2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Closer to Believing’: Cinta Membuat Hidup ini Abadi

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
November 25, 2025
in Ulas Musik
‘Closer to Believing’: Cinta Membuat Hidup ini Abadi

Closer to Believing: Emerson, Lake & Palmer | Sumber gambar Youtube

SEBENARNYA, C’est la Vie sudah menghantui saya sejak tadi malam, tapi saya memilih untuk menulis Closer to Believing, karya indah dan puitis lainnya dari Emerson, Lake & Palmer (ELP). Lagu ini memiliki daya yang beda di antara diskografi ELP yang kaya.

Ketika membuka kembali lembaran-lembaran rock progresif, seketika kita akan terhanyut dalam pusaran sonik tanpa peta, tempat momen-momen terindah mengalir dari ingatan masa silam. Catatan ringan ini sekadar untuk menyalurkan imajinasi yang tiba-tiba meluap, sekaligus merayakan kembali keagungan sebuah genre yang tak pernah usang oleh waktu.

Closer to Believing, suara lembut yang berasal dari masa yang jauh, dirilis pada 1977. Penulis dan penyanyi lagu ini, Greg Lake, mengatakan ini sebagai salah satu lagu favoritnya dan ia tak mudah untuk menuliskannya. “Kami benar-benar membutuhkan waktu tiga bulan penuh, tanpa jeda, untuk menyelesaikan satu lagu ini,” katanya. Rupanya ia mau mempertahankan spirit puitis lagu ini yang memaksanya memainkan warna musik yang berbeda dari biasanya yang kental dengan rock-prog. Hasilnya, sebuah lagu ikonik dan menjadi abadi dalam waktu yang panjang.

Lagu ini menghanyutkan. Sebuah balada lembut dari serangkaian puisi yang diiringi orkestra. Greg Lake menyanyi seperti bisikan angin di tengah suara ombak landai yang menyisakan gema haru di dinding pendengaran kita. Dia tampak intim, seolah-seolah percakapan ringan, tapi sebenarnya ajakan serius: “Taruhlah hatimu di atas meja. Dan dalam mimpi-mimpi yang berkecamuk. Ingatlah siapa dirimu di bumi”.

Dia kemudian menegaskan keyakinan dari gagasannya itu melalui chorus yang penuh makna: “Aku butuh diriku. Kau butuh dirimu. Kami butuh kita”.

Liriknya sepenuhnya puitis. Ini puisi yang dinyanyikan dan memiliki efek sentuh yang dalam. Setiap diksi ditulis dengan efektif dan simbolis, menciptakan nuansa makna yang luas meski pesan utamanya adalah “pemberontakan” terhadap aturan dan kaidah lama, seperti tradisi, adat, agama yang dilembagakan, yang rigid dan mengungkung, yang menutup kita dalam menemukan nilai hidup sendiri.

Ideologi-ideologi tradisional selalu bekerja secara politik dan mengikat pikiran bawah sadar kita. Ia memengaruhi dari satu jiwa ke jiwa lain, kita tidak dapat menyentuhnya, kita tidak dapat melihatnya, tetapi kita dapat merasakannya, dan itu selalu mencerminkan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita di dunia. Ideologi politik telah mendatangkan banyak kerusakan seperti peperangan, penindasan, ketidakadilan, kehidupan yang teralienasi, golongan sosial yang terstratifikasi.

Banyak penyanyi telah menyuarakan hal ini dengan caranya sendiri, melalui protes terbuka maupun secara halus dalam lagu. Dan ELP melalui Closer to Believing mengatakan bahwa “ideologi tradisional” tersebut ibarat “Tulisan di dinding/ Yang menyala begitu terang/ Itu membutakan kita semua”. Dinding selalu menjebak, memblok cakrawala pandangan, dan kita tidak dapat mengelak.

Karena itulah, dengan lirih dia berkata, “So don’t let the curtain fall”, biarkan panggung ideologi lama itu mengakhiri ceritanya, dan kini sudah waktunya “ideologi” baru terbit, yakni cinta, sebagai kebenaran universal yang akan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup dan memahami makna hidup.

Luke percaya bahwa setiap orang harus menjadi dirinya sendiri berdasarkan cinta, dan bahwa cinta adalah sesuatu yang secara alami mengikat setiap jiwa. Hanya cinta yang dapat menjawab kebutuhan kita untuk terhubung dan percaya antara satu dengan lainnya dengan apa adanya.

George Harrison pernah mengatakan cinta adalah hal yang spiritual. Semua cinta adalah bagian dari cinta universal. “Ketika Anda mencintai, Tuhan dalam dirinyalah yang Anda lihat. Satu-satunya cinta yang utuh adalah untuk Tuhan”.

Konsep cinta sebagai “ideologi” kehidupan yang disuarakan melalui musik telah berkembag pada abad ke-20. Tahun 1960-an, gerakan hippie dan counterculture di Barat telah menyuarakan cinta dan kebebasan sebagai alternatif dari nilai-nilai dan sistem yang ada.

The Beatles, Bob Dylan, Joni Mitchell dan lainnya juga menggunakan musik untuk menyampaikan pesan cinta, kebebasan dan keharmonisan.
Mereka percaya bahwa cinta dan kebebasan sebagai kunci mencapai kebahagiaan dan keharmonisan di bumi. Bob Dylan bahkan memenangkan Nobel pada 2016 atas kontribusinya dalam menciptakan lirik dan musik dengan ekspresi sastra dan penuh pesan cinta.

Closer to Believing bukan sekadar lagu tapi juga undangan untuk merenungkan makna cinta dan keyakinan dalam hidup. Dalam setiap nada dan liriknya, ELP mengajak kita melepaskan diri dari belenggu ideologi lama dan menemukan kebenaran universal melalui cinta. Mungkin ini saatnya kita semua menjadi lebih dekat untuk percaya pada cinta, pada diri sendiri, dan pada kehidupan yang lebih harmonis.

“We want us to live forever”, dan cinta membuat hidup ini abadi. Jejak keindahannya tidak akan pernah hilang. Cinta adalah kekuatan yang tak terhentikan, pencipta sekaligus penjaga harmoni. Karena itu, setiap detik waktu kita adalah soal menghayati cinta, sebelum semuanya semakin jauh dan terlambat. [T]

Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
‘Changes’: Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan
‘Bright Eyes’: Antara Matahari Senja dan Datangnya Kematian
Tags: Emersonlagumusikmusik barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjelajahi Subak Sembung: Serunya Jogging di Tengah Sawah Denpasar

Next Post

Super-Ageing: Masa Depan di Mana Kita Menua Sendiri dalam Hiruk-Pikuk Dunia Postmodern

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails
Next Post
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Super-Ageing: Masa Depan di Mana Kita Menua Sendiri dalam Hiruk-Pikuk Dunia Postmodern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co