14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seekor Anjing Menyerang | Cerpen I Wayan Kuntara

I Wayan Kuntara by I Wayan Kuntara
October 18, 2025
in Cerpen
Seekor Anjing Menyerang | Cerpen I Wayan Kuntara

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PEREMPUAN yang berdiri di atas panggung itu adalah pegawai baru di kantorku. Dia berparas ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang, dan memilki tatapan yang tajam. Semua orang yang melihatnya pasti akan merasa terkagum-kagum. Selain itu, kabarnya perempuan itu adalah perempuan yang pintar, tekun, serta teliti dalam bekerja. Usaha di kantorku saat ini sedang lesu. Bosku berharap, kedatangannya mampu membuat usaha di kantor membaik.

Sorakan dan tepuk tangan tanpa henti diberikan kepada perempuan itu setelah dia selesai memperkenalkan dirinya. Semua orang mengucapkan selamat, semua orang menjabat tangannya. Kecuali aku.

Aku tak ikut bersorak, aku tak ikut tepuk tangan, bahkan aku tak ikut mengucapkan selamat dan menjabat tangannya. Entah mengapa aku tak ingin melakukan itu semua. Aku merasa ada yang mengganjal di hatiku. Aku merasa ada yang aneh, ada yang tidak wajar.

Mungkin perempuan itu tahu apa yang sedang aku rasakan. Karena hanya aku saja yang tak mendekatinya untuk mengucapkan selamat dan menjabat tangannya. Ketika acara telah selesai, dan semua orang hendak kembali ke tempatnya masing-masing, mataku tak sengaja saling pandang dengan mata perempuan itu.

Saat aku menatap matanya dengan seksama, entah kenapa tiba-tiba perempuan yang berparas ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seekor anjing. Anjing yang berbulu lebat, dengan mata yang merah menyala, bergigi dan berkuku tajam, yang selalu menjulurkan lidahnya. Dari lidahnya meneteskan air liur yang berbau busuk. Aku mulai merinding. Seketika aku membuang tatapan mataku yang tadi terpaku pada matanya, dan bergegas pergi dari tempat itu.

Aku bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang membuatku merasa ada yang mengganjal, merasa aneh, dan merasa ada yang tidak wajar? Aku selalu percaya dengan kata hatiku. Dari dulu hingga sekarang kata hatiku tak pernah salah. Tapi, entah mengapa tiba-tiba aku melihat perempuan itu berubah wujud menjadi anjing? Mengapa harus anjing? Hewan yang paling kubenci.

Anjing zaman sekarang tak seperti anjing di zaman dahulu. Dahulu, seekor anjing mampu mengantarkan Panca Pandawa sampai di puncak Gunung Himalaya. Bahkan mampu mengantarkan Yudistira sampai ke surga. Namun, di zaman sekarang, tak ada satu pun anjing seperti itu. Anjing di zaman sekarang hanya bisa buat rusuh, buat onar, buat hancur. Apakah ini adalah suatu pertanda buruk untukku? Atau ini hanya perasaanku saja?

Keesokan harinya, di kantor, aku kembali melihat perempuan itu berubah wujud menjadi anjing. Anjing yang sedang kebingungan. Kesana-kemari dia menggonggong tanpa henti. Semua teman-teman kantor menanyakannya. Katanya, dia kebingungan karena kehilangan namanya. Namanya yang ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang, dan memilki tatapan yang tajam. Dia sudah mencoba mencarinya di bawah meja kerja, di bawah kursi kerja, di setiap sudut kantor, sampai ke tong sampah, tapi tak juga ketemu.

Dia menangis. Namun, yang aku lihat dia seperti anjing yang sedang melolong di malam Jumat Kliwon. Semua teman-teman kantor merasa kasihan. Lalu, agar dia tak sedih lagi, satu persatu teman-teman kantor mmberinya nama. Ada yang memberinya nama Dewi, ada yang memberinya nama Putri, bahkan ada yang memberikannya nama Ratu.

Semua orang memberikan dia nama yang bagus. Aku yang menyaksikannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hatiku berkata, “Semuanya sudah tertipu.”

 Keesokan harinya, aku kembali melihat perempuan itu seperti anjing yang kebingungan. Kali ini dia mengaku kehilangan mukanya. Mukanya yang ayu, berkulit putih, berambut hitam panjang, dan memilki tatapan yang tajam. Dia sudah mencarinya di bawah meja kerja, di bawah kursi kerja, di setiap sudut kantor, sampai ke tong sampah, tapi tak juga ketemu.

Dia menangis tersedu-sedu. Namun, yang aku lihat dia seperti anjing yang sedang melolong karena kesakitan. Semua teman-teman kantor yang melihatnya merasa iba. Lalu, satu persatu menggambar dimukanya yang kosong itu. Ada yang menggambar matanya, ada yang menggambar bibirnya, ada yang menggambar hidungnya, ada yang menggambar alisnya.

Hingga akhirnya perempuan itu kembali punya muka. Bahkan mukanya yang sekarang lebih cantik dari sebelumnya. Aku yang menonton dari meja kerjaku hanya bisa tersenyum sinis. “Semuanya sudah terjebak,” gumamku.

Hari demi hari terus berlalu. Sekarang perempuan itu sudah memiliki banyak pengikut. Semua teman-teman kantor seakan dibawah kendalinya. Perempuan itu mengajari semua orang bagaimana caranya mengendus, menjilat, menggonggong, melolong, menggigit, hingga menyerang.

Lalu, aku melihat teman-teman kantorku satu persatu berubah wujud menjadi anjing. Anjing yang berbulu lebat, dengan mata yang merah menyala, bergigi dan berkuku tajam, yang selalu menjulurkan lidahnya. Dari lidahnya meneteskan air liur yang berbau busuk.

Semua mata anjing yang merah menyala itu memandangku. Mereka seperti ingin menyerangku, menggigit, dan memakanku mentah-mentah. Aku yang menyadarinya tak lagi berpikir panjang. Aku bergegas bangun dari meja kerjaku dan pergi dari kantor.

***

Suatu hari di kantor, aku berniat mencari tanda tangan bosku untuk melengkapi suatu berkas penting. Namun, belum sempat aku mengetuk pintu ruangan bosku, tiba-tiba pintunya sudah sedikit terbuka. Dari celah pintu yang sedikit terbuka itu aku mengintip. Aku melihat ada seekor anjing yang sedang bersama bosku.

Anjing itu sedang menjilat tubuh bosku. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku melihat raut wajah bosku tampak sangat senang, bahagia, gembira, seperti sedang terbang melayang ke langit ketujuh. Ciri-ciri bosku sudah kena guna-guna anjing itu. Aku berniat untuk menyadarkan bosku dari guna-guna anjing itu, agar dia tak berubah wujud menjadi anjing, seperti teman-teman kantorku. Namun, ketika aku baru selangkah maju, anjing itu tiba-tiba menyadari kehadiranku.

Dia menggonggong dan ingin menggigitku dengan giginya yang tajam. Aku mengurungkan niatku untuk menyadarkan bosku, karena menurutku itu sangat berisiko. Aku lalu segera pergi sebelum anjing itu menyerangku.

Lama-kelamaan aku merasa keadan kantorku semakin aneh . Semua orang sudah berubah wujud menjadi anjing. Kantorku sudah seperti kandang anjing. Yang aku lihat hanyalah anjing. Yang aku dengar hanya suara anjing. Mata mereka semua merah menyala. Ketika aku mencoba sedikit menatapnya, semuanya seperti ingin menggigitku, semuanya seperti ingin menyerangku.

Aku sudah mulai tidak nyaman bekerja. Ada satu waktu aku mencoba menyerah dan ingin mencari pekerjaan lain. Namun, mencari pekerjaan di zaman sekarang sangatlah susah, apalagi ada tanggungan yang harus kupenuhi setiap hari. Aku mengurungkan niatku dan mencoba lebih melawan keadaan.    

***

Suatu hari, hujan tanpa henti membasahi. Matahari enggan menampakkan batang hidungnya. Ia lebih nyaman bersembunyi di balik awan hitam yang menyelimuti langit. Hari itu adalah hari sial bagiku. Dari pagi hingga menjelang sore aku tak bisa keluar kantor.

Aku adalah orang yang paling malas keluar kantor ketika hujan turun. Jadi, aku seharian berada di meja kerjaku. Kebetulan saat itu memang banyak kerjaan yang mesti aku kerjakan. Walaupun keadaan sudah tak lagi kondusif, aku mencoba tenang mengerjakan tugas-tugasku.

Ketika aku sedang serius mengerjakan tugas, tiba-tiba perempuan itu mendekat ke meja kerjaku. Dia tanpa basa-basi mengubah wujudnya menjadi anjing di hadapanku. Anjing yang berbulu lebat, dengan mata yang merah menyala, bergigi dan berkuku tajam, yang selalu menjulurkan lidahnya. Dari lidahnya meneteskan air liur yang berbau busuk. Aku yang merasa terancam segera pergi berlari ke dapur kantor.

Sesampainya di dapur, aku mengambil sebilah pisau untuk berjaga-jaga. Kemudian aku mencari tempat persembunyian yang aman. Tapi, sial, anjing itu tahu tempat persembunyianku. Tanpa basa-basi anjing itu melompat dan menyerangku. Aku tersungkur. Anjing itu mencengkeram tubuhku dengan kuat. Matanya yang merah menyala seakan pertanda bahwa dia sangat membenciku.

Gigi dan kuku-kukunya yang tajam seperti sudah tak sabar ingin menggigit dan merobek-robek tubuhku. Lidahnya yang selalu menjulur dan meneteskan air liurnya pertanda dia seperti sudah tak sabar ingin mencicipi daging-daging tubuhku. Anjing itu menggonggong dan melolong di atas tubuhku.

Aku tak berdaya. Aku tak bisa bergerak akibat tertindih kakinya yang berbulu lebat. Aku semakin susah untuk bernapas. Lama-kelamaan aku mulai merasa lemas. Aku mulai menutup mataku perlahan dan pasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta.

“Kaiiiing…. Kaiiing… Kaiiing….!”

Baru sekejap aku memejamkan mata, tiba-tiba aku mendengar suara anjing yang kesakitan. Aku segera membuka mata. Aku melihat anjing yang tadinya mencengkeram tubuhku sudah tergeletak di sampingku dengan banyak luka. Luka-luka itu seperti terkena goresan pisau tajam. Luka-luka itu mengeluarkan darah.

Darahnya mengalir ke lantai dapur. Aku melihat anjing itu sudah tak berdaya dengan lidah yang menjulur dan meneteskan air liur yang berbau busuk. Aku perlahan mencoba bangkit. Ketika aku berdiri, aku terkejut melihat sekujur tubuhku berbulu lebat. Aku terdiam tanpa kata melihat kuku-kuku tanganku berubah menjadi tajam dan dilumuri darah. [T]

Penulis: I Wayan Kuntara
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Tirai Kawat, Upacara Dalam Amplop

Next Post

Bali, Yadnya, Sang-sih, Doh-sa, Nung-kalik

I Wayan Kuntara

I Wayan Kuntara

Lahir dan tinggal di Bedulu. Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Bali Undiksha Singaraja Tahun 2015. Penikmat kata, penikmat cerita, penikmat rasa.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Yadnya, Sang-sih, Doh-sa, Nung-kalik

Bali, Yadnya, Sang-sih, Doh-sa, Nung-kalik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co