27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dr. Nyoman Suardina dan Elegi Seekor Domba

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 31, 2025
in Persona
Dr. Nyoman Suardina dan Elegi Seekor Domba

Dr. I Nyoman Suardina di samping karya “The Sheep and the Last Stump” yang dipamerkan dalam B-Game 2025, ARMA Ubud, Bali (Foto: dok. pribadi)

DI ruang pamer Bale Daja Agung Rai Museum of Art, seorang lelaki berbatik hitam berdiri di samping karya yang tampak sederhana namun menyimpan gugatan mendalam terhadap nurani manusia. Di dekatnya, seekor domba dari tanah liat menatap kosong. Tubuhnya terpahat dari terracotta tua, berdiri di atas tunggul. Karya itu berjudul The Sheep and the Last Stump, dan lelaki itu adalah Dr. I Nyoman Suardina, akademisi sekaligus perupa dari Institut Seni Indonesia Bali.

Ia tidak sedang memamerkan benda mati. Ia sedang memperlihatkan kesedihan. “Domba itu bukan sekadar hewan. Ia adalah kita, manusia yang kehilangan prinsip di tengah hutan yang kita tebang sendiri,” katanya pelan dalam percakapan selepas pembukaan pameran B-Game 2025 di Ubud.

Bali-Global Art Map Exhibition (B-Game) adalah bagian dari program B-GAAD II (Bali-Global Axis of Arts and Design) yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Pameran ini berlangsung 26 hingga 31 Oktober 2025, dengan lokasi utama di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, serta beberapa titik kegiatan lainnya di Kampus ISI Denpasar dan galeri rekanan seniman internasional di Gianyar. Tahun ini, B-Game mengangkat tema “Tutur Bhuwana Tuwuh” yang berarti Mitos, Dunia, dan Ingatan—sebuah ajakan bagi seniman dari berbagai negara untuk menelusuri hubungan manusia dengan alam melalui bahasa seni kontemporer.

Karya Dr. Suardina

Suardina memilih terracotta, material yang menurutnya paling jujur, karena berasal dari tanah yang sama dengan tubuh manusia. Terracotta, katanya, adalah simbol kesetiaan pada bumi. Ia tidak mengilap, tidak berambisi menjadi megah. Ia retak, menyerap waktu, dan terus berbicara dalam diam. Dalam karya itu, ia memahat seekor domba yang tampak tengah meratapi tunggul terakhir. Bagi Suardina, tunggul itu bukan sekadar benda, melainkan nisan bagi hutan yang lenyap, sekaligus tanda dari kepunahan nilai yang tak kasat mata.

“Ketika pohon terakhir ditebang, udara terakhir tercemar, dan air terakhir dikeringkan, kita baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan,” ujarnya sambil tersenyum getir, mengutip pepatah yang sering disalahpahami.

***

Suardina dikenal di kalangan akademisi ISI Bali sebagai sosok yang tenang namun tegas. Ia tidak banyak bicara di ruang publik, tapi karyanya selalu memunculkan percakapan panjang. Dalam perjalanan seninya, ia tidak hanya mengajar tentang teknik, tetapi juga tentang sikap. “Seni itu bukan tentang membuat sesuatu yang indah, tapi tentang menyalakan kesadaran,” katanya suatu kali di ruang studionya di Denpasar.

Ia lahir di sebuah desa yang dulu dikelilingi hutan dan sawah, tempat di mana suara jangkrik dan aroma tanah basah menjadi bagian dari keseharian. Ia tumbuh dengan kesadaran ekologis yang kuat, bukan karena membaca teori, tetapi karena hidup di tengah alam yang masih bernapas. Kini, ketika banyak lahan berubah menjadi deretan vila dan kafe, ia merasa seolah kehilangan sebagian masa kecilnya.

Maka tidak mengherankan jika karya The Sheep and the Last Stump terasa seperti elegi pribadi. Di dalamnya ada nada kehilangan, juga rasa bersalah. Ia menatap dombanya seperti menatap cermin,

 hewan itu menjadi saksi atas keheningan pasca-kehancuran. “Domba biasanya jinak, mudah diatur. Tapi di sini, ia menjadi simbol konflik batin antara ketaatan dan nurani,” jelasnya.

Karya itu dibuat dari terracotta berwarna cokelat tua, dengan ukuran sekitar 46 x 40 x 40 sentimeter. Tidak besar, tapi memiliki daya tarik magnetis yang kuat. Permukaannya tidak sempurna, tampak kasar dan retak, seolah sedang menyimpan cerita panjang. Suardina sengaja membiarkannya seperti itu agar penonton tidak terjebak pada keindahan, melainkan merasakan luka yang disiratkan oleh materialnya.

“Retakan itu penting, karena di situlah kejujuran tinggal,” katanya.

***

Selama lebih dari dua dekade menjadi pengajar di ISI Bali, Suardina telah melahirkan banyak mahasiswa yang kini berkiprah sebagai seniman muda. Ia dikenal sebagai dosen yang sabar, tapi juga keras terhadap hal-hal yang dianggap mengabaikan kedalaman makna. Dalam pandangannya, seni bukan sekadar bentuk ekspresi individual, melainkan dialog spiritual dengan kehidupan itu sendiri.

Mungkin karena itulah ia jarang berbicara tentang karier. Ia lebih senang membicarakan perjalanan batin di balik setiap karya. Dalam pertemuan di Ubud itu, ia menyebut bahwa The Sheep and the Last Stump sebenarnya adalah kelanjutan dari pencariannya atas tema relasi manusia dan alam yang telah ia eksplorasi sejak lama.

Pengunjung melihat karya Suardina pada Bali-Global Art Map Exhibition (B-Game)

Beberapa tahun lalu, ia pernah membuat karya serupa dari kayu bekas bangunan. Karya itu menggambarkan tangan manusia yang menggenggam akar. Namun menurutnya, karya kali ini adalah bentuk pertanggungjawaban yang lebih jujur. “Saya ingin membuat karya yang berbicara tanpa suara. Domba itu sudah tidak bisa menangis, tapi kesedihannya terasa,” ujarnya.

Di tengah hiruk-pikuk pameran internasional yang menampilkan karya konvensional, bahkan  teknologi, suara, dan cahaya, karya Suardina berdiri diam di pojok ruangan. Tapi justru di situlah kekuatannya. Banyak pengunjung berhenti lama, menatap domba itu tanpa kata. Seorang anak kecil bahkan menyentuh tunggul di bawahnya, lalu bertanya pada ibunya, “Kenapa pohonnya tinggal satu?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Suardina tersenyum. “Itu artinya karya ini berhasil,” katanya kemudian. “Karena ia mengembalikan rasa ingin tahu yang paling murni.”

***

Bagi Suardina, seni adalah cara untuk menyembuhkan hubungan manusia dengan dunia. Ia percaya bahwa di balik setiap ciptaan manusia, ada tanggung jawab moral terhadap alam. Ia sering mengutip pepatah Bali lama tentang tattwa bhuwana, pengetahuan tentang dunia yang memandang semua makhluk saling terkait dalam keseimbangan.

Dalam konteks globalisasi dan krisis iklim, pesan itu terasa semakin relevan. “Banyak orang sekarang mengira teknologi bisa menggantikan alam. Padahal, yang kita butuhkan bukan pengganti, melainkan kesadaran,” katanya. Ia menatap dombanya sejenak sebelum melanjutkan, “Seni mungkin tidak bisa menghentikan kehancuran, tapi bisa menunda lupa.”

Ketika ditanya mengapa memilih bentuk domba, ia menjawab kematangan berpikirnya banyak dipengaruhi hal eksternal, dimana domba banyak diternakkan, juga sering menjadi metaphor yang mewakili rakyat jelata atau manusia.”Insight seringkali menampar lamunan saya untuk mengartikulasi realitas”, kilahnya. Sejak itu, domba menjadi simbol yang terus menghantuinya. Ia muncul dalam beberapa sketsa dan karya terdahulu, tetapi baru kini menemukan bentuk paling jujur melalui terracotta. Baginya, domba bukan hewan lemah, melainkan makhluk yang mampu menanggung penderitaan dengan diam. “Dalam diamnya, ada doa,” ujarnya lebih lanjut.

***

Malam itu, setelah pembukaan pameran, meski malam beranjak larut, Suardina tidak langsung pulang. Ia duduk di bangku panjang di luar galeri, menatap pepohonan yang tampak eksotik oleh sinar lampu taman ARMA, menembus celah daun, menciptakan bayangan di lantai batu. Di keramaian yang kian meredup ia tampak seperti sedang bercakap dengan alam yang masih tersisa.

Seorang mahasiswa datang menghampirinya, mengucapkan selamat atas karyanya yang dipajang bersama seniman dari berbagai negara. Tapi Suardina hanya menggeleng. “Saya tidak merasa menang apa pun. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sedang kehabisan tunggul terakhir,” ujarnya berseloroh.

Kalimat itu bergema lama di kepala saya. Dalam dunia seni yang sering dipenuhi glamor, Suardina hadir seperti oase yang menenangkan. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati seni bukan pada sorotan lampu, melainkan pada ketulusan menyampaikan pesan kemanusiaan.

Pengunjung melihat karya Suardina pada Bali-Global Art Map Exhibition (B-Game)

Domba terracotta itu mungkin akan retak seiring waktu. Tapi pesan yang dikandungnya akan tetap hidup, sebagaimana tanah yang terus bernafas di bawah pijakan kita. Dalam kesunyian museum, di tengah pameran yang menampilkan mitos dan ingatan dunia, karya Suardina berdiri sebagai doa bagi bumi yang terluka.

“Bumi tidak butuh kita,” katanya sebelum beranjak. “Kita yang butuh bumi. Dan mungkin, lewat seni, kita masih punya kesempatan untuk meminta maaf.” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dr. Nyoman SuardinaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gawe Ninting: Membaca Pesan Leluhur Lewat Jejaring Peradaban Air di Sungai Meninting, Lombok Barat

Next Post

Rakyat Kerja Bagai Kuda, Pejabatnya Perlu Kacamata Kuda

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Rakyat Kerja Bagai Kuda, Pejabatnya Perlu Kacamata Kuda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co