12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan sebagai Audit Moral Pemimpin: Dari Mayadenawa ke Masa Kini

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
November 23, 2025
in Esai
Galungan sebagai Audit Moral Pemimpin: Dari Mayadenawa ke Masa Kini

Raka Prama Putra

HARI raya Galungan jatuh setiap Wuku Dungulan dalam kalender Bali. Dalam kalender Jawa, penanggalan wuku ke-11 dikenal sebagai Wuku Galungan, sedangkan dalam kalender Bali disebut Wuku Dungulan. Meskipun penamaannya berbeda, keduanya merujuk pada makna yang sama, yakni kemenangan.

Galungan selalu datang dengan suasana terang—penjor yang menjulang, wangi dupa dan harumnya canang. Namun di balik kemeriahan ritus itu, Galungan sesungguhnya menyimpan sebuah ruang hening: ruang untuk menguji diri, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya pemimpin.

Keragaman Tradisi Galungan

Belakangan ini, Galungan kerap dirayakan dengan cara yang seragam—seolah seluruh Bali sejak dulu merayakannya dalam satu warna, satu ritus, satu keyakinan. Padahal Galungan adalah loka dresta—tradisi yang hidup secara lokal, tumbuh dari pengalaman desa, dari ingatan para leluhur, dan dari cara suatu komunitas memahami dunia.

Hingga hari ini, kita masih menemukan desa-desa yang merayakan Galungan tanpa penjor sebagai tradisi asli mereka, terutama di banyak wilayah Buleleng dan beberapa desa pegunungan di Kintamani. Ada pula masyarakat yang memasang penjor hanya saat Galungan nadi—ketika Galungan bertepatan dengan Purnama.

Begitu pula dengan tradisi ngelawang. Meski tradisi ini sangat identik dengan perayaan Galungan dan Kuningan, praktiknya tidak seragam di seluruh Bali. Wilayah Bali selatan seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar dikenal sangat akrab dengan tradisi ngelawang. Sementara di banyak desa di bagian Bali lainnya tidak mengenal tradisi ngelawang selama perayaan Galungan dan Kuningan.

Fakta-fakta ini mengingatkan kita bahwa tradisi tidak pernah tunggal. Tradisi adalah percakapan panjang antara manusia, alam, dan waktu. Ironisnya, dalam dekade terakhir, banyak penjelasan tentang tradisi Bali justru digiring menuju keseragaman. Padahal Bali tumbuh dari sesuatu yang paling manusiawi: keragaman pengalaman.

Jika ditelisik lebih mendalam dalam lapisan rohani Bali, rerahinan Galungan sesungguhnya adalah laku spiritual Sang Prabu—mereka yang memikul kepemimpinan. Maka bukan kebetulan bila ritus ini sarat pesan tentang bagaimana seseorang mengelola dirinya, sebelum mengelola orang lain atau masyarakat.

Kisah Mayadenawa

Perayaan Galungan di Bali memiliki dasar kuat dalam sebuah kisah epik kuno tentang pertempuran sengit antara Mayadenawa, raja yang kejam dan sewenang-wenang, dengan Bhatara Indra, penguasa para dewa. Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan sebuah narasi etis yang menggarisbawahi bagaimana kekuasaan dapat berubah menjadi bencana ketika kehilangan kendali diri.

Diceritakan bahwa Mayadenawa adalah raja yang sangat sakti, namun kesaktiannya justru melahirkan kesombongan dan keangkuhan. Bahkan, Mayadenawa melarang rakyatnya menyembah Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) serta merusak tempat suci. Rakyat Bali hidup dalam kesedihan dan penderitaan di bawah pemerintahan zalimnya.

Seorang pendeta suci bernama Sangkul Putih, melihat kondisi ini, melakukan yoga semadhi di Pura Besakih guna memohon petunjuk. Ia mendapat petunjuk agar meminta pertolongan ke surga. Doanya didengar, dan bantuan datang berupa pasukan para dewa yang dipimpin oleh Bhatara Indra.

Peperangan sengit pun terjadi. Pasukan Bhatara Indra awalnya unggul, membuat Mayadenawa melarikan diri. Saat malam tiba, Mayadenawa menggunakan kelicikannya dengan menciptakan mata air beracun di dekat perkemahan pasukan Bhatara Indra.

Keesokan paginya, banyak pasukan dewa yang jatuh sakit setelah meminum air tersebut. Untuk mengatasi hal ini, Bhatara Indra menciptakan mata air suci baru yang kini dikenal sebagai Tirta Empul, yang berhasil menyembuhkan semua pasukannya.

Pasukan Bhatara Indra melanjutkan pengejaran. Mayadenawa terus berusaha kabur dan bersembunyi dengan mengubah wujudnya menjadi berbagai bentuk, seperti ayam, buah timbul, janur, sarang burung, bidadari, dan terakhir menjadi batu padas.

Namun, Bhatara Indra tidak bisa ditipu. Ia memanah batu padas tersebut hingga menewaskan Mayadenawa dan patihnya, Si Kala Wong. Dan kemenangan Bhatara Indra atas Mayadenawa inilah yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal perayaan Galungan.

Sri Aji Jayakasunu

Dalam lontar lainnya diceritakan bahwa perayaan Galungan di Bali sempat menghilang selama beberapa generasi. Selama masa itu, raja-raja berumur pendek, berbagai penyakit merebak, bencana alam tak kunjung berhenti, kekacauan politik terjadi di mana-mana, dan keresahan sosial seolah tak berujung.

Situasi ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sri Aji Jayakasunu. Melihat kondisi tersebut, Jayakasunu melakukan tapa brata di Pura Dalem Puri untuk memohon petunjuk. Dalam keheningan meditasinya, ia menerima pawisik dari Bhatari Durga, bahwa malapetaka terjadi karena ritus Galungan telah ditinggalkan, menyebabkan keseimbangan kosmis terganggu.

Atas petunjuk itu, Sri Aji Jayakasunu mengeluarkan maklumat kerajaan yang memerintahkan seluruh rakyat kembali merayakan Galungan, menjadikannya tradisi yang berlanjut hingga kini.

Sang Kala Tiga Wisesa

Lontar menuliskan bahwa pada Wuku Dungulan atau menjelang Galungan, akan turun Sang Kala Tiga Wisesa. Istilah ini berarti tiga makhluk atau bhuta yang mewakili keburukan, godaan, dan sifat negatif, yaitu Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amangkurat. Wisesa sendiri berarti penguasa utama atau kekuasaan tertinggi. Istilah ini juga dapat merujuk pada pemerintah atau pemimpin.

Sang Kala Tiga sesungguhnya bukan makhluk luar, melainkan bagian paling rapuh dalam diri kita, terutama dalam diri seorang pemimpin. Menariknya lagi, bahwa tiga istilah utama dalam ritus Galungan adalah sebuah gugus makna yang membentuk etika.

Bhuta Galungan melambangkan kesombongan—ekses dari kemenangan. Ini adalah godaan pertama ketika seseorang, terutama seorang pemimpin, mulai merasa bahwa suaranya adalah satu-satunya kebenaran. Karena itu, sifat ini harus dilawan sebagai bagian dari perjuangan menaklukkan kejahatan dalam diri.

Bhuta Dungulan melambangkan keserakahan—lahir dari efek domino dari kemenangan. Ini adalah godaan untuk memanfaatkan jabatan, mengabaikan tanggung jawab, dan membiarkan integritas terkikis. Kemenangan sejati bagi seorang pemimpin hanya tercapai ketika ia mampu menaklukkan hawa nafsunya sendiri, bukan menang atas orang lain.

Bhuta Amangkurat melambangkan mabuk kekuasaan—godaan yang muncul ketika kekuasaan terasa terlalu nyaman, terlalu memabukkan. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh lalai hingga lupa diri. Dengan kesadaran ini, seorang pemimpin harus benar-benar hadir sebagai pemangku dunia: ia yang menjaga dan mengayomi.

Sang Kala Tiga Wisesa adalah pengingat bahwa ancaman terbesar bagi kepemimpinan tidak datang dari luar—bukan dari oposisi, bukan pula dari kritik publik—melainkan dari dalam diri. Seolah para leluhur ingin menegaskan: “Tak ada kepemimpinan tanpa peperangan batin. Tak ada kemenangan tanpa kerendahan hati. Dan tak ada ketenteraman tanpa kemampuan mengayomi.”

Galungan sebagai Audit Moral

Jika dibaca dengan pelan, Galungan sesungguhnya tidak meminta kita merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan) yang abstrak. Ia justru mengajak kita—terutama para pemimpin—bertanya: “Sudahkah aku memimpin dengan kesadaran, atau hanya dengan hasrat untuk berkuasa?”

Bagi seorang pemimpin, Galungan bukan sekadar hari besar; ia adalah ruang ujian. Sebuah audit moral tahunan tentang bagaimana ia mengelola kuasa, menjaga batinnya, dan mengupayakan kemenangan sebagai seorang pemimpin dengan menegakkan Dharma.

Sebab mustahil menata dunia jika diri sendiri masih kacau. Mustahil memelihara rakyat jika pikiran sendiri penuh ketamakan. Dan mustahil mengayomi jika pelayanan sudah ditukar dengan kenyamanan jabatan.

Dewasa ini adalah zaman dengan begitu banyak retakan—sosial, ekologis, dan moral. Kerusakan lingkungan yang tak kunjung terhenti, konflik sosial, ketimpangan ekonomi, serta krisis integritas terus bermunculan ke permukaan.

Dalam situasi seperti ini, Galungan menjadi sebuah momentum yang mengajak para pemimpin menengok ke dalam diri:

  • Bahwa memimpin bukan soal wibawa, melainkan soal memahami batasan diri.
  • Bahwa kekuasaan bukan sekadar memerintah, tapi bagaimana menjaga keharmonisan.
  • Bahwa kemenangan sejati adalah pengendalian diri atas bisikan-bisikan yang setiap hari menguji moral.

Galungan, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan. Ia adalah sebuah cermin yang menyodorkan bayangan diri kita—terutama para pemimpin—dalam wujud yang paling jujur, lalu bertanya pelan: “Sudahkah aku menaklukkan diriku hari ini?” Kisah Mayadenawa sebagai mitologi Galungan bukan sekadar cerita kemenangan para dewa atas seorang raja lalim. Sesungguhnya ia adalah peringatan bahwa kekuasaan tanpa kendali diri pada akhirnya akan melahirkan kehancuran. Dari kesadaran itulah kemenangan masyarakat, negara, dan bangsa ini sesungguhnya mulai berakar. [T]

Penulis: Raka Prama Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Bright Eyes’: Antara Matahari Senja dan Datangnya Kematian

Next Post

Denpasar : Tubuh Kota yang ‘Dipaksa’  Berlari

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Denpasar : Tubuh Kota yang ‘Dipaksa’  Berlari

Denpasar : Tubuh Kota yang ‘Dipaksa’  Berlari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co