3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 18, 2025
in Esai
Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BAYANGKAN sebatang pohon besar di halaman belakang rumah kita. Batangnya kokoh, cabangnya banyak, rantingnya menjulur ke segala arah, dan setiap ranting menumbuhkan daun yang berbeda—ada yang hijau muda, ada yang menguning, ada pula yang jatuh ke tanah. Begitulah kira-kira gambaran alam semesta menurut Hugh Everett, fisikawan muda yang pada tahun 1957 berani menantang arus besar pemikiran zaman itu.

Everett mengajukan ide yang disebut relative state formulation, atau yang kini lebih dikenal sebagai Many-Worlds Interpretation. Ia menyatakan bahwa setiap kali ada peristiwa di alam semesta—setiap keputusan, setiap kemungkinan—tidak ada satu pun yang hilang. Semua hasil itu tetap hidup, hanya saja di “ranting” yang berbeda. Alam semesta, menurutnya, bukan satu garis lurus waktu, melainkan pohon dengan cabang-cabang tak terhingga.

Satu Pohon, Banyak Cabang

Bayangkan kita melempar koin. Hasilnya bisa gambar atau angka, kepala atau ekor. Menurut pandangan klasik, hanya satu hasil yang nyata: yang muncul saat koin berhenti berputar. Namun menurut Everett, kedua hasil itu sama-sama terjadi, hanya di dua cabang kenyataan yang berbeda. Dunia tidak memilih salah satu, melainkan mengizinkan semua kemungkinan hidup berdampingan.

Di sinilah keindahan filosofis teori Everett: ia mengajarkan kita bahwa keberagaman bukan kesalahan sistem, tetapi justru bagian dari keseimbangan semesta. Bahwa dunia tidak harus tunggal, karena kehidupan sendiri adalah tarian antara banyak kemungkinan. Inilah hukum probabilitas

Einstein dan Kerinduan Akan Keteraturan

Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Albert Einstein, sang ikon fisika modern, pernah berkata, “Tuhan tidak bermain dadu.” Ia tidak bisa menerima gagasan bahwa alam bekerja secara acak. Bagi Einstein, alam semesta harus punya hukum yang pasti, keteraturan yang dapat dipahami akal. Ia menginginkan satu kebenaran universal yang indah dan sederhana.

Bila Everett melihat keindahan dalam percabangan, Einstein melihat keindahan dalam kesatuan. Keduanya berbicara dalam bahasa berbeda, tetapi sesungguhnya menatap arah yang sama: mencari makna di balik misteri semesta.

Hawking: Melihat dari Atas Semesta

Stephen Hawking melangkah lebih jauh. Ia tidak menolak gagasan Everett, tetapi juga tidak memeluknya secara dogmatis. Dalam pandangan Hawking, fungsi gelombang alam semesta bisa mencakup semua kemungkinan—seperti peta besar yang memuat setiap jalur yang bisa ditempuh waktu dan ruang. Bagi Hawking, tidak perlu memilih antara satu dunia atau banyak dunia, karena semuanya bagian dari satu persamaan raksasa yang ia sebut “mind of God”, pikiran alam semesta.

Dari sini kita belajar bahwa bahkan pemikiran paling rasional pun menyisakan ruang untuk keajaiban. Hawking mengingatkan: kita tidak harus mengerti seluruhnya untuk bisa mengaguminya.

Michio Kaku dan Taman Multiverse

Lalu datang Michio Kaku, fisikawan Jepang-Amerika yang dikenal pandai menjembatani sains dengan imajinasi. Ia menggambarkan ide Everett sebagai taman semesta yang luas, di mana setiap pohon mewakili dunia paralel yang eksis dalam dimensi berbeda. Bagi Kaku, ini bukan metafora, melainkan kemungkinan nyata dari teori string—bahwa ruang dan waktu memiliki banyak lapisan, dan kita hanyalah satu dari sekian banyak “dunia gelembung” yang mengapung di samudra kosmos.

Jika Einstein melihat keteraturan, dan Everett melihat cabang, maka Kaku mengajak kita berjalan-jalan di taman kosmik: penuh warna, penuh kebebasan. Ia mengajak kita untuk kagum, bukan takut, pada keberagaman realitas.

Pelajaran untuk Dunia Manusia

Kini mari kita keluar dari laboratorium dan kembali ke kehidupan sehari-hari. Bukankah masyarakat kita juga seperti semesta Everett—penuh cabang, penuh perbedaan, tetapi tetap satu pohon besar kehidupan?

Kita sering berselisih karena keyakinan, pandangan politik, atau cara hidup. Kita ingin dunia kita lurus, seragam, tak bercabang. Namun alam semesta sendiri, tempat kita berpijak, justru menunjukkan hal sebaliknya: bahwa perbedaan adalah struktur dasar eksistensi. Alam bekerja dengan keberagaman, bukan keseragaman.

Everett mengajarkan kita untuk melihat bahwa setiap pilihan hidup, setiap nilai, setiap sudut pandang—adalah cabang sah dari pohon besar manusia. Einstein mengingatkan agar kita mencari hukum moral yang menyatukan. Hawking menuntun kita memandang dari ketinggian, agar tak terjebak di satu ranting saja. Dan Kaku mengajak kita tersenyum pada misteri: bahwa mungkin ada dunia lain di mana kita dan orang yang kita benci justru bersahabat.

Menerima, Bukan Menyeragamkan

Pesan tersembunyi di balik perdebatan para fisikawan itu sesungguhnya sederhana namun mendalam:
Belajar menerima bahwa kenyataan tidak harus tunggal untuk bisa benar.

Dalam dunia yang mudah terpecah karena perbedaan, teori Everett bisa menjadi cermin spiritual modern—mengajarkan kita bahwa segala yang berbeda tidak selalu bertentangan; bisa jadi hanya “cabang” lain dari sistem yang sama.

Kita tidak perlu memotong ranting yang tumbuh ke arah berbeda, cukup menyirami akar kebersamaan di batang kehidupan.

Penutup: Alam Semesta Tidak Pernah Salah Jalan

Mungkin pada akhirnya, seluruh perdebatan antara Einstein, Everett, Hawking, dan Kaku hanyalah cara berbeda untuk mengatakan satu hal: semesta tidak pernah salah jalan.
Ia mengekspresikan dirinya lewat keberagaman, seperti pohon yang terus menumbuhkan ranting baru di setiap musim.

Dan kita, manusia, yang merupakan bagian kecil dari pohon itu, hanya perlu belajar satu hal:
bukan memilih cabang mana yang benar, tetapi bagaimana tetap saling berakar pada kasih, pengertian, dan kesadaran bahwa semua ini — semua perbedaan yang membingungkan — adalah cara alam menunjukkan kebijaksanaannya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: duniapohonsemesta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Next Post

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co