16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
October 5, 2025
in Cerpen
Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPANJANG jalan Bangkinang, matahari selalu jatuh seperti sepotong logam panas yang digantung rendah di langit. Jalan itu panjang, berliku, dan seakan tak pernah selesai, bagai doa yang dipanjatkan tapi tak kunjung menemukan “amin”-nya. Aspal hitam membentang, dihiasi debu, lubang kecil, dan jejak ban truk yang lalu-lalang seperti gerombolan binatang besi lapar. Di kanan-kiri, pohon karet berjajar rapat, meneteskan getah yang putih pucat bagai air mata beku.

Aku berjalan di atas jalan itu, entah menuju ke mana, seperti orang yang dihalau bayang-bayangnya sendiri. Setiap langkahku menimbulkan gema kecil di dada, gema masa lalu yang enggan diam. Angin yang berhembus membawa aroma tanah basah, bercampur dengan bau solar dari kendaraan yang melintas. Ada rasa asing sekaligus akrab, seperti pertemuan dengan kawan lama yang wajahnya samar dalam ingatan.

Bangkinang bukan sekadar kota kecil di tepi Kampar. Ia lebih mirip kenangan yang menjelma ruang, cerita yang menitis menjadi jalan. Di sini, setiap tikungan menyimpan rahasia, setiap pohon menahan bisik, dan setiap rumah menampung sekelumit kisah orang-orang yang pernah singgah.

Aku masih ingat pertama kali menjejak jalan ini—bertahun-tahun lalu—ketika usia masih hijau, ketika tubuh masih penuh bara. Aku datang sebagai perantau, membawa koper tua yang lebih berat dari harapanku, meninggalkan kampung di tepi laut demi kota yang katanya menjanjikan rezeki lebih deras. Tapi siapa yang tahu, di balik janji selalu ada selubung luka?

Hari pertama di Bangkinang, aku tidur di sebuah losmen reyot di dekat terminal. Malamnya, suara truk bergemuruh seperti guntur yang tak kunjung reda. Bau solar, kopi panas yang diseduh murahan, dan asap rokok yang menempel di langit-langit kamar—semua itu menyambutku, seakan hendak berkata: “Beginilah dunia perantau. Kau boleh berharap, tapi jangan terlalu muluk.”

***

Esoknya, aku berjalan menyusuri jalan Bangkinang, mencari pekerjaan. Panas matahari membuat keringat menetes deras, tapi tekadku lebih keras. Di sebuah warung kopi tua, aku duduk sebentar, mengisi perut dengan mi rebus. Dari situlah aku melihatnya: seorang perempuan muda dengan payung biru, melangkah ringan meski hujan gerimis turun tipis-tipis.

Syahra. Begitulah namanya.

Pertemuan itu sederhana, tapi bagai pertemuan sungai dengan laut—alamiah namun mengguncang. Ia tersenyum padaku, menawari untuk berteduh di bawah payungnya, padahal gerimis nyaris tak berarti. Aku menerima tawaran itu, dan sejak detik itu, payung biru menjadi simbol yang menandai awal sebuah cerita panjang.

Hari-hari berikutnya, jalan Bangkinang menjadi saksi langkah-langkah kami. Kami berjalan beriringan di trotoar yang setengah retak, menertawakan hal-hal kecil, memungut mimpi di antara kerikil.

Syahra selalu punya cara membuat perjalanan terasa ringan, seakan jalan panjang itu hanyalah koridor sempit menuju sebuah pintu ajaib. Ia bercerita tentang masa kecilnya di tepi Kampar, tentang perahu kayu yang sering ia naiki bersama ayahnya, tentang riak air yang mengajari arti sabar. Aku mendengarkan, merasa setiap kata yang ia ucapkan adalah benih yang menumbuhkan pohon baru dalam diriku.

Aku bekerja serabutan: kadang menjadi kuli panggul di pasar, kadang menjadi tukang ojek dengan motor pinjaman, kadang pula ikut mengangkut kayu di truk. Badan letih, tangan kasar, tapi setiap kali melihat senyum Syahra, segala penat berubah jadi tenaga baru. Ia menjadi mata air di gurun keringku.

Namun, cinta selalu berjalan di antara cahaya dan bayangan. Sepanjang jalan Bangkinang pula aku belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah hanya dengan desah angin. Ketika aku mulai menganyam mimpi bersama Syahra, aku justru menemukan tembok-tembok yang menghalangi.

Ayahnya, seorang pedagang kayu yang keras kepala, tak pernah merestui kehadiranku. Baginya aku hanya perantau miskin, anak nelayan tanpa tanah dan tanpa masa depan. “Anak nelayan sepertimu tidak pantas untuk anakku,” ucapnya dingin suatu malam, di rumah bercat hijau pucat dengan halaman penuh pot bunga. Kata-kata itu menikam, lebih tajam dari parang yang baru diasah.

***

Sejak malam itu, jalan Bangkinang tak lagi terasa ramah. Setiap kali aku melangkah di atasnya, ada semacam luka yang ikut berdetak bersama detak langkahku.

Meski begitu, aku dan Syahra tetap bertemu. Kami sembunyi-sembunyi di tepi sungai, di bawah jembatan, atau di warung kopi kecil dekat terminal. Tapi kami tahu, dunia terlalu sempit untuk menyembunyikan cinta yang ditolak.

Ada satu sore yang tak pernah kulupa. Kami duduk di tepi Kampar, menyaksikan matahari tenggelam perlahan. Syahra menggenggam tanganku erat. “Kalau pun nanti kita tak bisa bersama, jangan lupakan jalan ini,” katanya lirih. “Jalan ini saksi kita. Setiap kali kau rindu, berjalanlah di atasnya. Kau akan merasakan aku di setiap debu dan daun.”

Aku hanya bisa mengangguk, menahan sesak yang menggerus dada.

Tak lama setelah itu, aku harus pergi. Perjalanan panjangku sebagai perantau memaksaku meninggalkan Bangkinang, meninggalkan Syahra, meninggalkan jalan yang sudah terlanjur kutandai dengan jejak rindu. Aku membawa serta wajahnya yang terakhir kulihat, di sebuah sore berdebu, ketika ia berdiri di ujung jalan, melambaikan tangan dengan mata basah.

Sejak itu, sepanjang jalan Bangkinang hanya hidup dalam ingatanku, seperti film lama yang terus diputar ulang.

***

Bertahun-tahun berlalu. Aku kembali, bukan lagi sebagai anak nelayan miskin. Aku pulang dengan langkah yang lebih pasti, setelah mengarungi banyak kota, setelah menambal nasib dengan kerja keras dan doa. Aku kembali untuk menziarahi jalan, menziarahi kenangan, dan mungkin menziarahi diriku sendiri yang tertinggal di sana.

Bangkinang ternyata tak banyak berubah. Jalan itu tetap panjang, tetap penuh debu dan truk, tetap dipagari pohon karet yang sabar. Warung-warung tua masih berdiri, meski beberapa sudah diganti bangunan baru. Sungai Kampar tetap mengalir, membawa kabar dari hulu ke muara.

Hanya satu yang benar-benar berubah: Syahra.

Aku menemukannya lagi, tapi bukan sebagai gadis yang dulu menemaniku di bawah payung biru. Ia kini seorang perempuan dewasa, istri dari seorang pengusaha kayu, dan ibu dari dua anak. Senyumnya masih sama, tapi di balik itu ada dinding tak kasatmata yang memisahkan.

Kami bertemu di sebuah pasar malam, di bawah cahaya lampu warna-warni dan musik dangdut yang riuh. Pertemuan itu singkat, hanya beberapa menit, cukup untuk menyadarkan aku bahwa waktu bisa mengubah segalanya, kecuali rasa yang sudah berakar.

Syahra menatapku lama, seolah ingin berkata banyak hal yang tak bisa diucapkan. Aku hanya tersenyum, menunduk, lalu melangkah pergi.

***

Malam itu, ketika aku kembali berjalan menyusuri jalan Bangkinang, aku merasa seakan setiap tiang listrik, setiap dedaunan, dan setiap batu kecil berbisik padaku: bahwa hidup memang perjalanan yang tak bisa ditebak. Kita bisa memilih langkah, tapi tak bisa memilih akhir. Kita bisa mencintai, tapi tak bisa memaksa dunia untuk merestui.

Sepanjang jalan Bangkinang, aku akhirnya mengerti: cinta bukan soal memiliki, melainkan soal merawat kenangan. Dan kenangan itu kini menempel di jalan ini, bagai bayangan yang tak bisa kuhapus.

Aku berjalan terus, membiarkan angin malam menyapu wajahku, membiarkan lampu-lampu jalan menerangi langkah yang masih panjang. Bangkinang tetap menjadi ruang di mana aku pernah belajar arti kehilangan, arti keberanian, dan arti merelakan. Jalan itu tetap panjang, mungkin sepanjang hidupku sendiri. Dan setiap kali aku menjejakinya lagi, aku tahu, aku sedang menjejak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

Next Post

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co