14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Jaswanto by Jaswanto
December 3, 2025
in Tualang
Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban

DI Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, hari selalu datang dengan cara yang pelan. Kabut tipis menggantung di antara tanaman padi dan jagung yang tumbuh di atas tanah merah yang kering. Tetapi ada hari-hari tertentu ketika desa bangun dengan ritme berbeda. Ketika seekor sapi jantan berjalan diiringi puluhan orang menuju kediaman calon mempelai wanita. Pada hari itulah, saya melihat tradisi yang disebut Tuntunan―yang dituntun―kembali hidup. Barisan manusia dan seekor sapi tampak seperti fragmen relief hidup yang tersisa dari Jawa kuno.

Sapi Jawa itu besar sekali, gendut dan sintal. Punuknya menjulang, meski tanduknya pendek saja. Tampilannya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak dirawat sebagaimana sapi biasanya. Ia terlihat istimewa. Ia disebut sapi tuntunan―sapi seserahan nikah dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. “Harganya mencapai 35 juta,” kata pemilik sapi. “Bahkan mungkin lebih,” sambungnya.

Di hadapan saya, sapi itu tampak seperti makhluk dari masa yang bergerak lebih lambat daripada waktu. Ia membawa keheningan purba sekaligus bunyi-bunyi lembut tentang kerja keras manusia. Di desa-desa agraris seperti Gaji, seekor sapi bukan sekadar hewan peliharaan; ia adalah kapsul nilai, simbol genting dari hubungan manusia dengan tanah dan martabat.

Saya merasa, di antara banyak tradisi di Tuban, Jawa Timur, Tuntunan mungkin adalah salah satu yang paling material, paling konkret, dan sekaligus paling sarat makna. Seekor sapi yang dituntun oleh pihak calon mempelai pria itu bukan sekadar sebagai seserahan, tetapi juga simbol kelayakan, penghormatan, dan komitmen keluarga. Di belakang sapi itu, dbawa pula segala sesuatu yang menandai kesiapan memasuki kehidupan baru: beras, ayam hidup, bumbu dapur, rokok, minuman botolan, hingga almari, dipan, kursi, kasur, peralatan masak, kain batik, dan rojobrono yang jumlahnya bisa memenuhi bak truk.

Namun, tampaknya, barang-barang itu bukan hanya benda. Mereka adalah bahasa. Dan dalam bahasa itu, terkandung ideologi agraris tentang kecukupan: bahwa rumah tangga bukanlah dongeng tentang cinta, melainkan proyek sosial-ekologis yang butuh fondasi kuat. Benda-benda itu adalah diksi dari masyarakat yang mengukur kebahagiaan melalui keberlangsungan.

Tetapi, tak jelas betul kapan tradisi ini bermula. Yang jelas, masyarakat Gaji percaya bahwa ini sudah ada sejak dahulu kala, sejak desa belum seterang sekarang. Mungkin sejak masa kerajaan tertentu, barangkali juga lebih tua dari itu. Tak ada catatan pasti yang dapat menjadi bukti penanda mengenai Tradisi Tuntunan. Seperti tradisi agraris lain, Tuntunan hidup bukan karena dicatat, melainkan karena dilanjutkan. Pengetahuannya diwariskan lewat tubuh: lewat tangan yang memegang tali sapi, lewat punggung yang memikul karung beras, lewat langkah-langkah pelan menuju rumah mempelai perempuan.

“Tradisi Tuntunan ini sebenarnya tidak hanya ada di Desa Gaji saja, tapi juga beberapa desa di Kecamatan Kerek, seperti Tengger, Trantang, Wolutengah, Kedung Rejo, dan sekitarnya. Tradisi ini biasanya dilaksanakan satu minggu atau lima hari sebelum akad nikah. Dan ini tidak wajib, tergantung kemampuan dan kesepakatan keluarga,” Tari, warga Desa Gaji yang sedang menyelenggarakan Tradisi Tuntunan, menjelaskan. Tari berbicara seperti seseorang yang menjadi perantara antara masa lalu dan masa kini. Di balik kalimatnya, terasa bahwa “tidak wajib” di sini tidak berarti “boleh tidak dilakukan”, melainkan penanda halus dari tekanan sosial: tradisi sebagai penopang identitas.

Tari hendak menikahkan putra keduanya dengan seorang gadis yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Lima hari sebelum pernikahan berlangsung, keluarga Tari membawa seekor sapi besar, beras dengan berat satu ton lebih, minuman, rokok, bumbu dapur, dan sebagainya. Semua itu akan diberikan kepada keluarga calon besan untuk diolah dan disajikan saat prosesi pernikahan berlangsung. Beras, sapi, dan barang-barang lain itu seperti tubuh-tubuh kecil dari keinginan keluarga: keinginan agar keberkahan hadir, agar masa depan anak-anak mereka lebih lunak daripada tanah merah yang mereka tanami.

Tari kemudian menekankan bahwa tradisi ini tidak masuk kategori mahar. Bukan pula syarat agama. Dalam konsep masyarakat Gaji, Tuntunan adalah “bekal”, sesuatu yang lahir dari moralitas orang tua, sebuah rasa tanggung jawab untuk memastikan anaknya tidak memulai hidup baru dengan tangan kosong. Ada kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa rumah tangga yang dimulai dengan kecukupan akan lebih kokoh menghadapi waktu. Bekal itu sendiri adalah konsep antropologis yang luas: ia rumit, plastis, dan penuh nilai. Bekal adalah cara masyarakat pedesaan menegaskan bahwa kehidupan baru selalu membutuhkan amunisi ekonomi—dan bahwa orang tua adalah produsen stabilitas.

Kerabat dan tetangga membantu membawa barang-barang dari keluarga calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita lima hari sebelum pernikahan dengan cara dipikul dan dibawa menggunakan sepeda motor | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa pedalaman, sapi bukan cuma hewan ternak. Ia adalah simbol kemampuan. Di masa lampau, sapi mewakili kekuatan ekonomi keluarga; jumlah sapi di kandang sering menjadi ukuran tidak tertulis dari reputasi sosial. Maka ketika seekor sapi dituntun dalam prosesi pernikahan, ia datang tidak hanya sebagai hadiah, tetapi sebagai pernyataan: inilah keluarga yang mampu mengayomi, yang siap menanggung tanggung jawab baru.

Dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa pedalaman, sapi bukan cuma hewan ternak. Ia adalah simbol kemampuan. Di masa lampau, sapi mewakili kekuatan ekonomi keluarga; jumlah sapi di kandang sering menjadi ukuran tidak tertulis dari reputasi sosial. Maka ketika seekor sapi dituntun dalam prosesi pernikahan, ia datang tidak hanya sebagai hadiah, tetapi sebagai pernyataan: inilah keluarga yang mampu mengayomi, yang siap menanggung tanggung jawab baru.

Pada titik inilah, Tradisi Tuntunan mengandung lapisan sosial yang lebih tajam: ia meneguhkan hierarki. Bagi masyarakat Gaji, memberikan sapi adalah cara “mengatakan” bahwa keluarga laki-laki memiliki kapasitas ekonomi yang pantas dihormati.

Namun, meski demikian, yang paling menarik bukanlah besar atau banyaknya barang yang dibawa, tetapi bagaimana masyarakat menafsirkan dan mempertahankan maknanya. Jarkum, warga Gaji yang sering terlibat dalam tradisi ini, mengungkapkan hal itu dengan jelas. “Tradisi Tuntunan sudah menjadi kebiasaan warga Gaji. Yang terpenting sapi dan beras. Jumlah barang tergantung kemampuan setiap orang—kadang satu truk, kadang lebih. Makna sapi dan beras itu untuk meringankan beban mempelai perempuan saat resepsi, sedangkan perabotan membantu awal perkawinan agar tidak bingung mencari kebutuhan,” ujarnya.

Penjelasan Jarkum adalah cermin dari logika redistribusi: bahwa tradisi bekerja sebagai mekanisme mengalirkan sumber daya. Ia bukan transaksi, tetapi kewajiban moral antara dua keluarga dan komunitas.

Dalam pandangan Jarkum, tuntunan adalah semacam asuransi tradisional, bentuk gotong-royong yang difokuskan pada keluarga tertentu tetapi dijalankan oleh seluruh komunitas. Kerabat dan tetangga tidak hanya ikut mengiring, tetapi membawa sebagian beban secara fisik: mengangkat beras, memikul perabotan, atau sekadar berjalan bersama dalam barisan yang panjang dan ramai. Keterlibatan itu bukan sekadar formalitas, ia adalah cara desa menyatakan bahwa sebuah pernikahan bukan urusan dua individu, tetapi urusan kolektif. “Menikah atau menikahi orang Gaji, artinya juga menikah atau menikahi masyarakat Gaji,” ujar Jarkum berteori.

Bagi saya, kalimat Jarkum adalah inti dari struktur sosial Jawa: individu adalah simpul kecil dalam jaringan komunal yang lebih luas. Pernikahan menjadi ruang di mana jaringan itu dipertunjukkan, diperkuat, dan dirayakan. Cinta diukur bukan hanya oleh dua hati, tetapi oleh keterlibatan banyak kaki yang berjalan di belakang seekor sapi.

Kerabat dan tetangga membantu membawa barang-barang dari keluarga calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita lima hari sebelum pernikahan dengan cara dipikul dan dibawa menggunakan sepeda motor | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam tatapan antropologi, prosesi seperti ini mencerminkan apa yang disebut redistribusi sosial tradisional, sebuah bentuk pemindahan sumber daya dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan, bukan sebagai transaksi, melainkan sebagai mekanisme menjaga keseimbangan sosial dalam komunitas agraris. Di Desa Gaji, konsep itu disampaikan melalui ritual yang tampaknya sederhana, namun memuat pesan yang jauh lebih dalam bahwa kehidupan baru tidak boleh dimulai dengan kekurangan.

Namun, seperti banyak tradisi agraris lainya, Tuntunan menyimpan paradoks. Ia memperkuat solidaritas, tetapi juga menumbuhkan tekanan bagi mereka yang berada di batas kemampuan ekonomi. Tradisi yang menciptakan rasa kebersamaan juga bisa menimbulkan kecemasan diam-diam.

Rukti, warga Gaji lainnya, menguatkan perspektif itu ketika ia berkata, “Tradisi ini adalah pencapaian hasil bumi, bentuk pencapaian ketika memiliki anak laki-laki. Barang yang dibawa berbeda-beda, tapi yang pasti ada sapi dan beras. Ini hadiah, bukan mahar.” Ucapan itu menggemakan konsep “prestasi agraris”, keberhasilan diukur bukan dari profesi, melainkan dari kemampuan menghasilkan pangan dan keturunan. Tetapi menarik, pencapaian itu dirayakan melalui pemberian, bukan penguasaan—melalui melepas, bukan menahan.

Prosesi Tuntunan tidak hanya melibatkan barang, tetapi juga tata cara komunikasi yang rapi. Seorang wakil keluarga ditunjuk untuk “menyerahkan” secara resmi barang-barang tersebut. Mereka harus menyebutkan dengan detail jumlah pengiring, jenis barang, ukuran, bahkan maksud pemberian. Peran ini biasanya diemban oleh tokoh agama atau kerabat yang disegani, dituakan, yang dinilai dapat menjadi representasi kehormatan keluarga. Seremoni ini memperlihatkan bagaimana masyarakat agraris menata hubungan sosial melalui ritual verbal—setiap kata, jumlah barang, dan daftar pengiring adalah simbol struktur sosial yang disusun dengan teliti.

Saya menemui Julita, perempuan muda yang pernah menerima tuntunan, dan bertanya apa yang dibicarakan saat pihak keluarga laki-laki menyerahkan sapi ke rumahnya. Ia mencoba mengingat detail itu dengan jelas. “Keluarga mempelai pria menyampaikan barang apa saja yang dibawa dan jumlah pengiring, lalu dimusyawarahkan. Saat akad, keluarga mempelai perempuan menyiapkan hiburan,” terangnya. Ia menegaskan, musyawarah itu adalah ruang negosiasi halus antara dua keluarga, bukan tawar-menawar. “Untuk menciptakan kesalingpahaman,” kata Julita. Dalam budaya agraris, harmoni lebih penting daripada kemenangan verbal.

Di hari pelaksanaan, ketika rombongan mulai berjalan, desa seperti berubah menjadi panggung hidup. Anak-anak kecil mengikuti dari belakang, tertawa saat melihat hidung sapi yang bergerak-gerak. Para ibu menonton dari teras masing-masing, saling membicarakan seberapa banyak barang yang dibawa.

Sapi Jawa yang digunakan dalam Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Kerek, Tuban | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tuntunan―dan seluruh kompleksitasnya―adalah ritual yang memadukan ekonomi, simbolisme, nilai moral, dan kebersamaan dalam satu gerakan panjang dari rumah mempelai pria menuju rumah mempelai perempuan. Ia menunjukkan bagaimana komunitas agraris menjaga keseimbangan sosial, mengatur ulang beban ekonomi, sekaligus memastikan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang, tetapi memperkuat jaringan sosial yang sudah ada.

Namun, dari kacamata kritis, tradisi ini juga menyiratkan paradoks. Ia menyatukan sekaligus menuntut; ia memperkokoh jaringan sosial, namun dapat menekan keluarga yang tak mampu menyesuaikan diri dengan standar “kelayakan” yang dibentuk oleh komunitas.

Sampai di sini, Tradisi tuntunan adalah cara masyarakat Desa Gaji mengekspresikan filosofi bahwa cinta dan tanggung jawab tidak hanya dirasakan, tetapi diwujudkan; bahwa masa depan harus disiapkan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan; dan bahwa dalam masyarakat agraris, kesejahteraan adalah sesuatu yang harus dibagi, disokong, dan dikerjakan bersama. Namun, di era modern, ketika pernikahan semakin individualistik, Tuntunan menjadi pengingat bahwa sebuah keluarga baru selalu lahir dari dukungan komunitas, baik berupa tenaga maupun tumpukan beras dan seekor sapi.

Ketika sore datang dan suara rombongan mulai memudar di kejauhan, sapi yang tadi berjalan pelan sudah berada di kandang barunya. Beras sudah diangkat masuk, perabotan sudah disandarkan ke dinding rumah, dan ibu-ibu sibuk menata barang-barang sembari bercakap pelan. Di halaman yang mulai teduh itu, kita dapat melihat bagaimana sebuah tradisi kuno bertahan: bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai bentuk cinta yang dituntun dari masa lalu menuju masa depan. Cinta, di Desa Gaji, selalu memiliki wujud. Ia punya ekor, punya punuk, dan bisa mengaduk debu jalanan.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kabupaten TubanTradisitradisi jawaTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

Next Post

Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Helen Higgins dan 'The Erotics of Intelligence'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co