12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 18, 2025
in Esai
Pohon Semesta dan Pelajaran Menerima Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BAYANGKAN sebatang pohon besar di halaman belakang rumah kita. Batangnya kokoh, cabangnya banyak, rantingnya menjulur ke segala arah, dan setiap ranting menumbuhkan daun yang berbeda—ada yang hijau muda, ada yang menguning, ada pula yang jatuh ke tanah. Begitulah kira-kira gambaran alam semesta menurut Hugh Everett, fisikawan muda yang pada tahun 1957 berani menantang arus besar pemikiran zaman itu.

Everett mengajukan ide yang disebut relative state formulation, atau yang kini lebih dikenal sebagai Many-Worlds Interpretation. Ia menyatakan bahwa setiap kali ada peristiwa di alam semesta—setiap keputusan, setiap kemungkinan—tidak ada satu pun yang hilang. Semua hasil itu tetap hidup, hanya saja di “ranting” yang berbeda. Alam semesta, menurutnya, bukan satu garis lurus waktu, melainkan pohon dengan cabang-cabang tak terhingga.

Satu Pohon, Banyak Cabang

Bayangkan kita melempar koin. Hasilnya bisa gambar atau angka, kepala atau ekor. Menurut pandangan klasik, hanya satu hasil yang nyata: yang muncul saat koin berhenti berputar. Namun menurut Everett, kedua hasil itu sama-sama terjadi, hanya di dua cabang kenyataan yang berbeda. Dunia tidak memilih salah satu, melainkan mengizinkan semua kemungkinan hidup berdampingan.

Di sinilah keindahan filosofis teori Everett: ia mengajarkan kita bahwa keberagaman bukan kesalahan sistem, tetapi justru bagian dari keseimbangan semesta. Bahwa dunia tidak harus tunggal, karena kehidupan sendiri adalah tarian antara banyak kemungkinan. Inilah hukum probabilitas

Einstein dan Kerinduan Akan Keteraturan

Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Albert Einstein, sang ikon fisika modern, pernah berkata, “Tuhan tidak bermain dadu.” Ia tidak bisa menerima gagasan bahwa alam bekerja secara acak. Bagi Einstein, alam semesta harus punya hukum yang pasti, keteraturan yang dapat dipahami akal. Ia menginginkan satu kebenaran universal yang indah dan sederhana.

Bila Everett melihat keindahan dalam percabangan, Einstein melihat keindahan dalam kesatuan. Keduanya berbicara dalam bahasa berbeda, tetapi sesungguhnya menatap arah yang sama: mencari makna di balik misteri semesta.

Hawking: Melihat dari Atas Semesta

Stephen Hawking melangkah lebih jauh. Ia tidak menolak gagasan Everett, tetapi juga tidak memeluknya secara dogmatis. Dalam pandangan Hawking, fungsi gelombang alam semesta bisa mencakup semua kemungkinan—seperti peta besar yang memuat setiap jalur yang bisa ditempuh waktu dan ruang. Bagi Hawking, tidak perlu memilih antara satu dunia atau banyak dunia, karena semuanya bagian dari satu persamaan raksasa yang ia sebut “mind of God”, pikiran alam semesta.

Dari sini kita belajar bahwa bahkan pemikiran paling rasional pun menyisakan ruang untuk keajaiban. Hawking mengingatkan: kita tidak harus mengerti seluruhnya untuk bisa mengaguminya.

Michio Kaku dan Taman Multiverse

Lalu datang Michio Kaku, fisikawan Jepang-Amerika yang dikenal pandai menjembatani sains dengan imajinasi. Ia menggambarkan ide Everett sebagai taman semesta yang luas, di mana setiap pohon mewakili dunia paralel yang eksis dalam dimensi berbeda. Bagi Kaku, ini bukan metafora, melainkan kemungkinan nyata dari teori string—bahwa ruang dan waktu memiliki banyak lapisan, dan kita hanyalah satu dari sekian banyak “dunia gelembung” yang mengapung di samudra kosmos.

Jika Einstein melihat keteraturan, dan Everett melihat cabang, maka Kaku mengajak kita berjalan-jalan di taman kosmik: penuh warna, penuh kebebasan. Ia mengajak kita untuk kagum, bukan takut, pada keberagaman realitas.

Pelajaran untuk Dunia Manusia

Kini mari kita keluar dari laboratorium dan kembali ke kehidupan sehari-hari. Bukankah masyarakat kita juga seperti semesta Everett—penuh cabang, penuh perbedaan, tetapi tetap satu pohon besar kehidupan?

Kita sering berselisih karena keyakinan, pandangan politik, atau cara hidup. Kita ingin dunia kita lurus, seragam, tak bercabang. Namun alam semesta sendiri, tempat kita berpijak, justru menunjukkan hal sebaliknya: bahwa perbedaan adalah struktur dasar eksistensi. Alam bekerja dengan keberagaman, bukan keseragaman.

Everett mengajarkan kita untuk melihat bahwa setiap pilihan hidup, setiap nilai, setiap sudut pandang—adalah cabang sah dari pohon besar manusia. Einstein mengingatkan agar kita mencari hukum moral yang menyatukan. Hawking menuntun kita memandang dari ketinggian, agar tak terjebak di satu ranting saja. Dan Kaku mengajak kita tersenyum pada misteri: bahwa mungkin ada dunia lain di mana kita dan orang yang kita benci justru bersahabat.

Menerima, Bukan Menyeragamkan

Pesan tersembunyi di balik perdebatan para fisikawan itu sesungguhnya sederhana namun mendalam:
Belajar menerima bahwa kenyataan tidak harus tunggal untuk bisa benar.

Dalam dunia yang mudah terpecah karena perbedaan, teori Everett bisa menjadi cermin spiritual modern—mengajarkan kita bahwa segala yang berbeda tidak selalu bertentangan; bisa jadi hanya “cabang” lain dari sistem yang sama.

Kita tidak perlu memotong ranting yang tumbuh ke arah berbeda, cukup menyirami akar kebersamaan di batang kehidupan.

Penutup: Alam Semesta Tidak Pernah Salah Jalan

Mungkin pada akhirnya, seluruh perdebatan antara Einstein, Everett, Hawking, dan Kaku hanyalah cara berbeda untuk mengatakan satu hal: semesta tidak pernah salah jalan.
Ia mengekspresikan dirinya lewat keberagaman, seperti pohon yang terus menumbuhkan ranting baru di setiap musim.

Dan kita, manusia, yang merupakan bagian kecil dari pohon itu, hanya perlu belajar satu hal:
bukan memilih cabang mana yang benar, tetapi bagaimana tetap saling berakar pada kasih, pengertian, dan kesadaran bahwa semua ini — semua perbedaan yang membingungkan — adalah cara alam menunjukkan kebijaksanaannya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: duniapohonsemesta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gagal Sarjana” Bukan Akhir Kehidupan

Next Post

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Open House, Acara Pertemuan Hangat antar Anak Muda dalam INSPIRATION 2025 FBS Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co