2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Bagai Kuda, Pejabatnya Perlu Kacamata Kuda

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA hidup dalam era di mana publik nampaknya semakin sinis terhadap pejabat. Setiap kali muncul kasus korupsi, publik makin yakin bahwa semua pejabat jatuhnya sama saja. Dalam teori komunikasi politik, kondisi ini dikenal sebagai spiral of cynicism (Cappella & Jamieson, 1997), sebuah kondisi ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan siapa yang jujur dan siapa yang korup. Fenomena ini muncul lantaran publik terlalu sering disuguhi berita buruk.

Akibatnya, bahkan pejabat yang benar-benar bekerja keras pun sering dianggap sekadar melakukan pencitraan. Fenomena ini menciptakan semacam kabut moral yang tebal. Pejabat yang memang ingin hidup bersih terjebak dalam sistem yang kotor, sementara yang kotor berlindung di balik jargon-jargon moral. Publik jadinya makin bingung, mana yang tulus, mana pula yang manipulatif?

Menjadi pejabat di Indonesia hari ini adalah pekerjaan yang paradoksal, di satu sisi penuh kehormatan, di sisi lain penuh kecurigaan. Setiap langkah dan gerik mereka ditonton diawasi,  setiap keputusan ditafsirkan, dan setiap senyuman bisa disyakwasangka sebagai tipu daya. Tak bisa ditampik, dalam benak publik, pejabat sering kali tampil bukan sebagai pelayan rakyat, tetapi sebagai pengelola kepentingan, pengatur proyek, dan menempatkan para pemain dalam permainan kekuasaan yang ruwet bagai benang kusut.

Padahal, yang ada di lubuk hati rakyat yang paling dalam, mereka pasti berharap para pemimpin mereka bekerja keras, memegang teguh kejujuran, dan berpihak pada rakyat. Tetapi, tiga hal itu, yang kelihatannya mudah diucapkan, menjadi sangat impossible ketika bersentuhan dengan realitas kekuasaan di negeri ini.

Rakyat Kecil dan Etika “Kacamata Kuda”

Masih ingat saat era Jokowi pernah menyalakan semangat nasional dengan jargon “kerja, kerja, kerja.” Awalnya, frasa itu seperti suntikan energi baru, bahwa kemajuan bangsa kita mau tak mau harus dimulai dari etos kerja. Tapi seiring waktu, banyak yang merasa bahwa slogan itu kemudian kehilangan ruh moralnya. Kerja keras berubah menjadi rutinitas administratif dan produktivitas jadi alat propaganda. Søren Kierkegaard menyebut keadaan semacam ini sebagai the despair of purposelessness, keputusasaan yang datang ketika manusia bekerja tanpa tahu untuk apa.

Dalam dunia pejabat, kerja keras tanpa arah moral adalah kesibukan yang sia-sia,  sibuk menandatangani, sibuk meresmikan, sibuk memposting kegiatan, tapi kehilangan arah etis dari mengapa semua itu dilakukan. Boleh jadi di situlah tragedi pejabat modern dimana mereka bekerja keras agar tampak bekerja keras, bukan agar rakyat benar-benar merasakan hasil kerja itu. Dan di mata rakyat, kerja keras yang tak membawa keadilan hanyalah teater birokrasi yang melelahkan.

Sementara itu, rakyat kecil sudah sejak lama hidup dalam makna sejati dari kerja keras. Tengok saja lagu Koes Plus  yang berjudul  “Jemu”. Lagu sejatinya adalah rekaman situasi sosial dan politik yang valid dari suatu masyarakat. Lagu itu menjadi cermin sosial yang masih relevan hari ini, yakni rakyat masih “kerja keras bagai kuda.” Lirik itu bukan sekadar keluhan, tapi observasi jenius tentang struktur sosial kita. Rakyat bekerja siang malam, sering tanpa imbalan yang sepadan. Tapi justru dari merekalah lahir etika kerja sejati sebut saja ketekunan, kesabaran, dan fokus pada tujuan.

Kalau kita tarik ke ranah simbolik, kuda pekerja biasanya memakai kacamata kuda.  “Kacamata kuda” itu sendiri adalah pelajaran moral. Kuda diberi kacamata bukan untuk membutakan pandangan, melainkan untuk menjaga fokus. Ia tidak boleh menoleh ke kanan dan kiri agar tak tergoda, tak teralihkan, dan tetap berjalan di jalurnya.

Nah, inilah ironi besar kita, rakyat kecil bekerja dengan kacamata kuda, sementara pejabat justru bekerja dengan kacamata lensa wide. Mereka mampu melihat ke mana-mana bukan untuk memahami rakyat, tetapi untuk menjangkau peluang pribadi yang lebih luas. Fokus mereka melebar, tapi moral mereka menyempit.

Kerja Keras sebagai Kerja Batin

Kerja keras sosok  pejabat bukan berarti senang lembur di kantor atau rajin rapat ini-itu. Dalam ranah moral publik, kerja keras yang sejati adalah kerja batin dalam upaya terus-menerus untuk menahan diri dari korupsi, dari kongkalikong, dan dari kompromi yang membutakan hati nurani. Ini jenis kerja keras yang tidak tampak di kamera  wartawan dan postingan IG, tapi faktor yang menentukan apakah seorang pejabat masih punya integritas.

Nietzsche pernah mengingatkan, “He who fights with monsters must take care lest he thereby become a monster.” Terjemahan bebasnya, ketika seseorang berjuang menghadapi sistem yang kotor, ia harus berhati-hati agar tidak ikut menjadi kotor. Nah, di Indonesia, dengan sistem sekarang, pejabat jujur yang berani melawan arus seringkali justru tersingkir, sementara mereka yang pandai menyesuaikan diri akan bertahan dan tambah makmur. Atau malah pejabat yang jujur lama-lama ketularan jadi keblinger.

Karena itulah, kerja keras dalam konteks pejabat sebenarnya bukan soal produktivitas teknis, tetapi soal disiplin moral. Kerja keras berarti terus menjaga arah di tengah sistem yang menggoda untuk menyeleweng. Seorang pejabat yang mampu menolak kesempatan untuk memperkaya diri padahal peluang itu terbuka lebar, telah melakukan kerja keras yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan proyek prestisius macam Whoosh yang lagi ramai lagi sekarang.

Tentu saja, pejabat juga manusia. Mereka punya keluarga, kebutuhan, bahkan ambisi. Karena itu, idealisme bahwa pejabat harus “tanpa kepentingan pribadi sama sekali” tidak realistis. Yang penting, adalah kemampuan untuk memilah. Inilah yang oleh Aristoteles disebut phronesis, suatu kebijaksanaan praktis. Orang bijak bukan yang bebas dari keinginan, melainkan yang tahu kapan dan sejauh mana keinginannya boleh diikuti. Kepentingan pribadi boleh ada, asalkan tunduk pada kepentingan publik.

Masalahnya, banyak pejabat gagal membedakan mana yang legal tapi tidak pantas, dan mana yang pantas tapi tidak legal. Nietzsche kembali menyindir hal ini dengan pahit, “Many people are moral merely because they are too timid to be immoral.” Banyak pejabat tampak seolah jujur bukan karena punya prinsip, tetapi karena takut ketahuan. Mereka berhenti bukan karena sadar moral, tapi karena cemas akan hukuman. Di situ integritas berubah menjadi strategi bertahan hidup, bukan lagi kompas etika.

Kacamata Kuda sebagai Etika Pejabat

Mungkin kita perlu belajar lagi dari metafora sederhana tadi, kacamata kuda. Ia bukan alat untuk menutup dunia, tapi untuk menyempitkan pandangan agar tidak kehilangan arah. Dalam konteks para pejabat, “kacamata kuda” bisa dimaknai sebagai batas moral, suatu disiplin yang membuat seseorang tetap fokus pada mandat publik, bukan tergoda oleh peluang pribadi yang tampak menggiurkan.

Kacamata kuda bukan berarti menolak semua peluang, tapi menyaringnya dengan kesadaran etis. Jika peluang itu legal dan sesuai mandat, bolehlah diambil. Tapi kalau peluang itu justru mengaburkan fokus pelayanan publik, maka harus dibiarkan lewat. Itulah kerja keras yang sesungguhnya, agar tidak berubah menjadi monster kecil di dalam sistem.

Di sisi lain, rakyat kecil sudah jemu. Mereka jemu bukan karena malas bekerja, tapi karena merasa kerja keras mereka tidak pernah berbanding lurus dengan hasil. Sementara pejabat berretorika tentang kerja keras di podium, rakyat sudah menjalankannya di sawah, di pasar, di pabrik, di jalanan.

Kita sebagai rakyat berhak berharap mereka punya kacamata kuda moral yang membuat mereka fokus pada tujuan, setia pada mandat, dan tidak sibuk menoleh ke segala arah untuk mencari kesempatan pribadi.  

Maka, di tengah slogan-slogan nyaring yang kosong, mungkin kita perlu mengingat kembali kebijaksanaan sederhana dari lagu Koes Plus dengan lirik “kerja keras bagai kuda.” Sebuah kalimat yang lahir dari perut rakyat, tapi sebenarnya layak ditujukan kepada mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Karena di negeri yang sedang jemu ini, kerja keras tanpa moral bukan lagi kebajikan, melainkan bentuk baru dari kemalasan nurani. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: pejabatrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dr. Nyoman Suardina dan Elegi Seekor Domba

Next Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Pesta Sesi Dengar "Before It Burns": Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co