2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
October 29, 2025
in Khas
Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Dekgeh

SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir dalam Workshop Seni Tari bertema “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer”, hasil kolaborasi antara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja dan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini menghadirkan I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang akrab disapa Dekgeh, sebagai narasumber utama. Workshop dipandu oleh I Gusti Made Putra, yang dikenal pula sebagai Gung Ade Dalang, dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Tradisi Sebagai Akar yang Tak Tergantikan

Dalam sesi dialog, moderator membuka pembicaraan dengan pertanyaan seputar perpaduan antara gerak tari tradisi Bali Utara yang dikenal tegas dan penuh energi dengan eksperimen tari kontemporer yang lebih bebas. Pertanyaan tersebut dijawab Dekgeh dengan nada penuh keyakinan bahwa kekuatan utama dalam berkarya justru terletak pada akar tradisi itu sendiri.

 “Dengan akar tradisi yang kuat dan energik, saya justru berinovasi melahirkan karya-karya baru yang tetap berpijak pada gerak tradisi. Tradisi itu bukan batasan, melainkan sumber kekuatan,” ujar Dekgeh.

Dekgeh (nomor dua kari kanan)

Ia menegaskan, hampir semua karya yang ia ciptakan berangkat dari gerak tradisi Bali yang kemudian dikembangkan dan dikreasikan tanpa kehilangan identitasnya. Bagi Dekgeh, tubuh penari Bali telah membawa karakter khas yang tidak bisa digantikan oleh gaya modern mana pun.

 “Jangan berasumsi bahwa tari kontemporer berarti menghilangkan tubuh tradisi kita. Justru tubuh tradisi itu menjadi pondasi utama dalam menciptakan karya baru,” tambahnya dengan tegas.

Melebur, Bukan Melepas Tradisi

Ketika ditanya apakah proses kreatifnya bisa melompat jauh hingga keluar dari tradisi, Dekgeh menegaskan bahwa karya eksperimental memang bisa “melebar,” tetapi tidak sepenuhnya terlepas dari akar budaya.

 “Karya bisa saja melompat jauh, keluar dari bentuk tradisi, tetapi tidak sampai lepas 100%. Tradisi tetap menjadi dasar yang kuat,” katanya.

Moderator kemudian menyinggung karakteristik tari Bali Utara yang penuh stilisasi dan spirit kekuatan tubuh, dan Dekgeh pun mengangguk sambil tersenyum. Ia mengakui bahwa ciri khas itu melekat kuat pada karya-karyanya, bahkan saat ia bereksperimen di ranah kontemporer.

Antara Teknologi dan Tubuh Penari

Salah satu bagian menarik dalam diskusi adalah ketika pembicaraan mengarah pada pengaruh teknologi dan gaya modern terhadap dunia tari masa kini. Dekgeh dengan jujur mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting, tetapi harus digunakan secara proporsional.

“Teknologi memang memengaruhi karya tari masa kini, tapi saya lebih percaya pada kekuatan tubuh penari. Teknologi hanya sebagai pelengkap, misalnya permainan lighting agar sesuai dengan tema,” jelasnya.

Ia juga membagikan pengalamannya  tentang karya ” I La Galigo.” Pertunjukan yang diadaptasi dari epos Bugis dan Luu itu menggunakan ribuan lampu, layar, dan efek visual. Namun, menurut Dekgeh, semua teknologi tersebut bukan untuk menutupi tubuh penari, melainkan untuk memperkuat narasi dan emosi karya.

Karya yang Dibicarakan Adalah Karya yang Hidup

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Kadek Swanjaya, mahasiswa Prodi Seni Budaya IAHN Mpu Kuturan Singaraja, mengajukan pertanyaan menarik: apakah sebuah karya tari yang banyak dibicarakan baik secara positif maupun negatif dapat disebut sebagai karya yang baik?

Dekgeh menjawab dengan reflektif dan rendah hati.

Dekgeh

“Sebagai pelaku seni, saya pribadi tidak terlalu senang jika tari dilombakan. Tapi karya yang dibicarakan, itu bagus. Baik dibicarakan positif maupun negatif, artinya karya itu hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari setiap pembicaraan, bahkan kritik sekalipun, selalu ada nilai pembelajaran bagi seniman. Karya yang menimbulkan diskusi menandakan bahwa karya tersebut meninggalkan kesan bagi penontonnya.

Tradisi, Inovasi, dan Kesadaran Berkarya

Workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda seniman Bali. Dari paparan Dekgeh, peserta memahami bahwa modernitas dan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang bisa memperkaya ekspresi seni selama tidak mengorbankan akar tradisi yang telah membentuk identitas penari Bali.

Usai kegiatan workshop, dua mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Desinta Natalia dan Putu Yeni, turut berbagi kesan dan pandangannya mengenai pengalaman mereka mengikuti kegiatan yang penuh inspirasi tersebut.

Desinta Natalia, mahasiswa asal luar Bali, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian materi oleh I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh). Baginya, mengikuti workshop ini bukan hanya kesempatan untuk belajar tentang seni tari, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya Bali dari perspektif yang lebih dalam.

 “Sebagai mahasiswa dari luar Bali, saya merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Cara Pak Dekgeh menjelaskan bagaimana tradisi dijadikan akar dalam menciptakan karya baru sangat menginspirasi. Saya jadi sadar bahwa untuk bisa berinovasi, kita harus lebih dulu memahami dan menghargai tradisi,” ungkap Desinta dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa melalui workshop ini, pandangannya tentang tari kontemporer menjadi lebih terbuka.

 “Dulu saya pikir tari kontemporer itu harus lepas dari unsur tradisional, tapi ternyata justru dari tradisi lah ide-ide kreatif bisa muncul. Ini membuat saya semakin menghargai kekayaan budaya Bali yang begitu kuat menjaga jati diri,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Yeni, mahasiswa asal Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, menyoroti pentingnya keseimbangan antara tradisi dan teknologi dalam perkembangan seni pertunjukan masa kini.

“Saya belajar bahwa teknologi memang bisa memperkuat penyajian karya tari, tapi esensinya tetap pada tubuh penari. Gerak tubuh adalah bahasa utama yang membawa pesan kepada penonton,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa workshop ini memberikan ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami proses kreatif secara lebih mendalam.

 “Kegiatan seperti ini bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengajarkan makna. Saya merasa lebih menghargai setiap proses yang dijalani seorang penari untuk melahirkan karya,” tutur Putu Yeni dengan penuh rasa syukur.

Bagi keduanya, workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” menjadi pengalaman berharga yang memperkaya pandangan mereka tentang seni dan budaya. Tradisi, bagi mereka, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus menuntun seniman muda menuju masa depan yang kreatif dan bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: tari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Next Post

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co