14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Jaswanto by Jaswanto
December 3, 2025
in Tualang
Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban

DI Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, hari selalu datang dengan cara yang pelan. Kabut tipis menggantung di antara tanaman padi dan jagung yang tumbuh di atas tanah merah yang kering. Tetapi ada hari-hari tertentu ketika desa bangun dengan ritme berbeda. Ketika seekor sapi jantan berjalan diiringi puluhan orang menuju kediaman calon mempelai wanita. Pada hari itulah, saya melihat tradisi yang disebut Tuntunan―yang dituntun―kembali hidup. Barisan manusia dan seekor sapi tampak seperti fragmen relief hidup yang tersisa dari Jawa kuno.

Sapi Jawa itu besar sekali, gendut dan sintal. Punuknya menjulang, meski tanduknya pendek saja. Tampilannya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak dirawat sebagaimana sapi biasanya. Ia terlihat istimewa. Ia disebut sapi tuntunan―sapi seserahan nikah dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. “Harganya mencapai 35 juta,” kata pemilik sapi. “Bahkan mungkin lebih,” sambungnya.

Di hadapan saya, sapi itu tampak seperti makhluk dari masa yang bergerak lebih lambat daripada waktu. Ia membawa keheningan purba sekaligus bunyi-bunyi lembut tentang kerja keras manusia. Di desa-desa agraris seperti Gaji, seekor sapi bukan sekadar hewan peliharaan; ia adalah kapsul nilai, simbol genting dari hubungan manusia dengan tanah dan martabat.

Saya merasa, di antara banyak tradisi di Tuban, Jawa Timur, Tuntunan mungkin adalah salah satu yang paling material, paling konkret, dan sekaligus paling sarat makna. Seekor sapi yang dituntun oleh pihak calon mempelai pria itu bukan sekadar sebagai seserahan, tetapi juga simbol kelayakan, penghormatan, dan komitmen keluarga. Di belakang sapi itu, dbawa pula segala sesuatu yang menandai kesiapan memasuki kehidupan baru: beras, ayam hidup, bumbu dapur, rokok, minuman botolan, hingga almari, dipan, kursi, kasur, peralatan masak, kain batik, dan rojobrono yang jumlahnya bisa memenuhi bak truk.

Namun, tampaknya, barang-barang itu bukan hanya benda. Mereka adalah bahasa. Dan dalam bahasa itu, terkandung ideologi agraris tentang kecukupan: bahwa rumah tangga bukanlah dongeng tentang cinta, melainkan proyek sosial-ekologis yang butuh fondasi kuat. Benda-benda itu adalah diksi dari masyarakat yang mengukur kebahagiaan melalui keberlangsungan.

Tetapi, tak jelas betul kapan tradisi ini bermula. Yang jelas, masyarakat Gaji percaya bahwa ini sudah ada sejak dahulu kala, sejak desa belum seterang sekarang. Mungkin sejak masa kerajaan tertentu, barangkali juga lebih tua dari itu. Tak ada catatan pasti yang dapat menjadi bukti penanda mengenai Tradisi Tuntunan. Seperti tradisi agraris lain, Tuntunan hidup bukan karena dicatat, melainkan karena dilanjutkan. Pengetahuannya diwariskan lewat tubuh: lewat tangan yang memegang tali sapi, lewat punggung yang memikul karung beras, lewat langkah-langkah pelan menuju rumah mempelai perempuan.

“Tradisi Tuntunan ini sebenarnya tidak hanya ada di Desa Gaji saja, tapi juga beberapa desa di Kecamatan Kerek, seperti Tengger, Trantang, Wolutengah, Kedung Rejo, dan sekitarnya. Tradisi ini biasanya dilaksanakan satu minggu atau lima hari sebelum akad nikah. Dan ini tidak wajib, tergantung kemampuan dan kesepakatan keluarga,” Tari, warga Desa Gaji yang sedang menyelenggarakan Tradisi Tuntunan, menjelaskan. Tari berbicara seperti seseorang yang menjadi perantara antara masa lalu dan masa kini. Di balik kalimatnya, terasa bahwa “tidak wajib” di sini tidak berarti “boleh tidak dilakukan”, melainkan penanda halus dari tekanan sosial: tradisi sebagai penopang identitas.

Tari hendak menikahkan putra keduanya dengan seorang gadis yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Lima hari sebelum pernikahan berlangsung, keluarga Tari membawa seekor sapi besar, beras dengan berat satu ton lebih, minuman, rokok, bumbu dapur, dan sebagainya. Semua itu akan diberikan kepada keluarga calon besan untuk diolah dan disajikan saat prosesi pernikahan berlangsung. Beras, sapi, dan barang-barang lain itu seperti tubuh-tubuh kecil dari keinginan keluarga: keinginan agar keberkahan hadir, agar masa depan anak-anak mereka lebih lunak daripada tanah merah yang mereka tanami.

Tari kemudian menekankan bahwa tradisi ini tidak masuk kategori mahar. Bukan pula syarat agama. Dalam konsep masyarakat Gaji, Tuntunan adalah “bekal”, sesuatu yang lahir dari moralitas orang tua, sebuah rasa tanggung jawab untuk memastikan anaknya tidak memulai hidup baru dengan tangan kosong. Ada kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa rumah tangga yang dimulai dengan kecukupan akan lebih kokoh menghadapi waktu. Bekal itu sendiri adalah konsep antropologis yang luas: ia rumit, plastis, dan penuh nilai. Bekal adalah cara masyarakat pedesaan menegaskan bahwa kehidupan baru selalu membutuhkan amunisi ekonomi—dan bahwa orang tua adalah produsen stabilitas.

Kerabat dan tetangga membantu membawa barang-barang dari keluarga calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita lima hari sebelum pernikahan dengan cara dipikul dan dibawa menggunakan sepeda motor | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa pedalaman, sapi bukan cuma hewan ternak. Ia adalah simbol kemampuan. Di masa lampau, sapi mewakili kekuatan ekonomi keluarga; jumlah sapi di kandang sering menjadi ukuran tidak tertulis dari reputasi sosial. Maka ketika seekor sapi dituntun dalam prosesi pernikahan, ia datang tidak hanya sebagai hadiah, tetapi sebagai pernyataan: inilah keluarga yang mampu mengayomi, yang siap menanggung tanggung jawab baru.

Dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa pedalaman, sapi bukan cuma hewan ternak. Ia adalah simbol kemampuan. Di masa lampau, sapi mewakili kekuatan ekonomi keluarga; jumlah sapi di kandang sering menjadi ukuran tidak tertulis dari reputasi sosial. Maka ketika seekor sapi dituntun dalam prosesi pernikahan, ia datang tidak hanya sebagai hadiah, tetapi sebagai pernyataan: inilah keluarga yang mampu mengayomi, yang siap menanggung tanggung jawab baru.

Pada titik inilah, Tradisi Tuntunan mengandung lapisan sosial yang lebih tajam: ia meneguhkan hierarki. Bagi masyarakat Gaji, memberikan sapi adalah cara “mengatakan” bahwa keluarga laki-laki memiliki kapasitas ekonomi yang pantas dihormati.

Namun, meski demikian, yang paling menarik bukanlah besar atau banyaknya barang yang dibawa, tetapi bagaimana masyarakat menafsirkan dan mempertahankan maknanya. Jarkum, warga Gaji yang sering terlibat dalam tradisi ini, mengungkapkan hal itu dengan jelas. “Tradisi Tuntunan sudah menjadi kebiasaan warga Gaji. Yang terpenting sapi dan beras. Jumlah barang tergantung kemampuan setiap orang—kadang satu truk, kadang lebih. Makna sapi dan beras itu untuk meringankan beban mempelai perempuan saat resepsi, sedangkan perabotan membantu awal perkawinan agar tidak bingung mencari kebutuhan,” ujarnya.

Penjelasan Jarkum adalah cermin dari logika redistribusi: bahwa tradisi bekerja sebagai mekanisme mengalirkan sumber daya. Ia bukan transaksi, tetapi kewajiban moral antara dua keluarga dan komunitas.

Dalam pandangan Jarkum, tuntunan adalah semacam asuransi tradisional, bentuk gotong-royong yang difokuskan pada keluarga tertentu tetapi dijalankan oleh seluruh komunitas. Kerabat dan tetangga tidak hanya ikut mengiring, tetapi membawa sebagian beban secara fisik: mengangkat beras, memikul perabotan, atau sekadar berjalan bersama dalam barisan yang panjang dan ramai. Keterlibatan itu bukan sekadar formalitas, ia adalah cara desa menyatakan bahwa sebuah pernikahan bukan urusan dua individu, tetapi urusan kolektif. “Menikah atau menikahi orang Gaji, artinya juga menikah atau menikahi masyarakat Gaji,” ujar Jarkum berteori.

Bagi saya, kalimat Jarkum adalah inti dari struktur sosial Jawa: individu adalah simpul kecil dalam jaringan komunal yang lebih luas. Pernikahan menjadi ruang di mana jaringan itu dipertunjukkan, diperkuat, dan dirayakan. Cinta diukur bukan hanya oleh dua hati, tetapi oleh keterlibatan banyak kaki yang berjalan di belakang seekor sapi.

Kerabat dan tetangga membantu membawa barang-barang dari keluarga calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita lima hari sebelum pernikahan dengan cara dipikul dan dibawa menggunakan sepeda motor | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam tatapan antropologi, prosesi seperti ini mencerminkan apa yang disebut redistribusi sosial tradisional, sebuah bentuk pemindahan sumber daya dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan, bukan sebagai transaksi, melainkan sebagai mekanisme menjaga keseimbangan sosial dalam komunitas agraris. Di Desa Gaji, konsep itu disampaikan melalui ritual yang tampaknya sederhana, namun memuat pesan yang jauh lebih dalam bahwa kehidupan baru tidak boleh dimulai dengan kekurangan.

Namun, seperti banyak tradisi agraris lainya, Tuntunan menyimpan paradoks. Ia memperkuat solidaritas, tetapi juga menumbuhkan tekanan bagi mereka yang berada di batas kemampuan ekonomi. Tradisi yang menciptakan rasa kebersamaan juga bisa menimbulkan kecemasan diam-diam.

Rukti, warga Gaji lainnya, menguatkan perspektif itu ketika ia berkata, “Tradisi ini adalah pencapaian hasil bumi, bentuk pencapaian ketika memiliki anak laki-laki. Barang yang dibawa berbeda-beda, tapi yang pasti ada sapi dan beras. Ini hadiah, bukan mahar.” Ucapan itu menggemakan konsep “prestasi agraris”, keberhasilan diukur bukan dari profesi, melainkan dari kemampuan menghasilkan pangan dan keturunan. Tetapi menarik, pencapaian itu dirayakan melalui pemberian, bukan penguasaan—melalui melepas, bukan menahan.

Prosesi Tuntunan tidak hanya melibatkan barang, tetapi juga tata cara komunikasi yang rapi. Seorang wakil keluarga ditunjuk untuk “menyerahkan” secara resmi barang-barang tersebut. Mereka harus menyebutkan dengan detail jumlah pengiring, jenis barang, ukuran, bahkan maksud pemberian. Peran ini biasanya diemban oleh tokoh agama atau kerabat yang disegani, dituakan, yang dinilai dapat menjadi representasi kehormatan keluarga. Seremoni ini memperlihatkan bagaimana masyarakat agraris menata hubungan sosial melalui ritual verbal—setiap kata, jumlah barang, dan daftar pengiring adalah simbol struktur sosial yang disusun dengan teliti.

Saya menemui Julita, perempuan muda yang pernah menerima tuntunan, dan bertanya apa yang dibicarakan saat pihak keluarga laki-laki menyerahkan sapi ke rumahnya. Ia mencoba mengingat detail itu dengan jelas. “Keluarga mempelai pria menyampaikan barang apa saja yang dibawa dan jumlah pengiring, lalu dimusyawarahkan. Saat akad, keluarga mempelai perempuan menyiapkan hiburan,” terangnya. Ia menegaskan, musyawarah itu adalah ruang negosiasi halus antara dua keluarga, bukan tawar-menawar. “Untuk menciptakan kesalingpahaman,” kata Julita. Dalam budaya agraris, harmoni lebih penting daripada kemenangan verbal.

Di hari pelaksanaan, ketika rombongan mulai berjalan, desa seperti berubah menjadi panggung hidup. Anak-anak kecil mengikuti dari belakang, tertawa saat melihat hidung sapi yang bergerak-gerak. Para ibu menonton dari teras masing-masing, saling membicarakan seberapa banyak barang yang dibawa.

Sapi Jawa yang digunakan dalam Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Kerek, Tuban | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tuntunan―dan seluruh kompleksitasnya―adalah ritual yang memadukan ekonomi, simbolisme, nilai moral, dan kebersamaan dalam satu gerakan panjang dari rumah mempelai pria menuju rumah mempelai perempuan. Ia menunjukkan bagaimana komunitas agraris menjaga keseimbangan sosial, mengatur ulang beban ekonomi, sekaligus memastikan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang, tetapi memperkuat jaringan sosial yang sudah ada.

Namun, dari kacamata kritis, tradisi ini juga menyiratkan paradoks. Ia menyatukan sekaligus menuntut; ia memperkokoh jaringan sosial, namun dapat menekan keluarga yang tak mampu menyesuaikan diri dengan standar “kelayakan” yang dibentuk oleh komunitas.

Sampai di sini, Tradisi tuntunan adalah cara masyarakat Desa Gaji mengekspresikan filosofi bahwa cinta dan tanggung jawab tidak hanya dirasakan, tetapi diwujudkan; bahwa masa depan harus disiapkan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan; dan bahwa dalam masyarakat agraris, kesejahteraan adalah sesuatu yang harus dibagi, disokong, dan dikerjakan bersama. Namun, di era modern, ketika pernikahan semakin individualistik, Tuntunan menjadi pengingat bahwa sebuah keluarga baru selalu lahir dari dukungan komunitas, baik berupa tenaga maupun tumpukan beras dan seekor sapi.

Ketika sore datang dan suara rombongan mulai memudar di kejauhan, sapi yang tadi berjalan pelan sudah berada di kandang barunya. Beras sudah diangkat masuk, perabotan sudah disandarkan ke dinding rumah, dan ibu-ibu sibuk menata barang-barang sembari bercakap pelan. Di halaman yang mulai teduh itu, kita dapat melihat bagaimana sebuah tradisi kuno bertahan: bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai bentuk cinta yang dituntun dari masa lalu menuju masa depan. Cinta, di Desa Gaji, selalu memiliki wujud. Ia punya ekor, punya punuk, dan bisa mengaduk debu jalanan.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kabupaten TubanTradisitradisi jawaTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

Next Post

Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Helen Higgins dan 'The Erotics of Intelligence'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co