3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Deru Sepeda Motor di Jalanan — Bali Macam Apa yang Sedang Kita Jalani

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 17, 2025
in Esai
Deru Sepeda Motor di Jalanan — Bali Macam Apa yang Sedang Kita Jalani

Ilustrasi dari Imagen

DAHULU kala, Bali dilingkupi merdu gemerisik daun kelapa, disapu angin dari laut. Ada pula denting genta upacara yang merambat pelan dari pura keluarga. Ada riuh pasar, tempat tawa dan tawar-menawar menjadi musik kehidupan komunal. Jalanan jadi panggung terbuka. Tempat sapaan hangat dilempar dan cerita dibagikan.

Kini, simfoni itu buyar, digantikan opera mesin sepeda motor. Suara dominan yang lahir dari deru knalpot yang tak pernah lelap. Dihiasi klakson serak yang merobek kesabaran, dan gesekan jutaan ban di atas aspal panas. Inilah simfoni besi yang menenggelamkan setiap genta, abaikan setiap bisikan angin. Jalanan bukan lagi ruang bersama, melainkan arteri yang tersumbat oleh logam dan ego. Pergeseran ini ialah patahan dalam lanskap sensorik Bali, sebuah penanda akustik dari ketidakharmonisan. Keseimbangan telah goyah.

Epidemi mekanis ini bukanlah takdir. Ia lahir dari aritmetika kebutuhan dan kegagalan sistemis. Angka tidak berbohong. Pada tahun 2024, ada 4.5 juta sepeda motor menghuni Bali. Sedikit melampaui jumlah penduduknya. Bersama kendaraan lain, totalnya mencapai 5.2 juta unit. Sepeda motor adalah raja absolut, menyusun 85,8% dari total armada. Sebagai perbandingan, bus hanya mencakup 0,3%. Ini bukan sekadar data statistik, ini potret ketimpangan.

Pilihan sepeda motor bukanlah kemewahan. Ini logika bertahan hidup. Pertama, kemudahan ekonomi. Uang muka ringan dan cicilan terjangkau membuka pintu mobilitas bagi banyak orang. Kedua, efisiensi pragmatis. Di tengah kemacetan yang melumpuhkan, sepeda motor lincah menyelinap, untuk merebut kembali waktu yang hilang. Ketiga, daya pikat kebebasan. Sepeda motor lebih bebas menjelajahi gang-gang sempit dan pantai terpencil, menjangkau sudut-sudut pulau yang tak tersentuh rute publik.

Sepeda motor juga mengisi keterbatasan transportasi publik. Program seperti Trans Sarbagita, dengan niat baiknya, gagal merebut kepercayaan. Bus dan halte yang terasing dari denyut kehidupan membuat layanan ini tidak praktis. Kepercayaan publik terkikis, memaksa warga mencari solusi sendiri. Setiap sepeda motor baru yang turun ke jalan adalah mosi tidak percaya terhadap sistem. Ini manifestasi fisik dari kontrak sosial yang rusak, sebuah solusi individualistis yang justru memperparah masalah kolektif.

Lingkungan yang keras ini membentuk ulang manusianya. Jalanan menjadi cermin jiwa kolektif yang retak. Ritme yang dulu santai kini menjadi arena kompetisi ruang yang sengit. Kemacetan melahirkan stres, kelelahan, dan agresi mikro. Klakson tak sabar, manuver sembrono, dan pengabaian aturan menjadi bahasa baru. Di balik helm dan kaca spion, setiap pengendara terisolasi dalam tujuannya. Pengendara lain bukanlah sesama, melainkan rintangan.

Kendaraan telah menjadi lebih dari sekadar alat. Kendaraan jadi perpanjangan ego yang memberi rasa kuasa. Status ini bermanifestasi dalam perampasan ruang. Trotoar, hak suci pejalan kaki, dikolonisasi tanpa rasa bersalah. Protes seorang pejalan kaki dibalas dengan amarah. Norma telah bergeser: hak mesin kini superior di atas hak manusia. Di atas aspal panas, individualisme semakin merajalela. Krisis lalu lintas ini menunjukkan ada krisis etis.

Jejaknya tak kasat mata, namun melukai dalam. Emisi dari jutaan mesin ini menyumbang 70% polusi udara Bali. Udara di jalanan Denpasar dan Kuta kini mengandung karbon monoksida, timbal, dan partikulat. Metafora “napas yang sesak” akibat kemacetan telah menjadi kenyataan biologis bagi paru-paru warganya. Tanah pun ikut tergerus. Jalan dilebarkan, lahan parkir dibangun, dan ruang hijau perlahan sirna. Sawah-sawah ikonik, jiwa agraris pulau ini, dikorbankan untuk melayani kebutuhan infrastruktur. Di sinilah paradoks pariwisata Bali terungkap. Mesin yang melayani industri ini justru menggerogoti aset utamanya: keindahan alam dan rasa damai.

Bali kini berdiri di sebuah persimpangan takdir. Di satu sisi, ada visi teknokratis. Proyek Electric Bus Rapid Transit (e-BRT) dan Rencana Induk Perkeretaapian menjanjikan masa depan yang bersih dan terintegrasi. Ini mimpi modern tentang efisiensi, sebuah solusi dari atas. Namun, di sisi lain, ada tembok kebiasaan. Sepeda motor telah menyatu dengan ritme kehidupan, ekonomi informal, dan konsep kebebasan pribadi. Mengubahnya membutuhkan lebih dari sekadar bus baru, kereta api. Ini tantangan budaya.

Bali macam apa yang sedang kita jalani? Slogan “Ajeg Bali” terasa hampa ketika ruang hidup tergerus dan nilai-nilai komunal terkikis di jalanan. Persimpangan jalan di Bali bukan lagi sekadar pertemuan dua jalur aspal. Ia jadi persimpangan antara masa lalu yang diidealkan, masa kini yang problematis, dan masa depan yang tak pasti. Pilihan mana yang pada akhirnya akan menang? Desis bus listrik dan derit rel kereta, ataukah raungan kolektif dari jutaan mesin sepeda mtoro yang tak pernah berhenti? Entahlah.

Untuk saat ini, di persimpangan jalanan, suara yang paling nyaring masihlah deru mesin. [T]

Tags: balisepeda motortransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belanja Tidak Belanja Tetap Tengkiu: Filosofi Joger Melampaui Dualitas

Next Post

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi -- Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co