14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
October 29, 2025
in Khas
Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Dekgeh

SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir dalam Workshop Seni Tari bertema “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer”, hasil kolaborasi antara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja dan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini menghadirkan I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang akrab disapa Dekgeh, sebagai narasumber utama. Workshop dipandu oleh I Gusti Made Putra, yang dikenal pula sebagai Gung Ade Dalang, dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Tradisi Sebagai Akar yang Tak Tergantikan

Dalam sesi dialog, moderator membuka pembicaraan dengan pertanyaan seputar perpaduan antara gerak tari tradisi Bali Utara yang dikenal tegas dan penuh energi dengan eksperimen tari kontemporer yang lebih bebas. Pertanyaan tersebut dijawab Dekgeh dengan nada penuh keyakinan bahwa kekuatan utama dalam berkarya justru terletak pada akar tradisi itu sendiri.

 “Dengan akar tradisi yang kuat dan energik, saya justru berinovasi melahirkan karya-karya baru yang tetap berpijak pada gerak tradisi. Tradisi itu bukan batasan, melainkan sumber kekuatan,” ujar Dekgeh.

Dekgeh (nomor dua kari kanan)

Ia menegaskan, hampir semua karya yang ia ciptakan berangkat dari gerak tradisi Bali yang kemudian dikembangkan dan dikreasikan tanpa kehilangan identitasnya. Bagi Dekgeh, tubuh penari Bali telah membawa karakter khas yang tidak bisa digantikan oleh gaya modern mana pun.

 “Jangan berasumsi bahwa tari kontemporer berarti menghilangkan tubuh tradisi kita. Justru tubuh tradisi itu menjadi pondasi utama dalam menciptakan karya baru,” tambahnya dengan tegas.

Melebur, Bukan Melepas Tradisi

Ketika ditanya apakah proses kreatifnya bisa melompat jauh hingga keluar dari tradisi, Dekgeh menegaskan bahwa karya eksperimental memang bisa “melebar,” tetapi tidak sepenuhnya terlepas dari akar budaya.

 “Karya bisa saja melompat jauh, keluar dari bentuk tradisi, tetapi tidak sampai lepas 100%. Tradisi tetap menjadi dasar yang kuat,” katanya.

Moderator kemudian menyinggung karakteristik tari Bali Utara yang penuh stilisasi dan spirit kekuatan tubuh, dan Dekgeh pun mengangguk sambil tersenyum. Ia mengakui bahwa ciri khas itu melekat kuat pada karya-karyanya, bahkan saat ia bereksperimen di ranah kontemporer.

Antara Teknologi dan Tubuh Penari

Salah satu bagian menarik dalam diskusi adalah ketika pembicaraan mengarah pada pengaruh teknologi dan gaya modern terhadap dunia tari masa kini. Dekgeh dengan jujur mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting, tetapi harus digunakan secara proporsional.

“Teknologi memang memengaruhi karya tari masa kini, tapi saya lebih percaya pada kekuatan tubuh penari. Teknologi hanya sebagai pelengkap, misalnya permainan lighting agar sesuai dengan tema,” jelasnya.

Ia juga membagikan pengalamannya  tentang karya ” I La Galigo.” Pertunjukan yang diadaptasi dari epos Bugis dan Luu itu menggunakan ribuan lampu, layar, dan efek visual. Namun, menurut Dekgeh, semua teknologi tersebut bukan untuk menutupi tubuh penari, melainkan untuk memperkuat narasi dan emosi karya.

Karya yang Dibicarakan Adalah Karya yang Hidup

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Kadek Swanjaya, mahasiswa Prodi Seni Budaya IAHN Mpu Kuturan Singaraja, mengajukan pertanyaan menarik: apakah sebuah karya tari yang banyak dibicarakan baik secara positif maupun negatif dapat disebut sebagai karya yang baik?

Dekgeh menjawab dengan reflektif dan rendah hati.

Dekgeh

“Sebagai pelaku seni, saya pribadi tidak terlalu senang jika tari dilombakan. Tapi karya yang dibicarakan, itu bagus. Baik dibicarakan positif maupun negatif, artinya karya itu hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari setiap pembicaraan, bahkan kritik sekalipun, selalu ada nilai pembelajaran bagi seniman. Karya yang menimbulkan diskusi menandakan bahwa karya tersebut meninggalkan kesan bagi penontonnya.

Tradisi, Inovasi, dan Kesadaran Berkarya

Workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda seniman Bali. Dari paparan Dekgeh, peserta memahami bahwa modernitas dan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang bisa memperkaya ekspresi seni selama tidak mengorbankan akar tradisi yang telah membentuk identitas penari Bali.

Usai kegiatan workshop, dua mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Desinta Natalia dan Putu Yeni, turut berbagi kesan dan pandangannya mengenai pengalaman mereka mengikuti kegiatan yang penuh inspirasi tersebut.

Desinta Natalia, mahasiswa asal luar Bali, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian materi oleh I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh). Baginya, mengikuti workshop ini bukan hanya kesempatan untuk belajar tentang seni tari, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya Bali dari perspektif yang lebih dalam.

 “Sebagai mahasiswa dari luar Bali, saya merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Cara Pak Dekgeh menjelaskan bagaimana tradisi dijadikan akar dalam menciptakan karya baru sangat menginspirasi. Saya jadi sadar bahwa untuk bisa berinovasi, kita harus lebih dulu memahami dan menghargai tradisi,” ungkap Desinta dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa melalui workshop ini, pandangannya tentang tari kontemporer menjadi lebih terbuka.

 “Dulu saya pikir tari kontemporer itu harus lepas dari unsur tradisional, tapi ternyata justru dari tradisi lah ide-ide kreatif bisa muncul. Ini membuat saya semakin menghargai kekayaan budaya Bali yang begitu kuat menjaga jati diri,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Yeni, mahasiswa asal Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, menyoroti pentingnya keseimbangan antara tradisi dan teknologi dalam perkembangan seni pertunjukan masa kini.

“Saya belajar bahwa teknologi memang bisa memperkuat penyajian karya tari, tapi esensinya tetap pada tubuh penari. Gerak tubuh adalah bahasa utama yang membawa pesan kepada penonton,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa workshop ini memberikan ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami proses kreatif secara lebih mendalam.

 “Kegiatan seperti ini bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengajarkan makna. Saya merasa lebih menghargai setiap proses yang dijalani seorang penari untuk melahirkan karya,” tutur Putu Yeni dengan penuh rasa syukur.

Bagi keduanya, workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” menjadi pengalaman berharga yang memperkaya pandangan mereka tentang seni dan budaya. Tradisi, bagi mereka, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus menuntun seniman muda menuju masa depan yang kreatif dan bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: tari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Next Post

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co