12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Bagai Kuda, Pejabatnya Perlu Kacamata Kuda

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA hidup dalam era di mana publik nampaknya semakin sinis terhadap pejabat. Setiap kali muncul kasus korupsi, publik makin yakin bahwa semua pejabat jatuhnya sama saja. Dalam teori komunikasi politik, kondisi ini dikenal sebagai spiral of cynicism (Cappella & Jamieson, 1997), sebuah kondisi ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan siapa yang jujur dan siapa yang korup. Fenomena ini muncul lantaran publik terlalu sering disuguhi berita buruk.

Akibatnya, bahkan pejabat yang benar-benar bekerja keras pun sering dianggap sekadar melakukan pencitraan. Fenomena ini menciptakan semacam kabut moral yang tebal. Pejabat yang memang ingin hidup bersih terjebak dalam sistem yang kotor, sementara yang kotor berlindung di balik jargon-jargon moral. Publik jadinya makin bingung, mana yang tulus, mana pula yang manipulatif?

Menjadi pejabat di Indonesia hari ini adalah pekerjaan yang paradoksal, di satu sisi penuh kehormatan, di sisi lain penuh kecurigaan. Setiap langkah dan gerik mereka ditonton diawasi,  setiap keputusan ditafsirkan, dan setiap senyuman bisa disyakwasangka sebagai tipu daya. Tak bisa ditampik, dalam benak publik, pejabat sering kali tampil bukan sebagai pelayan rakyat, tetapi sebagai pengelola kepentingan, pengatur proyek, dan menempatkan para pemain dalam permainan kekuasaan yang ruwet bagai benang kusut.

Padahal, yang ada di lubuk hati rakyat yang paling dalam, mereka pasti berharap para pemimpin mereka bekerja keras, memegang teguh kejujuran, dan berpihak pada rakyat. Tetapi, tiga hal itu, yang kelihatannya mudah diucapkan, menjadi sangat impossible ketika bersentuhan dengan realitas kekuasaan di negeri ini.

Rakyat Kecil dan Etika “Kacamata Kuda”

Masih ingat saat era Jokowi pernah menyalakan semangat nasional dengan jargon “kerja, kerja, kerja.” Awalnya, frasa itu seperti suntikan energi baru, bahwa kemajuan bangsa kita mau tak mau harus dimulai dari etos kerja. Tapi seiring waktu, banyak yang merasa bahwa slogan itu kemudian kehilangan ruh moralnya. Kerja keras berubah menjadi rutinitas administratif dan produktivitas jadi alat propaganda. Søren Kierkegaard menyebut keadaan semacam ini sebagai the despair of purposelessness, keputusasaan yang datang ketika manusia bekerja tanpa tahu untuk apa.

Dalam dunia pejabat, kerja keras tanpa arah moral adalah kesibukan yang sia-sia,  sibuk menandatangani, sibuk meresmikan, sibuk memposting kegiatan, tapi kehilangan arah etis dari mengapa semua itu dilakukan. Boleh jadi di situlah tragedi pejabat modern dimana mereka bekerja keras agar tampak bekerja keras, bukan agar rakyat benar-benar merasakan hasil kerja itu. Dan di mata rakyat, kerja keras yang tak membawa keadilan hanyalah teater birokrasi yang melelahkan.

Sementara itu, rakyat kecil sudah sejak lama hidup dalam makna sejati dari kerja keras. Tengok saja lagu Koes Plus  yang berjudul  “Jemu”. Lagu sejatinya adalah rekaman situasi sosial dan politik yang valid dari suatu masyarakat. Lagu itu menjadi cermin sosial yang masih relevan hari ini, yakni rakyat masih “kerja keras bagai kuda.” Lirik itu bukan sekadar keluhan, tapi observasi jenius tentang struktur sosial kita. Rakyat bekerja siang malam, sering tanpa imbalan yang sepadan. Tapi justru dari merekalah lahir etika kerja sejati sebut saja ketekunan, kesabaran, dan fokus pada tujuan.

Kalau kita tarik ke ranah simbolik, kuda pekerja biasanya memakai kacamata kuda.  “Kacamata kuda” itu sendiri adalah pelajaran moral. Kuda diberi kacamata bukan untuk membutakan pandangan, melainkan untuk menjaga fokus. Ia tidak boleh menoleh ke kanan dan kiri agar tak tergoda, tak teralihkan, dan tetap berjalan di jalurnya.

Nah, inilah ironi besar kita, rakyat kecil bekerja dengan kacamata kuda, sementara pejabat justru bekerja dengan kacamata lensa wide. Mereka mampu melihat ke mana-mana bukan untuk memahami rakyat, tetapi untuk menjangkau peluang pribadi yang lebih luas. Fokus mereka melebar, tapi moral mereka menyempit.

Kerja Keras sebagai Kerja Batin

Kerja keras sosok  pejabat bukan berarti senang lembur di kantor atau rajin rapat ini-itu. Dalam ranah moral publik, kerja keras yang sejati adalah kerja batin dalam upaya terus-menerus untuk menahan diri dari korupsi, dari kongkalikong, dan dari kompromi yang membutakan hati nurani. Ini jenis kerja keras yang tidak tampak di kamera  wartawan dan postingan IG, tapi faktor yang menentukan apakah seorang pejabat masih punya integritas.

Nietzsche pernah mengingatkan, “He who fights with monsters must take care lest he thereby become a monster.” Terjemahan bebasnya, ketika seseorang berjuang menghadapi sistem yang kotor, ia harus berhati-hati agar tidak ikut menjadi kotor. Nah, di Indonesia, dengan sistem sekarang, pejabat jujur yang berani melawan arus seringkali justru tersingkir, sementara mereka yang pandai menyesuaikan diri akan bertahan dan tambah makmur. Atau malah pejabat yang jujur lama-lama ketularan jadi keblinger.

Karena itulah, kerja keras dalam konteks pejabat sebenarnya bukan soal produktivitas teknis, tetapi soal disiplin moral. Kerja keras berarti terus menjaga arah di tengah sistem yang menggoda untuk menyeleweng. Seorang pejabat yang mampu menolak kesempatan untuk memperkaya diri padahal peluang itu terbuka lebar, telah melakukan kerja keras yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan proyek prestisius macam Whoosh yang lagi ramai lagi sekarang.

Tentu saja, pejabat juga manusia. Mereka punya keluarga, kebutuhan, bahkan ambisi. Karena itu, idealisme bahwa pejabat harus “tanpa kepentingan pribadi sama sekali” tidak realistis. Yang penting, adalah kemampuan untuk memilah. Inilah yang oleh Aristoteles disebut phronesis, suatu kebijaksanaan praktis. Orang bijak bukan yang bebas dari keinginan, melainkan yang tahu kapan dan sejauh mana keinginannya boleh diikuti. Kepentingan pribadi boleh ada, asalkan tunduk pada kepentingan publik.

Masalahnya, banyak pejabat gagal membedakan mana yang legal tapi tidak pantas, dan mana yang pantas tapi tidak legal. Nietzsche kembali menyindir hal ini dengan pahit, “Many people are moral merely because they are too timid to be immoral.” Banyak pejabat tampak seolah jujur bukan karena punya prinsip, tetapi karena takut ketahuan. Mereka berhenti bukan karena sadar moral, tapi karena cemas akan hukuman. Di situ integritas berubah menjadi strategi bertahan hidup, bukan lagi kompas etika.

Kacamata Kuda sebagai Etika Pejabat

Mungkin kita perlu belajar lagi dari metafora sederhana tadi, kacamata kuda. Ia bukan alat untuk menutup dunia, tapi untuk menyempitkan pandangan agar tidak kehilangan arah. Dalam konteks para pejabat, “kacamata kuda” bisa dimaknai sebagai batas moral, suatu disiplin yang membuat seseorang tetap fokus pada mandat publik, bukan tergoda oleh peluang pribadi yang tampak menggiurkan.

Kacamata kuda bukan berarti menolak semua peluang, tapi menyaringnya dengan kesadaran etis. Jika peluang itu legal dan sesuai mandat, bolehlah diambil. Tapi kalau peluang itu justru mengaburkan fokus pelayanan publik, maka harus dibiarkan lewat. Itulah kerja keras yang sesungguhnya, agar tidak berubah menjadi monster kecil di dalam sistem.

Di sisi lain, rakyat kecil sudah jemu. Mereka jemu bukan karena malas bekerja, tapi karena merasa kerja keras mereka tidak pernah berbanding lurus dengan hasil. Sementara pejabat berretorika tentang kerja keras di podium, rakyat sudah menjalankannya di sawah, di pasar, di pabrik, di jalanan.

Kita sebagai rakyat berhak berharap mereka punya kacamata kuda moral yang membuat mereka fokus pada tujuan, setia pada mandat, dan tidak sibuk menoleh ke segala arah untuk mencari kesempatan pribadi.  

Maka, di tengah slogan-slogan nyaring yang kosong, mungkin kita perlu mengingat kembali kebijaksanaan sederhana dari lagu Koes Plus dengan lirik “kerja keras bagai kuda.” Sebuah kalimat yang lahir dari perut rakyat, tapi sebenarnya layak ditujukan kepada mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Karena di negeri yang sedang jemu ini, kerja keras tanpa moral bukan lagi kebajikan, melainkan bentuk baru dari kemalasan nurani. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: pejabatrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dr. Nyoman Suardina dan Elegi Seekor Domba

Next Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Pesta Sesi Dengar "Before It Burns": Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co