12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ETC BOOK FORUM 2025: Ruang Pertemuan Buku, Wacana, dan Komunitas di Denpasar

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 23, 2025
in Khas
ETC BOOK FORUM 2025: Ruang Pertemuan Buku, Wacana, dan Komunitas di Denpasar

Foto dokumentasi ETC Book Forum

SABTU menjelang siang, 18 Oktober 2025, hiruk-pikuk Denpasar berjalan seperti biasa—jalanan yang padat dan udara yang panas. Di lantai 2 Graha Yowana Suci, beberapa orang tampak berdatangan, sementara di sudut lain meja-meja mulai dipenuhi tumpukan zine, komik, dan buku. Udara bercampur aroma kertas, kopi, dan suara orang yang baru pertama kali berkenalan.

Ini semacam ruang pertemuan, sebuah forum yang dinamai ETC Book Forum 2025 yang diinisiasi oleh Partikular, dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Penguatan Komunitas Sastra 2025. Acara ini digagas sebagai wadah dialog dan tukar pikiran bagi penulis, penerbit, pembaca, ilustrator, akademisi, serta siapa pun yang suka dengan buku, zine, komik, seni cetak dan bentuk publikasi lainnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Mahendra, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, bahwa program Penguatan Komunitas Sastra ini adalah upaya untuk menjembatani antara karya sastra dengan pembaca. Karena selama ini, diseminasi buku sastra masih belum optimal. Komunitas sastra berperan sebagai ujung tombak yang akan menyebarluaskan karya sastra, dengan cara mendiskusikannya dan mengalihwahanakannya.

ETC Book Forum sengaja diformat seperti sebuah forum sederhana, tempat pertemuan untuk bertukar pikiran secara bebas dan hangat.

“Nggak apa-apa kecil, tapi yang didiskusikan dan dipelajari dalamnya intim,” ungkap Juli Sastrawan pendiri Partikular sekaligus inisiator ETC Book Forum.

Foto dokumentasi ETC Book Forum

Begitu tiba, pengunjung langsung disambut bazar buku, seni cetak, zines dan lain sebagainya. Para pelapak yang hadir antara lain Florto Studio, There But for The Books, Jahebiru, Umah Yuma, Gembira Enterprise, Comicotopia, Partikular, Baca Komik Lokal, Huruf Biru x Toko Buku Rabu, dan Tektonik Records.

Zine—publikasi independen yang dicetak dalam jumlah kecil—yang biasanya hanya muncul di acara-acara gigs musik, tapi di forum ini zine berjejer bersama buku-buku sastra, begitu pun dengan komik, seni cetak dan bentuk publikasi lainnya. Forum yang jarang dijumpai di Bali.

Orang yang datang ke forum ini kecil kemungkinan untuk jajan makanan, melainkan akan tergoda untuk jajan zine, komik, buku, poster cetak dan stiker. 

Lagi pula semua sesi di ETC Book Forum  ini gratis dan terbuka untuk umum—dan itu sudah cukup menjelaskan mengapa di lantai 2 Graha Yowana Suci, depan Toko Buku Partikular, ruangan cepat sekali penuh. Apalagi yang hadir bukan hanya penyuka buku, tapi para pegiat seni cetak lainnya.

DISKUSI MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA

Sekitar pukul setengah sebelas, sesi pertama dimulai. Diskusi berjudul “Menilai Buku dari Sampulnya: Cerita-Cerita tentang Mencipta Sampul Buku.”

Di depan stage, Ndari Sukutangan dan Juli Sastrawan sudah duduk berdampingan di atas kursi. Ndari Sukutangan adalah ilustrator dan desainer dari duo studio Sukutangan. Ndari berbagi pengalaman tentang riset, interpretasi narasi, dan upaya mengubah ide kompleks menjadi visual yang memikat, termasuk kisah di balik beberapa karya mereka yang pernah menerima penghargaan maupun yang gagal.

Foto dokumentasi ETC Book Forum


Kita sering mendengar ungkapan “jangan menilai buku dari sampulnya,” walaupun sejujurnya, kita semua pernah melakukannya. Sampul memang seperti wajah dari sebuah buku. Menjadi alat komunikasi visual yang penting dan tak jarang sangat berpengaruh.

 “Sampul buku itu bisa menunjukkan genre buku ini apa, isi buku ini juga bercerita tentang apa,” ujar Ndari saat sesi diskusi. Bagi saya, kalimat itu seperti menegaskan bahwa setiap gambar di halaman depan adalah pintu menuju teks yang lebih dalam.

Ndari juga sempat mengungkapkan ia sering mendapat revisi berkali-kali dalam membuat sampul buku. Menunjukkan bahwa membuat sampul buku bukan hal yang sepele, penuh perhitungan dan keterikatan dengan teks dalam isi naskah bukunya.

LOKAKARYA MENGULAS SASTRA UNTUK SOSIAL MEDIA

Menjelang siang, forum beralih ke lokakarya bersama Laksmi Mutiara, bookstagrammer dari akun @rasi.buku. Judul Lokakaryanya adalah “Mengulas Sastra untuk Sosial Media: Mengubah Hobi Baca Jadi Konten yang Menarik.”

Sekitar lima puluh lebih peserta dari berbagai latar belakang mengikuti lokakarya ini. Saya memilih duduk di bean bag di bagian depan, lebih santai dan lebih bisa fokus. Sebagian peserta telah menyiapkan buku catatan kecil, sebagian lagi menyiapkan kamera ponsel—untuk story ig sepertinya.

Foto dokumentasi ETC Book Forum

Laksmi memulai lokakarya dengan membagikan sebuah penelitian dari Bronwen Thomas, tentang pengaruh bookstagram di media sosial. Dalam penelitian itu bookstagrammer atau orang yang membuat konten buku bisa menentukan arah bacaan publik lewat konten-konten yang mereka buat.

Saat ini memang banyak orang yang suka mencari rekomendasi bacaan lewat internet,  apalagi kini dengan kemunculan bookstagram mereka tingga mengikuti akunnya dan bisa mendapat rekomendasi bacaan setaip hari.

“Kini, yang bisa menentukan buku bagus itu bisa datang dari para bookstagrammer di media sosial” ujar Laksmi. Ia melanjutkan pemaparannya tentang bagaimana menjadi booksstagrammer yang serius. Ia kemudian membagikan cara sederhana menulis ulasan buku di blog dan merubah tulisan review buku menjadi konten di instagram.

Saya melihat beberapa peserta langsung mencoba menulis caption di catatan ponsel, sambil memotret buku yang baru mereka dapatkan dari panitia. Barangkali di tangan-tangan itulah nanti lahir generasi pembaca baru yang juga pembicara kritis di ruang digital.

DISKUSI BUKU-BUKU YANG MENARIK DEWAN JURI

Menjelang sore hari, giliran Oka Rusmini berbicara dalam diskusi “Buku-Buku yang Menarik Dewan Juri”, dimoderatori oleh Iin Valentine.

Sebagai sastrawan yang telah lama menjadi juri di berbagai penghargaan sastra, Oka menuturkan pengalaman menilai ratusan naskah dari berbagai penjuru Indonesia. Ia tak memberikan “resep” menulis karya pemenang, tapi justru menekankan kesegaran topik atau cara isu itu disampaikan.

Foto dokumentasi ETC Book Forum

“Isu tentang kasta dan perempuan bali kan sudah berhenti di Oka Rusminis, saya. Makanya kalau ada yang menulis tentang itu lagi susah untuk menjadi pemenang” ujarnya sambil memperlihatkan gambar buku-bukunya yang masuk Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Selain sebagai Dewan Juri KSK, ia memang dikenal sebagai penulis novel yang berhasil membawa isu tentang perempuan Bali.

Oka melanjutkan dengan bercerita bagaimana proses saat menilai buku Norman Erikson Pasaribu yang berjudul Sergius Mencari Bacchus. Buku itu memenangkan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Jurinya saat itu adalah Oka Rusmini, Joko Pinurbo (almarhum), dan Mikael Johani. Oka sangat merekomendasikan peserta untuk membaca buku itu, melihat bagaimana isu tentang queer disampaikan dengan segar dan bahasa yang bagus.

Selain topik dan isu yang segar, ia juga menyapaikan pentingnya konsistensi dalam menulis, hal itu yang biasanya menjadi perhatian dewa juri juga. Rekam jejak kepenulisan seseorang itu sangat penting.

“Buat apa pernah menulis bagus sekali, terus selanjutnya nggak menulis lagi” katanya.

Penyataan itu menjadi tamparan buat saya yang saat ini sedang jarang menulis. Dan selalu menunda-nunda menulis karena ingin menulis satu tulisan terbaik di dunia.

DISKUSI TENTANG RUANG DAN KOMUNITAS BUKU DI DENPASAR

Diskusi berikutnya membahas “Tentang Ruang dan Komunitas Buku di Denpasar” bersama Eko Dananjaya dari BKRAF Denpasar dan Ayulia Amanda dari Bali Book Party.

Topiknya sederhana tapi penting, tentang sudah cukupkah ruang bagi komunitas buku di kota ini (Denpasar)? Keduanya berbagi cerita tentang keterbatasan ruang publik dan pentingnya kolaborasi lintas komunitas.

Dari pembicaraan itu, saya teringat betapa rapuhnya ekosistem literasi tanpa ruang yang bisa menampung percakapan dengan aman dan nyaman. Denpasar mungkin punya banyak coffee shop dan ruang publik, tapi tak semuanya bisa jadi pilihan. Kadang harga sewa tempat dan izin yang ribet. Akan tetapi Forum seperti ETC Book Forum memberi contoh konkret, bahwa ruang bisa dihidupkan hanya dengan niat untuk berkumpul.

TEATRIKALISASI PUISI

Menjelang malam, suasana berganti—kursi-kursi digeser ke pinggir dan di tengah panggung disediakan proyektor. Lampu aula diredupkan, cahaya merah dan kuning mulai menyala. Komunitas Aghumi berjalan ke depan, membawakan teatrikalisasi puisi “Nyawa Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi.

Pertunjukan itu menghadirkan perpaduan gerak, suara, dan puisi yang hening tapi menghantam. Pementasan itu seperti ajakan untuk berhenti sebentar di tengah kesibukan hidup—sejenak, saja. Bahwa hidup ini berat tapi harus dijalani.

Foto dokumentasi ETC Book Forum

Aktornya, memutar-mutar dan membanting kursi juga berkeluh kesah soal tugas perkuliahannya. Beban perkuliahannya seolah membuat ia ingin mati saja. Pertunjukan itu dibawakan dengan memutar rekaman pembacaan puisi “Nyawa Tinggallah Sejenak Lebih Lama” sambil memperlihatkan aktor yang sedang linglung dengan hidup.

MEMUTAR VINYL

Setelahnya pertunjukan soal hidup yang setengah mati dijalani ini, suasana kembali cair. Sam dari Tektonik Records menutup malam dengan musik dari piringan hitam. Lagu-lagu pilihan mengalun di udara, memantul di tembok-tembok, sementara pengunjung berbincang santai, bertukar akun Instagram, atau sekadar duduk menikmati sisa malam.

Saya sempat berjalan di antara lapak-lapak penerbit dan kolektif: Florto Studio, Jahebiru, Comicotopia, Umah Yuma, Huruf Biru x Toko Rabu, hingga Partikular sendiri. Di lapak Jahebiru, ada meja “Puisi On The Spot”—tempat pengunjung bisa meminta puisi langsung ditulis dari kisah mereka. Saya sempat antre, tapi sang penulis sudah keburu lelah. Ternyata penyair juga butuh istirahat. Kami tertawa dan meninggalkan area Graha Yowana Suci untuk menikmati Denpasar yang ramai, kebetulan karena hari itu malam minggu.

ETC Book Forum adalah bukti bahwa dunia buku dan seni cetak di Bali punya harapan. Dari tangan-tangan yang mencetak, menulis, membaca, hingga merancang sampul, semuanya saling terhubung dalam percakapan yang sederhana tapi berharga.

Bagi saya pribadi, pulang dari acara ini seperti terbesit keyakinan bahwa buku dan seni cetak lainnya, seberapa kecil pun ruangnya, masih bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang membuat hidup terasa asik. [T]

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukudenpasarETC Book ForumPenerbit Partikular
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Kekeruyuuuk! — Perayaan bagi Ayam Petelur, Kesejahteraan Hewan, dan Ekosistem Pangan Berkelanjutan

Next Post

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co