23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulu Petanu Waterfall: Permata Tersembunyi di Jantung Kota Gianyar

Ni Komang Deviana by Ni Komang Deviana
October 28, 2025
in Tualang
Ulu Petanu Waterfall: Permata Tersembunyi di Jantung Kota Gianyar

Ulu Petanu Waterfall | Foto: Deviana

APA yang dicari pertama kali dalam sebuah perjalanan ke Bali? Pantai? Barangkali pusat perbelanjaan yang ramai? Atau program yoga di Ubud yang menenangkan pikiran? Barangkali itu benar, namun bagi jiwa-jiwa yang ingin melarikan diri dari hiruk pikuk kota, alam selalu menyajikan tawaran yang tak bisa ditolak. Ada tempat bagi pelarian sunyi yang mampu menyejukkan pikiran, namanya Ulu Petanu Waterfall.

Ulu Petanu Waterfall, yang berlokasi di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, adalah sebuah permata yang tersembunyi, dikenal karena keindahan alamnya yang asri dan suasananya yang menenangkan. Air terjun ini merupakan salah satu air terjun yang indah di Bali, yang dikelilingi oleh hutan lebat dan vegetasi hijau, menjadikannya sebagai tempat ideal bagi para pencinta alam dan mereka yang mencari ketenangan.

Ini berawal dari keinginan saya untuk mencari tempat yang tidak terlalu ramai, sebuah pesan panjang dari batin yang ingin “melukat” atau menyucikan diri di air jernih, membuat saya seperti seorang petualang yang menemukan peta harta karun. Kurang lebih petunjuknya berisi lokasi air terjun yang konon menyimpan nilai spiritual dan sejarah, dan ditambah cerita dari teman yang mengatakan bahwa tempat ini masih ‘terawat baik’ dari keramaian wisata massal.

Sebagai seorang yang baru-baru ini mengenal healing dan gemar mendengarkan gemericik air, serta ilmu fotografi yang tak seberapa, saya merasa punya cukup kapasitas untuk mengabadikan keindahan alam pada perjalanan kali ini. Saya hanya takut foto-foto saya tidak dapat menangkap keseluruhan pesona air terjun ini, namun label “pemburu ketenangan” seakan menghantui dan perlu pertanggungjawaban dalam menghadapi tantangan menuruni anak tangga menuju daya tarik utamanya yakni jernihnya air terjun Ulu Petanu Waterfall.

Ulu Petanu Waterfall sendiri terletak di Manik Sawang, Jalan Raya Bayad, Kedisan, Kecamatan Tegallalang, dan lokasinya hanya sekitar 10 menit dari Tegalalang Rice Terraces dan 5 menit dari Pura Tirta Empul.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 10 hingga 15 meter, dengan aliran air yang kuat dan suara yang menenangkan, sehingga menciptakan suasana yang memukau. Sehari sebelum perjalanan, saya sama sekali belum terpikirkan akan mendapat pengalaman seperti apa.

Malam-malam, saya teringat tentang mata kuliah pariwisata budaya dan heritage yang sudah ditempuh semester lalu. Bergegas saya menyiapkan kamera, handuk kecil, dan bekal air minum. Selain itu, ada juga uang tunai sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000 untuk biaya masuk, sebagai bentuk apresiasi untuk masyarakat lokal yang menjaga permata tersembunyi ini. Saya berpikir akan menikmati air terjun ini dengan metode menyatu dengan alam.

Di pagi yang sedikit sejuk, hari menuju Ulu Petanu, giliran saya. Air terjun ini menawarkan pesona yang indah dengan air yang jernih, yang mengalir deras membentuk kolam alami di bawahnya, sempurna untuk berendam atau berenang di tengah udara yang sejuk dan segar. Katanya, suasana disini sangat tenang, dikelilingi oleh bebatuan besar, hutan yang lebat dan ini membuat senyum agak merekah.

“Ada wisatawan yang datang pukul delapan pagi, karena banyak yang kesini untuk mencari ketenangan, jadi memang harus datang lebih awal, sehingga dapat menikmati suasana yang lebih sejuk dan menghindari keramaian,” ujar salah seorang staff sembari membenarkan topinya.

Penuturan ini membuat hati semakin bersemangat. Saya yakin air terjun “Ulu Petanu” yang akan saya jelajahi dapat menstimulasi keinginan saya untuk berfoto dan beristirahat sejenak disini.

Dengan berjalan menuruni sekitar 90 anak tangga yang dilengkapi pegangan tangan, saya memasuki area air terjun dengan sedikit kagum. Sudah lama saya tidak memasuki kawasan air terjun yang masih terasa sangat alami.

“Siapa yang mau berendam di air yang jernih ini?” tanya hati saya.

Sontak pikiran itu seperti menemukan ide baru, dengan kompak saya langsung menyiapkan dry bag dan baju ganti penuh semangat. Ada banyak spot yang berkenan menjadi latar belakang foto. Mulai dari jembatan kayu, batu-batu besar di sekitar air terjun, hingga pemandangan tebing alami dan pepohonan hijau yang subur.

Perjalanan diawali dengan menikmati gemericik air yang menenangkan, hingga melakukan swafoto dengan latar belakang air terjun. Di tengah kegiatan saya selipkan waktu untuk berendam dan healing di alam terbuka, sampai pikiran terasa lebih rileks dan menemukan ketenangan batin. Menurut teori fotografi, pencahayaan terbaik adalah saat matahari terbit antara pukul 7 hingga 10 pagi, dan melihat objek air terjun yang memukau dapat menstimulasi hasrat untuk mengabadikan momen, sesuai dengan keinginan saya di awal.

Kegiatan ditutup dengan berendam di kolam alami. Ya, lagi-lagi berendam karena sesejuk itu. Seperti yang dikatakan seorang pemandu wisata lokal, bahwa menikmati air terjun itu 90 persen berendam dan hanya 10 persennya berfoto, maka untuk memenuhi inner child saya, saya mengajak diri ini untuk merasakan air yang dingin dan menyegarkan.

Tempat ini tergolong mampu untuk memanjakan mata, namun untuk menjangkaunya, wisatawan lain harus melalui jalan setapak yang menantang. Pertama, perlu sepatu yang nyaman untuk trekking. Kedua, perlu pakaian ganti dan perlengkapan pribadi. Ketiga, yang paling menjadi keharusan adalah menjaga kebersihan agar keasrian alam di sana tetap lestari.

Lagi pula, pengalaman ini masih belum rampung. Cerita ini masih akan terus berlanjut sampai saya datang lagi ke tempat tersebut dan melihat keindahan yang tak lekang oleh waktu. Ketenangan tidak dapat dilakukan dalam semalam. Ini perihal menyatu dengan alam. Salam wisata. Semoga alam Bali selalu lestari. [T]

Penulis: Komang Deviana
Editor: Adnyana Ole

Tags: air terjunAir Terjun Ulu PetanuGianyarpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

28 Oktober 2025 : Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Next Post

Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

Ni Komang Deviana

Ni Komang Deviana

Ni Komang Deviana, S.Par., seorang individu yang melihat pertama kali sinar matahari pada tanggal 8 Desember 1999 di Kabupaten Gianyar Melalui perjalanan pendidikan yang penuh lika-liku, ia menyelesaikan pendidikan terakhir yakni S1 Pariwisata Budaya dan Keagamaan di STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Selain menjadi karyawan swasta, saat ini masih aktif bergerak dalam dunia organisasi kepemudaan dan relawan sosial. Bisa saling terhubung dengannya melalui instagram @nkadeviana

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co