24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 3, 2025
in Khas
Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

I Nyoman Sudiasa | Foto: Angga Wijaya

Di tengah tingginya stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa di Bali, seorang penyintas skizofrenia bernama I Nyoman Sudiasa justru tampil menjadi contoh bahwa pemulihan bukan sekadar kemungkinan, tetapi kenyataan. Melalui kisah hidupnya, dari masa-masa gelap ketika gejala pertama muncul hingga akhirnya diangkat sebagai pegawai PPPK Pemerintah Kota Denpasar, kita melihat bahwa kewarasan bukan hanya soal kondisi medis, melainkan tentang kemampuan seseorang untuk bangkit, bertahan, dan terus berperan di masyarakat. Dari sosok inilah kita belajar kembali memaknai apa artinya “waras” sebagai manusia.

Dulu, di mata masyarakat, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) seringkali dianggap “hilang masa depan”. Mereka dilekatkan dengan stigma, antara lain tidak bisa bekerja, tidak bisa berkeluarga, bahkan tidak bisa pulih.

Di Bali, yang kental dengan ikatan adat dan banjar, posisi mereka lebih sulit lagi.  “Kalau sudah sakit jiwa, apalagi sampai kambuh, orang langsung anggap habis sudah,” kata I Nyoman Sudiasa, 51 tahun, penyintas skizofrenia asal Buleleng yang telah lama menetap di Kota Denpasar.

Pak Man, nama akrab Sudiasa, lahir dan besar di Desa Titab, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, dalam keluarga sederhana. Sejak kecil ia dikenal pendiam, tekun, dan rajin belajar.

Selepas SMA ia merantau, bekerja di Denpasar. Namun di usia akhir dua puluhan gejala skizofrenia mulai muncul.

Ia sering mendengar bisikan, merasa orang lain membicarakan dirinya, hingga kesulitan tidur. “Keluarga bingung, teman-teman juga menjauh. Saya sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Rasanya seperti ada dunia lain yang masuk ke kepala,” kenang Pak Man, saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Oleh keluarganya, Pak Man dibawa berobat dan dirawat di rumah sakit jiwa provinsi Bali di kabupaten Bangli. Namun pengobatan itu tak berlangsung lama. “Saya hanya seminggu dirawat. Karena belum ada jaminan kesehatan pemerintah, saya pakai biaya umum. Akhirnya pulang paksa karena tidak kuat bayar,” tuturnya.

Kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Setelah keluar dari rumah sakit, Pak Man tetap berupaya menjalani pengobatan rutin di Denpasar, tepatnya di RSUD Wangaya.  Semua ditanggung secara mandiri. “Waktu itu belum ada jaminan kesehatan nasional seperti sekarang. Jadi ya, biaya ditanggung sendiri. Berat sekali,” ujarnya.

Keadaan mulai agak ringan ketika Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) diluncurkan di era Gubernur Made Mangku Pastika. “Saya merasa tertolong. Bisa stabil, bisa pulih, dan mulai bekerja juga. Sejak 2002, saya sudah bisa cari pekerjaan,” pungkas Pak Man.

Tahun-tahun awal sangat berat. Stigma sosial menempel kuat. Di banjar, ada orang yang berbisik-bisik, bahkan ada yang melarang anaknya bergaul dengannya. “Kalau sudah keluar rumah sakit, orang lihat saya dengan tatapan lain. Seolah-olah saya tidak normal lagi,” katanya lirih.

Ia sempat terpuruk, merasa tak punya harapan. Tapi dukungan keluarga menjadi titik balik. Istri dan keluarganya tidak pernah menyerah. Mereka mendampinginya minum obat, mengajak beraktivitas, dan percaya bahwa Sudiasa bisa kembali hidup normal. “Kalau bukan karena keluarga, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini” ujarnya.

Sebelum sakit, Pak Man adalah seorang pekerja garmen. Ia terbiasa hidup dalam ritme yang cepat, kain dipotong, dijahit, disetrika, dipaketkan. Mesin jahit menderu, jarum turun-naik bagai denyut kehidupan. Namun, justru di tengah rutinitas itu ia mulai diganggu suara-suara asing yang tak pernah ia undang. Diagnosa pun datang, ia mengidap skizofrenia.

Bagi banyak orang, diagnosis ini terdengar seperti vonis. Kata yang keras, membekukan, dan sering kali menutup ruang harapan. Namun bagi Pak Man, diagnosis bukanlah titik akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Ia jatuh, tentu saja. Ia kehilangan pekerjaan, terasing dari kawan-kawan, bahkan keluarganya sempat kebingungan menghadapi kenyataan. Tapi di balik itu, ada dorongan samar yang membuatnya terus berusaha bangkit.

Dari Penyintas ke Penggerak

Titik balik terjadi pada 2015. Seorang psikiater, dr. I Gusti Rai Putri Wiguna, Sp.KJ mengajaknya berkumpul bersama penyintas lain. Dari pertemuan itu lahirlah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali. Melalui wadah itu, ia belajar berbicara di depan umum, sesuatu yang dulu sangat sulit dilakukan.

Tak lama, KPSI mendirikan Rumah Berdaya Denpasar di Jalan Hayam Wuruk, sebuah ruang aktivitas produktif dan edukasi bagi ODGJ. Dari sanalah, Pak Man dipercaya menjadi pegawai kontrak di bawah Dinas Kesehatan, kemudian berlanjut di bawah Dinas Sosial Kota Denpasar sejak 2019. Dedikasinya membuahkan hasil. Ia tercatat dalam database kepegawaian dan ikut tes P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).

Nilai tesnya mencapai 504, skor yang menurutnya tinggi bagi seorang penyintas. Pada Juni 2025, ia resmi diangkat sebagai pegawai P3K Pemerintah Kota Denpasar. “Ini pencapaian di luar ekspektasi saya. Saya bangga, tapi juga sadar ini hasil pengabdian, bukan semata keberuntungan,” ucapnya.

I Nyoman Sudiasa | Foto: Angga Wijaya

Di sana, Rumah Berdaya Denpasar, Sudiasa bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Ia merasa tidak sendirian lagi. “Di Rumah Berdaya, saya menemukan keluarga kedua. Kami bisa cerita apa saja tanpa takut dihakimi,” katanya.

Ia belajar banyak keterampilan: melukis, membuat kerajinan, hingga mengelola kebun kecil. Dari situ lahir keyakinan bahwa penyintas skizofrenia tetap bisa produktif. “Kuncinya adalah diterima dulu sebagai manusia. Kalau sudah diterima, pelan-pelan kemampuan akan muncul,” ujarnya.

Lebih dari itu, Rumah Berdaya membuat Pak Man sadar bahwa pemulihan bukan hanya soal obat. Pemulihan adalah proses sosial: bagaimana masyarakat membuka ruang, memberi kesempatan, dan melihat penyintas bukan sekadar dari label “sakit jiwa”.

Di Rumah berdaya, yang sejak beberapa tahun lalu bertempat di Jalan Raya Sesetan No. 280, Pegok, Denpasar Selatan, Pak Man terbiasa menemani teman-teman sepenyintas, memfasilitasi kelas, bahkan ikut menyusun acara publik untuk kampanye anti-stigma.

Perlahan, ia mulai dikenal sebagai figur yang bisa diandalkan. Kini, sebagai PPPK, ia merasa lebih mantap. Status barunya bukan hanya soal pekerjaan, melainkan pengakuan atas kapasitas penyintas untuk berkontribusi dalam birokrasi.

Bagi Pak Man, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat kegiatan, melainkan jalan menuju pemulihan. Ia berharap Rumah Berdaya tetap mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat, baik dalam bentuk fasilitas maupun apresiasi terhadap produk-produk mereka.

“Kalau masyarakat mau beli dupa, tote bag, atau cuci motor di sini, sebenarnya mereka ikut membantu penyintas untuk pulih,” ujarnya. Secara pribadi, motivasi utamanya sederhana, yaitu ingin bermanfaat. “Dengan keterbatasan yang saya miliki, saya ingin berbagi pengalaman. Kalau saya bisa pulih, orang lain juga bisa. Saya ingin menanam karma baik, itu saja,” katanya pelan.

Baginya, berbagi kisah kepada keluarga penyintas adalah bagian dari misi hidup. Saat ia berkata, “Saya juga penyintas,” wajah-wajah keluarga itu seakan mendapat harapan baru, bahwa skizofrenia bukan akhir dari segalanya.

Kisah Pak Man menjadi jawaban konkret atas pertanyaan lama, yaitu, apakah ODGJ bisa pulih? Ia bukan hanya pulih, tapi juga berdaya dan dipercaya. Kehadirannya di kantor pemerintahan menjadi simbol perlawanan terhadap stigma. “Kalau dulu orang bilang ODGJ tidak bisa kerja, saya buktikan bisa. Kalau dulu dibilang tidak bisa dipercaya, saya buktikan bisa dipercaya,” ujarnya tegas.

Namun, ia sadar perjuangan belum selesai. Masih banyak penyintas lain yang belum punya akses obat, belum mendapat dukungan keluarga, atau masih dikurung di rumah. “Saya beruntung punya keluarga dan komunitas. Tidak semua orang punya. Tugas kita sekarang memperluas akses itu,” ucapnya.

Kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Rumah Berdaya Denpasar, tempat ia berproses, kini menjadi contoh baik di tingkat nasional. Model pemulihan berbasis komunitas yang mereka jalankan sering dikunjungi peneliti, aktivis, bahkan pejabat dari daerah lain. Pak Man sendiri kini lebih banyak berperan sebagai “abang” bagi teman-temannya. Ia membantu yang baru bergabung, memotivasi agar minum obat teratur, dan mengajak ikut kegiatan produktif.

“Kalau saya bisa, teman-teman lain juga bisa. Saya hanya ingin berbagi semangat itu,” katanya. Bagi Pak Man, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang simbolis bahwa penyintas berhak hidup bermartabat. “Rumah ini membuktikan bahwa kami tidak gila, kami hanya sakit, dan sakit itu bisa diobati,” ujarnya.

Bali dan Skizofrenia

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) beberapa tahun lalu menunjukkan Bali sebagai provinsi dengan prevalensi skizofrenia tertinggi di Indonesia. Hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa di Bali, yang dikenal harmonis dengan adat dan budaya, justru angka itu tinggi?

Sebagian pakar menyebut ada kaitan dengan tekanan sosial dan ekonomi, sebagian lagi dengan faktor genetik dan kesadaran untuk mencari pengobatan. Namun yang jelas, stigma di masyarakat masih kuat. Banyak keluarga menyembunyikan anggota keluarganya yang sakit karena takut dipandang malu.

Dalam konteks ini, kisah Pak Man menjadi oase. Ia menunjukkan bahwa terbuka dan mencari pertolongan lebih baik daripada menutup-nutupi. “Kalau disembunyikan, penyakitnya tambah parah. Kalau diterima dan diobati, ada harapan pulih,” katanya.

Kini, di usia paruh baya, Pak Man tidak hanya hidup sebagai penyintas, tetapi juga sebagai teladan. Ia bekerja, berkarya, dan tetap menjaga kesehatan mentalnya dengan disiplin minum obat serta rutin kontrol ke psikiater.

Ia menyadari bahwa skizofrenia adalah penyakit kronis. “Saya tidak pernah bilang saya sembuh total. Saya bilang saya pulih, artinya saya bisa mengelola penyakit ini. Sama seperti orang dengan diabetes, yang penting disiplin minum obat,” ujarnya.

Pak Man ingin masyarakat mengubah cara pandang, dari melihat penyintas sebagai “beban”, menjadi melihat mereka sebagai manusia utuh yang punya potensi. “Kami bukan aib. Kami manusia yang sedang berjuang. Kalau diberi kesempatan, kami bisa berkontribusi,” katanya.

Kegiatan usaha cuci motor dan bikin dupa di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Kisah hidup I Nyoman Sudiasa adalah kisah tentang keberanian meretas batas. Batas stigma, batas keraguan, batas diskriminasi. Dari pasien yang dianggap tak punya harapan, ia bertransformasi menjadi aparatur sipil yang diakui negara. Dari orang yang dulu dipandang sebelah mata, kini ia berdiri sebagai bukti bahwa pulih itu nyata.

Di balik kisahnya, ada pesan penting bagi masyarakat Bali dan Indonesia, jangan pernah menutup pintu bagi penyintas skizofrenia. Sebab, seperti yang ditunjukkan I Nyoman Sudiasa, mereka bisa menjadi bagian dari solusi sosial, bukan masalah. “Kalau saya yang pernah sakit bisa sampai di sini, artinya orang lain juga bisa. Tinggal kita, mau menerima atau tidak,” tutupnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesiarumah berdayaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“As Tears Go By”: Kekuatan Musisi Masa Lalu

Next Post

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co