2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 3, 2025
in Esai
Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Tidak ada yang lebih seksi daripada seseorang yang mendengarkan, belajar dan berpikir secara mendalam. Bukan karena kredibelitas atau kualifikasi, tetapi karena mereka peduli: tentang ide, pendapat orang lain  dan tentang makna,”- Hellen Higgins.

Di tengah dunia yang bergerak serbacepat, di mana perhatian manusia dipreteli oleh notifikasi, tren viral, dan konten singkat kurang dari satu menit, kecerdasan sering kali direduksi menjadi sekadar kemampuan menjawab soal, mengutip teori, atau memamerkan gelar akademik, padahal bisa jadi didapat dari membeli, bukan karena prestasi sendiri. Padahal, seperti disinggung Helen Higgins dalam gagasannya tentang The Erotics of Intelligence, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan memesona dari kecerdasan: yaitu daya tarik intelektual dan kedalaman batin yang muncul dari keinginan tulus untuk memahami, mendengar, dan memaknai kehidupan.

Refleksi ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia saat ini—sebuah bangsa besar yang di satu sisi dipenuhi bakat muda, kreativitas, dan potensi luar biasa, namun di sisi lain juga terperangkap dalam tradisi serba instan, serba tampil, dan serba reaktif. Di tengah situasi ini, menghidupkan kembali daya erotis dari kecerdasan adalah tindakan mulia yang justru diperlukan untuk memperbaiki arah peradaban kita.

Ketika Permukaan Mengalahkan Kedalaman

Indonesia, seperti banyak negara lain di era digital, mengalami apa yang bisa disebut sebagai “krisis kedalaman”. Ruang publik dipenuhi komentar tanpa konteks, opini tanpa bacaan, dan perdebatan tanpa pemahaman. Anak muda tumbuh dalam lingkungan yang mendorong mereka untuk tampil, bukan mendalami; berbicara, bukan mendengarkan; bereaksi, bukan merenungkan.

Kita hidup di zaman di mana kesan lebih dijunjung daripada kualitas. Orang lebih terpukau oleh influencer yang berpenampilan menarik ketimbang pemikir yang menawarkan perspektif jernih. Politik pun demikian: slogan lebih laku daripada visi, pencitraan lebih digemari daripada integritas, sehingga melahirkan pemimpin culas.

Dalam tradisi seperti ini, sangat mudah bagi generasi muda untuk kehilangan apresiasi terhadap kecerdasan yang hakiki—kecerdasan yang menggerakkan nurani dan memperhalus jiwa.

Daya Tarik Kecerdasan: Apa yang Sesungguhnya “Seksi”?

Higgins mengingatkan bahwa tidak ada yang lebih seksi daripada seseorang yang benar-benar mendengarkan, yang bergairah pada ide, dan yang mau berpikir melampaui permukaan. Kecerdasan yang erotis bukanlah soal IQ atau prestasi akademik, tetapi soal kehadiran penuh: kemampuan untuk peduli, memahami, dan mengeksplorasi makna.

Dalam konteks Indonesia, kualitas ini sangat dibutuhkan, terutama oleh generasi muda yang kelak akan menjadi pewaris bangsa. Kita membutuhkan anak-anak muda yang “seksi” secara intelektual, tapi juga kedalaman hati—mereka yang tidak hanya mengejar popularitas, tetapi memperjuangkan gagasan; yang tidak sekadar mencari panggung, tetapi memberi kontribusi nyata; yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi menapaki jalan sunyi untuk belajar sungguh-sungguh.

Betapa indahnya bila semakin banyak anak muda yang meromantisasi pemikiran mendalam, bukan sekadar gaya hidup dangkal. Betapa berharganya bila percakapan mereka tidak berhenti pada gosip selebritas atau drama politik, tetapi juga menyentuh filsafat, sains, sejarah, dan kemanusiaan.

Tantangan Indonesia: Kekayaan Data, Kemiskinan Literasi

Indonesia adalah bangsa yang penuh informasi tetapi minim transformasi. Anak muda mengakses ribuan konten tiap hari, namun sedikit sekali yang benar-benar dicerna. Mereka belajar banyak hal, tetapi hanya di kulitnya.

Padahal, erotika kecerdasan tidak muncul dari tumpukan informasi, melainkan dari integrasi pengalaman, refleksi, dan dialog. Di sinilah kita menemukan tantangan terbesar:

  • Tingkat literasi baca kita masih rendah.
  • Kemampuan berpikir kritis kurang dilatih di sekolah.
  • Media sosial menggiring opini tanpa memberikan ruang untuk kedalaman.
  • Budaya diskusi yang sehat masih lemah; yang kuat justru budaya menghakimi.

Jika kondisi ini dibiarkan, bangsa kita akan kehilangan fondasi intelektual yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global.

Merawat Keintiman Intelektual di Tengah Kebisingan Sosial

Salah satu ide kuat Higgins adalah bahwa kecerdasan melibatkan keintiman—keintiman dengan ide, dengan bahasa, dengan percakapan, bahkan dengan diri sendiri. Di Indonesia, keintiman semacam ini menjadi langka karena pola hidup serba cepat dan kecanduan hiburan ringan.

Untuk membangun Indonesia yang lebih baik, anak muda perlu menemukan kembali keintiman dengan pikiran mereka sendiri:

  • duduk membaca tanpa distraksi,
  • merenungkan satu kalimat yang menyentuh,
  • berdiskusi dengan teman tanpa harus selalu setuju,
  • menantang opini sendiri,
  • menulis untuk memperjelas batin,
  • dan mendengarkan dengan hati terbuka.

Keintiman intelektual bukan hanya memperkaya diri, tetapi juga memperhalus jiwa dan memperkuat karakter.

Pelajaran untuk Anak Muda Indonesia

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari gagasan The Erotics of Intelligence bagi generasi muda Indonesia:

a. Jadikan “kedalaman” sebagai gaya hidup baru.

Merayakan kedalaman di era permukaan adalah upaya bijaksana yang akan membedakan kita dari kerumunan.

b. Berpikir kritis adalah tindakan keberanian.

Dalam masyarakat yang sering menghakimi, keberanian untuk berpikir kritis dan menyuarakannya, adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan di masyarakat.

c. Dengarkan dengan empati.

Kecerdasan bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi tentang bagaimana kita mendengar dan menyerap dunia. Ini adalah sebuah seni tersendiri, seni mendengar secara bijak.

d. Bacalah dunia, bukan hanya layar.

Membaca buku, berbicara dengan orang dari berbagai kelas, mendengarkan tokoh yang sudah tercerahkan, bergabung dengan komunitas berbasis kasih, mengunjungi tempat baru—semua memperluas horizon batin.

e. Jadilah generasi yang “seksi” secara intelektual dan kedalaman hati

Bukan dengan menampilkan tubuh, tetapi dengan memperindah pikiran dan memperhalus budi.

Menuju Indonesia yang Lebih Cerdas dan Lebih Manusiawi

Jika generasi muda Indonesia mulai merayakan kecerdasan dalam makna yang paling hidup—bukan teknis, bukan akademis, tetapi eksistensial—bangsa ini akan berubah. Kita akan memiliki lebih banyak pemimpin yang bijak, bukan hanya populer. Lebih banyak inovator yang peduli, bukan hanya mengejar profit. Lebih banyak warga yang memahami demokrasi, bukan hanya ikut arus politik uang.

Bangsa besar membutuhkan kualitas jiwa besar, dan kualitas jiwa besar hanya lahir dari pikiran yang mendalam.

Pada akhirnya, The Erotics of Intelligence mengajak kita untuk jatuh cinta pada berpikir, pada dialog, pada pemahaman—karena hanya dengan itulah kita bisa membangun Indonesia yang lebih cerdas, lebih lembut, lebih manusiawi.

Dan itu semua dimulai dari satu langkah sederhana: menghargai kedalaman diri sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: erotics intelligenceHelen Higginsintelektual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Next Post

Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co