2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Hartanto by Hartanto
October 18, 2025
in Esai
Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Natya, anak penulis

SECARA pribadi, saya punya hubungan emosional dengan SMPN 1 Denpasar. Pasalnya, Natya putri saya – siswinya Pak Guru GM Sukawidana –adalah alumni sekolah ini. Setiap lewat sekolah ini, kenangan indah senantiasa membayang.

Saya bangga, karena setiap upacara bendera, putri saya selaku pianis, selalu menggiringi lagu-lagu wajib. Lebih bangga lagi, dengan ketrampilannya bermain musik – Natya, dan tiga temannya, mendirikan 4 Children Community.

4 C ini dibentuk untuk aktifitas peduli Gempa Bumi di Padang. Komunitas ini mengumpulkan teman-temannya yang terampil bermain musik, untuk mengadakan konser amal, bagi korban gempa Padang saat itu.

Pasalnya, saat itu, beberapa anak SMP Negeri 1 Denpasar, yang polos, jujur, dan mencerminkan dunia batin yang masih berkembang – melihat runtuhnya sebuah sekolah SMP di Padang dari media sosial . Itu, sekolah bagi teman-teman sebayanya di Nun. Mereka, lalu ‘merajut’ kepedulian sesama, dengan ‘keprihatinan yang riang’.

Saat mengenang masa indah ‘wilayah kanak’, saya terhentak oleh berita yang tak terbayangkan, KST (15), siswa SMPN 1, melakukan tindak bunuh diri pada tanggal 16 Oktober 2025. Mungkin, ini korban bunuh diri termuda di Bali.  

Sehari sebelumnya,  mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unud berinisial TAS. Juga melakukan bunuh diri dengan melompat dari ketinggian gedung lantau 2 (15/10/2025). Belum terlalu jelas penyebab TAS maupun KST nekat bunuh diri.

Di antara riuh nostalgia yang membayang di benak saya  tentang suara bel sepulang sekolah, dan kemeriahan Mind Consert for West Sumatra, tiba-tiba ada jeda yang menganga – sebuah kehilangan yang tak bisa dijelaskan hanya dengan angka usia atau tanggal kejadian.

Wilayah kanak, dalam ingatan kolektif kita, adalah ruang yang seharusnya aman. Tempat di mana rasa ingin tahu tumbuh, di mana kegagalan belum menjadi vonis, dan di mana tangis masih bisa dipeluk tanpa malu, meski haru.

Namun, ketika seorang anak memilih untuk mengakhiri hidupnya, kita dipaksa untuk bertanya –  apakah wilayah kanak itu benar-benar ada, atau absurd belaka? Ataukah kita hanya mengidealkannya, sementara realitas anak-anak hari ini penuh tekanan, tuntutan, dan kesepian yang tak terlihat?

KST bukan sekadar nama atau inisial. Ia adalah representasi dari anak-anak yang (mungkin) tak terdengar. Yang mungkin terlalu cepat diminta dewasa, terlalu sering dibandingkan, atau terlalu lama dibiarkan sendiri. Ia adalah cermin dari sistem yang gagal merawat, dari masyarakat yang lebih sibuk menilai daripada mendengarkan.

Dalam dunia seni, tragedi seperti ini sering menjadi titik tolak penciptaan, bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk mengingatkan. Seandainya wilayah kanak bisa dipamerkan, mungkin ia akan berisi lukisan-lukisan yang retak, boneka yang kehilangan mata, atau suara tawa yang terputus di tengah. Sebuah konser sunyi, di mana kata ganti seperti “aku”, “kamu”, dan “dia” saling bertukar peran dalam kesedihan yang tak sempat diucapkan.

Dalam sastra dan filsafat, tokoh-tokoh seperti Hamlet, Kirilov (Dostoyevsky), atau bahkan Pramoedya Ananta Toer, sering menggambarkan bunuh diri sebagai bentuk protes, eksistensialisme, atau kehilangan makna. Dalam konteks ini, bunuh diri bukan hanya tindakan pribadi, tapi juga refleksi dari kegagalan kolektif memahami penderitaan.

Penulis baca puisi diiringi Natya, sang anak

Saya ingin, esai ini terbagi untuk kita semua – orang tua, guru, seniman, pemimpin, psikolog, tenaga media terkait, adik-adik Gen Z, dan warga biasa – untuk bertanya : bagaimana kita ikut bertanggung jawab? Bukan dengan menyalahkan, tapi dengan merawat. Dengan hadir. Dengan menciptakan wilayah kanak yang bukan hanya indah dalam ingatan, tapi nyata dalam kehidupan.

Karena setiap anak yang hilang, bukan hanya tragedi keluarga, tapi juga kegagalan kita sebagai masyarakat. Dan setiap esai, setiap karya seni, setiap pelukan, bisa menjadi bagian dari konser kecil untuk mengenang, merawat, dan mencegah – terjadinya hal-hal negatip, seperti bunuh diri.

KST danAnak-anak lainnya tidak lahir dengan beban. Mereka datang ke dunia dengan mata bening untuk menikmati keindahan dunia, dengan tangan yang kelak mampu menjangkau segala.

Mereka percaya bahwa langit bisa digambar ulang, bahwa hujan adalah teman bermain, dan bahwa setiap luka bisa sembuh dengan pelukan kasih. Namun dunia yang kita bangun, perlahan-lahan, mengajari mereka tentang sunyi.

Sunyi itu tidak datang tiba-tiba. Ia merayap lewat kata-kata yang tak didengar, lewat tawa yang dibalas dengan tuntutan, lewat pertanyaan yang dijawab dengan “tak.” Anak-anak menyimpan sunyi di balik gambar-gambar yang mereka coretkan, di balik lagu-lagu yang mereka gumamkan sendiri, di balik kamar yang semakin lama semakin sepi.

Natya main biola

Kita sering menyebut masa kanak sebagai masa emas. Tapi emas macam apa yang kita berikan? Apakah emas itu berupa nilai rapor, prestasi lomba, atau pujian yang hanya datang saat mereka ‘menang’? Di mana ruang bagi kegagalan yang tidak dihukum, bagi kesedihan yang tidak ditertawakan, bagi pertanyaan yang tidak terjawab?

KST, lima belas tahun, memilih pergi. Saat ini, Ia satu-satunya (usia kanak), dan ia menjadi penanda. Bahwa sunyi yang disimpan anak-anak bisa menjadi jurang. Bahwa kita, orang dewasa, tidak cukup hadir. Kita terlalu sibuk untuk didengar – menjadi guru, orang tua, pemimpin, seniman, aktivis, hingga lupa menjadi pendengar.

Esai ini bukan untuk mengutuk, tapi untuk mengundang. Mengundang kita semua untuk membuka ruang. Ruang di mana anak-anak bisa berkata “aku lelah”, tanpa ditolak dan diabaikan. Ruang di mana mereka bisa gagal tanpa kehilangan cinta. Ruang di mana mereka bisa menangis tanpa harus menjelaskan alasannya.

Natya dan Butet

Karena anak-anak tidak butuh dunia yang sempurna. Mereka butuh dunia yang mendengar. Dunia yang mau duduk di lantai bersama mereka, menggambar langit dengan krayon, dan berkata, “Aku di sini. Aku mendengarmu.”

Anak-anak adalah bagian paling jujur dari masyarakat. Mereka belum sepenuhnya dibentuk oleh norma, belum sepenuhnya dibebani oleh tuntutan, dan belum sepenuhnya memahami dunia yang mereka masuki. Namun justru karena itulah, mereka paling rentan. Rentan terhadap penolakan, terhadap kesepian, terhadap sistem yang tidak memberi ruang untuk mendengar.

Dalam kehidupan sehari-hari, menurut saya, anak-anak sering dianggap hanya sebagai pelengkap. Mereka hadir di ruang keluarga, di sekolah, di tempat ibadah, tetapi jarang benar-benar didengarkan.

Ketika mereka marah, kita menyebutnya tantrum. Ketika mereka sedih, kita bilang mereka terlalu sensitif. Ketika mereka bertanya, kita jawab seadanya. Padahal, di balik semua itu, ada dunia batin yang sedang tumbuh – dan bisa retak kapan saja.

Sunyi adalah sesuatu yang tidak terlihat. Ia tidak berteriak, tidak memukul, tidak mengganggu. Tapi ia menetap. Anak-anak menyimpan sunyi dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang diam di kelas, ada yang menulis di buku harian, ada yang menatap kosong ke luar jendela. Dan jika kita tidak hadir sebagai pendengar, sunyi itu bisa berubah menjadi luka yang dalam.

‘Ruang dengar’ adalah konsep yang sederhana namun penting. Ia bukan hanya soal mendengar kata-kata, tetapi juga memahami ‘arti’, merespon dengan ‘empati’, dan memberi waktu. ‘Ruang dengar’ bisa berupa percakapan di sore hari, pelukan tanpa syarat, atau sekadar kehadiran yang tidak menghakimi. Di ‘ruang denga’, anak-anak bisa menjadi diri mereka sendiri – tanpa takut salah, tanpa takut gagal.

Tragedi seperti bunuh diri seorang anak, seperti yang terjadi pada KST di Bali, adalah alarm keras bagi kita semua. Ia bukan hanya soal satu individu, tetapi soal sistem yang tidak cukup peduli. Ia menunjukkan bahwa kita perlu membangun lebih banyak ruang dengar, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat.

Saya ingin mengajak semuanya, untuk melihat anak-anak bukan sebagai objek pendidikan atau penerus generasi, tetapi sebagai manusia utuh yang punya hak untuk didengar. Karena mendengar bukan hanya soal telinga, tetapi soal hati. Dan anak-anak, dengan segala kelembutan dan kerentanannya, layak mendapatkan ruang itu.

Natya, saat menulis tulisan ini, aku merasa selalu ada di dekatmu, di depan piano, atau menikmati permainan biolamu di konser mu. Bisa juga nongkrong di café, sambil mendiskusikan ThaiTea, atau Macha coffee kegemaranmu.

Natya dan kepang duanya

Aku juga kangen cerita-cerita mu, usai kau baca komik tokoh-tokoh musik dunia. Bisa juga sambil diskusi ekonomi, dan mendiskusikan quotemu “We Learn Art Not Because We Want To Be An Artist, But Because We Are Part of Human Being”. Eh……aku kangen banget ama rambut kepang kembar mu dulu itu.

Baiknya, untuk mengobati kerinduan itu – kupetikkan puisi om Umbu ya. agar kita terkenang saat beliau menyantap lahap sop ikan kegemarannya, di ruang makan kita ;

(…..//sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku risau//risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi//…) [T]

Tags: anak-anakbunuh dirirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deru Sepeda Motor di Jalanan — Bali Macam Apa yang Sedang Kita Jalani

Next Post

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co