23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Deru Sepeda Motor di Jalanan — Bali Macam Apa yang Sedang Kita Jalani

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 17, 2025
in Esai
Deru Sepeda Motor di Jalanan — Bali Macam Apa yang Sedang Kita Jalani

Ilustrasi dari Imagen

DAHULU kala, Bali dilingkupi merdu gemerisik daun kelapa, disapu angin dari laut. Ada pula denting genta upacara yang merambat pelan dari pura keluarga. Ada riuh pasar, tempat tawa dan tawar-menawar menjadi musik kehidupan komunal. Jalanan jadi panggung terbuka. Tempat sapaan hangat dilempar dan cerita dibagikan.

Kini, simfoni itu buyar, digantikan opera mesin sepeda motor. Suara dominan yang lahir dari deru knalpot yang tak pernah lelap. Dihiasi klakson serak yang merobek kesabaran, dan gesekan jutaan ban di atas aspal panas. Inilah simfoni besi yang menenggelamkan setiap genta, abaikan setiap bisikan angin. Jalanan bukan lagi ruang bersama, melainkan arteri yang tersumbat oleh logam dan ego. Pergeseran ini ialah patahan dalam lanskap sensorik Bali, sebuah penanda akustik dari ketidakharmonisan. Keseimbangan telah goyah.

Epidemi mekanis ini bukanlah takdir. Ia lahir dari aritmetika kebutuhan dan kegagalan sistemis. Angka tidak berbohong. Pada tahun 2024, ada 4.5 juta sepeda motor menghuni Bali. Sedikit melampaui jumlah penduduknya. Bersama kendaraan lain, totalnya mencapai 5.2 juta unit. Sepeda motor adalah raja absolut, menyusun 85,8% dari total armada. Sebagai perbandingan, bus hanya mencakup 0,3%. Ini bukan sekadar data statistik, ini potret ketimpangan.

Pilihan sepeda motor bukanlah kemewahan. Ini logika bertahan hidup. Pertama, kemudahan ekonomi. Uang muka ringan dan cicilan terjangkau membuka pintu mobilitas bagi banyak orang. Kedua, efisiensi pragmatis. Di tengah kemacetan yang melumpuhkan, sepeda motor lincah menyelinap, untuk merebut kembali waktu yang hilang. Ketiga, daya pikat kebebasan. Sepeda motor lebih bebas menjelajahi gang-gang sempit dan pantai terpencil, menjangkau sudut-sudut pulau yang tak tersentuh rute publik.

Sepeda motor juga mengisi keterbatasan transportasi publik. Program seperti Trans Sarbagita, dengan niat baiknya, gagal merebut kepercayaan. Bus dan halte yang terasing dari denyut kehidupan membuat layanan ini tidak praktis. Kepercayaan publik terkikis, memaksa warga mencari solusi sendiri. Setiap sepeda motor baru yang turun ke jalan adalah mosi tidak percaya terhadap sistem. Ini manifestasi fisik dari kontrak sosial yang rusak, sebuah solusi individualistis yang justru memperparah masalah kolektif.

Lingkungan yang keras ini membentuk ulang manusianya. Jalanan menjadi cermin jiwa kolektif yang retak. Ritme yang dulu santai kini menjadi arena kompetisi ruang yang sengit. Kemacetan melahirkan stres, kelelahan, dan agresi mikro. Klakson tak sabar, manuver sembrono, dan pengabaian aturan menjadi bahasa baru. Di balik helm dan kaca spion, setiap pengendara terisolasi dalam tujuannya. Pengendara lain bukanlah sesama, melainkan rintangan.

Kendaraan telah menjadi lebih dari sekadar alat. Kendaraan jadi perpanjangan ego yang memberi rasa kuasa. Status ini bermanifestasi dalam perampasan ruang. Trotoar, hak suci pejalan kaki, dikolonisasi tanpa rasa bersalah. Protes seorang pejalan kaki dibalas dengan amarah. Norma telah bergeser: hak mesin kini superior di atas hak manusia. Di atas aspal panas, individualisme semakin merajalela. Krisis lalu lintas ini menunjukkan ada krisis etis.

Jejaknya tak kasat mata, namun melukai dalam. Emisi dari jutaan mesin ini menyumbang 70% polusi udara Bali. Udara di jalanan Denpasar dan Kuta kini mengandung karbon monoksida, timbal, dan partikulat. Metafora “napas yang sesak” akibat kemacetan telah menjadi kenyataan biologis bagi paru-paru warganya. Tanah pun ikut tergerus. Jalan dilebarkan, lahan parkir dibangun, dan ruang hijau perlahan sirna. Sawah-sawah ikonik, jiwa agraris pulau ini, dikorbankan untuk melayani kebutuhan infrastruktur. Di sinilah paradoks pariwisata Bali terungkap. Mesin yang melayani industri ini justru menggerogoti aset utamanya: keindahan alam dan rasa damai.

Bali kini berdiri di sebuah persimpangan takdir. Di satu sisi, ada visi teknokratis. Proyek Electric Bus Rapid Transit (e-BRT) dan Rencana Induk Perkeretaapian menjanjikan masa depan yang bersih dan terintegrasi. Ini mimpi modern tentang efisiensi, sebuah solusi dari atas. Namun, di sisi lain, ada tembok kebiasaan. Sepeda motor telah menyatu dengan ritme kehidupan, ekonomi informal, dan konsep kebebasan pribadi. Mengubahnya membutuhkan lebih dari sekadar bus baru, kereta api. Ini tantangan budaya.

Bali macam apa yang sedang kita jalani? Slogan “Ajeg Bali” terasa hampa ketika ruang hidup tergerus dan nilai-nilai komunal terkikis di jalanan. Persimpangan jalan di Bali bukan lagi sekadar pertemuan dua jalur aspal. Ia jadi persimpangan antara masa lalu yang diidealkan, masa kini yang problematis, dan masa depan yang tak pasti. Pilihan mana yang pada akhirnya akan menang? Desis bus listrik dan derit rel kereta, ataukah raungan kolektif dari jutaan mesin sepeda mtoro yang tak pernah berhenti? Entahlah.

Untuk saat ini, di persimpangan jalanan, suara yang paling nyaring masihlah deru mesin. [T]

Tags: balisepeda motortransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belanja Tidak Belanja Tetap Tengkiu: Filosofi Joger Melampaui Dualitas

Next Post

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi — Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Ruang Dengar Anak-Anak Sunyi -- Renungan Fenomena Bunuh Diri Usia Kanak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co