25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
October 5, 2025
in Cerpen
Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPANJANG jalan Bangkinang, matahari selalu jatuh seperti sepotong logam panas yang digantung rendah di langit. Jalan itu panjang, berliku, dan seakan tak pernah selesai, bagai doa yang dipanjatkan tapi tak kunjung menemukan “amin”-nya. Aspal hitam membentang, dihiasi debu, lubang kecil, dan jejak ban truk yang lalu-lalang seperti gerombolan binatang besi lapar. Di kanan-kiri, pohon karet berjajar rapat, meneteskan getah yang putih pucat bagai air mata beku.

Aku berjalan di atas jalan itu, entah menuju ke mana, seperti orang yang dihalau bayang-bayangnya sendiri. Setiap langkahku menimbulkan gema kecil di dada, gema masa lalu yang enggan diam. Angin yang berhembus membawa aroma tanah basah, bercampur dengan bau solar dari kendaraan yang melintas. Ada rasa asing sekaligus akrab, seperti pertemuan dengan kawan lama yang wajahnya samar dalam ingatan.

Bangkinang bukan sekadar kota kecil di tepi Kampar. Ia lebih mirip kenangan yang menjelma ruang, cerita yang menitis menjadi jalan. Di sini, setiap tikungan menyimpan rahasia, setiap pohon menahan bisik, dan setiap rumah menampung sekelumit kisah orang-orang yang pernah singgah.

Aku masih ingat pertama kali menjejak jalan ini—bertahun-tahun lalu—ketika usia masih hijau, ketika tubuh masih penuh bara. Aku datang sebagai perantau, membawa koper tua yang lebih berat dari harapanku, meninggalkan kampung di tepi laut demi kota yang katanya menjanjikan rezeki lebih deras. Tapi siapa yang tahu, di balik janji selalu ada selubung luka?

Hari pertama di Bangkinang, aku tidur di sebuah losmen reyot di dekat terminal. Malamnya, suara truk bergemuruh seperti guntur yang tak kunjung reda. Bau solar, kopi panas yang diseduh murahan, dan asap rokok yang menempel di langit-langit kamar—semua itu menyambutku, seakan hendak berkata: “Beginilah dunia perantau. Kau boleh berharap, tapi jangan terlalu muluk.”

***

Esoknya, aku berjalan menyusuri jalan Bangkinang, mencari pekerjaan. Panas matahari membuat keringat menetes deras, tapi tekadku lebih keras. Di sebuah warung kopi tua, aku duduk sebentar, mengisi perut dengan mi rebus. Dari situlah aku melihatnya: seorang perempuan muda dengan payung biru, melangkah ringan meski hujan gerimis turun tipis-tipis.

Syahra. Begitulah namanya.

Pertemuan itu sederhana, tapi bagai pertemuan sungai dengan laut—alamiah namun mengguncang. Ia tersenyum padaku, menawari untuk berteduh di bawah payungnya, padahal gerimis nyaris tak berarti. Aku menerima tawaran itu, dan sejak detik itu, payung biru menjadi simbol yang menandai awal sebuah cerita panjang.

Hari-hari berikutnya, jalan Bangkinang menjadi saksi langkah-langkah kami. Kami berjalan beriringan di trotoar yang setengah retak, menertawakan hal-hal kecil, memungut mimpi di antara kerikil.

Syahra selalu punya cara membuat perjalanan terasa ringan, seakan jalan panjang itu hanyalah koridor sempit menuju sebuah pintu ajaib. Ia bercerita tentang masa kecilnya di tepi Kampar, tentang perahu kayu yang sering ia naiki bersama ayahnya, tentang riak air yang mengajari arti sabar. Aku mendengarkan, merasa setiap kata yang ia ucapkan adalah benih yang menumbuhkan pohon baru dalam diriku.

Aku bekerja serabutan: kadang menjadi kuli panggul di pasar, kadang menjadi tukang ojek dengan motor pinjaman, kadang pula ikut mengangkut kayu di truk. Badan letih, tangan kasar, tapi setiap kali melihat senyum Syahra, segala penat berubah jadi tenaga baru. Ia menjadi mata air di gurun keringku.

Namun, cinta selalu berjalan di antara cahaya dan bayangan. Sepanjang jalan Bangkinang pula aku belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah hanya dengan desah angin. Ketika aku mulai menganyam mimpi bersama Syahra, aku justru menemukan tembok-tembok yang menghalangi.

Ayahnya, seorang pedagang kayu yang keras kepala, tak pernah merestui kehadiranku. Baginya aku hanya perantau miskin, anak nelayan tanpa tanah dan tanpa masa depan. “Anak nelayan sepertimu tidak pantas untuk anakku,” ucapnya dingin suatu malam, di rumah bercat hijau pucat dengan halaman penuh pot bunga. Kata-kata itu menikam, lebih tajam dari parang yang baru diasah.

***

Sejak malam itu, jalan Bangkinang tak lagi terasa ramah. Setiap kali aku melangkah di atasnya, ada semacam luka yang ikut berdetak bersama detak langkahku.

Meski begitu, aku dan Syahra tetap bertemu. Kami sembunyi-sembunyi di tepi sungai, di bawah jembatan, atau di warung kopi kecil dekat terminal. Tapi kami tahu, dunia terlalu sempit untuk menyembunyikan cinta yang ditolak.

Ada satu sore yang tak pernah kulupa. Kami duduk di tepi Kampar, menyaksikan matahari tenggelam perlahan. Syahra menggenggam tanganku erat. “Kalau pun nanti kita tak bisa bersama, jangan lupakan jalan ini,” katanya lirih. “Jalan ini saksi kita. Setiap kali kau rindu, berjalanlah di atasnya. Kau akan merasakan aku di setiap debu dan daun.”

Aku hanya bisa mengangguk, menahan sesak yang menggerus dada.

Tak lama setelah itu, aku harus pergi. Perjalanan panjangku sebagai perantau memaksaku meninggalkan Bangkinang, meninggalkan Syahra, meninggalkan jalan yang sudah terlanjur kutandai dengan jejak rindu. Aku membawa serta wajahnya yang terakhir kulihat, di sebuah sore berdebu, ketika ia berdiri di ujung jalan, melambaikan tangan dengan mata basah.

Sejak itu, sepanjang jalan Bangkinang hanya hidup dalam ingatanku, seperti film lama yang terus diputar ulang.

***

Bertahun-tahun berlalu. Aku kembali, bukan lagi sebagai anak nelayan miskin. Aku pulang dengan langkah yang lebih pasti, setelah mengarungi banyak kota, setelah menambal nasib dengan kerja keras dan doa. Aku kembali untuk menziarahi jalan, menziarahi kenangan, dan mungkin menziarahi diriku sendiri yang tertinggal di sana.

Bangkinang ternyata tak banyak berubah. Jalan itu tetap panjang, tetap penuh debu dan truk, tetap dipagari pohon karet yang sabar. Warung-warung tua masih berdiri, meski beberapa sudah diganti bangunan baru. Sungai Kampar tetap mengalir, membawa kabar dari hulu ke muara.

Hanya satu yang benar-benar berubah: Syahra.

Aku menemukannya lagi, tapi bukan sebagai gadis yang dulu menemaniku di bawah payung biru. Ia kini seorang perempuan dewasa, istri dari seorang pengusaha kayu, dan ibu dari dua anak. Senyumnya masih sama, tapi di balik itu ada dinding tak kasatmata yang memisahkan.

Kami bertemu di sebuah pasar malam, di bawah cahaya lampu warna-warni dan musik dangdut yang riuh. Pertemuan itu singkat, hanya beberapa menit, cukup untuk menyadarkan aku bahwa waktu bisa mengubah segalanya, kecuali rasa yang sudah berakar.

Syahra menatapku lama, seolah ingin berkata banyak hal yang tak bisa diucapkan. Aku hanya tersenyum, menunduk, lalu melangkah pergi.

***

Malam itu, ketika aku kembali berjalan menyusuri jalan Bangkinang, aku merasa seakan setiap tiang listrik, setiap dedaunan, dan setiap batu kecil berbisik padaku: bahwa hidup memang perjalanan yang tak bisa ditebak. Kita bisa memilih langkah, tapi tak bisa memilih akhir. Kita bisa mencintai, tapi tak bisa memaksa dunia untuk merestui.

Sepanjang jalan Bangkinang, aku akhirnya mengerti: cinta bukan soal memiliki, melainkan soal merawat kenangan. Dan kenangan itu kini menempel di jalan ini, bagai bayangan yang tak bisa kuhapus.

Aku berjalan terus, membiarkan angin malam menyapu wajahku, membiarkan lampu-lampu jalan menerangi langkah yang masih panjang. Bangkinang tetap menjadi ruang di mana aku pernah belajar arti kehilangan, arti keberanian, dan arti merelakan. Jalan itu tetap panjang, mungkin sepanjang hidupku sendiri. Dan setiap kali aku menjejakinya lagi, aku tahu, aku sedang menjejak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

Next Post

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co