23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
October 29, 2025
in Khas
Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Dekgeh

SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir dalam Workshop Seni Tari bertema “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer”, hasil kolaborasi antara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja dan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini menghadirkan I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang akrab disapa Dekgeh, sebagai narasumber utama. Workshop dipandu oleh I Gusti Made Putra, yang dikenal pula sebagai Gung Ade Dalang, dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Tradisi Sebagai Akar yang Tak Tergantikan

Dalam sesi dialog, moderator membuka pembicaraan dengan pertanyaan seputar perpaduan antara gerak tari tradisi Bali Utara yang dikenal tegas dan penuh energi dengan eksperimen tari kontemporer yang lebih bebas. Pertanyaan tersebut dijawab Dekgeh dengan nada penuh keyakinan bahwa kekuatan utama dalam berkarya justru terletak pada akar tradisi itu sendiri.

 “Dengan akar tradisi yang kuat dan energik, saya justru berinovasi melahirkan karya-karya baru yang tetap berpijak pada gerak tradisi. Tradisi itu bukan batasan, melainkan sumber kekuatan,” ujar Dekgeh.

Dekgeh (nomor dua kari kanan)

Ia menegaskan, hampir semua karya yang ia ciptakan berangkat dari gerak tradisi Bali yang kemudian dikembangkan dan dikreasikan tanpa kehilangan identitasnya. Bagi Dekgeh, tubuh penari Bali telah membawa karakter khas yang tidak bisa digantikan oleh gaya modern mana pun.

 “Jangan berasumsi bahwa tari kontemporer berarti menghilangkan tubuh tradisi kita. Justru tubuh tradisi itu menjadi pondasi utama dalam menciptakan karya baru,” tambahnya dengan tegas.

Melebur, Bukan Melepas Tradisi

Ketika ditanya apakah proses kreatifnya bisa melompat jauh hingga keluar dari tradisi, Dekgeh menegaskan bahwa karya eksperimental memang bisa “melebar,” tetapi tidak sepenuhnya terlepas dari akar budaya.

 “Karya bisa saja melompat jauh, keluar dari bentuk tradisi, tetapi tidak sampai lepas 100%. Tradisi tetap menjadi dasar yang kuat,” katanya.

Moderator kemudian menyinggung karakteristik tari Bali Utara yang penuh stilisasi dan spirit kekuatan tubuh, dan Dekgeh pun mengangguk sambil tersenyum. Ia mengakui bahwa ciri khas itu melekat kuat pada karya-karyanya, bahkan saat ia bereksperimen di ranah kontemporer.

Antara Teknologi dan Tubuh Penari

Salah satu bagian menarik dalam diskusi adalah ketika pembicaraan mengarah pada pengaruh teknologi dan gaya modern terhadap dunia tari masa kini. Dekgeh dengan jujur mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting, tetapi harus digunakan secara proporsional.

“Teknologi memang memengaruhi karya tari masa kini, tapi saya lebih percaya pada kekuatan tubuh penari. Teknologi hanya sebagai pelengkap, misalnya permainan lighting agar sesuai dengan tema,” jelasnya.

Ia juga membagikan pengalamannya  tentang karya ” I La Galigo.” Pertunjukan yang diadaptasi dari epos Bugis dan Luu itu menggunakan ribuan lampu, layar, dan efek visual. Namun, menurut Dekgeh, semua teknologi tersebut bukan untuk menutupi tubuh penari, melainkan untuk memperkuat narasi dan emosi karya.

Karya yang Dibicarakan Adalah Karya yang Hidup

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Kadek Swanjaya, mahasiswa Prodi Seni Budaya IAHN Mpu Kuturan Singaraja, mengajukan pertanyaan menarik: apakah sebuah karya tari yang banyak dibicarakan baik secara positif maupun negatif dapat disebut sebagai karya yang baik?

Dekgeh menjawab dengan reflektif dan rendah hati.

Dekgeh

“Sebagai pelaku seni, saya pribadi tidak terlalu senang jika tari dilombakan. Tapi karya yang dibicarakan, itu bagus. Baik dibicarakan positif maupun negatif, artinya karya itu hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari setiap pembicaraan, bahkan kritik sekalipun, selalu ada nilai pembelajaran bagi seniman. Karya yang menimbulkan diskusi menandakan bahwa karya tersebut meninggalkan kesan bagi penontonnya.

Tradisi, Inovasi, dan Kesadaran Berkarya

Workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda seniman Bali. Dari paparan Dekgeh, peserta memahami bahwa modernitas dan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang bisa memperkaya ekspresi seni selama tidak mengorbankan akar tradisi yang telah membentuk identitas penari Bali.

Usai kegiatan workshop, dua mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Desinta Natalia dan Putu Yeni, turut berbagi kesan dan pandangannya mengenai pengalaman mereka mengikuti kegiatan yang penuh inspirasi tersebut.

Desinta Natalia, mahasiswa asal luar Bali, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian materi oleh I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh). Baginya, mengikuti workshop ini bukan hanya kesempatan untuk belajar tentang seni tari, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya Bali dari perspektif yang lebih dalam.

 “Sebagai mahasiswa dari luar Bali, saya merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Cara Pak Dekgeh menjelaskan bagaimana tradisi dijadikan akar dalam menciptakan karya baru sangat menginspirasi. Saya jadi sadar bahwa untuk bisa berinovasi, kita harus lebih dulu memahami dan menghargai tradisi,” ungkap Desinta dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa melalui workshop ini, pandangannya tentang tari kontemporer menjadi lebih terbuka.

 “Dulu saya pikir tari kontemporer itu harus lepas dari unsur tradisional, tapi ternyata justru dari tradisi lah ide-ide kreatif bisa muncul. Ini membuat saya semakin menghargai kekayaan budaya Bali yang begitu kuat menjaga jati diri,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Yeni, mahasiswa asal Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, menyoroti pentingnya keseimbangan antara tradisi dan teknologi dalam perkembangan seni pertunjukan masa kini.

“Saya belajar bahwa teknologi memang bisa memperkuat penyajian karya tari, tapi esensinya tetap pada tubuh penari. Gerak tubuh adalah bahasa utama yang membawa pesan kepada penonton,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa workshop ini memberikan ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami proses kreatif secara lebih mendalam.

 “Kegiatan seperti ini bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengajarkan makna. Saya merasa lebih menghargai setiap proses yang dijalani seorang penari untuk melahirkan karya,” tutur Putu Yeni dengan penuh rasa syukur.

Bagi keduanya, workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” menjadi pengalaman berharga yang memperkaya pandangan mereka tentang seni dan budaya. Tradisi, bagi mereka, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus menuntun seniman muda menuju masa depan yang kreatif dan bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: tari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Next Post

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co