12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Hartanto by Hartanto
October 18, 2025
in Esai
Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Natya, anak penulis

SECARA pribadi, saya punya hubungan emosional dengan SMPN 1 Denpasar. Pasalnya, Natya putri saya – siswinya Pak Guru GM Sukawidana –adalah alumni sekolah ini. Setiap lewat sekolah ini, kenangan indah senantiasa membayang.

Saya bangga, karena setiap upacara bendera, putri saya selaku pianis, selalu menggiringi lagu-lagu wajib. Lebih bangga lagi, dengan ketrampilannya bermain musik – Natya, dan tiga temannya, mendirikan 4 Children Community.

4 C ini dibentuk untuk aktifitas peduli Gempa Bumi di Padang. Komunitas ini mengumpulkan teman-temannya yang terampil bermain musik, untuk mengadakan konser amal, bagi korban gempa Padang saat itu.

Pasalnya, saat itu, beberapa anak SMP Negeri 1 Denpasar, yang polos, jujur, dan mencerminkan dunia batin yang masih berkembang – melihat runtuhnya sebuah sekolah SMP di Padang dari media sosial . Itu, sekolah bagi teman-teman sebayanya di Nun. Mereka, lalu ‘merajut’ kepedulian sesama, dengan ‘keprihatinan yang riang’.

Saat mengenang masa indah ‘wilayah kanak’, saya terhentak oleh berita yang tak terbayangkan, KST (15), siswa SMPN 1, melakukan tindak bunuh diri pada tanggal 16 Oktober 2025. Mungkin, ini korban bunuh diri termuda di Bali.  

Sehari sebelumnya,  mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unud berinisial TAS. Juga melakukan bunuh diri dengan melompat dari ketinggian gedung lantau 2 (15/10/2025). Belum terlalu jelas penyebab TAS maupun KST nekat bunuh diri.

Di antara riuh nostalgia yang membayang di benak saya  tentang suara bel sepulang sekolah, dan kemeriahan Mind Consert for West Sumatra, tiba-tiba ada jeda yang menganga – sebuah kehilangan yang tak bisa dijelaskan hanya dengan angka usia atau tanggal kejadian.

Wilayah kanak, dalam ingatan kolektif kita, adalah ruang yang seharusnya aman. Tempat di mana rasa ingin tahu tumbuh, di mana kegagalan belum menjadi vonis, dan di mana tangis masih bisa dipeluk tanpa malu, meski haru.

Namun, ketika seorang anak memilih untuk mengakhiri hidupnya, kita dipaksa untuk bertanya –  apakah wilayah kanak itu benar-benar ada, atau absurd belaka? Ataukah kita hanya mengidealkannya, sementara realitas anak-anak hari ini penuh tekanan, tuntutan, dan kesepian yang tak terlihat?

KST bukan sekadar nama atau inisial. Ia adalah representasi dari anak-anak yang (mungkin) tak terdengar. Yang mungkin terlalu cepat diminta dewasa, terlalu sering dibandingkan, atau terlalu lama dibiarkan sendiri. Ia adalah cermin dari sistem yang gagal merawat, dari masyarakat yang lebih sibuk menilai daripada mendengarkan.

Dalam dunia seni, tragedi seperti ini sering menjadi titik tolak penciptaan, bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk mengingatkan. Seandainya wilayah kanak bisa dipamerkan, mungkin ia akan berisi lukisan-lukisan yang retak, boneka yang kehilangan mata, atau suara tawa yang terputus di tengah. Sebuah konser sunyi, di mana kata ganti seperti “aku”, “kamu”, dan “dia” saling bertukar peran dalam kesedihan yang tak sempat diucapkan.

Dalam sastra dan filsafat, tokoh-tokoh seperti Hamlet, Kirilov (Dostoyevsky), atau bahkan Pramoedya Ananta Toer, sering menggambarkan bunuh diri sebagai bentuk protes, eksistensialisme, atau kehilangan makna. Dalam konteks ini, bunuh diri bukan hanya tindakan pribadi, tapi juga refleksi dari kegagalan kolektif memahami penderitaan.

Penulis baca puisi diiringi Natya, sang anak

Saya ingin, esai ini terbagi untuk kita semua – orang tua, guru, seniman, pemimpin, psikolog, tenaga media terkait, adik-adik Gen Z, dan warga biasa – untuk bertanya : bagaimana kita ikut bertanggung jawab? Bukan dengan menyalahkan, tapi dengan merawat. Dengan hadir. Dengan menciptakan wilayah kanak yang bukan hanya indah dalam ingatan, tapi nyata dalam kehidupan.

Karena setiap anak yang hilang, bukan hanya tragedi keluarga, tapi juga kegagalan kita sebagai masyarakat. Dan setiap esai, setiap karya seni, setiap pelukan, bisa menjadi bagian dari konser kecil untuk mengenang, merawat, dan mencegah – terjadinya hal-hal negatip, seperti bunuh diri.

KST danAnak-anak lainnya tidak lahir dengan beban. Mereka datang ke dunia dengan mata bening untuk menikmati keindahan dunia, dengan tangan yang kelak mampu menjangkau segala.

Mereka percaya bahwa langit bisa digambar ulang, bahwa hujan adalah teman bermain, dan bahwa setiap luka bisa sembuh dengan pelukan kasih. Namun dunia yang kita bangun, perlahan-lahan, mengajari mereka tentang sunyi.

Sunyi itu tidak datang tiba-tiba. Ia merayap lewat kata-kata yang tak didengar, lewat tawa yang dibalas dengan tuntutan, lewat pertanyaan yang dijawab dengan “tak.” Anak-anak menyimpan sunyi di balik gambar-gambar yang mereka coretkan, di balik lagu-lagu yang mereka gumamkan sendiri, di balik kamar yang semakin lama semakin sepi.

Natya main biola

Kita sering menyebut masa kanak sebagai masa emas. Tapi emas macam apa yang kita berikan? Apakah emas itu berupa nilai rapor, prestasi lomba, atau pujian yang hanya datang saat mereka ‘menang’? Di mana ruang bagi kegagalan yang tidak dihukum, bagi kesedihan yang tidak ditertawakan, bagi pertanyaan yang tidak terjawab?

KST, lima belas tahun, memilih pergi. Saat ini, Ia satu-satunya (usia kanak), dan ia menjadi penanda. Bahwa sunyi yang disimpan anak-anak bisa menjadi jurang. Bahwa kita, orang dewasa, tidak cukup hadir. Kita terlalu sibuk untuk didengar – menjadi guru, orang tua, pemimpin, seniman, aktivis, hingga lupa menjadi pendengar.

Esai ini bukan untuk mengutuk, tapi untuk mengundang. Mengundang kita semua untuk membuka ruang. Ruang di mana anak-anak bisa berkata “aku lelah”, tanpa ditolak dan diabaikan. Ruang di mana mereka bisa gagal tanpa kehilangan cinta. Ruang di mana mereka bisa menangis tanpa harus menjelaskan alasannya.

Natya dan Butet

Karena anak-anak tidak butuh dunia yang sempurna. Mereka butuh dunia yang mendengar. Dunia yang mau duduk di lantai bersama mereka, menggambar langit dengan krayon, dan berkata, “Aku di sini. Aku mendengarmu.”

Anak-anak adalah bagian paling jujur dari masyarakat. Mereka belum sepenuhnya dibentuk oleh norma, belum sepenuhnya dibebani oleh tuntutan, dan belum sepenuhnya memahami dunia yang mereka masuki. Namun justru karena itulah, mereka paling rentan. Rentan terhadap penolakan, terhadap kesepian, terhadap sistem yang tidak memberi ruang untuk mendengar.

Dalam kehidupan sehari-hari, menurut saya, anak-anak sering dianggap hanya sebagai pelengkap. Mereka hadir di ruang keluarga, di sekolah, di tempat ibadah, tetapi jarang benar-benar didengarkan.

Ketika mereka marah, kita menyebutnya tantrum. Ketika mereka sedih, kita bilang mereka terlalu sensitif. Ketika mereka bertanya, kita jawab seadanya. Padahal, di balik semua itu, ada dunia batin yang sedang tumbuh – dan bisa retak kapan saja.

Sunyi adalah sesuatu yang tidak terlihat. Ia tidak berteriak, tidak memukul, tidak mengganggu. Tapi ia menetap. Anak-anak menyimpan sunyi dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang diam di kelas, ada yang menulis di buku harian, ada yang menatap kosong ke luar jendela. Dan jika kita tidak hadir sebagai pendengar, sunyi itu bisa berubah menjadi luka yang dalam.

‘Ruang dengar’ adalah konsep yang sederhana namun penting. Ia bukan hanya soal mendengar kata-kata, tetapi juga memahami ‘arti’, merespon dengan ‘empati’, dan memberi waktu. ‘Ruang dengar’ bisa berupa percakapan di sore hari, pelukan tanpa syarat, atau sekadar kehadiran yang tidak menghakimi. Di ‘ruang denga’, anak-anak bisa menjadi diri mereka sendiri – tanpa takut salah, tanpa takut gagal.

Tragedi seperti bunuh diri seorang anak, seperti yang terjadi pada KST di Bali, adalah alarm keras bagi kita semua. Ia bukan hanya soal satu individu, tetapi soal sistem yang tidak cukup peduli. Ia menunjukkan bahwa kita perlu membangun lebih banyak ruang dengar, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat.

Saya ingin mengajak semuanya, untuk melihat anak-anak bukan sebagai objek pendidikan atau penerus generasi, tetapi sebagai manusia utuh yang punya hak untuk didengar. Karena mendengar bukan hanya soal telinga, tetapi soal hati. Dan anak-anak, dengan segala kelembutan dan kerentanannya, layak mendapatkan ruang itu.

Natya, saat menulis tulisan ini, aku merasa selalu ada di dekatmu, di depan piano, atau menikmati permainan biolamu di konser mu. Bisa juga nongkrong di café, sambil mendiskusikan ThaiTea, atau Macha coffee kegemaranmu.

Natya dan kepang duanya

Aku juga kangen cerita-cerita mu, usai kau baca komik tokoh-tokoh musik dunia. Bisa juga sambil diskusi ekonomi, dan mendiskusikan quotemu “We Learn Art Not Because We Want To Be An Artist, But Because We Are Part of Human Being”. Eh……aku kangen banget ama rambut kepang kembar mu dulu itu.

Baiknya, untuk mengobati kerinduan itu – kupetikkan puisi om Umbu ya. agar kita terkenang saat beliau menyantap lahap sop ikan kegemarannya, di ruang makan kita ;

(…..//sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku risau//risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi//…) [T]

Tags: anak-anakbunuh dirirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deru Sepeda Motor di Jalanan — Bali Macam Apa yang Sedang Kita Jalani

Next Post

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co