2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

Made Bryan Mahararta by Made Bryan Mahararta
December 4, 2025
in Esai
Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DI tengah derasnya arus digitalisasi dan percepatan teknologi, transformasi pembangunan desa tidak lagi dapat ditunda. Desa sebagai lumbung sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia memegang peran strategis dalam menentukan arah masa depan ekonomi nasional. Keterbatasan akses dalam pengelolaan ekonomi, dan lemahnya posisi tawar masyarakat dalam rantai pasok nasional masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Dalam konteks inilah konsep Koperasi Desa Merah Putih menjadi menarik untuk dibahas, terutama sebagai model koperasi modern yang mengintegrasikan inovasi digital, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan peluang kerja generasi muda secara berkelanjutan.

Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar lembaga ekonomi konvensional, tetapi sebuah ekosistem digital yang mampu menjembatani masyarakat desa dengan peluang ekonomi global. Koperasi yang kita lama kenal sebagai soko guru ekonomi nasional, dengan memanfaatkan teknologi diharapkan koperasi desa dapat bertransformasi dari entitas yang selama ini dikenal kaku dan tradisional menjadi organisasi adaptif, profesional, dan berdaya saing. Tantangannya kini bukan lagi sekadar mengumpulkan modal, tetapi bagaimana koperasi dapat menjadi hub inovasi desa, pusat pelatihan digital, sekaligus rumah bagi kewirausahaan muda.

Ekonomi kerakyatan selama ini sering dimaknai sebagai ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil. Akan tetapi, di era digital, ekonomi kerakyatan harus naik kelas melalui inovasi, digitalisasi, dan standar manajemen modern. Ini berarti koperasi tidak cukup sekadar menjadi wadah simpan pinjam atau penyalur pupuk, melainkan harus mampu mewadahi pengembangan usaha berbasis teknologi, penguatan rantai pasok, dan integrasi pasar digital.

Dalam model Koperasi Desa Merah Putih yang terbarukan, ekonomi kerakyatan bukan hanya soal pemerataan keuntungan, tetapi juga distribusi akses digital yang adil, penyediaan infrastruktur inovasi, kolaborasi lintas sektor yang inklusif, dan pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan usaha. Artinya, demokratisasi ekonomi tidak lagi sekadar melalui musyawarah anggota, tetapi juga melalui kemampuan koperasi menyiapkan platform digital yang transparan, mengelola data anggota, dan menciptakan nilai tambah melalui teknologi.

Misalnya, koperasi dapat mengembangkan sistem agribisnis digital yang menghubungkan petani desa dengan pasar kota atau industri makanan. Sistem ini memungkinkan petani memantau harga pasar secara real-time, memetakan kebutuhan pupuk melalui aplikasi, hingga mendapatkan prediksi cuaca melalui sensor berbasis IoT (Internet of Things). Dengan cara ini, koperasi bukan lagi sekadar lembaga keuangan kecil, tetapi menjadi pusat informasi dan distribusi yang menuntun anggota desa pada efisiensi dan keuntungan.

Partisipasi Pemuda dan Teknologi sebagai Kekuatan Ganda

Kunci keberhasilan koperasi tetap berakar pada partisipasi masyarakat. Namun pola partisipasi masyarakat juga berkembang seiring perkembangan zaman. Jika dahulu partisipasi hanya berbentuk rapat anggota dan penyertaan modal, kini partisipasi hadir dalam bentuk akses warga terhadap platform digital koperasi, pelaporan transaksi melalui aplikasi, keterlibatan dalam e-voting saat pengambilan keputusan, kolaborasi warga desa dalam menciptakan produk digital dan pengelolaan usaha bersama berbasis platform.

Bahkan, partisipasi masyarakat tidak lagi terbatas oleh ruang dan fisik. Teknologi sangat memungkinkan untuk membuat keterlibatan anggota menjadi lebih mudah, transparan, dan inklusif. Termasuk warga yang bekerja di kota dapat tetap menjadi anggota aktif koperasi melalui sistem digital. Namun, partisipasi masyarakat khususnya generasi muda tidak akan terbangun tanpa literasi digital yang memadai.

Di sinilah peran koperasi menjadi sentral, yakni tidak hanya menjalankan usaha, tetapi juga menjadi lembaga pendidikan yang membangun kesadaran digital masyarakat desa. Koperasi harus menyelenggarakan pelatihan dasar seperti penggunaan aplikasi transaksi, pemasaran digital, hingga keamanan data. Ketika masyarakat merasa memiliki kompetensi dan kepercayaan diri, partisipasi meningkat secara alami.

Pemuda merupakan aset bangsa, terlebih untuk saat ini generasi muda yang di dominasi usia produktif menjadi garda terdepan keberhasilan pembangunan. Sehingga, slogan pemerintah yang gencar mewujudkan Indonesia Emas 2045 adalah sebuah keniscayaan dengan melihat potensi sumber daya yang berlimpah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa generasi muda desa hari ini menghadapi realitas ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka adalah generasi yang sangat dekat dengan teknologi, memiliki tingkat adaptasi tinggi, dan cenderung kreatif. Di sisi lain, lapangan kerja di desa terbatas sehingga banyak dari mereka merantau ke kota dengan pekerjaan yang tidak selalu stabil.

Era disrupsi digital justru membuka peluang baru bagi generasi muda desa, dan koperasi dapat menjadi katalisatornya. Dengan terlibat aktif dalam koperasi, pemuda tidak hanya mendapat pekerjaan, tetapi juga ruang untuk berinovasi dan berkreasi. Beberapa peluang kerja baru yang dapat muncul dari pemanfaatan teknologi digital ini bukan hanya menggantikan mekanisme kinerja secara konvensional. Namun, lebih menekankan bagaimana keadaan masyarakat sekarang yang serba terkoneksi dengan internet dan platform digital seperti media sosial.

Misalnya, dalam rangka mengembangkan konten promosi desa, generasi muda desa dapat memvisualisasikan berupa penyediaan katalog UMKM, foto produk, video wisata, dan materi pemasaran yang dikelola melalui platform koperasi secara digital. Sehingga, sangat memungkinkan untuk mengembangkan UMKM dengan melakukan pendekatan pola bisnis baru seperti marketplace yang sudah menjamur diberbagai aplikasi digital.

Peluang usaha lainnya bisa juga dengan melakukan inovasi dan kolaborasi terhadap peningkatan pangan lokal dengan menjadi tenaga ahli pertanian modern. Teknologi seperti sensor tanah, aplikasi prediksi cuaca, penggunaan drone, dan sistem pertanian berbasis digital membuka peluang kerja teknis bagi pemuda yang melek teknologi dan informasi. Bagaimana menghidupkan roda perekonomian dan pengolahan hasil alam dapat diwujudkan dengan aktivitas yang lebih efektif, efisien, modern dan multifungsi.

Melalui konsep terbarukan yang menggabungkan nilai gotong royong, kekuatan masyarakat, inovasi digital, dan keberlanjutan, koperasi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan modern menghadirkan optimisme baru bagi masa depan desa. Generasi muda menjadi pilar utama transformasi ini, sementara pemberdayaan masyarakat menjadi fondasi yang menjaga agar perubahan berjalan merata dan berkeadilan.

Di era disrupsi, koperasi tidak boleh berjalan di tempat. Koperasi harus menjadi rumah inovasi, pusat kreativitas, dan ruang bagi masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Dengan dukungan Kementerian Koperasi, digitalisasi koperasi desa dapat menjadi gerakan nasional yang mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing global.

Di era ketika teknologi digital berkembang dengan kecepatan yang sulit diimbangi oleh kebanyakan desa, upaya untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sering kali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Transformasi digital tidak hanya membawa peluang, tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi masyarakat desa yang belum siap beradaptasi. Di tengah perubahan inilah gagasan Koperasi Desa Merah Putih menjadi relevan dan mendesak untuk diwujudkan.

Koperasi sebagai lembaga ekonomi berbasis kebersamaan dan gotong royong, memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara masyarakat desa dan perkembangan teknologi modern. Dengan memusatkan perhatian pada pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang kerja bagi generasi muda, koperasi dapat menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi desa di era disrupsi digital. Konsep ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada kekuatan masyarakat dan distribusi manfaat yang adil sejak lama menjadi cita-cita pembangunan nasional.

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Inovasi Koperasi Desa

Agar koperasi benar-benar mampu menciptakan peluang kerja baru, koperasi perlu berevolusi menjadi inkubator inovasi desa. Konsep ini menggeser koperasi dari entitas usaha konvensional menjadi pusat kreativitas, pembelajaran, dan pengembangan bisnis. Shrinking the digital divide, yaitu memperkuat kapasitas pemuda, dan memperluas akses ke pasar global adalah misi inovatif yang bisa diemban Koperasi Desa Merah Putih.

Di masa mendatang, koperasi dapat menyediakan ruang kerja kreatif dengan koneksi internet kuat, komputer dasar, kamera, dan fasilitas produksi konten. Tempat ini menjadi pusat kegiatan digitalisasi produk desa yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menjangkau produk-produk yang disediakan. Maka, penguatan literasi digital melalui pelatihan reguler mulai dari pemasaran digital, e-commerce, keuangan digital, pengelolaan data, hingga keamanan siber juga perlu dijadwalkan. Modul dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Untuk menjangkau segmen yang lebih luas, koperasi perlu menyusun bagaimana pengembangan dashboard data dapat difungsikan untuk melihat tren penjualan, stok barang, performa anggota, hingga analisis pasar. Data tersebut dapat menjadi kekuatan dan bahan utama setiap anggota dalam pengambilan keputusan. Selain itu, koperasi perlu meingkatkan kerjasama dengan pendidikan tinggi atau startup untuk mencoba teknologi pertanian modern, pemantauan lahan, dan efisiensi pupuk serta air berbasis aplikasi.

Dengan menjalankan inovasi tersebut, koperasi bukan hanya berevolusi secara digital, tetapi menciptakan peluang kerja yang nyata dan berkelanjutan. Prinsip keberlanjutan dalam pengembangan koperasi digital harus dilakukan dengan menerapkan transformasi digital koperasi desa agar dikelola secara berkelanjutan. Keberlanjutan tidak hanya berarti program jangka panjang, tetapi bagaimana inovasi koperasi dapat terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

Adapun beberapa prinsip keberlanjutan yang perlu diterapkan, diantaranya adalah pembangunan SDM jangka panjang, relevansi model bisnis, kemandirian finansial, penggunaan teknologi adaptif, dan kolaborasi multisektor. Dalam mewujudkan keberlanjutan, koperasi harus memiliki kurikulum pelatihan berulang, mentorship, dan pengkaderan generasi muda untuk menghindari ketergantungan pada satu-dua individu. Koperasi harus terus memantau tren pasar dan mengembangkan produk yang relevan, mulai dari pangan organik, kerajinan kreatif, hingga layanan digital.

Selanjutnya, aset koperasi perlu dikelola dengan perencanaan yang lebih matang sehingga dapat menghasilkan surplus yang diputar kembali untuk inovasi, pelatihan, dan teknologi. Dengan memastikan penggunaan teknologi yang mudah dioperasikan, hemat biaya, dan dapat disesuaikan jika terjadi perubahan kebutuhan akan menjadikan koperasi desa lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan.

Terakhir, peningkatan kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pihak termasuk pemangku kepentingan. Koperasi perlu bekerja sama dengan universitas, startup digital, BUMDes, pemerintah daerah, hingga lembaga donor untuk memastikan inovasi dapat terus berkembang dengan memperhatikan kebermanfaatan bagi anggota dan masyarakat sekitar. Agar gerakan modernisasi koperasi desa benar-benar berhasil, Kementerian Koperasi perlu mengubah dalam melakukan pendekatan dan cara pandang terhadap koperasi desa. Kementerian Koperasi tidak hanya sekedar menjadi regulator, tetapi juga fasilitator ekosistem inovasi desa.

Untuk itu, ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Standarisasi Digitalisasi Koperasi. Kementerian Koperasi harus menyediakan standar aplikasi, dashboard keuangan, sistem administrasi digital, serta SOP keamanan data untuk memastikan koperasi dapat berkembang secara modern dan terintegrasi dengan baik.
  2. Pemetaan Kebutuhan Teknis Desa. Setiap desa memiliki keunikan sehingga perlu dilakukan pemetaan berbasis data untuk menentukan jenis digitalisasi yang paling sesuai dengan karakter ekonomi lokal.
  3. Skema Pendanaan Inovasi. Diperlukan dana khusus inovasi koperasi berupa innovation grant, pendanaan inkubator, atau subsidi digitalisasi yang bisa diakses koperasi desa.
  4. Penguatan Literasi Digital. Tidak cukup hanya pelatihan dasar, perlu dibuat kurikulum berjenjang, sertifikasi digital, dan program pelatihan intensif untuk pemuda desa.
  5. Pengawasan dan Akuntabilitas Digital. Kemenkop harus menguatkan audit digital untuk koperasi, sehingga kecurangan dapat diminimalisasi dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
  6. Kolaborasi Antar-Kementerian. Transformasi koperasi tidak bisa berdiri sendiri. Kemenkop perlu berkolaborasi dengan berbagai kementerian yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, pedesaan, teknologi digital, dan pendidikan.

Dalam praktiknya, ditemukan banyak SDM desa yang masih tersisih dari arus utama ekonomi. Produk pertanian dijual murah kepada tengkulak, UMKM sulit berkembang karena minim modal, dan akses pasar yang masih sangat terbatas. Koperasi hadir sebagai solusi struktural, yakni sebagai sebuah wadah ekonomi bersama yang memastikan keuntungan tidak terkonsentrasi pada satu kelompok, melainkan kembali kepada masyarakat.

Dalam konteks Koperasi Desa Merah Putih, ekonomi kerakyatan diposisikan bukan sekadar konsep normatif, tetapi menjadi fondasi dari strategi pembangunan desa secara komprehensif. Koperasi dapat mengelola hasil pertanian secara kolektif, memberi harga yang lebih baik kepada petani, dan menciptakan sistem penyimpanan atau penjualan digital yang menguntungkan.

Partisipasi aktif masyarakat adalah syarat utama hidupnya koperasi. Koperasi hanya dapat berjalan jika warga desa percaya, terlibat, dan merasa memiliki. Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih harus membangun sistem yang transparan dan akuntabel. Pengambilan keputusan mesti dilakukan melalui musyawarah, laporan keuangan harus dapat diakses, dan manfaat koperasi harus kembali langsung kepada warga.

Keterlibatan masyarakat bukan hanya dalam bentuk keanggotaan, tetapi juga melalui kontribusi pengetahuan lokal, kerja sama dalam produksi, dan keaktifan dalam pelatihan peningkatan kapasitas. Di sinilah pemberdayaan masyarakat memainkan peran strategis. Dengan meningkatkan kemampuan warga mulai dari literasi keuangan, manajemen usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital maka koperasi dapat menciptakan ekosistem ekonomi desa yang sehat dan mandiri.

Pemberdayaan bukan hanya dalam bentuk program, tetapi proses panjang yang membentuk kesadaran, memberi akses terhadap sumber daya, dan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam mengelola masa depannya. Ketika masyarakat diberi ruang untuk berkembang, koperasi akan menjadi lebih kokoh dan berkelanjutan.

Ketika koperasi berjalan aktif dan generasi muda berperan dominan dalam transformasi digital, maka pemberdayaan masyarakat akan terjadi secara sistemik. Bukan hanya mereka yang memiliki usaha, tetapi juga keluarga dan kelompok rentan dapat ikut merasakan manfaatnya. Dampak pemberdayaan dapat dilihat dari beberapa aspek. Dengan adanya akses pasar yang lebih luas, produk desa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pendapatan keluarga meningkat, dan siklus kemiskinan mulai terputus.

Pelatihan yang berkelanjutan membuat warga lebih percaya diri dalam mengelola usaha, mengambil keputusan ekonomi, atau mengembangkan potensi dirinya. Desa yang tadinya bertumpu pada pertanian dapat berkembang menjadi desa digital, desa wisata, atau desa kreatif. Ketahanan ekonomi meningkat karena sumber penghasilan lebih beragam.

Koperasi Desa Merah Putih bukan hanya sebuah konsep ekonomi, tetapi visi besar tentang masa depan desa yang lebih mandiri, modern, dan inklusif. Di era digital yang penuh ketidakpastian, koperasi dapat menjadi jangkar sosial dan ekonomi yang menjamin pembagian manfaat secara adil. Pemberdayaan masyarakat menjadi inti utama, sementara generasi muda membawa energi, inovasi, dan kemampuan digital untuk mendorong perubahan.

Jika desa diberi ruang untuk berkembang melalui koperasi modern, Indonesia tidak hanya membangun ekonomi dari atas ke bawah, tetapi justru dari akar rumput yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa. Dengan partisipasi aktif warga, semangat pemuda, dan kekuatan kolaborasi, Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi simbol kemandirian sekaligus harapan bagi masa depan ekonomi kerakyatan di tanah air. [T]

Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaekonomikoperasikoperasi merah putih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Next Post

Dinamika Sosial Bali di Balik Citra Harmoni

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta atau akrab disapa Ibenk adalah seorang pegiat literasi dan advokasi kebangsaan yang berasal dari Buleleng. Aktif menjadi podcaster dan salah satu pendiri Sociocorner, sebuah komunitas media alternatif yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan dan keberagaman. Lahir di Surabaya, 22 Februari 1991 memiliki hobi menonton film dan pementasan budaya. Saat ini, penulis menetap di Jakarta dan aktif menjadi pembicara maupun kolumnis media online yang memiliki konsentrasi terhadap demokrasi, partisipasi anak muda, dan moderasi beragama. Buku yang pernah diterbitkan antara lain: Ruang Baru Masyarakat Digital (2020) dan Candradimuka Gerakan Intelektual (2022).

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dinamika Sosial Bali di Balik Citra Harmoni

Dinamika Sosial Bali di Balik Citra Harmoni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co