15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 5, 2025
in Khas
Fase Menyair; dari Puisi Jelek ke Puisi Bagus—Menangkap Inspirasi Penyair Muda di Rabu Puisi Komunitas Mahima

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

MENYAIR itu ada fasenya. Mula-mula timbul dari perasaan patah cinta, ditulis mentah begitu saja secara membabi buta, tanpa sadar. Yang menonjol susunan kata-kata indah.

Kedua, meniru penyair lain. Ketiga bosan meniru dan ugal-ugalan, lahirlah karakter puisi tersendiri. Yang, barangkali juga keluar dari tema cinta, dan mulai merambah pada fenomena sosial, juga riset—yang membedakan puisi dari “semula tulis-tulis saja”, menjadi lebih bernilai.

Demikianlah terungkap dari diskusi menangkap inspirasi penyair muda pada acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Kamis, 2 Oktober 2025.

Diskusi itu menghadirkan penyir muda, atau muda beranjang matang. Ada I Gede Satria Aditya Wibawa dan Gede Aries Pidrawan. Juga ada Azman Bahbereh dan Pramita Shade.Acara itu dimoderatori A.A Ayu Rahatri Ningrat, juga penyair yang berproses panjang di Komunitas Mahima.

“Dalam [proses] menulis puisi, itu hanya cukup dua hal. Ketika sedang bahagia atau sakit hati,” kata I Gede Satria Aditya Wibawa.

I Gede Satria Aditya Wibawa, atau biasa disapa Dede Satria itu, adalah penyair yang juga aktif di dunia musikalisasi puisi. Ia berproses di Komunitas Mahima selain di Rumah Kertas Budaya.

Perjumpaan Dede dengan puisi, sudah sejak SD. Berawal ketika dirinya sering membaca koran sebelum berangkat sekolah. Satu puisi ia temukan di koran itu sebagai awal perjumpaannya. Membaca puisi di koran itu, berlanjut sampai ia sekolah SMP dengan koran-koran lainnya.

Yang kemudian di SMA, seorang guru bernama Rina Wijayanti memperkenalkan puisi secara serius. Figur guru baginya memiliki pengaruh besar bagaimana dirinya terjerumus dalam kubang puisi, selain orang tuanya, Utari, guru sekolah SD, yang sering membeli koran sebelum dibawa ke sekolah.

Di SMA, Dede juga diperkenalkan teater oleh Ibu Guru Rina, hingga terhubung dengan Komunitas Kertas Budaya milik Penyair Nanoq da Kansas, di Negara.

“Puisi favorit saya waktu itu, berjudul Dialog Menjelang Malam, entah saya lupa siapa pemiliknya. Pokoknya waktu itu saya lebih banyak di Musikalisasi puisi, yang mengenalkan saya pada banyak puisi, salah satunya punisi tadi,” kata Dede, yang kemudian ingat nama pemilik puisi itu adalah Nyoman Tusthi Eddy.

Dan menyoal puisi, selain mimesis pada fenomena sosial—dengan mengaktifkan segala kepekaan diri yang tinggi atas apa yang terjadi, ia juga mencoba ulang untuk dirinya yang dihantam galau patah cinta beberapa waktu lalu, agar bisa menulis puisi paling sedih—selain merasakannya dari fenomena sosial di luar dirinya.

“Sakit hatinya iya, puisinya gak jadi. Haha,” humor Dede membuat peserta tertawa, hendak menegaskan bahwa puisi ditulis atas rasa kepekaan yang tinggi pada lingkungan tempat si penyair hidup, tidak saja soal patah cinta.

Hal demikian kemudian dipertegas kembali oleh penyair Azman Bahbereh. Puisi memang butuh kepekaan, katanya. Dan puisi butuh yang namanya pemahaman atas kondisi sosial.

“Nah, penyair bermainnya di sana, di lini itu. Tentang kekuatan puisi ya, bahwasanya puisi enggak hanya sebagai curhatan belaka, tetapi juga ada pemikiran, ada riset di dalam puisi itu,” tegas Azman.

Tentu bebeda dengan awal-awal proses menyair, yang biasa bermain pada kecelakaan perasaan, sehingga minim proses intelektualitas. Sehingga pada awal-awal menyair biasanya lebih banyak bermain dengan kata mendayu-dayu, yang dianggap indah—padahal kosong makna. Tapi itu wajar, namanya juga awal-awal.

Dan Azman mengakui dirinya pernah ada di posisi demikian. Tapi sepanjang proses dirinya menyair, yang karya-karyanya kini telah dimuat media besar seperti Tempo, Kompas, Kalam, juga Basabasi.co dan tatkala.co, telah membuat dirinya lebih dewasa dalam menangkap sesuatu selain memilih kata dan bentuk.

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Kedua narasumber itu sepakat jika fase-fase dalam menyair itu ada. Penyair Pramita Shade bahkan mengamini ketika bagian dirinya berbicara. Menulis puisi biasanya lebih kental dengan dunia yang sedang dirasakan, atau yang dilihat di depan mata si penyair.

Bahkan, dulu, Shade cerita, ia mula-mula sering membaca novel, kemudian, juga menulis di line—soal puisi atau tulisan lainnya.

“Di line itu, dulu ada semacam grup atau suatu platform yang kalau kamu nulis di situ sudah pasti dianggap paling keren. Dari situ saya dulu mulainya. Kemudian baru perkenalan dari SMA pindah ke Bali. Dari Surabaya ke Bali, yang kemudian berkenalan dengan teater,” kata Shade.

Dari semua proses kreatifnya yang dijalankan Shade, berlabuh pada puisi—dianggapnya seru. Ketika diskusi itu, Shade juga melanjutkan tentang kepercayaannya bahwa menulis puisi jelek itu, mesti ada fasenya.

Kemudian, sekarang, menulis puisi agar tidak buruk-buruk amat, mestilah puisi itu didiamkan beberapa waktu, agar terlihat di mana yang mesti dibongkar pasang. Puah. Jadilah puisi!

Karena jika melihat proses awal-awal dari Gede Aries Pidrawan ketika cerita tentang proses kreatifnya sebelum menjadi seorang penyair. Yang ia tulis adalah pamplet gombal—yang kebetulan saja bahasanya puitik.

“Kalau diingat-ingat, saya mungkin menulis puisi itu dari SD. Dan seorang penulis puisi ketika SD itu, punya punya ruang eksklusif di antara teman-teman yang lain,” cerita Aries Pidrawan.

Sampai di situ, ia merasa apa yang ditulisnya dulu, tidak lebih dari sekadar rayuan, atau sekadar salam-salaman. Misalnya, ia pernah menulis salam matahari, mana tahan hatiku rindu.

Yang kemudian tulisannya itu dikirimkan ke teman-temannya, khususnya perempuan. Hingga oleh teman-temannya, Aries Pidrawan kala itu dijuluki sebagai perayu ulung.

Tapi walaupun gombal, itu menjadi cikal bakal Gede Aries Pidrawan menulis puisi yang lebih bagus.

Kemudian di SMA, bertemulah Aries  dengan seorang guru yang memiliki idealisme. Sehingga, secara prinsipil ia merasa terpengaruh oleh guru itu, katakanlah cara pandangnya tentang puisi menjadi lebih terbuka.

“Dari sanalah kemudian baru belajar bahwa selama ini kita memandang bahwa puisi itu hanyalah bagian dari upaya untuk mengobati perasaan sakit hati, hanya sekedar bersenang-senang. Atau hanya sekedar menghibur diri, gitu, apalagi gombal,” lanjut Aries Pidrawan.

Di masa-masa SMA juga, Aries Pidrawan banyak menemukan teman. Bahkan, di dunia perpuisian ketika itu, namanya kian melejit. Di tahun 2010 pada Pekan Mahasiswa Peksi Minas di Pontianak, misalnya.

Diskusi puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Aries Pidrawan pernah menjadi delegasi Bali untuk berpuisi di ajang itu. membuat dirinya bertambah soal pergaulan dan wawasan tentang puisi, dan menjadi inspirasinya dalam menulis puisi, lebih berani.

Yang sekarang membuat dirinya menjadi mahir menulis. Dan bisa menentukan posisi puisi ada di mana dalam hidupnya.

“Bahwa menulis puisi adalah cara yang paling bijak dan cara yang paling indah untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang ada, yang mungkin tidak bisa kita ungkapkan melalui media-media yang lain,” tegas Aries Pidrawan.

Selain menulis puisi, Aries juga menulis cerpen dan menulis naskah drama di sela mengajar di sekolah. Dan puisi, menjadi ruang utama baginya untuk menuliskan sesuatu yang dinilainya tidak bisa ditulis di cerpen atau naskah drama, apalagi papan white board.

“Sehingga kalau saya perbandingkan, kebetulan kemarin menulis puisi di tatkala.co, ada tiga puisi. Satu puisi yang saya tulis ketika SMA, diendapkan begitu lama, saya edit, lalu kirim.” kata Aries.

Kemudian yang kedua, puisi yang Aries tulis ketika baru saja ia menjadi seorang Bapak. Sementara di puisi ketiga, puisi tentang—ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada, dan membayangkan kelak dirinya juga tak ada, dan anaknya hidup sendirian.

Itu ditulis pada tiga fase yang berbeda. Tiga nuansa yang berbeda, tiga keresahan yang berbeda.

“Saya membaca puisi yang pertama kok rasanya aneh gitu. Ada sedikit malulah baca itu. Kemudian puisi yang kedua sudah lumayan, puisi yang ketiga, ya, lumayan lagi, gitu,” lanjut Aries.

Sehingga ia menyimpulkan, kedalaman sebuah puisi itu didasari pada proses yang begitu panjang, juga didasari pada kecemasan-kecemasan yang akut, kemudian didasari pada prinsip-prinsip yang ingin dituangkan. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: diskusi puisiKomunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepanjang Jalan Bangkinang | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran — Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran — Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Teater, Ruang Belajar untuk Menumbuhkan Kesadaran -- Dari Pelatihan Pelatihan Dasar Teater UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co