4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 5, 2025
in Khas
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

MENYAIR itu ada fasenya. Mula-mula timbul dari perasaan patah cinta, ditulis mentah begitu saja secara membabi buta, tanpa sadar. Yang menonjol susunan kata-kata indah.

Kedua, meniru penyair lain. Ketiga bosan meniru dan ugal-ugalan, lahirlah karakter puisi tersendiri. Yang, barangkali juga keluar dari tema cinta, dan mulai merambah pada fenomena sosial, juga riset—yang membedakan puisi dari “semula tulis-tulis saja”, menjadi lebih bernilai.

Demikianlah terungkap dari diskusi menangkap inspirasi penyair muda pada acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Kamis, 2 Oktober 2025.

Diskusi itu menghadirkan penyir muda, atau muda beranjang matang. Ada I Gede Satria Aditya Wibawa dan Gede Aries Pidrawan. Juga ada Azman Bahbereh dan Pramita Shade.Acara itu dimoderatori A.A Ayu Rahatri Ningrat, juga penyair yang berproses panjang di Komunitas Mahima.

“Dalam [proses] menulis puisi, itu hanya cukup dua hal. Ketika sedang bahagia atau sakit hati,” kata I Gede Satria Aditya Wibawa.

I Gede Satria Aditya Wibawa, atau biasa disapa Dede Satria itu, adalah penyair yang juga aktif di dunia musikalisasi puisi. Ia berproses di Komunitas Mahima selain di Rumah Kertas Budaya.

Perjumpaan Dede dengan puisi, sudah sejak SD. Berawal ketika dirinya sering membaca koran sebelum berangkat sekolah. Satu puisi ia temukan di koran itu sebagai awal perjumpaannya. Membaca puisi di koran itu, berlanjut sampai ia sekolah SMP dengan koran-koran lainnya.

Yang kemudian di SMA, seorang guru bernama Rina Wijayanti memperkenalkan puisi secara serius. Figur guru baginya memiliki pengaruh besar bagaimana dirinya terjerumus dalam kubang puisi, selain orang tuanya, Utari, guru sekolah SD, yang sering membeli koran sebelum dibawa ke sekolah.

Di SMA, Dede juga diperkenalkan teater oleh Ibu Guru Rina, hingga terhubung dengan Komunitas Kertas Budaya milik Penyair Nanoq da Kansas, di Negara.

“Puisi favorit saya waktu itu, berjudul Dialog Menjelang Malam, entah saya lupa siapa pemiliknya. Pokoknya waktu itu saya lebih banyak di Musikalisasi puisi, yang mengenalkan saya pada banyak puisi, salah satunya punisi tadi,” kata Dede, yang kemudian ingat nama pemilik puisi itu adalah Nyoman Tusthi Eddy.

Dan menyoal puisi, selain mimesis pada fenomena sosial—dengan mengaktifkan segala kepekaan diri yang tinggi atas apa yang terjadi, ia juga mencoba ulang untuk dirinya yang dihantam galau patah cinta beberapa waktu lalu, agar bisa menulis puisi paling sedih—selain merasakannya dari fenomena sosial di luar dirinya.

“Sakit hatinya iya, puisinya gak jadi. Haha,” humor Dede membuat peserta tertawa, hendak menegaskan bahwa puisi ditulis atas rasa kepekaan yang tinggi pada lingkungan tempat si penyair hidup, tidak saja soal patah cinta.

Hal demikian kemudian dipertegas kembali oleh penyair Azman Bahbereh. Puisi memang butuh kepekaan, katanya. Dan puisi butuh yang namanya pemahaman atas kondisi sosial.

“Nah, penyair bermainnya di sana, di lini itu. Tentang kekuatan puisi ya, bahwasanya puisi enggak hanya sebagai curhatan belaka, tetapi juga ada pemikiran, ada riset di dalam puisi itu,” tegas Azman.

Tentu bebeda dengan awal-awal proses menyair, yang biasa bermain pada kecelakaan perasaan, sehingga minim proses intelektualitas. Sehingga pada awal-awal menyair biasanya lebih banyak bermain dengan kata mendayu-dayu, yang dianggap indah—padahal kosong makna. Tapi itu wajar, namanya juga awal-awal.

Dan Azman mengakui dirinya pernah ada di posisi demikian. Tapi sepanjang proses dirinya menyair, yang karya-karyanya kini telah dimuat media besar seperti Tempo, Kompas, Kalam, juga Basabasi.co dan tatkala.co, telah membuat dirinya lebih dewasa dalam menangkap sesuatu selain memilih kata dan bentuk.

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Kedua narasumber itu sepakat jika fase-fase dalam menyair itu ada. Penyair Pramita Shade bahkan mengamini ketika bagian dirinya berbicara. Menulis puisi biasanya lebih kental dengan dunia yang sedang dirasakan, atau yang dilihat di depan mata si penyair.

Bahkan, dulu, Shade cerita, ia mula-mula sering membaca novel, kemudian, juga menulis di line—soal puisi atau tulisan lainnya.

“Di line itu, dulu ada semacam grup atau suatu platform yang kalau kamu nulis di situ sudah pasti dianggap paling keren. Dari situ saya dulu mulainya. Kemudian baru perkenalan dari SMA pindah ke Bali. Dari Surabaya ke Bali, yang kemudian berkenalan dengan teater,” kata Shade.

Dari semua proses kreatifnya yang dijalankan Shade, berlabuh pada puisi—dianggapnya seru. Ketika diskusi itu, Shade juga melanjutkan tentang kepercayaannya bahwa menulis puisi jelek itu, mesti ada fasenya.

Kemudian, sekarang, menulis puisi agar tidak buruk-buruk amat, mestilah puisi itu didiamkan beberapa waktu, agar terlihat di mana yang mesti dibongkar pasang. Puah. Jadilah puisi!

Karena jika melihat proses awal-awal dari Gede Aries Pidrawan ketika cerita tentang proses kreatifnya sebelum menjadi seorang penyair. Yang ia tulis adalah pamplet gombal—yang kebetulan saja bahasanya puitik.

“Kalau diingat-ingat, saya mungkin menulis puisi itu dari SD. Dan seorang penulis puisi ketika SD itu, punya punya ruang eksklusif di antara teman-teman yang lain,” cerita Aries Pidrawan.

Sampai di situ, ia merasa apa yang ditulisnya dulu, tidak lebih dari sekadar rayuan, atau sekadar salam-salaman. Misalnya, ia pernah menulis salam matahari, mana tahan hatiku rindu.

Yang kemudian tulisannya itu dikirimkan ke teman-temannya, khususnya perempuan. Hingga oleh teman-temannya, Aries Pidrawan kala itu dijuluki sebagai perayu ulung.

Tapi walaupun gombal, itu menjadi cikal bakal Gede Aries Pidrawan menulis puisi yang lebih bagus.

Kemudian di SMA, bertemulah Aries  dengan seorang guru yang memiliki idealisme. Sehingga, secara prinsipil ia merasa terpengaruh oleh guru itu, katakanlah cara pandangnya tentang puisi menjadi lebih terbuka.

“Dari sanalah kemudian baru belajar bahwa selama ini kita memandang bahwa puisi itu hanyalah bagian dari upaya untuk mengobati perasaan sakit hati, hanya sekedar bersenang-senang. Atau hanya sekedar menghibur diri, gitu, apalagi gombal,” lanjut Aries Pidrawan.

Di masa-masa SMA juga, Aries Pidrawan banyak menemukan teman. Bahkan, di dunia perpuisian ketika itu, namanya kian melejit. Di tahun 2010 pada Pekan Mahasiswa Peksi Minas di Pontianak, misalnya.

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Aries Pidrawan pernah menjadi delegasi Bali untuk berpuisi di ajang itu. membuat dirinya bertambah soal pergaulan dan wawasan tentang puisi, dan menjadi inspirasinya dalam menulis puisi, lebih berani.

Yang sekarang membuat dirinya menjadi mahir menulis. Dan bisa menentukan posisi puisi ada di mana dalam hidupnya.

“Bahwa menulis puisi adalah cara yang paling bijak dan cara yang paling indah untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang ada, yang mungkin tidak bisa kita ungkapkan melalui media-media yang lain,” tegas Aries Pidrawan.

Selain menulis puisi, Aries juga menulis cerpen dan menulis naskah drama di sela mengajar di sekolah. Dan puisi, menjadi ruang utama baginya untuk menuliskan sesuatu yang dinilainya tidak bisa ditulis di cerpen atau naskah drama, apalagi papan white board.

“Sehingga kalau saya perbandingkan, kebetulan kemarin menulis puisi di tatkala.co, ada tiga puisi. Satu puisi yang saya tulis ketika SMA, diendapkan begitu lama, saya edit, lalu kirim.” kata Aries.

Kemudian yang kedua, puisi yang Aries tulis ketika baru saja ia menjadi seorang Bapak. Sementara di puisi ketiga, puisi tentang—ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada, dan membayangkan kelak dirinya juga tak ada, dan anaknya hidup sendirian.

Itu ditulis pada tiga fase yang berbeda. Tiga nuansa yang berbeda, tiga keresahan yang berbeda.

“Saya membaca puisi yang pertama kok rasanya aneh gitu. Ada sedikit malulah baca itu. Kemudian puisi yang kedua sudah lumayan, puisi yang ketiga, ya, lumayan lagi, gitu,” lanjut Aries.

Sehingga ia menyimpulkan, kedalaman sebuah puisi itu didasari pada proses yang begitu panjang, juga didasari pada kecemasan-kecemasan yang akut, kemudian didasari pada prinsip-prinsip yang ingin dituangkan. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: diskusi puisiKomunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran — Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran — Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran -- Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co