ANGGA Wijaya—yang saya tahu—adalah seorang penulis produktif. Banyak bukunya telah diterbitkan. Sebagai sahabatnya, saya bangga. Dalam berbagai kesempatan, kami sering bercakap-cakap tentang sejumlah hal, kebanyakan bertopik sastra dan buku.
Suatu hari ia mengabarkan akan menerbitkan buku lagi. Ia kabarkan itu di Facebook. Saya membacanya. Hanya tak menyangka saja bahwa ia meminta saya memberi kata pengantar. Ia meminta itu lewat WhatsApp. Zonder beranjang kalam, saya menyanggupinya. Saya pun meminta naskah bukunya. Ia memberi judul calon buku barunya yang akan terbit itu Kuda Putih di Bali: Kumpulan Artikel Seni.
Buku Kuda Putih di Bali ini tak begitu rumit untuk dibaca. Seni—apalagi dengan cap kontemporer—sering kali terasa “mengerikan” untuk didekati. Tetapi pada buku ini, Angga menawarkan pembacanya untuk “masuk ke dunia seni” dengan rileks. Itu karena Angga sendiri sudah begitu pandai menyederhanakan penyampaiannya tentang topik seni maupun tentang seniman yang ia kupas. Saya sering membaca artikelnya di Facebook. Dan saya menilai Angga sudah sanggup menyederhanakan hal-hal rumit menjadi begitu sahaja tanpa kehilangan substansinya.
Bali kaya akan seni. Sebutkan saja salah satu jenis seni, Bali akan memperlihatkannya. Karena Bali memiliki semuanya. Dari sejarah seni hingga perkembangan paling mutakhir, ada di Bali, terjadi di Bali. Inilah lautan bahan penulis seni jika hendak menulis tentang kesenian Bali. dan Angga “menjaringnya” seklumit dari “lautan luas” kesenian di Bali yang ia himpun dalam Kuda Putih di Bali.
Artikel-artikel dalam buku ini nampaknya ditulis dengan berkecenderungan teknik jurnalistik, istimewa dalam penulisan profil. Ini bisa dimengerti. Dasar lain dari kemampuan Angga adalah di bidang jurnalistik selain sebagai penulis puisi. Tulisan profil adalah hal lazim dalam jurnalistik. Dan Angga sangat mahir dalam perkara itu.
Tak mudah menulis artikel profil. Sering kali sang pewarta luput merumuskan dengan baik ungkapan-ungkapan profil yang diwawancara. Apalagi profil seniman yang tak jarang gagap merumuskan pemikirannya. Pewarta yang baik sangat peka menangkap yang dimaksud orang yang diwawancarainya. Ia mengerti apa yang dimaksud si profil dan membangunnya kembali dalam kalimat yang baik, tanpa menggeser substansi yang diucapkan seseorang yang diwawancarainya.

Angga nampaknya cukup sanggup menangkap dan menyajikan ucapan lawan bicaranya, menyajikannya kemudian dalam artikel yang mudah dipahami pembaca. Memang tak bisa dihindari, pewarta yang mewawancarai seseorang yang memiliki keahlian tertentu, misalnya seniman, sebaiknya memang si pewarta juga memahami secukupnya tentang khasanah kesenian.
Dari cara penyajian penulisan profil seniman, kita tak meragukan kemampuan Angga dalam hal itu. Artikelnya tentang perupa Made Kaek, Dian Dewi, perkenalannya dengan Umbu Landu Paranggi dan sejumlah seniman yang lain meyakinkan kita betapa ia mahir menulis artikel profil. Ada beberapa analisis ringan juga yang ia lakukan, misalnya mengupas puisi Tan Lioe Ie, atau menutur tentang dirinya bertalian dengan Umbu, mengupas sebuah novel Wayan Udiana atau dikenal dengan nama Nanoq Da Kansas.
Apapun itu, kita para pembaca “berutang informasi” kepada Angga. Betapa tidak! Melalui bukunya ini, kita akhirnya memahami isi “akal dan hati” para seniman di Bali . Dengan piawai Angga merangkum dan menuturkan kembali segala pandang dan sentimental rohani para seniman yang bertalian dengan kehidupan dan kesenian para seniman di Bali.
Mereka—para seniman yang diwawancarai Angga—dengan jelas, tegas dan bernas berungkap tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang kerja kreatifnya, tentang kesetiaannya kepada bakat dan pilihan keseniannya. Dalam buku ini, mereka semua telah membuka dirinya, membuka akal dan hatinya.
Bagi saya, seni itu akal dan hati. Seni menjangkau akal ketika ia berada di ranah wacana; seni merasuk ke hati ketika ia berada pada tingkat resepsi, suatu dialog estetik antara karya dan khalayak. Resepsi audiens—dalam konteks sastra—ini pernah diangkat dalam suatu kajian ilmiah di bidang sastra oleh Umar Junus yang kemudian hasilnya dibukukan berjudul Resepsi Sastra.
Tak bisa lain, seni terwujud dari pergumulan akal dan hati. Barangkali awalnya seni hanyalah “wujud keisengan di waktu luang” sebagaimana sejarah purba seni bermula. Namun dalam “wujud keisengan di waktu luang” itu tetap saja keseluruhan eksistensi manusia terjaga, yang mana seluruh energi (eksistensi) itu menyublim kepada apa yang mau diwujudkan.
Seni yang semula berada pada ranah hati (sebagaimana keindahan adalah urusan hati), lambat-laun makin memberi tempat pada akal, terutama ketika seni kontemporer makin menjadi-jadi memberi keluasan ruang kepada “seni laboratorium”, suatu ekspresi yang begitu berani melakukan ketakterdugaan, tak lagi cemas pada perangai try and error. Eksperimental, keberanian untuk melakukan eksplorasi tiada batas, pada akhirnya memang mengedepankan akal.
Namun seluas akal diberi ruang, ia tak bisa lepas dari rasa, dari hati, dari watak purba seni; ialah keindahan! Sedahsyat apapun pencapaian seni (terutama pada seni rupa, musik, teater untuk menyebut beberapa), ia tetap akan berujung pada keindahan. Karena seni kontemporer bukanlah seni akal-akalan; seni kontemporer ialah keagungan estetik mutakhir yang bisa dicapai oleh senimannya.
Selama ini, barangkali segelintir publik penikmat seni belum bisa “masuk” ke dalam artistik para seniman mungkin karena, misalnya, lukisan abstrak seorang pelukis abstrak demkian “pekat” dan padat oleh tumpukan cat warna-warni denga garis besar (brush stroke); barangkali juga belum bisa sepenuhnya mengapresiasi puisi Umbu Landu Paranggi; atau mulai memahami mengapa profesi kurasi belum begitu “kental” di Bali.
Dalam buku ini, Angga “mengantar” kita kepada akal dan hati para seniman melalui artikelnya yang lebih banyak berjenis tulisan profil. Sebetulnya dengan jenis tulisan semacam ini memudahkan pembaca memahami sedikit banyaknya tentang si seniman dan barangkali hal itu menjadi semacam “pintu masuk” bagi awam yang mulai mencoba memahami kesenian sang seniman.
Karena pada artikel-artikel berupa tulisan profil dalam buku ini, Angga memberi ruang luas kepada si seniman untuk berungkap lebih banyak, baik tentang kerja kreatifnya, pengalamannya, cara pandang si seniman tentang sesuatu yang bertalian dengan hidup dan keseniannya. Dengan begitu, setidaknya pembaca mendapat sedikit banyaknya tentang “kejujuran” seniman dan itu baik buat pembaca untuk memulai mengapresiasi atau memasuki dunia kreatif sang seniman.
Nampak ada kebebasan cara Angga menulis artikel. Kita tak akan menjumpai artikel-artikel dalam buku ini seserius tulisan opini di koran-koran arus utama. Di tengah artikel yang ia tulis bisa nyelonong catatan wawancara “tanya-jawab”dengan narasumber, misalnya. Pembaca tak perlu mengernyit dahi untuk menikmati setiap artikel dalam buku ini.
Jika Angga berkecenderungan menulis profil-profil seniman di Bali, maka barangkali ia akan kewalahan menulis profil karena bahan untuk itu tersedia amat banyak Di Bali. Tak kurang pula seniman-seniman Bali yang hebat yang sangat pantas dikulik kesenian dan kesenimannya.
BUKU Kuda Putih di Bali adalah sekelumit buku tentang seniman di Bali yang pernah diwawancarai Angga. Ini cukup memadai untuk sekadar memahami sejumlah seniman yang berkiprah selama ini. Lebih banyak memuat tulisan profil adalah baik karena seperti yang saya ungkapkan tadi.
Andai buku ini sedikit lebih bersabar untuk diterbitkan sementara Angga terus menulis tentang dunia kesenian di Bali; menulis juga semacam “laporan pandangan mata” tentang suatu peristiwa kesenian; menginvestigasi potensi-potensi kesenian suatu daerah; kemudian lebih banyak menulis profil-profil seniman hebat Bali; maka saya membayangkan betapa tebalnya buku ini dan betapa lebih punya arti sebagai suatu catatan penting perjalanan kesenian di Bali.
Tapi apapun, saya sangat mengapresiasi kegigihan seorang Angga dalam menerbitkan catatan-catatan opini dan reportasenya tentang berbagai ikhwal ke dalam buku cetak, mendistribusikannya kepada sejumlah sahabatnya atau kepada mereka yang berminat kepada bukunya.
Akhir kata, saya menutup kupasan sahaja ini dengan mengutip pepatah Latin scripta manent “yang tertulis akan tetap ada”. Tetapi jangan lupa pepatah Latin yang lain, Habent sua fata lebelli “buku-buku memiliki nasibnya sendiri”. Begitulah, buku-buku—dalam perjalanannya—bisa abadi, bisa mati sendiri! [T]
Penulis: I Wayan Suardika
Editor: Adnyana Ole



























