membawa pesan: bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam kesedihan Aceh dan Sumatra, kita melihat kehancuran; namun di sisi lain, kita melihat harapan — harapan bahwa negeri ini akhirnya mau belajar.

    Yang kita butuhkan sekarang bukan lagi pertunjukan empati, tetapi gerakan kolektif.
    Bukan air mata di depan kamera, tetapi kerja nyata di lapangan.

    Bukan slogan, tetapi kebijakan.

    Bukan pencitraan, tetapi ketulusan.

    Karena ketika bencana datang lagi—andai kita tak berubah—kita tidak bisa lagi berkata “ini musibah alam.” Kita harus berani mengakui: ini hasil ulah kita. [T]

    Penulis: Dewa Rhadea
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: bencana alamnegara
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

    Next Post

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Dewa Rhadea

    Dewa Rhadea

    Penulis tinggal di Singaraja

    Related Posts

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    0
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    Read moreDetails

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    0
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    Read moreDetails

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    0
    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    Read moreDetails

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026
    0
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    Read moreDetails

    Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

    by Chusmeru
    September 30, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

    Read moreDetails

    Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

    by Putu Arya Nugraha
    September 29, 2026
    0
    Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

    PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

    Read moreDetails

    Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

    by Ahmad Hirzan Anwari
    September 29, 2026
    0
    Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

    PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

    Read moreDetails

    Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

    by Emi Suy
    September 29, 2026
    0
    Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

    ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

    Read moreDetails

    Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

    by Jero Penyarikan Duuran Batur
    September 28, 2026
    0
    Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

    Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

    Read moreDetails

    Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

    by Angga Wijaya
    September 27, 2026
    0
    Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

    DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

    Read moreDetails
    Next Post
    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
    Esai

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
    Khas

    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

    Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

    by Rusdy Ulu
    October 1, 2026
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
    Esai

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
    Panggung

    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

    PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
    Pop

    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

    ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Manusia Purba di Kota Denpasar
    Esai

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
    Khas

    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

    “CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

    by Dede Putra Wiguna
    October 1, 2026
    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
    Olahraga

    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

    KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

    by Jaswanto
    October 1, 2026
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
    Esai

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

    DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

    by Chusmeru
    September 30, 2026
    Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
    Budaya

    Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

    TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

    by Rusdy Ulu
    September 30, 2026
    Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
    Opini

    Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

    PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

    by Dini Nastiti Wardani
    September 30, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co