14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Closer to Believing’: Cinta Membuat Hidup ini Abadi

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
November 25, 2025
in Ulas Musik
‘Closer to Believing’: Cinta Membuat Hidup ini Abadi

Closer to Believing: Emerson, Lake & Palmer | Sumber gambar Youtube

SEBENARNYA, C’est la Vie sudah menghantui saya sejak tadi malam, tapi saya memilih untuk menulis Closer to Believing, karya indah dan puitis lainnya dari Emerson, Lake & Palmer (ELP). Lagu ini memiliki daya yang beda di antara diskografi ELP yang kaya.

Ketika membuka kembali lembaran-lembaran rock progresif, seketika kita akan terhanyut dalam pusaran sonik tanpa peta, tempat momen-momen terindah mengalir dari ingatan masa silam. Catatan ringan ini sekadar untuk menyalurkan imajinasi yang tiba-tiba meluap, sekaligus merayakan kembali keagungan sebuah genre yang tak pernah usang oleh waktu.

Closer to Believing, suara lembut yang berasal dari masa yang jauh, dirilis pada 1977. Penulis dan penyanyi lagu ini, Greg Lake, mengatakan ini sebagai salah satu lagu favoritnya dan ia tak mudah untuk menuliskannya. “Kami benar-benar membutuhkan waktu tiga bulan penuh, tanpa jeda, untuk menyelesaikan satu lagu ini,” katanya. Rupanya ia mau mempertahankan spirit puitis lagu ini yang memaksanya memainkan warna musik yang berbeda dari biasanya yang kental dengan rock-prog. Hasilnya, sebuah lagu ikonik dan menjadi abadi dalam waktu yang panjang.

Lagu ini menghanyutkan. Sebuah balada lembut dari serangkaian puisi yang diiringi orkestra. Greg Lake menyanyi seperti bisikan angin di tengah suara ombak landai yang menyisakan gema haru di dinding pendengaran kita. Dia tampak intim, seolah-seolah percakapan ringan, tapi sebenarnya ajakan serius: “Taruhlah hatimu di atas meja. Dan dalam mimpi-mimpi yang berkecamuk. Ingatlah siapa dirimu di bumi”.

Dia kemudian menegaskan keyakinan dari gagasannya itu melalui chorus yang penuh makna: “Aku butuh diriku. Kau butuh dirimu. Kami butuh kita”.

Liriknya sepenuhnya puitis. Ini puisi yang dinyanyikan dan memiliki efek sentuh yang dalam. Setiap diksi ditulis dengan efektif dan simbolis, menciptakan nuansa makna yang luas meski pesan utamanya adalah “pemberontakan” terhadap aturan dan kaidah lama, seperti tradisi, adat, agama yang dilembagakan, yang rigid dan mengungkung, yang menutup kita dalam menemukan nilai hidup sendiri.

Ideologi-ideologi tradisional selalu bekerja secara politik dan mengikat pikiran bawah sadar kita. Ia memengaruhi dari satu jiwa ke jiwa lain, kita tidak dapat menyentuhnya, kita tidak dapat melihatnya, tetapi kita dapat merasakannya, dan itu selalu mencerminkan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita di dunia. Ideologi politik telah mendatangkan banyak kerusakan seperti peperangan, penindasan, ketidakadilan, kehidupan yang teralienasi, golongan sosial yang terstratifikasi.

Banyak penyanyi telah menyuarakan hal ini dengan caranya sendiri, melalui protes terbuka maupun secara halus dalam lagu. Dan ELP melalui Closer to Believing mengatakan bahwa “ideologi tradisional” tersebut ibarat “Tulisan di dinding/ Yang menyala begitu terang/ Itu membutakan kita semua”. Dinding selalu menjebak, memblok cakrawala pandangan, dan kita tidak dapat mengelak.

Karena itulah, dengan lirih dia berkata, “So don’t let the curtain fall”, biarkan panggung ideologi lama itu mengakhiri ceritanya, dan kini sudah waktunya “ideologi” baru terbit, yakni cinta, sebagai kebenaran universal yang akan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup dan memahami makna hidup.

Luke percaya bahwa setiap orang harus menjadi dirinya sendiri berdasarkan cinta, dan bahwa cinta adalah sesuatu yang secara alami mengikat setiap jiwa. Hanya cinta yang dapat menjawab kebutuhan kita untuk terhubung dan percaya antara satu dengan lainnya dengan apa adanya.

George Harrison pernah mengatakan cinta adalah hal yang spiritual. Semua cinta adalah bagian dari cinta universal. “Ketika Anda mencintai, Tuhan dalam dirinyalah yang Anda lihat. Satu-satunya cinta yang utuh adalah untuk Tuhan”.

Konsep cinta sebagai “ideologi” kehidupan yang disuarakan melalui musik telah berkembag pada abad ke-20. Tahun 1960-an, gerakan hippie dan counterculture di Barat telah menyuarakan cinta dan kebebasan sebagai alternatif dari nilai-nilai dan sistem yang ada.

The Beatles, Bob Dylan, Joni Mitchell dan lainnya juga menggunakan musik untuk menyampaikan pesan cinta, kebebasan dan keharmonisan.
Mereka percaya bahwa cinta dan kebebasan sebagai kunci mencapai kebahagiaan dan keharmonisan di bumi. Bob Dylan bahkan memenangkan Nobel pada 2016 atas kontribusinya dalam menciptakan lirik dan musik dengan ekspresi sastra dan penuh pesan cinta.

Closer to Believing bukan sekadar lagu tapi juga undangan untuk merenungkan makna cinta dan keyakinan dalam hidup. Dalam setiap nada dan liriknya, ELP mengajak kita melepaskan diri dari belenggu ideologi lama dan menemukan kebenaran universal melalui cinta. Mungkin ini saatnya kita semua menjadi lebih dekat untuk percaya pada cinta, pada diri sendiri, dan pada kehidupan yang lebih harmonis.

“We want us to live forever”, dan cinta membuat hidup ini abadi. Jejak keindahannya tidak akan pernah hilang. Cinta adalah kekuatan yang tak terhentikan, pencipta sekaligus penjaga harmoni. Karena itu, setiap detik waktu kita adalah soal menghayati cinta, sebelum semuanya semakin jauh dan terlambat. [T]

Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
‘Changes’: Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan
‘Bright Eyes’: Antara Matahari Senja dan Datangnya Kematian
Tags: Emersonlagumusikmusik barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjelajahi Subak Sembung: Serunya Jogging di Tengah Sawah Denpasar

Next Post

Super-Ageing: Masa Depan di Mana Kita Menua Sendiri dalam Hiruk-Pikuk Dunia Postmodern

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Super-Ageing: Masa Depan di Mana Kita Menua Sendiri dalam Hiruk-Pikuk Dunia Postmodern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co