13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulu Petanu Waterfall: Permata Tersembunyi di Jantung Kota Gianyar

Ni Komang Deviana by Ni Komang Deviana
October 28, 2025
in Tualang
Ulu Petanu Waterfall: Permata Tersembunyi di Jantung Kota Gianyar

Ulu Petanu Waterfall | Foto: Deviana

APA yang dicari pertama kali dalam sebuah perjalanan ke Bali? Pantai? Barangkali pusat perbelanjaan yang ramai? Atau program yoga di Ubud yang menenangkan pikiran? Barangkali itu benar, namun bagi jiwa-jiwa yang ingin melarikan diri dari hiruk pikuk kota, alam selalu menyajikan tawaran yang tak bisa ditolak. Ada tempat bagi pelarian sunyi yang mampu menyejukkan pikiran, namanya Ulu Petanu Waterfall.

Ulu Petanu Waterfall, yang berlokasi di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, adalah sebuah permata yang tersembunyi, dikenal karena keindahan alamnya yang asri dan suasananya yang menenangkan. Air terjun ini merupakan salah satu air terjun yang indah di Bali, yang dikelilingi oleh hutan lebat dan vegetasi hijau, menjadikannya sebagai tempat ideal bagi para pencinta alam dan mereka yang mencari ketenangan.

Ini berawal dari keinginan saya untuk mencari tempat yang tidak terlalu ramai, sebuah pesan panjang dari batin yang ingin “melukat” atau menyucikan diri di air jernih, membuat saya seperti seorang petualang yang menemukan peta harta karun. Kurang lebih petunjuknya berisi lokasi air terjun yang konon menyimpan nilai spiritual dan sejarah, dan ditambah cerita dari teman yang mengatakan bahwa tempat ini masih ‘terawat baik’ dari keramaian wisata massal.

Sebagai seorang yang baru-baru ini mengenal healing dan gemar mendengarkan gemericik air, serta ilmu fotografi yang tak seberapa, saya merasa punya cukup kapasitas untuk mengabadikan keindahan alam pada perjalanan kali ini. Saya hanya takut foto-foto saya tidak dapat menangkap keseluruhan pesona air terjun ini, namun label “pemburu ketenangan” seakan menghantui dan perlu pertanggungjawaban dalam menghadapi tantangan menuruni anak tangga menuju daya tarik utamanya yakni jernihnya air terjun Ulu Petanu Waterfall.

Ulu Petanu Waterfall sendiri terletak di Manik Sawang, Jalan Raya Bayad, Kedisan, Kecamatan Tegallalang, dan lokasinya hanya sekitar 10 menit dari Tegalalang Rice Terraces dan 5 menit dari Pura Tirta Empul.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 10 hingga 15 meter, dengan aliran air yang kuat dan suara yang menenangkan, sehingga menciptakan suasana yang memukau. Sehari sebelum perjalanan, saya sama sekali belum terpikirkan akan mendapat pengalaman seperti apa.

Malam-malam, saya teringat tentang mata kuliah pariwisata budaya dan heritage yang sudah ditempuh semester lalu. Bergegas saya menyiapkan kamera, handuk kecil, dan bekal air minum. Selain itu, ada juga uang tunai sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000 untuk biaya masuk, sebagai bentuk apresiasi untuk masyarakat lokal yang menjaga permata tersembunyi ini. Saya berpikir akan menikmati air terjun ini dengan metode menyatu dengan alam.

Di pagi yang sedikit sejuk, hari menuju Ulu Petanu, giliran saya. Air terjun ini menawarkan pesona yang indah dengan air yang jernih, yang mengalir deras membentuk kolam alami di bawahnya, sempurna untuk berendam atau berenang di tengah udara yang sejuk dan segar. Katanya, suasana disini sangat tenang, dikelilingi oleh bebatuan besar, hutan yang lebat dan ini membuat senyum agak merekah.

“Ada wisatawan yang datang pukul delapan pagi, karena banyak yang kesini untuk mencari ketenangan, jadi memang harus datang lebih awal, sehingga dapat menikmati suasana yang lebih sejuk dan menghindari keramaian,” ujar salah seorang staff sembari membenarkan topinya.

Penuturan ini membuat hati semakin bersemangat. Saya yakin air terjun “Ulu Petanu” yang akan saya jelajahi dapat menstimulasi keinginan saya untuk berfoto dan beristirahat sejenak disini.

Dengan berjalan menuruni sekitar 90 anak tangga yang dilengkapi pegangan tangan, saya memasuki area air terjun dengan sedikit kagum. Sudah lama saya tidak memasuki kawasan air terjun yang masih terasa sangat alami.

“Siapa yang mau berendam di air yang jernih ini?” tanya hati saya.

Sontak pikiran itu seperti menemukan ide baru, dengan kompak saya langsung menyiapkan dry bag dan baju ganti penuh semangat. Ada banyak spot yang berkenan menjadi latar belakang foto. Mulai dari jembatan kayu, batu-batu besar di sekitar air terjun, hingga pemandangan tebing alami dan pepohonan hijau yang subur.

Perjalanan diawali dengan menikmati gemericik air yang menenangkan, hingga melakukan swafoto dengan latar belakang air terjun. Di tengah kegiatan saya selipkan waktu untuk berendam dan healing di alam terbuka, sampai pikiran terasa lebih rileks dan menemukan ketenangan batin. Menurut teori fotografi, pencahayaan terbaik adalah saat matahari terbit antara pukul 7 hingga 10 pagi, dan melihat objek air terjun yang memukau dapat menstimulasi hasrat untuk mengabadikan momen, sesuai dengan keinginan saya di awal.

Kegiatan ditutup dengan berendam di kolam alami. Ya, lagi-lagi berendam karena sesejuk itu. Seperti yang dikatakan seorang pemandu wisata lokal, bahwa menikmati air terjun itu 90 persen berendam dan hanya 10 persennya berfoto, maka untuk memenuhi inner child saya, saya mengajak diri ini untuk merasakan air yang dingin dan menyegarkan.

Tempat ini tergolong mampu untuk memanjakan mata, namun untuk menjangkaunya, wisatawan lain harus melalui jalan setapak yang menantang. Pertama, perlu sepatu yang nyaman untuk trekking. Kedua, perlu pakaian ganti dan perlengkapan pribadi. Ketiga, yang paling menjadi keharusan adalah menjaga kebersihan agar keasrian alam di sana tetap lestari.

Lagi pula, pengalaman ini masih belum rampung. Cerita ini masih akan terus berlanjut sampai saya datang lagi ke tempat tersebut dan melihat keindahan yang tak lekang oleh waktu. Ketenangan tidak dapat dilakukan dalam semalam. Ini perihal menyatu dengan alam. Salam wisata. Semoga alam Bali selalu lestari. [T]

Penulis: Komang Deviana
Editor: Adnyana Ole

Tags: air terjunAir Terjun Ulu PetanuGianyarpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

28 Oktober 2025 : Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Next Post

Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

Ni Komang Deviana

Ni Komang Deviana

Ni Komang Deviana, S.Par., seorang individu yang melihat pertama kali sinar matahari pada tanggal 8 Desember 1999 di Kabupaten Gianyar Melalui perjalanan pendidikan yang penuh lika-liku, ia menyelesaikan pendidikan terakhir yakni S1 Pariwisata Budaya dan Keagamaan di STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Selain menjadi karyawan swasta, saat ini masih aktif bergerak dalam dunia organisasi kepemudaan dan relawan sosial. Bisa saling terhubung dengannya melalui instagram @nkadeviana

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co