2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjelajahi Subak Sembung: Serunya Jogging di Tengah Sawah Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
November 25, 2025
in Tualang
Menjelajahi Subak Sembung: Serunya Jogging di Tengah Sawah Denpasar

Jalur jooging di Subak Sembung, Denpasar Utara

PAGI yang cerah di Denpasar menghadirkan suasana yang tak biasa di Ekowisata Subak Sembung. Di tengah hiruk pikuk kota, tempat ini menjadi ruang hijau yang menawarkan kesegaran sekaligus ketenangan. Tempat ini terletak di Jalan Ahmad Yani Utara, Peguyangan, Denpasar Utara. Hamparan sawah terbentang luas, berpadu dengan jalur jogging yang membelah di tengahnya, menghadirkan pemandangan yang jarang ditemui di wilayah perkotaan. Kawasan ini bukan sekadar tempat berolahraga, tetapi juga menjadi simbol bagaiman sistem pertanian tradisional Bali tetap bertahan di tengah arus modernisasi.

Siapa sangka, yang awalnya mengira tempat ini akan sepi, justru malah sebaliknya. Sejak pagi hari, kawasan Subak Sembung sudah ramai dikunjungi masyarakat untuk berolahraga, berjalan santai, atau sekadar menikmati udara pagi. Tak sedikit pula keluarga yang menghabiskan waktu bersama, menjadikan area ini alternatif wisata murah meriah di tengah Denpasar. Tempat ini memiliki dua area parkir yang cukup luas di setiap sisinya. Parkiran pos satu sebenarnya tampak lebih besar dibandingkan di parkiran lainnya. Dengan hanya membayar dua ribu untuk parkir, pengunjung sudah bisa menikmati seluruh keindahan dan fasilitas yang ada tanpa dipungut biaya tambahan.

Sawah dan jalur jogging di Subak Sembung | Foto: Suwini

Begitu melangkah ke dalam, hamparan sawah menyambut dengan warna hijau yang menyejukkan mata. Di tengah-tengahnya terbentang jalur jogging yang cukup panjang dan lebar. Jalur tersebut sudah berpaving rapi, membuat siapa pun nyaman untuk berjalan, berlari, atau sekadar berkeliling sambil menikmati udara segar. Sekali putaran saja sudah cukup membuat tubuh berkeringat, namun pemandangan sekitar membuat lelah terasa menyenangkan.

Menariknya, walau di tengah sawah, suasana kawasan ini justru ramai. Banyak yang tak menyangka bahwa tempat seperti ini bisa menjadi salah satu titik favorit masyarakat Denpasar untuk berolahraga, karena biasanya mereka lebih memilih area seperti Lapangan Renon atau Puputan. Tapi, tak dapat dipungkiri, karena Subak Sembung sendiri menghadirkan alternatif yang berbeda, yaitu alami, hijau, dan tenang.

Sepanjang jalur, terbentang sawah-sawah yang benar-benar hijau. Tanaman padi tumbuh subur, diselingi dengan berbagai jenis tanaman lain seperti jeruk bali, jambu, sayur-sayuran, umbi-umbian, hingga berbagai bunga seperti bunga pacar dan gumitir yang menambah warna di tengah hamparan hijau. Di beberapa titik juga terdapat papan informasi mengenai sistem subak yang merupakan warisan budaya Bali. Melalui papan tersebut, pengunjung dapat memahami bagaimana air dialirkan secara merata, sekaligus bagaimana sistem tersebut menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.

Sawah dan jalur jogging di Subak Sembung | Foto: Suwini

Namun, daya tarik utama Subak Sembung tidak berhenti di situ. Di sepanjang jalur jogging, warga setempat ikut berpartisipasi dengan menjajakan hasil bumi mereka yang sangat segar dan berkualitas. Beragam sayur segar, buah-buahan, umbi-umbian, serta minuman tradisional seperti jamu atau loloh dijual dengan harga terjangkau. Para pedagang melayani dengan senyum ramah, menambah kehangatan di tengah udara pagi yang sejuk. Suasana terasa hidup, bukan hanya karena aktivitas olahraga, tetapi juga karena interaksi sosial yang tumbuh alami di antara warga dan pengunjung.

Selain jalur olahraga, kawasan ini juga memiliki beberapa titik wisata keluarga. Salah satunya Taman Kelinci, yang sudah pasti menjadi tempat favorit bagi anak-anak. Dengan membayar masuk hanya dua ribu rupiah, pengunjung sudah dapat memberi makan dan berinteraksi langsung bersama kelinci. Penjaga taman kelinci juga akan memberikan makanan kelinci berupa sayur kangkung yang cukup banyak untuk pakan kelinci sebelum masuk.

Bu Wiras | Foto: Suwini

Penjaga taman ini sangat ramah, Bu Wiras namanya. Ia juga menjelaskan bahwa Ekowisata Subak Sembung biasanya paling ramai pada hari Sabtu dan Minggu. “Biasanya memang Sabtu dan Minggu yang rame di sini, dari pagi pasti udah ada yang olahraga,” ujarnya sambil tersenyum hangat. Beliau juga mengaku bahwa sudah ada di Taman Kelinci pada pukul 07.00 pagi. Bu Wiras ini merupakan warga sekitar yang tinggal tidak jauh dari lokasi.

Setiap hari ia menjaga taman, menyambut pengunjung dengan ramah, dan memastikan semua kelinci tetap sehat dan terawatt. Di dalam taman, beberapa ekor kelinci berlarian untuk menyambut makanan mereka yang dibawa oleh pengunjung membuat anak-anak tertawa kegirangan. Suasana terasa sederhana, namun penuh kebahagiaan.

Tak hanya taman kelinci, tersedia pula kolam pancing, area camping, dan fasilitas lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan keluarga atau komunitas. Fasilitas-fasilitas ini menunjukkan bahwa Subak Sembung bukan hanya tempat olahraga, tetapu juga ruang rekreasi yang multifungsi dengan menyatukan edukasi, ekowisata, dan hiburan dalam satu kawasan. Tak jauh dari area utama, aroma makanan menggoda setiap pengunjung.

Pak Nengah Subawa | Foto: Suwini

Di sepanjang jalan keluar menuju parkiran, deretan pedagang menjajakan aneka kuliner seperti soto, bubur ayam, jajan bali, minuman segar, dan masih banyak lagi. Salah satunya adalah Pak Nengah Subawa, pedagang yang berjualan di sekitar lokasi. Pak Nengah sendiri menjajakan rujak yang bumbunya di buat oleh dirinya sendiri dan beberapa jenis minuman, seperti es teh, pop ice, dan lain-lainnya. “Saya di sini dari jam tujuh pagi sampe nanti sore,” jawabnya dengan senyum hangat ketika ditanya jamnya beroperasi.

Ia juga bercerita bahwa tinggal di Penatih dan cucunya juga ikut berjualan di sekitar lokasi, hanya saja cucu Pak Nengah berjualan soto. Kehadiran para pedagang seperti Pak Nengah memperkuat kesan bahwa ekowisata ini bukan hanya milik alam, tetapi juga milik masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari kawasan tersebut.

Tak perlu merasa khawatir soal fasilitas. Jalur yang sudah tertata, area parkir yang luas, dan keberadaan warga yang ramah membuat pengunjung merasa nyaman. Semua elemen di Subak Sembung saling terhubung secara harmoni, antara alam, manusia, maupun budaya lokal. Meski berada di tengah kota, tempat ini mampu menghadirkan sensasi berwisata layaknya di pedesaan yang asri. Wisata ini jelas adalah salah satu tempat yang recomended dan worth it karena murah, bersih, dan menenangkan.

Di tengah padatnya pembangunan dan gaya hidup cepat di Denpasar, Ekowisata Subak Sembung hadir sebagai pengingat bahwa keseimbangan antara alam dan manusia tetap bisa dijaga. Subak Sembung bukan hanya tempat untuk berlari, tetapi juga tempat untuk berhenti sejenak, menghirup udara segar, melihat langit luas, dan mengingat bahwa di balik hiruk pikuk kota, selalu ada ruang dari alam untuk bernapas. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarolahragaPariwisatapariwisata balisubakSubak Sembung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Next Post

‘Closer to Believing’: Cinta Membuat Hidup ini Abadi

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
‘Closer to Believing’: Cinta Membuat Hidup ini Abadi

'Closer to Believing': Cinta Membuat Hidup ini Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co