1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 16, 2025
in Esai
Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Ilustrasi tatlkala.co | Diolah dengan Canva

BERBEDA dengan ilmu kedokteran Barat, diagnosa penyakit jiwa di Bali agaknya lebih spesifik, bahkan cenderung sangat kasat mata. Dalam Lontar Usada Buduh, gejala dan klasifikasi orang yang dianggap “buduh”—sebuah istilah lokal untuk gangguan jiwa—lebih pada kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

Misalnya, ada orang yang suka melucu dan tertawa sendiri, ada yang senang menyanyi atau menari tanpa alasan, ada pula yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari seakan tak pernah menemukan tempatnya. Yang lain digambarkan sering merasa takut, gemetar, atau suka memungut barang-barang di jalan. Setiap perilaku itu dianggap ciri, tanda, bahkan kategori tersendiri dari sakit jiwa.

Di masa lalu, penyakit jiwa masih bersifat generik. Belum ada pembedaan rumit seperti dalam klasifikasi kedokteran modern, seperti skizofrenia paranoid, bipolar, depresi mayor, gangguan kecemasan, dan seterusnya. Usada Buduh tidak mengenal istilah-istilah semacam itu. Yang ada hanyalah tanda-tanda yang menempel di tubuh dan jiwa seseorang. Lalu penawarnya, adalah ramuan obat, boreh, bedak, minuman, atau tetesan mata dan hidung. Uniknya, hampir semua ramuan berbahan air, daun, umbi, bunga, hingga rempah yang tumbuh di pekarangan rumah orang Bali.

Kalau sekarang psikiater menulis resep antipsikotik, antidepresan, atau stabilisator mood, maka dulu balian menumbuk daun kelor, lempuyang, gadung, jintan hitam, atau bunga kenanga. Obat-obat itu lalu diminum, ditempelkan di tubuh, diteteskan ke mata, atau dipakai sebagai boreh. Sambil memberi ramuan, balian juga membacakan mantra—sebuah aspek yang menandai bahwa sakit jiwa tak hanya diobati secara jasmani, tapi juga secara niskala, spiritual.

Saya membaca ulang buku Usada Buduh: Pengobatan Alternatif Sakit Gila karya I Gede Sugata Yadnya Manuaba. Buku ini merupakan alihaksara dan alihbahasa dari lontar, sekaligus memberi penjelasan modern, diterbitkan oleh Pustaka Bali Post pada 2012. Dari sana tampak betapa kaya pengetahuan tradisional Bali soal jiwa. Ada tak kurang dari tiga puluh dua resep untuk mengobati orang sakit jiwa, masing-masing disesuaikan dengan gejalanya.

Bayangkan, seorang pasien yang suka tertawa dan melucu akan diberi ramuan paria, lempuyang, ketumbar, tri ketuka, dicampur air cuka. Bahkan umbi gadung yang biasanya beracun ikut dipakai, tentu dengan takaran khusus. Ampas ramuan itu dipakai sebagai bedak, serupa terapi luar. Sementara pasien yang suka bermain kotoran akan ditempeli ramuan dari sulasih, ginten hitam, bunga sarem, dan semut hitam. Ada juga yang disebut “suka berkata aneh” akan diberi ramuan daun kelor munggi, kesawi, bawang, adas, tri ketuka, diminum lalu diteteskan ke mata dan hidung.

Bahkan epilepsi, yang di dunia medis modern dipahami sebagai gangguan saraf, dimasukkan dalam klasifikasi “buduh”. Penawarnya berupa pacipaci, kemiri, pala, jarangan, dan mungsi. Ramuan itu diminum, ampasnya menjadi boreh. Semuanya dibungkus dalam satu kesadaran bahwa tubuh, jiwa, dan alam adalah satu jaringan yang tak terpisahkan.

Membaca resep-resep itu, saya merasa orang Bali zaman dahulu sangat jeli dalam mengamati perilaku. Mereka tak memberi label abstrak seperti “psikotik” atau “depresif”, melainkan menunjuk langsung ke kebiasaan sehari-hari, seperti, tertawa, menangis, marah, berlari, diam, bahkan tidur terus. Dari hal-hal sederhana itulah diagnosa ditegakkan.

Hari ini, gejala sakit jiwa meningkat di banyak tempat. Kota-kota besar dengan tekanan ekonomi, ritme kerja, dan keterasingan sosial menghasilkan banyak orang yang kelelahan jiwa. Pandemi (dan juga bencana alam) lalu memperparah segalanya. Banyak orang kehilangan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, kehilangan arah. Tak sedikit yang jatuh pada depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Ada yang bisa pulih setelah berobat ke psikiater, rutin minum obat, dan mendapat dukungan keluarga. Ada juga yang merasa lebih baik setelah berkonsultasi dengan penyembuh tradisional, mendapatkan terapi doa, meditasi, atau ramuan herbal. Di Bali, dua dunia ini kini coba dipertemukan.

Salah satu contohnya ada di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur-Denpasar. Di sana, pemerintah provinsi Bali menguji coba model pelayanan kesehatan integratif. Artinya, pasien bisa berobat dengan pendekatan medis modern—bertemu dokter spesialis jiwa, menjalani terapi obat—tapi juga mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Bali. Balian dihadirkan, jamu dan ramuan herbal dipakai, doa dan ritual diperkenankan. Tentu dengan pengawasan medis agar tak terjadi efek samping atau penyalahgunaan.

Saya belum sempat datang langsung ke sana, tapi suatu saat saya akan ke sana. Rasanya penting mengetahui bagaimana dua dunia yang sering dianggap bertentangan itu bisa berjalan beriringan. Dari luar, ini terlihat sebagai inovasi bagus. Sejatinya kesehatan memang bersifat holistik. Sakit bukan hanya soal tubuh, melainkan juga pikiran, perasaan, bahkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Pendekatan holistik ini sebenarnya bukan hal baru di Bali. Sejak 1990-an, Prof. Luh Ketut Suryani, seorang psikiater kawakan, sudah mengembangkan model pengobatan gangguan jiwa dengan cara berbeda. Ia mendirikan Suryani Institute for Mental Health, yang menangani pasien bukan hanya dengan obat medis, tapi juga dengan meditasi dan terapi komunitas.

Saya pernah membaca kisah pasien yang selama bertahun-tahun dipasung oleh keluarganya. Saat bertemu tim Prof. Suryani, ia diajak meditasi, diberi ruang untuk mengolah batin, sembari tetap mendapatkan obat medis yang diperlukan. Hasilnya menakjubkan, pasien itu perlahan pulih, bahkan bisa kembali bekerja. Prof. Suryani percaya, jiwa manusia punya daya sembuh luar biasa bila disentuh dengan pendekatan spiritual dan kasih sayang.

Bagi saya, inilah inti dari usada, bahwa penyembuhan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi mengembalikan keseimbangan. Keseimbangan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan alam. Di sini modernitas bisa belajar dari tradisi, dan tradisi bisa mendapat validasi dari sains.

Tentu saja, kita tak bisa begitu saja kembali ke masa lalu. Tidak semua resep dalam Usada Buduh relevan atau aman bila dipraktikkan hari ini. Beberapa bahan seperti umbi gadung atau semut hitam perlu pengolahan khusus agar tidak berbahaya. Tetapi yang patut dipelajari adalah cara pandang orang Bali terhadap sakit jiwa, mereka tidak menstigma. Mereka tidak menyebut orang “gila” lalu menyingkirkannya. Mereka mencoba memberi obat, memberi doa, memberi ritual. Ada usaha untuk memulihkan, bukan membuang.

Dalam banyak lontar usada, termasuk Usada Buduh, mantra selalu menyertai ramuan. Mantra itu bukan sekadar jampi-jampi kosong. Ia adalah bahasa doa, sugesti, bahkan komunikasi batin antara tabib dan pasien. Dengan mantra, orang merasa diperhatikan, diperkuat, dan disambungkan kembali dengan dunia spiritual. Di sinilah penyembuhan jiwa memperoleh maknanya.

Kini, ketika saya melihat banyak orang muda mengalami stres, burnout, depresi, saya jadi teringat lontar-lontar itu. Seakan leluhur sudah menulis pesan: jagalah jiwa, jangan biarkan ia sendirian. Tertawa berlebihan, menangis tanpa alasan, berlari tanpa tujuan—semua adalah tanda yang tak boleh diabaikan.

Barat mungkin memberi label, diantaranya bipolar, depresi, psikotik. Bali menuliskan gejala itu dengan bahasa sehari-hari, seperti misalnya suka bernyanyi, suka melucu, suka marah, suka tidur. Dua-duanya punya nilai. Sains memberi struktur, tradisi memberi rasa. Jika keduanya bertemu, mungkin kita akan lebih bijak dalam merawat jiwa.

Bali memang pulau dengan ribuan pura, upacara, dan ritual. Orang bisa berpura-pura bahagia, tertawa di panggung pariwisata, tapi tetap menyimpan kegelisahan di dalam. Usada Buduh mengingatkan bahwa di balik senyum ada luka, di balik tari ada tangis, di balik doa ada jiwa yang rapuh.

Mungkin sudah waktunya kita membaca kembali lontar-lontar itu, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan kearifan yang bisa menyembuhkan masa kini. Jiwa manusia Bali—dan manusia pada umumnya—terlalu berharga untuk dibiarkan hancur oleh tekanan hidup modern. [T]

Denpasar, Agustus 2022-September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwalontar usadaODGJusada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme Lebih Keren dari Kenyamanan: Bersama Bung Karno Mencintai Ibu Pertiwi

Next Post

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

by Sugi Lanus
June 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

Read moreDetails

Bulan Juni Milik Empat Presiden

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
0
Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

Read moreDetails

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
0
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

Read moreDetails
Next Post
Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co