23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

Made Bryan Mahararta by Made Bryan Mahararta
December 4, 2025
in Esai
Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DI tengah derasnya arus digitalisasi dan percepatan teknologi, transformasi pembangunan desa tidak lagi dapat ditunda. Desa sebagai lumbung sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia memegang peran strategis dalam menentukan arah masa depan ekonomi nasional. Keterbatasan akses dalam pengelolaan ekonomi, dan lemahnya posisi tawar masyarakat dalam rantai pasok nasional masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Dalam konteks inilah konsep Koperasi Desa Merah Putih menjadi menarik untuk dibahas, terutama sebagai model koperasi modern yang mengintegrasikan inovasi digital, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan peluang kerja generasi muda secara berkelanjutan.

Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar lembaga ekonomi konvensional, tetapi sebuah ekosistem digital yang mampu menjembatani masyarakat desa dengan peluang ekonomi global. Koperasi yang kita lama kenal sebagai soko guru ekonomi nasional, dengan memanfaatkan teknologi diharapkan koperasi desa dapat bertransformasi dari entitas yang selama ini dikenal kaku dan tradisional menjadi organisasi adaptif, profesional, dan berdaya saing. Tantangannya kini bukan lagi sekadar mengumpulkan modal, tetapi bagaimana koperasi dapat menjadi hub inovasi desa, pusat pelatihan digital, sekaligus rumah bagi kewirausahaan muda.

Ekonomi kerakyatan selama ini sering dimaknai sebagai ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil. Akan tetapi, di era digital, ekonomi kerakyatan harus naik kelas melalui inovasi, digitalisasi, dan standar manajemen modern. Ini berarti koperasi tidak cukup sekadar menjadi wadah simpan pinjam atau penyalur pupuk, melainkan harus mampu mewadahi pengembangan usaha berbasis teknologi, penguatan rantai pasok, dan integrasi pasar digital.

Dalam model Koperasi Desa Merah Putih yang terbarukan, ekonomi kerakyatan bukan hanya soal pemerataan keuntungan, tetapi juga distribusi akses digital yang adil, penyediaan infrastruktur inovasi, kolaborasi lintas sektor yang inklusif, dan pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan usaha. Artinya, demokratisasi ekonomi tidak lagi sekadar melalui musyawarah anggota, tetapi juga melalui kemampuan koperasi menyiapkan platform digital yang transparan, mengelola data anggota, dan menciptakan nilai tambah melalui teknologi.

Misalnya, koperasi dapat mengembangkan sistem agribisnis digital yang menghubungkan petani desa dengan pasar kota atau industri makanan. Sistem ini memungkinkan petani memantau harga pasar secara real-time, memetakan kebutuhan pupuk melalui aplikasi, hingga mendapatkan prediksi cuaca melalui sensor berbasis IoT (Internet of Things). Dengan cara ini, koperasi bukan lagi sekadar lembaga keuangan kecil, tetapi menjadi pusat informasi dan distribusi yang menuntun anggota desa pada efisiensi dan keuntungan.

Partisipasi Pemuda dan Teknologi sebagai Kekuatan Ganda

Kunci keberhasilan koperasi tetap berakar pada partisipasi masyarakat. Namun pola partisipasi masyarakat juga berkembang seiring perkembangan zaman. Jika dahulu partisipasi hanya berbentuk rapat anggota dan penyertaan modal, kini partisipasi hadir dalam bentuk akses warga terhadap platform digital koperasi, pelaporan transaksi melalui aplikasi, keterlibatan dalam e-voting saat pengambilan keputusan, kolaborasi warga desa dalam menciptakan produk digital dan pengelolaan usaha bersama berbasis platform.

Bahkan, partisipasi masyarakat tidak lagi terbatas oleh ruang dan fisik. Teknologi sangat memungkinkan untuk membuat keterlibatan anggota menjadi lebih mudah, transparan, dan inklusif. Termasuk warga yang bekerja di kota dapat tetap menjadi anggota aktif koperasi melalui sistem digital. Namun, partisipasi masyarakat khususnya generasi muda tidak akan terbangun tanpa literasi digital yang memadai.

Di sinilah peran koperasi menjadi sentral, yakni tidak hanya menjalankan usaha, tetapi juga menjadi lembaga pendidikan yang membangun kesadaran digital masyarakat desa. Koperasi harus menyelenggarakan pelatihan dasar seperti penggunaan aplikasi transaksi, pemasaran digital, hingga keamanan data. Ketika masyarakat merasa memiliki kompetensi dan kepercayaan diri, partisipasi meningkat secara alami.

Pemuda merupakan aset bangsa, terlebih untuk saat ini generasi muda yang di dominasi usia produktif menjadi garda terdepan keberhasilan pembangunan. Sehingga, slogan pemerintah yang gencar mewujudkan Indonesia Emas 2045 adalah sebuah keniscayaan dengan melihat potensi sumber daya yang berlimpah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa generasi muda desa hari ini menghadapi realitas ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka adalah generasi yang sangat dekat dengan teknologi, memiliki tingkat adaptasi tinggi, dan cenderung kreatif. Di sisi lain, lapangan kerja di desa terbatas sehingga banyak dari mereka merantau ke kota dengan pekerjaan yang tidak selalu stabil.

Era disrupsi digital justru membuka peluang baru bagi generasi muda desa, dan koperasi dapat menjadi katalisatornya. Dengan terlibat aktif dalam koperasi, pemuda tidak hanya mendapat pekerjaan, tetapi juga ruang untuk berinovasi dan berkreasi. Beberapa peluang kerja baru yang dapat muncul dari pemanfaatan teknologi digital ini bukan hanya menggantikan mekanisme kinerja secara konvensional. Namun, lebih menekankan bagaimana keadaan masyarakat sekarang yang serba terkoneksi dengan internet dan platform digital seperti media sosial.

Misalnya, dalam rangka mengembangkan konten promosi desa, generasi muda desa dapat memvisualisasikan berupa penyediaan katalog UMKM, foto produk, video wisata, dan materi pemasaran yang dikelola melalui platform koperasi secara digital. Sehingga, sangat memungkinkan untuk mengembangkan UMKM dengan melakukan pendekatan pola bisnis baru seperti marketplace yang sudah menjamur diberbagai aplikasi digital.

Peluang usaha lainnya bisa juga dengan melakukan inovasi dan kolaborasi terhadap peningkatan pangan lokal dengan menjadi tenaga ahli pertanian modern. Teknologi seperti sensor tanah, aplikasi prediksi cuaca, penggunaan drone, dan sistem pertanian berbasis digital membuka peluang kerja teknis bagi pemuda yang melek teknologi dan informasi. Bagaimana menghidupkan roda perekonomian dan pengolahan hasil alam dapat diwujudkan dengan aktivitas yang lebih efektif, efisien, modern dan multifungsi.

Melalui konsep terbarukan yang menggabungkan nilai gotong royong, kekuatan masyarakat, inovasi digital, dan keberlanjutan, koperasi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan modern menghadirkan optimisme baru bagi masa depan desa. Generasi muda menjadi pilar utama transformasi ini, sementara pemberdayaan masyarakat menjadi fondasi yang menjaga agar perubahan berjalan merata dan berkeadilan.

Di era disrupsi, koperasi tidak boleh berjalan di tempat. Koperasi harus menjadi rumah inovasi, pusat kreativitas, dan ruang bagi masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Dengan dukungan Kementerian Koperasi, digitalisasi koperasi desa dapat menjadi gerakan nasional yang mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing global.

Di era ketika teknologi digital berkembang dengan kecepatan yang sulit diimbangi oleh kebanyakan desa, upaya untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sering kali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Transformasi digital tidak hanya membawa peluang, tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi masyarakat desa yang belum siap beradaptasi. Di tengah perubahan inilah gagasan Koperasi Desa Merah Putih menjadi relevan dan mendesak untuk diwujudkan.

Koperasi sebagai lembaga ekonomi berbasis kebersamaan dan gotong royong, memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara masyarakat desa dan perkembangan teknologi modern. Dengan memusatkan perhatian pada pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang kerja bagi generasi muda, koperasi dapat menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi desa di era disrupsi digital. Konsep ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada kekuatan masyarakat dan distribusi manfaat yang adil sejak lama menjadi cita-cita pembangunan nasional.

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Inovasi Koperasi Desa

Agar koperasi benar-benar mampu menciptakan peluang kerja baru, koperasi perlu berevolusi menjadi inkubator inovasi desa. Konsep ini menggeser koperasi dari entitas usaha konvensional menjadi pusat kreativitas, pembelajaran, dan pengembangan bisnis. Shrinking the digital divide, yaitu memperkuat kapasitas pemuda, dan memperluas akses ke pasar global adalah misi inovatif yang bisa diemban Koperasi Desa Merah Putih.

Di masa mendatang, koperasi dapat menyediakan ruang kerja kreatif dengan koneksi internet kuat, komputer dasar, kamera, dan fasilitas produksi konten. Tempat ini menjadi pusat kegiatan digitalisasi produk desa yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menjangkau produk-produk yang disediakan. Maka, penguatan literasi digital melalui pelatihan reguler mulai dari pemasaran digital, e-commerce, keuangan digital, pengelolaan data, hingga keamanan siber juga perlu dijadwalkan. Modul dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Untuk menjangkau segmen yang lebih luas, koperasi perlu menyusun bagaimana pengembangan dashboard data dapat difungsikan untuk melihat tren penjualan, stok barang, performa anggota, hingga analisis pasar. Data tersebut dapat menjadi kekuatan dan bahan utama setiap anggota dalam pengambilan keputusan. Selain itu, koperasi perlu meingkatkan kerjasama dengan pendidikan tinggi atau startup untuk mencoba teknologi pertanian modern, pemantauan lahan, dan efisiensi pupuk serta air berbasis aplikasi.

Dengan menjalankan inovasi tersebut, koperasi bukan hanya berevolusi secara digital, tetapi menciptakan peluang kerja yang nyata dan berkelanjutan. Prinsip keberlanjutan dalam pengembangan koperasi digital harus dilakukan dengan menerapkan transformasi digital koperasi desa agar dikelola secara berkelanjutan. Keberlanjutan tidak hanya berarti program jangka panjang, tetapi bagaimana inovasi koperasi dapat terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

Adapun beberapa prinsip keberlanjutan yang perlu diterapkan, diantaranya adalah pembangunan SDM jangka panjang, relevansi model bisnis, kemandirian finansial, penggunaan teknologi adaptif, dan kolaborasi multisektor. Dalam mewujudkan keberlanjutan, koperasi harus memiliki kurikulum pelatihan berulang, mentorship, dan pengkaderan generasi muda untuk menghindari ketergantungan pada satu-dua individu. Koperasi harus terus memantau tren pasar dan mengembangkan produk yang relevan, mulai dari pangan organik, kerajinan kreatif, hingga layanan digital.

Selanjutnya, aset koperasi perlu dikelola dengan perencanaan yang lebih matang sehingga dapat menghasilkan surplus yang diputar kembali untuk inovasi, pelatihan, dan teknologi. Dengan memastikan penggunaan teknologi yang mudah dioperasikan, hemat biaya, dan dapat disesuaikan jika terjadi perubahan kebutuhan akan menjadikan koperasi desa lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan.

Terakhir, peningkatan kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pihak termasuk pemangku kepentingan. Koperasi perlu bekerja sama dengan universitas, startup digital, BUMDes, pemerintah daerah, hingga lembaga donor untuk memastikan inovasi dapat terus berkembang dengan memperhatikan kebermanfaatan bagi anggota dan masyarakat sekitar. Agar gerakan modernisasi koperasi desa benar-benar berhasil, Kementerian Koperasi perlu mengubah dalam melakukan pendekatan dan cara pandang terhadap koperasi desa. Kementerian Koperasi tidak hanya sekedar menjadi regulator, tetapi juga fasilitator ekosistem inovasi desa.

Untuk itu, ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Standarisasi Digitalisasi Koperasi. Kementerian Koperasi harus menyediakan standar aplikasi, dashboard keuangan, sistem administrasi digital, serta SOP keamanan data untuk memastikan koperasi dapat berkembang secara modern dan terintegrasi dengan baik.
  2. Pemetaan Kebutuhan Teknis Desa. Setiap desa memiliki keunikan sehingga perlu dilakukan pemetaan berbasis data untuk menentukan jenis digitalisasi yang paling sesuai dengan karakter ekonomi lokal.
  3. Skema Pendanaan Inovasi. Diperlukan dana khusus inovasi koperasi berupa innovation grant, pendanaan inkubator, atau subsidi digitalisasi yang bisa diakses koperasi desa.
  4. Penguatan Literasi Digital. Tidak cukup hanya pelatihan dasar, perlu dibuat kurikulum berjenjang, sertifikasi digital, dan program pelatihan intensif untuk pemuda desa.
  5. Pengawasan dan Akuntabilitas Digital. Kemenkop harus menguatkan audit digital untuk koperasi, sehingga kecurangan dapat diminimalisasi dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
  6. Kolaborasi Antar-Kementerian. Transformasi koperasi tidak bisa berdiri sendiri. Kemenkop perlu berkolaborasi dengan berbagai kementerian yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, pedesaan, teknologi digital, dan pendidikan.

Dalam praktiknya, ditemukan banyak SDM desa yang masih tersisih dari arus utama ekonomi. Produk pertanian dijual murah kepada tengkulak, UMKM sulit berkembang karena minim modal, dan akses pasar yang masih sangat terbatas. Koperasi hadir sebagai solusi struktural, yakni sebagai sebuah wadah ekonomi bersama yang memastikan keuntungan tidak terkonsentrasi pada satu kelompok, melainkan kembali kepada masyarakat.

Dalam konteks Koperasi Desa Merah Putih, ekonomi kerakyatan diposisikan bukan sekadar konsep normatif, tetapi menjadi fondasi dari strategi pembangunan desa secara komprehensif. Koperasi dapat mengelola hasil pertanian secara kolektif, memberi harga yang lebih baik kepada petani, dan menciptakan sistem penyimpanan atau penjualan digital yang menguntungkan.

Partisipasi aktif masyarakat adalah syarat utama hidupnya koperasi. Koperasi hanya dapat berjalan jika warga desa percaya, terlibat, dan merasa memiliki. Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih harus membangun sistem yang transparan dan akuntabel. Pengambilan keputusan mesti dilakukan melalui musyawarah, laporan keuangan harus dapat diakses, dan manfaat koperasi harus kembali langsung kepada warga.

Keterlibatan masyarakat bukan hanya dalam bentuk keanggotaan, tetapi juga melalui kontribusi pengetahuan lokal, kerja sama dalam produksi, dan keaktifan dalam pelatihan peningkatan kapasitas. Di sinilah pemberdayaan masyarakat memainkan peran strategis. Dengan meningkatkan kemampuan warga mulai dari literasi keuangan, manajemen usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital maka koperasi dapat menciptakan ekosistem ekonomi desa yang sehat dan mandiri.

Pemberdayaan bukan hanya dalam bentuk program, tetapi proses panjang yang membentuk kesadaran, memberi akses terhadap sumber daya, dan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam mengelola masa depannya. Ketika masyarakat diberi ruang untuk berkembang, koperasi akan menjadi lebih kokoh dan berkelanjutan.

Ketika koperasi berjalan aktif dan generasi muda berperan dominan dalam transformasi digital, maka pemberdayaan masyarakat akan terjadi secara sistemik. Bukan hanya mereka yang memiliki usaha, tetapi juga keluarga dan kelompok rentan dapat ikut merasakan manfaatnya. Dampak pemberdayaan dapat dilihat dari beberapa aspek. Dengan adanya akses pasar yang lebih luas, produk desa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pendapatan keluarga meningkat, dan siklus kemiskinan mulai terputus.

Pelatihan yang berkelanjutan membuat warga lebih percaya diri dalam mengelola usaha, mengambil keputusan ekonomi, atau mengembangkan potensi dirinya. Desa yang tadinya bertumpu pada pertanian dapat berkembang menjadi desa digital, desa wisata, atau desa kreatif. Ketahanan ekonomi meningkat karena sumber penghasilan lebih beragam.

Koperasi Desa Merah Putih bukan hanya sebuah konsep ekonomi, tetapi visi besar tentang masa depan desa yang lebih mandiri, modern, dan inklusif. Di era digital yang penuh ketidakpastian, koperasi dapat menjadi jangkar sosial dan ekonomi yang menjamin pembagian manfaat secara adil. Pemberdayaan masyarakat menjadi inti utama, sementara generasi muda membawa energi, inovasi, dan kemampuan digital untuk mendorong perubahan.

Jika desa diberi ruang untuk berkembang melalui koperasi modern, Indonesia tidak hanya membangun ekonomi dari atas ke bawah, tetapi justru dari akar rumput yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa. Dengan partisipasi aktif warga, semangat pemuda, dan kekuatan kolaborasi, Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi simbol kemandirian sekaligus harapan bagi masa depan ekonomi kerakyatan di tanah air. [T]

Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaekonomikoperasikoperasi merah putih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Next Post

Dinamika Sosial Bali di Balik Citra Harmoni

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta atau akrab disapa Ibenk adalah seorang pegiat literasi dan advokasi kebangsaan yang berasal dari Buleleng. Aktif menjadi podcaster dan salah satu pendiri Sociocorner, sebuah komunitas media alternatif yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan dan keberagaman. Lahir di Surabaya, 22 Februari 1991 memiliki hobi menonton film dan pementasan budaya. Saat ini, penulis menetap di Jakarta dan aktif menjadi pembicara maupun kolumnis media online yang memiliki konsentrasi terhadap demokrasi, partisipasi anak muda, dan moderasi beragama. Buku yang pernah diterbitkan antara lain: Ruang Baru Masyarakat Digital (2020) dan Candradimuka Gerakan Intelektual (2022).

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Dinamika Sosial Bali di Balik Citra Harmoni

Dinamika Sosial Bali di Balik Citra Harmoni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co