23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

tatkala by tatkala
September 21, 2025
in Khas
Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

Diskusi “Jejak Sains dalam Puisi” di Komunitas Utan Kayu, 20 September 2025 (Dokumentasi ALINEA)

PUKUL DUA SIANG, 20 September 2025, di sebuah ruang yang sejak lama akrab dengan pertemuan gagasan di Komunitas Utan Kayu, orang-orang datang untuk menyimak percakapan “Jejak Sains dalam Puisi.”

Di sana, Ayu Utami, novelis dan esais yang juga salah satu punggawa komunitas tersebut, duduk bersama Esha Tegar Putra, penyair sekaligus pengamat sastra, menautkan suara pada dua buku puisi: Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali dan Alelopati karya Stebby Julionatan.

Sebagai pemandu, Ayu Utami membuka sesi dengan menggarisbawahi posisi sains dalam kancah puisi yang kerap terjebak dalam kerangkeng dikotomi, antara logika dan imajinasi, antara eksak dan estetik. Ia mengingatkan bahwa sejarah sastra Indonesia sebenarnya telah melewati perjumpaan semacam itu. Pada era 1960-an, misalnya, Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi tentang bulan, yang lahir dari pengaruh kuat sistem politik Perang Dingin dan pencapaian teknologi ketika manusia berhasil mendarat di bulan.

“Puisi Subagio waktu itu memperlihatkan bagaimana politik dan sains bisa menjadi latar yang menyalakan inspirasi puitik. Artinya, puisi dan sains tak perlu dipertentangkan, justru bisa saling mengisi,” ujar Ayu.

Dari titik pembuka itulah, giliran Esha Tegar masuk dengan ulasannya tentang dua buku yang sedang dibicarakan. Ia membentangkan pandangannya tentang buku Sehelai Bulu Kosmos terbitan Edisi Mori yang mengolah tubuh hingga melebur dalam kosmos, dan buku Alelopati terbitan Elex Media Komputindo yang menghadirkan tubuh konkret, intim, bahkan marginal.

Lewat pembacaan kritis, Esha menekankan bahwa meski sama-sama bersinggungan dengan jejak sains, keduanya menempuh jalur berbeda: Alpha dengan pendekatan yang kosmik, sementara Stebby dengan corak progresif yang menubuhkan pengalaman sosial. Menebalkan bagian itu, Ayu Utami pun menandai perbedaan jalur estetik kedua penyair. “Kalau Stebby lebih modern, Alpha ini post-modern. Alpha mendekonstruksi tubuh, sementara Stebby berbicara,” tambahnya, membuka horizon bagi perbandingan kritis antara keduanya yang kemudian diundang masuk dalam stage.

Membaca Tubuh dalam Puisi

Esha Tegar lantas membedah Dalam Sehelai Bulu Kosmos, yang menurutnya menghadirkan tubuh bukan sebagai jasad biologis, melainkan sebagai pintu masuk menuju jagat raya. Di mana hampir semua sajak Alpha memanfaatkan bagian tubuh manusia, namun tubuh itu dengan cepat menjelma wujud lain, bergonta-ganti menjadi binatang, tumbuhan, bahkan organisme bersel satu.

“Modus jukstaposisi dan alusi ini saya kira kemudian membuat pemanfaatan atau pelibatan bagian tubuh manusia dalam sajak-sajak Alpha membuat ‘tubuh’ itu tidak dapat kita maknai lagi sebagai ‘tubuh manusia’.”

Tubuh dalam puisi Alpha adalah entitas kosmik: cair, asing, dan sulit diklasifikasi. Ia bisa muncul sebagai vertebrata lalu tiba-tiba menjadi amoeba, atau berangkat dari jaringan tumbuhan lalu meledak bersama bintang mati.

“Saya kemudian membiarkan subjek yang mempunyai wujud asing, bagian tubuh-tubuh asing, dalam sajak Alpha itu sebagai ‘makhluk’ saja, ia makhluk hidup yang menggeliat dalam semesta atau jagad raya dengan keluasan misterinya,” dedah Esha yang selanjutnya menukil sajak Sumur Energi sebagai penegasan:

“/Aku raba ujung bulu tipis penuh/ cahaya yang tumbuh di lehermu. Ada bintang jatuh
yang segera kusingkap ke balik kabut di/ sebuah bukit. Kugenggam ekornya dan/
kuterbarkan di kelaminmu supaya intimu/ bercahaya dengan berbagai warna/.”

Esha Tegar Putra | Foto: Dok. ALINEA

Bagi Esha, Alpha mengajak pembaca melampaui batas tubuh, membiarkannya bertransformasi menjadi bagian dari kosmos, sehingga pengalaman membaca berubah menjadi pengalaman imajinatif yang penuh keasingan. Jika Alpha bergerak ke kosmos, Stebby Julionatan justru menjejak ke bumi. Dalam Alelopati, tubuh hadir sebagai sesuatu yang konkret dan sosial, sering kali berada di posisi marginal. Esha menegaskan bahwa aku-lirik Stebby berbicara tentang tubuh yang dipinggirkan oleh keluarga, teman, institusi negara, bahkan agama.

“Aku-lirik Stebby berangkat dan bercerita tentang tubuh yang konkret. Ia banyak bercerita hal-hal intim tentang tubuh atau semacam identitas yang dimarginalkan oleh segala sesuatu yang berada di sekelilingnya.”

Meskipun judul Alelopati berangkat dari istilah biologi, muatan puisinya lebih dekat pada kritik sosial dan kemanusiaan. Citra yang biasanya indah, seperti kupu-kupu, dipelintir menjadi tanda duka:

“Pembaca dibenturkan pada hal-hal yang tidak lagi indah tentang kupu-kupu. ‘Kupu-kupu, kaukah alamat buruk itu?’ tanya aku-lirik dalam puisi Panggung Sebelum Gelap.”

Stebby juga berani memasukkan elemen keseharian yang kerap dianggap tidak puitis mulai dari gim Mobile Legend hingga marketplace Tokopedia sebagai siasat untuk menubuhkan puisi pada realitas mutakhir. Pilihan ini menunjukkan keberanian menabrak batas bahasa puitik konvensional, sekaligus mendekatkan puisi pada denyut hidup hari ini.

Lebih jauh, puisi dalam Alelopati juga melontarkan kritik sosial dan spiritual. Dalam Kandang Sirkus, tubuh digambarkan sebagai mainan negara yang terperangkap dalam kerangkeng. Sementara dalam Perihal Ibadah, ia menyinggung sejarah rezim keimanan yang pernah memandang ilmu sebagai candu:

“Ada masa terang disebut kegilaan.”

Bagi Esha, di sinilah paradoks sekaligus kekuatan puisi Stebby: anasir yang seharusnya indah justru diolah menjadi sesuatu yang memilukan, membuka ruang tafsir yang getir sekaligus reflektif.

Suara Muda yang Memantik Tafsir

Selain Ayu Utami, Esha Tegar Putra, dan Stebby Julionatan yang merupakan anggota Alinea, hadir pula Debra H. Yatim, Danny Yatim, Pratiwi Juliani, dan Deasy Tirayoh yang turut menyemarakkan ruangan untuk merayakan kelahiran kedua buku puisi tersebut.

Suasana kian hidup ketika dua murid Stebby dari SMA Asisi, Olin dan Fezel, tampil membacakan puisi. Olin membawakan Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali, sementara Fezel memilih Meja Makan karya Stebby. Dari sana, keduanya tidak berhenti pada pembacaan, melainkan memantik tanya yang khas namun tetap kritis.

Suara Muda yang Memantik Tafsir | Foto: Dok. ALINEA

Olin, dengan nada penasaran, menanyakan kepada Alpha mengapa memilih bulu sebagai perumpamaan dalam puisi kosmiknya? Pertanyaan itu dijawab Alpha dengan cara yang filosofis: Apa pun yang ada di semesta ini sesungguhnya memiliki bulu. Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengklaim bahwa bulu hanya milik makhluk tertentu?

Bagi Alpha, bulu adalah simbol yang melampaui bentuk fisik; ia adalah metafora universal yang dapat melekat pada segala sesuatu, baik tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bahkan pada fenomena kosmik. Dengan demikian, bulu dalam puisinya bukan sekadar objek, melainkan tanda yang membuka kemungkinan tafsir tak terbatas.

Sementara itu, Fezel melanjutkan dengan pertanyaan yang diarahkan pada Stebby: apakah isu tubuh marginal yang ia angkat merupakan sebuah batasan tema, atau justru perluasan menuju pelbagai bentuk diskriminasi lain? Ia bahkan menautkannya dengan pengalaman diskriminasi berbasis warna kulit di sejumlah negara, menandai bahwa pembacaan atas puisi Stebby dapat merambah konteks yang lebih global.

Menanggapi hal itu, Stebby mengakui bahwa ia tak pernah menutup puisinya pada satu horizon tunggal. “Biarlah pembaca menggunakan bait-bait itu sebagai medium untuk kegetiran apa pun,” ucapnya, seolah membiarkan puisinya hidup di tubuh siapa saja. Baginya, puisi adalah ruang dialog, ruang dialektika yang berlapis.

Dalam proses Stebby, ia mencoba menyelaraskan isu dengan pengucapan puitik lewat tokoh-tokoh yang dipilihnya untuk memapah, menuntun isu diskriminasi agar dapat bersuara dengan cara yang lebih manusiawi. Dengan begitu, puisi-puisinya terbuka untuk dipinjam oleh siapa pun yang pernah mengalami penyingkiran karena tubuhnya, keyakinannya, atau bahkan warna kulitnya.

Nyala yang Beresonansi

Tidak berhenti pada buku puisi semata yang dibicarakan sore itu, melainkan juga cara kita menatap puisi hari ini. Menjelang penutupan diskusi, Ayu Utami menyampaikan bahwa rangkaian pertanyaan dari murid, jawaban yang ditenun penyair, hingga tafsir yang dipaparkan pengulas, semuanya menjalin satu lanskap: puisi tidak pernah diam. Ia senantiasa bergerak, mencari tubuh baru untuk ditinggali.

Berpoto bersama | Foto: Dok. ALINEA

Komunitas Utan Kayu dalam hal ini hadir sebagai medium, sebuah ruang kolektif yang mengalirkan energi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sanalah puisi belajar bernafas bersama, bergeser dari suara Alpha ke suara Stebby, dari tafsir Esha ke pertanyaan Olin dan Fezel, dari para anggota Alinea hingga audiens yang menyimak, merayakan, dan barangkali kelak menuliskan sajak pertamanya sendiri.

Maka, yang tersisa dari jejak sains dalam puisi sore itu bukan sekadar catatan diskusi, melainkan kesadaran sederhana: setiap pertemuan sastra adalah ikhtiar untuk menjaga agar puisi tetap bergerak, tetap hidup, dan terus beresonansi di tubuh siapa pun yang bersedia menampungnya. [T]

Penulis: Tim Publikasi ALINEA
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini diterbitkan pertama kali di https://perkumpulanalinea.org/
Tags: AlineaAyu UtamiEsha Tegar PutraPuisisastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari “Theory of Everything” ke Teori Holistik

Next Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co