2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

tatkala by tatkala
September 21, 2025
in Khas
Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

Diskusi “Jejak Sains dalam Puisi” di Komunitas Utan Kayu, 20 September 2025 (Dokumentasi ALINEA)

PUKUL DUA SIANG, 20 September 2025, di sebuah ruang yang sejak lama akrab dengan pertemuan gagasan di Komunitas Utan Kayu, orang-orang datang untuk menyimak percakapan “Jejak Sains dalam Puisi.”

Di sana, Ayu Utami, novelis dan esais yang juga salah satu punggawa komunitas tersebut, duduk bersama Esha Tegar Putra, penyair sekaligus pengamat sastra, menautkan suara pada dua buku puisi: Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali dan Alelopati karya Stebby Julionatan.

Sebagai pemandu, Ayu Utami membuka sesi dengan menggarisbawahi posisi sains dalam kancah puisi yang kerap terjebak dalam kerangkeng dikotomi, antara logika dan imajinasi, antara eksak dan estetik. Ia mengingatkan bahwa sejarah sastra Indonesia sebenarnya telah melewati perjumpaan semacam itu. Pada era 1960-an, misalnya, Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi tentang bulan, yang lahir dari pengaruh kuat sistem politik Perang Dingin dan pencapaian teknologi ketika manusia berhasil mendarat di bulan.

“Puisi Subagio waktu itu memperlihatkan bagaimana politik dan sains bisa menjadi latar yang menyalakan inspirasi puitik. Artinya, puisi dan sains tak perlu dipertentangkan, justru bisa saling mengisi,” ujar Ayu.

Dari titik pembuka itulah, giliran Esha Tegar masuk dengan ulasannya tentang dua buku yang sedang dibicarakan. Ia membentangkan pandangannya tentang buku Sehelai Bulu Kosmos terbitan Edisi Mori yang mengolah tubuh hingga melebur dalam kosmos, dan buku Alelopati terbitan Elex Media Komputindo yang menghadirkan tubuh konkret, intim, bahkan marginal.

Lewat pembacaan kritis, Esha menekankan bahwa meski sama-sama bersinggungan dengan jejak sains, keduanya menempuh jalur berbeda: Alpha dengan pendekatan yang kosmik, sementara Stebby dengan corak progresif yang menubuhkan pengalaman sosial. Menebalkan bagian itu, Ayu Utami pun menandai perbedaan jalur estetik kedua penyair. “Kalau Stebby lebih modern, Alpha ini post-modern. Alpha mendekonstruksi tubuh, sementara Stebby berbicara,” tambahnya, membuka horizon bagi perbandingan kritis antara keduanya yang kemudian diundang masuk dalam stage.

Membaca Tubuh dalam Puisi

Esha Tegar lantas membedah Dalam Sehelai Bulu Kosmos, yang menurutnya menghadirkan tubuh bukan sebagai jasad biologis, melainkan sebagai pintu masuk menuju jagat raya. Di mana hampir semua sajak Alpha memanfaatkan bagian tubuh manusia, namun tubuh itu dengan cepat menjelma wujud lain, bergonta-ganti menjadi binatang, tumbuhan, bahkan organisme bersel satu.

“Modus jukstaposisi dan alusi ini saya kira kemudian membuat pemanfaatan atau pelibatan bagian tubuh manusia dalam sajak-sajak Alpha membuat ‘tubuh’ itu tidak dapat kita maknai lagi sebagai ‘tubuh manusia’.”

Tubuh dalam puisi Alpha adalah entitas kosmik: cair, asing, dan sulit diklasifikasi. Ia bisa muncul sebagai vertebrata lalu tiba-tiba menjadi amoeba, atau berangkat dari jaringan tumbuhan lalu meledak bersama bintang mati.

“Saya kemudian membiarkan subjek yang mempunyai wujud asing, bagian tubuh-tubuh asing, dalam sajak Alpha itu sebagai ‘makhluk’ saja, ia makhluk hidup yang menggeliat dalam semesta atau jagad raya dengan keluasan misterinya,” dedah Esha yang selanjutnya menukil sajak Sumur Energi sebagai penegasan:

“/Aku raba ujung bulu tipis penuh/ cahaya yang tumbuh di lehermu. Ada bintang jatuh
yang segera kusingkap ke balik kabut di/ sebuah bukit. Kugenggam ekornya dan/
kuterbarkan di kelaminmu supaya intimu/ bercahaya dengan berbagai warna/.”

Esha Tegar Putra | Foto: Dok. ALINEA

Bagi Esha, Alpha mengajak pembaca melampaui batas tubuh, membiarkannya bertransformasi menjadi bagian dari kosmos, sehingga pengalaman membaca berubah menjadi pengalaman imajinatif yang penuh keasingan. Jika Alpha bergerak ke kosmos, Stebby Julionatan justru menjejak ke bumi. Dalam Alelopati, tubuh hadir sebagai sesuatu yang konkret dan sosial, sering kali berada di posisi marginal. Esha menegaskan bahwa aku-lirik Stebby berbicara tentang tubuh yang dipinggirkan oleh keluarga, teman, institusi negara, bahkan agama.

“Aku-lirik Stebby berangkat dan bercerita tentang tubuh yang konkret. Ia banyak bercerita hal-hal intim tentang tubuh atau semacam identitas yang dimarginalkan oleh segala sesuatu yang berada di sekelilingnya.”

Meskipun judul Alelopati berangkat dari istilah biologi, muatan puisinya lebih dekat pada kritik sosial dan kemanusiaan. Citra yang biasanya indah, seperti kupu-kupu, dipelintir menjadi tanda duka:

“Pembaca dibenturkan pada hal-hal yang tidak lagi indah tentang kupu-kupu. ‘Kupu-kupu, kaukah alamat buruk itu?’ tanya aku-lirik dalam puisi Panggung Sebelum Gelap.”

Stebby juga berani memasukkan elemen keseharian yang kerap dianggap tidak puitis mulai dari gim Mobile Legend hingga marketplace Tokopedia sebagai siasat untuk menubuhkan puisi pada realitas mutakhir. Pilihan ini menunjukkan keberanian menabrak batas bahasa puitik konvensional, sekaligus mendekatkan puisi pada denyut hidup hari ini.

Lebih jauh, puisi dalam Alelopati juga melontarkan kritik sosial dan spiritual. Dalam Kandang Sirkus, tubuh digambarkan sebagai mainan negara yang terperangkap dalam kerangkeng. Sementara dalam Perihal Ibadah, ia menyinggung sejarah rezim keimanan yang pernah memandang ilmu sebagai candu:

“Ada masa terang disebut kegilaan.”

Bagi Esha, di sinilah paradoks sekaligus kekuatan puisi Stebby: anasir yang seharusnya indah justru diolah menjadi sesuatu yang memilukan, membuka ruang tafsir yang getir sekaligus reflektif.

Suara Muda yang Memantik Tafsir

Selain Ayu Utami, Esha Tegar Putra, dan Stebby Julionatan yang merupakan anggota Alinea, hadir pula Debra H. Yatim, Danny Yatim, Pratiwi Juliani, dan Deasy Tirayoh yang turut menyemarakkan ruangan untuk merayakan kelahiran kedua buku puisi tersebut.

Suasana kian hidup ketika dua murid Stebby dari SMA Asisi, Olin dan Fezel, tampil membacakan puisi. Olin membawakan Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali, sementara Fezel memilih Meja Makan karya Stebby. Dari sana, keduanya tidak berhenti pada pembacaan, melainkan memantik tanya yang khas namun tetap kritis.

Suara Muda yang Memantik Tafsir | Foto: Dok. ALINEA

Olin, dengan nada penasaran, menanyakan kepada Alpha mengapa memilih bulu sebagai perumpamaan dalam puisi kosmiknya? Pertanyaan itu dijawab Alpha dengan cara yang filosofis: Apa pun yang ada di semesta ini sesungguhnya memiliki bulu. Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengklaim bahwa bulu hanya milik makhluk tertentu?

Bagi Alpha, bulu adalah simbol yang melampaui bentuk fisik; ia adalah metafora universal yang dapat melekat pada segala sesuatu, baik tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bahkan pada fenomena kosmik. Dengan demikian, bulu dalam puisinya bukan sekadar objek, melainkan tanda yang membuka kemungkinan tafsir tak terbatas.

Sementara itu, Fezel melanjutkan dengan pertanyaan yang diarahkan pada Stebby: apakah isu tubuh marginal yang ia angkat merupakan sebuah batasan tema, atau justru perluasan menuju pelbagai bentuk diskriminasi lain? Ia bahkan menautkannya dengan pengalaman diskriminasi berbasis warna kulit di sejumlah negara, menandai bahwa pembacaan atas puisi Stebby dapat merambah konteks yang lebih global.

Menanggapi hal itu, Stebby mengakui bahwa ia tak pernah menutup puisinya pada satu horizon tunggal. “Biarlah pembaca menggunakan bait-bait itu sebagai medium untuk kegetiran apa pun,” ucapnya, seolah membiarkan puisinya hidup di tubuh siapa saja. Baginya, puisi adalah ruang dialog, ruang dialektika yang berlapis.

Dalam proses Stebby, ia mencoba menyelaraskan isu dengan pengucapan puitik lewat tokoh-tokoh yang dipilihnya untuk memapah, menuntun isu diskriminasi agar dapat bersuara dengan cara yang lebih manusiawi. Dengan begitu, puisi-puisinya terbuka untuk dipinjam oleh siapa pun yang pernah mengalami penyingkiran karena tubuhnya, keyakinannya, atau bahkan warna kulitnya.

Nyala yang Beresonansi

Tidak berhenti pada buku puisi semata yang dibicarakan sore itu, melainkan juga cara kita menatap puisi hari ini. Menjelang penutupan diskusi, Ayu Utami menyampaikan bahwa rangkaian pertanyaan dari murid, jawaban yang ditenun penyair, hingga tafsir yang dipaparkan pengulas, semuanya menjalin satu lanskap: puisi tidak pernah diam. Ia senantiasa bergerak, mencari tubuh baru untuk ditinggali.

Berpoto bersama | Foto: Dok. ALINEA

Komunitas Utan Kayu dalam hal ini hadir sebagai medium, sebuah ruang kolektif yang mengalirkan energi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sanalah puisi belajar bernafas bersama, bergeser dari suara Alpha ke suara Stebby, dari tafsir Esha ke pertanyaan Olin dan Fezel, dari para anggota Alinea hingga audiens yang menyimak, merayakan, dan barangkali kelak menuliskan sajak pertamanya sendiri.

Maka, yang tersisa dari jejak sains dalam puisi sore itu bukan sekadar catatan diskusi, melainkan kesadaran sederhana: setiap pertemuan sastra adalah ikhtiar untuk menjaga agar puisi tetap bergerak, tetap hidup, dan terus beresonansi di tubuh siapa pun yang bersedia menampungnya. [T]

Penulis: Tim Publikasi ALINEA
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini diterbitkan pertama kali di https://perkumpulanalinea.org/
Tags: AlineaAyu UtamiEsha Tegar PutraPuisisastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari “Theory of Everything” ke Teori Holistik

Next Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co