24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
October 29, 2025
in Khas
Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Dekgeh

SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir dalam Workshop Seni Tari bertema “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer”, hasil kolaborasi antara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja dan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini menghadirkan I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang akrab disapa Dekgeh, sebagai narasumber utama. Workshop dipandu oleh I Gusti Made Putra, yang dikenal pula sebagai Gung Ade Dalang, dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Tradisi Sebagai Akar yang Tak Tergantikan

Dalam sesi dialog, moderator membuka pembicaraan dengan pertanyaan seputar perpaduan antara gerak tari tradisi Bali Utara yang dikenal tegas dan penuh energi dengan eksperimen tari kontemporer yang lebih bebas. Pertanyaan tersebut dijawab Dekgeh dengan nada penuh keyakinan bahwa kekuatan utama dalam berkarya justru terletak pada akar tradisi itu sendiri.

 “Dengan akar tradisi yang kuat dan energik, saya justru berinovasi melahirkan karya-karya baru yang tetap berpijak pada gerak tradisi. Tradisi itu bukan batasan, melainkan sumber kekuatan,” ujar Dekgeh.

Dekgeh (nomor dua kari kanan)

Ia menegaskan, hampir semua karya yang ia ciptakan berangkat dari gerak tradisi Bali yang kemudian dikembangkan dan dikreasikan tanpa kehilangan identitasnya. Bagi Dekgeh, tubuh penari Bali telah membawa karakter khas yang tidak bisa digantikan oleh gaya modern mana pun.

 “Jangan berasumsi bahwa tari kontemporer berarti menghilangkan tubuh tradisi kita. Justru tubuh tradisi itu menjadi pondasi utama dalam menciptakan karya baru,” tambahnya dengan tegas.

Melebur, Bukan Melepas Tradisi

Ketika ditanya apakah proses kreatifnya bisa melompat jauh hingga keluar dari tradisi, Dekgeh menegaskan bahwa karya eksperimental memang bisa “melebar,” tetapi tidak sepenuhnya terlepas dari akar budaya.

 “Karya bisa saja melompat jauh, keluar dari bentuk tradisi, tetapi tidak sampai lepas 100%. Tradisi tetap menjadi dasar yang kuat,” katanya.

Moderator kemudian menyinggung karakteristik tari Bali Utara yang penuh stilisasi dan spirit kekuatan tubuh, dan Dekgeh pun mengangguk sambil tersenyum. Ia mengakui bahwa ciri khas itu melekat kuat pada karya-karyanya, bahkan saat ia bereksperimen di ranah kontemporer.

Antara Teknologi dan Tubuh Penari

Salah satu bagian menarik dalam diskusi adalah ketika pembicaraan mengarah pada pengaruh teknologi dan gaya modern terhadap dunia tari masa kini. Dekgeh dengan jujur mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting, tetapi harus digunakan secara proporsional.

“Teknologi memang memengaruhi karya tari masa kini, tapi saya lebih percaya pada kekuatan tubuh penari. Teknologi hanya sebagai pelengkap, misalnya permainan lighting agar sesuai dengan tema,” jelasnya.

Ia juga membagikan pengalamannya  tentang karya ” I La Galigo.” Pertunjukan yang diadaptasi dari epos Bugis dan Luu itu menggunakan ribuan lampu, layar, dan efek visual. Namun, menurut Dekgeh, semua teknologi tersebut bukan untuk menutupi tubuh penari, melainkan untuk memperkuat narasi dan emosi karya.

Karya yang Dibicarakan Adalah Karya yang Hidup

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Kadek Swanjaya, mahasiswa Prodi Seni Budaya IAHN Mpu Kuturan Singaraja, mengajukan pertanyaan menarik: apakah sebuah karya tari yang banyak dibicarakan baik secara positif maupun negatif dapat disebut sebagai karya yang baik?

Dekgeh menjawab dengan reflektif dan rendah hati.

Dekgeh

“Sebagai pelaku seni, saya pribadi tidak terlalu senang jika tari dilombakan. Tapi karya yang dibicarakan, itu bagus. Baik dibicarakan positif maupun negatif, artinya karya itu hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari setiap pembicaraan, bahkan kritik sekalipun, selalu ada nilai pembelajaran bagi seniman. Karya yang menimbulkan diskusi menandakan bahwa karya tersebut meninggalkan kesan bagi penontonnya.

Tradisi, Inovasi, dan Kesadaran Berkarya

Workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda seniman Bali. Dari paparan Dekgeh, peserta memahami bahwa modernitas dan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang bisa memperkaya ekspresi seni selama tidak mengorbankan akar tradisi yang telah membentuk identitas penari Bali.

Usai kegiatan workshop, dua mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Desinta Natalia dan Putu Yeni, turut berbagi kesan dan pandangannya mengenai pengalaman mereka mengikuti kegiatan yang penuh inspirasi tersebut.

Desinta Natalia, mahasiswa asal luar Bali, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian materi oleh I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh). Baginya, mengikuti workshop ini bukan hanya kesempatan untuk belajar tentang seni tari, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya Bali dari perspektif yang lebih dalam.

 “Sebagai mahasiswa dari luar Bali, saya merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Cara Pak Dekgeh menjelaskan bagaimana tradisi dijadikan akar dalam menciptakan karya baru sangat menginspirasi. Saya jadi sadar bahwa untuk bisa berinovasi, kita harus lebih dulu memahami dan menghargai tradisi,” ungkap Desinta dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa melalui workshop ini, pandangannya tentang tari kontemporer menjadi lebih terbuka.

 “Dulu saya pikir tari kontemporer itu harus lepas dari unsur tradisional, tapi ternyata justru dari tradisi lah ide-ide kreatif bisa muncul. Ini membuat saya semakin menghargai kekayaan budaya Bali yang begitu kuat menjaga jati diri,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Yeni, mahasiswa asal Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, menyoroti pentingnya keseimbangan antara tradisi dan teknologi dalam perkembangan seni pertunjukan masa kini.

“Saya belajar bahwa teknologi memang bisa memperkuat penyajian karya tari, tapi esensinya tetap pada tubuh penari. Gerak tubuh adalah bahasa utama yang membawa pesan kepada penonton,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa workshop ini memberikan ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami proses kreatif secara lebih mendalam.

 “Kegiatan seperti ini bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengajarkan makna. Saya merasa lebih menghargai setiap proses yang dijalani seorang penari untuk melahirkan karya,” tutur Putu Yeni dengan penuh rasa syukur.

Bagi keduanya, workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” menjadi pengalaman berharga yang memperkaya pandangan mereka tentang seni dan budaya. Tradisi, bagi mereka, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus menuntun seniman muda menuju masa depan yang kreatif dan bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: tari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Next Post

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co