23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 18, 2025
in Esai
Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BAYANGKAN sebatang pohon besar di halaman belakang rumah kita. Batangnya kokoh, cabangnya banyak, rantingnya menjulur ke segala arah, dan setiap ranting menumbuhkan daun yang berbeda—ada yang hijau muda, ada yang menguning, ada pula yang jatuh ke tanah. Begitulah kira-kira gambaran alam semesta menurut Hugh Everett, fisikawan muda yang pada tahun 1957 berani menantang arus besar pemikiran zaman itu.

Everett mengajukan ide yang disebut relative state formulation, atau yang kini lebih dikenal sebagai Many-Worlds Interpretation. Ia menyatakan bahwa setiap kali ada peristiwa di alam semesta—setiap keputusan, setiap kemungkinan—tidak ada satu pun yang hilang. Semua hasil itu tetap hidup, hanya saja di “ranting” yang berbeda. Alam semesta, menurutnya, bukan satu garis lurus waktu, melainkan pohon dengan cabang-cabang tak terhingga.

Satu Pohon, Banyak Cabang

Bayangkan kita melempar koin. Hasilnya bisa gambar atau angka, kepala atau ekor. Menurut pandangan klasik, hanya satu hasil yang nyata: yang muncul saat koin berhenti berputar. Namun menurut Everett, kedua hasil itu sama-sama terjadi, hanya di dua cabang kenyataan yang berbeda. Dunia tidak memilih salah satu, melainkan mengizinkan semua kemungkinan hidup berdampingan.

Di sinilah keindahan filosofis teori Everett: ia mengajarkan kita bahwa keberagaman bukan kesalahan sistem, tetapi justru bagian dari keseimbangan semesta. Bahwa dunia tidak harus tunggal, karena kehidupan sendiri adalah tarian antara banyak kemungkinan. Inilah hukum probabilitas

Einstein dan Kerinduan Akan Keteraturan

Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Albert Einstein, sang ikon fisika modern, pernah berkata, “Tuhan tidak bermain dadu.” Ia tidak bisa menerima gagasan bahwa alam bekerja secara acak. Bagi Einstein, alam semesta harus punya hukum yang pasti, keteraturan yang dapat dipahami akal. Ia menginginkan satu kebenaran universal yang indah dan sederhana.

Bila Everett melihat keindahan dalam percabangan, Einstein melihat keindahan dalam kesatuan. Keduanya berbicara dalam bahasa berbeda, tetapi sesungguhnya menatap arah yang sama: mencari makna di balik misteri semesta.

Hawking: Melihat dari Atas Semesta

Stephen Hawking melangkah lebih jauh. Ia tidak menolak gagasan Everett, tetapi juga tidak memeluknya secara dogmatis. Dalam pandangan Hawking, fungsi gelombang alam semesta bisa mencakup semua kemungkinan—seperti peta besar yang memuat setiap jalur yang bisa ditempuh waktu dan ruang. Bagi Hawking, tidak perlu memilih antara satu dunia atau banyak dunia, karena semuanya bagian dari satu persamaan raksasa yang ia sebut “mind of God”, pikiran alam semesta.

Dari sini kita belajar bahwa bahkan pemikiran paling rasional pun menyisakan ruang untuk keajaiban. Hawking mengingatkan: kita tidak harus mengerti seluruhnya untuk bisa mengaguminya.

Michio Kaku dan Taman Multiverse

Lalu datang Michio Kaku, fisikawan Jepang-Amerika yang dikenal pandai menjembatani sains dengan imajinasi. Ia menggambarkan ide Everett sebagai taman semesta yang luas, di mana setiap pohon mewakili dunia paralel yang eksis dalam dimensi berbeda. Bagi Kaku, ini bukan metafora, melainkan kemungkinan nyata dari teori string—bahwa ruang dan waktu memiliki banyak lapisan, dan kita hanyalah satu dari sekian banyak “dunia gelembung” yang mengapung di samudra kosmos.

Jika Einstein melihat keteraturan, dan Everett melihat cabang, maka Kaku mengajak kita berjalan-jalan di taman kosmik: penuh warna, penuh kebebasan. Ia mengajak kita untuk kagum, bukan takut, pada keberagaman realitas.

Pelajaran untuk Dunia Manusia

Kini mari kita keluar dari laboratorium dan kembali ke kehidupan sehari-hari. Bukankah masyarakat kita juga seperti semesta Everett—penuh cabang, penuh perbedaan, tetapi tetap satu pohon besar kehidupan?

Kita sering berselisih karena keyakinan, pandangan politik, atau cara hidup. Kita ingin dunia kita lurus, seragam, tak bercabang. Namun alam semesta sendiri, tempat kita berpijak, justru menunjukkan hal sebaliknya: bahwa perbedaan adalah struktur dasar eksistensi. Alam bekerja dengan keberagaman, bukan keseragaman.

Everett mengajarkan kita untuk melihat bahwa setiap pilihan hidup, setiap nilai, setiap sudut pandang—adalah cabang sah dari pohon besar manusia. Einstein mengingatkan agar kita mencari hukum moral yang menyatukan. Hawking menuntun kita memandang dari ketinggian, agar tak terjebak di satu ranting saja. Dan Kaku mengajak kita tersenyum pada misteri: bahwa mungkin ada dunia lain di mana kita dan orang yang kita benci justru bersahabat.

Menerima, Bukan Menyeragamkan

Pesan tersembunyi di balik perdebatan para fisikawan itu sesungguhnya sederhana namun mendalam:
Belajar menerima bahwa kenyataan tidak harus tunggal untuk bisa benar.

Dalam dunia yang mudah terpecah karena perbedaan, teori Everett bisa menjadi cermin spiritual modern—mengajarkan kita bahwa segala yang berbeda tidak selalu bertentangan; bisa jadi hanya “cabang” lain dari sistem yang sama.

Kita tidak perlu memotong ranting yang tumbuh ke arah berbeda, cukup menyirami akar kebersamaan di batang kehidupan.

Penutup: Alam Semesta Tidak Pernah Salah Jalan

Mungkin pada akhirnya, seluruh perdebatan antara Einstein, Everett, Hawking, dan Kaku hanyalah cara berbeda untuk mengatakan satu hal: semesta tidak pernah salah jalan.
Ia mengekspresikan dirinya lewat keberagaman, seperti pohon yang terus menumbuhkan ranting baru di setiap musim.

Dan kita, manusia, yang merupakan bagian kecil dari pohon itu, hanya perlu belajar satu hal:
bukan memilih cabang mana yang benar, tetapi bagaimana tetap saling berakar pada kasih, pengertian, dan kesadaran bahwa semua ini — semua perbedaan yang membingungkan — adalah cara alam menunjukkan kebijaksanaannya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: duniapohonsemesta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Next Post

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co