6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 16, 2025
in Esai
Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Ilustrasi tatlkala.co | Diolah dengan Canva

BERBEDA dengan ilmu kedokteran Barat, diagnosa penyakit jiwa di Bali agaknya lebih spesifik, bahkan cenderung sangat kasat mata. Dalam Lontar Usada Buduh, gejala dan klasifikasi orang yang dianggap “buduh”—sebuah istilah lokal untuk gangguan jiwa—lebih pada kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

Misalnya, ada orang yang suka melucu dan tertawa sendiri, ada yang senang menyanyi atau menari tanpa alasan, ada pula yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari seakan tak pernah menemukan tempatnya. Yang lain digambarkan sering merasa takut, gemetar, atau suka memungut barang-barang di jalan. Setiap perilaku itu dianggap ciri, tanda, bahkan kategori tersendiri dari sakit jiwa.

Di masa lalu, penyakit jiwa masih bersifat generik. Belum ada pembedaan rumit seperti dalam klasifikasi kedokteran modern, seperti skizofrenia paranoid, bipolar, depresi mayor, gangguan kecemasan, dan seterusnya. Usada Buduh tidak mengenal istilah-istilah semacam itu. Yang ada hanyalah tanda-tanda yang menempel di tubuh dan jiwa seseorang. Lalu penawarnya, adalah ramuan obat, boreh, bedak, minuman, atau tetesan mata dan hidung. Uniknya, hampir semua ramuan berbahan air, daun, umbi, bunga, hingga rempah yang tumbuh di pekarangan rumah orang Bali.

Kalau sekarang psikiater menulis resep antipsikotik, antidepresan, atau stabilisator mood, maka dulu balian menumbuk daun kelor, lempuyang, gadung, jintan hitam, atau bunga kenanga. Obat-obat itu lalu diminum, ditempelkan di tubuh, diteteskan ke mata, atau dipakai sebagai boreh. Sambil memberi ramuan, balian juga membacakan mantra—sebuah aspek yang menandai bahwa sakit jiwa tak hanya diobati secara jasmani, tapi juga secara niskala, spiritual.

Saya membaca ulang buku Usada Buduh: Pengobatan Alternatif Sakit Gila karya I Gede Sugata Yadnya Manuaba. Buku ini merupakan alihaksara dan alihbahasa dari lontar, sekaligus memberi penjelasan modern, diterbitkan oleh Pustaka Bali Post pada 2012. Dari sana tampak betapa kaya pengetahuan tradisional Bali soal jiwa. Ada tak kurang dari tiga puluh dua resep untuk mengobati orang sakit jiwa, masing-masing disesuaikan dengan gejalanya.

Bayangkan, seorang pasien yang suka tertawa dan melucu akan diberi ramuan paria, lempuyang, ketumbar, tri ketuka, dicampur air cuka. Bahkan umbi gadung yang biasanya beracun ikut dipakai, tentu dengan takaran khusus. Ampas ramuan itu dipakai sebagai bedak, serupa terapi luar. Sementara pasien yang suka bermain kotoran akan ditempeli ramuan dari sulasih, ginten hitam, bunga sarem, dan semut hitam. Ada juga yang disebut “suka berkata aneh” akan diberi ramuan daun kelor munggi, kesawi, bawang, adas, tri ketuka, diminum lalu diteteskan ke mata dan hidung.

Bahkan epilepsi, yang di dunia medis modern dipahami sebagai gangguan saraf, dimasukkan dalam klasifikasi “buduh”. Penawarnya berupa pacipaci, kemiri, pala, jarangan, dan mungsi. Ramuan itu diminum, ampasnya menjadi boreh. Semuanya dibungkus dalam satu kesadaran bahwa tubuh, jiwa, dan alam adalah satu jaringan yang tak terpisahkan.

Membaca resep-resep itu, saya merasa orang Bali zaman dahulu sangat jeli dalam mengamati perilaku. Mereka tak memberi label abstrak seperti “psikotik” atau “depresif”, melainkan menunjuk langsung ke kebiasaan sehari-hari, seperti, tertawa, menangis, marah, berlari, diam, bahkan tidur terus. Dari hal-hal sederhana itulah diagnosa ditegakkan.

Hari ini, gejala sakit jiwa meningkat di banyak tempat. Kota-kota besar dengan tekanan ekonomi, ritme kerja, dan keterasingan sosial menghasilkan banyak orang yang kelelahan jiwa. Pandemi (dan juga bencana alam) lalu memperparah segalanya. Banyak orang kehilangan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, kehilangan arah. Tak sedikit yang jatuh pada depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Ada yang bisa pulih setelah berobat ke psikiater, rutin minum obat, dan mendapat dukungan keluarga. Ada juga yang merasa lebih baik setelah berkonsultasi dengan penyembuh tradisional, mendapatkan terapi doa, meditasi, atau ramuan herbal. Di Bali, dua dunia ini kini coba dipertemukan.

Salah satu contohnya ada di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur-Denpasar. Di sana, pemerintah provinsi Bali menguji coba model pelayanan kesehatan integratif. Artinya, pasien bisa berobat dengan pendekatan medis modern—bertemu dokter spesialis jiwa, menjalani terapi obat—tapi juga mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Bali. Balian dihadirkan, jamu dan ramuan herbal dipakai, doa dan ritual diperkenankan. Tentu dengan pengawasan medis agar tak terjadi efek samping atau penyalahgunaan.

Saya belum sempat datang langsung ke sana, tapi suatu saat saya akan ke sana. Rasanya penting mengetahui bagaimana dua dunia yang sering dianggap bertentangan itu bisa berjalan beriringan. Dari luar, ini terlihat sebagai inovasi bagus. Sejatinya kesehatan memang bersifat holistik. Sakit bukan hanya soal tubuh, melainkan juga pikiran, perasaan, bahkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Pendekatan holistik ini sebenarnya bukan hal baru di Bali. Sejak 1990-an, Prof. Luh Ketut Suryani, seorang psikiater kawakan, sudah mengembangkan model pengobatan gangguan jiwa dengan cara berbeda. Ia mendirikan Suryani Institute for Mental Health, yang menangani pasien bukan hanya dengan obat medis, tapi juga dengan meditasi dan terapi komunitas.

Saya pernah membaca kisah pasien yang selama bertahun-tahun dipasung oleh keluarganya. Saat bertemu tim Prof. Suryani, ia diajak meditasi, diberi ruang untuk mengolah batin, sembari tetap mendapatkan obat medis yang diperlukan. Hasilnya menakjubkan, pasien itu perlahan pulih, bahkan bisa kembali bekerja. Prof. Suryani percaya, jiwa manusia punya daya sembuh luar biasa bila disentuh dengan pendekatan spiritual dan kasih sayang.

Bagi saya, inilah inti dari usada, bahwa penyembuhan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi mengembalikan keseimbangan. Keseimbangan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan alam. Di sini modernitas bisa belajar dari tradisi, dan tradisi bisa mendapat validasi dari sains.

Tentu saja, kita tak bisa begitu saja kembali ke masa lalu. Tidak semua resep dalam Usada Buduh relevan atau aman bila dipraktikkan hari ini. Beberapa bahan seperti umbi gadung atau semut hitam perlu pengolahan khusus agar tidak berbahaya. Tetapi yang patut dipelajari adalah cara pandang orang Bali terhadap sakit jiwa, mereka tidak menstigma. Mereka tidak menyebut orang “gila” lalu menyingkirkannya. Mereka mencoba memberi obat, memberi doa, memberi ritual. Ada usaha untuk memulihkan, bukan membuang.

Dalam banyak lontar usada, termasuk Usada Buduh, mantra selalu menyertai ramuan. Mantra itu bukan sekadar jampi-jampi kosong. Ia adalah bahasa doa, sugesti, bahkan komunikasi batin antara tabib dan pasien. Dengan mantra, orang merasa diperhatikan, diperkuat, dan disambungkan kembali dengan dunia spiritual. Di sinilah penyembuhan jiwa memperoleh maknanya.

Kini, ketika saya melihat banyak orang muda mengalami stres, burnout, depresi, saya jadi teringat lontar-lontar itu. Seakan leluhur sudah menulis pesan: jagalah jiwa, jangan biarkan ia sendirian. Tertawa berlebihan, menangis tanpa alasan, berlari tanpa tujuan—semua adalah tanda yang tak boleh diabaikan.

Barat mungkin memberi label, diantaranya bipolar, depresi, psikotik. Bali menuliskan gejala itu dengan bahasa sehari-hari, seperti misalnya suka bernyanyi, suka melucu, suka marah, suka tidur. Dua-duanya punya nilai. Sains memberi struktur, tradisi memberi rasa. Jika keduanya bertemu, mungkin kita akan lebih bijak dalam merawat jiwa.

Bali memang pulau dengan ribuan pura, upacara, dan ritual. Orang bisa berpura-pura bahagia, tertawa di panggung pariwisata, tapi tetap menyimpan kegelisahan di dalam. Usada Buduh mengingatkan bahwa di balik senyum ada luka, di balik tari ada tangis, di balik doa ada jiwa yang rapuh.

Mungkin sudah waktunya kita membaca kembali lontar-lontar itu, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan kearifan yang bisa menyembuhkan masa kini. Jiwa manusia Bali—dan manusia pada umumnya—terlalu berharga untuk dibiarkan hancur oleh tekanan hidup modern. [T]

Denpasar, Agustus 2022-September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwalontar usadaODGJusada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme Lebih Keren dari Kenyamanan: Bersama Bung Karno Mencintai Ibu Pertiwi

Next Post

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co