2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

tatkala by tatkala
September 21, 2025
in Khas
Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

Diskusi “Jejak Sains dalam Puisi” di Komunitas Utan Kayu, 20 September 2025 (Dokumentasi ALINEA)

PUKUL DUA SIANG, 20 September 2025, di sebuah ruang yang sejak lama akrab dengan pertemuan gagasan di Komunitas Utan Kayu, orang-orang datang untuk menyimak percakapan “Jejak Sains dalam Puisi.”

Di sana, Ayu Utami, novelis dan esais yang juga salah satu punggawa komunitas tersebut, duduk bersama Esha Tegar Putra, penyair sekaligus pengamat sastra, menautkan suara pada dua buku puisi: Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali dan Alelopati karya Stebby Julionatan.

Sebagai pemandu, Ayu Utami membuka sesi dengan menggarisbawahi posisi sains dalam kancah puisi yang kerap terjebak dalam kerangkeng dikotomi, antara logika dan imajinasi, antara eksak dan estetik. Ia mengingatkan bahwa sejarah sastra Indonesia sebenarnya telah melewati perjumpaan semacam itu. Pada era 1960-an, misalnya, Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi tentang bulan, yang lahir dari pengaruh kuat sistem politik Perang Dingin dan pencapaian teknologi ketika manusia berhasil mendarat di bulan.

“Puisi Subagio waktu itu memperlihatkan bagaimana politik dan sains bisa menjadi latar yang menyalakan inspirasi puitik. Artinya, puisi dan sains tak perlu dipertentangkan, justru bisa saling mengisi,” ujar Ayu.

Dari titik pembuka itulah, giliran Esha Tegar masuk dengan ulasannya tentang dua buku yang sedang dibicarakan. Ia membentangkan pandangannya tentang buku Sehelai Bulu Kosmos terbitan Edisi Mori yang mengolah tubuh hingga melebur dalam kosmos, dan buku Alelopati terbitan Elex Media Komputindo yang menghadirkan tubuh konkret, intim, bahkan marginal.

Lewat pembacaan kritis, Esha menekankan bahwa meski sama-sama bersinggungan dengan jejak sains, keduanya menempuh jalur berbeda: Alpha dengan pendekatan yang kosmik, sementara Stebby dengan corak progresif yang menubuhkan pengalaman sosial. Menebalkan bagian itu, Ayu Utami pun menandai perbedaan jalur estetik kedua penyair. “Kalau Stebby lebih modern, Alpha ini post-modern. Alpha mendekonstruksi tubuh, sementara Stebby berbicara,” tambahnya, membuka horizon bagi perbandingan kritis antara keduanya yang kemudian diundang masuk dalam stage.

Membaca Tubuh dalam Puisi

Esha Tegar lantas membedah Dalam Sehelai Bulu Kosmos, yang menurutnya menghadirkan tubuh bukan sebagai jasad biologis, melainkan sebagai pintu masuk menuju jagat raya. Di mana hampir semua sajak Alpha memanfaatkan bagian tubuh manusia, namun tubuh itu dengan cepat menjelma wujud lain, bergonta-ganti menjadi binatang, tumbuhan, bahkan organisme bersel satu.

“Modus jukstaposisi dan alusi ini saya kira kemudian membuat pemanfaatan atau pelibatan bagian tubuh manusia dalam sajak-sajak Alpha membuat ‘tubuh’ itu tidak dapat kita maknai lagi sebagai ‘tubuh manusia’.”

Tubuh dalam puisi Alpha adalah entitas kosmik: cair, asing, dan sulit diklasifikasi. Ia bisa muncul sebagai vertebrata lalu tiba-tiba menjadi amoeba, atau berangkat dari jaringan tumbuhan lalu meledak bersama bintang mati.

“Saya kemudian membiarkan subjek yang mempunyai wujud asing, bagian tubuh-tubuh asing, dalam sajak Alpha itu sebagai ‘makhluk’ saja, ia makhluk hidup yang menggeliat dalam semesta atau jagad raya dengan keluasan misterinya,” dedah Esha yang selanjutnya menukil sajak Sumur Energi sebagai penegasan:

“/Aku raba ujung bulu tipis penuh/ cahaya yang tumbuh di lehermu. Ada bintang jatuh
yang segera kusingkap ke balik kabut di/ sebuah bukit. Kugenggam ekornya dan/
kuterbarkan di kelaminmu supaya intimu/ bercahaya dengan berbagai warna/.”

Esha Tegar Putra | Foto: Dok. ALINEA

Bagi Esha, Alpha mengajak pembaca melampaui batas tubuh, membiarkannya bertransformasi menjadi bagian dari kosmos, sehingga pengalaman membaca berubah menjadi pengalaman imajinatif yang penuh keasingan. Jika Alpha bergerak ke kosmos, Stebby Julionatan justru menjejak ke bumi. Dalam Alelopati, tubuh hadir sebagai sesuatu yang konkret dan sosial, sering kali berada di posisi marginal. Esha menegaskan bahwa aku-lirik Stebby berbicara tentang tubuh yang dipinggirkan oleh keluarga, teman, institusi negara, bahkan agama.

“Aku-lirik Stebby berangkat dan bercerita tentang tubuh yang konkret. Ia banyak bercerita hal-hal intim tentang tubuh atau semacam identitas yang dimarginalkan oleh segala sesuatu yang berada di sekelilingnya.”

Meskipun judul Alelopati berangkat dari istilah biologi, muatan puisinya lebih dekat pada kritik sosial dan kemanusiaan. Citra yang biasanya indah, seperti kupu-kupu, dipelintir menjadi tanda duka:

“Pembaca dibenturkan pada hal-hal yang tidak lagi indah tentang kupu-kupu. ‘Kupu-kupu, kaukah alamat buruk itu?’ tanya aku-lirik dalam puisi Panggung Sebelum Gelap.”

Stebby juga berani memasukkan elemen keseharian yang kerap dianggap tidak puitis mulai dari gim Mobile Legend hingga marketplace Tokopedia sebagai siasat untuk menubuhkan puisi pada realitas mutakhir. Pilihan ini menunjukkan keberanian menabrak batas bahasa puitik konvensional, sekaligus mendekatkan puisi pada denyut hidup hari ini.

Lebih jauh, puisi dalam Alelopati juga melontarkan kritik sosial dan spiritual. Dalam Kandang Sirkus, tubuh digambarkan sebagai mainan negara yang terperangkap dalam kerangkeng. Sementara dalam Perihal Ibadah, ia menyinggung sejarah rezim keimanan yang pernah memandang ilmu sebagai candu:

“Ada masa terang disebut kegilaan.”

Bagi Esha, di sinilah paradoks sekaligus kekuatan puisi Stebby: anasir yang seharusnya indah justru diolah menjadi sesuatu yang memilukan, membuka ruang tafsir yang getir sekaligus reflektif.

Suara Muda yang Memantik Tafsir

Selain Ayu Utami, Esha Tegar Putra, dan Stebby Julionatan yang merupakan anggota Alinea, hadir pula Debra H. Yatim, Danny Yatim, Pratiwi Juliani, dan Deasy Tirayoh yang turut menyemarakkan ruangan untuk merayakan kelahiran kedua buku puisi tersebut.

Suasana kian hidup ketika dua murid Stebby dari SMA Asisi, Olin dan Fezel, tampil membacakan puisi. Olin membawakan Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali, sementara Fezel memilih Meja Makan karya Stebby. Dari sana, keduanya tidak berhenti pada pembacaan, melainkan memantik tanya yang khas namun tetap kritis.

Suara Muda yang Memantik Tafsir | Foto: Dok. ALINEA

Olin, dengan nada penasaran, menanyakan kepada Alpha mengapa memilih bulu sebagai perumpamaan dalam puisi kosmiknya? Pertanyaan itu dijawab Alpha dengan cara yang filosofis: Apa pun yang ada di semesta ini sesungguhnya memiliki bulu. Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengklaim bahwa bulu hanya milik makhluk tertentu?

Bagi Alpha, bulu adalah simbol yang melampaui bentuk fisik; ia adalah metafora universal yang dapat melekat pada segala sesuatu, baik tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bahkan pada fenomena kosmik. Dengan demikian, bulu dalam puisinya bukan sekadar objek, melainkan tanda yang membuka kemungkinan tafsir tak terbatas.

Sementara itu, Fezel melanjutkan dengan pertanyaan yang diarahkan pada Stebby: apakah isu tubuh marginal yang ia angkat merupakan sebuah batasan tema, atau justru perluasan menuju pelbagai bentuk diskriminasi lain? Ia bahkan menautkannya dengan pengalaman diskriminasi berbasis warna kulit di sejumlah negara, menandai bahwa pembacaan atas puisi Stebby dapat merambah konteks yang lebih global.

Menanggapi hal itu, Stebby mengakui bahwa ia tak pernah menutup puisinya pada satu horizon tunggal. “Biarlah pembaca menggunakan bait-bait itu sebagai medium untuk kegetiran apa pun,” ucapnya, seolah membiarkan puisinya hidup di tubuh siapa saja. Baginya, puisi adalah ruang dialog, ruang dialektika yang berlapis.

Dalam proses Stebby, ia mencoba menyelaraskan isu dengan pengucapan puitik lewat tokoh-tokoh yang dipilihnya untuk memapah, menuntun isu diskriminasi agar dapat bersuara dengan cara yang lebih manusiawi. Dengan begitu, puisi-puisinya terbuka untuk dipinjam oleh siapa pun yang pernah mengalami penyingkiran karena tubuhnya, keyakinannya, atau bahkan warna kulitnya.

Nyala yang Beresonansi

Tidak berhenti pada buku puisi semata yang dibicarakan sore itu, melainkan juga cara kita menatap puisi hari ini. Menjelang penutupan diskusi, Ayu Utami menyampaikan bahwa rangkaian pertanyaan dari murid, jawaban yang ditenun penyair, hingga tafsir yang dipaparkan pengulas, semuanya menjalin satu lanskap: puisi tidak pernah diam. Ia senantiasa bergerak, mencari tubuh baru untuk ditinggali.

Berpoto bersama | Foto: Dok. ALINEA

Komunitas Utan Kayu dalam hal ini hadir sebagai medium, sebuah ruang kolektif yang mengalirkan energi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sanalah puisi belajar bernafas bersama, bergeser dari suara Alpha ke suara Stebby, dari tafsir Esha ke pertanyaan Olin dan Fezel, dari para anggota Alinea hingga audiens yang menyimak, merayakan, dan barangkali kelak menuliskan sajak pertamanya sendiri.

Maka, yang tersisa dari jejak sains dalam puisi sore itu bukan sekadar catatan diskusi, melainkan kesadaran sederhana: setiap pertemuan sastra adalah ikhtiar untuk menjaga agar puisi tetap bergerak, tetap hidup, dan terus beresonansi di tubuh siapa pun yang bersedia menampungnya. [T]

Penulis: Tim Publikasi ALINEA
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini diterbitkan pertama kali di https://perkumpulanalinea.org/
Tags: AlineaAyu UtamiEsha Tegar PutraPuisisastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari “Theory of Everything” ke Teori Holistik

Next Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co