24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
October 5, 2025
in Cerpen
Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPANJANG jalan Bangkinang, matahari selalu jatuh seperti sepotong logam panas yang digantung rendah di langit. Jalan itu panjang, berliku, dan seakan tak pernah selesai, bagai doa yang dipanjatkan tapi tak kunjung menemukan “amin”-nya. Aspal hitam membentang, dihiasi debu, lubang kecil, dan jejak ban truk yang lalu-lalang seperti gerombolan binatang besi lapar. Di kanan-kiri, pohon karet berjajar rapat, meneteskan getah yang putih pucat bagai air mata beku.

Aku berjalan di atas jalan itu, entah menuju ke mana, seperti orang yang dihalau bayang-bayangnya sendiri. Setiap langkahku menimbulkan gema kecil di dada, gema masa lalu yang enggan diam. Angin yang berhembus membawa aroma tanah basah, bercampur dengan bau solar dari kendaraan yang melintas. Ada rasa asing sekaligus akrab, seperti pertemuan dengan kawan lama yang wajahnya samar dalam ingatan.

Bangkinang bukan sekadar kota kecil di tepi Kampar. Ia lebih mirip kenangan yang menjelma ruang, cerita yang menitis menjadi jalan. Di sini, setiap tikungan menyimpan rahasia, setiap pohon menahan bisik, dan setiap rumah menampung sekelumit kisah orang-orang yang pernah singgah.

Aku masih ingat pertama kali menjejak jalan ini—bertahun-tahun lalu—ketika usia masih hijau, ketika tubuh masih penuh bara. Aku datang sebagai perantau, membawa koper tua yang lebih berat dari harapanku, meninggalkan kampung di tepi laut demi kota yang katanya menjanjikan rezeki lebih deras. Tapi siapa yang tahu, di balik janji selalu ada selubung luka?

Hari pertama di Bangkinang, aku tidur di sebuah losmen reyot di dekat terminal. Malamnya, suara truk bergemuruh seperti guntur yang tak kunjung reda. Bau solar, kopi panas yang diseduh murahan, dan asap rokok yang menempel di langit-langit kamar—semua itu menyambutku, seakan hendak berkata: “Beginilah dunia perantau. Kau boleh berharap, tapi jangan terlalu muluk.”

***

Esoknya, aku berjalan menyusuri jalan Bangkinang, mencari pekerjaan. Panas matahari membuat keringat menetes deras, tapi tekadku lebih keras. Di sebuah warung kopi tua, aku duduk sebentar, mengisi perut dengan mi rebus. Dari situlah aku melihatnya: seorang perempuan muda dengan payung biru, melangkah ringan meski hujan gerimis turun tipis-tipis.

Syahra. Begitulah namanya.

Pertemuan itu sederhana, tapi bagai pertemuan sungai dengan laut—alamiah namun mengguncang. Ia tersenyum padaku, menawari untuk berteduh di bawah payungnya, padahal gerimis nyaris tak berarti. Aku menerima tawaran itu, dan sejak detik itu, payung biru menjadi simbol yang menandai awal sebuah cerita panjang.

Hari-hari berikutnya, jalan Bangkinang menjadi saksi langkah-langkah kami. Kami berjalan beriringan di trotoar yang setengah retak, menertawakan hal-hal kecil, memungut mimpi di antara kerikil.

Syahra selalu punya cara membuat perjalanan terasa ringan, seakan jalan panjang itu hanyalah koridor sempit menuju sebuah pintu ajaib. Ia bercerita tentang masa kecilnya di tepi Kampar, tentang perahu kayu yang sering ia naiki bersama ayahnya, tentang riak air yang mengajari arti sabar. Aku mendengarkan, merasa setiap kata yang ia ucapkan adalah benih yang menumbuhkan pohon baru dalam diriku.

Aku bekerja serabutan: kadang menjadi kuli panggul di pasar, kadang menjadi tukang ojek dengan motor pinjaman, kadang pula ikut mengangkut kayu di truk. Badan letih, tangan kasar, tapi setiap kali melihat senyum Syahra, segala penat berubah jadi tenaga baru. Ia menjadi mata air di gurun keringku.

Namun, cinta selalu berjalan di antara cahaya dan bayangan. Sepanjang jalan Bangkinang pula aku belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah hanya dengan desah angin. Ketika aku mulai menganyam mimpi bersama Syahra, aku justru menemukan tembok-tembok yang menghalangi.

Ayahnya, seorang pedagang kayu yang keras kepala, tak pernah merestui kehadiranku. Baginya aku hanya perantau miskin, anak nelayan tanpa tanah dan tanpa masa depan. “Anak nelayan sepertimu tidak pantas untuk anakku,” ucapnya dingin suatu malam, di rumah bercat hijau pucat dengan halaman penuh pot bunga. Kata-kata itu menikam, lebih tajam dari parang yang baru diasah.

***

Sejak malam itu, jalan Bangkinang tak lagi terasa ramah. Setiap kali aku melangkah di atasnya, ada semacam luka yang ikut berdetak bersama detak langkahku.

Meski begitu, aku dan Syahra tetap bertemu. Kami sembunyi-sembunyi di tepi sungai, di bawah jembatan, atau di warung kopi kecil dekat terminal. Tapi kami tahu, dunia terlalu sempit untuk menyembunyikan cinta yang ditolak.

Ada satu sore yang tak pernah kulupa. Kami duduk di tepi Kampar, menyaksikan matahari tenggelam perlahan. Syahra menggenggam tanganku erat. “Kalau pun nanti kita tak bisa bersama, jangan lupakan jalan ini,” katanya lirih. “Jalan ini saksi kita. Setiap kali kau rindu, berjalanlah di atasnya. Kau akan merasakan aku di setiap debu dan daun.”

Aku hanya bisa mengangguk, menahan sesak yang menggerus dada.

Tak lama setelah itu, aku harus pergi. Perjalanan panjangku sebagai perantau memaksaku meninggalkan Bangkinang, meninggalkan Syahra, meninggalkan jalan yang sudah terlanjur kutandai dengan jejak rindu. Aku membawa serta wajahnya yang terakhir kulihat, di sebuah sore berdebu, ketika ia berdiri di ujung jalan, melambaikan tangan dengan mata basah.

Sejak itu, sepanjang jalan Bangkinang hanya hidup dalam ingatanku, seperti film lama yang terus diputar ulang.

***

Bertahun-tahun berlalu. Aku kembali, bukan lagi sebagai anak nelayan miskin. Aku pulang dengan langkah yang lebih pasti, setelah mengarungi banyak kota, setelah menambal nasib dengan kerja keras dan doa. Aku kembali untuk menziarahi jalan, menziarahi kenangan, dan mungkin menziarahi diriku sendiri yang tertinggal di sana.

Bangkinang ternyata tak banyak berubah. Jalan itu tetap panjang, tetap penuh debu dan truk, tetap dipagari pohon karet yang sabar. Warung-warung tua masih berdiri, meski beberapa sudah diganti bangunan baru. Sungai Kampar tetap mengalir, membawa kabar dari hulu ke muara.

Hanya satu yang benar-benar berubah: Syahra.

Aku menemukannya lagi, tapi bukan sebagai gadis yang dulu menemaniku di bawah payung biru. Ia kini seorang perempuan dewasa, istri dari seorang pengusaha kayu, dan ibu dari dua anak. Senyumnya masih sama, tapi di balik itu ada dinding tak kasatmata yang memisahkan.

Kami bertemu di sebuah pasar malam, di bawah cahaya lampu warna-warni dan musik dangdut yang riuh. Pertemuan itu singkat, hanya beberapa menit, cukup untuk menyadarkan aku bahwa waktu bisa mengubah segalanya, kecuali rasa yang sudah berakar.

Syahra menatapku lama, seolah ingin berkata banyak hal yang tak bisa diucapkan. Aku hanya tersenyum, menunduk, lalu melangkah pergi.

***

Malam itu, ketika aku kembali berjalan menyusuri jalan Bangkinang, aku merasa seakan setiap tiang listrik, setiap dedaunan, dan setiap batu kecil berbisik padaku: bahwa hidup memang perjalanan yang tak bisa ditebak. Kita bisa memilih langkah, tapi tak bisa memilih akhir. Kita bisa mencintai, tapi tak bisa memaksa dunia untuk merestui.

Sepanjang jalan Bangkinang, aku akhirnya mengerti: cinta bukan soal memiliki, melainkan soal merawat kenangan. Dan kenangan itu kini menempel di jalan ini, bagai bayangan yang tak bisa kuhapus.

Aku berjalan terus, membiarkan angin malam menyapu wajahku, membiarkan lampu-lampu jalan menerangi langkah yang masih panjang. Bangkinang tetap menjadi ruang di mana aku pernah belajar arti kehilangan, arti keberanian, dan arti merelakan. Jalan itu tetap panjang, mungkin sepanjang hidupku sendiri. Dan setiap kali aku menjejakinya lagi, aku tahu, aku sedang menjejak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

Next Post

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co