5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seekor Anjing Menyerang | Cerpen I Wayan Kuntara

I Wayan Kuntara by I Wayan Kuntara
October 18, 2025
in Cerpen
Seekor Anjing Menyerang | Cerpen I Wayan Kuntara

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PEREMPUAN yang berdiri di atas panggung itu adalah pegawai baru di kantorku. Dia berparas ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang, dan memilki tatapan yang tajam. Semua orang yang melihatnya pasti akan merasa terkagum-kagum. Selain itu, kabarnya perempuan itu adalah perempuan yang pintar, tekun, serta teliti dalam bekerja. Usaha di kantorku saat ini sedang lesu. Bosku berharap, kedatangannya mampu membuat usaha di kantor membaik.

Sorakan dan tepuk tangan tanpa henti diberikan kepada perempuan itu setelah dia selesai memperkenalkan dirinya. Semua orang mengucapkan selamat, semua orang menjabat tangannya. Kecuali aku.

Aku tak ikut bersorak, aku tak ikut tepuk tangan, bahkan aku tak ikut mengucapkan selamat dan menjabat tangannya. Entah mengapa aku tak ingin melakukan itu semua. Aku merasa ada yang mengganjal di hatiku. Aku merasa ada yang aneh, ada yang tidak wajar.

Mungkin perempuan itu tahu apa yang sedang aku rasakan. Karena hanya aku saja yang tak mendekatinya untuk mengucapkan selamat dan menjabat tangannya. Ketika acara telah selesai, dan semua orang hendak kembali ke tempatnya masing-masing, mataku tak sengaja saling pandang dengan mata perempuan itu.

Saat aku menatap matanya dengan seksama, entah kenapa tiba-tiba perempuan yang berparas ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seekor anjing. Anjing yang berbulu lebat, dengan mata yang merah menyala, bergigi dan berkuku tajam, yang selalu menjulurkan lidahnya. Dari lidahnya meneteskan air liur yang berbau busuk. Aku mulai merinding. Seketika aku membuang tatapan mataku yang tadi terpaku pada matanya, dan bergegas pergi dari tempat itu.

Aku bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang membuatku merasa ada yang mengganjal, merasa aneh, dan merasa ada yang tidak wajar? Aku selalu percaya dengan kata hatiku. Dari dulu hingga sekarang kata hatiku tak pernah salah. Tapi, entah mengapa tiba-tiba aku melihat perempuan itu berubah wujud menjadi anjing? Mengapa harus anjing? Hewan yang paling kubenci.

Anjing zaman sekarang tak seperti anjing di zaman dahulu. Dahulu, seekor anjing mampu mengantarkan Panca Pandawa sampai di puncak Gunung Himalaya. Bahkan mampu mengantarkan Yudistira sampai ke surga. Namun, di zaman sekarang, tak ada satu pun anjing seperti itu. Anjing di zaman sekarang hanya bisa buat rusuh, buat onar, buat hancur. Apakah ini adalah suatu pertanda buruk untukku? Atau ini hanya perasaanku saja?

Keesokan harinya, di kantor, aku kembali melihat perempuan itu berubah wujud menjadi anjing. Anjing yang sedang kebingungan. Kesana-kemari dia menggonggong tanpa henti. Semua teman-teman kantor menanyakannya. Katanya, dia kebingungan karena kehilangan namanya. Namanya yang ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang, dan memilki tatapan yang tajam. Dia sudah mencoba mencarinya di bawah meja kerja, di bawah kursi kerja, di setiap sudut kantor, sampai ke tong sampah, tapi tak juga ketemu.

Dia menangis. Namun, yang aku lihat dia seperti anjing yang sedang melolong di malam Jumat Kliwon. Semua teman-teman kantor merasa kasihan. Lalu, agar dia tak sedih lagi, satu persatu teman-teman kantor mmberinya nama. Ada yang memberinya nama Dewi, ada yang memberinya nama Putri, bahkan ada yang memberikannya nama Ratu.

Semua orang memberikan dia nama yang bagus. Aku yang menyaksikannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hatiku berkata, “Semuanya sudah tertipu.”

 Keesokan harinya, aku kembali melihat perempuan itu seperti anjing yang kebingungan. Kali ini dia mengaku kehilangan mukanya. Mukanya yang ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang, dan memilki tatapan yang tajam. Dia sudah mencarinya di bawah meja kerja, di bawah kursi kerja, di setiap sudut kantor, sampai ke tong sampah, tapi tak juga ketemu.

Dia menangis tersedu-sedu. Namun, yang aku lihat dia seperti anjing yang sedang melolong karena kesakitan. Semua teman-teman kantor yang melihatnya merasa iba. Lalu, satu persatu menggambar dimukanya yang kosong itu. Ada yang menggambar matanya, ada yang menggambar bibirnya, ada yang menggambar hidungnya, ada yang menggambar alisnya.

Hingga akhirnya perempuan itu kembali punya muka. Bahkan mukanya yang sekarang lebih cantik dari sebelumnya. Aku yang menonton dari meja kerjaku hanya bisa tersenyum sinis. “Semuanya sudah terjebak,” gumamku.

Hari demi hari terus berlalu. Sekarang perempuan itu sudah memiliki banyak pengikut. Semua teman-teman kantor seakan dibawah kendalinya. Perempuan itu mengajari semua orang bagaimana caranya mengendus, menjilat, menggonggong, melolong, menggigit, hingga menyerang.

Lalu, aku melihat teman-teman kantorku satu persatu berubah wujud menjadi anjing. Anjing yang berbulu lebat, dengan mata yang merah menyala, bergigi dan berkuku tajam, yang selalu menjulurkan lidahnya. Dari lidahnya meneteskan air liur yang berbau busuk.

Semua mata anjing yang merah menyala itu memandangku. Mereka seperti ingin menyerangku, menggigit, dan memakanku mentah-mentah. Aku yang menyadarinya tak lagi berpikir panjang. Aku bergegas bangun dari meja kerjaku dan pergi dari kantor.

***

Suatu hari di kantor, aku berniat mencari tanda tangan bosku untuk melengkapi suatu berkas penting. Namun, belum sempat aku mengetuk pintu ruangan bosku, tiba-tiba pintunya sudah sedikit terbuka. Dari celah pintu yang sedikit terbuka itu aku mengintip. Aku melihat ada seekor anjing yang sedang bersama bosku.

Anjing itu sedang menjilat tubuh bosku. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku melihat raut wajah bosku tampak sangat senang, bahagia, gembira, seperti sedang terbang melayang ke langit ketujuh. Ciri-ciri bosku sudah kena guna-guna anjing itu. Aku berniat untuk menyadarkan bosku dari guna-guna anjing itu, agar dia tak berubah wujud menjadi anjing, seperti teman-teman kantorku. Namun, ketika aku baru selangkah maju, anjing itu tiba-tiba menyadari kehadiranku.

Dia menggonggong dan ingin menggigitku dengan giginya yang tajam. Aku mengurungkan niatku untuk menyadarkan bosku, karena menurutku itu sangat berisiko. Aku lalu segera pergi sebelum anjing itu menyerangku.

Lama-kelamaan aku merasa keadan kantorku semakin aneh . Semua orang sudah berubah wujud menjadi anjing. Kantorku sudah seperti kandang anjing. Yang aku lihat hanyalah anjing. Yang aku dengar hanya suara anjing. Mata mereka semua merah menyala. Ketika aku mencoba sedikit menatapnya, semuanya seperti ingin menggigitku, semuanya seperti ingin menyerangku.

Aku sudah mulai tidak nyaman bekerja. Ada satu waktu aku mencoba menyerah dan ingin mencari pekerjaan lain. Namun, mencari pekerjaan di zaman sekarang sangatlah susah, apalagi ada tanggungan yang harus kupenuhi setiap hari. Aku mengurungkan niatku dan mencoba lebih melawan keadaan.    

***

Suatu hari, hujan tanpa henti membasahi. Matahari enggan menampakkan batang hidungnya. Ia lebih nyaman bersembunyi di balik awan hitam yang menyelimuti langit. Hari itu adalah hari sial bagiku. Dari pagi hingga menjelang sore aku tak bisa keluar kantor.

Aku adalah orang yang paling malas keluar kantor ketika hujan turun. Jadi, aku seharian berada di meja kerjaku. Kebetulan saat itu memang banyak kerjaan yang mesti aku kerjakan. Walaupun keadaan sudah tak lagi kondusif, aku mencoba tenang mengerjakan tugas-tugasku.

Ketika aku sedang serius mengerjakan tugas, tiba-tiba perempuan itu mendekat ke meja kerjaku. Dia tanpa basa-basi mengubah wujudnya menjadi anjing di hadapanku. Anjing yang berbulu lebat, dengan mata yang merah menyala, bergigi dan berkuku tajam, yang selalu menjulurkan lidahnya. Dari lidahnya meneteskan air liur yang berbau busuk. Aku yang merasa terancam segera pergi berlari ke dapur kantor.

Sesampainya di dapur, aku mengambil sebilah pisau untuk berjaga-jaga. Kemudian aku mencari tempat persembunyian yang aman. Tapi, sial, anjing itu tahu tempat persembunyianku. Tanpa basa-basi anjing itu melompat dan menyerangku. Aku tersungkur. Anjing itu mencengkeram tubuhku dengan kuat. Matanya yang merah menyala seakan pertanda bahwa dia sangat membenciku.

Gigi dan kuku-kukunya yang tajam seperti sudah tak sabar ingin menggigit dan merobek-robek tubuhku. Lidahnya yang selalu menjulur dan meneteskan air liurnya pertanda dia seperti sudah tak sabar ingin mencicipi daging-daging tubuhku. Anjing itu menggonggong dan melolong di atas tubuhku.

Aku tak berdaya. Aku tak bisa bergerak akibat tertindih kakinya yang berbulu lebat. Aku semakin susah untuk bernapas. Lama-kelamaan aku mulai merasa lemas. Aku mulai menutup mataku perlahan dan pasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta.

“Kaiiiing…. Kaiiing… Kaiiing….!”

Baru sekejap aku memejamkan mata, tiba-tiba aku mendengar suara anjing yang kesakitan. Aku segera membuka mata. Aku melihat anjing yang tadinya mencengkeram tubuhku sudah tergeletak di sampingku dengan banyak luka. Luka-luka itu seperti terkena goresan pisau tajam. Luka-luka itu mengeluarkan darah.

Darahnya mengalir ke lantai dapur. Aku melihat anjing itu sudah tak berdaya dengan lidah yang menjulur dan meneteskan air liur yang berbau busuk. Aku perlahan mencoba bangkit. Ketika aku berdiri, aku terkejut melihat sekujur tubuhku berbulu lebat. Aku terdiam tanpa kata melihat kuku-kuku tanganku berubah menjadi tajam dan dilumuri darah. [T]

Penulis: I Wayan Kuntara
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Tirai Kawat, Upacara Dalam Amplop

Next Post

Bali, Yadnya, Sang-sih, Doh-sa, Nung-kalik

I Wayan Kuntara

I Wayan Kuntara

Lahir dan tinggal di Bedulu. Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Bali Undiksha Singaraja Tahun 2015. Penikmat kata, penikmat cerita, penikmat rasa.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Yadnya, Sang-sih, Doh-sa, Nung-kalik

Bali, Yadnya, Sang-sih, Doh-sa, Nung-kalik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co