2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 3, 2025
in Khas
Ketika Penyintas Mengajar Kita Tentang Waras

I Nyoman Sudiasa | Foto: Angga Wijaya

Di tengah tingginya stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa di Bali, seorang penyintas skizofrenia bernama I Nyoman Sudiasa justru tampil menjadi contoh bahwa pemulihan bukan sekadar kemungkinan, tetapi kenyataan. Melalui kisah hidupnya, dari masa-masa gelap ketika gejala pertama muncul hingga akhirnya diangkat sebagai pegawai PPPK Pemerintah Kota Denpasar, kita melihat bahwa kewarasan bukan hanya soal kondisi medis, melainkan tentang kemampuan seseorang untuk bangkit, bertahan, dan terus berperan di masyarakat. Dari sosok inilah kita belajar kembali memaknai apa artinya “waras” sebagai manusia.

Dulu, di mata masyarakat, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) seringkali dianggap “hilang masa depan”. Mereka dilekatkan dengan stigma, antara lain tidak bisa bekerja, tidak bisa berkeluarga, bahkan tidak bisa pulih.

Di Bali, yang kental dengan ikatan adat dan banjar, posisi mereka lebih sulit lagi.  “Kalau sudah sakit jiwa, apalagi sampai kambuh, orang langsung anggap habis sudah,” kata I Nyoman Sudiasa, 51 tahun, penyintas skizofrenia asal Buleleng yang telah lama menetap di Kota Denpasar.

Pak Man, nama akrab Sudiasa, lahir dan besar di Desa Titab, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, dalam keluarga sederhana. Sejak kecil ia dikenal pendiam, tekun, dan rajin belajar.

Selepas SMA ia merantau, bekerja di Denpasar. Namun di usia akhir dua puluhan gejala skizofrenia mulai muncul.

Ia sering mendengar bisikan, merasa orang lain membicarakan dirinya, hingga kesulitan tidur. “Keluarga bingung, teman-teman juga menjauh. Saya sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Rasanya seperti ada dunia lain yang masuk ke kepala,” kenang Pak Man, saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Oleh keluarganya, Pak Man dibawa berobat dan dirawat di rumah sakit jiwa provinsi Bali di kabupaten Bangli. Namun pengobatan itu tak berlangsung lama. “Saya hanya seminggu dirawat. Karena belum ada jaminan kesehatan pemerintah, saya pakai biaya umum. Akhirnya pulang paksa karena tidak kuat bayar,” tuturnya.

Kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Setelah keluar dari rumah sakit, Pak Man tetap berupaya menjalani pengobatan rutin di Denpasar, tepatnya di RSUD Wangaya.  Semua ditanggung secara mandiri. “Waktu itu belum ada jaminan kesehatan nasional seperti sekarang. Jadi ya, biaya ditanggung sendiri. Berat sekali,” ujarnya.

Keadaan mulai agak ringan ketika Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) diluncurkan di era Gubernur Made Mangku Pastika. “Saya merasa tertolong. Bisa stabil, bisa pulih, dan mulai bekerja juga. Sejak 2002, saya sudah bisa cari pekerjaan,” pungkas Pak Man.

Tahun-tahun awal sangat berat. Stigma sosial menempel kuat. Di banjar, ada orang yang berbisik-bisik, bahkan ada yang melarang anaknya bergaul dengannya. “Kalau sudah keluar rumah sakit, orang lihat saya dengan tatapan lain. Seolah-olah saya tidak normal lagi,” katanya lirih.

Ia sempat terpuruk, merasa tak punya harapan. Tapi dukungan keluarga menjadi titik balik. Istri dan keluarganya tidak pernah menyerah. Mereka mendampinginya minum obat, mengajak beraktivitas, dan percaya bahwa Sudiasa bisa kembali hidup normal. “Kalau bukan karena keluarga, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini” ujarnya.

Sebelum sakit, Pak Man adalah seorang pekerja garmen. Ia terbiasa hidup dalam ritme yang cepat, kain dipotong, dijahit, disetrika, dipaketkan. Mesin jahit menderu, jarum turun-naik bagai denyut kehidupan. Namun, justru di tengah rutinitas itu ia mulai diganggu suara-suara asing yang tak pernah ia undang. Diagnosa pun datang, ia mengidap skizofrenia.

Bagi banyak orang, diagnosis ini terdengar seperti vonis. Kata yang keras, membekukan, dan sering kali menutup ruang harapan. Namun bagi Pak Man, diagnosis bukanlah titik akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Ia jatuh, tentu saja. Ia kehilangan pekerjaan, terasing dari kawan-kawan, bahkan keluarganya sempat kebingungan menghadapi kenyataan. Tapi di balik itu, ada dorongan samar yang membuatnya terus berusaha bangkit.

Dari Penyintas ke Penggerak

Titik balik terjadi pada 2015. Seorang psikiater, dr. I Gusti Rai Putri Wiguna, Sp.KJ mengajaknya berkumpul bersama penyintas lain. Dari pertemuan itu lahirlah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali. Melalui wadah itu, ia belajar berbicara di depan umum, sesuatu yang dulu sangat sulit dilakukan.

Tak lama, KPSI mendirikan Rumah Berdaya Denpasar di Jalan Hayam Wuruk, sebuah ruang aktivitas produktif dan edukasi bagi ODGJ. Dari sanalah, Pak Man dipercaya menjadi pegawai kontrak di bawah Dinas Kesehatan, kemudian berlanjut di bawah Dinas Sosial Kota Denpasar sejak 2019. Dedikasinya membuahkan hasil. Ia tercatat dalam database kepegawaian dan ikut tes P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).

Nilai tesnya mencapai 504, skor yang menurutnya tinggi bagi seorang penyintas. Pada Juni 2025, ia resmi diangkat sebagai pegawai P3K Pemerintah Kota Denpasar. “Ini pencapaian di luar ekspektasi saya. Saya bangga, tapi juga sadar ini hasil pengabdian, bukan semata keberuntungan,” ucapnya.

I Nyoman Sudiasa | Foto: Angga Wijaya

Di sana, Rumah Berdaya Denpasar, Sudiasa bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Ia merasa tidak sendirian lagi. “Di Rumah Berdaya, saya menemukan keluarga kedua. Kami bisa cerita apa saja tanpa takut dihakimi,” katanya.

Ia belajar banyak keterampilan: melukis, membuat kerajinan, hingga mengelola kebun kecil. Dari situ lahir keyakinan bahwa penyintas skizofrenia tetap bisa produktif. “Kuncinya adalah diterima dulu sebagai manusia. Kalau sudah diterima, pelan-pelan kemampuan akan muncul,” ujarnya.

Lebih dari itu, Rumah Berdaya membuat Pak Man sadar bahwa pemulihan bukan hanya soal obat. Pemulihan adalah proses sosial: bagaimana masyarakat membuka ruang, memberi kesempatan, dan melihat penyintas bukan sekadar dari label “sakit jiwa”.

Di Rumah berdaya, yang sejak beberapa tahun lalu bertempat di Jalan Raya Sesetan No. 280, Pegok, Denpasar Selatan, Pak Man terbiasa menemani teman-teman sepenyintas, memfasilitasi kelas, bahkan ikut menyusun acara publik untuk kampanye anti-stigma.

Perlahan, ia mulai dikenal sebagai figur yang bisa diandalkan. Kini, sebagai PPPK, ia merasa lebih mantap. Status barunya bukan hanya soal pekerjaan, melainkan pengakuan atas kapasitas penyintas untuk berkontribusi dalam birokrasi.

Bagi Pak Man, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat kegiatan, melainkan jalan menuju pemulihan. Ia berharap Rumah Berdaya tetap mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat, baik dalam bentuk fasilitas maupun apresiasi terhadap produk-produk mereka.

“Kalau masyarakat mau beli dupa, tote bag, atau cuci motor di sini, sebenarnya mereka ikut membantu penyintas untuk pulih,” ujarnya. Secara pribadi, motivasi utamanya sederhana, yaitu ingin bermanfaat. “Dengan keterbatasan yang saya miliki, saya ingin berbagi pengalaman. Kalau saya bisa pulih, orang lain juga bisa. Saya ingin menanam karma baik, itu saja,” katanya pelan.

Baginya, berbagi kisah kepada keluarga penyintas adalah bagian dari misi hidup. Saat ia berkata, “Saya juga penyintas,” wajah-wajah keluarga itu seakan mendapat harapan baru, bahwa skizofrenia bukan akhir dari segalanya.

Kisah Pak Man menjadi jawaban konkret atas pertanyaan lama, yaitu, apakah ODGJ bisa pulih? Ia bukan hanya pulih, tapi juga berdaya dan dipercaya. Kehadirannya di kantor pemerintahan menjadi simbol perlawanan terhadap stigma. “Kalau dulu orang bilang ODGJ tidak bisa kerja, saya buktikan bisa. Kalau dulu dibilang tidak bisa dipercaya, saya buktikan bisa dipercaya,” ujarnya tegas.

Namun, ia sadar perjuangan belum selesai. Masih banyak penyintas lain yang belum punya akses obat, belum mendapat dukungan keluarga, atau masih dikurung di rumah. “Saya beruntung punya keluarga dan komunitas. Tidak semua orang punya. Tugas kita sekarang memperluas akses itu,” ucapnya.

Kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Rumah Berdaya Denpasar, tempat ia berproses, kini menjadi contoh baik di tingkat nasional. Model pemulihan berbasis komunitas yang mereka jalankan sering dikunjungi peneliti, aktivis, bahkan pejabat dari daerah lain. Pak Man sendiri kini lebih banyak berperan sebagai “abang” bagi teman-temannya. Ia membantu yang baru bergabung, memotivasi agar minum obat teratur, dan mengajak ikut kegiatan produktif.

“Kalau saya bisa, teman-teman lain juga bisa. Saya hanya ingin berbagi semangat itu,” katanya. Bagi Pak Man, Rumah Berdaya bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang simbolis bahwa penyintas berhak hidup bermartabat. “Rumah ini membuktikan bahwa kami tidak gila, kami hanya sakit, dan sakit itu bisa diobati,” ujarnya.

Bali dan Skizofrenia

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) beberapa tahun lalu menunjukkan Bali sebagai provinsi dengan prevalensi skizofrenia tertinggi di Indonesia. Hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa di Bali, yang dikenal harmonis dengan adat dan budaya, justru angka itu tinggi?

Sebagian pakar menyebut ada kaitan dengan tekanan sosial dan ekonomi, sebagian lagi dengan faktor genetik dan kesadaran untuk mencari pengobatan. Namun yang jelas, stigma di masyarakat masih kuat. Banyak keluarga menyembunyikan anggota keluarganya yang sakit karena takut dipandang malu.

Dalam konteks ini, kisah Pak Man menjadi oase. Ia menunjukkan bahwa terbuka dan mencari pertolongan lebih baik daripada menutup-nutupi. “Kalau disembunyikan, penyakitnya tambah parah. Kalau diterima dan diobati, ada harapan pulih,” katanya.

Kini, di usia paruh baya, Pak Man tidak hanya hidup sebagai penyintas, tetapi juga sebagai teladan. Ia bekerja, berkarya, dan tetap menjaga kesehatan mentalnya dengan disiplin minum obat serta rutin kontrol ke psikiater.

Ia menyadari bahwa skizofrenia adalah penyakit kronis. “Saya tidak pernah bilang saya sembuh total. Saya bilang saya pulih, artinya saya bisa mengelola penyakit ini. Sama seperti orang dengan diabetes, yang penting disiplin minum obat,” ujarnya.

Pak Man ingin masyarakat mengubah cara pandang, dari melihat penyintas sebagai “beban”, menjadi melihat mereka sebagai manusia utuh yang punya potensi. “Kami bukan aib. Kami manusia yang sedang berjuang. Kalau diberi kesempatan, kami bisa berkontribusi,” katanya.

Kegiatan usaha cuci motor dan bikin dupa di Rumah Berdaya Denpasar | Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar

Kisah hidup I Nyoman Sudiasa adalah kisah tentang keberanian meretas batas. Batas stigma, batas keraguan, batas diskriminasi. Dari pasien yang dianggap tak punya harapan, ia bertransformasi menjadi aparatur sipil yang diakui negara. Dari orang yang dulu dipandang sebelah mata, kini ia berdiri sebagai bukti bahwa pulih itu nyata.

Di balik kisahnya, ada pesan penting bagi masyarakat Bali dan Indonesia, jangan pernah menutup pintu bagi penyintas skizofrenia. Sebab, seperti yang ditunjukkan I Nyoman Sudiasa, mereka bisa menjadi bagian dari solusi sosial, bukan masalah. “Kalau saya yang pernah sakit bisa sampai di sini, artinya orang lain juga bisa. Tinggal kita, mau menerima atau tidak,” tutupnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesiarumah berdayaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“As Tears Go By”: Kekuatan Musisi Masa Lalu

Next Post

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Melihat Tradisi Tuntunan di Desa Gaji, Tuban: Simbol Cinta dan Status Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co