2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Maria Frangela Suriti Sangu by Maria Frangela Suriti Sangu
October 29, 2025
in Khas
Menjaga Tubuh Tradisi di Ruang Kontemporer: I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh) dalam Workshop Tari di Buleleng

Dekgeh

SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir dalam Workshop Seni Tari bertema “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer”, hasil kolaborasi antara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja dan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini menghadirkan I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang akrab disapa Dekgeh, sebagai narasumber utama. Workshop dipandu oleh I Gusti Made Putra, yang dikenal pula sebagai Gung Ade Dalang, dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Tradisi Sebagai Akar yang Tak Tergantikan

Dalam sesi dialog, moderator membuka pembicaraan dengan pertanyaan seputar perpaduan antara gerak tari tradisi Bali Utara yang dikenal tegas dan penuh energi dengan eksperimen tari kontemporer yang lebih bebas. Pertanyaan tersebut dijawab Dekgeh dengan nada penuh keyakinan bahwa kekuatan utama dalam berkarya justru terletak pada akar tradisi itu sendiri.

 “Dengan akar tradisi yang kuat dan energik, saya justru berinovasi melahirkan karya-karya baru yang tetap berpijak pada gerak tradisi. Tradisi itu bukan batasan, melainkan sumber kekuatan,” ujar Dekgeh.

Dekgeh (nomor dua kari kanan)

Ia menegaskan, hampir semua karya yang ia ciptakan berangkat dari gerak tradisi Bali yang kemudian dikembangkan dan dikreasikan tanpa kehilangan identitasnya. Bagi Dekgeh, tubuh penari Bali telah membawa karakter khas yang tidak bisa digantikan oleh gaya modern mana pun.

 “Jangan berasumsi bahwa tari kontemporer berarti menghilangkan tubuh tradisi kita. Justru tubuh tradisi itu menjadi pondasi utama dalam menciptakan karya baru,” tambahnya dengan tegas.

Melebur, Bukan Melepas Tradisi

Ketika ditanya apakah proses kreatifnya bisa melompat jauh hingga keluar dari tradisi, Dekgeh menegaskan bahwa karya eksperimental memang bisa “melebar,” tetapi tidak sepenuhnya terlepas dari akar budaya.

 “Karya bisa saja melompat jauh, keluar dari bentuk tradisi, tetapi tidak sampai lepas 100%. Tradisi tetap menjadi dasar yang kuat,” katanya.

Moderator kemudian menyinggung karakteristik tari Bali Utara yang penuh stilisasi dan spirit kekuatan tubuh, dan Dekgeh pun mengangguk sambil tersenyum. Ia mengakui bahwa ciri khas itu melekat kuat pada karya-karyanya, bahkan saat ia bereksperimen di ranah kontemporer.

Antara Teknologi dan Tubuh Penari

Salah satu bagian menarik dalam diskusi adalah ketika pembicaraan mengarah pada pengaruh teknologi dan gaya modern terhadap dunia tari masa kini. Dekgeh dengan jujur mengakui bahwa teknologi memiliki peran penting, tetapi harus digunakan secara proporsional.

“Teknologi memang memengaruhi karya tari masa kini, tapi saya lebih percaya pada kekuatan tubuh penari. Teknologi hanya sebagai pelengkap, misalnya permainan lighting agar sesuai dengan tema,” jelasnya.

Ia juga membagikan pengalamannya  tentang karya ” I La Galigo.” Pertunjukan yang diadaptasi dari epos Bugis dan Luu itu menggunakan ribuan lampu, layar, dan efek visual. Namun, menurut Dekgeh, semua teknologi tersebut bukan untuk menutupi tubuh penari, melainkan untuk memperkuat narasi dan emosi karya.

Karya yang Dibicarakan Adalah Karya yang Hidup

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Kadek Swanjaya, mahasiswa Prodi Seni Budaya IAHN Mpu Kuturan Singaraja, mengajukan pertanyaan menarik: apakah sebuah karya tari yang banyak dibicarakan baik secara positif maupun negatif dapat disebut sebagai karya yang baik?

Dekgeh menjawab dengan reflektif dan rendah hati.

Dekgeh

“Sebagai pelaku seni, saya pribadi tidak terlalu senang jika tari dilombakan. Tapi karya yang dibicarakan, itu bagus. Baik dibicarakan positif maupun negatif, artinya karya itu hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari setiap pembicaraan, bahkan kritik sekalipun, selalu ada nilai pembelajaran bagi seniman. Karya yang menimbulkan diskusi menandakan bahwa karya tersebut meninggalkan kesan bagi penontonnya.

Tradisi, Inovasi, dan Kesadaran Berkarya

Workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda seniman Bali. Dari paparan Dekgeh, peserta memahami bahwa modernitas dan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang bisa memperkaya ekspresi seni selama tidak mengorbankan akar tradisi yang telah membentuk identitas penari Bali.

Usai kegiatan workshop, dua mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Desinta Natalia dan Putu Yeni, turut berbagi kesan dan pandangannya mengenai pengalaman mereka mengikuti kegiatan yang penuh inspirasi tersebut.

Desinta Natalia, mahasiswa asal luar Bali, mengaku sangat terkesan dengan penyampaian materi oleh I Made Tegeh Okta Maheri (Dekgeh). Baginya, mengikuti workshop ini bukan hanya kesempatan untuk belajar tentang seni tari, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya Bali dari perspektif yang lebih dalam.

 “Sebagai mahasiswa dari luar Bali, saya merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Cara Pak Dekgeh menjelaskan bagaimana tradisi dijadikan akar dalam menciptakan karya baru sangat menginspirasi. Saya jadi sadar bahwa untuk bisa berinovasi, kita harus lebih dulu memahami dan menghargai tradisi,” ungkap Desinta dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa melalui workshop ini, pandangannya tentang tari kontemporer menjadi lebih terbuka.

 “Dulu saya pikir tari kontemporer itu harus lepas dari unsur tradisional, tapi ternyata justru dari tradisi lah ide-ide kreatif bisa muncul. Ini membuat saya semakin menghargai kekayaan budaya Bali yang begitu kuat menjaga jati diri,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Yeni, mahasiswa asal Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, menyoroti pentingnya keseimbangan antara tradisi dan teknologi dalam perkembangan seni pertunjukan masa kini.

“Saya belajar bahwa teknologi memang bisa memperkuat penyajian karya tari, tapi esensinya tetap pada tubuh penari. Gerak tubuh adalah bahasa utama yang membawa pesan kepada penonton,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa workshop ini memberikan ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami proses kreatif secara lebih mendalam.

 “Kegiatan seperti ini bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengajarkan makna. Saya merasa lebih menghargai setiap proses yang dijalani seorang penari untuk melahirkan karya,” tutur Putu Yeni dengan penuh rasa syukur.

Bagi keduanya, workshop “Jelajah Gerak Tari Menuju Ruang Kontemporer” menjadi pengalaman berharga yang memperkaya pandangan mereka tentang seni dan budaya. Tradisi, bagi mereka, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus menuntun seniman muda menuju masa depan yang kreatif dan bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole

Tags: tari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Next Post

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Maria Frangela Suriti Sangu

Maria Frangela Suriti Sangu

Lahir di Semang, NTT, tahun 2001. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani dari Badung: Dulu Tak Suka Tampil, Kini Juara Dharmawacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co