5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 5, 2025
in Khas
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

MENYAIR itu ada fasenya. Mula-mula timbul dari perasaan patah cinta, ditulis mentah begitu saja secara membabi buta, tanpa sadar. Yang menonjol susunan kata-kata indah.

Kedua, meniru penyair lain. Ketiga bosan meniru dan ugal-ugalan, lahirlah karakter puisi tersendiri. Yang, barangkali juga keluar dari tema cinta, dan mulai merambah pada fenomena sosial, juga riset—yang membedakan puisi dari “semula tulis-tulis saja”, menjadi lebih bernilai.

Demikianlah terungkap dari diskusi menangkap inspirasi penyair muda pada acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Kamis, 2 Oktober 2025.

Diskusi itu menghadirkan penyir muda, atau muda beranjang matang. Ada I Gede Satria Aditya Wibawa dan Gede Aries Pidrawan. Juga ada Azman Bahbereh dan Pramita Shade.Acara itu dimoderatori A.A Ayu Rahatri Ningrat, juga penyair yang berproses panjang di Komunitas Mahima.

“Dalam [proses] menulis puisi, itu hanya cukup dua hal. Ketika sedang bahagia atau sakit hati,” kata I Gede Satria Aditya Wibawa.

I Gede Satria Aditya Wibawa, atau biasa disapa Dede Satria itu, adalah penyair yang juga aktif di dunia musikalisasi puisi. Ia berproses di Komunitas Mahima selain di Rumah Kertas Budaya.

Perjumpaan Dede dengan puisi, sudah sejak SD. Berawal ketika dirinya sering membaca koran sebelum berangkat sekolah. Satu puisi ia temukan di koran itu sebagai awal perjumpaannya. Membaca puisi di koran itu, berlanjut sampai ia sekolah SMP dengan koran-koran lainnya.

Yang kemudian di SMA, seorang guru bernama Rina Wijayanti memperkenalkan puisi secara serius. Figur guru baginya memiliki pengaruh besar bagaimana dirinya terjerumus dalam kubang puisi, selain orang tuanya, Utari, guru sekolah SD, yang sering membeli koran sebelum dibawa ke sekolah.

Di SMA, Dede juga diperkenalkan teater oleh Ibu Guru Rina, hingga terhubung dengan Komunitas Kertas Budaya milik Penyair Nanoq da Kansas, di Negara.

“Puisi favorit saya waktu itu, berjudul Dialog Menjelang Malam, entah saya lupa siapa pemiliknya. Pokoknya waktu itu saya lebih banyak di Musikalisasi puisi, yang mengenalkan saya pada banyak puisi, salah satunya punisi tadi,” kata Dede, yang kemudian ingat nama pemilik puisi itu adalah Nyoman Tusthi Eddy.

Dan menyoal puisi, selain mimesis pada fenomena sosial—dengan mengaktifkan segala kepekaan diri yang tinggi atas apa yang terjadi, ia juga mencoba ulang untuk dirinya yang dihantam galau patah cinta beberapa waktu lalu, agar bisa menulis puisi paling sedih—selain merasakannya dari fenomena sosial di luar dirinya.

“Sakit hatinya iya, puisinya gak jadi. Haha,” humor Dede membuat peserta tertawa, hendak menegaskan bahwa puisi ditulis atas rasa kepekaan yang tinggi pada lingkungan tempat si penyair hidup, tidak saja soal patah cinta.

Hal demikian kemudian dipertegas kembali oleh penyair Azman Bahbereh. Puisi memang butuh kepekaan, katanya. Dan puisi butuh yang namanya pemahaman atas kondisi sosial.

“Nah, penyair bermainnya di sana, di lini itu. Tentang kekuatan puisi ya, bahwasanya puisi enggak hanya sebagai curhatan belaka, tetapi juga ada pemikiran, ada riset di dalam puisi itu,” tegas Azman.

Tentu bebeda dengan awal-awal proses menyair, yang biasa bermain pada kecelakaan perasaan, sehingga minim proses intelektualitas. Sehingga pada awal-awal menyair biasanya lebih banyak bermain dengan kata mendayu-dayu, yang dianggap indah—padahal kosong makna. Tapi itu wajar, namanya juga awal-awal.

Dan Azman mengakui dirinya pernah ada di posisi demikian. Tapi sepanjang proses dirinya menyair, yang karya-karyanya kini telah dimuat media besar seperti Tempo, Kompas, Kalam, juga Basabasi.co dan tatkala.co, telah membuat dirinya lebih dewasa dalam menangkap sesuatu selain memilih kata dan bentuk.

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Kedua narasumber itu sepakat jika fase-fase dalam menyair itu ada. Penyair Pramita Shade bahkan mengamini ketika bagian dirinya berbicara. Menulis puisi biasanya lebih kental dengan dunia yang sedang dirasakan, atau yang dilihat di depan mata si penyair.

Bahkan, dulu, Shade cerita, ia mula-mula sering membaca novel, kemudian, juga menulis di line—soal puisi atau tulisan lainnya.

“Di line itu, dulu ada semacam grup atau suatu platform yang kalau kamu nulis di situ sudah pasti dianggap paling keren. Dari situ saya dulu mulainya. Kemudian baru perkenalan dari SMA pindah ke Bali. Dari Surabaya ke Bali, yang kemudian berkenalan dengan teater,” kata Shade.

Dari semua proses kreatifnya yang dijalankan Shade, berlabuh pada puisi—dianggapnya seru. Ketika diskusi itu, Shade juga melanjutkan tentang kepercayaannya bahwa menulis puisi jelek itu, mesti ada fasenya.

Kemudian, sekarang, menulis puisi agar tidak buruk-buruk amat, mestilah puisi itu didiamkan beberapa waktu, agar terlihat di mana yang mesti dibongkar pasang. Puah. Jadilah puisi!

Karena jika melihat proses awal-awal dari Gede Aries Pidrawan ketika cerita tentang proses kreatifnya sebelum menjadi seorang penyair. Yang ia tulis adalah pamplet gombal—yang kebetulan saja bahasanya puitik.

“Kalau diingat-ingat, saya mungkin menulis puisi itu dari SD. Dan seorang penulis puisi ketika SD itu, punya punya ruang eksklusif di antara teman-teman yang lain,” cerita Aries Pidrawan.

Sampai di situ, ia merasa apa yang ditulisnya dulu, tidak lebih dari sekadar rayuan, atau sekadar salam-salaman. Misalnya, ia pernah menulis salam matahari, mana tahan hatiku rindu.

Yang kemudian tulisannya itu dikirimkan ke teman-temannya, khususnya perempuan. Hingga oleh teman-temannya, Aries Pidrawan kala itu dijuluki sebagai perayu ulung.

Tapi walaupun gombal, itu menjadi cikal bakal Gede Aries Pidrawan menulis puisi yang lebih bagus.

Kemudian di SMA, bertemulah Aries  dengan seorang guru yang memiliki idealisme. Sehingga, secara prinsipil ia merasa terpengaruh oleh guru itu, katakanlah cara pandangnya tentang puisi menjadi lebih terbuka.

“Dari sanalah kemudian baru belajar bahwa selama ini kita memandang bahwa puisi itu hanyalah bagian dari upaya untuk mengobati perasaan sakit hati, hanya sekedar bersenang-senang. Atau hanya sekedar menghibur diri, gitu, apalagi gombal,” lanjut Aries Pidrawan.

Di masa-masa SMA juga, Aries Pidrawan banyak menemukan teman. Bahkan, di dunia perpuisian ketika itu, namanya kian melejit. Di tahun 2010 pada Pekan Mahasiswa Peksi Minas di Pontianak, misalnya.

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Aries Pidrawan pernah menjadi delegasi Bali untuk berpuisi di ajang itu. membuat dirinya bertambah soal pergaulan dan wawasan tentang puisi, dan menjadi inspirasinya dalam menulis puisi, lebih berani.

Yang sekarang membuat dirinya menjadi mahir menulis. Dan bisa menentukan posisi puisi ada di mana dalam hidupnya.

“Bahwa menulis puisi adalah cara yang paling bijak dan cara yang paling indah untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang ada, yang mungkin tidak bisa kita ungkapkan melalui media-media yang lain,” tegas Aries Pidrawan.

Selain menulis puisi, Aries juga menulis cerpen dan menulis naskah drama di sela mengajar di sekolah. Dan puisi, menjadi ruang utama baginya untuk menuliskan sesuatu yang dinilainya tidak bisa ditulis di cerpen atau naskah drama, apalagi papan white board.

“Sehingga kalau saya perbandingkan, kebetulan kemarin menulis puisi di tatkala.co, ada tiga puisi. Satu puisi yang saya tulis ketika SMA, diendapkan begitu lama, saya edit, lalu kirim.” kata Aries.

Kemudian yang kedua, puisi yang Aries tulis ketika baru saja ia menjadi seorang Bapak. Sementara di puisi ketiga, puisi tentang—ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada, dan membayangkan kelak dirinya juga tak ada, dan anaknya hidup sendirian.

Itu ditulis pada tiga fase yang berbeda. Tiga nuansa yang berbeda, tiga keresahan yang berbeda.

“Saya membaca puisi yang pertama kok rasanya aneh gitu. Ada sedikit malulah baca itu. Kemudian puisi yang kedua sudah lumayan, puisi yang ketiga, ya, lumayan lagi, gitu,” lanjut Aries.

Sehingga ia menyimpulkan, kedalaman sebuah puisi itu didasari pada proses yang begitu panjang, juga didasari pada kecemasan-kecemasan yang akut, kemudian didasari pada prinsip-prinsip yang ingin dituangkan. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: diskusi puisiKomunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran — Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails
Next Post
Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran — Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran -- Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co