2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2025
in Ulas Rupa
Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Patung The Giant Octopus di Berawa

BALI tidak sedang baik-baik saja. Berbagai fenomena sosial, budaya, ekologi, ekonomi dan politik menghantui Bali. Diakui atau tidak, semua itu akibat dari dampak buruk industri pariwisata yang begitu masif. Kapitalisme global telah menggurita dan mencengkeram Bali dari berbagai penjuru. Dan, sayangnya, masyarakat Bali masih terlena dengan puja-puji, yang pada akhirnya memberangus pemikiran kritis.

Penyair WS Rendra telah mengingatkan dampak buruk industri pariwisata yang terjadi di Bali jika tidak dikelola dengan pemikiran kritis dan bijaksana. Pada tahun 1977, Rendra menulis puisi pamflet berjudul “Sajak Pulau Bali”. Salah satu baitnya bernada sangat satir:

Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.

“Sajak Pulau Bali” adalah puisi yang sangat keras mengritik industri pariwisata yang berkembang di Bali. Tapi siapa yang peduli pada isi puisi pada era itu? Dengan tekanan masif dari Bapak Pembangunan, Presiden Soeharto, Bali pada era itu terus menggenjot pembangunan di sektor pariwisata.

Dari tahun ke tahun, berhektar-hektar lahan pertanian beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan beton yang mengakibatkan subak mati perlahan-lahan. Berhektar-hektar tanah di Pecatu dibebaskan dengan paksa melalui intimidasi dan kekerasan. Pulau Serangan dan Teluk Benoa direklamasi demi memuaskan nafsu investor serakah.

Pemodal-pemodal besar dari Jakarta dan luar negeri terus berdatangan ke Bali dengan tujuan menguasai Bali dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari industri pariwisata. Dan, tentu saja ada yang dikorbankan. Rendra menulis dalam puisinya: Maka di Bali / hotel-hotel pribumi bangkrut / digencet oleh packaged tour.

Kini, kapitalisme global semakin menggurita di Bali. Tidak banyak yang kritis. Tidak banyak yang gelisah menghadapi dampak buruk industri pariwisata. Di antara yang tidak banyak itu muncul nama I Ketut Putrayasa. Dia adalah salah satu seniman yang masih memiliki sikap kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi di Bali.

I Ketut Putrayasa adalah seniman kelahiran Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali, 15 Mei 1981. Ia lulusan Program Pascasarjana Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) –  Bali. Ia telah banyak membuat patung dan seni instalasi bernuansa satir. Di antaranya adalah The Giant Octopus (2019), Pandora Paradise (2020), Ubud is Winter – 10 Degree Celcius (2021), The Golden Toilet in Winter (2022), The Last Stronghold (2022), Proyek Mengeringkan Air (2023), Warring Images (2023), Selilit (2025), Vanitas (2025), Oryzamorgana (2025), The Octopus Queen (2025). Karya-karya patungnya juga terpajang di beberapa tempat di Bali, Jakarta, Singapura, Belgia, Perancis, Turkey.

The Giant Octopus

Berangkat dari kegelisahan dan pemikiran kritis terhadap tanah kelahirannya sendiri, Putrayasa pada tahun 2019 menciptakan patung anyaman bambu berjudul The Giant Octopus dalam rangka Berawa Beach Arts Festival II. Patung itu berwujud gurita raksasa setinggi 18 meter dengan tentakel-tentakel ratusan meter yang menjalar di Pantai Berawa, Kuta Utara, Bali. The Giant Octopus adalah karya seni yang satir. Lewat patung itu, Putrayasa mengritisi berbagai fenomena dan dampak buruk pariwisata yang terjadi di Bali.

Patung The Giant Octopus di Berawa

Kapitalisme pariwisata seperti gurita raksasa dengan tentakel-tentakelnya yang mencengkeram setiap target-targetnya. Hotel, villa, restaurant, bar, dan berbagai fasilitas pariwisata tumbuh menjamur di Bali selatan. Alih fungsi lahan pun terjadi di mana-mana. Sawah-sawah yang dulu menghampar luas di Canggu dan Berawa kini menjadi kawasan hunian dan fasilitas pariwisata. Sungai-sungai dan pantai tercemar berbagai limbah. Jalan-jalan macet dengan berbagai jenis kendaraan. Persoalan sosial, budaya, ekonomi, lingkungan menjadi menu sehari-hari.

Tak dapat dipungkiri, Bali telah dikuasai para pemilik modal, baik dari luar Bali maupun luar negeri. Pemujaan industri pariwisata yang berlebihan dan mentalitas “belog-ajum” membuat orang Bali lupa diri dan terlena sehingga menjadi babu di rumahnya sendiri. Lama kelamaan orang Bali tidak lagi memiliki tanah dan semakin terpinggirkan. Istilah “jaen hidup di Bali” (enak hidup di Bali) pada akhirnya menjadi lelucon dan sindiran bagi orang Bali sendiri.

Petatah-petitih seperti “ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin” (jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain menilai) yang sejatinya untuk bersikap rendah hati, malah memunculkan sikap rendah diri, akibat persaingan kehidupan yang semakin tajam. Pemikiran kritis dan sikap tegas perlahan menghilang. Karena uang adalah raja, pemerintah pun tak berkutik dicengkeram gurita kapitalisme global. Bahkan, tanah aset pemerintah pun disewakan dengan harga murah kepada investor, seperti yang terjadi di Pantai Nyanyi, Tabanan.

The Octopus Queen

Setelah The Giant Octopus, pada tahun 2025 Putrayasa kembali menampilkan karya patung yang metaforis dan satir berjudul The Octopus Queen. Patung itu terbuat dari kerangka baja yang dibalut anyaman bambu. Dengan tinggi 25 meter dan lebar 12 meter, patung itu berwujud tokoh setengah badan di mana pada bagian dada tampak bolong. Dari kepala patung menjulur tentakel-tentakel gurita. Kedua tangannya menengadah, sekuntum teratai mekar di sana.

Patung anyaman bambu terbesar di Indonesia yang tercatat dalam Rekor MURI itu berdiri dengan gagah di atas tebing karang di kawasan Broken Beach (Pasih Uug), Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Dengan latar lautan luas, wajah patung itu menghadap ke utara, seolah sedang memantau daratan Bali.

Karya seni rupa seringkali memunculkan beragam penafsiran dari penikmatnya. The Octopus Queen bisa ditafsirkan sebagai Ratu Gurita. Sepintas perwujudan patung itu mirip Medusa, perempuan berambut ular dari mitologi Yunani. Siapa pun yang menatap mata Medusa bisa berubah menjadi batu.

The Octopus Queen dibangun di kawasan destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi di Nusa Penida, untuk mengingatkan bahwa industri pariwisata selalu bermuka dua. Di satu sisi, pariwisata meningkatkan perekonomian warga. Namun, di sisi lain, bisa mendatangkan berbagai problem sosial, budaya, ekologi.

Tentakel-tentakel gurita yang menjulur-julur dari kepala patung adalah metafora bahwa kapitalisme pariwisata bisa menggurita dan menguasai kawasan Nusa Penida dan meminggirkan penduduk lokal, seperti yang terjadi di kawasan Bali selatan. Gurita kapitalisme selalu bernafsu mencari dan menguasai lahan baru untuk dinasti dan kroninya, tak terkecuali di kawasan Nusa Penida.

Kedua tangan patung itu tampak dalam posisi meminta sesuatu. Dan sekuntum teratai mekar di situ. Dalam konteks Buddhisme, teratai adalah simbol pencerahan. Namun dalam konteks patung ini, teratai adalah simbol kapitalisme. Seperti teratai, kapitalisme pun bisa tumbuh di kawasan berlumpur yang kotor, namun tak tersentuh lumpur. Begitulah kapitalisme pariwisata, seolah tampak suci, sehingga dipuja sebagai harapan atau pemberi pencerahan atas penderitaan umat manusia karena tercekik persoalan ekonomi dan kemiskinan.

Patung The Octopus Queen di Nusa Penida

Para pemilik modal dengan menbawa beribu janji dan harapan cenderung menyasar daerah-daerah terbelakang dan miskin namun kaya sumber daya alam. Dengan beribu janji dan harapan itu, mereka dengan mudah mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di daerah sasarannya. Di sinilah kita perlu berpikir kritis dalam menghadapi serbuan kapitalisme global.

The Octopus Queen dibuat dengan dada bolong. Selain untuk menjaga keseimbangan patung dari terpaan angin, dada bolong bisa dibaca sebagai metafora yang satir. Ketika kepala (pikiran) telah dicengkeram tentakel-tentakel gurita kapitalisme, seringkali dada (hati, perasaan) menjadi berlubang, kehilangan simpati dan empati.

Di Bali dengan mudah kita menemukan berita-berita kekerasan, pertikaian, perkelahian, bahkan pembunuhan karena persoalan ekonomi, rebutan lahan, rebutan tanah warisan. Diakui atau tidak, ini adalah dampak buruk dari perkembangan pariwisata yang tidak terkendali. Harga tanah semakin mahal dan segala sesuatu diukur dengan materi. Bahkan alih fungsi lahan terjadi sangat masif yang berdampak pada persoalan sosial, budaya, lingkungan. Tidak hanya itu, tanah pelaba pura pun bisa menjadi sengketa karena kerakusan manusia yang telah kehilangan hati nurani termakan janji-janji investor serakah.

Nusa Penida adalah sebuah pulau yang kini bersolek menyambut kedatangan wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Sekitar tiga hingga enam ribu wisatawan mengunjungi Nusa Penida setiap hari dengan tujuan utama, antara lain Broken Beach, Kelingking Beach. Ruas-ruas jalan yang sempit menjadi padat dengan kendaraan yang melintas. Hotel, villa, restaurant dan berbagai fasilitas wisata lainnya tumbuh menjamur di sana.

Sejak lama investor dari luar Bali dan luar negeri telah mencaplok tanah di Nusa Penida. Tanah yang dulunya tandus dan berkarang, menjadi lahan yang menggiurkan bagi para investor. Orang-orang kaya baru pun banyak bermunculan di Nusa Penida. Bagi yang pandai memanfaatkan uangnya, mereka menggunakannya untuk hal-hal positif. Namun, tidak sedikit yang menggunakan uangnya untuk berfoya-foya, berjudi, dan bergaya hidup mewah, hingga lama kelamaan uang habis, tanah ludes, otak pun stres.

Cepat atau lambat Nusa Penida akan mengulang sejarah pariwisata di Bali selatan. Jika tidak disadari dan diantisipasi, Nusa Penida bisa menjadi bom waktu yang meledakkan koflik sosial dan ekonomi. The Octopus Queen menjadi pengingat bahwa industri pariwisata harus disikapi dengan pemikiran kritis dan bijaksana sehingga tidak berdampak buruk bagi warga lokal.

Bali Merenung

Dengan kehadiran The Giant Octopus di Pantai Berawa dan The Octopus Queen di Broken Beach seharusnya membuat Bali merenung. Cengkeraman tentakel-tentakel gurita kapitalisme global adalah suatu keniscayaan. Pertumbuhan industri pariwisata yang tidak terkendali hanya akan semakin memunculkan dampak buruk bagi Bali. Seperti yang ditulis Rendra dalam puisinya: Di Bali / pantai, gunung, tempat tidur dan pura, / telah dicemarkan.

Bali tidak bisa diam. Sudah saatnya Bali berani bersikap tegas menolak investor yang merugikan Bali. Para pemimpin Bali harus berani bersikap dan bersuara kritis terhadap tekanan-tekanan dari pihak luar yang ingin menghancurkan Bali dengan industri pariwisata yang tak terkendali. Sudah saatnya para pemimpin Bali mulat sarira demi masa depan Bali yang lebih baik. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliI Ketut PutrayasaSeni InstalasiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Next Post

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co