15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Bagai Kuda, Pejabatnya Perlu Kacamata Kuda

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA hidup dalam era di mana publik nampaknya semakin sinis terhadap pejabat. Setiap kali muncul kasus korupsi, publik makin yakin bahwa semua pejabat jatuhnya sama saja. Dalam teori komunikasi politik, kondisi ini dikenal sebagai spiral of cynicism (Cappella & Jamieson, 1997), sebuah kondisi ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan siapa yang jujur dan siapa yang korup. Fenomena ini muncul lantaran publik terlalu sering disuguhi berita buruk.

Akibatnya, bahkan pejabat yang benar-benar bekerja keras pun sering dianggap sekadar melakukan pencitraan. Fenomena ini menciptakan semacam kabut moral yang tebal. Pejabat yang memang ingin hidup bersih terjebak dalam sistem yang kotor, sementara yang kotor berlindung di balik jargon-jargon moral. Publik jadinya makin bingung, mana yang tulus, mana pula yang manipulatif?

Menjadi pejabat di Indonesia hari ini adalah pekerjaan yang paradoksal, di satu sisi penuh kehormatan, di sisi lain penuh kecurigaan. Setiap langkah dan gerik mereka ditonton diawasi,  setiap keputusan ditafsirkan, dan setiap senyuman bisa disyakwasangka sebagai tipu daya. Tak bisa ditampik, dalam benak publik, pejabat sering kali tampil bukan sebagai pelayan rakyat, tetapi sebagai pengelola kepentingan, pengatur proyek, dan menempatkan para pemain dalam permainan kekuasaan yang ruwet bagai benang kusut.

Padahal, yang ada di lubuk hati rakyat yang paling dalam, mereka pasti berharap para pemimpin mereka bekerja keras, memegang teguh kejujuran, dan berpihak pada rakyat. Tetapi, tiga hal itu, yang kelihatannya mudah diucapkan, menjadi sangat impossible ketika bersentuhan dengan realitas kekuasaan di negeri ini.

Rakyat Kecil dan Etika “Kacamata Kuda”

Masih ingat saat era Jokowi pernah menyalakan semangat nasional dengan jargon “kerja, kerja, kerja.” Awalnya, frasa itu seperti suntikan energi baru, bahwa kemajuan bangsa kita mau tak mau harus dimulai dari etos kerja. Tapi seiring waktu, banyak yang merasa bahwa slogan itu kemudian kehilangan ruh moralnya. Kerja keras berubah menjadi rutinitas administratif dan produktivitas jadi alat propaganda. Søren Kierkegaard menyebut keadaan semacam ini sebagai the despair of purposelessness, keputusasaan yang datang ketika manusia bekerja tanpa tahu untuk apa.

Dalam dunia pejabat, kerja keras tanpa arah moral adalah kesibukan yang sia-sia,  sibuk menandatangani, sibuk meresmikan, sibuk memposting kegiatan, tapi kehilangan arah etis dari mengapa semua itu dilakukan. Boleh jadi di situlah tragedi pejabat modern dimana mereka bekerja keras agar tampak bekerja keras, bukan agar rakyat benar-benar merasakan hasil kerja itu. Dan di mata rakyat, kerja keras yang tak membawa keadilan hanyalah teater birokrasi yang melelahkan.

Sementara itu, rakyat kecil sudah sejak lama hidup dalam makna sejati dari kerja keras. Tengok saja lagu Koes Plus  yang berjudul  “Jemu”. Lagu sejatinya adalah rekaman situasi sosial dan politik yang valid dari suatu masyarakat. Lagu itu menjadi cermin sosial yang masih relevan hari ini, yakni rakyat masih “kerja keras bagai kuda.” Lirik itu bukan sekadar keluhan, tapi observasi jenius tentang struktur sosial kita. Rakyat bekerja siang malam, sering tanpa imbalan yang sepadan. Tapi justru dari merekalah lahir etika kerja sejati sebut saja ketekunan, kesabaran, dan fokus pada tujuan.

Kalau kita tarik ke ranah simbolik, kuda pekerja biasanya memakai kacamata kuda.  “Kacamata kuda” itu sendiri adalah pelajaran moral. Kuda diberi kacamata bukan untuk membutakan pandangan, melainkan untuk menjaga fokus. Ia tidak boleh menoleh ke kanan dan kiri agar tak tergoda, tak teralihkan, dan tetap berjalan di jalurnya.

Nah, inilah ironi besar kita, rakyat kecil bekerja dengan kacamata kuda, sementara pejabat justru bekerja dengan kacamata lensa wide. Mereka mampu melihat ke mana-mana bukan untuk memahami rakyat, tetapi untuk menjangkau peluang pribadi yang lebih luas. Fokus mereka melebar, tapi moral mereka menyempit.

Kerja Keras sebagai Kerja Batin

Kerja keras sosok  pejabat bukan berarti senang lembur di kantor atau rajin rapat ini-itu. Dalam ranah moral publik, kerja keras yang sejati adalah kerja batin dalam upaya terus-menerus untuk menahan diri dari korupsi, dari kongkalikong, dan dari kompromi yang membutakan hati nurani. Ini jenis kerja keras yang tidak tampak di kamera  wartawan dan postingan IG, tapi faktor yang menentukan apakah seorang pejabat masih punya integritas.

Nietzsche pernah mengingatkan, “He who fights with monsters must take care lest he thereby become a monster.” Terjemahan bebasnya, ketika seseorang berjuang menghadapi sistem yang kotor, ia harus berhati-hati agar tidak ikut menjadi kotor. Nah, di Indonesia, dengan sistem sekarang, pejabat jujur yang berani melawan arus seringkali justru tersingkir, sementara mereka yang pandai menyesuaikan diri akan bertahan dan tambah makmur. Atau malah pejabat yang jujur lama-lama ketularan jadi keblinger.

Karena itulah, kerja keras dalam konteks pejabat sebenarnya bukan soal produktivitas teknis, tetapi soal disiplin moral. Kerja keras berarti terus menjaga arah di tengah sistem yang menggoda untuk menyeleweng. Seorang pejabat yang mampu menolak kesempatan untuk memperkaya diri padahal peluang itu terbuka lebar, telah melakukan kerja keras yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan proyek prestisius macam Whoosh yang lagi ramai lagi sekarang.

Tentu saja, pejabat juga manusia. Mereka punya keluarga, kebutuhan, bahkan ambisi. Karena itu, idealisme bahwa pejabat harus “tanpa kepentingan pribadi sama sekali” tidak realistis. Yang penting, adalah kemampuan untuk memilah. Inilah yang oleh Aristoteles disebut phronesis, suatu kebijaksanaan praktis. Orang bijak bukan yang bebas dari keinginan, melainkan yang tahu kapan dan sejauh mana keinginannya boleh diikuti. Kepentingan pribadi boleh ada, asalkan tunduk pada kepentingan publik.

Masalahnya, banyak pejabat gagal membedakan mana yang legal tapi tidak pantas, dan mana yang pantas tapi tidak legal. Nietzsche kembali menyindir hal ini dengan pahit, “Many people are moral merely because they are too timid to be immoral.” Banyak pejabat tampak seolah jujur bukan karena punya prinsip, tetapi karena takut ketahuan. Mereka berhenti bukan karena sadar moral, tapi karena cemas akan hukuman. Di situ integritas berubah menjadi strategi bertahan hidup, bukan lagi kompas etika.

Kacamata Kuda sebagai Etika Pejabat

Mungkin kita perlu belajar lagi dari metafora sederhana tadi, kacamata kuda. Ia bukan alat untuk menutup dunia, tapi untuk menyempitkan pandangan agar tidak kehilangan arah. Dalam konteks para pejabat, “kacamata kuda” bisa dimaknai sebagai batas moral, suatu disiplin yang membuat seseorang tetap fokus pada mandat publik, bukan tergoda oleh peluang pribadi yang tampak menggiurkan.

Kacamata kuda bukan berarti menolak semua peluang, tapi menyaringnya dengan kesadaran etis. Jika peluang itu legal dan sesuai mandat, bolehlah diambil. Tapi kalau peluang itu justru mengaburkan fokus pelayanan publik, maka harus dibiarkan lewat. Itulah kerja keras yang sesungguhnya, agar tidak berubah menjadi monster kecil di dalam sistem.

Di sisi lain, rakyat kecil sudah jemu. Mereka jemu bukan karena malas bekerja, tapi karena merasa kerja keras mereka tidak pernah berbanding lurus dengan hasil. Sementara pejabat berretorika tentang kerja keras di podium, rakyat sudah menjalankannya di sawah, di pasar, di pabrik, di jalanan.

Kita sebagai rakyat berhak berharap mereka punya kacamata kuda moral yang membuat mereka fokus pada tujuan, setia pada mandat, dan tidak sibuk menoleh ke segala arah untuk mencari kesempatan pribadi.  

Maka, di tengah slogan-slogan nyaring yang kosong, mungkin kita perlu mengingat kembali kebijaksanaan sederhana dari lagu Koes Plus dengan lirik “kerja keras bagai kuda.” Sebuah kalimat yang lahir dari perut rakyat, tapi sebenarnya layak ditujukan kepada mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Karena di negeri yang sedang jemu ini, kerja keras tanpa moral bukan lagi kebajikan, melainkan bentuk baru dari kemalasan nurani. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: pejabatrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dr. Nyoman Suardina dan Elegi Seekor Domba

Next Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Pesta Sesi Dengar "Before It Burns": Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co