BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya menampilkan lukisan sebuah gedung dengan jendela-jendela tanpa kaca, latar pegunungan yang hening, dan segerombolan burung yang terbang semuanya tersaji dalam gradasi monokrom, seakan membawa kita masuk ke ruang waktu yang tak pernah selesai diceritakan. Buku setebal 70 halaman ini diterbitkan oleh TB pada Agustus 2025, namun hadir di tangan saya bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai undangan untuk menyimak suara sunyi yang ditorehkan penyair di antara kaca yang absen dan pandangan yang terbuka lebar.
Membaca Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan, saya seperti diajak menatap dunia tanpa perantara langsung ke dalam luka, ingatan, juga harapan yang sering disembunyikan di balik kaca-kaca kehidupan. Puisi-puisinya tidak sedang mencari indah yang rapi, melainkan menyingkap celah: di mana cahaya masuk, sekaligus di mana angin dingin menusuk.
Ada judul-judul yang seperti mengetuk kesadaran, misalnya “Saksi dari Ketinggian”, yang membuat kita merasa kecil di hadapan semesta namun tetap diingatkan tentang tanggung jawab manusia. Lalu “Burung-Burung yang Hilang dari Layar”, seolah menggugat keheningan yang justru lebih bising daripada keramaian. Atau “Langit yang Tak Menutup Mata”, yang menyiratkan bahwa tak ada yang benar-benar tersembunyi dari pengawasan semesta.
Di balik larik-larik itu, saya merasakan denyut yang sangat manusiawi: kesepian, keterasingan, sekaligus kerinduan pada ruang yang lebih lapang. Buku ini, menurut saya, bukan hanya kumpulan puisi, melainkan juga catatan perjalanan jiwa bagaimana seorang penyair memandang jendela bukan sekadar bukaan pada dinding, melainkan metafora bagi hidup yang tak pernah sepenuhnya terlindungi.

Membaca puisi-puisi Nestor Rico Tambunan membuat saya teringat: sering kali kita tak membutuhkan kaca untuk melihat lebih jelas. Justru dari keterbukaan itulah kita belajar menanggung debu, dingin, dan silau cahaya. Dari sanalah kita akhirnya menyadari, hidup memang menuntut keberanian untuk menatap langsung tanpa tabir.
Di antara banyak buku puisi yang lahir di negeri ini, Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan menempati ruang yang berbeda. Ia tidak sibuk membangun metafora megah, tidak pula mengejar kemewahan diksi. Buku ini justru hadir dengan kesederhanaan yang rawan, seakan-akan sebuah jendela dibiarkan terbuka tanpa kaca: siapa pun bisa menengok keluar, siapa pun bisa masuk, debu dan hujan bisa menerpa kapan saja. Dari kerapuhan itulah puisi-puisi ini memperoleh tenaganya.
Membaca buku ini, saya merasa seperti duduk di sebuah rumah tua di pinggir jalan. Dari balik jendela, saya melihat lalu-lalang manusia: pedagang, anak sekolah, buruh yang pulang dengan wajah letih. Semua tampak biasa, namun dalam puisi Bang Nestor, yang biasa itu justru memantulkan sesuatu yang tak terduga: luka, sunyi, sekaligus keteguhan untuk tetap hidup.
Puisi sebagai Luka yang Tak Disembunyikan
Puisi-puisi dalam Jendela Tanpa Kaca tidak bermaksud memoles kenyataan. Ia mengakui keberadaan luka, lalu membiarkannya hadir di hadapan pembaca. Dalam “Bayangan di Dinding Pasar”, misalnya, keramaian pasar yang riuh justru memperlihatkan kelaparan yang tersembunyi. Penyair menulis: “suara tawar-menawar hanya menutupi perut yang tak pernah kenyang.”
Membaca bait itu, saya teringat wajah para ibu yang sering saya lihat di pasar pagi, membawa anak sambil menimbang harga. Ada getir yang sama, ada perut yang sama-sama merintih meski mulut mencoba tersenyum. Puisi ini tidak sedang mengasihani, tetapi memotret. Dan justru dari potret itulah rasa pedih hadir.
Kesepian yang Bersifat Kolektif
Banyak orang mengira kesepian adalah urusan pribadi. Namun lewat puisinya, Bang Nestor menunjukkan bahwa kesepian kita sesungguhnya bertaut dengan orang lain. Dalam “Jam Dinding yang Berhenti”, waktu digambarkan lumpuh, seakan hidup menolak bergerak. Sedangkan di “Kursi Tua di Beranda”, benda sederhana menjadi saksi dari sepi yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan.
Kursi itu bisa jadi kursi siapa saja: kursi di rumah orang tua yang ditinggal anak-anaknya merantau, kursi di beranda rumah kontrakan yang setiap sore hanya dihuni diam. Membaca puisi-puisi ini, saya merasa sepi bukan lagi milik saya seorang, melainkan gema kolektif yang merayapi banyak rumah di negeri ini.
Suara yang Tertinggal
Ada pula puisi-puisi yang menyinggung soal komunikasi yang gagal. “Surat yang Tak Pernah Sampai” menyingkap betapa banyak pesan dalam hidup kita yang berhenti di tengah jalan. Ada rindu yang tersangkut di pos, ada kata-kata yang tercecer di udara. Membaca ini, saya teringat pada pesan-pesan singkat yang kita ketik di ponsel, tetapi tak pernah benar-benar berani kita kirim.
Sedangkan “Suara di Balik Jendela” membawa kita pada pilihan antara membuka diri atau menutup rapat. Jendela di sini menjadi metafora yang kuat: membuka berarti berisiko disakiti, menutup berarti aman namun terasing. Dan kita, entah sadar atau tidak, setiap hari berhadapan dengan pilihan itu.
Ingatan Sosial yang Menyelinap
Buku ini juga berfungsi sebagai catatan kecil tentang Indonesia. Dalam “Gerimis di Jalan Raya”, penyair menulis tentang buruh dan pedagang kaki lima yang tetap bekerja meski hujan turun. Tidak ada romantisasi, hanya kenyataan: tubuh-tubuh yang dipaksa terus bergerak agar dapur tetap menyala.
“Luka di Tepi Trotoar” bahkan lebih getir. Anak-anak jalanan tampil sebagai wajah yang jarang diingat. Mereka bukan angka di laporan statistik, melainkan manusia dengan tubuh rapuh yang menghadap trotoar sebagai rumah. Membaca puisi ini, saya merasa ada tamparan halus: seberapa sering kita berjalan di trotoar sambil pura-pura tidak melihat?
Cahaya yang Tetap Menyelinap
Namun, meski banyak puisi berbicara tentang luka, buku ini tidak menenggelamkan pembacanya dalam keputusasaan. Ada juga cahaya yang menyelinap. Dalam “Langkah Anak Sekolah”, kita menemukan masa depan yang tetap berjalan, betapapun beratnya dunia orang dewasa. Anak-anak itu membawa buku, membawa mimpi, dan di sanalah secercah harapan hidup.
Begitu pula “Pohon yang Terus Bertumbuh”, yang menggambarkan sebuah pohon kecil di trotoar sempit. Akarnya meretakkan batu, batangnya tumbuh meski terjepit. Pohon itu adalah alegori tentang daya hidup manusia: selalu ada kekuatan yang menolak mati, selalu ada yang bertumbuh meski ruang begitu sempit.

Refleksi Personal: Membaca dengan Tubuh Sendiri
Sebagai pembaca, saya tidak bisa hanya menaruh buku ini di rak. Setiap kali menutup halaman, saya merasa seolah ada suara yang menuntut saya bercermin. Apakah saya termasuk yang selama ini menutup jendela rapat-rapat agar tidak mendengar jeritan di luar? Atau saya berani membuka, meski berarti menerima debu, hujan, bahkan rasa takut?
Membaca Jendela Tanpa Kaca sama seperti berdiri di depan cermin besar: kita melihat wajah sendiri, tetapi di baliknya ada wajah orang lain yang ikut menatap. Puisi-puisi ini membuat batas antara “aku” dan “mereka” mengabur. Kesepian mereka adalah kesepian saya. Luka mereka adalah luka saya. Dan harapan mereka, entah bagaimana, ikut membuat saya masih ingin bertahan.
Keberanian Membuka Jendela
Keseluruhan Jendela Tanpa Kaca dapat dipahami sebagai perjalanan dari luka menuju keberanian. Dari “Bayangan di Dinding Pasar” hingga “Pohon yang Terus Bertumbuh”, penyair mengajak kita untuk tidak menutup mata, tidak menyamarkan realitas. Justru dengan membuka jendela lebar-lebar meski tanpa kaca pelindung kita bisa merasakan dunia secara utuh.
Sebagaimana ditulis Bang Nestor Rico Tambunan:
“jendela terbuka, dan aku tak ingin menutupnya lagi, meski angin membawa debu dan dingin yang menusuk.”
Itulah pilihan seorang penyair : memilih rapuh tetapi jujur, memilih terbuka meski berisiko sakit. Dan barangkali, di situlah letak keberanian paling hakiki: tetap membuka jendela, agar kita tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar melihat.
Tabik
Salam hormat dan sukses selalu Bang Nestor Rico Tambun menginspirasi semua orang. [T]
Tegal Alur, 29 September 2025
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole
BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY



























