14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 3, 2025
in Esai
Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Tidak ada yang lebih seksi daripada seseorang yang mendengarkan, belajar dan berpikir secara mendalam. Bukan karena kredibelitas atau kualifikasi, tetapi karena mereka peduli: tentang ide, pendapat orang lain  dan tentang makna,”- Hellen Higgins.

Di tengah dunia yang bergerak serbacepat, di mana perhatian manusia dipreteli oleh notifikasi, tren viral, dan konten singkat kurang dari satu menit, kecerdasan sering kali direduksi menjadi sekadar kemampuan menjawab soal, mengutip teori, atau memamerkan gelar akademik, padahal bisa jadi didapat dari membeli, bukan karena prestasi sendiri. Padahal, seperti disinggung Helen Higgins dalam gagasannya tentang The Erotics of Intelligence, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan memesona dari kecerdasan: yaitu daya tarik intelektual dan kedalaman batin yang muncul dari keinginan tulus untuk memahami, mendengar, dan memaknai kehidupan.

Refleksi ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia saat ini—sebuah bangsa besar yang di satu sisi dipenuhi bakat muda, kreativitas, dan potensi luar biasa, namun di sisi lain juga terperangkap dalam tradisi serba instan, serba tampil, dan serba reaktif. Di tengah situasi ini, menghidupkan kembali daya erotis dari kecerdasan adalah tindakan mulia yang justru diperlukan untuk memperbaiki arah peradaban kita.

Ketika Permukaan Mengalahkan Kedalaman

Indonesia, seperti banyak negara lain di era digital, mengalami apa yang bisa disebut sebagai “krisis kedalaman”. Ruang publik dipenuhi komentar tanpa konteks, opini tanpa bacaan, dan perdebatan tanpa pemahaman. Anak muda tumbuh dalam lingkungan yang mendorong mereka untuk tampil, bukan mendalami; berbicara, bukan mendengarkan; bereaksi, bukan merenungkan.

Kita hidup di zaman di mana kesan lebih dijunjung daripada kualitas. Orang lebih terpukau oleh influencer yang berpenampilan menarik ketimbang pemikir yang menawarkan perspektif jernih. Politik pun demikian: slogan lebih laku daripada visi, pencitraan lebih digemari daripada integritas, sehingga melahirkan pemimpin culas.

Dalam tradisi seperti ini, sangat mudah bagi generasi muda untuk kehilangan apresiasi terhadap kecerdasan yang hakiki—kecerdasan yang menggerakkan nurani dan memperhalus jiwa.

Daya Tarik Kecerdasan: Apa yang Sesungguhnya “Seksi”?

Higgins mengingatkan bahwa tidak ada yang lebih seksi daripada seseorang yang benar-benar mendengarkan, yang bergairah pada ide, dan yang mau berpikir melampaui permukaan. Kecerdasan yang erotis bukanlah soal IQ atau prestasi akademik, tetapi soal kehadiran penuh: kemampuan untuk peduli, memahami, dan mengeksplorasi makna.

Dalam konteks Indonesia, kualitas ini sangat dibutuhkan, terutama oleh generasi muda yang kelak akan menjadi pewaris bangsa. Kita membutuhkan anak-anak muda yang “seksi” secara intelektual, tapi juga kedalaman hati—mereka yang tidak hanya mengejar popularitas, tetapi memperjuangkan gagasan; yang tidak sekadar mencari panggung, tetapi memberi kontribusi nyata; yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi menapaki jalan sunyi untuk belajar sungguh-sungguh.

Betapa indahnya bila semakin banyak anak muda yang meromantisasi pemikiran mendalam, bukan sekadar gaya hidup dangkal. Betapa berharganya bila percakapan mereka tidak berhenti pada gosip selebritas atau drama politik, tetapi juga menyentuh filsafat, sains, sejarah, dan kemanusiaan.

Tantangan Indonesia: Kekayaan Data, Kemiskinan Literasi

Indonesia adalah bangsa yang penuh informasi tetapi minim transformasi. Anak muda mengakses ribuan konten tiap hari, namun sedikit sekali yang benar-benar dicerna. Mereka belajar banyak hal, tetapi hanya di kulitnya.

Padahal, erotika kecerdasan tidak muncul dari tumpukan informasi, melainkan dari integrasi pengalaman, refleksi, dan dialog. Di sinilah kita menemukan tantangan terbesar:

  • Tingkat literasi baca kita masih rendah.
  • Kemampuan berpikir kritis kurang dilatih di sekolah.
  • Media sosial menggiring opini tanpa memberikan ruang untuk kedalaman.
  • Budaya diskusi yang sehat masih lemah; yang kuat justru budaya menghakimi.

Jika kondisi ini dibiarkan, bangsa kita akan kehilangan fondasi intelektual yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global.

Merawat Keintiman Intelektual di Tengah Kebisingan Sosial

Salah satu ide kuat Higgins adalah bahwa kecerdasan melibatkan keintiman—keintiman dengan ide, dengan bahasa, dengan percakapan, bahkan dengan diri sendiri. Di Indonesia, keintiman semacam ini menjadi langka karena pola hidup serba cepat dan kecanduan hiburan ringan.

Untuk membangun Indonesia yang lebih baik, anak muda perlu menemukan kembali keintiman dengan pikiran mereka sendiri:

  • duduk membaca tanpa distraksi,
  • merenungkan satu kalimat yang menyentuh,
  • berdiskusi dengan teman tanpa harus selalu setuju,
  • menantang opini sendiri,
  • menulis untuk memperjelas batin,
  • dan mendengarkan dengan hati terbuka.

Keintiman intelektual bukan hanya memperkaya diri, tetapi juga memperhalus jiwa dan memperkuat karakter.

Pelajaran untuk Anak Muda Indonesia

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari gagasan The Erotics of Intelligence bagi generasi muda Indonesia:

a. Jadikan “kedalaman” sebagai gaya hidup baru.

Merayakan kedalaman di era permukaan adalah upaya bijaksana yang akan membedakan kita dari kerumunan.

b. Berpikir kritis adalah tindakan keberanian.

Dalam masyarakat yang sering menghakimi, keberanian untuk berpikir kritis dan menyuarakannya, adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan di masyarakat.

c. Dengarkan dengan empati.

Kecerdasan bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi tentang bagaimana kita mendengar dan menyerap dunia. Ini adalah sebuah seni tersendiri, seni mendengar secara bijak.

d. Bacalah dunia, bukan hanya layar.

Membaca buku, berbicara dengan orang dari berbagai kelas, mendengarkan tokoh yang sudah tercerahkan, bergabung dengan komunitas berbasis kasih, mengunjungi tempat baru—semua memperluas horizon batin.

e. Jadilah generasi yang “seksi” secara intelektual dan kedalaman hati

Bukan dengan menampilkan tubuh, tetapi dengan memperindah pikiran dan memperhalus budi.

Menuju Indonesia yang Lebih Cerdas dan Lebih Manusiawi

Jika generasi muda Indonesia mulai merayakan kecerdasan dalam makna yang paling hidup—bukan teknis, bukan akademis, tetapi eksistensial—bangsa ini akan berubah. Kita akan memiliki lebih banyak pemimpin yang bijak, bukan hanya populer. Lebih banyak inovator yang peduli, bukan hanya mengejar profit. Lebih banyak warga yang memahami demokrasi, bukan hanya ikut arus politik uang.

Bangsa besar membutuhkan kualitas jiwa besar, dan kualitas jiwa besar hanya lahir dari pikiran yang mendalam.

Pada akhirnya, The Erotics of Intelligence mengajak kita untuk jatuh cinta pada berpikir, pada dialog, pada pemahaman—karena hanya dengan itulah kita bisa membangun Indonesia yang lebih cerdas, lebih lembut, lebih manusiawi.

Dan itu semua dimulai dari satu langkah sederhana: menghargai kedalaman diri sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: erotics intelligenceHelen Higginsintelektual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Next Post

Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co