14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
October 5, 2025
in Cerpen
Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPANJANG jalan Bangkinang, matahari selalu jatuh seperti sepotong logam panas yang digantung rendah di langit. Jalan itu panjang, berliku, dan seakan tak pernah selesai, bagai doa yang dipanjatkan tapi tak kunjung menemukan “amin”-nya. Aspal hitam membentang, dihiasi debu, lubang kecil, dan jejak ban truk yang lalu-lalang seperti gerombolan binatang besi lapar. Di kanan-kiri, pohon karet berjajar rapat, meneteskan getah yang putih pucat bagai air mata beku.

Aku berjalan di atas jalan itu, entah menuju ke mana, seperti orang yang dihalau bayang-bayangnya sendiri. Setiap langkahku menimbulkan gema kecil di dada, gema masa lalu yang enggan diam. Angin yang berhembus membawa aroma tanah basah, bercampur dengan bau solar dari kendaraan yang melintas. Ada rasa asing sekaligus akrab, seperti pertemuan dengan kawan lama yang wajahnya samar dalam ingatan.

Bangkinang bukan sekadar kota kecil di tepi Kampar. Ia lebih mirip kenangan yang menjelma ruang, cerita yang menitis menjadi jalan. Di sini, setiap tikungan menyimpan rahasia, setiap pohon menahan bisik, dan setiap rumah menampung sekelumit kisah orang-orang yang pernah singgah.

Aku masih ingat pertama kali menjejak jalan ini—bertahun-tahun lalu—ketika usia masih hijau, ketika tubuh masih penuh bara. Aku datang sebagai perantau, membawa koper tua yang lebih berat dari harapanku, meninggalkan kampung di tepi laut demi kota yang katanya menjanjikan rezeki lebih deras. Tapi siapa yang tahu, di balik janji selalu ada selubung luka?

Hari pertama di Bangkinang, aku tidur di sebuah losmen reyot di dekat terminal. Malamnya, suara truk bergemuruh seperti guntur yang tak kunjung reda. Bau solar, kopi panas yang diseduh murahan, dan asap rokok yang menempel di langit-langit kamar—semua itu menyambutku, seakan hendak berkata: “Beginilah dunia perantau. Kau boleh berharap, tapi jangan terlalu muluk.”

***

Esoknya, aku berjalan menyusuri jalan Bangkinang, mencari pekerjaan. Panas matahari membuat keringat menetes deras, tapi tekadku lebih keras. Di sebuah warung kopi tua, aku duduk sebentar, mengisi perut dengan mi rebus. Dari situlah aku melihatnya: seorang perempuan muda dengan payung biru, melangkah ringan meski hujan gerimis turun tipis-tipis.

Syahra. Begitulah namanya.

Pertemuan itu sederhana, tapi bagai pertemuan sungai dengan laut—alamiah namun mengguncang. Ia tersenyum padaku, menawari untuk berteduh di bawah payungnya, padahal gerimis nyaris tak berarti. Aku menerima tawaran itu, dan sejak detik itu, payung biru menjadi simbol yang menandai awal sebuah cerita panjang.

Hari-hari berikutnya, jalan Bangkinang menjadi saksi langkah-langkah kami. Kami berjalan beriringan di trotoar yang setengah retak, menertawakan hal-hal kecil, memungut mimpi di antara kerikil.

Syahra selalu punya cara membuat perjalanan terasa ringan, seakan jalan panjang itu hanyalah koridor sempit menuju sebuah pintu ajaib. Ia bercerita tentang masa kecilnya di tepi Kampar, tentang perahu kayu yang sering ia naiki bersama ayahnya, tentang riak air yang mengajari arti sabar. Aku mendengarkan, merasa setiap kata yang ia ucapkan adalah benih yang menumbuhkan pohon baru dalam diriku.

Aku bekerja serabutan: kadang menjadi kuli panggul di pasar, kadang menjadi tukang ojek dengan motor pinjaman, kadang pula ikut mengangkut kayu di truk. Badan letih, tangan kasar, tapi setiap kali melihat senyum Syahra, segala penat berubah jadi tenaga baru. Ia menjadi mata air di gurun keringku.

Namun, cinta selalu berjalan di antara cahaya dan bayangan. Sepanjang jalan Bangkinang pula aku belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah hanya dengan desah angin. Ketika aku mulai menganyam mimpi bersama Syahra, aku justru menemukan tembok-tembok yang menghalangi.

Ayahnya, seorang pedagang kayu yang keras kepala, tak pernah merestui kehadiranku. Baginya aku hanya perantau miskin, anak nelayan tanpa tanah dan tanpa masa depan. “Anak nelayan sepertimu tidak pantas untuk anakku,” ucapnya dingin suatu malam, di rumah bercat hijau pucat dengan halaman penuh pot bunga. Kata-kata itu menikam, lebih tajam dari parang yang baru diasah.

***

Sejak malam itu, jalan Bangkinang tak lagi terasa ramah. Setiap kali aku melangkah di atasnya, ada semacam luka yang ikut berdetak bersama detak langkahku.

Meski begitu, aku dan Syahra tetap bertemu. Kami sembunyi-sembunyi di tepi sungai, di bawah jembatan, atau di warung kopi kecil dekat terminal. Tapi kami tahu, dunia terlalu sempit untuk menyembunyikan cinta yang ditolak.

Ada satu sore yang tak pernah kulupa. Kami duduk di tepi Kampar, menyaksikan matahari tenggelam perlahan. Syahra menggenggam tanganku erat. “Kalau pun nanti kita tak bisa bersama, jangan lupakan jalan ini,” katanya lirih. “Jalan ini saksi kita. Setiap kali kau rindu, berjalanlah di atasnya. Kau akan merasakan aku di setiap debu dan daun.”

Aku hanya bisa mengangguk, menahan sesak yang menggerus dada.

Tak lama setelah itu, aku harus pergi. Perjalanan panjangku sebagai perantau memaksaku meninggalkan Bangkinang, meninggalkan Syahra, meninggalkan jalan yang sudah terlanjur kutandai dengan jejak rindu. Aku membawa serta wajahnya yang terakhir kulihat, di sebuah sore berdebu, ketika ia berdiri di ujung jalan, melambaikan tangan dengan mata basah.

Sejak itu, sepanjang jalan Bangkinang hanya hidup dalam ingatanku, seperti film lama yang terus diputar ulang.

***

Bertahun-tahun berlalu. Aku kembali, bukan lagi sebagai anak nelayan miskin. Aku pulang dengan langkah yang lebih pasti, setelah mengarungi banyak kota, setelah menambal nasib dengan kerja keras dan doa. Aku kembali untuk menziarahi jalan, menziarahi kenangan, dan mungkin menziarahi diriku sendiri yang tertinggal di sana.

Bangkinang ternyata tak banyak berubah. Jalan itu tetap panjang, tetap penuh debu dan truk, tetap dipagari pohon karet yang sabar. Warung-warung tua masih berdiri, meski beberapa sudah diganti bangunan baru. Sungai Kampar tetap mengalir, membawa kabar dari hulu ke muara.

Hanya satu yang benar-benar berubah: Syahra.

Aku menemukannya lagi, tapi bukan sebagai gadis yang dulu menemaniku di bawah payung biru. Ia kini seorang perempuan dewasa, istri dari seorang pengusaha kayu, dan ibu dari dua anak. Senyumnya masih sama, tapi di balik itu ada dinding tak kasatmata yang memisahkan.

Kami bertemu di sebuah pasar malam, di bawah cahaya lampu warna-warni dan musik dangdut yang riuh. Pertemuan itu singkat, hanya beberapa menit, cukup untuk menyadarkan aku bahwa waktu bisa mengubah segalanya, kecuali rasa yang sudah berakar.

Syahra menatapku lama, seolah ingin berkata banyak hal yang tak bisa diucapkan. Aku hanya tersenyum, menunduk, lalu melangkah pergi.

***

Malam itu, ketika aku kembali berjalan menyusuri jalan Bangkinang, aku merasa seakan setiap tiang listrik, setiap dedaunan, dan setiap batu kecil berbisik padaku: bahwa hidup memang perjalanan yang tak bisa ditebak. Kita bisa memilih langkah, tapi tak bisa memilih akhir. Kita bisa mencintai, tapi tak bisa memaksa dunia untuk merestui.

Sepanjang jalan Bangkinang, aku akhirnya mengerti: cinta bukan soal memiliki, melainkan soal merawat kenangan. Dan kenangan itu kini menempel di jalan ini, bagai bayangan yang tak bisa kuhapus.

Aku berjalan terus, membiarkan angin malam menyapu wajahku, membiarkan lampu-lampu jalan menerangi langkah yang masih panjang. Bangkinang tetap menjadi ruang di mana aku pernah belajar arti kehilangan, arti keberanian, dan arti merelakan. Jalan itu tetap panjang, mungkin sepanjang hidupku sendiri. Dan setiap kali aku menjejakinya lagi, aku tahu, aku sedang menjejak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

Next Post

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co