Di salah satu sudut taman Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Padang, Sumatera Barat, Minggu sore, terasa sedikit berbeda. Di antara riuh anak-anak yang bermain dan aroma jajanan kaki lima di sekitar taman, sekelompok anak muda duduk melingkar. Mereka tidak sibuk dengan handphone, bukan pula serius dengan rapat organisasi. Mereka membaca dalam diam, dilanjutkan dengan diskusi mengenai buku yang mereka baca.
“Sekarang giliran siapa yang mau ceritakan buku yang baru dibacanya?” tanya pemandu acara dengan nada ceria.
Satu per satu mereka bergantian menceritakan buku yang telah mereka baca sambil berdiskusi satu sama lain. Begitulah suasana mereka sedang berpesta buku, mereka menyebut kumpulan anak muda tersebut Padang Book Party.

Komunitas ini lahir dari semangat yang mengalir untuk membaca buku dan membangun pilar literasi di Padang. “Komunitas Padang Book Party tidak mengenal founder atau struktur organisasi formal, kami memiliki figur penggerak utama terbentuknya Padang Book Party.
Pada saat tahun 2023 figur penggerak utama kami Bang Afwan, Bang Doni dan Bang Erlang mengajukan ke Indonesia Book Party untuk membuka cabang regional di kota Padang,” kata Firlia Prames Widari salah satu volunteer Padang Book Party dan admin media sosial Padang Book Party.
Firlia menjelaskan bahwa Padang Book Party merupakan bagian dari komunitas besar Indonesia Book Party yang terdiri dari beberapa daerah di Indonesia. Siapa saja bisa bergabung untuk membaca bersama dan mendengarkan diskusi buku. Kegiatan rutin dilaksanakan setiap Minggu, mulai pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada keharusan membawa buku baru. Bahkan jika ingin duduk diam mendengar cerita buku orang lain pun, mereka diterima dengan hangat.

Komunitas Padang Book Party ini memiliki konsep yang unik. Acara dimulai dengan pemanduyang bertugas memandu acara, dilanjutkan dengan perkenalan diri, karena setiap minggunya selalu ada pengunjung baru yang datang untuk sekadar membaca bersama. Setelah itu, acara berlanjut ke sesi utama dengan mulai membaca menggunakan sistem silent reading selama lima belas menit, setelah itu dilanjutkan dengan sharing session mengenai buku yang sudah kita baca.
Pada tahap ini peserta bisa menceritakan karakter dalam buku, mengkritisi pemikiran dalam buku tersebut, atau memberi ulasan terhadap buku yang sudah kita baca bersama teman-teman. Komunitas ini memberikan ruang bagi orang-orang untuk didengar dan bertukar pikiran, bukan sekadar membaca saja.
Sebagian besar anggota Padang Book Party merupakan mahasiswa akhir dan pekerja. Mereka datang dengan waktu terbatas, banyak yang berminat ikut tapi karena jadwal bekerja berhalang hadir. Karena itu, kegiatan di luar pertemuan rutin belum banyak terealisasi. “Banyak ide sebenarnya, sudah ada rancangan-rancangan kegiatan, tapi belum bisa dijalankan karena masalah waktu luang volunteer.
Kami tetap terbuka kalau ada pihak lain yang mau membantu dan berkolaborasi” kata Firlia. Meski begitu Padang Book Party sempat menjalin kerja sama dengan Gramedia yang menyumbangkan buku-buku untuk lapak baca. Mereka juga pernah diundang ke RRI dalam program “Pojok Komunitas”, dan akan tampil di podcast Fakultas Ilmu Pendidikan UNP.
Padang Book Party memberikan ruang untuk menjaga ide-ide tidak mati. “Sekarang ini kita sering dengar ide-ide berbeda mulai dibungkam. Kami ingin buku tetap jadi ruang bebas untuk berpikir dan berdiskusi. Kami ingin menunjukkan bahwa tamat sekolah bukan berarti tamat membaca,” ungkap Firlia. Firlia berharap Padang Book Party akan selalu ada, karena bagi mereka komunitas ini bukan sekadar tempat untuk membaca, melainkan ruang untuk memahami dan membaca kehidupan itu sendiri. [T]
Penulis: Gita Puspita Sari
Editor: Adnyana Ole





























