17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 16, 2025
in Esai
Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Ilustrasi tatlkala.co | Diolah dengan Canva

BERBEDA dengan ilmu kedokteran Barat, diagnosa penyakit jiwa di Bali agaknya lebih spesifik, bahkan cenderung sangat kasat mata. Dalam Lontar Usada Buduh, gejala dan klasifikasi orang yang dianggap “buduh”—sebuah istilah lokal untuk gangguan jiwa—lebih pada kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

Misalnya, ada orang yang suka melucu dan tertawa sendiri, ada yang senang menyanyi atau menari tanpa alasan, ada pula yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari seakan tak pernah menemukan tempatnya. Yang lain digambarkan sering merasa takut, gemetar, atau suka memungut barang-barang di jalan. Setiap perilaku itu dianggap ciri, tanda, bahkan kategori tersendiri dari sakit jiwa.

Di masa lalu, penyakit jiwa masih bersifat generik. Belum ada pembedaan rumit seperti dalam klasifikasi kedokteran modern, seperti skizofrenia paranoid, bipolar, depresi mayor, gangguan kecemasan, dan seterusnya. Usada Buduh tidak mengenal istilah-istilah semacam itu. Yang ada hanyalah tanda-tanda yang menempel di tubuh dan jiwa seseorang. Lalu penawarnya, adalah ramuan obat, boreh, bedak, minuman, atau tetesan mata dan hidung. Uniknya, hampir semua ramuan berbahan air, daun, umbi, bunga, hingga rempah yang tumbuh di pekarangan rumah orang Bali.

Kalau sekarang psikiater menulis resep antipsikotik, antidepresan, atau stabilisator mood, maka dulu balian menumbuk daun kelor, lempuyang, gadung, jintan hitam, atau bunga kenanga. Obat-obat itu lalu diminum, ditempelkan di tubuh, diteteskan ke mata, atau dipakai sebagai boreh. Sambil memberi ramuan, balian juga membacakan mantra—sebuah aspek yang menandai bahwa sakit jiwa tak hanya diobati secara jasmani, tapi juga secara niskala, spiritual.

Saya membaca ulang buku Usada Buduh: Pengobatan Alternatif Sakit Gila karya I Gede Sugata Yadnya Manuaba. Buku ini merupakan alihaksara dan alihbahasa dari lontar, sekaligus memberi penjelasan modern, diterbitkan oleh Pustaka Bali Post pada 2012. Dari sana tampak betapa kaya pengetahuan tradisional Bali soal jiwa. Ada tak kurang dari tiga puluh dua resep untuk mengobati orang sakit jiwa, masing-masing disesuaikan dengan gejalanya.

Bayangkan, seorang pasien yang suka tertawa dan melucu akan diberi ramuan paria, lempuyang, ketumbar, tri ketuka, dicampur air cuka. Bahkan umbi gadung yang biasanya beracun ikut dipakai, tentu dengan takaran khusus. Ampas ramuan itu dipakai sebagai bedak, serupa terapi luar. Sementara pasien yang suka bermain kotoran akan ditempeli ramuan dari sulasih, ginten hitam, bunga sarem, dan semut hitam. Ada juga yang disebut “suka berkata aneh” akan diberi ramuan daun kelor munggi, kesawi, bawang, adas, tri ketuka, diminum lalu diteteskan ke mata dan hidung.

Bahkan epilepsi, yang di dunia medis modern dipahami sebagai gangguan saraf, dimasukkan dalam klasifikasi “buduh”. Penawarnya berupa pacipaci, kemiri, pala, jarangan, dan mungsi. Ramuan itu diminum, ampasnya menjadi boreh. Semuanya dibungkus dalam satu kesadaran bahwa tubuh, jiwa, dan alam adalah satu jaringan yang tak terpisahkan.

Membaca resep-resep itu, saya merasa orang Bali zaman dahulu sangat jeli dalam mengamati perilaku. Mereka tak memberi label abstrak seperti “psikotik” atau “depresif”, melainkan menunjuk langsung ke kebiasaan sehari-hari, seperti, tertawa, menangis, marah, berlari, diam, bahkan tidur terus. Dari hal-hal sederhana itulah diagnosa ditegakkan.

Hari ini, gejala sakit jiwa meningkat di banyak tempat. Kota-kota besar dengan tekanan ekonomi, ritme kerja, dan keterasingan sosial menghasilkan banyak orang yang kelelahan jiwa. Pandemi (dan juga bencana alam) lalu memperparah segalanya. Banyak orang kehilangan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, kehilangan arah. Tak sedikit yang jatuh pada depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Ada yang bisa pulih setelah berobat ke psikiater, rutin minum obat, dan mendapat dukungan keluarga. Ada juga yang merasa lebih baik setelah berkonsultasi dengan penyembuh tradisional, mendapatkan terapi doa, meditasi, atau ramuan herbal. Di Bali, dua dunia ini kini coba dipertemukan.

Salah satu contohnya ada di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur-Denpasar. Di sana, pemerintah provinsi Bali menguji coba model pelayanan kesehatan integratif. Artinya, pasien bisa berobat dengan pendekatan medis modern—bertemu dokter spesialis jiwa, menjalani terapi obat—tapi juga mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Bali. Balian dihadirkan, jamu dan ramuan herbal dipakai, doa dan ritual diperkenankan. Tentu dengan pengawasan medis agar tak terjadi efek samping atau penyalahgunaan.

Saya belum sempat datang langsung ke sana, tapi suatu saat saya akan ke sana. Rasanya penting mengetahui bagaimana dua dunia yang sering dianggap bertentangan itu bisa berjalan beriringan. Dari luar, ini terlihat sebagai inovasi bagus. Sejatinya kesehatan memang bersifat holistik. Sakit bukan hanya soal tubuh, melainkan juga pikiran, perasaan, bahkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Pendekatan holistik ini sebenarnya bukan hal baru di Bali. Sejak 1990-an, Prof. Luh Ketut Suryani, seorang psikiater kawakan, sudah mengembangkan model pengobatan gangguan jiwa dengan cara berbeda. Ia mendirikan Suryani Institute for Mental Health, yang menangani pasien bukan hanya dengan obat medis, tapi juga dengan meditasi dan terapi komunitas.

Saya pernah membaca kisah pasien yang selama bertahun-tahun dipasung oleh keluarganya. Saat bertemu tim Prof. Suryani, ia diajak meditasi, diberi ruang untuk mengolah batin, sembari tetap mendapatkan obat medis yang diperlukan. Hasilnya menakjubkan, pasien itu perlahan pulih, bahkan bisa kembali bekerja. Prof. Suryani percaya, jiwa manusia punya daya sembuh luar biasa bila disentuh dengan pendekatan spiritual dan kasih sayang.

Bagi saya, inilah inti dari usada, bahwa penyembuhan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi mengembalikan keseimbangan. Keseimbangan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan alam. Di sini modernitas bisa belajar dari tradisi, dan tradisi bisa mendapat validasi dari sains.

Tentu saja, kita tak bisa begitu saja kembali ke masa lalu. Tidak semua resep dalam Usada Buduh relevan atau aman bila dipraktikkan hari ini. Beberapa bahan seperti umbi gadung atau semut hitam perlu pengolahan khusus agar tidak berbahaya. Tetapi yang patut dipelajari adalah cara pandang orang Bali terhadap sakit jiwa, mereka tidak menstigma. Mereka tidak menyebut orang “gila” lalu menyingkirkannya. Mereka mencoba memberi obat, memberi doa, memberi ritual. Ada usaha untuk memulihkan, bukan membuang.

Dalam banyak lontar usada, termasuk Usada Buduh, mantra selalu menyertai ramuan. Mantra itu bukan sekadar jampi-jampi kosong. Ia adalah bahasa doa, sugesti, bahkan komunikasi batin antara tabib dan pasien. Dengan mantra, orang merasa diperhatikan, diperkuat, dan disambungkan kembali dengan dunia spiritual. Di sinilah penyembuhan jiwa memperoleh maknanya.

Kini, ketika saya melihat banyak orang muda mengalami stres, burnout, depresi, saya jadi teringat lontar-lontar itu. Seakan leluhur sudah menulis pesan: jagalah jiwa, jangan biarkan ia sendirian. Tertawa berlebihan, menangis tanpa alasan, berlari tanpa tujuan—semua adalah tanda yang tak boleh diabaikan.

Barat mungkin memberi label, diantaranya bipolar, depresi, psikotik. Bali menuliskan gejala itu dengan bahasa sehari-hari, seperti misalnya suka bernyanyi, suka melucu, suka marah, suka tidur. Dua-duanya punya nilai. Sains memberi struktur, tradisi memberi rasa. Jika keduanya bertemu, mungkin kita akan lebih bijak dalam merawat jiwa.

Bali memang pulau dengan ribuan pura, upacara, dan ritual. Orang bisa berpura-pura bahagia, tertawa di panggung pariwisata, tapi tetap menyimpan kegelisahan di dalam. Usada Buduh mengingatkan bahwa di balik senyum ada luka, di balik tari ada tangis, di balik doa ada jiwa yang rapuh.

Mungkin sudah waktunya kita membaca kembali lontar-lontar itu, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan kearifan yang bisa menyembuhkan masa kini. Jiwa manusia Bali—dan manusia pada umumnya—terlalu berharga untuk dibiarkan hancur oleh tekanan hidup modern. [T]

Denpasar, Agustus 2022-September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwalontar usadaODGJusada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme Lebih Keren dari Kenyamanan: Bersama Bung Karno Mencintai Ibu Pertiwi

Next Post

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co