14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 3, 2025
in Khas
Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

I Nyoman Sudiasa | Foto: Angga Wijaya

Di tengah tingginya stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa di Bali, seorang penyintas skizofrenia bernama I Nyoman Sudiasa justru tampil menjadi contoh bahwa pemulihan bukan sekadar kemungkinan, tetapi kenyataan. Melalui kisah hidupnya, dari masa-masa gelap ketika gejala pertama muncul hingga akhirnya diangkat sebagai pegawai PPPK Pemerintah Kota Denpasar, kita melihat bahwa kewarasan bukan hanya soal kondisi medis, melainkan tentang kemampuan seseorang untuk bangkit, bertahan, dan terus berperan di masyarakat. Dari sosok inilah kita belajar kembali memaknai apa artinya “waras” sebagai manusia.

Dulu, di mata masyarakat, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) seringkali dianggap “hilang masa depan”. Mereka dilekatkan dengan stigma, antara lain tidak bisa bekerja, tidak bisa berkeluarga, bahkan tidak bisa pulih.

Di Bali, yang kental dengan ikatan adat dan banjar, posisi mereka lebih sulit lagi.  “Kalau sudah sakit jiwa, apalagi sampai kambuh, orang langsung anggap habis sudah,” kata I Nyoman Sudiasa, 51 tahun, penyintas skizofrenia asal Buleleng yang telah lama menetap di Kota Denpasar.

Pak Man, nama akrab Sudiasa, lahir dan besar di Desa Titab, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, dalam keluarga sederhana. Sejak kecil ia dikenal pendiam, tekun, dan rajin belajar.

Selepas SMA ia merantau, bekerja di Denpasar. Namun di usia akhir dua puluhan gejala skizofrenia mulai muncul.

Ia sering mendengar bisikan, merasa orang lain membicarakan dirinya, hingga kesulitan tidur. “Keluarga bingung, teman-teman juga menjauh. Saya sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Rasanya seperti ada dunia lain yang masuk ke kepala,” kenang Pak Man, saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Oleh keluarganya, Pak Man dibawa berobat dan dirawat di rumah sakit jiwa provinsi Bali di kabupaten Bangli. Namun pengobatan itu tak berlangsung lama. “Saya hanya seminggu dirawat. Karena belum ada jaminan kesehatan pemerintah, saya pakai biaya umum. Akhirnya pulang paksa karena tidak kuat bayar,” tuturnya.

Kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Setelah keluar dari rumah sakit, Pak Man tetap berupaya menjalani pengobatan rutin di Denpasar, tepatnya di RSUD Wangaya.  Semua ditanggung secara mandiri. “Waktu itu belum ada jaminan kesehatan nasional seperti sekarang. Jadi ya, biaya ditanggung sendiri. Berat sekali,” ujarnya.

Keadaan mulai agak ringan ketika Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) diluncurkan di era Gubernur Made Mangku Pastika. “Saya merasa tertolong. Bisa stabil, bisa pulih, dan mulai bekerja juga. Sejak 2002, saya sudah bisa cari pekerjaan,” pungkas Pak Man.

Tahun-tahun awal sangat berat. Stigma sosial menempel kuat. Di banjar, ada orang yang berbisik-bisik, bahkan ada yang melarang anaknya bergaul dengannya. “Kalau sudah keluar rumah sakit, orang lihat saya dengan tatapan lain. Seolah-olah saya tidak normal lagi,” katanya lirih.

Ia sempat terpuruk, merasa tak punya harapan. Tapi dukungan keluarga menjadi titik balik. Istri dan keluarganya tidak pernah menyerah. Mereka mendampinginya minum obat, mengajak beraktivitas, dan percaya bahwa Sudiasa bisa kembali hidup normal. “Kalau bukan karena keluarga, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini” ujarnya.

Sebelum sakit, Pak Man adalah seorang pekerja garmen. Ia terbiasa hidup dalam ritme yang cepat, kain dipotong, dijahit, disetrika, dipaketkan. Mesin jahit menderu, jarum turun-naik bagai denyut kehidupan. Namun, justru di tengah rutinitas itu ia mulai diganggu suara-suara asing yang tak pernah ia undang. Diagnosa pun datang, ia mengidap skizofrenia.

Bagi banyak orang, diagnosis ini terdengar seperti vonis. Kata yang keras, membekukan, dan sering kali menutup ruang harapan. Namun bagi Pak Man, diagnosis bukanlah titik akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Ia jatuh, tentu saja. Ia kehilangan pekerjaan, terasing dari kawan-kawan, bahkan keluarganya sempat kebingungan menghadapi kenyataan. Tapi di balik itu, ada dorongan samar yang membuatnya terus berusaha bangkit.

Dari Penyintas ke Penggerak

Titik balik terjadi pada 2015. Seorang psikiater, dr. I Gusti Rai Putri Wiguna, Sp.KJ mengajaknya berkumpul bersama penyintas lain. Dari pertemuan itu lahirlah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali. Melalui wadah itu, ia belajar berbicara di depan umum, sesuatu yang dulu sangat sulit dilakukan.

Tak lama, KPSI mendirikan Rumah Berdaya Denpasar di Jalan Hayam Wuruk, sebuah ruang aktivitas produktif dan edukasi bagi ODGJ. Dari sanalah, Pak Man dipercaya menjadi pegawai kontrak di bawah Dinas Kesehatan, kemudian berlanjut di bawah Dinas Sosial Kota Denpasar sejak 2019. Dedikasinya membuahkan hasil. Ia tercatat dalam database kepegawaian dan ikut tes P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).

Nilai tesnya mencapai 504, skor yang menurutnya tinggi bagi seorang penyintas. Pada Juni 2025, ia resmi diangkat sebagai pegawai P3K Pemerintah Kota Denpasar. “Ini pencapaian di luar ekspektasi saya. Saya bangga, tapi juga sadar ini hasil pengabdian, bukan semata keberuntungan,” ucapnya.

I Nyoman Sudiasa | Foto: Angga Wijaya

Di sana, Rumah Berdaya Denpasar, Sudiasa bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Ia merasa tidak sendirian lagi. “Di Rumah Berdaya, saya menemukan keluarga kedua. Kami bisa cerita apa saja tanpa takut dihakimi,” katanya.

Ia belajar banyak keterampilan: melukis, membuat kerajinan, hingga mengelola kebun kecil. Dari situ lahir keyakinan bahwa penyintas skizofrenia tetap bisa produktif. “Kuncinya adalah diterima dulu sebagai manusia. Kalau sudah diterima, pelan-pelan kemampuan akan muncul,” ujarnya.

Lebih dari itu, Rumah Berdaya membuat Pak Man sadar bahwa pemulihan bukan hanya soal obat. Pemulihan adalah proses sosial: bagaimana masyarakat membuka ruang, memberi kesempatan, dan melihat penyintas bukan sekadar dari label “sakit jiwa”.

Di Rumah berdaya, yang sejak beberapa tahun lalu bertempat di Jalan Raya Sesetan No. 280, Pegok, Denpasar Selatan, Pak Man terbiasa menemani teman-teman sepenyintas, memfasilitasi kelas, bahkan ikut menyusun acara publik untuk kampanye anti-stigma.

Perlahan, ia mulai dikenal sebagai figur yang bisa diandalkan. Kini, sebagai PPPK, ia merasa lebih mantap. Status barunya bukan hanya soal pekerjaan, melainkan pengakuan atas kapasitas penyintas untuk berkontribusi dalam birokrasi.

Bagi Pak Man, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat kegiatan, melainkan jalan menuju pemulihan. Ia berharap Rumah Berdaya tetap mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat, baik dalam bentuk fasilitas maupun apresiasi terhadap produk-produk mereka.

“Kalau masyarakat mau beli dupa, tote bag, atau cuci motor di sini, sebenarnya mereka ikut membantu penyintas untuk pulih,” ujarnya. Secara pribadi, motivasi utamanya sederhana, yaitu ingin bermanfaat. “Dengan keterbatasan yang saya miliki, saya ingin berbagi pengalaman. Kalau saya bisa pulih, orang lain juga bisa. Saya ingin menanam karma baik, itu saja,” katanya pelan.

Baginya, berbagi kisah kepada keluarga penyintas adalah bagian dari misi hidup. Saat ia berkata, “Saya juga penyintas,” wajah-wajah keluarga itu seakan mendapat harapan baru, bahwa skizofrenia bukan akhir dari segalanya.

Kisah Pak Man menjadi jawaban konkret atas pertanyaan lama, yaitu, apakah ODGJ bisa pulih? Ia bukan hanya pulih, tapi juga berdaya dan dipercaya. Kehadirannya di kantor pemerintahan menjadi simbol perlawanan terhadap stigma. “Kalau dulu orang bilang ODGJ tidak bisa kerja, saya buktikan bisa. Kalau dulu dibilang tidak bisa dipercaya, saya buktikan bisa dipercaya,” ujarnya tegas.

Namun, ia sadar perjuangan belum selesai. Masih banyak penyintas lain yang belum punya akses obat, belum mendapat dukungan keluarga, atau masih dikurung di rumah. “Saya beruntung punya keluarga dan komunitas. Tidak semua orang punya. Tugas kita sekarang memperluas akses itu,” ucapnya.

Kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Rumah Berdaya Denpasar, tempat ia berproses, kini menjadi contoh baik di tingkat nasional. Model pemulihan berbasis komunitas yang mereka jalankan sering dikunjungi peneliti, aktivis, bahkan pejabat dari daerah lain. Pak Man sendiri kini lebih banyak berperan sebagai “abang” bagi teman-temannya. Ia membantu yang baru bergabung, memotivasi agar minum obat teratur, dan mengajak ikut kegiatan produktif.

“Kalau saya bisa, teman-teman lain juga bisa. Saya hanya ingin berbagi semangat itu,” katanya. Bagi Pak Man, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang simbolis bahwa penyintas berhak hidup bermartabat. “Rumah ini membuktikan bahwa kami tidak gila, kami hanya sakit, dan sakit itu bisa diobati,” ujarnya.

Bali dan Skizofrenia

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) beberapa tahun lalu menunjukkan Bali sebagai provinsi dengan prevalensi skizofrenia tertinggi di Indonesia. Hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa di Bali, yang dikenal harmonis dengan adat dan budaya, justru angka itu tinggi?

Sebagian pakar menyebut ada kaitan dengan tekanan sosial dan ekonomi, sebagian lagi dengan faktor genetik dan kesadaran untuk mencari pengobatan. Namun yang jelas, stigma di masyarakat masih kuat. Banyak keluarga menyembunyikan anggota keluarganya yang sakit karena takut dipandang malu.

Dalam konteks ini, kisah Pak Man menjadi oase. Ia menunjukkan bahwa terbuka dan mencari pertolongan lebih baik daripada menutup-nutupi. “Kalau disembunyikan, penyakitnya tambah parah. Kalau diterima dan diobati, ada harapan pulih,” katanya.

Kini, di usia paruh baya, Pak Man tidak hanya hidup sebagai penyintas, tetapi juga sebagai teladan. Ia bekerja, berkarya, dan tetap menjaga kesehatan mentalnya dengan disiplin minum obat serta rutin kontrol ke psikiater.

Ia menyadari bahwa skizofrenia adalah penyakit kronis. “Saya tidak pernah bilang saya sembuh total. Saya bilang saya pulih, artinya saya bisa mengelola penyakit ini. Sama seperti orang dengan diabetes, yang penting disiplin minum obat,” ujarnya.

Pak Man ingin masyarakat mengubah cara pandang, dari melihat penyintas sebagai “beban”, menjadi melihat mereka sebagai manusia utuh yang punya potensi. “Kami bukan aib. Kami manusia yang sedang berjuang. Kalau diberi kesempatan, kami bisa berkontribusi,” katanya.

Kegiatan usaha cuci motor dan bikin dupa di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Kisah hidup I Nyoman Sudiasa adalah kisah tentang keberanian meretas batas. Batas stigma, batas keraguan, batas diskriminasi. Dari pasien yang dianggap tak punya harapan, ia bertransformasi menjadi aparatur sipil yang diakui negara. Dari orang yang dulu dipandang sebelah mata, kini ia berdiri sebagai bukti bahwa pulih itu nyata.

Di balik kisahnya, ada pesan penting bagi masyarakat Bali dan Indonesia, jangan pernah menutup pintu bagi penyintas skizofrenia. Sebab, seperti yang ditunjukkan I Nyoman Sudiasa, mereka bisa menjadi bagian dari solusi sosial, bukan masalah. “Kalau saya yang pernah sakit bisa sampai di sini, artinya orang lain juga bisa. Tinggal kita, mau menerima atau tidak,” tutupnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesiarumah berdayaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“As Tears Go By”: Kekuatan Musisi Masa Lalu

Next Post

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co