14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Kejayaan Drama Gong Jinengdalem yang Kini Terlupakan

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
November 21, 2025
in Khas
Cerita Kejayaan Drama Gong Jinengdalem yang Kini Terlupakan

Cerita Kejayaan Drama Gong Jinengdalem yang Kini Terlupakan

TIDAK banyak yang tahu, Desa Jinengdalem di Buleleng, pernah menjadi tempat lahirnya sebuah drama gong yang menjadi primadona pada zamannya. Namanya Drama Gong Alapsari.

Drama ini muncul pada tahun 1966 sempat menjadi pembicraaan di mana-mana, sampai akhirnya hilang ditelan zaman. Kisah lahirnya dimulai ketika seorang penglingsir bernama Wayan Kota punya keinginan untuk mempertunjukkan drama berbahasa Bali. Ia kemduian mengumpulkan pemuda desa untuk berlatih.

Drama gong pun terbentuk, dan langsung menarik perhatian warga. Saat itu, hiburan sederhana seperti televisi atau film layar tancap belum ada sehingga drama gong menjadi satu-satunya hiburan masyarakat.

Nengah Astawa, Wakil Kelian Adat Alapsari | Foto: Puja

Saat itu Drama Gong Alapsari sempat terkenal dengan kisah klasik, Sri Tanjung. Kisahnya memang bikin penonton saat itu dilanda haru-biru.  

Cerita bermula di Kerajaan Sinduraja yang dipimpin oleh Anak Agung Silakrama. Kerajaan itu mengalami wabah penyakit, sehingga banyak warga jatuh sakit. Raja meminta bantuan Sidapaksa untuk menemui seorang pendeta Brahmana di hutan Tamba Petra.

Sidapaksa pergi ke hutan dan bertemu pendeta Tamba Petra, yang menyuruh membuat sesajen di desanya. Secara tidak sengaja, pendeta itu juga mengajak Sri Tanjung, putri Sahadewa dari Pandawa. Sidapaksa, putra Nakula, menyadari bahwa mereka berdua ternyata sepupu. Pertemuan itu membuat mereka jatuh cinta.

Setelah itu, Sri Tanjung dibawa ke puri oleh Sidapaksa. Di puri, Sidapaksa menyampaikan amanat pendeta agar dibuatkan sesajen, yang mungkin belum lengkap sehingga wabah terjadi. Di tengah situasi itu, Anak Agung Silakrama juga jatuh cinta kepada Sri Tanjung.

Anak Agung Silakrama kemudian membuat akal licik untuk memisahkan Sidapaksa dan Sri Tanjung. Sidapaksa disuruh ke surga membawa surat untuk Dewa Indra. Surat itu memerintahkan agar Sidapaksa dibunuh. Sidapaksa yang polos menuruti perintah tanpa membaca isi surat.

Di surga, Sidapaksa disiksa di Tegal Penangsaran, tempat yang namanya berasal dari kata “sangsara”. Meski disiksa berhari-hari, Sidapaksa tetap hidup.

“Saat itu Sidapaksa disiksa, tapi kok ndak mati-mati Sidapaksa,” kata Astawa mengutip dialog dalam cerita itu.

Karena keheranan itu, Bhatara Indra membaca ulang suratnya dan sadar bahwa Sidapaksa tak bersalah. Ia pun dikembalikan ke dunia.

Sementara Sidapaksa berada di surga, Sri Tanjung dirayu Silakrama. Ia menolak setiap kali dipaksa. Raja bahkan mencoba memeluk dan hendak memperkosanya. Sidapaksa yang termakan fitnah mengira istrinya berselingkuh.

Dalam pementasan, adegan Sri Tanjung menatap Sidapaksa sambil berkata lirih selalu diingat Astawa.

”Kalau darahku busuk, aku berdosa. Tapi jika harum, berarti aku jujur,” kata Astawa mengutip dialog Sri Tanjung.

Dan begitu darah itu menyentuh tanah, semerbak wangi memenuhi udara. Saat itu muncul Rangda, utusan Dewi Durga, yang menghidupkan Sri Tanjung kembali.

Sidapaksa menyesal dan meminta ampun. Tapi Sri Tanjung menolak sebelum satu syarat terpenuhi, yaitu membunuh Anak Agung Silakrama dan membawa penggalan kepalanya ke hadapan Sri Tanjung.

“Terjadilah perang. Silakrama kalah, dan kepalanya dibawa sebagai penebus dosa,” tutur Astawa.

Gong Angklung yang digunakan saat pentas Drama Gong | Foto: Dedi

Skenario drama itu diadaptasi dari Pupuh Adri, karangan lama berbentuk sekar alit. Lirik-liriknya diterjemahkan menjadi adegan panggung. “Jadi ini bukan cerita baru, tapi sudah lama,” ucap Astawa.

Egar manah ira ni sri tanjung
Duk teka lakine
Sira mangkin nambut sang laki
Ki sidapaksa handulu
Paliate mrengat-mrengut
Sinambut tang sangku mangke
Tinimpalan ken ring batur
Ni sri tanjung tan pangucap
Kemengan tan wruh ring dosa

Artinya:

Gembira pikiran Ni Sri Tanjung
Saat datang suaminya
Dia menyambut sang laki
Ki Sidapaksa melihat
Pandangannya cemberut
Diambil sangku itu sekarang
Dibanting di atas batu
Ni sri tanjung tertegun
Kebingungan tidak tahu dengan kesalahan

Kehebatan dan Popularitas Drama Gong

Kala itu drama gong Jinengdalem belum memiliki gong kebyar, pementasan hanya diiringi gong angklung. Dari pentas ke pentas, hasilnya tak pernah dibagi pada anggota sekaa. Semuanya masuk kas bersama hingga akhirnya mereka mampu membeli gong gede.

Kini, gong angklung dengan perunggu asli dibeli oleh Desa Jinengdalem seharga Rp70 juta. Nilainya dibagi merata kepada 70 pemain yang terdaftar, sehingga masing-masing pemain menerima Rp1 juta.

“Betul-betul ngayah orang jaman dulu,” katanya bangga. Bahkan sebagian hasil pentas disumbangkan untuk pembangunan SDN 2 Jinengdalem.

Panggung drama digelar dengan tenda gulung yang digambar tangan oleh Jro Dalang Diah dari Nagasepeha. Ukurannya 5×5 meter. Nengah Astawa, Wakil Kelian Adat Dusun Alapsari, yang sejak kelas 6 SD hobi menonton drama gong ini, masih mengingat detailnya.

“Yang saya ingat itu ada latar hutan, di taman, goa, dan puri,” katanya.

Mereka juga menggunakan strongking (lampu pompa) yang dilapisi kertas minyak layangan berwarna merah.

“Kalau adegan raksasa, sinarnya merah. Giliran adegan Sri Tanjung, sinarnya cerah berbinar,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Pada masa itu belum ada televisi, juga belum ada film layar tancap, sehingga drama gong menjadi satu-satunya hiburan masyarakat. Tak heran jika pementasan mereka sampai ke dura desa (luar desa) dan selalu dinanti masyarakat.

“Drama gong menjadi satu-satunya hiburan warga. Sangat metaksu dan populer,” kenang Astawa.

Pemain yang dikenang

Pemain legendaris menjadi kekuatan drama gong Alapsari. Wayan Lenes memerankan Sidapaksa, Wayan Asri sebagai Sri Tanjung, Wayan Toya menjadi Anak Agung Silakrama, sementara Wayan Dasi dan Ketut Sukanegara berperan sebagai pepatih, dan Wayan Neca serta Ketut Suita sebagai penasar.

Ketut Suka Negara, pemeran pepatih Anak Agung Silakrama dalam Drama Gong Alapsari | Foto: Puja

Ketut Sukanegara, pemeran pepatih Anak Agung Silakrama, kini berusia 78 tahun, mengungkapkan pementasan drama gong bahkan menginspirasi desa-desa lain. Drama Gong Tamblang dengan cerita Jaya Prana lan Layonsari, Drama Gong Puspa Anom Banyuning dengan Sampik Intai, dan Drama Gong Penarungan dengan Mental-Mentul. Ada juga Drama Gong Sangalangit dengan Gobang lan Lengser.

“Setelah Jinengdalem, drama gong mulai menjalar ke desa lain,” ungkapnya.

Sebelum drama gong muncul, desa ini juga punya drama nasional berbahasa Indonesia bertajuk Mustika dari Jemar yang dimainkan oleh pelakon asli Jinengdalem dengan iringan gitar dan drum.

Redupnya Panggung dan Tantangan Regenerasi

Namun tahun 1972, semuanya surut. Regenerasi tersendat. Ketut Suka menjelaskan, mencari sekaa gong pada masa sekarang semakin sulit. Banyak warga merasa kegiatan ini tidak lagi menguntungkan.

“Orang-orang masih berpendapat rugi, sing maan ape,” ujarnya.

Perubahan orientasi membuat masyarakat enggan terlibat dalam kesenian. Berbeda dengan dulu, kesenian digelar murni atas semangat ngayah, tanpa memikirkan keuntungan.

“Sekarang orang berpikir, apa yang akan mereka dapatkan? Apakah ekonominya menjanjikan?” imbuhnya.

Wayan Dasi, pemeran Pepatih Sidapaksa dalam Drama Gong Alapsari | Foto: Puja

Wayan Dasi, pemeran pepatih Sidapkasa yang kini berusia 80 tahun, para pemain lama telah sibuk dengan urusan masing-masing. Banyak pelakon legendaris telah meninggal.

“Arja mulai jarang, wayang masih hidup karena upacara. Anak-anak sekarang kelebihan waktunya di HP. Dulu kan biasa mesatua sebelum tidur, dengar kisah Prabu Nala dan Damayanti, Sri Tanjung dan Sidapaksa,” ucapnya pelan.

Kini jejak Drama Gong Jinengdalem makin dilupakan dan panggung yang dulu dipenuhi tawa itu mulai redup, hanya kenangan penglingsir yang masih tersisa. Akankah generasi muda menoleh dan menghidupkan drama gong? Atau biarkan begitu saja kisah Sri Tanjung dan Sidapaksa tenggelam pelan-pelan? Siapa yang tahu. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengDesa Jinengdalemdrama gongdrama gong lawasseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

Next Post

“The Man Behind the Gun” dalam KUHAP Baru

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
“The Man Behind the Gun” dalam KUHAP Baru

“The Man Behind the Gun” dalam KUHAP Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co