23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 18, 2025
in Esai
“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Saya lebih senang melihat sekolah menghasilkan para penyapu jalan yang bahagia, ketimbang sarjana yang sakit jiwa.”
— A.S. Neill

MEI 2009. Kuliah saya hampir rampung. Kuliah Kerja Nyata (KKN) telah saya ikuti, tapi saya belum bisa melanjutkan proses selanjutnya yakni menyusun skripsi. Ada dua mata kuliah yang mesti saya ikuti ulang karena nilai yang buruk. Kala itu, saya baru pindah tempat tinggal; dari sebuah ashram yang lama saya tinggali. Saya kesulitan ekonomi, saat itu saya mulai bekerja sambilan sebagai operator warung internet (warnet). Uang bulanan dari keluarga angkat saya telah dihentikan, oleh karena mereka kecewa saya tidak menyelesaikan kuliah tepat waktu. Apalagi, saya yang awalnya kuliah sastra Inggris, diam-diam berhenti dan memilih jurusan Antropologi Budaya di sebuah fakultas tertua di Bali, pada universitas negeri terkenal di Kota Denpasar.

Saya begitu menikmati bisa menghasilkan uang dari keringat sendiri. Namun, kondisi mental saya tidak baik-baik saja. Masalah asmara. Saya baru berpisah dari perempuan asing yang saya kenal pertama kali di ashram. Karena hubungan itu pula saya disarankan untuk tidak lagi menetap di ashram. Tak masalah bagi saya, sebenarnya. Karena saya juga yang salah, melanggar disiplin dan aturan ketat di ashram tersebut.

Komunikasi dengan keluarga ketika itu tidak terlalu lancar. Saya termasuk pribadi yang tertutup; lebih suka memendam masalah sendirian. Hingga pada satu titik, saya tak kuat menanggungnya. Saya sudah mulai sering bicara kacau waktu itu, baik di media sosial (Facebook telah saya pakai, kala belum banyak orang yang tahu karena saat itu baru dikenal di Indonesia) maupun di dunia nyata.

Suatu hari, saya naik sepeda motor pulang ke kampung halaman. Kondisi saya agak kacau, sesampai di rumah juga menunjukkan sikap yang tidak biasa. Saya yang dikenal tidak pernah minum minuman keras, tiba-tiba pulang dengan kaleng bir di tangan. Sayangnya, keluarga tidak sadar dengan perubahan perilaku saya.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di Tatkala.co, keponakan saya yang saat itu sedang libur semester kuliah di Yogyakarta, mengatakan ingin main ke luar kabupaten Jembrana, ke kota lain di Bali. Saya diajaknya. Hingga terjadi apa yang saya ceritakan secara panjang dalam esai “Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia”. Ya, akhirnya segala luka, kekecewaan, dendam, kesedihan yang lama saya rasakan mengantarkan saya pada skizofrenia.

Usia dirawat selama dua minggu di rumah sakit jiwa, keluarga memutuskan saya untuk pulang ke kampung halaman di Negara, Jembrana, Bali. Kuliah saya kandas, tak ada kakak atau kerabat yang mengambil “jalan tengah”, misalnya mengajukan cuti kuliah barang setahun-dua tahun, sembari saya berobat, menunggu kondisi pulih — lalu menyelesaikan lagi studi yang tertunda karena sakit. Tidak ada.

Selama lima tahun pemulihan di rumah, saya tidak lebih dari “orang gagal”. Stigma gangguan jiwa begitu kental. Jika orang lain yang melakukannya masih bisa diterima, namun jika saudara atau keluarga sendiri yang men-stigma, rasanya sedih sekali. Marah, namun saya begitu tidak berdaya; obat-obatan anti-psikotik membuat saya sering tidur karena kantuk dari efek obat.

Ibu kandung saya kala itu masih hidup, juga ayah kandung saya. Mereka membuka usaha binatu (laundry). Dari sanalah penghasilan keluarga kami. Sebagai terapi kerja, saya ditugasi mengantar cucian yang telah bersih dan disetrika ke beberapa pelanggan di sore hari. Dari uang yang didapat saya baru bisa makan. Hidup yang sederhana membuat saya lebih dekat pada realitas sehingga sangat membantu pemulihan dari skizofrenia.

Waktu itu, kontak dengan teman-teman kuliah maupun komunitas di Denpasar terputus. Beberapa terhubung kembali melalui Facebook. Saya sedih melihat teman-teman yang telah lulus kuliah dan mulai bekerja. Sedangkan saya, gagal menjadi sarjana.

Namun, seiring waktu, atas perkenalan dengan seorang gadis asal Jakarta melalui sebuah grup seni di Facebook, perlahan-lahan muncul keberanian untuk kembali mencari peruntungan di Denpasar. RS, gadis itu, selalu memberi semangat pada saya. Hampir setiap hari dia menelepon saya untuk sekadar menanyakan saya sudah makan atau belum, sedang apa, atau untuk mengobrol agar membuat saya tertawa dan melupakan kesedihan yang saya rasakan.

Dia sangat baik. Akhirnya, dari sebuah informasi di Facebook, tentang sebuah yayasan pendidikan di Buleleng yang membutuhkan staf pengajar, saya memberanikan diri untuk mengirim surat lamaran. Panggilan wawancara datang. Saya menyampaikannya pada ibu saya dan meminta izin untuk berangkat ke sebuah desa di Buleleng. Saya bilang pada ibu saya, bahwa saya akan baik-baik saja. Saya ingin mencari pekerjaan dan hidup dengan lebih baik.

Saya berangkat pagi-pagi dengan sepeda motor tua “warisan” saat mahasiswa di Denpasar. Setibanya di Singaraja, saya mampir di rumah Bli Made Adnyana Ole dan istrinya, Kadek Sonia Piscayanti. Mereka mengelola Komunitas Mahima yang dikenal banyak melahirkan penulis dan seniman muda berbakat. Sonia adalah teman seangkatan saya saat SMA di Singaraja belasan tahun lalu. Dia agak terkejut saat bertemu saya. Ternyata, banyak teman yang menanyakan dan membicarakan “hilangnya” saya dari pergaulan. Beberapa telah mengetahui saya sakit dan pulang ke kampung halaman, beberapa lainnya tidak tahu.

Setelah dijamu makan, minum kopi, dan obrolan dengan Bli Ole dan Sonia, juga ayah Sonia yang juga mengenal saya, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi yayasan di Tejakula. Saya diterima bekerja sebagai staf pengajar yayasan tersebut. Senang sekali rasanya. Tiga bulan lamanya saya menetap di desa yang tidak terlalu ramai dengan pengurus yayasan dan rekan-rekan yang ramah dan menerima saya apa adanya.

Hanya saja saya tak berani terbuka dengan kondisi kesehatan saya. Untuk pengobatan saya agak sulit, meski beberapa kali ke Puskesmas setempat waktu ada jadwal pengobatan gratis gangguan mental dari rumah sakit jiwa. Saya mesti berbohong minta izin ke Puskesmas dengan alasan kena penyakit kulit. Itu tentu tidak baik.

Hingga keputusan datang dari pemilik yayasan, ekspatriat asal Belanda yang memutuskan saya belum lolos dalam evaluasi karena kurang memiliki kompetensi dalam mengajar, terlebih lagi saya bukan lulusan pendidikan guru. Saya mengucapkan terima kasih dan itu artinya, saya mesti pulang dulu lagi ke Jembrana, kampung halaman saya.

Setelah menerima kompensasi honor saya berpamitan kepada teman-teman dan juga pengampu yayasan. Mereka orang baik dan kenangan saya tinggal di Tejakula akan selalu membekas di ingatan. Setelah hampir dua minggu di kampung halaman, saya mendapat panggilan kerja sebagai wartawan sebuah tabloid budaya di Denpasar. Informasi lowongan kerja saya dapatkan di koran. Sekali lagi saya berpamitan pada ibu dan ayah kandung saya untuk berangkat ke Denpasar.

Di kota yang pernah lama saya tinggal itu, saya menumpang sementara di rumah kakak perempuan dari keluarga angkat saya. Hingga akhirnya saya bisa menyewa kos sendiri. Pekerjaan sebagai wartawan syukurlah lancar. Itu pada 2015, sepuluh tahun lalu dan hingga kini saya tetap menetap di Denpasar. RS, gadis asal Jakarta yang banyak menolong saya akhirnya menjadi pasangan hidup saya. Dia memutuskan untuk pindah ke Bali bekerja dengan karier yang bagus.

Perjalanan dari 2009 hingga sekarang menyisakan warna-warni yang memperkaya hidup saya. Enam belas tahun sudah saya bersahabat dan berdamai dengan skizofrenia. Berkat pertemuan dengan salah seorang psikiater yang kala itu masih co-ass, kami mendirikan komunitas kesehatan mental bernama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali. Dari sana saya juga dikenal sebagai survivor dan pegiat kesehatan mental yang banyak memberi inspirasi bahwa ODGJ bisa pulih, bersosialisasi, berkarya termasuk bekerja dan mandiri seperti orang kebanyakan.

Akhirnya, kini, saya tak lagi menyesali tentang gagalnya saya menjadi sarjana, dulu. Saya merasa, pengalaman dan kompetensi justru kini yang membuat saya dengan mudah diterima di perusahaan (terutama media). Melihat kasus banyaknya mahasiswa dan sarjana yang jauh dari kualitas seorang intelektual, mungkin memang lebih baik (dan semesta telah mengatur semuanya); saya tidak menyelesaikan kuliah dan meraih sarjana.

Selain karena skizofrenia, banyak kekecewaan yang sebenarnya saya rasakan terutama tentang buruknya kualitas pengajar di jurusan saya dulu yang bagi saya jauh dari standar. Tapi sudahlah. Semoga sekarang jurusan yang saya tinggalkan semakin bisa meningkatkan kualitasnya. Dengan hadirnya dosen-dosen muda saya percaya iklim intelektual di sana jadi lebih baik. Namun, lagi-lagi saya kecewa terutama soal kasus perundungan terhadap kejadian dugaan bunuh diri salah satu mahasiswa yang ramai diperbincangkan beberapa hari ini di Denpasar dan Bali.

Kampus, tidak hanya kehilangan jiwa dengan adanya kasus dugaan bunuh diri, tapi juga kehilangan “jiwa” atau ruh dari tujuan mulia didirikannya universitas, yakni membentuk manusia yang utuh, berpikir kritis, berempati, dan berperikemanusiaan. Bukan sekadar mencetak sarjana yang pandai menghafal teori, tetapi tak mampu memahami penderitaan di sekitarnya. Dari kejadian ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesehatan mental tidak bisa dipandang sebelah mata. Kita tentu tidak ingin kampus kehilangan nalar dan empati. Sebab tanpa keduanya, perguruan tinggi hanyalah bangunan megah yang sunyi, tempat di mana ilmu kehilangan arah, dan manusia kehilangan hati nurani. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kampusPendidikanSarjana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gurita Raksasa Mencengkeram Bali

Next Post

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co