Di sebuah sudut keriuhan kota Kupang, kita bisa sejenak melepas penat sembari minum kopi hangat di D’Art Cafe and Gallery – Kupang. Tepatnya, di Jalan Lingkar Luar No.40, Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT
Di sana, saat ini, bukan hanya minuman dan makanan saja yang bisa kita nikmati – tapi juga lukisan yang terpajang dengan apik. Yang bisa kita nikmati bukanlah sekedar 55 karya rupa dan 3 buah buku dari 22 partisipan. Melainkan jiwa-jiwa yang pernah retak.
Dan kini, dari tanggal 10 Oktober 2025 dan berakhir 24 Oktober 2025 – mereka bicara tanpa kata, lewat pameran karya rupa. Tajuk pameran adalah “Catatan Luka”. Ini bukan sekadar perayaan estetika, melainkan peristiwa batin yang mengguncang sunyi dari 22 penyintas gangguan jiwa. Mereka menorehkan kisahnya, dengan garis, bentuk, bidang, tekstur, coretan, dan cahaya yang temaram.
Mereka bukan seniman biasa. Mereka adalah penyintas yang pernah tenggelam dalam gelap, namun kini berupaya menyalakan lentera dari dalam. Setiap karya adalah catatan luka – bukan untuk dikasihani, tetapi untuk dipahami.
Di balik isi kepala yang dikelilingi mata-mata asing, di balik lanskap kelam yang hanya diterangi satu cahaya – tersimpan harapan yang tak padam. Mereka tidak meminta simpati. Mereka menawarkan kejujuran dari ekspresi jiwanya.
Kurator pameran, Dr. dr. Dewa Putu Sahadewa – membuka ruang ini bukan sekedar sebagai galeri, tetapi juga sebagai altar pemulihan. Terutama, para penyintas dan pasien gangguan jiwa dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare. Di sini, seni rupa menjadi medium yang menyambung jiwa yang pernah terpatah.
Di sini, stigma diluruhkan, dan potensi diangkat ke permukaan. Para penyintas tidak lagi dipandang sebagai pasien, tetapi sebagai pencipta – yang karyanya lahir dari kedalaman yang tak bisa dijangkau oleh teori.
Mereka adalah bagian dari sejarah panjang yang disebut Outsider-Art, atau Art Brut – seni mentah yang lahir dari naluri, bukan dari akademi. Seperti Adolf Wolfli, Ni Nyoman Tanjung, atau Dwi Putro.
Menurut Dewa Putu Sahadewa, Art Brut seringkali mengedepankan karya seniman dengan gangguan seperti skizofrenia. Lukisan mereka kerap mencerminkan pribadi yang obsesif, meluapkan naluri purba yang muncul di bawah rundungan delirium.
Delirium adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Pengidap mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
Mereka, tambah Sahadewa, mencipta bukan untuk sekedar pameran, tetapi untuk bertahan. Kini, karya mereka berdiri sejajar dengan seniman kontemporer di Museum Collection d’Art Brut di Laussane, Switzerland. Bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai penegasan, bahwa kreativitas tidak mengenal batas.
Sejak abad ke-19, para dokter dan filsuf telah memperdebatkan batas antara jenius dan kegilaan. Beberapa ahli menyimpulkan, batas keduanya amat tipis. Namun di ruang ini, batas itu tidak lagi penting.
Hal itu, dijelaskan Sahadewa – bahwa kaitan antara daya cipta luar biasa dan kondisi kejiwaan sudah lama menjadi perdebatan. Pada tahun 1857, dr. W.A. Browne (Skotlandia) menerbitkan Art In Madnes. Kemudian, Sahadewa menambahkan – dokter Italia Cesare Lombroso melahirkan Genio e Folia (Genius and Madness), yang meyakini adanya batas tipis antara jenius kreatif dan gangguan jiwa.
Yang penting, ujar Sahadewa – adalah keberanian untuk mencipta, untuk mengekspresikan, untuk menyembuhkan diri melalui seni. Lukisan-lukisan mereka bukan sekadar visual, tetapi pelampiasan naluri purba, obsesi yang jujur, dan delirium yang menjadi bentuk.

Pada pameran Catatan Luka ini, bukan hanya seni rupa yang di pertunjukkan. Puisi dan cerpen mereka, juga berteriak dengan indah – kadang seperti bisikan yang tajam, kadang seperti pelukan yang hangat.
Craf atau kerajinan tangan mereka juga menunjukkan ketekunan, sensitivitas, dan kemampuan yang tak kalah dari seniman formal. Mereka seperti sedang berkata, apa yang pernah dipikirkan oleh filsuf asall Perancis, Descrates – Cogito Ergo Sum “aku berpikir maka aku ada”
Dahulu kala, di dinding gua-gua purba, manusia mulai mengguratkan dunia batinnya dengan torehan arang , torehan benda tajam atau tanah liat. Di sana, lahirlah bahasa sebelum kata – nyanyian sebelum suara, dan doa sebelum agama. Sejak itu, seni rupa tak pernah berhenti menjadi cermin zaman – berubah bentuk, namun tetap menjadi jendela jiwa.
Dari altar pemujaan hingga galeri kontemporer – dari simbol sakral hingga fragmen dunia profan, seni rupa adalah napas yang menghidupkan makna. Ia bukan sekadar bentuk, tetapi jejak batin yang tak terucap. Dalam setiap garis dan warna, tersimpan perasaan yang tak bisa dijelaskan, luka yang tak bisa dituturkan, dan harapan yang tak bisa dihambat.
Dr Dewa Ayu Putu Shinta Widari SpKJ, MARS – Psikiater pada Klinik Utama Jiwa DMH dan RSIA Dedari, serta Dosen Ilmu Psikiatri pada FK UNDANA – menyebutkan di pengantarnya, bahwa para filsuf besar – Aristoteles, Kant, Nietzsche – telah menatap seni sebagai cermin eksistensi.
Para psikolog – tambah dr Shinta – Freud, Jung, Maslow – menyentuhnya sebagai jalan penyembuhan. Namun lebih dari teori, para senimanlah yang merasakannya, bahwa seni adalah bahasa jiwa, tempat manusia berbicara kepada dunia dan kepada dirinya sendiri.
Dan kini, pada pameran “Catatan Luka” ini, di tengah riuhnya zaman yang sering melupakan kedalaman, seni rupa kembali menawarkan pelukan, sebagai terapi, sebagai ruang aman, sebagai jalan pulang, menuju kesembuhan yang membahagiakan.
Senirupa adalah bahasa visual. Ia tak menuntut kata-kata. Ia menerima tangisan dalam warna, kemarahan dalam bentuk, dan kerinduan dalam tekstur. Ia menjadi saluran bagi yang tak terucap, ruang bagi yang tersembunyi.
Seni rupa mengajak kita semua untuk hadir, untuk melihat diri sendiri tanpa cermin, untuk menyentuh luka tanpa takut, dan untuk berbicara tanpa suara. Ia bukan sekadar aktivitas, tetapi ritual pemulihan.
Menurut Dr. Sinta, di ruang terapi, terapis bukan hakim, melainkan penjaga taman. Ia menyediakan tanah, air, dan cahaya. Individu datang dengan benih-benih rasa, lalu menanamnya dalam kanvas, tanah liat, atau kertas. Mereka menyiramnya dengan imajinasi, dan menunggu ‘bunga-bunga makna’ tumbuh. Cahaya pun, kian benderang.
Seni rupa tak menyembuhkan dengan obat, tapi dengan kehadiran. Ia mengurangi kecemasan seperti embun yang menenangkan daun. Ia meningkatkan harga diri seperti matahari yang menyapa pagi.
Ia membangun koneksi sosial seperti akar yang saling merangkul di bawah tanah. Ia melatih fokus, kepekaan, dan keberanian untuk melihat diri sendiri. Ia bukan pelarian, tapi perjalanan pulang.
Seni rupa bukan sekadar hobi. Ia adalah doa yang tak terucap, pelukan yang tak terlihat, dan jalan yang tak beraspal. Ia adalah ruang di mana manusia bisa menjadi utuh, meski retak. Ia adalah terapi yang tak memaksa, hanya mengundang.
Dalam garis, tekstur, coretan, cipratan, warna, dan bentuk, kita menemukan bukan hanya keindahan, tapi juga pemulihan. Kita menemukan bahwa seni bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan – sebagai cermin, sebagai teman, sebagai penyembuh. Mungkin saja, dalam satu goresan kecil di sudut kanvas, kita menemukan dunia yang selama ini kita cari – dunia di dalam diri.
Mari, sejenak kita nikmati beberapa karya mereka. Tercatat, yang paling produktif adalah Sadiyah Handayani dengan 17 karya. Saya tertarik dengan salah satu karyanya yang berjudul : “Padang Pasir Harapan”. Mari simak karyanya yang berjudul : “Padang Pasir Harapan”.
Dalam karya tiga panel ini, Sadiyah menghadirkan lanskap gurun yang bukan sekadar ruang kosong atau tandus, melainkan medan harapan yang dipenuhi motif, jejak, dan narasi visual.

Gurun dalam karya ini bukan tempat kehilangan, melainkan tempat pencarian – sebuah padang spiritual di mana manusia berdiri di atas bukit-bukit harapan, menatap langit yang berputar dalam pusaran mimpi.
Penggunaan gradasi warna dan garis yang tajam, menunjukkan ketelitian dan kepekaan artistik. Warna-warna hangat yang mendominasi – kuning pasir, oranye lembut, dan coklat tanah – menghadirkan suasana yang tidak gersang, melainkan hangat dan penuh potensi. Teknik ini memperkuat kesan bahwa gurun bukanlah tempat kematian, melainkan tempat kelahiran makna.
Menurut saya, karya ini adalah ruang kontemplatif yang mengajak kita untuk merenung tentang posisi kita dalam dunia. Gurun dalam karya ini bukan tempat kehilangan, melainkan tempat pencarian.
Harapan bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang dibangun – dengan berdiri, dengan menatap, dan dengan percaya bahwa bahkan dalam kesunyian, makna bisa tumbuh.
Yang juga cukup produktif berikutnya adalah Diana Rifda Hanifa dengan 8 karya rupa dan 3 buah buku. Saya tertarik dengan karyanya yang bertajuk Green Trees Riverside. Di antara hijau yang tak bersuara dan langit yang mengalir pelan, Diana Rifda Hanifa menenun lanskap yang bukan sekadar pemandangan.
Tafsir saya, karya ini bukan sekedar pemandangan, melainkan perasaan yang tak terucap. Green Trees Riverside bukan hanya lukisan tentang alam, melainkan tentang waktu yang berhenti sejenak untuk bernapas.

Pohon-pohon berdiri seperti penjaga sunyi, menyaksikan aliran sungai yang memantulkan langit dan diri mereka sendiri. Dalam pantulan itu, kita melihat bukan hanya bentuk, tapi juga bayangan dari sesuatu yang lebih dalam – kerinduan, ketenangan, atau mungkin kenangan yang belum selesai.
Garis-garis halus dan warna-warna yang menyatu membentuk ritme yang lembut, seperti napas pagi yang belum terganggu oleh hiruk pikuk dunia. Pagar kayu yang sederhana di tepi rumput menjadi penanda manusia, tapi bukan pengganggu. Ia hadir seperti bisikan, bukan teriakan.
Sungai dalam karya ini bukan sekadar air yang mengalir, melainkan cermin waktu. Ia memantulkan langit dan pohon, tapi juga memantulkan kita – penonton yang diam-diam mencari makna dalam lanskap yang tenang.
Langit biru dengan awan yang berserak tidak mendominasi, tapi menyertai. Ia seperti teman lama yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Dalam kehadirannya, kita merasa diterima, bukan dihakimi. Warna-warna bumi – hijau, coklat, kuning, berbicara dalam nada rendah. Mereka tidak memaksa mata untuk kagum, tapi mengundang hati untuk ‘tinggal serta’ di dalam.
Green Trees Riverside adalah doa tanpa kata. Ia adalah meditasi dalam bentuk visual, tempat di mana kita bisa duduk sejenak, menatap air, dan merasa bahwa dunia tidak selalu harus bergerak cepat.
Bahwa keindahan bisa hadir dalam diam, dan harapan bisa tumbuh di antara bayangan pohon dan langit yang bersahaja. Diana Rifda Hanifa tidak hanya melukis alam, ia melukis ketenangan yang kita cari dalam diri sendiri.
Yang tak kalah menariknya adalah karya Winesyah Primona Bria Seran yang menghadirkan 3 buah karya. Salah satu karyanya yang saya suka adalah Me, My Self & I. Bagi saya, karya ini merupakan refleksi yang mendalam oleh pelukisnya.
Di tengah latar hitam yang pekat, sebuah sosok muncul – kepala kuning bundar dengan mata dan senyum merah, tubuh putih yang tak berbentuk, dan jejak-jejak tangan merah yang mengambang di sekelilingnya.

Ini bukan sekadar figure – ini adalah medan eksistensial. Lukisan karya Winesyah Primona Bria Seran ini bukan hanya visual, melainkan sebuah pernyataan tentang keberadaan yang retak, tentang identitas yang tak pernah utuh, dan tentang tubuh yang terus-menerus dinegosiasikan.
Kepala kuning dengan ekspresi senyum merah adalah topeng yang familiar. Ia mengingatkan kita pada ikonografi digital – emoji, avatar, representasi diri yang dikonstruksi.
Tapi senyum itu tidak menyentuh tubuh. Ia melayang, terpisah dari bentuk yang seharusnya menopangnya. Di sini, Me adalah tubuh yang hadir, My Self adalah konstruksi sosial yang tersenyum, dan I adalah kesadaran yang mengamati keterpisahan itu. Lukisan ini menjadi ruang di mana ketiganya saling menatap, tapi tak pernah menyatu.
Cap tangan merah di latar bukan sekadar ornamen. Ia adalah jejak – mungkin dari orang lain, mungkin dari diri sendiri yang terpecah. Tangan-tangan ini tidak menyentuh sosok utama, tapi mengelilinginya seperti kenangan yang tak bisa dihapus.
Mereka bisa dibaca sebagai trauma kolektif, sebagai tekanan sosial, atau sebagai intervensi terhadap proses menjadi. Dalam konteks kuratorial, elemen ini membuka ruang untuk membaca karya sebagai bagian dari narasi “Tubuh dan Jejak Sosial”, di mana tubuh bukan entitas tunggal, melainkan hasil dari interaksi dan benturan.
Selanjutnya, yang juga menarik perhatian saya adalah karya dr. CIN dan Ilmiyati Nurfaizah. Ilmiyati (15) adalah peserta termuda pada perhelatan ini. CIN yang punya kecerdas ekstra, kali ini mengetengahkan karyanya yang bertajuk “Harapan Yang Tumbuh Di Tengah Ketidakberdayaan”.
Pohon dalam lukisan ini bukan simbol kehidupan yang subur, melainkan tubuh yang telah melewati musim gugur panjang. Ia berdiri dalam ketelanjangan, memperlihatkan luka-luka waktu.
Namun justru dari tubuh yang nyaris tak berdaya itu, tumbuh daun-daun kecil – tanda bahwa hidup belum selesai. Dalam konteks eksistensial, pohon ini adalah metafora tubuh manusia yang terus mencoba, meski dunia tak memberi jaminan.

Judul lukisan ini menyatakan dengan jujur – harapan yang tumbuh di tengah ketidakberdayaan. Bukan harapan yang lahir dari kemenangan, melainkan dari keterbatasan. Ini adalah harapan yang tidak berteriak, tapi berbisik.
Ia tumbuh pelan, seperti daun-daun kecil di ranting kering. Dalam dunia yang sering memuja kekuatan dan produktivitas, lukisan ini mengingatkan kita bahwa harapan sejati justru muncul ketika kita tak punya apa-apa selain keberanian untuk bertahan.
Karya ini berbicara dalam bahasa yang sunyi, namun kuat. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, lukisan ini bisa menjadi refleksi atas kondisi sosial, ekologis, dan spiritual yang sering membuat kita merasa kecil. Tapi justru dari rasa kecil itulah, tumbuh kemungkinan untuk melihat dunia dengan cara baru.
Menyimak karya Ilmiyati yang bertajuk : Tanpa Judul – cukup menarik. Karyanya ini, justru memiliki narasi yang jelas. Di atas jembatan yang membentang melintasi air, seorang figur kecil berjalan sendirian.
Di kiri, sebuah pohon berdiri tegak, akarnya menyentuh tanah yang ditumbuhi bunga merah. Langit biru membentang luas, menyimpan awan-awan yang tak terbentuk sempurna. Ini bukan sekadar lanskap, ini adalah narasi tentang perjalanan, tentang keberanian untuk melangkah meski arah belum pasti.
Di tengah gambar, sebuah kalimat ditulis dengan tangan:
“Orang yang terus berusaha, ke-adaaan pun berusaha mewujudkannya.”
Kalimat ini bukan hanya motivasi, melainkan sebuah pernyataan ontologis. Ia menyiratkan bahwa semesta bukan entitas pasif, melainkan medan yang merespons niat dan gerak. Dalam dunia yang sering terasa acuh, kalimat ini mengusulkan bahwa usaha manusia memiliki getar kosmis.

Jembatan dalam gambar bukan hanya struktur fisik, tapi simbol transisi. Ia menghubungkan dua sisi yang tak terlihat – mungkin masa lalu dan masa depan, mungkin keraguan dan harapan.
Figur yang berjalan di atasnya adalah kita semua, individu yang menyeberangi hidup dengan langkah-langkah kecil, membawa beban, harapan, dan ketakutan. Dalam konteks seni pelajar, jembatan ini juga bisa dibaca sebagai simbol pendidikan – sebuah proses yang menghubungkan potensi dengan kenyataan, mimpi dengan harapan masa depan.
Karya ini berbicara dalam bahasa sederhana, tapi menyimpan kedalaman filosofis. Dalam konteks generasi Z, karya ini menunjukkan bahwa refleksi eksistensial tidak harus rumit – ia bisa muncul dari goresan tangan dan kalimat yang jujur.
Di dunia yang sering kali membungkam suara-suara dari tepian, pameran ini hadir sebagai ruang keberanian. “Catatan Luka” bukan sekadar pameran seni rupa. Ia adalah peristiwa batin, tempat di mana 22 penyintas gangguan jiwa dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare menyalakan lentera dari dalam.
Melalui lukisan, puisi, cerpen, dan kerajinan tangan, mereka bicara. Bukan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan bahasa yang lahir dari luka, dari harapan, dari keberanian untuk tetap ada. [T]



























