2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

tatkala by tatkala
September 21, 2025
in Khas
Menelusuri Jejak Sains dalam Puisi

Diskusi “Jejak Sains dalam Puisi” di Komunitas Utan Kayu, 20 September 2025 (Dokumentasi ALINEA)

PUKUL DUA SIANG, 20 September 2025, di sebuah ruang yang sejak lama akrab dengan pertemuan gagasan di Komunitas Utan Kayu, orang-orang datang untuk menyimak percakapan “Jejak Sains dalam Puisi.”

Di sana, Ayu Utami, novelis dan esais yang juga salah satu punggawa komunitas tersebut, duduk bersama Esha Tegar Putra, penyair sekaligus pengamat sastra, menautkan suara pada dua buku puisi: Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali dan Alelopati karya Stebby Julionatan.

Sebagai pemandu, Ayu Utami membuka sesi dengan menggarisbawahi posisi sains dalam kancah puisi yang kerap terjebak dalam kerangkeng dikotomi, antara logika dan imajinasi, antara eksak dan estetik. Ia mengingatkan bahwa sejarah sastra Indonesia sebenarnya telah melewati perjumpaan semacam itu. Pada era 1960-an, misalnya, Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi tentang bulan, yang lahir dari pengaruh kuat sistem politik Perang Dingin dan pencapaian teknologi ketika manusia berhasil mendarat di bulan.

“Puisi Subagio waktu itu memperlihatkan bagaimana politik dan sains bisa menjadi latar yang menyalakan inspirasi puitik. Artinya, puisi dan sains tak perlu dipertentangkan, justru bisa saling mengisi,” ujar Ayu.

Dari titik pembuka itulah, giliran Esha Tegar masuk dengan ulasannya tentang dua buku yang sedang dibicarakan. Ia membentangkan pandangannya tentang buku Sehelai Bulu Kosmos terbitan Edisi Mori yang mengolah tubuh hingga melebur dalam kosmos, dan buku Alelopati terbitan Elex Media Komputindo yang menghadirkan tubuh konkret, intim, bahkan marginal.

Lewat pembacaan kritis, Esha menekankan bahwa meski sama-sama bersinggungan dengan jejak sains, keduanya menempuh jalur berbeda: Alpha dengan pendekatan yang kosmik, sementara Stebby dengan corak progresif yang menubuhkan pengalaman sosial. Menebalkan bagian itu, Ayu Utami pun menandai perbedaan jalur estetik kedua penyair. “Kalau Stebby lebih modern, Alpha ini post-modern. Alpha mendekonstruksi tubuh, sementara Stebby berbicara,” tambahnya, membuka horizon bagi perbandingan kritis antara keduanya yang kemudian diundang masuk dalam stage.

Membaca Tubuh dalam Puisi

Esha Tegar lantas membedah Dalam Sehelai Bulu Kosmos, yang menurutnya menghadirkan tubuh bukan sebagai jasad biologis, melainkan sebagai pintu masuk menuju jagat raya. Di mana hampir semua sajak Alpha memanfaatkan bagian tubuh manusia, namun tubuh itu dengan cepat menjelma wujud lain, bergonta-ganti menjadi binatang, tumbuhan, bahkan organisme bersel satu.

“Modus jukstaposisi dan alusi ini saya kira kemudian membuat pemanfaatan atau pelibatan bagian tubuh manusia dalam sajak-sajak Alpha membuat ‘tubuh’ itu tidak dapat kita maknai lagi sebagai ‘tubuh manusia’.”

Tubuh dalam puisi Alpha adalah entitas kosmik: cair, asing, dan sulit diklasifikasi. Ia bisa muncul sebagai vertebrata lalu tiba-tiba menjadi amoeba, atau berangkat dari jaringan tumbuhan lalu meledak bersama bintang mati.

“Saya kemudian membiarkan subjek yang mempunyai wujud asing, bagian tubuh-tubuh asing, dalam sajak Alpha itu sebagai ‘makhluk’ saja, ia makhluk hidup yang menggeliat dalam semesta atau jagad raya dengan keluasan misterinya,” dedah Esha yang selanjutnya menukil sajak Sumur Energi sebagai penegasan:

“/Aku raba ujung bulu tipis penuh/ cahaya yang tumbuh di lehermu. Ada bintang jatuh
yang segera kusingkap ke balik kabut di/ sebuah bukit. Kugenggam ekornya dan/
kuterbarkan di kelaminmu supaya intimu/ bercahaya dengan berbagai warna/.”

Esha Tegar Putra | Foto: Dok. ALINEA

Bagi Esha, Alpha mengajak pembaca melampaui batas tubuh, membiarkannya bertransformasi menjadi bagian dari kosmos, sehingga pengalaman membaca berubah menjadi pengalaman imajinatif yang penuh keasingan. Jika Alpha bergerak ke kosmos, Stebby Julionatan justru menjejak ke bumi. Dalam Alelopati, tubuh hadir sebagai sesuatu yang konkret dan sosial, sering kali berada di posisi marginal. Esha menegaskan bahwa aku-lirik Stebby berbicara tentang tubuh yang dipinggirkan oleh keluarga, teman, institusi negara, bahkan agama.

“Aku-lirik Stebby berangkat dan bercerita tentang tubuh yang konkret. Ia banyak bercerita hal-hal intim tentang tubuh atau semacam identitas yang dimarginalkan oleh segala sesuatu yang berada di sekelilingnya.”

Meskipun judul Alelopati berangkat dari istilah biologi, muatan puisinya lebih dekat pada kritik sosial dan kemanusiaan. Citra yang biasanya indah, seperti kupu-kupu, dipelintir menjadi tanda duka:

“Pembaca dibenturkan pada hal-hal yang tidak lagi indah tentang kupu-kupu. ‘Kupu-kupu, kaukah alamat buruk itu?’ tanya aku-lirik dalam puisi Panggung Sebelum Gelap.”

Stebby juga berani memasukkan elemen keseharian yang kerap dianggap tidak puitis mulai dari gim Mobile Legend hingga marketplace Tokopedia sebagai siasat untuk menubuhkan puisi pada realitas mutakhir. Pilihan ini menunjukkan keberanian menabrak batas bahasa puitik konvensional, sekaligus mendekatkan puisi pada denyut hidup hari ini.

Lebih jauh, puisi dalam Alelopati juga melontarkan kritik sosial dan spiritual. Dalam Kandang Sirkus, tubuh digambarkan sebagai mainan negara yang terperangkap dalam kerangkeng. Sementara dalam Perihal Ibadah, ia menyinggung sejarah rezim keimanan yang pernah memandang ilmu sebagai candu:

“Ada masa terang disebut kegilaan.”

Bagi Esha, di sinilah paradoks sekaligus kekuatan puisi Stebby: anasir yang seharusnya indah justru diolah menjadi sesuatu yang memilukan, membuka ruang tafsir yang getir sekaligus reflektif.

Suara Muda yang Memantik Tafsir

Selain Ayu Utami, Esha Tegar Putra, dan Stebby Julionatan yang merupakan anggota Alinea, hadir pula Debra H. Yatim, Danny Yatim, Pratiwi Juliani, dan Deasy Tirayoh yang turut menyemarakkan ruangan untuk merayakan kelahiran kedua buku puisi tersebut.

Suasana kian hidup ketika dua murid Stebby dari SMA Asisi, Olin dan Fezel, tampil membacakan puisi. Olin membawakan Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali, sementara Fezel memilih Meja Makan karya Stebby. Dari sana, keduanya tidak berhenti pada pembacaan, melainkan memantik tanya yang khas namun tetap kritis.

Suara Muda yang Memantik Tafsir | Foto: Dok. ALINEA

Olin, dengan nada penasaran, menanyakan kepada Alpha mengapa memilih bulu sebagai perumpamaan dalam puisi kosmiknya? Pertanyaan itu dijawab Alpha dengan cara yang filosofis: Apa pun yang ada di semesta ini sesungguhnya memiliki bulu. Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengklaim bahwa bulu hanya milik makhluk tertentu?

Bagi Alpha, bulu adalah simbol yang melampaui bentuk fisik; ia adalah metafora universal yang dapat melekat pada segala sesuatu, baik tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bahkan pada fenomena kosmik. Dengan demikian, bulu dalam puisinya bukan sekadar objek, melainkan tanda yang membuka kemungkinan tafsir tak terbatas.

Sementara itu, Fezel melanjutkan dengan pertanyaan yang diarahkan pada Stebby: apakah isu tubuh marginal yang ia angkat merupakan sebuah batasan tema, atau justru perluasan menuju pelbagai bentuk diskriminasi lain? Ia bahkan menautkannya dengan pengalaman diskriminasi berbasis warna kulit di sejumlah negara, menandai bahwa pembacaan atas puisi Stebby dapat merambah konteks yang lebih global.

Menanggapi hal itu, Stebby mengakui bahwa ia tak pernah menutup puisinya pada satu horizon tunggal. “Biarlah pembaca menggunakan bait-bait itu sebagai medium untuk kegetiran apa pun,” ucapnya, seolah membiarkan puisinya hidup di tubuh siapa saja. Baginya, puisi adalah ruang dialog, ruang dialektika yang berlapis.

Dalam proses Stebby, ia mencoba menyelaraskan isu dengan pengucapan puitik lewat tokoh-tokoh yang dipilihnya untuk memapah, menuntun isu diskriminasi agar dapat bersuara dengan cara yang lebih manusiawi. Dengan begitu, puisi-puisinya terbuka untuk dipinjam oleh siapa pun yang pernah mengalami penyingkiran karena tubuhnya, keyakinannya, atau bahkan warna kulitnya.

Nyala yang Beresonansi

Tidak berhenti pada buku puisi semata yang dibicarakan sore itu, melainkan juga cara kita menatap puisi hari ini. Menjelang penutupan diskusi, Ayu Utami menyampaikan bahwa rangkaian pertanyaan dari murid, jawaban yang ditenun penyair, hingga tafsir yang dipaparkan pengulas, semuanya menjalin satu lanskap: puisi tidak pernah diam. Ia senantiasa bergerak, mencari tubuh baru untuk ditinggali.

Berpoto bersama | Foto: Dok. ALINEA

Komunitas Utan Kayu dalam hal ini hadir sebagai medium, sebuah ruang kolektif yang mengalirkan energi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sanalah puisi belajar bernafas bersama, bergeser dari suara Alpha ke suara Stebby, dari tafsir Esha ke pertanyaan Olin dan Fezel, dari para anggota Alinea hingga audiens yang menyimak, merayakan, dan barangkali kelak menuliskan sajak pertamanya sendiri.

Maka, yang tersisa dari jejak sains dalam puisi sore itu bukan sekadar catatan diskusi, melainkan kesadaran sederhana: setiap pertemuan sastra adalah ikhtiar untuk menjaga agar puisi tetap bergerak, tetap hidup, dan terus beresonansi di tubuh siapa pun yang bersedia menampungnya. [T]

Penulis: Tim Publikasi ALINEA
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini diterbitkan pertama kali di https://perkumpulanalinea.org/
Tags: AlineaAyu UtamiEsha Tegar PutraPuisisastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari “Theory of Everything” ke Teori Holistik

Next Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co