2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 3, 2025
in Esai
Pejabat adalah Cerminan Rakyat

Ilustrasi: tatkala.co/Dede│Dibuat dengan Canva

DALAM kehidupan berbangsa dan bernegara, acap kali kita menempatkan pejabat sebagai pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas rusaknya sistem sosial, ekonomi, maupun moral di negeri ini. Mereka dituding sebagai biang keladi berbagai persoalan: perusakan lingkungan, korupsi, kemalasan, hingga sikap tidak amanah. Akan tetapi, jika kita menelisik lebih dalam, ada cermin besar yang sesungguhnya sedang menatap masyarakat. Pejabat adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Apa yang terlihat pada wakil rakyat, sebagian besar merupakan refleksi dari perilaku masyarakat yang melahirkan, mendukung, bahkan membenarkan tindakan-tindakan tersebut.

Kita mengecam pejabat menebang pohon atau merusak lingkungan seenaknya demi keuntungan pribadi, tetapi pada saat yang sama masyarakat membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah. Keduanya sama-sama merusak, hanya aktor dan skalanya berbeda. Ketika pejabat melakukan korupsi miliaran rupiah, masyarakat pun sesungguhnya terlibat dalam praktik serupa dalam bentuk lebih kecil: pungutan liar, mark up anggaran kelompok, hingga meminta ‘uang rokok’ untuk layanan yang seharusnya gratis. Perbedaannya hanya angka, bukan moral. Seolah-olah kita tidak mampu melakukan korupsi besar karena tidak berada di posisi dan peluang yang memungkinkan.

Begitu pula ketika pejabat kedapatan mengambil hak yang bukan miliknya, masyarakat pun melakukan hal serupa. Saat terjadi musibah, bukan hanya pejabat yang berebut proyek bantuan, masyarakat ikut menjarah barang yang bukan miliknya. Ketika pejabat tertidur dalam rapat resmi, masyarakat pun tak kalah kreatif, menggunakan surat izin palsu agar bisa absen dari kantor tanpa konsekuensi. Semua ini menunjukkan bahwa praktik moral yang menyimpang bukan hanya terjadi di pucuk kekuasaan, melainkan hidup dan tumbuh di akar masyarakat.

Pada titik ini, sulit untuk menolak kenyataan pahit bahwa tindakan-tindakan pejabat tidak lahir dari ruang hampa. Mereka adalah anak dari budaya yang sama, hasil dari sistem sosial yang juga membentuk perilaku masyarakat sehari-hari. Hal-hal buruk yang kita lihat pada wakil rakyat sesungguhnya mencerminkan kebiasaan masyarakat yang berlangsung lama, turun-temurun, dan dianggap lumrah. Karena itu, barangkali benar jika dikatakan bahwa ketika masyarakat berada di posisi pejabat, mereka akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih parah. Kekuasaan hanya memperbesar tindakan, bukan menciptakan moral baru.

Yang lebih menyedihkan lagi, orang jujur justru kerap tersingkirkan. Dalam lingkungan yang terbiasa dengan manipulasi, integritas dianggap ancaman. Orang jujur dipandang aneh, ditertawakan, bahkan diacuhkan. Mereka dianggap tidak fleksibel, terlalu idealis, atau tidak mampu memahami ‘situasi lapangan’. Seakan-akan kejujuran bukan lagi nilai utama, melainkan kelemahan yang patut dihindari. Maka tak heran, populasi orang jujur makin sedikit. Mereka bertahan dengan perjuangan yang melelahkan, sementara mayoritas justru mengikuti arus, meski arus itu membawa pada kerusakan moral.

Ironi ini memperlihatkan betapa kuatnya budaya negatif yang telah mendarah daging dalam masyarakat. Dilema moral tidak lagi dirasakan sebagai pergulatan nurani, tetapi sebagai pilihan praktis demi bertahan hidup dalam lingkungan sosial yang sarat kepentingan. Rasa sungkan atau ‘tidak enakan’, standar ganda dalam menilai tindakan, serta toleransi terhadap kesalahan kecil menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ini bukan fenomena baru, melainkan warisan turun-temurun yang terus direproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika anak melihat orang tua memanipulasi data demi bantuan, mereka belajar bahwa kejujuran merugikan. Ketika siswa melihat gurunya menoleransi ketidakjujuran kecil, mereka tumbuh dengan anggapan bahwa kebohongan bisa dibenarkan dalam kondisi tertentu. Ketika masyarakat melihat pejabat melanggar aturan tanpa sanksi, mereka yakin bahwa ketidakadilan adalah hal normal. Lingkaran ini terus berputar dan membentuk budaya yang sulit diputus.

Namun, kendati kondisi ini tampak suram, bukan berarti tidak ada harapan. Kesadaran bahwa pejabat adalah cerminan rakyat sepatutnya menjadi titik awal untuk memperbaiki diri sebagai masyarakat. Sebab jika ingin memiliki pemimpin yang jujur, masyarakat harus lebih dulu menjunjung nilai yang sama. Jika ingin pejabat berhenti merusak lingkungan, masyarakat pun harus mencintai lingkungan. Jika ingin korupsi lenyap, masyarakat harus menghentikan praktik-praktik korupsi yang mengakar.

Perubahan tidak selalu harus datang dari atas. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana: membuang sampah pada tempatnya, menolak pungli, menepati janji, atau sekadar jujur pada diri sendiri. Tindakan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada kritik besar yang tidak disertai keteladanan.

Pejabat memang cerminan rakyat. Jika cermin itu memantulkan sesuatu yang buruk, sudah sepatutnya kita tidak hanya memecahkan cerminnya, tetapi memperbaiki apa yang terpancar di dalamnya. Karena perubahan sejati tidak berasal dari mengganti orang di kursi kekuasaan, tetapi dari mengganti karakter masyarakat yang melahirkan mereka. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: pejabatrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Helen Higgins dan ‘The Erotics of Intelligence’

Next Post

Wanprestasi Pihak dalam Akta Autentik dan Pilihan Hukum  Penyelesaian Sengketa

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Wanprestasi Pihak dalam Akta Autentik dan Pilihan Hukum  Penyelesaian Sengketa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co