24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Denpasar : Tubuh Kota yang ‘Dipaksa’  Berlari

Made Chandra by Made Chandra
November 23, 2025
in Ulas Pentas
Denpasar : Tubuh Kota yang ‘Dipaksa’  Berlari

Pertunjukan Tubuh Kota yang Berlari | Sumber : Instagram @insanity_ads

DENPASAR; sebuah kota kecil di ujung selatan perut Pulau Bali. Sebuah wilayah yang menjadi saksi bagi rentetan peristiwa: pertumpahan darah, pembangunan ekonomi, geliat pariwisata, kemacetan, hingga luapan banjir yang kian sulit dielakkan.

Sebagai kota yang kecil, kota ini punya peran yang tak bisa dianggap kecil, ia menjadi jalur transit utama masuknya segala sektor perekonomian. Di kota ini pula setiap pagi kita bisa melihat lautan manusia yang berusaha mencari penghidupan dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang menetap dan ada juga yang tinggal lalu pergi. 

Denpasar bukan sekadar kota yang hidup seperlunya. Ia adalah jantung yang terus berdetak, memompa Bali yang kini terseok-seok oleh pariwisata yang semakin menyesakkan.

Pertunjukan Tubuh Kota yang Berlari | Sumber : Instagram @insanity_ads)

 Jika diibaratkan tubuh seseorang, ia mungkin layaknya budak korporasi yang terus diperah oleh bosnya. Seorang yang dipaksa berlari bahkan ketika kakinya sudah tak mampu untuk berdiri, Mungkin ia lelah; mungkin ia hanya butuh jeda untuk berbenah dan bernapas dari cepatnya putaran dunia.

Ruang Kreatif dan Geliat Inisiatif Muda

Di tengah perputaran dan hiruk pikuk peristiwa di kota ini, hidup sebuah ruang  bernama Graha Yowana Suci. Bekas pasar lama terbengkalai, yang kini seakan menjelma ruang baptis gaya hidup anak muda yang haus akan gejolak ekspresi. Tempat dimana gagasan bertemu, ide-ide saling silang, dan berbagai lapisan generasi muda menemukan medium untuk menyuarakan gejolak mereka.

Poster pertunjukan | Sumber : Instagram @penerbitpartikular

Salah satu inisiasi yang cukup segar baru-baru ini, adalah sebuah acara bertajuk Sayembara Cerpen Denpasar 2025, yang diinisiasi oleh Penerbit Partikular, sebuah penerbit independen yang belum lama ini pindah dan menetap di salah satu lantai Graha Yowana Suci ini. Bekerja sama dengan BKRAF Denpasar, kali ini mereka mengadakan sebuah acara sayembara cerpen yang berusaha untuk membedah, serta merefleksikan bagaimana cara kita melihat, menangkap dan merasakan denyut nadi kota Denpasar. Kita dituntun melalui perspektif yang terekam dalam 10 cerita pendek yang merangkum peristiwa-peristiwa kecil yang sering kali kita rasakan hari ini tentang bagaimana kota madya ini bercerita.

Meskipun pada akhirnya penulis tidak  mengikuti keseluruhan isi sepuluh cerpen tersebut, kekosongan itu terbayar oleh sebuah pagelaran teater dan seni media yang hadir setelah forum Diskusi dan Kota Sebagai Cerita. Karya ini menjadi jawaban yang mampu merangkum serta merespon berbagai cerpen yang bercerita tentang apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi pada kota Denpasar kita hari ini.

Pertunjukan Tubuh Kota yang Berlari | Foto: Dok Pribadi

Karya yang berjudul ‘ Tubuh Kota Yang Berlari’ menyapa saya dan puluhan anak muda yang begitu antusias dengan gelaran pertunjukan yang tiba-tiba hadir di bangunan 4 Lantai ini. Dengan dentuman dram dan iringan musik yang begitu dinamik serta ritmis, gelombang frekuensi pertunjukan ini seakan menjadi magnet yang menyedot siapa saja untuk melihat dan menjadi bagian dari pertunjukan ini.

Disutradarai oleh Devy Gita, para aktornya tampil dengan pendekatan embodied, menjalin potongan-potongan narasi yang terbaca sebagai penggalan berbagai respon yang menceritakan serta menggambarkan bagaimana Denpasar dimaknai melalui gerak tubuh dan ledakan emosi yang saling bersinggungan.

Pertunjukan ini dibuka oleh sorotan lampu pada Reni Layon, aktor utama yang—menurut imajinasi liar penulis—menjelma representasi Denpasar: eksotik sekaligus problematik. Dengan dekapan kain kebaya khas Bali yang membungkus tubuhnya, Reni memulai pertunjukan ini dengan bersimpuh seolah sedang berharap dan menghadap kepada sesuatu. Dengan dikelilingi oleh tanah yang ditabur tipis seakan berbisik tentang posisi Denpasar sebagai lahan yang kini tengah dipertarungkan.

Kemudian aktor lainnya menyusul satu persatu mengelilingi Reni yang bersimpuh di sentral lantai pertunjukan, mulai dari De Gung yang menggelar sebuah kain putih yang diuntai begitu panjang, lalu disusul mahijasena yang bergerak merangkai sikut gegulak, yaitu konsep ukuran arsitektur Bali yang diperoleh dari ukuran anatomi tubuh manusia—mengisyaratkan tentang ikatan mengenai tanah, bangunan dan lahan yang terus bergerak sejengkal, demi sejengkal. Lalu berlanjut pada Oka Pratama yang berputar-putar disekeliling area gelaran mencoba untuk memindah botol-botol air yang saling tersusun acak.

Pertunjukan ini seperti menyuguhkan satu cerita, yang diawali dengan ritme musik dan gerak tubuh yang masih terlihat perlahan, kemudian berlanjut pada konflik hiruk pikuk di tengah-tengah bagian pertunjukan yang menjadi klimaks dari apa yang sedang coba dikomunikasikan, lalu diakhiri oleh resolusi yang menyiratkan sebuah pengharapan untuk kota dapat berbenah walau dengan perlahan.

Tentang Air, Tanah dan Perebutan Sumber Daya

Ada beberapa hal menarik yang bisa dikupas dari pertunjukan ini, yang pertama adalah aspek material yang menjadi bahasa utama dalam karya ini— tanah, bunga, air, plastik dan kain. Aspek material tersebut menjadi bahasa yang mencoba untuk menerjemahkan bagaimana relasi antar elemen tersebut saling tarik menarik, seolah menggambarkan perebutan sumber daya yang kini tengah terjadi di Denpasar.

Bagian yang paling berkesan adalah bagaimana botol-botol plastik yang berisi air perlahan-lahan dipindahkan lalu didistribusikan secara acak menjadi metafor tentang bagaimana semerawutnya tata kelola air yang dimiliki oleh Denpasar hari ini. Sebagai kota yang dialiri oleh beberapa Sungai yang dikenal dengan sebutan ’tukad’, Denpasar menjadi area yang rentan ketika menghadapi curah hujan yang tak menentu. Belakangan, hal ini menjadi sangat ramai dipebincangkan, beberapa tukad yang mengaliri kota Denpasar kompak untuk memuntahkan diri mereka ke jalan-jalan besar hingga mengubah beberapa lokasi menjadi danau dadakan.

Pertunjukan Tubuh Kota yang Berlari | Sumber : Instagram @insanity_ads

Kita lalu seakan disentil tentang bagaimana buruknya pemerintah dalam  menata insfratuktur air yang ada di kota ini, pun didukung dengan sampah plastik saling bermuara di hulu sungai-sungai yang merupakan ulah dari masyarakat juga. Visual Mapping pada karya ini juga menjadi poin penting, dimana bayangan air yang diproyeksikan melalui alat yang dikendalikan oleh Ketut Sedana, dan Darklab Visual Art pun berhasil menghadirkan dimensi visual yang begitu kuat, seperti mengingatkan kembali akan bencana yang begitu nyata.

Konflik memuncak di tengah-tengah bagian pertunjukan; menampilkan ritme musik, dan proyeksi tentang Denpasar sebagai medan pertarungan sumber daya. Hal tersebut terepresentasikan dengan sangat baik melalui adegan saling tarik menarik antara aktor yang melilitkan kain selendang  ke tubuh Reni sebagai perlambang Kota Denpasar yang dipaksa untuk terus bergerak, walau dengan insfratuktur yang compang camping. Tanah disekitar Reni yang semula tertata dengan taburan bunga, kemudian tiba-tiba porak poranda akibat ulah tarik-menarik kepentingan. Reni Tersungkur, menyiratkan tentang Denpasar yang kian hari, kian menemui titik jenuh pada semerawutnya tata kelola lahan, air dan insfratuktur.

Namun dibagian akhir, botol-botol berisi air yang telah berserakan kemudian perlahan mulai ditata ulang, menggambarkan bagaimana selalu ada secercah harapan untuk Denpasar dapat berbenah walau harus merangkak secara perlahan. Hal tersebut tercermin dari beberapa penonton yang diajak oleh aktor untuk ikut menyusun kembali botol-botol dan menghiasnya dengan bunga, memberi isyarat bahwa membenahi kota Denpasar bukanlah kewajiban satu atau dua orang, namun menjadi tanggung jawab semua lapisan masyarakat terutama anak muda yang berani melihat tanahnya dengan lebih kritis.

Pada akhirnya, setelah menikmati rentetan bagian pertunjukan yang intens, penulis kemudian melihat  pertunjukan ini sebagai secuil gambaran tentang bagaimana Denpasar selalu menyimpan ruang untuk bertumbuh, dan pertumbuhan itu, cepat atau lambat akan selalu bergantung pada bagaimana kita sebagai generasi muda—mengubah cara pandang kita dalam melihat kota kita : kemarin, kini, dan Nanti.

Sebab sebuah kota, sebagaimana tubuh manusia, hanya dapat terus hidup bila ada yang bersedia merawat ingatan, menjaga napasnya, dan mendengarkan detak yang selama ini berusaha ia sampaikan. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarPenerbit Partikularseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan sebagai Audit Moral Pemimpin: Dari Mayadenawa ke Masa Kini

Next Post

Jung & Pauli: Sebuah Pertemuan Indah

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Jung & Pauli: Sebuah Pertemuan Indah

Jung & Pauli: Sebuah Pertemuan Indah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co